SBB-20

<< kembali | lanjut >>


KEEMPAT orang itu sama sekali tidak menjawab. Mereka tiba-tiba saja merasa betapa kecilnya mereka yang dengan sombong telah menerima tugas untuk membunuh Adipati Pajang yang besar itu.

Ki Pemanahan dan Ki Penjawi untuk beberapa saat masih tetap berdiri diregol. Mereka mengamati keempat orang yang berjalan menjauh dan kemudian hilang dikegelapan.

Seperti pesan Adipati Pajang, maka keempat orang itu, dengan behati-hati meninggalkan lingkungan pasanggrahan pasukan Pajang. Dengan selamat mereka sampai ke tepi Bengawan Sore yang tidak menghadap ke kedua pasanggrahan yang berseberangan. Seperti pada saat mereka melintasi Bengawan menuju ke pasanggrahan orang-orang Pajang, maka mereka menyeberang dengan arah yang berlawanan.

“Aku tidak mengerti” berkata pemimpin kelompak itu, “kenapa kami tidak dibunuh.”

“Tentu Adipati Pajang mempunyai maksud tertentu” jawab seorang diantara mereka.

“Ya” jawab yang tain, “ini tahu satu penghinaan bagi orang-orang Jipang lewat kami. Tetapi kami tidak akan berani untuk tidak mengatakan yang sebenarnya. Bagaimanapun juga kami sudah gagal. –

“Seperti Yang dikatakan oleh Ki Patih, kita akan dapat dipenggal. Bukan oleh orang-orang Pajang, justru, oleh orangorang Jipang sendiri.” berkata pemimpin kelompok itu.

Keempat orang itu memahaani kemungkinan itu. Seorang diantara mereka sambil menarik nafas berkata, “Ya. Kita akan mati oleh orang-orang Jipang sendiri. Mereka tentu akan menghukum kita dengan cara, yang barangkadi tidak pernah kita pikirkan lebih dahulu. Apalagi jika mereka mengetahui, betapa Adipati Pajang telah menghina utusan mereka.”

“Jadi, apakah lebih baik kita tidak menghadap Ki Patih Mantahun?” tiba-tiba seorang diantara mereka berdesis.

Ketiga orang kawannya, termangu-mangu. Namun pemimpin dari keempat orang itu berkata, “Kita adalah laki-laki. Kita harus mempertanggung jawabkan tugas kita, meskipun itu akan berarti maut bagi kita. Adipati Pajang tersentuh hatinya karena kita bersikap sebagai laki-laki meskipun ada juga niatnya menghina orang-orang Jipang. Namum kita tidak sepantasnya berkhianat dengan melarikan diri tanpa melaporkan hasil tugas yang dibebankan kepada kita. Jika Ki Patih Mantahun menganggap bahwa kita, harus dihukum mati sebagai satu kemungkinan yang paling baik buat kita, kita akan menghadapinya sebagai laki-laki.”

Ketiga orang kawannya pun mengangguk-angguk. Dengan mantap salah seorang dari ketiga orang kawannya itu berkata, – Baiklah. Apapun Yang akan kita hadapi.”

Demikianlah, maka keempat orang itu pun telah bersikap bulat. Mereka akan menghadap Ki Patih Mantahun, apapun yang. mungkin terjadai atas diri mereka. .

Kedatangan mereka di kepatihan membuat Ki Patih Mantahun berdehar-debar. Dengan serta merta keempat orang itu telah dipanggil menghadap tanpa orang lain.

Ki Patih Mantahun  yang melihat keempat orang itu berwajah buram menjadi berdebar-debar. Dengan tidak sabar ia bertanya -Bagaimana tugas yang kalian lakukan? Apakah berhasil atau tidak?”

Keempat orang itu termangu–mangu. Namun mereka tidak akan dapat berdiam diri saja. Karena itu, maka pemimpin dari keempat orang itupun kemudian berkata, “Ampun Ki Patih. Sebenarnyalah kami sudah berusaha untuk berhuat sebaik-baiknya menurut kemampuan kami.”

Wajah Ki Patih menjadi tegang. Ketajaman peggraitanya segera menangkap suasana yang timbul dari sikap ke empat orang itu. Karena itu maka dengan suara bergetar ia berkata, “Apakah kalian telah gagal?”

Pemimpin dari keempat orang itu menunduk dalam-dalam sambil berkata, “Kami mohon beribu ampun. Sebenarnyalah kami telah gagal.”

