SBB-23

<< kembali | lanjut >>

TETAPI Ki Patih Mantahun tidak sempat pergi ke luar pesanggrahan. Pekatik yang kesakitan itu tiba-tiba saja telah berlari menyusup di antara prajurit yang bertugas tanpa disangka-sangka, sehingga prajurit yang bertugas di luar tidak sempat menghentikannya.

Tetapi pekatik itu akhirnya terhenti juga diluar pintu ruang yang dipergunakan oleh Kangjeng Adipati Arya Penangsang untuk bersantap. Seorang pengawal khusus telah menghentikannya, sehingga pekatik itu justru telah berteriak-teriak.

“Siapa yang menjadi gila itu,” bentak Ki Patih Mantahun.

Sementara itu pekatik itu berteriak, “Hamba harus menghadap Kangjeng Adipati. Satu penghinaan orang-orang Pajang atas Kangjeng Adipati harus ditebus dengan penghinaan yang lebih berat.”

Ternyata Kangjeng Adipati Arya Penangsang mendengar suara pekatik itu. Dengan jantung yang mulai berdebaran, Adipati Pajang itulah yang kemudian berteriak, “Bawa orang itu kemari.”

Tidak ada yang dapat menahannya lagi. Pengawal khusus yang ada di muka pintu itu pun kemudian membawa pekatik yang telinganya berlumuran darah itu memasuki ruangan.

“Dungu,” geram Ki Patih. “Seharusnya kau menunggu diluar.”

“Aku memanggilnya,” potong Arya Penangsang.

Dengan wajah yang tegang Arya Penangsang memandangi pekatik yang dibasahi oleh titik-titik darah dari telinganya.

“Kau pekatik,” sapa Arya Penangsang yang mengenal pekatiknya dengan baik. Pekatik yang telah menyediakan makan bagi kudanya yang paling baik, Gagak Rimang.

Tanpa menghiraukan Ki Patih dan para pengawal khusus pekatik itu berkata tersendat-sendat, “Satu penghinaan dari orang-orang Pajang Kangjeng Adipati. Telinga hamba telah dipotong dan pada sisa telinga hamba telah diikat sepucuk surat yang katanya bagi Kangjeng Adipati.”

Wajah Kangjeng Adipati Jipang itu pun menjadi semakin tegang. Dengan suara lantang ia berkata, “Mendekatlah.”

Ki Patih Mantahun pun menjadi sangat berdebar-debar. Dengan seksama ia mengikuti apa yang terjadi. Sementara Arya Penangsang telah mengambil sendiri surat yang tergantung di telinga pekatik yang malang itu.

“Biarlah hamba membacanya,” mohon Ki Patih.

“Kau sangka aku tidak dapat membaca sendiri?” bentak Arya Penangsang.

Ki Patih Mantahun tidak dapat memaksanya. Tetapi ia telah mendapat satu firasat yang kurang baik.

Dengan tangan gemetar Arya Penangsang pun membuka surat yang telah terpercik oleh noda-noda darah. Sebagaimana Arya Penangsang sendiri yang pada dasarnya cepat menjadi marah, maka titik-titik darah di lembaran kertas itu bagaikan bara yang membakar jantungnya. Pengaruh bercak-bercak merah itu ternyata sangat besar pada perasaan Arya Penangsang, meskipun ia belum membaca isi surat itu.

Dengan pandangan mata yang menyala Arya Penangsang mengikuti huruf-huruf yang terdapat di lembaran surat itu. Huruf-huruf yang ditulis dengan cermat, tertib dan jelas, suku wulu dan taling-tarungnya.

Darah Ki Patih Mantahun bagaikan semakin cepat mengalir pada saat-saat ia mengikuti gerak wajah Arya Penangsang. Ia sudah dapat menduga isi dari surat orang-orang Pajang itu.

Arya Penangsang yang membawa surat itu merasa dadanya telah diguncang. Penghinaan yang sangat menyakitkan hati. Bahkan kata penutup surat tantangan itu berbunyi, “Kangjeng Adipati Arya Penangsang. Kami menunggu dengan pasukan yang ada pada kami. Jika Arya Penangsang tidak berani keluar ke arena oleh surat tantangan kami yang terakhir ini, maka kami tidak lagi menghargai Kangjeng Adipati sebagaimana sebelumnya, karena Kangjeng Adipati tidak lebih dari seorang perempuan yang hanya berani berlindung dibalik tungku dapur.”

Darah Arya Penangsang benar-benar telah mendidih. Pikirannya menjadi kacau oleh kemarahan yang menghentak-hentak didadanya. Darah pada helai-helai surat itu, pekatik yang merintih kesakitan, kejemuannya menunggu di pesanggrahan itu, yang seolah-olah tidak berkeputusan dan berbagai macam goncangan-goncangan perasaan serta kebenciannya yang memuncak kepada Adipati Pajang, telah menjadikan nalar Arya Penangsang itu pun bagaikan menjadi buram. Dengan kemarahan yang membakar jantung, maka Arya Penangsang itu pun telah meloncat berdiri. Mangkuk-mangkuk yang berada dihadapannya dihentakkannya sehingga terlempar dan pecah berserakan.

“Cepat, siapkan Gagak Rimang,” perintah Arya Penangsang kepada pekatik yang telinganya terpotong sedikit itu.

“Tunggu,” teriak Ki Patih Mantahun.

Tetapi pekatik itu tidak mempunyai perhitungan lain. Ia justru merasa senang bahwa Arya Penangsang menjadi marah dan siap untuk membalaskan sakit hatinya.

Karena itu, maka ia pun segera berlari keluar untuk menyiapkan kuda Arya Penangsang.

Sementara itu, Ki Patih Mantahun telah berusaha menahan Arya Penangsang yang marah. Sambil memeluk kakinya Kangjeng Adipati Ki Patih berkata, “Hamba mohon Kangjeng. Hamba mohon untuk menenangkan perasaan. Hamba akan menyelesaikan persoalan ini.”

“Persetan,” geram Arya Penangsang. “Aku sudah jemu dengan keadaan yang membeku sekarang ini. Perselisihan ini berlangsung tanpa berkesudahan. Sekarang aku akan menyelesaikannya sampai tuntas. Mati atau mukti. Itu adalah kelengkapan seorang kesatria. Aku akan menghadapi Adipati Pajang sebagai laki-laki jantan.”

“Kangjeng Adipati memang bersikap kesatria. Tetapi apakah Pajang juga bersikap demikian?” bertanya Patih Mantahun.

“Aku tidak mau kau hambat lagi dengan otak tuamu Mantahun,” geram Adipati Jipang.

Tetapi Patih Mantahun masih memegangi kaki Adipati Jipang itu. Katanya tersendat, “Baiklah. Kita akan dengan segera menyelesaikannya. Kita akan melakukannya hari ini. Tetapi beri kesempatan hamba menyiapkan pasukan lengkap yang akan menyertai Kangjeng Adipati.”

Arya Penangsang menggeram. Namun katanya, “Kau dapat menyusul dengan pasukanmu. Aku akan menantang Adipati Pajang untuk berperang tanding.”

“Mereka tidak akan berbuat demikian Kangjeng,” desis Ki Patih Mantahun dengan nafas terengah-engah.

Tetapi Arya Penangsang mengibaskan kakinya sambil membentak, “Lepaskan aku.”

“Jangan pergi dengan tanpa kesiagaan seperti ini,” jawab Patih Mantahun tanpa melepaskan pegangannya.

Arya Penangsang yang marah itu memang tidak dapat ditahan lagi. Sekali lagi ia mengibaskan kakinya. Namun tangan Mantahun itu bagaikan melekat di kakinya. Ketika Arya Penangsang menghentakkan kakinya dengan seluruh kekuatan cadangan yang ada di dalam dirinya, maka Ki Patih Mantahun pun melakukannya pula, sehingga kekuatannya pun menjadi berlipat.

Namun kemarahan Arya Penangsang justru bagaikan telah disiram api. Tiba-tiba saja ia telah menarik kerisnya yang sangat ditakuti oleh siapapun juga, yang seakan-akan tidak pernah terpisah dari tubuhnya, Kangjeng Kiai Setan Kober.

Melihat keris itu, barulah Patih Mantahun bergeser sambil melepaskan kaki Kangjeng Adipati Jipang. Namun ia masih juga berkata, “Kangjeng adalah Adipati Jipang. Soal hidup dan mati Kangjeng akan berpengaruh atas seluruh kadipaten. Dengan demikian maka hidup mati Kangjeng adalah juga milik kadipaten Jipang.”

Tetapi Arya Penangsang tidak mau mendengarnya lagi. Ia pun kemudian meloncat ke luar dengan kemarahan yang menghentak-hentak. Apalagi ketika ia kemudian melihat kudanya, Gagak Rimang sudah siap untuk pergi berperang.

Dengan serta merta Kangjeng Adipati meloncat ke arah kudanya dan melarikannya ke arah Bengawan Sore.

Para pengawal khususnya menjadi bingung. Namun dengan suara lantang Patih Mantahun yang tua itu berteriak, “Cepat, susul Kangjeng Adipati Arya Penangsang. Bawa kelengkapan perang dan bunyikan tengara.”

Pasukan pengawal khusus yang termangu-mangu itu pun bagaikan orang terbangun dari mimpi. Mereka pun telah berlari-larian mengambil kuda masing-masing yang siap di dalam waktu yang cepat, sebagaimana ketrampilan seorang dari pasukan khusus pengawal pribadi Adipati Jipang.

Sementara itu, isyarat pun telah berbunyi. Ki Patih Mantahun langsung mengatur para prajurit Jipang. Pengalaman dan ketrampilan para prajurit Jipang serta kesiagaan yang tinggi telah membuat mereka cepat bersiap dan menyusul Adipati Jipang. Pasukan berkuda telah lebih dahulu berangkat, kemudian pasukan yang lain pun telah dengan tergesa-gesa menyusul pula. Sementara itu, para petugas yang lain pun telah mendapat perintah untuk bersiap dan menyesuaikan diri. Para juru madaran, pekatik dan para pande besi harus bersiap pula. Demikian pula mereka yang bertugas di bidang pengobatan dan dukungan kejiwaan pasukan Jipang.

Patih Mantahun yang tidak berhasil menahan kemarahan Arya Penangsang itu tidak dapat berbuat lain kecuali mengerahkan segenap kekuatan yang ada di pesanggrahan itu. Bahkan Ki Patih pun telah memerintah pasukan cadangan untuk berangkat pula.

“Dalam keadaan seperti ini, kita tidak memerlukan pasukan cadangan,” berkata Ki Patih. “Kita akan membenturkan seluruh kekuatan yang ada. Kita akan menang atau kalah hari ini juga. Kita akan hancur atau jaya tanpa tenggang waktu. Kangjeng Adipati telah terpancing oleh cara licik dari orang-orang Pajang.”

Dengan demikian, maka Senapati yang memimpin pasukan cadangan itu pun telah mengerahkan semua prajurit yang ada untuk bersama-sama dengan pasukan yang lain menyeberangi Bengawan Sore.

Bengawan Sore memang tidak sedang naik. Airnya di musim kering tidak terlalu besar dan tidak terlalu dalam. Meskipun demikian air itu memang merupakan hambatan yang harus diperhitungkan oleh setiap pasukan yang menyeberang.

Dalam pada itu, Arya Penangsang sendiri sudah mulai turun ke Bengawan. Beberapa puluh langkah di belakangnya adalah para prajurit dari pasukan khusus, prajurit yang terpilih. Sebagaimana Arya Penangsang sendiri, maka para prajurit dari pasukan khusus itu sama sekali tidak gentar menghadapi segala kemungkinan. Demikian kuda mereka turun ke air, maka pedang mereka pun telah teracu. Pengalaman serta naluri mereka telah mengatakan kepada mereka, bahwa selagi mereka menyeberang, maka mereka akan mendapat serangan dari pasukan Pajang yang berada di seberang.

Arya Penangsang dan pasukan khusus itu sama sekali tidak memperlambat laju mereka, karena pasukan Pajang yang mereka lihat di seberang pun tidak terlalu besar, sehingga mereka yakin bahwa mereka akan dapat mengatasinya.

Dengan demikian, maka pasukan Jipang itu berturut-turut menyeberangi Bengawan Sore. Satu perjalanan pasukan yang tidak menguntungkan. Namun Mantahun yang memiliki pengetahuan dan pengalaman yang bertimbun di dalam dirinya itu tidak dapat berbuat banyak. Justru karena sikap Adipati Jipang sendiri yang kurang dapat menguasai diri. Sifat dan watak yang dikenal betul oleh orang-orang Pajang itu agaknya telah dipergunakannya sebaik-baiknya.

Dalam pada itu, pasukan Pajang pun telah bersiap. Tetapi seperti yang direncanakan, maka yang nampak di tepian Bengawan Sore itu hanyalah sebagian saja dari seluruh pasukan Pajang yang ada di pesanggrahan itu.

Ki Juru Martani, Ki Pemanahan dan Ki Penjawi menjadi berdebar-debar juga melihat apa yang akan terjadi. Mereka melihat seorang berkuda di paling depan. Mereka pun segera mengetahui, bahwa orang berkuda itu adalah Arya Penangsang sendiri. “Kita berhasil adi,” berkata Ki Juru. “Sekarang siapkan Sutawijaya sebaik-baiknya. Ia adalah seorang laki-laki. Di tangannya tergenggam satu-satunya kemungkinan untuk mengalahkan Arya Penangsang, Kangjeng Kiai Pleret. Dengan tombak itu mudah-mudahan kulit Arya Penangsang yang disebut kebal itu dapat terluka.”

Ki Pemanahan menjadi semakin gelisah. Sutawijaya masih terlalu muda. Tetapi ia memang memiliki ketrampilan mempermainkan kuda. Sejak kecil anak itu bagaikan lekat dengan punggung kuda. Sementara itu ia telah membawa pusaka terbesar Pajang, Kangjeng Kiai Pleret. Jika Kangjeng Kiai Pleret tidak berhasil mengenai dan melukai Arya Penangsang, maka agaknya memang tidak ada senjata yang akan dapat melukainya.

Tetapi Ki Juru Martani tidak saja membekali Sutawijaya dengan Kangjeng Kiai Pleret, tetapi Ki Juru telah menyediakan seekor kuda betina bagi Sutawijaya.

Dalam pada itu, para prajurit Pajang telah siap di pinggir Bengawan. Mereka harus menghancurkan para prajurit Jipang yang menyeberang di belakang Arya Penangsang. Pasukan pengawal khusus yang berusaha untuk menyusul Arya Penangsang memang berhasil mendekatinya dari belakang. Tetapi yang akan mencapai tepian pertama kali memang Arya Penangsang.

Ketika pasukan Jipang seluruhnya telah berada di dalam air, maka Ki Pemanahan dan Ki Penjawi telah menurunkan perintah, agar pasukan yang masih berada di belakang pesanggrahan segera turun ke tepian.

Sejenak kemudian, maka pasukan yang besar telah keluar dari balik pesanggrahan dan dengan tergesa-gesa pergi ke tepian yang tidak terlalu jauh. Dengan tengara bende maka pasukan itu pun berjalan rampak dalam gelar yang melebar.

Kehadiran pasukan yang besar itu memang menghentakkan perhatian para prajurit Jipang. Mereka memang menjadi berdebar-debar melihat pasukan yang datang itu. Agaknya mereka baru keluar setelah yakin pertempuran akan terjadi.

“Mereka telah memancing Kangjeng Adipati dengan berbagai cara,” berkata Patih Mantahun yang menyusul Kangjeng Adipati Jipang, “Mereka membuat Kangjeng Adipati marah dan mereka menunjukkan seolah-olah pasukan mereka kecil dan lemah, sehingga Kangjeng Adipati telah benar-benar terpancing.”

Seorang Senapati yang mendampingi Ki Patih Mantahun itu pun menyahut, “Tetapi mereka akan kita hancurkan hari ini.”

“Saat-saat yang paling berbahaya adalah saat-saat kita naik ke tepian,” berkata Ki Patih Mantahun.

Senapati itu mengangguk. Namun ia percaya kepada pasukan khusus pengawal pribadi Arya Penangsang yang memiliki kemampuan yang tinggi.

Ternyata pasukan Jipang itu memerlukan waktu yang agak panjang untuk menyeberangi Bengawan Sore yang meskipun tidak terlalu dalam tetapi cukup lebar. Arya Penangsang yang berada di paling depan telah mendekati tepian dan jangkauan anak panah dari pasukan Pajang. Namun Ki Juru pun berkata kepada Panglima pasukan Pajang, “Apapun yang kalian lemparkan kepada Arya Penangsang tidak akan melukai kulitnya. Tetapi kalian harus siap menghadapi pengawal khususnya yang telah menyusulnya.

Panglima Pajang itu pun menyadari, betapa besarnya kemampuan pasukan pengawal pribadi Arya Penangsang. Namun pasukan khusus Pajang pun tidak kalah garangnya dengan pasukan Jipang, meskipun mereka tidak sekeras pasukan Jipang.

Demikian Arya Penangsang memasuki jangkauan anak panah dan bandil dari gelar pasukan Pajang yang berada di tepian, perintah pun segera jatuh. Pasukan Pajang itu pun mendengar tengara bende yang sahut menyahut. Sehingga dengan demikian maka mereka pun dengan serta merta telah melepaskan anak panah dan bandil.

Tetapi setiap prajurit Pajang mengetahui, bahwa anak panah dan bandil itu tidak akan berarti bagi Arya Penangsang yang telah mendekati tepian.

Namun jika kudanya naik ke tepian bukan berarti tanah tempat kakinya berpijak rata dan lancar. Tetapi kudanya akan memasuki lingkungan pasir tepian yang akan menghambat lari kudanya. Karena itu, maka meskipun orang pertama dari Jipang itu yang diikuti oleh pasukannya pada saatnya naik dan melepaskan diri dari air Bengawan, namun mereka masih harus mengatasi hambatan pasir tepian.

Anak panah, bandil dan kemudian lembing yang dilontarkan oleh pasukan Pajang memang sudah diperhitungkan oleh setiap prajurit Jipang. Arya Penangsang sendiri memang tidak menghiraukan anak panah dan batu-batu bandil. Bahkan kudanya yang bernama Gagak Rimang itu pun seakan-akan tidak terpengaruh juga oleh hujan anak panah dan batu bandil.

Namun demikian, anak panah dan batu-batu bandil itu memang mulai menghambat pasukan pengawal pribadi Arya Penangsang. Namun sebagian besar dari mereka memang memiliki kemampuan menangkis anak panah dan batu-batu. Mereka ternyata juga tidak terluka oleh ujung anak panah yang mengenainya.