Patih Mantahun menggeretakkan giginya. Tetapi ia masih menahan diri sambil bertanya, “Apa yang telah terjadi? Kenapa kalian tidak mati saja di pasanggrahan itu? Dengan demikian maka nama kalian akan menjadi semarak diantara orang-orang Jipang, karena kalian telah gugur dalam tugas. Tetapi, apakah kau sadari, bahwa dengan demikian yang akan terjadi atas kalian akan jauh lebih buruk daripada mati dicincang oleh prajurit Pajang?”

Keempat orang itu menjadi berdebar-debar. Terasa kulit mereka meremang dan leher mereka pun terasa mulai tercekik oleh tali gantumgan.

Namun pemimpin kelamipok kecil itu kemudian menjawaib, “Ampun Ki Patih. Apapun Yang terjadi, hamba tidak akan ingkar.”

“Katakan, apakah yang telah kalian lakukan di pasanggrahan orang-orang Pajang itu?- perintah Ki Patih Mantahun.     –

Keempat orang itu tidak akan dapat berbohong. Pemimpin merekapun kemudian menceriterakan apa yang telah terjadi atas mereka berempat. Merekapun menceriterakan bahwa Adipati Pajang telah memberikan uang kepada mereka.

Kemarahan Ki Patih Mantahun tidak tertahankan lagi. Tiba-tiba saja kakinya telah menghantam dagu pemimpin kelompok kecilnya sehingga orang itu telah terlempar selangkah dan jatuh terlentang. Sementara itu yang lainpun telah terkena pula oleh hantaman kaki dan tangannya sehingga keempat orang itu telah mengaduh kesakitan sambil merangkak bangun;

“Ampun Ki Palih” desis pemimpin kelompok itu.

“Kau tahu, apa artinya semuanya itu he?” Ki Patih hampir berteriak.

“Kami tahu Ki Patih” jawab pemimpin kelompok itu terputus~putus sambil berusaha untuk duduk kembali sambil menundukkan wajah, “orang-orang Pajang memang berusaha menghina orang-orang Jipang. Tetapi kami tidak dapat berkhianat terhadap Ki Patih. Memang terpikir oleh kami untuk melarikan diri dan tidak lagi menghadap Ki Patih sekarang ini, karena kami sudah membayangkan, bahwa Ki Patih tentu akan sangat marah oleh penghinaan ini. Tetapi dengan demikian kami bukanlah orang laki-laki. Kami untuk selanjutnya akan menjadi buruan. Bahkan jika hal ini terdengar oleh orangorang Pajang, maka kami pun mungkin akan dicari dan dibunuh pula. Sebenarnyalah bahwa kami datang menghadap untuk menyerahkan nasib kami kepada Ki Patih.”

Ki Paitih yang marah itu menarik nafas dalam-dalam. Keempat orang itu ternyata memiliki kesetiaan yang tinggi. Meskipun mereka menyadari apa yang mungkin terjadi atas mereka, tetapi mereka tetap datang melaporkan kegagalan mereka.

Justru karena itu, maka kemarahan Ki Patih pun tiba-tiba telah mereda. Sekali ia menarik nafas delam-dalam untuk menghirup udara yang sejuk, seakan-akan Ki Patih yang tua itu ingin mengendapkan hatinya yang sedang bergejolak.

“Orang-orang Pajang demikian sambongnya menghadapi kalian” geram Ki Patih Mantabun, “dalam keadaan saperti ini kadang-kadang timbul pula niatku sebagaimana niat Kangjeng Adipati Arya Penangsang. Rasa-rasanya sebagai laki-laki aku tergelitik untuk menantang perang tanding Pemanahan dan Penjawi. Bahkan Adipati Pajang sendiri.”

Keempat orang itu hanya dapat menunduk tanpa dapat mengatakan sesuatu. Mereka hanya dapat menunggu Ki Patih itu menyebut hukuman apa yang akan mereka terima karena kegagalan yang telah terjadi dalam tugas-tugas yang mereka lakukan.

Namun untuk beberapa saat Ki Patih Mantahun merenung. Keempat orang itu telah menunjukkan kesetiaannya yang mengagumkan. Karena itu, maka apakah sepantasnya ia menjatuhkan hukuman yang berat terhadap mereka. Sebenarnya, tanpa kesetiaan itu, mereka memang dapat melarikan diri dan tidak perlu datang kepadanya. Dalam suasana yang kisruh karena peperangan ini, maka Jipang tentu tidak akan sempat memikirkan mereka dan memerintahkan beberapa orang prajurit memburu mereka.

Tetapi ternyata bahwa keempat oranng itu,dengan suka rela telah datang menghadap dan melaporkan apa yang telah terjadi.