“Bukan main,” desis Panglima prajurit Pajang, “Pasukan Jipang memang pasukan yang nggegirisi, terutama pasukan pengawal pribadi Adipati Jipang.”

“Siapkan pasukanmu yang seimbang,” perintah Ki Pemanahan.

Pasukan khusus Pajang pun kemudian telah siap di tepian untuk menyambut pasukan Jipang yang akan naik di belakang Arya Penangsang.

Dalam pada itu, maka Ki Pemanahan pun telah memerintahkan pasukan Pajang untuk menyusun gelar Jurang Grawah. Dengan demikian maka pasukan Pajang harus mampu membangunkan sekat antara pasukan khusus Jipang dengan pasukannya yang lain.

Sejenak kemudian maka tibalah saat-saat yang menegangkan. Ki Juru Martani, Ki Pemanahan dan Ki Penjawi telah memiliki pengalaman yang luas dalam pertempuran-pertempuran yang pernah terjadi, menjadi tegang juga melihat kehadiran pasukan Arya Penangsang yang bergelombang menyeberangi Bengawan Sore.

Pada saat Arya Penangsang sendiri telah berada di atas pasir tepian, maka mulailah babak pertama dari perang yang sangat mendebarkan itu.

Sesuai dengan rencana, maka yang pertama-tama dilepaskan oleh pasukan Pajang adalah Raden Sutawijaya yang berada di punggung seekor kuda betina dengan menggenggam tombak Kangjeng Kiai Pleret di tangannya. Dengan kencang kuda Raden Sutawijaya itu melintas beberapa puluh langkah dihadapan Arya Penangsang yang sedang marah.

Arya Penangsang memang terkejut melihat kehadiran Raden Sutawijaya yang masih sangat muda itu di peperangan. Tetapi ia pun kemudian tidak menghiraukannya. Raden Sutawijaya bagi Arya Penangsang tidak lebih dari kanak-kanak yang sedang bermain-main meskipun di tempat yang berbahaya.

Namun yang terjadi ternyata tidak sebagaimana dikehendaki oleh Arya Penangsang. Betapa akrabnya hubungan antara Arya Penangsang dengan kudanya yang bernama Gagak Rimang itu, namun pada suatu saat maka telah terjadi salah paham di antara mereka.

Melihat seekor kuda betina yang melintas dihadapannya, maka Gagak Rimang ternyata telah tertarik olehnya. Karena itu, maka meskipun tidak dikehendaki oleh Arya Penangsang maka Gagak Rimang justru telah berusaha untuk mengejar kuda betina yang dipergunakan oleh Raden Sutawijaya.

“Rimang, apakah kau menjadi gila,” geram Arya Penangsang yang berusaha menguasai kudanya. Arya Penangsang telah bertekad untuk menyerang langsung ke induk pasukan Pajang yang siap dengan gelarnya. Menurut perhitungan Arya Penangsang, pimpinan tertinggi pasukan Jipang tentu berada di induk pasukannya. Bahkan Arya Penangsang berharap bahwa Adipati Pajang sendirilah yang memegang kendali pasukannya.

Namun Gagak Rimang tiba-tiba menjadi sulit untuk dikuasainya.

Pada saat Arya Penangsang masih berusaha untuk mengendalikan Gagak Rimang, maka ternyata Raden Sutawijaya telah memutar kudanya, dan sekali lagi melintas lebih dekat dihadapan Arya Penangsang.

Dengan demikian maka kuda Arya Penangsang itu pun semakin liar dan berusaha untuk mengejar kuda Raden Sutawijaya.

Arya Penangsang yang sedang dibakar oleh kemarahan itu tiba-tiba telah berteriak, “Sutawijaya, jika kau main-main dengan kuda, jangan di dekat medan yang garang ini. Pergilah, kudaku menjadi liar karena kuda betinamu.”

Tetapi jawaban Sutawijaya sungguh diluar dugaan Arya Penangsang. Katanya, “Paman, sejak pagi aku menunggu kehadiran paman di medan perang. Akulah Senapati Pajang yang mendapat tugas untuk menghadapi paman hari ini.”

“Gila,” teriak Arya Penangsang sambil menarik kekang kudanya. “Kau sangka aku siapa Sutawijaya? Apakah kau tidak pernah mendengar dari ayahmu atau ayah angkatmu tentang Arya Penangsang?”

“Sudah paman,” sekali lagi Sutawijaya memutar kudanya, “Cerita tentang paman itulah yang mendorong aku untuk membuktikan, apakah benar paman tidak terkalahkan.”

Kemarahan Arya Penangsang tidak terbendung lagi. Ia pun tidak lagi berusaha untuk menguasai Gagak Rimang, tetapi ia justru berusaha mengejarnya.

Namun sebenarnyalah Sutawijaya memang memiliki kemampuan berkuda yang sangat tinggi. Ia dengan lincah mempermainkan kudanya dan justru memancing Arya Penangsang untuk memasuki lingkungan pasukan Pajang.

Tetapi Arya Penangsang tidak menjadi gentar. Ia pun telah menyuruk memasuki pertahanan Pajang yang merupakan gelar yang menebar. Kerisnya yang nggegirisi masih tetap di tangannya, sehingga seakan-akan di tangan Arya Penangsang itu telah memancar cahaya yang kemerah-merahan menyilaukan.

Semua orang menjadi berdebar-debar melihat keris di tangan Arya Penangsang itu. Apalagi ketika mereka melihat Arya Penangsang memburu Raden Sutawijaya dengan kemarahan yang memuncak.

Demikian Arya Penangsang memasuki garis pertahanan pasukan Pajang, maka beberapa ujung tombak telah menyongsongnya.

Tetapi tidak satu pun dari antara ujung tombak itu yang melukainya. Bahkan ayunan keris Setan Kober di tangan Arya Penangsang telah menyibakkan ujung-ujung tombak yang bagaikan batang ilalang. Beberapa orang yang tergores oleh ujung keris itu pun telah bergeser surut, keluar dari pasukannya dan menempatkan dirinya untuk menerima kematiannya. Meskipun goresan itu hanya seujung rambut. Tidak ada obat yang mampu menawarkan ketajaman nafas maut pada ujung keris Setan Kober. Sementara itu, ujung tombak para prajurit Pajang itu tidak mampu menggores kulit Adipati Jipang yang marah itu.

Karena itu, maka tidak seorang pun yang mampu menahan Arya Penangsang yang memacu kudanya mengejar Raden Sutawijaya. Apalagi kuda Arya Penangsang sendiri memang berusaha untuk mengejar kuda betina itu.

Sementara itu, orang-orang yang memiliki ilmu tertinggi dari Pajang pada waktu itu, Ki Juru Martani, Ki Pemanahan dan Ki Penjawi dengan sengaja tidak menghalangi Arya Penangsang. Mereka telah mempertaruhkan Raden Sutawijaya untuk melawan Arya Penangsang yang memilik ilmu yang jarang ada bandingnya.

Sementara itu, di belakang Arya Penangsang pasukan pengawal khususnya telah menyusul. Pasukan Pajang telah bersiap sebaik-baiknya untuk menyambut mereka dengan gelar Jurang Grawah.

Ketika pasukan khusus Jipang itu membentur pertahanan pasukan Pajang, maka pasukan Pajang itu pun terdesak mundur. Seperti yang diperintahkan oleh Ki Pemanahan, maka yang harus dihadapi pasukan khusus Jipang itu harus pasukan khusus pula, sehingga kekuatan mereka akan seimbang. Dengan demikian, di pihak Pajang tidak akan timbul korban yang tidak terhitung jumlahnya.

Ketika pasukan Jipang melihat pasukan Pajang mundur, maka mereka pun segera mendesak. Pasukan berkuda itu tidak sempat memikirkan gelar yang dipasang oleh pasukan Pajang. Apalagi pasukan Jipang itu memang sudah dibakar oleh gejolak perasaannya. Bukan saja karena Arya Penangsang sudah mendahului mereka dengan kemarahan yang tidak tertahan, namun satu dua di antara kawan-kawan mereka ada yang sudah jatuh pada saat mereka menyeberang serta ketika mereka berusaha mengatasi hambatan lunaknya pasir di tepian.

Tetapi pasukan Pajang memang sudah siap dengan gelar Jurang Grawah. Demikian benturan antara kedua pasukan khusus itu terjadi, maka pasukan Pajang pun telah mundur dan memancing pasukan lawan untuk mendesak mereka.

Namun demikian pasukan lawan itu memasuki lekuk yang cukup dalam pada gelar pasukan Pajang, maka gelar itupun kemudian telah menutup kembali. Dengan demikian telah terjadi sekat antara pasukan khusus Jipang dengan pasukan yang datang kemudian.

Sementara itu, dengan ketrampilan yang masak, pasukan Pajang telah merapat dan menempatkan diri di sebelah tepian berpasir. Mereka telah mempergunakan kesempatan sebaik-baiknya pada saat pasukan Jipang dibawah pimpinan Ki Patih Mantahun sendiri mendekati tepian dan kemudian naik ke dataran pasir di tepi Bengawan Sore yang agak luas.

Ki Patih Mantahun memang sudah memperhitungkannya. Ia sendiri mampu menembus hujan anak panah dan lembing serta bandil. Seperti Arya Penangsang ia memiliki kekebalan serta ilmu yang sangat tinggi.

Namun Ki Juru Martani, Ki Pemanahan dan Ki Penjawi yang masih harus mengamati kemungkinan yang dapat terjadi dengan Raden Sutawijaya telah mempercayakan beberapa orang perwira yang memiliki ilmu yang cukup untuk menahan Ki Patih Mantahun.

Sebenarnyalah, pasukan Jipang yang datang kemudian itu telah mengalami kesulitan untuk maju. Ki Patih sendiri memang tidak tergores oleh ujung senjata. Tetapi para prajuritnya telah terhambat oleh tajamnya bedor, lembing dan kerasnya batu-batu bandil. Beberapa orang mulai roboh dan tidak dapat melanjutkan tugas mereka. Bahkan ada di antara mereka yang jatuh dan hanyut di arus sungai yang sebenarnya tidak terlalu deras. Satu demi satu jumlah prajurit Jipang mulai susut. Sementara itu, sambil bersorak-sorak prajurit Pajang terus saja menghujani mereka dengan anak panah, lembing dan batu-batu bandil.

Korban pun mulai berjatuhan. Tetapi Ki Patih Mantahun yang telah menjadi marah pula tidak terkejut mengalami keadaan seperti itu. Baik para pemimpin Jipang maupun Pajang telah mengetahui bahwa akibat seperti itu akan terjadi bagi mereka yang berani menyeberangi Bengawan Sore.

Ternyata perhitungan dan cara yang ditempuh oleh Ki Juru berjalan sebagaimana diharapkan. Dengan sorak yang gemuruh para prajurit Pajang melihat korban yang berjatuhan dari pasukan Jipang. Namun prajurit-prajurit Jipang adalah prajurit-prajurit yang dilatih dengan keras dan ditempa dengan kuat. Itulah sebabnya, maka arus serangan mereka pun sama sekali tidak nampak susut.

Ketika gelar pasukan Pajang menyurut kembali setelah para prajurit dari pasukan khusus Jipang mendesak pasukan khusus Pajang, maka para perwira dari pasukan khusus Jipang itu pun menyadari gelar yang dipergunakan oleh pasukan Pajang. Namun mereka terlambat untuk mengubah gelar yang mereka pergunakan. Gelar yang hanya dapat menyesuaikan dengan gerak Adipati Jipang yang marah dan tidak terkendali Gelar Emprit Neba.

Sekat yang kemudian dibuat oleh prajurit Pajang telah memisahkan pasukan khusus Jipang dan pasukannya yang lain. Namun hal itu sama sekali tidak mengubah tata gerak pasukan itu. Keras dan garang. Sekelompok kecil pasukan khusus Jipang itu memang berusaha untuk memecahkan sekat yang memisahkan mereka dengan pasukan Jipang yang lain yang bakal datang. Namun usaha mereka tidak segera dapat berhasil. Pasukan Pajang telah berusaha untuk mengimbangi kemampuan pasukan khusus Jipang bukan saja dalam gelar, tetapi juga secara pribadi.

Dengan korban yang cukup banyak, maka pasukan Jipang yang dipimpin langsung oleh Ki Patih Mantahun itu pun akhirnya mampu mencapai gelar pasukan Pajang. Mereka pun menyadari, bahwa prajurit Pajang itu telah mempergunakan gelar Jurang Grawah, sehingga pasukan khusus telah tertelan kedalam gelar pasukan Pajang. Namun Ki Patih terlalu yakin akan kekuatan dan kemampuan pasukan khususnya sehingga ia tidak menjadi cemas karenanya.

Beberapa orang perwira Pajang memang mendapat tugas khusus untuk menghadapi Ki Patih Mantahun. Dengan senjata yang berputaran mereka telah mengepung Patih tua itu, sementara kedua pasukan itu pun telah berbenturan dengan kerasnya.

Dalam pada itu, kuda Arya Penangsang bagaikan menjadi gila. Tanpa dapat dikendalikan lagi, Gagak Rimang telah mengejar kuda Raden Sutawijaya. Sedangkan Raden Sutawijaya benar-benar seorang anak muda yang memiliki kemampuan untuk mengendarai kuda. Ternyata kuda betina yang dipergunakannya telah membuat Arya Penangsang kesulitan menguasai Gagak Rimang.

Karena itulah, maka Arya Penangsang telah menyarungkan kerisnya. Kedua tangannya telah dipergunakannya untuk mengendalikan kudanya yang sulit dikuasainya.

“Kenapa kau tiba-tiba menjadi gila Gagak Rimang?” geram Arya Penangsang.

Biasanya Arya Penangsang bersikap manis terhadap kudanya. Tetapi kemarahannya yang membakar jantungnya membuatnya berbuat kasar. Tetapi justru karena itu, maka Gagak Rimang pun menjadi semakin gila.

Sutawijaya telah membawa kudanya berlari-lari di tepian. Melingkar-lingkar. Bahkan di luar lingkungan medan pertempuran.

“Jangan jadi pengecut anak Pemanahan,” teriak Arya Penangsang. “Jika kau memang berniat melawan aku, ayo, lawanlah aku. Aku memang akan mencincangmu sebelum aku mencincang ayah angkatmu.”

“Tangkap aku paman,” Sutawijaya pun berteriak.

Arya Penangsang menggeram. Tetapi ia tidak dapat memaksa Gagak Rimang untuk memotong arah kuda Sutawijaya. Gagak Rimang condong mengikuti saja kemana kuda betina yang dipergunakan oleh Sutawijaya itu berlari. Melingkar, menyilang dan kadang-kadang melintas dekat di belakang garis pertempuran.

Pada puncak kesulitan Arya Penangsang mengendalikan Gagak Rimang, maka Sutawijaya pun mulai memperhitungkan langkahnya sebagaimana dipesankan kepadanya.

Raden Sutawijaya harus mempergunakan tombak pusaka terbesar dari Pajang, Kangjeng Kiai Pleret.

Pada saat Arya Penangsang masih memburu Raden Sutawijaya, maka pertempuran antara pasukan Pajang dan Jipang pun telah membakar tepian. Kedua belah pihak telah mengerahkan segenap kekuatan yang ada pada pasukan masing-masing. Pasukan Jipang yang bergerak dengan serta merta, karena kemarahan Arya Penangsang itu pun telah berusaha untuk menggilas pasukan yang menahan geraknya. Namun jumlah mereka telah banyak berkurang. Gelar Jurang Grawah yang dipasang pasukan Pajang ternyata memang sangat menguntungkan. Pasukan khusus Jipang benar-benar telah menemukan lawan yang seimbang. Pasukan khusus dari Pajang pun ternyata memiliki kelebihan dari pasukannya yang lain, sebagaimana pasukan Jipang.

Karena itulah, maka pertempuran antara kedua pasukan itu merupakan pertempuran yang sangat dahsyat. Secara pribadi para prajurit dari pasukan khusus Pajang dan Jipang itu memiliki ilmu yang setingkat. Meskipun nampaknya orang-orang Jipang lebih garang, tetapi ketika mereka terlambat di dalam pertempuran yang terpisah, maka ternyata bahwa orang-orang Pajang pun telah menjadi garang pula. Ketika orang-orang Jipang bertempur dengan keras dan bahkan kasar, maka orang-orang Pajang pun menjadi keras dan kasar pula.

Dengan demikian, maka pasukan khusus Jipang yang dipisahkan dari keseluruhan pasukan Jipang benar-benar telah menemukan lawannya yang tidak dapat didesak lagi, sebagaimana terjadi pada saat-saat kedua pasukan itu bertemu. Di bagian lain, maka pasukan Pajang telah bertempur dengan pasukan Jipang yang menyerang pertahanan Pajang dengan gelar Emprit Neba. Gelar yang tidak perlu disusun sebagaimana gelar yang lain. Pasukan Jipang datang seperti sekelompok burung emprit yang turun dari langit di atas batang-batang padi yang buahnya mulai menguning.

Tetapi karena jumlah pasukan Jipang itu sudah jauh berkurang, maka pasukan itu tidak segera dapat mendesak pasukan Pajang yang kecuali lebih banyak, ternyata juga lebih mapan.

Dalam pertempuran itu, Ki Patih Mantahun harus bertempur melawan beberapa orang perwira terpilih dari Pajang. Meskipun Ki Patih Mantahun memiliki ilmu yang tinggi, namun berhadapan dengan beberapa orang perwira terpilih, Ki Patih harus juga mengerahkan kemampuannya.

Dengan mempergunakan sebatang tombak pendek, Ki Patih melawan beberapa ujung pedang yang mengepungnya. Bahkan para perwira itu telah membawa perisai pula untuk membantu melindungi tubuh masing-masing dari ujung senjata Ki Patih yang masih mampu bergerak sangat cepat.

Ki Pemanahan menjadi bimbang melihat pertempuran itu. Meskipun ia harus mengawasi pertempuran antara Raden Sutawijaya dengan Arya Penangsang, namun ia memikirkan juga kemungkinan yang dapat dilakukan oleh Ki Patih Mantahun. Namun ketika ia mengatakan kepada Ki Juru, maka Ki Juru pun berdesis, “Kau tunggui dahulu pertempuran antara anakmu dan Arya Penangsang itu. Kau harus siap bertindak jika perlu.”

Ki Pemanahan menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia memandang ke arah Penjawi, maka Ki Penjawi pun menjadi gelisah pula.

Dalam pertempuran yang semakin dahsyat, maka para perwira yang bertempur melawan Ki Patih Mantahun telah mempergunakan cara sebagaimana dianjurkan oleh Ki Juru. Mereka tidak bertempur tangguh tanggon. Tetapi setiap kali seorang perwira mendapat serangan, maka ia pun meloncat surut, sementara yang lainlah yang datang menyerang. Karena itu, maka para perwira itu telah memancing agar Ki Patih bergerak terlalu banyak di dalam kepungan beberapa orang perwira pilihan itu.

“Jangan licik,” geram Ki Patih. “Marilah kita bertempur dengan jantan.”

Para perwira itu justru tertawa. Seorang di antara mereka berkata, “Sejak kapan Ki Patih mengenal kejantanan? Kami dahulu memang pernah mengagumi Ki Patih. Tetapi ketika kami mengetahui serba sedikit tentang Ki Patih, maka kami menjadi sangat kecewa.”

“Apa yang kau ketahui tentang aku?” bertanya Patih Mantahun sambil bertempur.

“Satu usaha untuk membunuh Kangjeng Adipati Pajang adalah salah satu usaha yang sangat kotor. Kami semua yakin bahwa rencana itu tentu tidak akan timbul dari Arya Penangsang yang kami memang mengakuinya sebagai laki-laki sejati,” jawab perwira itu.

“Persetan,” geram Ki Patih Mantahun. Serangan-serangan menjadi semakin cepat dan kuat. Namun para perwira itu pun telah mengerahkan segenap kemampuannya pula. Seorang demi seorang mereka menyerang, namun kemudian dengan loncatan panjang mereka telah bergantian menghindar.

Dengan demikian maka Ki Patih Mantahun yang berilmu sangat tinggi itu telah terpancing untuk bertempur dengan cara yang keras dan jarak yang panjang dari satu lawan ke lawan yang lain. Meskipun para perwira itu tidak memiliki kemampuan ilmu setingkat dengan Ki Patih, tetapi dalam jumlah yang cukup banyak mereka dapat memaksa Ki Patih mengerahkan tenaganya.

Para perwira yang mendapat petunjuk dari Ki Juru Martani itu, akhirnya memang melihat, betapapun tinggi ilmu Ki Patih Mantahun yang kebal itu, namun ia tidak mampu melawan perkembangan umurnya sendiri. Dalam usianya yang tua itu, maka pernafasannya pun mulai terpengaruh. Meskipun tingkat ilmunya tidak susut di hari tuanya, justru menjadi semakin masak, namun ketuaannyalah yang membuatnya berdebar-debar. Ki Patih tidak dapat mengingkari pengaruh usianya atas kemampuannya. Sementara itu Ki Patih pun sadar sepenuhnya, bahwa tidak ada seorang pun yang mampu menghindarkan diri dari bertambahnya usia tua.

Namun justru kesadaran itu telah membuat Ki Patih semakin memperhitungkan tata geraknya. Ia pun menjadi sadar bahwa para perwira Pajang itu telah dengan sengaja memancingnya, agar ia bergerak terlalu banyak. Tetapi Ki Patih memang tidak dapat menghindarinya. Serangan demi serangan datang dari arah yang berbeda-beda. Meskipun ia berusaha membatasi diri, namun setiap kali ia memang harus menghindar dan meloncat menyerang.

Betapa terampilnya tangan tua itu memutar tombaknya, ia harus melawan beberapa ujung senjata, tetapi tidak segores pun luka terdapat di tubuhnya. Apalagi Ki Patih itu memang memiliki ilmu kebal. Meskipun demikian Ki Patih tidak sepenuhnya mempercayakan diri kepada ilmunya itu. Ia masih memperhitungkan kemungkinan satu dua di antara ujung pedang dari orang-orang yang mengeroyoknya itu akan mampu menembus perisai ilmu kebalnya.

Tetapi ternyata, setelah pertempuran itu berlangsung beberapa lama, kulit Ki Patih Mantahun masih tetap utuh tanpa segores luka betapapun kecilnya. Namun yang sudah terasa mengganggu adalah justru pernafasannya.

Ki Patih menyadari sepenuhnya tentang hal itu. Karena itu, maka ia pun telah mempercayakan perlindungan tubuhnya tidak pada usahanya menghindari dan menangkis serangan lawan-lawannya, tetapi Ki Patih lebih mempercayakannya kepada ilmu kebalnya. Dengan demikian maka ia pun telah banyak mengurangi langkah-langkah yang cepat dan panjang.

Para perwira yang bertempur melawannya melihat perubahan tata gerak Ki Patih. Karena itu, maka mereka pun telah menyusun cara yang lain untuk memancing agar Ki Patih tetap bergerak lebih banyak. Satu dua orang di antara mereka yang memiliki kemampuan yang melampaui kawan-kawannya telah berusaha untuk mengerahkan segenap kemampuan mereka. Pada saat-saat tertentu mereka telah meloncat menyerang dengan sepenuh tenaga dan kemampuan ilmunya.

Kulit Ki Patih memang tidak terluka. Tetapi Ki Patih mulai merasa, bahwa daging dibawah kulitnya telah terpengaruh oleh serangan-serangan itu. Karena itu, betapapun juga, maka Ki Patih masih tetap harus memperhitungkan setiap kemungkinan yang dapat terjadi atas dirinya.

Sementara itu, pertempuran menjadi semakin dahsyat. Namun para prajurit Jipang yang sejak pada benturan pertama telah banyak berkurang itu, semakin mengalami kesulitan. Meskipun pasukan khususnya masih tetap bertahan, namun pasukannya yang lain mulai terdesak mundur. Dengan demikian maka sekat antara pasukan khusus Jipang dan pasukannya yang lain pun menjadi semakin tebal.

Dalam pada itu, Raden Sutawijaya pun telah sampai pada puncak usahanya untuk melumpuhkan Arya Penangsang. Beberapa kali Sutawijaya masih memutar kudanya di atas tepian berpasir, sementara kuda Arya Penangsang menjadi semakin liar, sehingga Arya Penangsang bertambah marah. Ketika dengan kendali Arya Penangsang memukul leher Gagak Rimang, maka kuda itu pun melonjak sambil berteriak marah pula. Hanya karena keterampilannya sajalah maka Arya Penangsang masih tetap melekat di punggungnya.

Namun pada saat-saat Gagak Rimang kehilangan kendali itulah merupakan saat yang paling baik bagi Raden Sutawijaya. Dengan tangkasnya Raden Sutawijaya memutar kudanya. Cepat kuda itu meloncat di samping Arya Penangsang yang masih berusaha menguasai kudanya. Pada saat yang demikian itulah tombak pusaka tertinggi Pajang telah terjulur lurus ke arah lambung Arya Penangsang.

Betapapun kebalnya kulit Arya Penangsang dilapisi ilmunya yang tinggi. Namun pusaka Pajang itu tidak dapat dibentengi sekadar dengan ilmu kebalnya.

Justru pada saat kedudukan Arya Penangsang dalam kesulitan, maka tombak pusaka itu benar-benar telah tergores di lambungnya.

Arya Penangsang menyeringai menahan sakit. Kulitnya tidak sekadar tergores oleh tombak Kangjeng Kiai Pleret itu, tetapi kulitnya benar-benar telah dikoyaknya.

Pada saat yang demikian, kudanya Gagak Rimang telah melonjak lagi. Justru pada saat kuda betina yang dipergunakan oleh Raden Sutawijaya itu melintas di sebelahnya.

Arya Penangsang yang terluka itu tidak mampu bertahan di atas punggung kudanya. Tangannya terlepas dari kendali dan kakinya tidak lagi melekat pada sangga wedinya. Karena itu, maka Arya Penangsang yang memiliki ilmu yang seakan-akan tidak terbatas itu telah terlempar jatuh dari punggung kudanya yang bagaikan menjadi gila.

Tidak banyak orang yang menyaksikan peristiwa itu. Pasukan khususnya sedang bertempur dengan mengerahkan segenap kemampuannya. Sementara itu pasukannya yang lain telah terdesak mundur ke arah Bengawan Sore. Sedangkan para prajurit Pajang pun sedang memusatkan perhatiannya kepada lawan-lawannya.

Namun yang menyaksikannya dengan jelas peristiwa itu adalah justru Ki Pemanahan, Ki Penjawi dan Ki Juru Martani. Mereka melihat dari jarak yang tidak terlalu dekat, bagaimana ujung tombak Raden Sutawijaya mengenai lambung Arya Penangsang. Mereka pun melihat bagaimana kuda Arya Penangsang itu melonjak dan melemparkannya jatuh ke tanah.

Tetapi Ki Pemanahan dan Ki Penjawi masih harus menahan diri. Mereka masih harus menyaksikan perkembangan keadaan Arya Penangsang dari jarak yang tidak terlalu dekat itu. Ketika mereka siap untuk mendekat, Ki Juru menahannya. Katanya, “Kita tunggu, apa yang akan terjadi kemudian.”

Tidak ada sorak yang mengguruh. Tidak ada teriakan-teriakan kemenangan, karena yang terjadi itu justru diluar lingkungan pertempuran yang dahsyat, dimana setiap orang harus bertahan mati-matian untuk tetap hidup dan keluar dari pertempuran itu bukan hanya sekadar namanya saja.

Sementara itu, Sutawijaya yang melihat Arya Penangsang, tiba-tiba saja tergerak hatinya untuk melihat keadaannya. Ia pun kemudian meloncat dari kudanya dan melepaskan kuda itu berlari tanpa kendali diikuti oleh kuda Arya Penangsang yang telah terlepas pula dari tangan penunggangnya.

Dengan hati-hati Sutawijaya berjalan mendekati Arya Penangsang yang sedang bergulat dengan maut. Lukanya mengangga di lambungnya, sehingga ternyata bahwa ususnya telah keluar lewat luka itu. Tetapi Arya Penangsang itu tidak gugur karena ujung tombak Kiai Pleret. Bahkan ia masih sempat menyangkutkan ususnya itu pada wrangka kerisnya.

Ki Juru Martani, Ki Pemanahan dan Ki Penjawi yang melihat keadaan Arya Penangsang itu menjadi saksi, bahwa tombak pusaka terbesar Pajang telah mampu menembus perisai ilmu kebal Arya Penangsang. Namun mereka masih ragu-ragu apakah yang akan terjadi selanjutnya. Mereka telah mendengar sebelumnya, bahwa tidak ada senjata, bahkan pusaka apapun juga yang akan dapat membunuh Arya Penangsang kecuali kerisnya sendiri, yang dinamainya Kangjeng Kiai Setan Kober.

Dalam keadaan yang demikian, maka Ki Juru, Ki Pemanahan dan Ki Penjawi melihat Raden Sutawijaya melangkah mendekati Arya Penangsang. Karena itu, maka mereka pun menjadi sangat cemas. Bahkan Ki Pemanahan tidak dapat tertahan lagi. Ia pun segera berlari mendekati anaknya, disusul oleh Ki Penjawi dan Ki Juru.

Tetapi agaknya mereka telah terlambat. Raden Sutawijaya yang benar-benar merasa iba melihat keadaan pamannya. Karena itu, dengan nada rendah ia berdesis, “Paman?”

Arya Penangsang yang masih memegangi lukanya serta menyangkutkan ususnya pada wrangka kerisnya, sempat berpaling. Dengan mata yang menyorotkan kemarahan ia memandang Raden Sutawijaya yang berdiri termangu-mangu membawa tombak Kangjeng Kiai Pleret yang pada ujungnya terdapat titik-titik darah Arya Penangsang.

Kemarahan yang sudah membakar jantung Arya Penangsang itu pun bagaikan disiram api. Meskipun lukanya terlalu parah, namun Arya Penangsang itu pun tiba-tiba telah bangkit berdiri. Dengan satu loncatan panjang maka ia pun dapat menangkap Sutawijaya yang masih berdiri tegak. Anak muda itu sama sekali tidak menyangka bahwa Arya Penangsang masih mampu melakukannya.

Karena itu, maka ia tidak bersiaga dan sama sekali tidak mengangkat tombaknya.

Ketika Ki Gede Pemanahan berteriak memperingatkannya maka Sutawijaya sudah tidak mendapat kesempatan untuk bergerak. Ia merasa satu sentuhan yang sangat menyakitkan tangannya, sehingga tombak Kangjeng Kiai Pleret telah terlepas dari genggamannya. Sebelum ia sempat meloncat, maka tangan Arya Penangsang yang kuat telah menekannya, memilin tangannya dan Sutawijaya benar-benar telah dikuasainya.

Sutawijaya berusaha untuk meronta. Betapapun tinggi ilmunya, tetapi ia tidak dapat melawan kekuatan tangan Arya Penangsang meskipun Arya Penangsang sudah terluka.

Pemanahan berhenti beberapa langkah dihadapan Arya Penangsang. Dengan suara bergetar ia berkata, “Kangjeng Adipati. Anak itu memang bukan lawanmu. Aku, Pemanahan akan berhadapan dengan Arya Penangsang sebagai dua orang yang telah menyadap berbagai macam ilmu dari berbagai perguruan serta mematangkannya dalam diri kita masing-masing.”

“Persetan kau Pemanahan,” geram Arya Penangsang. “Kau pancing aku dengan cara yang licik dan pengecut. Kau lukai pekatikku dan kau buat kudaku menjadi gila, karena anak ini mempergunakan kuda betina.”

“Kita sama-sama telah berbuat licik,” sahut Ki Pemanahan. “Kau kirim orang-orangmu untuk membunuh Kangjeng Adipati Pajang. Kemudian kau jebak Kangjeng Adipati pada satu pertemuan yang seharusnya dipergunakan untuk mencari jalan yang lebih baik bagi penyelesaian persoalan Jipang dan Pajang.”

“Gila,” geram Arya Penangsang sambil menggeretakkan giginya. “Semuanya bohong. Aku tidak menjebaknya. Jika perasaan berbicara pada saat itu, kedudukanku dan Adimas Adipati Pajang sama,” Arya Penangsang berhenti sejenak. Ketika Ki Pemanahan maju selangkah maka Arya Penangsang itu pun berkata, “Jangan mendekat. Anakmu akan lebih cepat mati.”

“Lepaskan anak itu. Kita akan membuat perhitungan,” berkata Ki Pemanahan.

“Aku tidak gila,” sahut Arya Penangsang. Kemudian suaranya meninggi, “Anak ini sudah mengoyak perutku. Aku tidak akan melepaskannya. Aku pun akan mengoyak perutnya. Jika ia mampu bertahan untuk hidup, biarlah ia hidup.”

“Jangan anak itu,” minta Ki Pemanahan. “Lakukanlah atasku.”

Ki Juru dan Ki Penjawi yang berdiri di belakang Ki Pemanahan menjadi berdebar-debar pula. Namun mereka masih sempat mempergunakan nalar mereka lebih baik dari Ki Pemanahan yang kebingungan melihat keadaan anaknya. Karena itu, maka baik Ki Juru maupun Ki Penjawi telah mempersiapkan ilmu mereka pada tataran puncaknya.

“Pemanahan,” berkata Arya Penangsang. “Tombak Kiai Pleret itu memang berhasil menembus ilmu kebalku. Tetapi tombak itu tidak akan dapat membunuhku. Karena itu, maka biarlah aku mengoyak perut anak ini, baru kemudian kita akan menyelesaikan persoalan kita. Meskipun aku sudah terluka parah, tetapi kau, Penjawi dan Juru Martani itu akan aku bunuh disini bersama-sama.”

Ki Pemanahan tidak dapat menjawab. Tetapi ia tidak ingin anaknya menjadi korban. Karena itu, maka ia pun telah bergerak mendekat.

Namun pada saat yang demikian, Arya Penangsang berteriak, “Jangan maju lagi.”

Ki Pemanahan tertahan sekejap. Tetapi dorongan perasaannya tidak dapat membendungnya. Ia pun telah bergerak lagi mengayunkan kakinya mendekat.

Pada saat yang demikian itulah Arya Penangsang tidak lagi menahan diri. Sutawijaya yang meronta di tangannya justru telah ditekannya pada tubuhnya. Kemudian satu tangannya telah bergerak dengan cepat menarik kerisnya dari wrangkanya.

Namun ternyata Arya Penangsang telah melupakan ususnya yang disangkutkannya pada wrangka kerisnya. Karena itulah, maka tajam keris Arya Penangsang sendiri yang bernama Kangjeng Kiai Setan Kober itu telah menggores dan memutuskan ususnya.

Arya Penangsang terkejut. Tetapi ia terlambat. Ususnya telah putus karena tajam kerisnya sendiri.

Sesaat Arya Penangsang terhenyak. Wajahnya nampak menahan sakit pada lukanya dan goresan kerisnya sendiri.

Sutawijaya memang merasakan tangan Arya Penangsang menjadi kendor. Dengan sekuat tenaganya ia meronta, sehingga ia pun telah terlepas dari tangan Arya Penangsang.

Pada saat yang demikian, Ki Juru telah mempergunakan senjatanya yang khusus untuk menyerang Arya Penangsang dari jarak beberapa langkah. Sebuah patrem kecil telah lepas dari tangannya. Bukan saja patrem itu merupakan senjata pusaka yang sangat diandalkannya, namun dorongan ilmu Ki Juru sendiri memang tidak dapat diabaikannya. Ki Juru adalah seorang yang berilmu tinggi, sebagaimana Ki Pemanahan dan Ki Penjawi, meskipun belum selapis dengan Kangjeng Adipati Pajang.

Pada saat yang demikian, pertahanan Arya Penangsang memang sudah menjadi lemah. Karena itu, maka patrem kecil itu pun telah menembus pula ilmu kebalnya mengenai tubuhnya. Tetapi patrem itu tidak menusuk dada, karena pada saat yang demikian Arya Penangsang memang sudah terhuyung dan jatuh di tanah. Sementara itu patrem itu hanya tergores di pundaknya.

Pada saat Arya Penangsang jatuh, maka Ki Juru, Ki Pemanahan dan Ki Penjawi telah berlari mendekat. Mereka telah berusaha untuk mengangkat kepala Arya Penangsang yang tertelungkup dan membalikkannya.

Mata Arya Penangsang masih menyala. Namun tubuhnya telah menjadi lemah sekali. Dengan suara terputus-putus ia berkata, “Kalian berhasil memperdayai aku. Tetapi jangan menyangka bahwa kalian mampu membunuh aku. Aku memang tidak akan mati oleh pusaka apapun juga kecuali kerisku sendiri. Dan aku telah terjebak melawan anak itu. Ususku yang tersangkut di wrangka kerisku agaknya telah tergores oleh kerisku sendiri. Itulah sebab kematianku.”