Karena itu, maka kemarahan Ki Patih itu pun mampu ditekannya dalam-dalam. Dengan nada datar Ki Patih itu pun kcmudian berkata, “Aku mengcrti, bahwa kalian memang bukan apa-apa dihadapan Adipati Pajang dan kedua Panglimanya yang bernama Pemanahan dan Penjawi itu. Karena itu, maka kegagalan yang kalian alami adalah wajar, karena yang terjadi tidak sebagaimana kalian perhitungkan. Adipati Pajang itu ternyata tidak sedang tertidur, demikian pula Pemanahan dan Penjawi. Karena itu, kali ini aku tidak akan menghukummu. Meskipun karena kegagalan itu, orang-orang Pajang telah menghina kita semuanya, tetapi kalian hanya sekedar dipergunaikan oleh mereka sebagai aiat. Karena itu, yang terjadi bw kan salahmu.”

Keempat orang itu menjadi semakin berdebar-debar. Mereka tidak dapat membayangkan, apa yang mungkin terjadi atas diri mereka. Namun Ki Patih itu berkata selanjutnya, “Baiklah kalian kembali ke rumah kalian masing-masing. Kali ini, tugas kalian hanya sampai disini. Mungkin lain kali aku memerlukan kalian lagi., “Ki Patih terdiam sejenak, lalu – tetapi ingat. Kami masih menuntut kesetiaan kalian. Jangan kalian sebut apa yang telah terjadi, meskipun hanya dengan keluarga kalian sendiri. Bahkan kalian kembali dalam keadaan hidup itu sama sekali bukan merupakan kebanggaan bagi kalian, tetapi kalian harus merasakan betapa kalian tidak labih dari debu dibandingkan dengan osang-orang berilmu tinggi.”

Pemimpim kelompok itu, dan bahkan ketiga orang kawannya serentak mengangkat wajah mereka. Namun wajah-wajah itu pun kembali menunduk. Dengan nada damam pemimpin kelompok itu berkata – Kami mengucapkan terimna kasih yang tidak terhingga atas kemurahan Ki Patih terhadap. Tentu kami tidak akan dapat melupakannya. Kami akan tetap menjadi hamba yang setia dan tidak akan berkhianat dalam keadaan apapun juga.”

“Baik” berkata Ki Patih, “sekarang kalian aku ijinkan meninggalkan pasanggrahan ini. Tetapi setiap saat, aku mungkin memerlukan kalian lagi dalam persoalan yang lain. Kalian tidak akan dapat ingkar, karena nyawa kalian ada di tanganku.”

Sesuatu yang tidak pernah mereka bayangkan ternyata telah terjadi. Ternyata Ki Patih Mantahun tidak menghukum nereka, apalagi menggantung mereka.

Dengan perasaan yang tidak menentu, maka mereka berempat pun kemudian meninggalkan pesanggrahan Ki Patih, pulang ke rumah masing-masing.

“Satu kcajaiban telah terjadi,” berkata pemimpin kolompok itu ketika mereka belum berpisah.

“Rasa-rasanya dua kali kita mati dan hidup kembali” sahut yang lain.

“Nyawa kita memng rangkap” berkata kawannya pula,

“Totapi kita masih akan menghadapi banyak kemungkinan” sahut orang yang keempat, “kemungkinan yang paling pahit adalah satu tugas yang akan membawa kita kedalIam maut.”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Tetapi pemimpin kelompok itu kemudian berkata, “Jika terjadi demikian, maka sejak sekarang kila harus mempersiapkan diri kita. Sebernarnyalah hidup yang kita miliki sekarang sekedar perpanjangan dari saat kematian yang seharusnya sudah kita alami. Keinginan orang-orang Pajang menghina orang-orang Jipang telah menyelamatkan kita, sementara harga diri Ki Patih Mantahun pun telah melindungi kita dari maut. Ki Patih tentu merasa malu untuk membunuh kita, sementara orang-orang Pajang yang menjadi sasaran pembunuhan yang kita lakukan itu pun tidak membunuh kita.”

Yang lain mengangguk-angguk. Tetapi seorang diantara mereka berkata, “Apapun alasannya, kita ternyata masih tetap hidup. Kita. masih sempat membuat perhitungan dan pertimbangan. Apakah kita, akan tetap memberikan pengertian tentang kesetiaan seperti sesaat sebelum kita meninggalkan pesanggrahan Ki Patih. Atau ternyata bahwa kita akan memberikan arti yang lain.”