“Kangjeng,” desis Ki Pemanahan. “Maafkan cara yang kami tempuh. Kami sudah tidak dapat menahan kejemuan kami tinggal di pesanggrahan ini. Sementara itu, kami pun tahu, bahwa kami tidak akan dapat menyeberangi Bengawan menyerang Kangjeng Adipati.”

Arya Penangsang termangu-mangu mendengarnya. Namun kemudian katanya, “Dimana anak itu.”

Pemanahan menjadi ragu-ragu. Tetapi Arya Penangsang berkata, “Aku ingin berbicara dengan Sutawijaya. Aku sudah mengaku kalah.”

Ki Juru lah yang kemudian telah memanggil Sutawijaya. Meskipun agak ragu, namun Sutawijaya telah mendekatinya dengan Kiai Pleret yang telah dipungutnya di dalam genggamannya.

Dengan sisa tenaganya, Arya Penangsang memberi isyarat agar Sutawijaya itu pun mendekat.

Karena Ki Juru mengangguk, maka Sutawijaya pun telah mendekat pula dan berjongkok di sisi Arya Penangsang.

Ternyata Arya Penangsang tersenyum memandanginya. Dengan suara bergetar ia berkata, “Kau adalah seorang anak muda yang gagah berani. Meskipun membawa tombak pusaka Kangjeng Kiai Pleret yang terkenal itu, tidak banyak orang yang berani menghadapi Arya Penangsang. Tetapi darah kejantanan ayahmu Pemanahan dan ayah angkatmu Si Karebet itu ada di dalam dirimu. Mudah-mudahan kelak kau akan menjadi orang terpilih di antara orang-orang Pajang.

Sutawijaya menundukkan kepalanya. Ketika terpandang olehnya luka di lambung Arya Penang-sang ia berdesis, “Aku mohon maaf paman.”

“Jangan begitu. Kau tidak bersalah. Kau tahu, bahwa ini terjadi di medan perang. Hatimu jangan lemah menghadapi orang yang hampir mati seperti aku sekarang ini, karena bagi Pajang, aku memang orang yang harus disingkirkan, sebagaimana Karebet itu bagi Jipang. Tetapi aku harus mengakui, bahwa Pajang lah yang menang. Karena itu maka Pajang akan hidup dan tumbuh. Kau pun harus tumbuh dan mekar menjadi seorang yang besar di kemudian hari,” suara Arya Penangsang menjadi semakin lambat. Namun ia masih juga berbicara kepada Ki Pemanahan, “Pemanahan, bantulah anakmu menjadi seorang yang berarti.”

“Aku akan mencobanya Kangjeng Adipati,” jawab Ki Pemanahan.

Arya Penangsang terdiam sejenak. Wajahnya berkerut ketika ia menahan sakit yang mengiris di lukanya. Namun kemudian ia masih berbicara, “Bawa tubuhku ke medan. Biarlah orang-orangku menyaksikan mayatku, sehingga mereka akan menghentikan pertempuran sehingga dengan demikian korban akan berkurang di kedua belah pihak. Tetapi pesanku, jangan kau lakukan kekejaman atas prajurit-prajuritku. Mereka sama sekali tidak bersalah.”

Ki Pemanahan mengangguk kecil sambil menjawab, “Kami berjanji Kangjeng Adipati.”

Arya Penangsang menarik nafas dalam-dalam. Kemudian disentuhnya tangan Sutawijaya. Dan sekejap kemudian, maka sambil tersenyum Adipati yang gagah berani itu menutup matanya untuk selama-lamanya.

Ki Pemanahan menarik nafas dalam-dalam. Ki Juru dan Ki Penjawi pun telah menundukkan kepalanya, sementara Sutawijaya bagaikan telah membeku oleh kekagumannya terhadap Arya Penangsang yang telah gugur di medan perang.

Beberapa saat suasana pun menjadi hening. Namun kemudian mereka pun telah teringat kepada pesan Arya Penangsang. Karena itu, maka mereka pun telah mengangkat tubuh Arya Penangsang itu dan membawanya mendekati medan.

Dalam pada itu, pertempuran pun menjadi semakin membakar. Kedua belah pihak yang telah basah oleh keringat menjadi semakin garang. Suara senjata beradu pun semakin berdentang sedang setiap kali terdengar teriakan-teriakan marah serta hentakan-hentakan kekuatan.

Namun kadang-kadang terdengar juga keluhan tertahan dan rintihan kesakitan. Namun suara-suara itu tenggelam dalam hiruk pikuk yang keras dan bahkan menjadi semakin kasar.

Pasukan khusus dari Jipang telah bertempur dengan mengerahkan kemampuan dari setiap orang yang ada di dalamnya. Mereka yang memiliki beberapa kelebihan itu berusaha untuk dapat memecahkan pertahanan orang-orang Pajang, sehingga mereka pun kemudian akan dapat membantu mengoyak sekat antara pasukan khusus itu dengan pasukan yang lain.

Namun mereka harus berhadapan dengan kekuatan yang seimbang. Ternyata pasukan khusus Pajang tidak pula kalah garangnya setelah tangan mereka basah oleh keringat.

Dalam keadaan yang demikian, maka arena itu sudah dikejutkan oleh teriakan nyaring, “Hei orang-orang Jipang. Perhatikan, siapakah yang telah gugur di medan pertempuran ini.”

Tidak seorang pun yang menghiraukannya. Mereka tidak sempat untuk menggeser perhatian mereka dari lawan-lawan mereka barang sekejap pun. Jika mereka lengah sesaat, maka senjata lawan itu pun akan sempat singgah di lambungnya.

Namun terdengar suara itu lagi mengguruh, “Lihatlah, siapakah yang telah gugur.”

Karena masih belum nampak pengaruhnya, maka Ki Pemanahan dan Ki Penjawi pun telah membawa tubuh Arya Penangsang itu lebih dekat lagi ke arah pasukan Jipang. Bukan pasukan khususnya. Tetapi pasukan yang dipimpin oleh Ki Patih Mantahun.

“Ki Patih,” berkata Ki Juru. “Hentikan sejenak. Apakah kau tidak mengenal, siapakah yang telah gugur ini?”

Ki Patih mengerutkan keningnya. Sementara itu, para perwira yang bertempur melawannya pun agaknya telah memberi kesempatan kepada Ki Patih untuk sejenak memperhatikan tubuh yang dimaksud oleh suara itu. Apalagi mereka segera mengenal bahwa suara itu adalah suara Ki Juru Martani.

Sejenak kemudian maka pertempuran antara Ki Patih Mantahun dan kawan-kawannya itu pun seakan-akan terhenti sejenak. Ki Patih Mantahun sempat memperhatikan tubuh yang dibawa oleh Ki Pemanahan dan Ki Penjawi itu.

Tiba-tiba saja Ki Patih itu pun berteriak nyaring, “Kang­jeng Adipati.”

“Ya” jawab Ki Juru, “Kangjeng Adipati Jipang telah gugur. Kangjeng Adipati telah meninggalkan pesan, agar per­tempuran ini tidak perlu dilanjutkan. Korban yang semakin banyak tidak akan berarti apa-apa selain kesia-siaan saja.”­

Wajah Ki Patih menjadi tegang. Namun tiba-tiba saja ia menggeram “Omong kosong. Jika Kangjeng Adipati Arya Penangsang gugur, maka akulah yang memimpin para prajurit Jipang. Karena itu, maka aku justru memerintahkan agar me­reka bertempur terus sampai orang yang terakhir.”

“Jangan begitu Ki Patih” berkata Ki Juru, “sepe­ninggal Arya Penangsang, apakah artinya perjuangan Jipang,

Yang merasa berhak untuk menggapai tahta di Demak adalah Arya Penangsang. Bukan orang lain karena darah keturunannya. Karena itu, sepeninggal Arya Penangsang apakah ma­sih ada artinya perjuangan orang-orang Jipang.”

“Persetan dengan tahta Demak. Tetapi kematian Arya Penangsang adalah satu tikaman di jantung Pajang. Kami harus menuntut balas atau kami semua akan ikut mati bersa­manya.” teriak Mantahun.

“Jangan kehilangan nalar. Apakah artinya ikut mati bersamanya. Bukankah kematian itu tidak mempunyai arti sama sekali?” sahut Ki Juru,

“Orang-orang Pajang memang tidak mempunyai kesetiaan seperti orang-orang Jipang. Kesetiaan kamilah yang men­desak kami untuk bertempur sampai mati.” jawab Ki Patih.

“Kesetiaan macam apakah yang akan kalian tunjukkan kepada Kangjeng Adipati Arya Penangsang? Kesetiaan atau semacam keputusasaan dan bunuh diri?” bertanya Ki Juru Martani. Lalu, “Jika kalian memang setia kepadanya, ikuti­lah pesan terakhirnya. Perang yang berkepanjangan hanyalah satu kesia-siaan belaka.”

“Persetan” geram Ki Patih Mantahun, “ayo, siapa yang akan mati lebih dahulu. Jangan menghina Mantahun. Tanpa Arya Penangsang Mantahun akan dapat menyelesaikan tugas ini. Menghancurkan Pajang, karena ilmu yang dimiliki Mantahun tidak kalah meskipun hanya selapis tipis dari Arya Penangsang.”­

“Ki Patih” berkata Ki Pemanahan kemudian, “aku masih ingin mencegah kematian yang bakal tidak terbilang jika pertempuran ini berjalan terus. Kita-kitalah sebenarnya pem­bunuh-pembunuh yang paling tidak berperasaan, karena jika kita mau, maka korban-korban itu dapat dihindarkan.”

“Cara berpikir pengecut licik. Jangan banyak bicara. Kami akan menuntut kematian Arya Penangsang, atau kami akan mati bersamanya hari ini, di medan pertempuran. Jangan rendahkan martabat kami sebagai kesatria Jipang yang agung.” teriak Ki Patih.

Ki Pemanahan termangu-mangu sejenak. Persoalannya memang berbeda dari keinginan Arya Penangsang sendiri.”­

Namun dalam pada itu, Ki Mantahun agaknya sudah ti­dak ingin berbicara lebih banyak lagi. Ia pun segera memutar senjatanya dan mulai menyerang para perwira yang mengepungnya. Justru didorong oleh kemarahan yang menghentak-­hentak, maka tenaganya pun seakan-akan telah pulih kembali, bahkan menjadi berlipat.

PARA perwira itu terkejut. Dengan serta merta mereka pun telah berloncatan menghindari serangan Ki Patih. Namun Ki Patih mampu bergerak semakin cepat, sehingga ujung senjatanya seakan-akan telah memburu setiap orang di arena itu.

Para perwira itu seakan-akan telah kehilangan kesempatan. Orang tua itu benar-benar tidak menghiraukan keselamatan dirinya.

Ki Pemanahan yang melihat keadaan itu, tidak dapat berpangku tangan. Meskipun para perwira yang ditugaskannya membatasi gerak Ki Patih Mantahun itu adalah orang-orang pilihan, tetapi sulit bagi mereka untuk menyelesaikan pertempuran itu. Ki Patih Mantahun memang seorang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi.

Karena itu, maka Ki Pemanahan pun telah minta kepada Ki Penjawi untuk meletakkan saja tubuh Arya Penangsang. Katanya, “Kau tunggui tubuh itu bersama Ki Juru. Aku akan menyelesaikan Ki Patih meskipun mungkin akan dapat terjadi sebaliknya.”

Ki Penjawi tidak dapat menahannya. Ki Pemanahan adalah Panglima prajurit Pajang.

Sejenak kemudian, maka Ki Pemanahan pun telah menyibak para perwira yang mengepung Ki Patih Mantahun. Dengan nada rendah Ki Pemanahan berkata, “Aku adalah Panglima pasukan Pajang. Karena itu sudah sepantasnya bahwa aku akan menghadapimu Ki Patih.”

Ki Patih memandang Ki Pemanahan dengan tajamnya. Kemudian katanya, “Baiklah. Memang seharusnya kita bertempur berhadapan. Kau tidak dapat mempercayakan kepada tikus-tikus kecil yang ternyata tidak berarti apa-apa itu.”

“Jangan menghina. Tetapi satu kenyataan bahwa Ki Patih tidak juga dapat mengalahkan mereka,” jawab Ki Pemanahan.

“Satu langkah yang berani. Bukan keberanian seorang kesatria, tetapi para prajurit Pajang telah menjadi semakin berani berbuat licik. Justru karena para pemimpin dari Pajang telah kehilangan harga dirinya,” geram Mantahun.

“Ki Patih,” wajah Ki Pemanahan menjadi merah oleh kemarahan yang mulai menyentuh jantungnya. “Kehadiranku dihadapan Ki Patih sekarang ini juga karena harga diri. Tetapi baiklah. Kita akan mulai menguji diri kita masing-masing. Kau atau aku. Namun wajar sekali jika seorang prajurit mati di medan perang.”

Ki Patih tidak menjawab. Tetapi ia sudah siap bertempur menghadapi Ki Pemanahan, Panglima prajurit Pajang yang pernah menjadi saudara seperguruan Karebet yang kemudian menjadi Adipati Pajang.

Sejenak kemudian, maka keduanya pun telah terlibat dalam pertempuran yang seru.

Ki Pemanahan telah mencabut pedangnya dan mempergunakan untuk melawan senjata Ki Patih Mantahun. Sekali-kali kedua senjata itu beradu memercikkan bunga-bunga api. Namun ketika senjata-senjata itu menyentuh kulit lawan, ternyata bahwa tidak terjadi segores lukapun. Baik pada tubuh Ki Patih Mantahun maupun pada tubuh Ki Pemanahan. Namun kecepatan mereka bergerak memang sekali-kali memberi kesempatan bagi ujung-ujung senjata masing-masing mengenai lawannya.

Sementara itu, pertempuran di seluruh medan pun menjadi semakin dahsyat pula. Namun ternyata bahwa para prajurit Jipang semakin lama memang menjadi semakin terdesak. Semakin lama semakin mendekati tepian Bengawan Sore.

Dalam pada itu, Ki Penjawi dan beberapa orang perwira telah membawa tubuh Arya Penangsang yang gugur itu mendekati pasukan yang mundur itu. Dengan lantang ia berkata, “Lihatlah. Kanjeng Adipati Jipang telah gugur di medan perang. Ia gugur sebagai seorang laki-laki jantan. Tetapi pesannya adalah pesan seorang kesatria sejati. Ia tidak mau melihat korban lebih banyak lagi dari kedua belah pihak.”

Kenyataan itu memang mendebarkan jantung. Sementara itu Ki Penjawi berkata, “Marilah kita hentikan pertempuran itu. Menyerahlah. Dengan demikian maka korban tidak akan bertambah banyak dan kita akan berusaha mencari penyelesaian yang paling baik. Apa artinya perang ini bagi kalian jika Arya Penangsang sudah tidak ada.”

Para Senapati dalam pasukan Jipang itu termangu-mangu. Namun mereka menyadari, bahwa Ki Patih Mantahun masih bertempur. Bahkan dalam kemelut yang mendesak, Ki Patih seakan-akan telah terpisah dari pasukannya yang terdesak mundur.

Ki Penjawi melihat keragu-raguan di wajah para senapati. Karena itu, maka katanya, ”Masih ada kesempatan untuk berbicara. Marilah kita berbicara. Menyerahlah”

Ki Penjawi melihat keragu-raguan di wajah para Senapati. Karena itu, maka katanya, “Masih ada kesempatan untuk berbicara. Marilah kita berbicara. Menyerahlah.”

Tetapi para Senapati itu tidak dapat mengambil keputusan. Mereka lebih banyak menunggu perintah Ki Patih Mantahun. Bahkan mereka masih berpengharapan bahwa Ki Patih itu akan membuat keseimbangan dalam perang itu. Atau barangkali pasukan khusus yang terpilih itu akan ikut menentukan akhir dari peperangan itu.

Sebenarnyalah Ki Pemanahan dan Ki Patih Mantahun telah bertempur dengan segenap kemampuan mereka. Mereka telah melepaskan segenap kekuatan yang ada di dalam diri mereka.

Ternyata kemampuan keduanya adalah seimbang. Ki Patih Mantahun tidak mampu segera mengalahkan Ki Pemanahan, sebaliknya Ki Pemanahan pun tidak dapat menundukkan Ki Patih Mantahun yang tua itu.

Raden Sutawijaya menyaksikan pertempuran itu dengan hati yang berdebar-debar. Namun tiba-tiba ia teringat kepada pusaka yang dibawanya. Pusaka tertinggi Pajang yang disebut Kangjeng Kiai Pleret.

Tiba-tiba saja tangannya bergetar. Arya Penangsang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi pun dapat tergores oleh ujung tombak itu.

Karena itu, maka tiba-tiba saja ia telah mendekati arena. Dengan hati-hati ia menyaksikan ayahnya bertempur melawan Ki Patih Mantahun. Desak mendesak dan dera-mendera.

Tetapi Raden Sutawijaya ragu-ragu untuk melibatkan diri dalam pertempuran itu. Ketika ia berpaling ke arah Ki Juru Martani yang tegang, maka ia tidak mendapat kesan apapun dari wajah Ki Juru yang perhatiannya justru telah terampas oleh pertempuran itu.

Sejenak Sutawijaya termangu-mangu. Jika ia ikut serta melibatkan diri, mungkin ayahnya akan menyalahkannya. Ayahnya akan dapat tersinggung karena dalam perang tanding itu seseorang telah membantunya. Namun jika pertempuran itu dibiarkannya, maka mungkin akan makan waktu yang tidak terbatas. Mungkin sampai saatnya matahari terbenam pertempuran itu masih belum selesai dan harus dilanjutkan esok pagi.

Karena itu, maka Raden Sutawijaya itu telah mendekati Ki Juru. Ketika ia menggamit Ki Juru, maka Ki Juru memang terkejut.

“Paman,” berkata Sutawijaya, “Apakah aku dapat membantu ayah dalam pertempuran ini?”

Ki Juru mengerutkan keningnya. Katanya, “Meskipun tidak ada perjanjian perang tanding, tetapi sebaiknya kau jangan mengganggu.”

“Tetapi apakah pertempuran itu akan dapat cepat selesai? Jika perang tanding itu cepat selesai, maka perang dalam keseluruhannya akan selesai,” berkata Raden Sutawijaya. “Korban akan dapat disusut sejauh mungkin.”

Ki Juru mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Baiklah Sutawijaya. Pertempuran memang harus segera diakhiri. Tetapi kita atau siapapun juga tidak akan ada yang mampu memaksa Ki Patih itu menyerah. Ia adalah seorang Patih yang sangat setia. Maka akhir dari pengabdiannya adalah kematiannya.”