Pemimpin kelamipok itu mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Kita akan segera berpisah. Tetapi marilah kita berjanji, bahwa kita masih akan tetap saling berhubungan, mungkin didorong oleh nasib yang pernah kita alami bersama. Mungkin didorong oleh perasaan lain yang tidak dapat aku katakan.”

Ketiga orang kawannya mengangguk-angguk pula. Seorang diantara mereka berkata, “Baiklah. Kita akan tetap berhubungan.”

Demikianlah akhirnya keempat orang itupun berpisah. Mereka akan kembali ke rumah mereka masing-masing. Namun bagaimanapun juga mereka masih tetap merasa dibayangi oleh kekuasaan Ki Patih Mantahun yang telah membebaskan mereka dari hukuman mati.

“Tetapi masih mungkim terjadi, Ki Patih, memerintahkan petugas sandinya untuk membunuhku dengan cara lain” berkata salah seorang diantara mereka didalam hatinya.

Sementara itu, ketika keeanpat orang itu telah meninggalkannya, maka Patih Mantahun mulai merenung. Ketika kemudian iaa memanggil seorang Senapati kepercayaannya dan menceriterakan apa yang terjadi, maka Senopati itu berkcata, “Ampun Ki Patih. Agaknya memang tidak ada cara lain kecuali perang terbuka.”

“Aku juga berpikir demikian” jawab Ki Patih Mantahun, “tetapi kita harus mempunyai cara yang baik untuk melintasi Bengawan Sore.”

“Kita akan dapat menyebaraag di tempat lain, tidak dihadapan pasanggrahan orang-orang Pajang. Kita tinggal memperhitungkan kemungkinan yang paling baik untuk melakukannya.” jawab Senapati itu.

“Itulah yang sulit. Sebagaianana kita lakukan atas pasukan Pajang, maka Pajang pun tentu menyebarkan para petugas sandinya untuk mengamati gerak pasukan kita. Baik siang maupun malam. Seandainya kita ingin menggeser pasukan kita dan menyeberangi Bengawan, maka para petugas sandi dari Pajang tentu akan memberikan isyarat kepada para pemimpinnya, sehingga pasukan Pajang yang sudah dipersiapkan dan mampu bergerak setiap saat sebagaimana pasukan kita, akan mengikuti pasukan kita yang menelusuri Bengawan ini.” jawab Ki Patih.

“Jika demikian, apakah kita akan menunggu saja tanpa batas waktu ?” bertanya Senopati itu?.

“Tentu, tidak. Tetapi kita akan menentukan langkah-langkah yang paling baik. Kangjeng Adipati pun nampakrnya sudah tidak sabar lagi. Tetapi yang penting bagi kita, jika kita bargerak, gerakan itu harus berhasil. Jika sekali kita gagal, maka rasa-rasanya sulit untuk memperbaiki keadaan.” jawab Ki Patih.

Senepati itu mengangguk-angguk. Sementara itu, kedudukan kedua pasukan itu pun masih, tetap di ternpatnya.

Memang ada usaha beberapa orang tua yang terpengaruh atas kedua orang Adipati itu untuk menemukan jalan keluar dari, persoalan yang mereka hadapi. Apalagi pasukan-pasukan Pajang dan Japang yang tersebar telah bertempur dimana-mana. Meskipun pentempuran-pertempuran itu bukan perteimpuran yang menentukan, namun dengan demikian kehidupan seluruh wilayah Demak terasa goncang. Bahkan memang ada beberapa orang Adipati yang justru memanfaatkan keadaan untuk memisahkan diri, dari Demak. Namun untuk menyatakan dengan terbuka mereka memang harus berpikir dua tiga kali lagi.

Namun dengan demikian, maka perhitungan Ki Patih tekanan memang harus dipusatkan kapada perang terbuka serta kekuatan pasukan Jipang yang tesebar. Terutama pasukan Jipang yang ada di sekitar Pajang itu sendiri.

Dalam pada itu, pasukan Jipang di sekitar Pajang mernang masih tetap melakukan kegiatan mereka. Tetapi, sebaliknya pasukan Pajang pun tidak tinggal diam. Baik disisi Barat, maupum disisi Timur yang diperkuat oleh anak-anak muda Sembojan yang sudah terlatih dengan baik, sehingga sebagian besar diantara mereka, setelah ditempa oleh pengalaman beberapa saat tidak lagi berbeda dengan para prajurit Jipang itu sendiri.