“Jadi bagaimana menurut pertimbangan paman?” bertanya Raden Sutawijaya.

“Marilah,” berkata Ki Juru. “Berdirilah dekat dengan arena pertempuran itu. Tetapi bersiagalah dengan Kangjeng Kiai Pleret itu.”

Raden Sutawijaya mengerutkan keningnya. Tetapi ternyata bahwa ia adalah anak muda yang bukan saja berani, tetapi juga memiliki kecerdasan yang tinggi. Karena itu, maka ia pun segera mengetahui maksud Ki Juru.

Sejenak kemudian maka Raden Sutawijaya pun telah mendekati arena untuk menyaksikan pertempuran itu dari jarak yang sangat dekat. Namun seperti pesan Ki Juru, Raden Sutawijaya itu pun telah siap dengan tombak pusakanya yang diterimanya dari ayahanda angkatnya, Kangjeng Adipati di Pajang.

Sementara itu perang tanding antara Ki Pemanahan dan Ki Mantahun telah menjadi semakin seru. Ketika keduanya mengerahkan segenap kemampuan mereka, maka rasa-rasanya tubuh mereka memang mulai tersentuh oleh serangan-serangan lawan yang menggoyahkan pertahanan ilmu kebal masing-masing. Ujung-ujung senjata itu memang terasa mulai menyakiti daging dibawah kulit. Tetapi kulit mereka sama sekali tidak terluka karenanya.

Namun demikian, kekuatan ilmu kebal mereka telah mereka pergunakan bersama dengan kemampuan mereka bergerak cepat menghindari setiap serangan. Sehingga dengan demikian maka ketahanan tubuh mereka pun menjadi semakin tinggi.

Dalam pada itu, maka Sutawijaya pun memperhatikan pertempuran itu dengan saksama. Sernentara itu Ki Juru,pun telah mendekati arena itu pula. Dengan suara lantang ia berkata, “Ki Patih Mantahun. Kenapa Ki Patih tidak mau mengakhiri pertempuran ini? Bukankah masih banyak jalan dapat ditempuh sebagaimana pesan Kangjeng Adipati Arya Penangsang yang telah gugur? Marilah .kita junjung pesan terakhir itu.”

“Omang kosong”.teriak Ki Patih, “Kangjeng Adipati tentu berpesan agar aku membalaskan dendamnya. Membunuh orang- orang yang telah menjeratnya kedalam satu jebakan dengan licik.”

“Tidak ada yang licik” sahut Ki Juru, “Arya Penangsang bertempur seorang melawan saorang. Anak muda itu lah yang telah membunuh Arya Penangsang tanpa bantuan orang lain. Jangan dikira bahwa kami telah mengeroyoknya dan membunuh Arya Penangsang. Tetapi Arya Penangsang bertempur dalam pertempuran berkuda dengan Sutawijaya.”

”Omong kosong. Kau pancing Kangjeng Adipati menyusup di belakang garis pertempuran ini dan kalian beramai-ramai membunuhnya sebagaimana laku, orang-orang yang licik, pengecut dan tidak beradab.” sahut Ki Patih sambil bartempur.

“Baiklah” Ki Pemanahan yang menyahut, “apapun yang kau katakan. Kita akan menentukan siapakah yang akan keluar hidup dari lingkaran perang tanding ini.”

“Terserahlah” berata Ki Juru, “tetapi sebelum kau mati Ki Patih, kau harus melihat kebenaran tentang kematian Arya Penangsang. Bukan karena sikap pengecut, licik dan apa lagi. Tetapi anak muda itu benar-benar membunuhnya dalam perang berkuda.”

Wajah Ki Patih menjadi tegang. Kebencianaya kepada Sutawijaya tiba-tiba telah memuncak. Karena itu, maka timbullah niatnya untuk membinasakannya. Pernyataan bahwa Sutawijaya telah membunuh Arya Penangsang adalah satu penghinaan yang sangat menyakitkan hati.

Karena itu, maka ia pun telah berusaha untuk bergeser. Ketika kesempatan itu datang, maka ia pun telah meloncat keluar dari arena. Dengan serta merta ia telah menyerang Raden Sutawijaya yang menggenggam tombak pusaka Pajang.

Ki Pemanahan memang terkejut. Ia tidak menyangka bahwa serangan Ki Patih akan berubah arah. Namun Sutawijaya telah bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Karena itu, ketika Ki Patih Mantahun meloncat menyenyerangnya, maka, ujung tombaknyalah yang lebih dahulu menyentuh kulit Ki Patih Mantahun. Ujung tombak Kangjeng Kiai Pleret yang memiliki kekuatan yang luar biasa, dan yang landeannya lebih panjang dari Senjata Ki Patih Mantahun.

Ki Patih terkejut bukan buatan. Ia sudah mengetrapkan, ilmu, kebalnya sampai ke batas kemampuannya, sehingga seharusnya ujung tombak itu tidak tergores di kulitnya.

Tetapi yang terjadi benar-benar diluar perhitungannya, Ujung tombak anak muda itu, telah tergores di pundaknya, sehingga dengan demikian maka Ki Patih Mantahun itu telah tertahan sejenak.

Dengan tatapan mata yang membara ia berdesis sambil meraba pundaknya yang terluka, “Gila. Kekuatan apakah yang telah memungkinkanmu menembus ilmu kebalku? Ki Pemanahan. Panglima pasukan Pajang yang namanya mengumandang dari ujung sampai ke ujung Demak tidak mampu menembus ilmu kebalku; meskipun ia dapat menyakiti daging di bawah kulitku,.”

Ki Juru Martani lah yang menyahut, “Ki Patih. Perhatikanlah tombak yang dibawa oleh anak itu. Memang setelah dibuka selongsongnya, kau dapat menjadi tidak mengenalinya. Tetapii cobalah kau perhatikan landeannya serta tajamnya tombak itu.”

Ki Patih Mantahun kemudian telah memperhatikan tombak yang berada ditangan Raden Sutawijaya itu. Tiba-tiba saja wajahnya menjadi semakin tegang. Tubuhnya pun menjadi getaa Dengan lantang ia berkata, “Kangjeng Kiai Pleret, Aku mengenali landeannya meskipun banyak tombak yang memiliki landean seperti itu. Tetapi yang tidak akan sama adalah cahaya yang menyala dari ujung mata tombak itu. Karena itu, goresan ini akan menentukan akhir dari perjuanganku dan pengabdianku terhadap Jipang. Tetapi aku tidak akan mati sendiri. Anak itu pun harus mati pula bersamaku.”

Ki Patih pun tiba-tiba saja telah bergeser setapak. Kemudian dengan loncatan panjang ia pun melenting menyerang Sutawijaya. Meskipun Raden Sutawijaya membawa tombak Kanjeng Kiai Pleret, namun jika Ki Patih itu benar-benar berusaha membunuhnya dengan tanpa menghiraukan keselamatannya sendiri, maka Sutawijaya tentu tidak akan mampu menghindarkan dirinya.

Namun dalam pada itu, Ki Juru meloncat lebih cepat. Dengan serta merta ia telah menarik Raden Sutawijaya menjauh, sementara itu Ki Pemanahanpun telah tanggap akan keadaan. Karena itu, maka ialah yang kemudian meloncat memasuki arena, menangkis ujung senjata Ki Patih Mantahun yang mengarah ke dada anaknya.

“Setan kau,” geram Ki Patih Mantahun.

“Salahmu Ki Patih yang telah menjadi pikun. Seharusnya kau bertempur melawan aku. Tidak anak kecil itu,” berkata Ki Pemanahan.

“Ia telah menyentuh tubuhku dengan tombak Kanjeng Kiai Pleret. Biarlah ia mati bersamaku,” jawab Ki Patih Mantahun.

“Seandainya harus mati, biarlah yang tua inilah yang mati. Jangan anak yang masih sangat muda itu. Umurnya masih panjang, karena ia merupakan harapan masa depan,” sahut Ki Pemanahan pula.

“Persetan,” geram Ki Patih Mantahun yang meloncat menyerang Ki Pemanahan.

Ki Pemanahan sudah bersiap. Karena itu, maka ia pun sempat meloncat menghindar.

Namun Ki Patih Mantahun benar-benar menjadi putus asa. Ia tahu akibat sentuhan tombak Kanjeng Kiai Pleret. Karena itu, maka yang menjadi tujuan terakhirnya adalah membawa lawannya untuk mati bersama.

Tetapi Ki Pemanahan pun tahu pasti akibat yang dapat terjadi dengan Ki Patih Mantahun yang terluka itu. Karena itulah, maka Ki Pemanahan untuk selanjutnya tidak bernafsu lagi untuk menyerang. Ia hanya bergeser saja menghindar dari setiap serangan Ki Patih. Sekali-kali menangkis dan bahkan sekali-kali kulitnya telah tersentuh pula serangan ujung senjata lawannya. Namun kekebalannya telah melindungi kulitnya meskipun terasa betapa nyerinya bagian dalam tubuhnya.

Seperti perhitungan Ki Pemanahan, maka lambat laun, tenaga Ki Patih pun menjadi susut. Ketika kekuatan tombak Kanjeng Kiai Pleret mulai bekerja ditubuhnya, maka Ki Patih itu pun merasa waktunya tidak akan lama lagi, bahwa pengabdiannya akan selesai.

Namun ia sudah tidak mampu lagi bergerak dengan garang dan cepat. Semakin lama tubuhnya terasa semakin lemah, sehingga akhirnya maka lututnya pun seakan-akan tidak lagi mampu menahan berat badannya.

Ki Patih Mantahun itu pun akhirnya kehilangan keseimbangannya. Perlahan-lahan ia jatuh pada lututnya. Dipandanginya Ki Pemanahan dan Sutawijaya berganti-ganti dengan sorot mata penuh kebencian.

“Kalian ayah dan anak yang tidak lagi berpijak pada sifat kesatria,” geramnya.

Sutawijaya mengerutkan keningnya. Namun Ki Pemanahan sama sekali tidak berbuat apa-apa dan tidak pula menjawab ketika Ki Patih Mantahun berkata, “Kemenangan kalian bukan kemenangan yang dapat dibanggakan. Kalian akan malu sendiri mengenangkan kemenangan kalian kali ini.”

Ki Pemanahan melangkah setapak maju meskipun ia masih juga berhati-hati. Namun ekejap kemudian, maka tubuh Ki Patih itu pun telah terguling dan terbaring ditanah.

Prajurit-prajurit Pajang yang melihat hal itu telah bersorak gemuruh. Bahkan ada di antara mereka yang berteriak, “Ki Patih telah terbunuh. Ki Patih Mantahun telah terbunuh.”

Teriakan itu mengumandang semakin tinggi, sehingga seluruh pasukan Jipang pun telah mendengarnya, karena prajurit-prajurit Pajang yang mendengar teriakan itu telah menyambut dengan teriakan yang sama.

Para Senapati Jipang tidak mempunyai pilihan lain. Karena kedua orang pemimpin mereka telah terbunuh di medan, maka para Senapati itu pun telah mengambil langkah sendiri-sendiri. Namun ketika seorang di antara mereka membunyikan isyarat, maka yang lain pun telah berbuat serupa pula.

Dengan demikian maka pasukan Jipang itu telah menyerah. Mereka menarik diri beberapa langkah. Kemudian mereka pun telah melepaskan senjata mereka masing-masing.

Para Senapati itu memang sudah tidak melihat kemungkinan untuk berbuat apa-apa lagi. Selain mereka memang sudah terdesak, maka tanpa ikatan perintah dari seorang pemimpin yang memiliki wibawa sebagaimana Kanjeng Adipati Jipang atau Ki Patih Mantahun, maka perlawanan mereka tidak akan berarti. Yang akan terjadi kemudian hanyalah sekadar memperpanjang waktu dan memperbanyak korban.

Berbeda dengan pasukan Jipang yang lain, maka pasukan yang disebut Pasukan Pengawal Khusus itu justru berteriak mengumpati kawan-kawannya yang kemudian ternyata menyerah itu, seorang di antara mereka berteriak keras-keras, “Pengecut. Kalian sama sekali tidak memiliki kesetiaan mengabdi. Kenapa kalian telah berubah dengan tiba-tiba menjadi pengecut? Kenapa kalian menyerah, he?”

Tetapi teriakan-teriakan itu tidak berpengaruh sama sekali. Yang menyerah sudah telanjur menyerah. Prajurit Pajang telah menggiring mereka dengan meninggalkan senjata-senjata yang telah mereka lemparkan ke tanah. Para prajurit Pajang itu pun telah memerintahkan pasukan Jipang yang menyerah itu kemudian duduk ditepian berpasir dijaga oleh prajurit Pajang dengan ketatnya. Sementara itu sebagian di antara para prajurit Pajang itu telah mengumpulkan senjata-senjata yang terbuang itu.

Namun dalam pada itu, sepasukan yang disebut Pasukan Khusus yang setia itu masih bertempur terus. Pasukan Khusus Pajang menjadi marah juga menghadapi mereka. Tetapi setiap prajurit dari pasukan khusus Jipang itu seakan-akan telah berbuat di luar sadarnya. Mereka seakan-akan telah melakukannya sekadar untuk membunuh diri. Namun justru karena itu, maka mereka pun telah menjadi liar.

Sebagian prajurit Pajang yang lain pun telah ikut pula memperkuat pasukan khusus itu. Bahkan kemudian Ki Pemanahan, Ki Penjawi dan beberapa perwira yang dipersiapkan untuk melawan Ki Patih Mantahun pun telah ada pula di antara pasukan khusus Pajang. Sehingga dengan demikian maka keseimbangan kekuatan antara kedua pasukan itu pun segera berubah.

Namun bagaimanapun juga, pasukan terpilih itu sama sekali tidak berniat untuk menyerah. Mereka bertempur dengan segenap kekuatan dan kemampuan mereka. Meskipun seorang demi seorang telah gugur, namun tidak seorang pun di antara mereka menjadi gentar.

Ki Pemanahan lah justru yang menjadi bingung menghadapi pasukan yang luar biasa itu. Pasukan yang benar-benar akan bertempur sampai orang yang terakhir.

“Kenapa kita tidak mempergunakan nalar kita,” teriak Ki Pemanahan. “Apakah pertempuran seperti ini akan berarti. Kalian akan mati dan sebagian dari prajurit kami pun akan mati tanpa arti.”

“Kami adalah para prajurit dari pasukan pengawal khusus,” sahut Senapati dari pasukan itu. “Akhir perlawanan kami adalah kematian kami.”

Ki Pemanahan menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti keteguhan hati para prajurit dari Pasukan Pengawal Khusus Jipang sebagaimana juga Pasukan Khusus Pajang. Karena itu, maka Ki Pemanahan tidak dapat mengharap mereka akan mengakhiri pertempuran dan menyerah. Tetapi mereka tentu akan melawan sampai mati.

“Aku sudah berusaha,” berkata Ki Pemanahan. “Namun jika kematian harus bertambah-tambah, itu sama sekali bukan salahku.”

Senapati dari Pasukan Pengawal Khusus itu tidak menjawab. Namun ia justru memberikan isyarat kepada prajurit-prajuritnya untuk bertempur semakin cepat.

Pasukan Pengawal Khusus dari Jipang itu pun kemudian bagaikan menjadi gila. Mereka bertempur dengan garangnya. Mereka telah mengerahkan semua kemampuan dan lmu yang ada pada diri mereka. Dan yang lebih berbahaya adalah karena justru ereka telah menjadi putus asa. Mereka tidak mempunyai harapan lagi untuk hidup, ditambah dengan keinginan untuk tetap setia kepada Arya Penangsang sampai mereka gugur dipertempuran.

Namun tidak ada jalan lain bagi Ki Pemanahan jika ia ingin menghentikan pertempuran. Membunuh para prajurit dari Pasukan Pengawal Khusus itu sampai orang yang terakhir.

Demikianlah pertempuran itu pun semakin lama menjadi semakin dahsyat. Dalam puncak ilmu, maka sulit bagi orang yang tidak memiliki ilmu yang tinggi untuk memasuki arena. Pasukan Pajang yang bukan dari prajurit Pasukan Pengawal Khusus mengalami kesulitan dihadapan para prajurit dari Pasukan Pengawal Khusus itu. Sehingga karena itu, maka mereka pun kemudian hanya sekadar mengepung pasukan yang sedang bertempur itu.

Tetapi para perwira dari pasukan itu pun memiliki kelebihan pula di dalam diri mereka, sehingga sebagian besar dari mereka telah ikut pula terjun di medan perang melawan Pasukan Pengawal Khusus itu.

Bukan saja mereka, tetapi ketika Ki Pemanahan, Ki Penjawi dan bahkan Ki Juru Martani sudah kehabisan cara untuk menghentikan pertempuran itu, maka mereka pun telah benar-benar melibatkan diri pula ke dalamnya. Namun sebelumnya Ki Pemanahan telah menyerahkan Sutawijaya kepada beberapa orang perwira dan prajurit untuk mendapat perlindungan. Meskipun Raden Sutawijaya telah mampu membunuh Arya Penangsang, namun sebenarnyalah masih sangat berbahaya baginya jika Raden Sutawijaya itu bertempur melawan prajurit Jipang dari Pasukan Pengawal Khusus di arena perang brubuh.

Seperti yang diperhitungkan oleh Ki Pemanahan, maka seorang demi seorang prajurit Jipang itu gugur, sehingga akhirnya mereka pun menjadi semakin sedikit.

“Bukan main,” desis Ki Pemanahan. “Demikian banyaknya kematian yang terjadi sepeninggal Arya Penangsang, meskipun sebelum gugurnya Arya Penangsang sempat berpesan agar kedua belah pihak menghentikan peperangan. Tetapi pesan itu tidak pernah dapat dilakukan. Karena para prajurit dari Pasukan Pengawal Khusus itu telah menunjukkan kesetiaannya yang tinggi. Kesetiaan yang sebenarnya berlebih-lebihan. Namun kesengajaan untuk membunuh diri dalam keadaan putus asa telah mendorong mereka pula untuk bertempur terus. Mereka memang memilih mati daripada menjadi tawanan perang.

Para prajurit Pajang pun bukannya tidak menderita korban. Satu demi satu, prajurit Pajang pun berkurang. Namun kehadiran Ki Pemanahan, Ki Penjawi sebagai Panglima prajurit Pajang serta Ki Juru Martani telah membatasi korban di pihak Pajang dan memperbanyak kematian di pihak Jipang.