Sementara itu, meskipun Ki Patih Mantahun dengan sengaja hanya berdiam, diri, tanpa memberikan laporan kegagalan, keempat orang utusannya, namun ketika tiba-tiba saja Arya Penangsang teringat, maka ia pun telah bertanya kepada Ki Patih, apakah ia melanjutkan usahanya untuk membunuh Adipati Pajang.

“Hamba hanya mernerintahkan untuk menjajagi kemungkinan” jawab Patilh Mantahun yang mengelak dari peristiwa yang sebenarnya terjadi. Sebab dengan demikian, maka Arya Penangsang tentu akan menjadi sangat marah.

Arya Penangsang mengangguk-angguk ketika Patih Mantahun kemud.ian mengatakan, “Ternyata penjagaan di pasanggrahan itu terlampau, ketat dan berlapis-lapis, sesuai dengan sifat licik dan penakut dari Adipati Hadiwijaya.

“Tidak” sahut Arya Penangsang, “dimas Adipati Hadiwijaya bukan seorang penakut. Sudah seribu kali aku katakan. Mungkin ia dapat berlaku licik, Tetapi ia adalah scorang yang berani menghadapi segala akibat dari perbuatannya.”

Ki Patih Mantahun menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menjawab. Sementara itu Arya Penangsang pun berkata, “Aku, akan menunggu lagi beberapa saat lagi. Tetapi jika kita tidak menemukan cara untuk menghancurkan prajurit Pajang, maka aku akan memimpin pasukanku menyerang langsung kekuatan Pajang di Pasanggrahannya. Kita dapat mengatur pasukan kita sehingga sebagian diantara kita akan dapat saling melindungi dengan senjata lontar jarak jauh.”

“Tetapi hamba mohon Kangjeng tidak tengesa-gesa meagambil  sikap” berkata Ki Patih Mantahun sambil menyembah, “menghadapi kekuatan Pajang kita harus berhati-hati. Mungkin kita memerlukan waktu yang agak panjang, tetapi kita akan meyakini kemenangan yang akan kita peroleh.”

Arya Penangsang menggeretakkan giginya. Tetapi baginya Ki Patih Mantahun adalah seorang yang untuk waktu yang lama selalu mendampinginya dengan sabar, tetapi petunjuk-petunjuknya kadang-kadang memang menentukan.

Karena itu, maka Arya Penangsang untuk sementara memang harus menahan diri betapapun darahnya terasa bergejolak.

Dalam pada itu, pasukan Pajang justru telah memperkuat penjagaan setelah terjadi percobaan pembunuhan atas Kangjeng Adipati Hadiwijaya, karena mungkin saja terjadi usaha yang lain dilakukan oleh orang-orang yang memiliki ilmu yang lebih tinggi, dan tidak sekedar mempercayakan diri kepada kekuatan ilmu sirep yang tidak mampu menguasai Adipati Pajang dan para Panglirna pasukannya. Namun dalam pada itu, pasukan Pajang pun telah memperketat pengamatan mereka atas pasukan Jipang, karena banyak kemungkinan akan dapat terjadi dalam suasana yang menjadi semakin panas. Agaknya kedua belah pihak sudah tidak melihat lagi kemungkinan lain daripada penyelesaian dengan kekerasan. Perang besar besaran

***

Sementara itu, ketika hari-hari berlalu, maka anak-anak muda Sembojan serta Kademangan-kademangan di sekitamya menjadi kian mengenal senjata dan penggunaannya. Dengan tckun mereka berlatih. Bahkan pada saat-saat mereka menunggu air di sawah. Ada atau tidak ada kawannya. Biasanya mereka hanya sekedar duduk terkantuk kantuk sampai saatnya air yang mengalir kedalam kotak-kotak sawah itu penuh dan rata. Tetapi mereka tidak lagi rnenyia-nyiakan waktu. Selagi air mengalir kedalam kotak-kotak sawah, maka rnereka telah berloncatan melatih diri dengan atau tidak dengan senjata. Bahkan mereka memanfaatkan setiap kesempatan untuk meningkatkan ketahanan tubuh mereka. Anak-anak muda itu setiap kali pergi dan pulang dari sawah, mereka selalu berlari-lari bahkan kadang-kadang justru mengambil jalan melingkar yang lebih jauh.

Tanah Perdikan Sembojan dan Kademangan-kademangan di sekitarnya benar-benar dalam suasana perang.

Iswari dan orang-orang, yang membantunya memimpin Tanah Perdikan Sembojan atas nama anak Ki Wiradana itu pun telah berusaha untuk menemukan jalan lain agar mereka dapat mempengaruhi anak-anak muda yang sudah terlanjur berada didalam pasukan Jipang.