“Apakah kalian masih juga tidak bersedia menyerah,” Ki Pemanahan sekali lagi memperingatkan para prajurit Jipang. “Mengakui kebenaran adalah salah satu tindak kesatria, sebagaimana mengakui kenyataan. Nah, apakah kalian tidak melihat kenyataan yang terjadi sekarang ini. Mengakui kekalahan tidak dengan cara pengecut adalah pertanda seorang yang berjiwa besar. Kalian dihadapkan pada satu kenyataan bahwa kalian tidak akan mungkin mengalahkan prajurit Pajang atau menembus kepungan dan lari ke hutan.”

“Persetan,” geram Senapatinya yang masih bertempur dengan gigih, “Seorang di antara kami mati, maka dua orang prajuritmu akan mati.”

“Jangan membual pada saat yang sulit seperti ini, seolah-olah kami tidak pernah melihat pertempuran serupa ini, bahkan mengalami,” jawab Ki Pemanahan. “Karena itu renungkan.”

Tetapi segala macam peringatan, bujukan dan ancaman tidak mereka hiraukan.

Ki Pemanahan lah yang kemudian bergeser mendekati Senapati itu. Ia akan menempatkan dirinya sebagai lawannya dengan harapan, bahwa setelah Senapatinya terbunuh di peperangan, yang lain akan membuat pertimbangan khusus.

Demikianlah, Senapati yang melihat Ki Pemanahan bergeser kearahnya itu menjadi semakin marah. Dengan lantang ia berkata, “Nah, Pemanahan yang agung. Sebaiknya kita memang berhadapan sejak semula.”

Namun Ki Pemanahan menjawab, “Aku adalah Panglima prajurit Pajang yang harus mengamati medan dalam keseluruhan. Tetapi sepeninggal Arya Penangsang dan Ki Patih Mantahun, tugasku sebenarnya sudah selesai. Namun ternyata bahwa kalian telah mengeraskan hati kalian dalam keputusasaan serta memaksa kami untuk membantu kalian membunuh diri sendiri. Mungkin memang terbersit keinginan kalian untuk mati di peperangan ini dalam kesetiaan yang membabi buta.”

Senapati itu menjadi sangat marah. Ia pun dengan serta merta telah meninggalkan lawannya dan menerkam Ki Pemanahan dengan ujung senjatanya.

Ki Pemanahan yang telah mengetrapkan ilmu kebalnya masih juga berusaha menghindar sambil menangkis serangan lawannya untuk menjajagi kekuatan lawannya itu. Apakah kekuatan itu akan dapat menembus ilmu kebalnya atau tidak.

Baru setelah Ki Pemanahan yakin, maka pada serangan berikutnya Ki Pemanahan dengan sengaja tidak menghindarkan diri lagi.

Senapati itu terkejut ketika senjatanya menyentuh lambung Ki Pemanahan, namun sama sekali tidak melukainya. Namun Senapati itu pun segera menyadari, bahwa Ki Pemanahan memang memiliki ilmu kebal yang kuat.

Tetapi Senapati itu tidak berputus asa. Seorang yang memiliki ilmu kebal tentu memiliki kelemahan. Diseluruh tubuhnya tentu ada bagian yang tidak dapat dilindungi langsung oleh ilmu kebalnya.

Namun Senapati itu harus berusaha untuk menyerang diseluruh tubuh Ki Pemanahan jika ia ingin menemukan kelemahan itu.

Namun Senapati itu tidak mendapat kesempatan. Ki Pemanahan yang ingin segera mengakhiri pertempuran itu pun telah melawannya dengan sungguh-sungguh, sehingga dalam waktu dekat, darah Senapati itu benar-benar telah menitik di bumi kelahiran yang menjadi pedih melihat pertempuran di antara putera-putera terbaiknya.

Tetapi pertempuran itu tidak berhenti. Senapati yang terluka itu justru menjadi garang dan liar. Sama sekali tidak terlintas di otaknya untuk memberikan isyarat agar pasukannya menyerah.

Karena itu, maka Ki Pemanahan pun tidak mempunyai pilihan lain. Ia benar-benar telah berniat untuk membunuh saja Senapati yang angkuh, harga diri dan putus asa berbaur didalam dirinya.

Karena itulah, maka seterusnya Ki Pemanahan tidak sekadar bertahan. Ia pun telah menyerang Senapati yang memimpin Pasukan Pengawal Khusus yang tidak lagi mampu mempergunakan pertimbangan nalarnya.

Sejenak kemudian, maka dengan satu serangan yang cepat, Ki Pemanahan telah mengakhiri perlawanan senapati itu. Ujung senjatanya telah menembus dada orang yang menyebut dirinya pengikut setia Arya Penangsang yang ingin bela pati bersama seluruh pasukannya.

Kematian Senapati itu diiringi sorak yang gemuruh. Para prajurit yang tidak ikut terlibat langsung dalam pertempuran itu, karena mereka sadar mengepung saja di luar arena, telah bersorak pula sampai suara mereka menjadi serak.

Tetapi gemuruh sorak yang sampai menggetarkan langit itu tidak mempengaruhi kesetiaan para prajurit Jipang. Meskipun Senapati mereka telah terbunuh, namun mereka masih juga meneruskan pertempuran itu.

Betapapun berat hati Ki Pemanahan, Ki Juru dan Ki Penjawi, namun akhirnya mereka harus melihat bahwa para prajurit Jipang dari Pasukan Pengawal Khusus itu harus mati seluruhnya tanpa tersisa seorang pun, karena orang yang terakhir pun telah bertempur sampai ujung senjata prajurit Pajang menembus dadanya. Dengan bangga ia memandang lawannya yang menghunjamkan ujung senjatanya di dadanya itu sebelum ia terjatuh di tanah dan gugur.

Dengan demikian, maka pertempuran itu pun telah terhenti. Para prajurit dari Pasukan Pengawal Khusus itu memang tidak tersisa seorang pun. Namun para prajurit yang lain memang telah menyerahkan diri kepada prajurit Pajang.

Ki Pemanahan pun kemudian telah memanggil para perwira prajurit Pajang. Ia pun telah memberikan beberapa petunjuk untuk mengatur dan membenahi pasukan masing-masing. Ternyata dalam pertempuran itu, kedua belah pihak telah mengorbankan prajurit-prajurit terbaiknya.

Dalam pada itu, Ki Pemanahan pun berkata kepada Ki Juru, “Kita harus segera memberikan laporan kepada Kanjeng Adipati, apa yang telah terjadi di medan pertempuran ini.”

“Baiklah. Kita memang harus segera menghadap. Bukankah Kanjeng Adipati telah memerintahkan setiap perkembangan keadaan kita harus memberikan laporan,” berkata Ki Juru.

Namun Ki Pemanahan pun menjadi ragu-ragu. Karena itu maka ia pun berkata kepada Ki Juru, “Siapakah yang harus kita sebut telah membunuh Arya Penangsang? Jika kita melaporkan keadaan sesungguhnya, apakah Kanjeng Adipati tentu akan marah kepada kita, bahwa kita telah mempertaruhkan putera angkatnya yang sangat dikasihinya.

Ki Juru termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Jadi apakah sebaiknya kita memberikan laporan lain? Bukankah di ujung tombak itu nampak bekasnya, bahwa tombak itu telah dipergunakan?”

“Itulah yang membuat aku menjadi termangu-mangu,” berkata Ki Pemanahan kemudian.

“Baiklah,” berkata Ki Juru. “Kita akan membuat laporan lain. Kalian berdualah yang telah membunuh Arya Penangsang. Jika Kanjeng Adipati menanyakan tombak Kanjeng Kiai Pleret dan melihat darah di ujung tombak itu maka kita akan menceriterakan apa yang telah terjadi dengan Ki Patih Mantahun.”

Ki Pemanahan dan Ki Penjawi mengangguk-angguk. Dengan nada datar Ki Pemanahan berkata, “Baiklah. Mungkin akan lebih baik jika kita tidak mengatakan yang sebenarnya. Bukan karena kami tidak ingin mendapat pujian dari Kanjeng Adipati, tetapi semata-mata agar Kanjeng Adipati tidak marah karena kita telah mempertaruhkan Sutawijaya.

Demikianlah, setelah Ki Pemanahan memberikan pesan kepada para Senapati dan para perwira, maka bersama Ki Juru, Ki Penjawi dan Raden Sutawijaya, mereka telah menghadap Kanjeng Adipati di pesanggrahannya.

Ki Pemanahan lah yang mendapat tugas untuk memberikan laporan. Dan ia pun telah melaporkan sebagaimana telah direncanakan.

Sebenarnyalah, karena tombak Kanjeng Kiai Pleret masih belum dibalut dengan selongsongnya, maka Kanjeng Adipati itu pun melihat bahwa tombak pusaka terbesar Pajang itu telah dipergunakan.

Namun Ki Pemanahan pun telah menceriterakan apa yang terjadi dengan Ki Patih Mantahun yang gugur karena ujung tombak Kanjeng Kiai Pleret.

Kanjeng Adipati Pajang menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada dalam ia berkata, “Terima kasih kakang Pemanahan, kakang Penjawi dan kakang Juru Martani. Kalian ternyata telah berhasil menyelesaikan pertentangan yang berlarut-larut antara Pajang dan Jipang. Meskipun akhir dari pertentangan ini adalah kematian yang tidak terhitung jumlahnya, bahkan kematian kakangmas Arya Penangsang dan Paman Mantahun. Tetapi agaknya memang tidak ada cara lain yang dapat ditempuh.”

“Penyelesaian ini tentu akan membawa akibat yang meluas. Pasukan Jipang yang terbesar itu pun tentu akan mengakhiri perlawanan meskipun kita harus memperhitungkan, bahwa tentu ada juga kelompok-kelompok yang tidak mau mengakui kekalahan ini,” berkata Ki Juru.

Kanjeng Adipati mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Baiklah. Kita akan mengatur kemudian. Mudah-mudahan yang terjadi ini akan menjadi pertanda, bahwa pertentangan yang terjadi sepeninggal ayahanda Sultan Trenggana telah dapat diselesaikan. Aku akan pertanggung jawabkan penyelesaian yang kita tempuh dengan mengorbankan kakangmas Arya Penangsang. Mudah-mudahan tidak ada lagi persoalan. Lebih dari itu, mudah-mudahan tidak ada pihak yang menganggap aku bersalah dalam penyelesaian ini, karena aku pun sudah bertekad bulat. Jika ada pihak yang menganggap kita bersalah maka kita akan siap mempertahankan sikap kita ini serta akan mempertanggung jawabkan segala akibatnya.”

“Hamba sependapat Kangjeng Adipati” berkata Ki Pemanahan, “kita sudah melakukan sesuatu yang menurut perhitungan kita paling baik. Dengan demikian maka kita pun siap menghadapi segala akibat dari langkah-langkah ini. Prajurit Pajang akan siap mengamankan kebijaksanaan Kangjeng Adipati, menghadapi persoalan tahta Demak ini.”

Kangjeng Adipati pun mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Kakang Pemanahan dan kakang Penjawi. Bagaimanapun juga aku ingin mengucapkan terima kasih atas kesediaan kalian mempertaruhkan nyawa kalian menghadapi kakangmas Arya Penangsang yang seharusnya aku hadapi langsung. Karena itu, apabila kelak Demak sudah tenang kembali, maka aku ingin memberikan kenang-kenangan atas keberhasilan kakang berdua. Bagi kakang Pemanahan dan kakang Penjawi akan aku serahi untuk memerintah di Tanah Pati dan Mentaok. Mudah-mudahan kedua daerah itu akan dapat berkembang dengan baik di kemudian hari.”

”Kangjeng Adipati” desis Ki Pemanahan. Namun Suaranya terputus oleh sikap Adipati Pajang. Adipati Hadiwijaya itu tersenyum sambil berkata, “Aku berkata dengan tulus. Bukan karena sikap tergesa-gesa dan tiba-tiba sehingga, akan dapat menimbulkan penyesalan. Aku tidak baru memikirkannya saat ini. Tetapi sejak kalian berdua menyatakan kesediaan kalian untuk maju ke medan perang aku sudah merencanakannya. Namun aku masih belum memikirkan apakah yang dapat aku berikan kepada kakang Juru Mertani”

“Ampun Kangjeng Adipati” sahut Ki Juru, “hamba sama sekali tidak pantas untuk menerima hadiah apapun juga, karena hamba tidak berbuat apa-apa. Hamba hanya sekedar mengawani adi Pemanahan dan adi Penjawi dan barangkali sedikit cara untuk memecahkan persoalan. Tetapi hamba memang tidak sepantasnya menerima apapun juga. Bukan karena hamba menolak, tetapi sebenarnyalah hamba tidak semestinya menerimanya.”

Kangjeng Adipati mengangguk-angguk. Katanya kemudian dengan nada datar, “Aku berterima kasih sekali kepadamu kakang Juru Martani. Kau telah berbuat dengan ikhlas bersama kakang Pemanahan dan kakang Penjawi, Mudah-mudahan untuk seterusnya kau akan tetap dapat membantu kami dalam. persoalan-persoalan yang rumit.”

Sementara itu Ki Pemanahan pun telah berkata setelah ia dapat mengatur gejolak perasaannya, “Kangjeng Adipati. Yang kami lakukan semata-mata adalah tugas kami sebagai prajurit. Apakah sudah sepantasnya bahwa kami mendapat. hadiah secara khusus karena kami melakukan tugas yang memang harus kami lakukan.”

Kangjeng Adipati tersenyum pula. Katanya, “Bukankah aku juga menganggap yang ,terjadi itu wajar? Kalian dalam tugas kalian telah memberikan sesuatu yang sangat berarti bagi Pajang khususnya dan Demak pada umumnya. Apakah salahnya jika aku, Adipati Pajang, menganggap bahwa yang kalian lakukan itu pantas mendapat penghargaan. Karena aku tidak mempunyai apa-apa selain kuasa atas wilayah, maka aku pun telah mengangkat kalian untuk memerintah atas namaku di. atas Tanah Pati dan Mentaok. Seandainya aku seorang Adipati yang kaya raya, mungkin aku berpikir lain. Mungkin aku akan memberi kalian hadiah harta benda yang tidak ternilai harganya. Tetapi, sebagaimana kalian ketahui, aku adalah seorang Adipati yang miskin. Beaya perang yang baru saja terjadi itu pun tergantung sekali kepada dukungan rakyat Pajang dalam keseluruhan.”

Ki Pemanahan menarik nafas dalam-dalam, sementara itu Ki Penjawi, hanya menundukkan kepalanya saja. Penghargaan itu terasa betapa tinggi nilainya.

Demikianlah, maka Pajang telah dapat mengatasi kemelut yang terjadi untuk waktu yang cukup, lama. Dengan gugurnya Arya Penangsang, maka persoalan antara Pajang dan Jipang telah dianggap Selesai. Para pemimpin dan orang-orang tua yang berpengaruh di Demak menganggap bahwa wahyu, keraton memang berada di pihak Pajang.

Namun sebenarnyalah Kangjeng Adipati Pajang pun telah siap dengan kekuatan prajuritnya untuk menghadapi setiap kesulitan yang mungkin dapat timbul kemudian.

Namun dalam pada itu, gema kekalahan pasukan induk Kadipaten Jipang itu segera tersebar ke seluruh sudut Demak. Pasukan Jipang yang terpencar pun segera menyesuaikan dirinya. Mereka tidak mempunyai kekuatan lagi untuk bertumpu, karena Jipang kemudian telah tunduk kepada Pajang. Bahkan segera tersiar berita, bahwa para pemimpin dan orang-orang tua yang berpengaruh di Demak telah siap mewisuda Adipati Pajang menjadi Sultan di Demak, tetapi berkedudukan di Pajang, karena Hadiwijaya lebih senang berada di Pajang daripada di Demak.

Tetapi di samping pasukan Jipang yang menyerah di berbagai medan, ternyata ada juga pasukan yang berkeras untuk tetap melawan kekuatan Pajang. Seorang murid Ki Patih Mantahun yang digelari Macan Kepatihan dan bertugas di sebelah Barat Pajang dengan satu kepercayaan bahwa Macan Kepatihan itu akan dapat mengganggu Pajang dan bahkan pada suatu saat dengan kelebihan pada murid Mantahun itu, akan dapat menembus memasuki Pajang, ternyata tidak bersedia menyerah. Mereka telah memasuki daerah berhutan di sebelah barat Pajang dan mengintai daerah yang subur di sebelah barat hutan itu untuk dikuasai dan dijadikan landasan perjuangan berikutnya.

Sebagaimana pasukan Macan Kepatihan yang sebenarnya bernama Tohpati itu, maka di sebelah Timur Pajang pun telah terjadi hal yang serupa. Oleh pengaruh sikap Tohpati yang bergelar Macan Kepatihan itu, maka Ki Rangga Gupita telah bersepakat dengan Senapati yang menjadi panglima pasukan Jipang di sebelah Timur Pajang untuk tidak menyerah kepada pasukan Pajang. Bahkan Ki Rangga Gupita telah memperhitungkan, bahwa mereka akan dapat menyusun kekuatan di Tanah Perdikan Sembojan.

“Bukankah ada kekuatan yang berada di Tanah Perdikan Sembojan itu?” bertanya Panglima pasukan Jipang.

“Apa artinya kekuatan itu,” jawab Ki Rangga Gupita. “Kita akan memaksa Ki Wiradana untuk berbuat sesuatu di Tanah Perdikan itu, sementara pasukan Jipang yang ada akan dapat memaksa kekuatan yang ada di Tanah Perdikan itu terusir. Kita harus bergerak cepat sebelum segala sesuatunya menjadi mapan. Sebentar lagi Adipati Pajang yang sekarang telah memegang segenap kekuasaan Demak itu tentu akan segera kembali ke Pajang. Tetapi dimana-mana tentu masih memerlukan perhatian karena pergolakan-pergolakan kecil yang mungkin masih terjadi. Dalam keadaan yang demikian itulah kita menempatkan diri kita dengan sebaik-baiknya. Jika kita berhasil, kita akan menghubungi Tohpati untuk merencanakan langkah-langkah kita selanjutnya. Aku yakin, bahwa kita akan dapat menghimpun kekuatan dari para prajurit Jipang yang tersebar, jika kita memang mempunyai landasan.”

Panglima itu mengangguk-angguk. Ia pun mengerti, bahwa Demak tentu tidak akan menjadi tertib dengan serta merta. Meskipun Jipang sudah dinyatakan kalah sepeninggal Arya Penangsang dan Patih Mantahun, namun gelombang yang pernah melanda Demak itu tidak akan dengan tiba-tiba menjadi tenang dan diam tanpa gejolak sama sekali. Dan saat-saat yang demikianlah yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya mengingat keadaan mereka.

Karena itulah maka Ki Rangga Gupita dan Panglima pasukan Jipang di sebelah Timur Pajang itu pun telah mempersiapkan dirinya. Mereka harus mempersiapkan pasukan mereka untuk pergi ke Tanah Perdikan Sembojan. Dengan kekuatan yang ada, maka Tanah Perdikan Sembojan tentu tidak akan mampu bertahan. Di samping anak-anak muda yang berasal dari Tanah Perdikan Sembojan sendiri, maka para prajurit Jipang yang kehilangan pegangan itu pun akan ikut bersama mereka menguasai Tanah Perdikan Sembojan.

Dalam pada itu, berita tentang kekalahan Jipang itu pun telah sampai pula ke telinga para pemimpin yang berada di Tanah Perdikan Sembojan. Namun dalam pada itu, Kiai Badra telah memanggil Iswari untuk berbicara tentang kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi.

“Keadaannya justru mencemaskan,” berkata Kiai Badra. “Jika para prajurit Jipang berada di sebelah Timur Pajang, yang kekuatannya didukung oleh anak-anak muda Sembojan yang sudah terbius oleh kekuasaan Warsi itu berpaling ke arah Tanah Perdikan ini, maka kedudukan kita akan menjadi gawat.”

Iswari mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Kita memang harus memperhitungkan segenap kemungkinan. Tetapi apakah kekuatan mereka terlalu besar, sehingga kita sama sekali tidak berdaya?”

“Jumlah mereka terlalu banyak bagi kita. Anak-anak perdikan ini yang terpilih telah berada di pihak mereka. Yang ada sekarang hanya sebagian kecil dari seluruh jumlah anak-anak muda yang ada. Itu pun yang menurut penilaian para prajurit Jipang dalam pemilihan anak-anak muda di tataran pertama, kurang memenuhi syarat bagi seorang prajurit pilihan,” jawab Kiai Badra.

“Tetapi bagaimana dengan kita?” bertanya Iswari. “Apakah kemampuan kita tidak berpengaruh?”

“Memang berpengaruh. Tetapi menghadapi jumlah yang terlalu banyak, sementara itu ada juga orang-orang berilmu di dalamnya, kita akan menghadapi kesulitan. Korban di antara anak-anak kita akan terlalu banyak, karena dalam benturan kekuatan yang melebar kemampuan kita melindungi orang dari ujung ke ujung sangat kecil. Apalagi yang akan kita hadapi adalah prajurit-prajurit Jipang atau anak-anak muda Tanah Perdikan ini yang sudah mendapat tuntunan dari para prajurit Jipang, sehingga mereka pun tentu akan bersikap sebagaimana para pelatihnya,” jawab Kiai Badra.

“Jadi, apakah yang sebaiknya kita lakukan dalam keadaan seperti ini?” bertanya Iswari.

“Kita memang harus bersiap untuk menahan arus kekuatan yang menurut perhitunganku akan datang kembali bahkan bersama kekuatan yang jauh lebih besar.

Namun bagaimanapun juga, kita harus menyiapkan jalur pengungsian, meskipun untuk sementara,” berkata Kiai Badra.

“Kita akan keluar lagi dari Tanah Perdikan ini?” bertanya Iswari.

“Dalam keadaan yang terpaksa, hal itu harus kita lakukan. Namun dengan perhitungan, bahwa kita akan segera merebut kembali kedudukan itu,” jawab Kiai Badra.

“Jika kita sudah terusir, maka kita akan menjadi semakin sulit untuk menguasai Tanah ini kembali,” jawab Iswari. “Sementara itu rakyat Tanah Perdikan ini akan menjadi semakin menderita. Apalagi para Bekel yang selama ini telah membantu kita. Juga Kademangan tetangga.”

Kiai Badra mengangguk-angguk. Ia mengerti jalan pikiran Iswari. Sementara itu Iswari berkata pula, “Kakek, kita tidak akan keluar. Kita akan bertahan disini sampai kemungkinan yang paling pahit terjadi atas kita.”

Kiai Badra masih saja mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Tetapi apakah menurut penilaianmu, seandainya kita bertempur sampai orang yang terakhir, rakyat Tanah Perdikan ini kemudian tidak akan mengalami nasib yang lebih buruk? Bahkan untuk selamanya? Mungkin kita dapat mengesampingkan kemungkinan itu, karena kita sudah tidak ada lagi, gugur di dalam perjuangan. Namun ketiadaan kita tidak akan menolong mereka. Jika kita acuh tidak acuh terhadap keadaan sepeninggal kita, maka kita terlampau mementingkan diri sendiri. Dalam hal ini adalah harga diri kita.”

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Ia pun menjadi bingung. Sementara itu, Kiai Badra berkata, “Baiklah. Kita akan berbicara dengan orang-orang lain. Mungkin mereka akan dapat memberikan jalan keluar.”

Iswari mengangguk kecil sambil berkata, “Baiklah kakek. Tetapi waktu kita tidak banyak.”

“Sore nanti kita berbicara,” jawab kakeknya.

Namun dalam pada itu, di Pajang, pimpinan prajurit Pajang disisi Timur itu sudah mengisyaratkan agar pasukan Jipang menyerah saja. Tetapi ternyata Panglima pasukan Jipang telah menolak. Bahkan prajurit sandi yang mengawasi terus gerak pasukan Jipang itu mendapat keterangan bahwa pasukan Jipang itu sedang berkemas.

“Mereka akan pergi,” berkata Senapati pasukan Pajang disisi Timur.

“Apakah kita akan mencegahnya?” bertanya seorang perwiranya.

“Kekuatan kita masih tetap terbatas. Apalagi pasukan Jipang disisi Barat pun tidak mau menyerah. Seandainya pasukan itu menyerah, maka sebagian prajurit Pajang yang ada disisi Barat dapat ditarik. Sementara itu pasukan induk yang mengiringi Kanjeng Adipati juga belum kembali ke Pajang,” jawab Panglimanya.

“Apa yang sebaiknya kita lakukan? Kita tidak akan dapat membiarkan pasukan Jipang itu berkeliaran. Padahal pasukan itu termasuk yang kuat, sehingga tetap merupakan bahaya yang mengancam ketenangan hidup rakyat Pajang dan sekitarnya,” berkata perwira itu.

Namun sementara itu, Kiai Soka yang diperkenankan hadir dalam pertemuan itu pun berkata, “Apakah tidak mungkin pasukan Jipang telah mengarahkan pandangannya kepada Tanah Perdikan Sembojan, karena di antara kekuatan yang ada di dalamnya adalah kekuatan yang berasal dari Tanah Perdikan Sembojan.”

“Itu sudah kami perhitungkan,” jawab Senapati itu. “Agaknya pasukan Jipang yang berkemas itu memang akan menuju ke Tanah Perdikan Sembojan.”

“Jika demikian, apakah pasukan Pajang ini tidak dapat mengikuti mereka dan mengambil tindakan jika benar mereka berada di Tanah Perdikan Sembojan?” bertanya Kiai Soka.

“Kami tidak boleh terpancing. Jika kami meninggalkan daerah pertahanan ini, maka kami akan dapat terjebak, justru pasukan Jipang itu akan memasuki Pajang dari sisi Timur. Mungkin mereka tidak akan berniat untuk menduduki Pajang, karena mereka memang tidak akan dapat bertahan. Tetapi seandainya mereka sekejap saja dapat berada di dalam Kota Pajang, maka keadaan tentu akan berubah sama sekali. Akibatnya akan sangat besar dan penderitaan akan berlangsung lama sekali, karena Pajang itu akan menjadi karang abang. Setiap bangunan akan dibakar dan setiap orang akan dibantai tanpa ampun. Mungkin dalam keadaan wajar orang-orang Jipang tidak akan sekejam dan seliar itu. Tetapi justru karena mereka harus mengaku kalah itulah yang membuat mereka menjadi liar,” berkata Senapati Pajang itu.

Kiai Soka mengangguk-angguk. Dengan nada datar ia bertanya, “Apakah pasukan Jipang itu akan kita biarkan saja berbuat sesuka hati?”

“Itu pun tidak,” jawab Senapati itu. “Karena itulah, maka persoalan kita ini memang cukup rumit. Tetapi baiklah kita menunggu perkembangan. Pasukan Jipang juga masih belum pergi.”

Tetapi yang terjadi benar-benar merupakan satu keuntungan yang tiba-tiba saja telah melimpah kepada para prajurit Pajang. Di hari berikutnya mereka mendengar berita, bahwa sebagian pasukan Pajang yang ada di pesanggrahan telah tiba kembali mendahului Adipati Hadiwijaya yang akan menerima wisuda menjadi Sultan. Prajurit itu mendapat tugas untuk mengamankan lingkungan kota Pajang, sehingga wisuda itu pun dapat berlangsung tanpa gangguan.

Dengan demikian, maka Senapati prajurit Pajang disisi Timur itu pun telah menemui Panglima pasukan yang datang itu dengan mengemukakan persoalan yang terjadi di bagian Timur Pajang dengan segala persoalannya.

Panglima itu mengangguk-angguk. Bahkan ia pun sempat berkata, “Ternyata pengalaman yang kita dapatkan cukup banyak. Tetapi kaulah yang lebih banyak, karena kalian yang berada disini justru hampir setiap hari bertempur, sedangkan kami setiap hari kerjanya hanya makan, tidur dan mencari kesibukan untuk melupakan kejemuan.”

“Tetapi perang yang menentukan terjadi di pesanggrahan itu,” jawab Senapati pasukan Pajang disisi Timur itu.

“Pertempuran hanya terjadi satu kali. Itu pun kami tidak dapat berbuat sepuas hati, karena pasukan Jipang segera menyerah,” berkata Panglima itu.

Namun dalam pembicaraan berikutnya mereka telah mencari jalan yang paling baik untuk mengatasi persoalan pasukan Jipang disisi Timur dan Barat yang masih belum menyerah.

Dalam pembicaraan itu, maka Senapati yang berada di sisi Timur itu pun telah mengajukan pendapatnya, “Bagaimana jika kita ikut membantu para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan yang tentu akan mengalami kesulitan karena kekuatan Jipang yang ada itu mungkin akan menuju ke Tanah Perdikan itu. Apalagi sebagian dari kekuatan Jipang itu adalah anak-anak Tanah Perdikan Sembojan sendiri.”

“Jika demikian mengapa Tanah Perdikan itu akan dikorbankan,” bertanya Panglima itu.

“Ada dua kekuatan yang bertentangan di Tanah Perdikan itu,” berkata Senapati prajurit Pajang di sisi Timur itu. Ia pun kemudian menceriterakan apa yang sudah terjadi di Sembojan menurut pengertiannya.

Panglima pasukan Pajang yang baru datang itu pun mengangguk-angguk. Ia pun dapat mengerti karenanya. Karena itu, maka mereka pun kemudian telah melaporkan pembicaraan mereka kepada para pemimpin yang ada di Pajang.

Akhirnya keluar perintah, bahwa pasukan Pajang yang ada disisi Timur harus membayangi pasukan Jipang kemanapun mereka pergi. Sedangkan apabila itu hanya sekadar jebakan serta pasukan Jipang itu dengan diam-diam justru mendekati dan menyerang kota, maka sudah ada pasukan yang kuat yang akan menahan arus mereka dan bahkan menghancurkannya.

Perintah itu pun kemudian telah dibawa oleh Senapati di sisi Timur itu kepada pasukannya, sehingga karena itu, maka pasukan Pajang itu pun telah berkemas pula.

“Aku yakin, bahwa mereka akan pergi ke Tanah Perdikan Sembojan,” berkata Kiai Soka.

“Kita akan menunggu,” sahut Senapati itu. “Tetapi aku pun cenderung untuk menganggap demikian.”

“Jika perhitungan kita benar, maka Tanah Perdikan itu memang harus mendapat perlindungan,” berkata Kiai Soka. “Kekuatan pasukan Jipang itu jauh lebih baik dari pasukan yang tersisa di Tanah Perdikan Sembojan. Karena itu, jika orang-orang Jipang itu berusaha melepaskan dendamnya kepada rakyat Tanah Perdikan itu, maka akibatnya tentu akan sangat gawat.”

“Baiklah,” berkata Senapati itu. “Untuk sementara kita menganggap bahwa tujuan mereka adalah Tanah Perdikan Sembojan.”

Kiai Soka mengangguk-angguk. Ia berharap bahwa Senapati itu berkata sebenarnya, sehingga Sembojan tidak akan mengalami peristiwa yang sangat pahit bagi Tanah Perdikan itu.

Pasukan Pajang yang semula berada disisi Timur itu telah memerintahkan pasukan sandinya untuk meningkatkan pengawasan terhadap pasukan Jipang yang sudah kehilangan induknya itu. Namun untuk meyakinkan sikap orang-orang Jipang itu, maka Pajang telah mengirim utusan resmi untuk menemui Panglima pasukan Jipang itu. Utusan itu membawa pesan Senapati Pajang agar pasukan Jipang itu menyerah sebagaimana dilakukan oleh induk pasukannya.

Tetapi Panglima pasukan Jipang itu justru telah menghina utusan itu dengan menyiram wajah utusan itu dengan air hangat sambil berteriak, “Kembali ke Senapatimu. Kami memiliki harga diri dan kekuatan untuk menghancurkan Pajang.”

Dengan demikian maka Senapati Pajang itu pun menjadi yakin akan sikap Panglima Pasukan Jipang itu. Agaknya pasukan Pajang memang harus memaksa mereka untuk menyerah.

Di Tanah Perdikan Sembojan, Iswari sudah mengambil keputusan. Ketika diadakan pembicaraan dengan beberapa orang pemimpin Tanah Perdikan itu sebagaimana dikehendaki oleh Kiai Badra, termasuk dengan para Bekel dan beberapa orang Demang tetangga Tanah Perdikan Sembojan, maka mereka bertekad untuk bertahan apapun yang terjadi.

Seorang Bekel yang sudah separo baya berkata, “Jika mereka mendapat kesempatan untuk masuk ke Tanah Perdikan ini, maka kami, para Bekel tentu akan dibantai pertama kali. Mereka akan menganggap bahwa kami, para Bekel, telah menganjurkan rakyat kami untuk berpihak kepada Iswari.”

Yang lain pun menyahut, “Bagi kami, melawan mati, tidak melawan pun mati. Karena itu lebih baik kami mati dengan sikap jantan. Karena kami akan mati dengan menggenggam senjata di tangan.”

Namun dalam pada itu, seorang yang lain yang sudah agak lebih tua berkata, “Aku sependapat. Kita bertempur dengan kekuatan yang ada pada kita sekarang. Mati atau tidak mati bukan soal kita, karena mati bukannya kita yang menentukan. Kita harus pasrah kepada Yang Maha Pencipta. Sebenarnyalah segala sesuatu kepastian itu di tanganNya.”

Kiai Badra hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak akan berbuat apa-apa.

Meskipun sebenarnya ia hanya ingin mencegah korban yang tidak berarti. Tetapi tekad yang menyala di hati rakyat Sembojan sendiri ternyata tidak dapat disusut lagi.

Bahkan seorang Demang tetangga Tanah Perdikan itu berkata, “Kami akan menyediakan bantuan yang mungkin kami berikan. Anak-anak kami yang telah mendapat latihan sebaik-baiknya dari kalian akan membantu Tanah Perdikan ini, meskipun aku tahu akibatnya. Tetapi bertetangga dengan kekuasaan yang garang di Tanah Perdikan ini pengaruhnya tentu sangat buruk bagi Kademangan kami.”

“Terima kasih,” jawab Iswari. “Kami tidak menyangka bahwa kesediaan Ki Demang telah menjangkau pada perlawanan langsung menghadapi kekuatan yang cukup besar menurut perhitungan kami.”

“Kami adalah tetangga yang baik,” berkata Ki Demang. “Sementara ini kalian telah membantu menempa anak-anak muda kami. Dengan demikian maka kami mempunyai kewajiban untuk membantu kalian. Kita bersama-sama adalah keluarga besar di bawah lingkungan Kadipaten Pajang. Jika ada kekuatan Jipang di lingkungan ini, maka ia tentu merupakan lawan kami. Apalagi seharusnya orang-orang Jipang itu sudah melepaskan senjata dengan kekalahan pasukan induknya dan kematian Arya Penangsang dan Ki Patih Mantahun.

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Namun ternyata bukan hanya sebuah Kademangan yang menyatakan diri untuk membantu Tanah Perdikan Sembojan. Tiga buah Kademangan telah menyatakan hal itu kepada Iswari. Tiga Kademangan yang sebelumnya memang sudah menunjukkan sikap seperti itu, sehingga Tanah Perdikan Sembojan telah mengirimkan beberapa orang untuk menempa anak-anak muda Kademangan itu agar mereka mampu memegang senjata di tangan meskipun mereka belum memiliki keterampilan seorang prajurit.

“Ki Demang bertiga,” berkata Iswari. “Kami, rakyat Tanah Perdikan ini merasa sangat berterima kasih. Tetapi kami ingin memperingatkan, bahwa akibat dari sikap Ki Demang itu mungkin akan sangat pahit. Orang-orang Jipang itu tentu akan menjadi liar dan bahkan kehilangan pertimbangan-pertimbangan wajarnya karena keadaannya.”

“Kami sudah mempertimbangkannya,” jawab seorang di antara ketiga Demang itu. “Tetapi seperti yang dikatakan Ki Bekel, melawan atau tidak melawan kami akan mengalami nasib yang sama. Jika kekuatan Jipang yang seharusnya itu berada di Tanah Perdikan ini, maka nasib kami pun tidak akan jauh berbeda dengan Tanah Perdikan ini sendiri. Orang-orang Jipang itu tentu berusaha untuk membangun landasan disini untuk melakukan perlawanan terhadap Pajang. Justru satu kekuatan yang tidak dilandasi oleh sikap dan dasar yang mapan sebagaimana Jipang sebelumnya. Kekuatan yang merasa tidak terikat oleh paugeran apapun selain permusuhan. Tidak ada kesempatan dan tidak ada kekangan atas mereka untuk berbuat sesuatu yang tidak akan diakukan selagi Jipang masih tegak.”

Dengan demikian maka Iswari pun menjadi semakin mantap. Para Demang itu ternyata melakukannya dengan penuh kesadaran akan akibat yang dapat terjadi. Bukan sekadar gejolak perasaan semata-mata.

Kiai Badra yang mendengar tekad yang membara dihati Iswari dan orang-orang yang bersedia mendukungnya itu tidak dapat berbuat lain kecuali ikut serta didalamnya. Nyai Soka pun justru telah mengangguk-angguk pula.