Namun agaknya berbahaya sekali jika mereka mengirimkan satu dua orang ke Pajang untuk mencari hubungan dengan anak-anak muda itu diluar pengetahuan orang-orang Jipang.

“Nampaknya sulit untuk melakukannya” desis Kiai Badra, “orang-orang Jipang tentu mengawasi anak-anak Sombojan dengan ketat.”

“Tetapi mereka memperlakukan anak-anak Sembojan dengan baik” berkata Iswari, “menurut laporan yang kami terima dari para penghubung yang dikirim oleh Pajang, maka kedudukan anak-anak Sembojan tidak ubahnya dengan prajurit-prajurit Jipang sendiri.”

“Mungkin” jawab Kiai Badra, “tetapi mereka akan tetap diawasi. Meskipun anak-anak muda Sembojan itu mempunyai kedudukan seperti para prajurit Jupang, agaknya sekedar di medan perang. Bagaimanapun juga Jipang tentu mempunyai kecurigaan terhadap anak-anak muda itu, apalagi setelah ada diantara mereka yang meninggalkan pasukannya.”

Iswari mengangguk-angguk. Namun ia pun berdesis, “Kasihan anak-anak itu. Seorang demi seorang mereka akan gugur tanpa memberikan arti bagi tanah kelahirannya.”

“Kita akan selalu mencari kesempatan” berkata Kiai Badra, “tetapi tidak tergesa-gesa dan sangat berhati-hati. Apalagi kini para pemimpin Tanah Perdikan ini termasuk Ki Wiradana sendiri berada di Pajang.”

“Mereka bukan pemimpin Tanah Perdikan ini” jawab Iswari lantang.

“Maksudku, Ki Wiradana dan beberapa orang yang mempengaruhinya” jawab Kiai Badra.

Iswari mengangguk,

Namun bagaimanapun juga menurut pendirian Iswari, anak-anak muda Sembojan itu harus diselamatkan.”

“Ada dua kemungkinan yang terjadi jika kita tidak menyelamatkan mereka. Bukan saja wadag mereka, tetapi juga. jiwa mereka” berkata Iswari, “kemungkinan pertama, mereka akan habis di peperangan, sedangkan kemungkiman yang kadua mereka yang tersisa akan datang kembali ke kampung halamannya sebagai musuh yang menyimpan dendam didalam hati. Mereka tidak lagi  melihat kita dan orang-orang Sembojan sebagai keluarganya, tetapi kita dan orang-orang Sembojan tentu mereka anggap sebagai pengkhianat yang harus dihancurkan.”

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku sependapat Iswari. Tetapi aku pun melihat kesulitan yang mungkin tidak teratasi untuk mencoba menghubungi anak-anak muda yang berada di Pajang.”

Iswari tidak membantah. Katanya, “Kita akan menunggu perkembangan kemungkinannya.”

“Ya. Kita akan selalu berhubungan dengan orang-orang Pajang. Kita tidak perlu lagi menempatkan penghubung di tempat yang tersembunyi itu. Kita akan minta penghubung dari Pajang untuk langsung datang ke Tanah Perdikan Sembojan saja.” berkata Kiai Badra.

Sambil menunggu perkembangan keadaan, maka tidak ada yang dapat dilakukan oleh orang-orang Sembajan dan sekitarnya daripada mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan.

Pada saat yang demikian maka pertempuran di segala medan pun ternyata telah meningkat. Kegagalan Ki Patih Mantahun untuk membunuh Adipati Pajang ternyata mempunyai pengaruh yang tersebar. Ki Patih Mantahun telah memerintahkan semua pasukan Jipang di segala tempat untuk meningkatkan pertempuran.

Perintah Ki Patih itu memang mempunyai akibat yang besar. Bukan saja pertempuran yang semakin membakar, tetapi orang-orang Jipang yang tidak lagi mempunyai persediaan makanan, telah mulai menghubungi orang-orang di sekitar medan pertempuran. Meskipun pengiriman persediaan itu masih terus dilakukan oleh prajurit-prajurit khusus dari Jipang, tetapi arus persediaan itu, sering mengalami hambatan karena beberapa sebab. Orang-orang Pajang yang berhasil mencium jalur angkutan bahan makanan dan persediaan perlengkapan untuk orang-orang Jipang telah berusaha untuk memotongnya,

Namun usaha orang-orang Pajang memotong pengarimam persediaan dan peralatan itu, telah memaksa orang-orang Jipang untuk mencari gantinya dari lingkungan yang termasuk tlatah Pajang.