Dalam pada itu, maka Iswari pun kemudian berkata, “Jika demikian maka kita harus menyusun pasukan yang dikendalikan oleh satu perintah, agar kita tidak berbuat sendiri-sendiri.”

“Kami tentu akan sependapat,” berkata para Demang itu.

Iswari pun kemudian telah menunjuk beberapa orang untuk mengadakan pembicaraan yang lebih khusus. Para pemimpin pengawal Tanah Perdikan Sembojan dan ketiga Kademangan yang telah menyatakan satu langkah dengan Tanah Perdikan Sembojan untuk menghadapi kemungkinan yang buruk jika pelarian pasukan Jipang ingin memasuki Tanah Perdikan Sembojan dan membuat landasan di tanah perdikan itu.

Dalam pertemuan yang lebih khusus itu, Iswari justru telah mendapat gambaran kekuatan yang ada di Tanah Perdikan dan ketiga Kademangan di sekitar Tanah Perdikan itu. Ternyata, jumlahnya cukup besar, meskipun mereka sadar, bahwa kemampuan dan ketrampilan mereka masih berada dibawah kemampuan dan ketrampilan prajurit.

Namun di Tanah Perdikan Sembojan dan di tiga Kademangan itu terdapat juga beberapa ,orang bekas prajurit yang meskipun umurnya sudah mendekati pertengahan, namun mereka masih menyatakan kesediaan mereka membantu mengendalikan pasukan yang dibentuk untuk menghadapi orang-orang Jipang itu, apabila mereka benar-benar ingin memasuki Tanah Perdikan.

Dalam pada itu, Panglima pasukan Jipang disisi Timur Pajang serta Ki Rangga Gupita memang, sudah memutuskan untuk pergi ke Tanah Perdikan Sembojan sesuai, dengan jalan pikiran Warsi dan Ki Randukeling. Tidak ada pilihan lain bagi mereka selain membangun landasan yang kuat untuk melakukan perlawanan jangka panjang. Bahkan apabila, kekuatan mereka sudah mapan di Tanah Perdikan Sembojan, maka mereka akan minta Panglima pasukan Jipang disisi Barat Pajang yang juga tidak mau menyerah untuk bergabung dengan mereka.

Ketika keputusan itu bulat, justru tanpa minta pendapat Ki Wiradana, maka mereka telah menentukan langkah-langkah yang akan mereka tempuh.

“Kita harus segera berangkat ke: Tanah Perdikan itu berkata Warsi.

”Ki Wiradana harus memberikan kesadaran terhadap anak-anak mudanya, bahwa langkah-langkah yang kita ambit adalah langkah-langkah yang paling baik dalam keadaan seperti ini” berkata Ki Rangga.

Karena itulah, maka anak-anak muda yang berasal dari Sembojan yang berada di lingkungan pasukan Jipang itu pun sudah dikumpulkan sebelum pasukan itu mulai bergerak.

“Beri mereka pengertian, apa yang akan kita lakukan” berkata Warsi kepada Ki Wiradana.

Ki Wiradana tidak dapat berbuat lain kecuali melakukan perintah itu. Dihadapan anak-anak mudah Tanah Perdikan. Sembojan yang berada di lingkungan pasukan Jipang, itu, Ki Wiradana mengatakan “Kita adalah pencipta dari satu masa depan yang baik. Masa depan yang kita cita-citakan. Namun, hal itu harus kita perjuangkan. Karena itu, maka kita akan kembali ke kampung halaman. Kita akan membuat Tanah Perdikan kita satu landasan yang kuat untuk membangun satu masa depan yang baik. Bukan saja masa depan Tanah Perdikan kita sendiri. Tetapi masa depan bagi lingkungan yang lebih luas. Masa depan Demak. Jika kita dapat menyusun masa depan dengan landasan. Tanah Perdikan kita, maka kita akan dapat membayangkan, masa depan bagi, Tanah Perdikan kita sendiri. Sementara itu, harapan rakyat Demak yang kini dalam penindasan Pajang itu ditujukan kepada kita.. Satu kehormatan yang harus kita sambut dengan tanggungg jawab.”

Wajah anak-anak muda Tanah Perdikan itu menjadi tegang. Sementara Ki Rangga Gupita dan Warsi tersenyum mendengar kata-kata Ki Wiradana.

“Seorang pembicara yang ulung,” berkata Ki Rangga. “Aku tidak akan dapat berbicara seperti itu.”

“Kakang Wiradana telah menutupi kekurangannya dengan kelebihannya di bidang lain. Ia memang seorang pembicara yang baik, meskipun hanya di bibirnya saja. Ia tidak akan mampu melakukan apa yang dikatakannya,” jawab Warsi.

“Tetapi ia lebih baik daripada ia tidak dapat berbuat apa-apa,” berkata Ki Rangga Gupita.

Ki Wiradana sendiri masih berbicara beberapa saat lagi dihadapan anak-anak muda Sembojan itu untuk membangunkan kemauan mereka untuk berjuang. Sementara itu, para perwira dari pasukan Jipang itu pun mendengarnya sambil mengangguk-angguk pula.

Demikianlah, maka persiapan pun telah dilakukan sebaik-baiknya. Pasukan Jipang itu sama sekali tidak menunjukkan kelemahannya sebagai pasukan dari Kadipaten yang kalah perang. Tetapi mereka tetap menunjukkan sikap yang besar dari satu pasukan yang besar pula.

Namun semua gerak pasukan itu tidak terlepas dari pengamatan para telik sandi Pajang. Karena itu, maka pasukan Pajang pun telah bersiap pula untuk membayangi pasukan Jipang yang siap untuk bergerak.

Setelah semua persiapan selesai, maka pasukan Jipang itu benar-benar telah bergerak. Mereka tidak sekadar membawa senjata dan perlengkapan perang, tetapi mereka juga membawa bekal yang dapat menjamin kebutuhan mereka untuk beberapa hari, sebelum mereka dapat menguasai kembali Tanah Perdikan Sembojan.

Dalam pada itu, demikian pasukan Jipang itu meninggalkan padukuhan yang dipergunakannya sebagai landasan perang mereka disisi Timur Pajang, maka pasukan Pajang telah memasuki lingkungan itu.

Dari keadaan dan jejak yang mereka dapati di padukuhan-padukuhan itu, serta laporan para petugas sandi, maka ternyata bahwa pasukan Jipang itu telah membawa beberapa pedati berisi bahan makanan dan bahan alat-alat pertanian dan alat-alat rumah tangga yang mereka temukan di padukuhan itu.

Para perwira pasukan Pajang itu segera membuat perhitungan. Perjalanan pasukan itu tentu agak lambat, justru karena terlalu banyak yang mereka bawa. Bahkan mungkin di sepanjang jalan orang-orang Jipang itu masih akan mengambil apa saja yang mereka anggap berguna dan dapat mereka pergunakan.

Namun selagi para perwira Pajang itu berbincang tentang langkah-langkah yang akan mereka ambil, telah datang laporan bahwa mereka menemukan tulisan yang tergores pada sebatang pohon di halaman sebuah rumah yang dipergunakan sebagai barak anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan yang berpihak kepada Jipang.

Beberapa orang perwira telah melihat langsung tulisan itu. Ternyata tulisan itu memberitahukan, bahwa pasukan Jipang telah meninggalkan padukuhan ini langsung menuju ke Tanah Perdikan Sembojan.

“Perhitungan kita benar,” berkata Senapati yang memimpin pasukan Pajang itu.

“Kita harus segera berangkat,” berkata Kiai Soka.

“Ya. Kita akan segera mempersiapkan diri dan berangkat menuju Sembojan,” jawab Panglima itu.

Namun Kiai Soka dan Gandar berpendirian lain. Mereka akan mendahului pasukan Jipang itu untuk memberitahukan agar Sembojan bersiap-siap menghadapi pasukan yang cukup besar.

Senapati Pajang itu tidak berkeberatan. Namun ia pun berpesan, “Berhati-hatilah Kiai. Jangan sampai berpapasan dijalan dengan pasukan Jipang itu, agar Kiai tidak menemui kesulitan.”

Bersama Gandar dan anak-anak muda Tanah Perdikan yang telah dijemput Gandar sebelumnya, maka Kiai Soka pun menempuh perjalanan ke Tanah Perdikan. Mereka telah mengambil jalan melintas untuk mendahului perjalanan pasukan Jipang yang memang menuju ke Tanah Perdikan Sembojan.

“Siapakah yang telah menulis dipohon itu menurut Kiai?” bertanya Gandar.

“Mungkin anak muda yang pernah dibawa ke dalam lingkungan pasukan Pajang itu,” jawab Kiai Soka.

“Yang kemudian kembali ke dalam pasukannya itu?” bertanya Gandar pula.

Kiai Soka mengangguk-angguk. Sementara Gandar berkata pula, “Ada juga gunanya. Mungkin ia telah mempengaruhi orang-orang di sekitarnya untuk melihat kenyataan.”

“Memang ia berniat berbuat demikian,” jawab Kiai Soka.

Gandar pun mengangguk-angguk. Ia berharap bahwa sikap anak muda itu dapat menular kepada kawan-kawannya meskipun tidak dengan serta merta.

Demikianlah, maka sebagaimana dikehendaki, Kiai Soka, Gandar dan anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan yang bersamanya itu telah memasuki Tanah Perdikan Sembojan lebih dahulu dari pasukan Jipang. Dengan jantung yang berdebar-debar para pemimpin Tanah Perdikan menyambut kedatangan mereka.

Demikian mereka diterima di rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan yang telah dipergunakan oleh Iswari dan para pemimpin Tanah Perdikan itu, maka Iswari seakan-akan tidak sabar lagi bertanya, “Bagaimana dengan pasukan Jipang itu?”

Nyai Soka lah yang kemudian berkata sareh, “Biarlah kakekmu, Gandar dan anak-anak itu minum dahulu.”

“Aku tidak sabar,” sahut Iswari.

Kiai Soka tersenyum. Katanya, “Baiklah. Sambil menunggu minuman hangat, biarlah aku berceritera tentang pasukan Jipang itu.

Demikianlah maka Kiai Soka pun telah menceriterakan apa yang telah terjadi di sisi sebelah Timur Pajang. Kiai Soka pun menceriterakan keragu-raguan yang timbul di antara anak-anak Tanah Perdikan yang berada di antara orang-orang Jipang. Ternyata bahwa ada di antara mereka yang telah memberikan isyarat dengan tulisan pada sebatang pohon.

“Syukurlah,” berkata Iswari. “Mudah-mudahan kesadaran itu akan merata sehingga kita disini tidak akan berkelahi melawan sanak kadang sendiri.”

Dalam pada itu, Kiai Soka pun telah mengatakan pula bahwa pasukan Jipang sedang dalam perjalanan menuju ke Tanah Perdikan ini. Tetapi karena mereka membawa barang-barang dan bahan pangan yang cukup banyak, maka mereka telah mempergunakan beberapa pedati. Pedati-pedati itulah yang memperlambat perjalanan mereka.

“Jadi pasukan Jipang telah dalam perjalanan kemari?” bertanya Iswari.

“Ya. Bersama-sama anak-anak kita sendiri. Dengan kekuatan yang cukup besar itu, mereka akan menguasai kembali Tanah Perdikan ini yang agaknya akan mereka jadikan landasan perjuangan mereka,” jawab Kiai Soka.

“Baiklah,” berkata Iswari. “Kita harus secepatnya bersiaga. Kita tidak ingin terlambat, sehingga setelah pasukan Jipang itu berada di hidung kita, maka kita baru mulai bergerak.”

Karena itu, hari itu juga Iswari telah memanggil semua pemimpin pengawal, anak-anak muda, para bekel dan para Demang yang sudah menyatakan kesediaan mereka membantu Demang yang sudah menyatakan kesediaan mereka membantu Tanah Perdikan Sembojan menghadapi kedatangan pasukan Jipang dan pasukan Tanah Perdikan Sembojan sendiri.”

Kepada mereka Iswari minta Kiai Soka memberikan penjelasan langsung sehingga tidak ada persoalan yang dikurangi atau tumbuh dengan sendirinya.

“Kita memang harus segera mempersiapkan pasukan. Tidak sekadar di dalam lingkungan Tanah Perdikan, tetapi justru di perbatasan menghadap ke arah kemungkinan pasukan Jipang dan Tanah Perdikan itu sendiri datang.

“Kita harus sudah mempersiapkan kerangka gelar. Karena kita tidak tahu saatnya kapan pasukan Jipang itu datang, maka bagian dari pertahanan di perbatasan itu tidak boleh kosong. Setiap orang yang karena sesuatu hal meninggalkan gelar yang baru disusun kerangkanya, maka orang lain harus menggantikan. Mereka pun telah ditugaskan sebagai pengawas pula untuk mengamati keadaan.

Yang ternyata telah bersiap, bukan saja pengawal Tanah Perdikan Sembojan, anak-anak muda serta orang-orang laki-laki yang masih kuat dan bersedia berjuang dengan keras, tetapi juga anak-anak muda di Kademangan-kademangan tetangga.

Iswari sendiri telah mengatur pertahanan itu. Namun dengan demikian kemungkinan lain memang dapat terjadi. Mungkin pasukan Jipang dan anak-anak Tanah Perdikan yang berada di lingkungannya itu mengambil jalan lain.

Karena itu, maka disamping pertahanan yang tersusun rapi dengan kerangka gelar itu, maka di arah yang lain pun telah diadakan pengamatan yang kuat.

Sementara itu, orang-orang terpilih telah ditugaskan mengadakan pengamatan maju beberapa ratus tonggak. Mereka akan memberikan isyarat jika mereka melihat pasukan Jipang itu datang. Mereka telah membawa masing-masing dua ekor merpati yang siap dilepaskan jika mereka melihat iring-iringan lawan.

Di samping pertahanan yang telah tersusun rapi itu, maka anak-anak muda baik yang di perbatasan, di tempat-tempat lain untuk mengamati jalan-jalan masuk ke Tanah Perdikan, atau yang berada di Tanah Perdikan itu sendiri pada setiap kesempatan masih tetap melakukan latihan-latihan dengan keras, agar kemampuan dan ketrampilan mereka mempergunakan senjata tidak kalah dengan seorang prajurit Jipang atau Pajang atau kawan-kawan mereka yang berada di dalam lingkungan pasukan Jipang. Anak-anak muda itu juga akan membuktikan bahwa mereka bukannya anak-anak muda yang jelek dan pada pendadaran-pendadaran terdahulu tidak diterima atau tersisih karena kejelekannya itu. Pada kesempatan mendatang mereka akan menunjukkan, bahwa mereka juga mampu menjadi pengawal yang baik, yang memiliki ketrampilan setingkat dengan para prajurit Jipang itu sendiri.

Kiai Soka, Nyai Soka dan Kiai Badra memang kagum juga melihat ketrampilan dan kecerdasan Iswari menghadapi perang yang besar. Ternyata ia memiliki tanggapan yang mapan atas peristiwa yang bakal terjadi. Dengan demikian maka ia mampu bersiap-siap dengan sebaik-baiknya. Tidak menghamburkan tenaga, tetapi cukup cermat dan dapat dipercaya.

Sementara itu, pasukan Jipang disisi Timur Pajang serta anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan yang ada di dalamnya, merayap mendekati Tanah Perdikan Sembojan. Mereka tidak merasa perlu untuk bersembunyi-sembunyi lagi. Mereka pun menyadari, bahwa para pemimpin yang ada di Tanah Perdikan Sembojan tentu sudah memperhitungkan akan kehadiran mereka dan bersiap-siap untuk melawan.

Tetapi orang-orang yang pernah berada di Tanah Perdikan Sembojan termasuk Warsi dan Ki Rangga Gupita, telah dapat mengukur, seberapa jauh kekuatan anak-anak muda yang tinggal sebagian saja, justru yang dianggap kurang baik. Jika mereka datang kembali bersama anak-anak muda yang telah terlatih baik dan memiliki kemampuan setingkat prajurit, ditambah dengan prajurit Jipang itu sendiri, maka Tanah Perdikan Sembojan itu tidak akan mampu bertahan sampai sepenggalah seandainya mereka memasukinya setelah fajar.

Tetapi ternyata bahwa para Senapati Jipang cukup berhati-hati. Mereka tidak dengan serta merta memasuki Tanah Perdikan Sembojan meskipun Warsi sudah mengisyaratkan.

“Tidak ada yang akan dapat menghalangi kita,” berkata Warsi. “Suamiku adalah pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan. Jika ia memasuki Tanah Perdikan itu, berarti ia kembali ke dalam kedudukannya. Dan ia akan dapat mengatur Tanah Perdikan itu sesuai dengan kehendaknya dan sebagaimana kita kehendaki.”

“Aku mengerti,” berkata Panglima pasukan Jipang itu. “Tetapi aku tidak mau memikul tanggung jawab karena kelengahan. Lebih baik aku mengirimkan orang-orang yang akan dapat menilai keadaan Tanah Perdikan itu. Bukan anak-anak muda Tanah Perdikan sendiri yang sudah dikenal di Tanah Perdikan itu. Tetapi prajurit sandiku yang akan memasuki Tanah Perdikan dan melihat-lihat keadaan.”

Warsi tidak memaksanya. Karena itu, maka Panglima itu pun telah mengirimkan dua orang petugas sandi memasuki Tanah Perdikan Sembojan di siang hari. Dengan mengenakan pakaian orang kebanyakan, mereka memasuki jalan menuju ke pusat Tanah Perdikan yang cukup ramai. Keduanya telah menemukan pasar di tengah-tengah padukuhan induk Tanah Perdikan itu dan membeli beberapa jenis barang yang tidak begitu penting.

Namun dalam pengamatan yang sekilas itu, mereka melihat para pengawal Tanah Perdikan itu bersiaga menghadapi setiap kemungkinan. Namun keduanya sependapat, bahwa jumlah pengawal Tanah Perdikan itu tidak terlalu banyak.

Tetapi para petugas sandi itu juga melihat bukan saja anak-anak muda yang bersiaga. Namun mereka juga melihat laki-laki yang umurnya mendekati pertengahan abad nampaknya juga ikut dalam kesiagaan itu. Bahkan petugas sandi yang sempat berjalan-jalan di padukuhan induk itu melihat kelompok-kelompok pasukan yang jumlahnya memang tidak banyak, yang terdiri dari anak-anak muda dan orang-orang yang sudah lebih tua.

 

———-oOo———-

Bersambung ke Jilid 24.

Naskah diedit dari e-book yang diupload di website Tirai kasih

http://kangzusi.com/SH_Mintardja.htm

Terima kasih kepada Nyi DewiKZ

<< kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s