Ketika pertempuran terjadi dimana-mana, maka medan yang berada di bagian Timur Pajang itu pun telah menjadi semakin panas pula. Perintah Ki Patih Mantahun pun telah sampai kepada mereka, agar mereka meningkatkan gangguan mereka terhadap Pajang.

Demgan sejumlah anak-anak muda yang datang kemudian bersama para pemimpinnya, maka pasukan Jipang itu memang menjadi semakin kuat. Tetapi itu tidak berarti bahwa pasukan Jipang itu mampu mendesak pasukan Pajnmg. Namun pasukan itu memang menjadi boban yang semakin berat bagi Pajang.

Kehadiran Ki Rangga Gapita dan Ki Randukeiling, saudagar yang ternyata adalah ayah Warsi, orang yang pemah diaku sebagai ayah Warsi dan Warsi sendiri, bersama para pemimpin dari Jipang membuat pasukan itu kadang-kadang memunjukkan kelebihannya atas pasukan Pajang. Tetapi pasukan Pajang ternyata mampu menghimpun prajurit yang lebih banyak dibandingkan dengan pasukan Jipang.

Namun sebenarnyalah bahwa Ki Wiradana yang ada ditengah-tengah anak-anak muda Sembojan yang bergabung dengan pasukan Jipang itupun menjadi sangat prihatin. Seorang demi seorang, anak-anak muda itu gugur sebagaimana dibayangkan oleh Iswari. Dalam pertempuran-pertempuran yang kadang-kadang terjadi dengan sengit, maka anak-anak muda itu tidak lagi dapat seluruhnnya melindungi dirinya. Orang-orang Pajang pun tidak lagi mampu membedakan, yang manakah prajurit Jipang yang sebenarnya dan yang manakah anakanak muda Sembojan yang ttergabung didalam pasukan Jipang itu, apalagi anak-anak muda Sembajan sendiri telah berusaha dengan segenap kemampuan mereka untuk membunuh prajurit-prajurit Pajang sebagaimana dilakukan oleh prajurit Jipang.

Tetapi Ki Wiradana tidak dapat berbuat apapun juga. Betapapun perasaannya bergejolak, namun ia harus melihat anakanak mudanya itu berkurang seorang demi seorang.

Sementaira itu Warsi tidak lagi banyak menghiraukannya. Sekali-sekali Warsi memang berbicara dengannya. Tetapi Warsi lebih banyak memberikan, perintah-perintah dan membentaknya daripada berbicara sebagai seorang isteri yang baik.

Tetapi Wiradana harus menahan diri. Keprihatinanmya atas anak-anak muda Sembojan, kegelisahannya menghadapi masa depan telah berdesakan didalam dadanya dengan penyesalan yang tidak kunjung ada habisnya. Keadaan yang dihadapinya itu bagaikan cerrnin yang menunjukkan cacat-cacat yang ada didalam dirinya. Bukan cacat jasmaniah tetapi cacat-cacat rohaniah yang tidak dapat diobatinya lagi.

Namunn semuanya sudah terlanjur. Tidak ada jalan baginya untuk kembali. Di Perdikan Sembojan, Iswari yang tentu penuh dengan dendam telah menguasai pemerintahan dan mendapat dukungan dari rakyat Tanah Perdikan itu.

Dengan demikian, Maka Ki Wiradana tidak lagi merasa memiliki sesuatu. Samuanya telah terlepas dari tangannya. Dan Warsi pun agaknya menjadi lebih dekat dengan Ki Rangga Gupita daripada dengan dirinya.

Namun sekali-kali Ki Wiradana dapat juga tersenyum melihat anak laki-lakinya, meskipun pemomongnya lah yang sering menitikkan air matanya karena kerinduannya kepada keluarganya dan kepada kampung halamannya.

Tetapi senyum di bibirnya itu pun segera larut jika Ki Wiradana mulai membayangkan masa depan anaknya itu. Karena dalam keadaan yang demikian ia tidak pernah dapat melupakan anaknya yang lain, yang lahir dari Iswari.

Penyesalan yang paling dalam telah menusuk jantungnya. Namun ia tidak kuasa berbuat apa-apa atas kedua anaknya itu. Dua orang anak-anak lak-i-laki yang lahir dari dua orang ibu yang saling bermusuhan Sementara di belakang keduanya berdiri, kekuatan yang akan dapat saling menghancurkan.

Tetapi Wiradana sudah hanyut ole arus yang menyeretnya kedalam satu keadaan yang sangat pahit. Ia tidak saja menghancurkan keluarganya sendiri. Tetapi ia juga sudah menghancurkan Tanah Perdikan Sembojan. Isi Tanah Perdikan Sembojan pun telah terpecah. Anak-anak mudanya saling bermusuhan. Baginya itu adalah satu gambaran dari masa depan anak-anaknya dengan kekuatan yang menjadi pendukung masing-masing.

Namun Wiradana tidak pernah mempunyai kesempatan untuk merenungi anaknya terlalu lama. Setiap saat Warsi akan datang membentaknya dan menyuruhnya melakukan sesuatu diantara anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan yang ada di Pajang.

Pasukan Pajang pun ternyata telah mempergunakan setiap kesempatan untuk mengganggu pasukan Jipang. Apalagi, ketika Pajang menyadari bahwa Jipang berusaha untuk meningkatkan serangan-serangannya. Maka Pajang justru telah melakukan hal yang sama. Karena itulah maka pertempuran-pertempuran telah menjadi semakin sering terjadi.

Namun untuk menghadapi kelebihan kemampuan para pemimpin pasukan Jipang disisi sebelah Timur karena hadirnya para pemimpin dari pasukan Tanah Perdikan Sembojan, maka Pajang pun telah mengerahkan perwira-iperwiranya yang dianggap mampu mengimbangi kemampuan orang-orang tertentu dari Tanah Perdikan Sembojan itu meskipun mungkin mereka harus bertempur dalam kelompok-kelompok kecil. Terutama jika mereka harus menghadapi Ki Randukeling yang sekali-sekali pernah juga turun ke medan.

Kehadiran Warsi di medan pertempuran disisi Timur Pajang itu tolah menjadi bahan pembicaraan diantara prajurit-prajurit Pajang. Mereka menyebutnya sebagai Macan Betina. Kelebihan Warsi dalam alah kanuragan kadang-kadang membuat orang-orang Pajang terheran-heran, sehingga untuk menghadapinya diperlukan tiga ampat orang prajurit. Itu pun ternyata bahwa para prajurit itu tidak mampu mengalahkan Warsi di peperangan, Sehingga setiap kali ternyata Warsi, masih saja memimpin sekelompok pasukan Jipang yang terdiri dari anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan di medan.

Ceritera tentang Macan Betina dan tentang Ki Randukeling itupun ternyata telah sampai pula ke Tanah Peerdikcan Sembojan. Karena itulah maka dengan serta merta Iswari pun berkata kepada kakeknya, “Kakek, aku akan pergi ke Pajang.”

“Untuk apa?” bertanya Kiai Badra..

“Aku akan berada diantara pasukan Pajang. Aku akan berusaha berternu dengan orang yang disebut Macan Betina itu” geram Iswari.

Kiai Badra menggeleing. Katanya, “Belum waktunya kalian berhadapan. Apalagi di medan perang antara Pajang dan Jipaag.”

Tetapi Iswari sempat menjalaskan, “Kehadiran para pemimpin pengkhianat itu akan mempengaruhi keseimbangan. Meskipun semula pasukan Pajang mampu mengimbangi bahkan mendesak pasukan Jipang, namun kehadiran orang-orang yang berilmu tinggi secara pribadi itu tentu akan mempengaruhi gelar pula. Apalagi Macan Betina itu dan Ki Randukeling”

Kiai Badra mengangguk-angguk. Ia pun sebenarnya sependapat dengan Iswari. Tetapi para penghubung dari Pajang tidak pernah menyatakan kecernasannya tentang kehadiran Ki Randukeling bersama beberapa orang yang lain, namun sekali-sekali penghubung itu juga menyebut betapa sulitnya memagari gerak Ki Randukelimg jika sekali-sekali ia turun ke medan.

Tetapi penghubuug itu pun berkata, “Ada tiga orang Senapati yang secara khusus mendapat tugas menghadapi Ki Randukeling bersama beberapa prajurit. Meskipun Jipang mempunyai beberapa orang yang memiliki ilmu yang melejit diantara para prajurit, tetapi Pajang mempunyai prajurit yang lebih banyak. Pajang telah mengerahkan semua prajurit yang ada, sementara tugas-tugas keprajuritan didalam kota telah diserahkan kepada anak-anak muda yang mengalami latihan-latihan khusus. Bahkan anak-anak muda itu sebagian telah berada dimedan pula bersama para prajurit.”

Kiai Badra dengan keterangan itu berusaha meyakinkan Iswari, bahwa ia tidak perlu cemas dengan kehadiran Ki Randukeling di medan.

“Tetapi pertempuran tidak selalu berada didalam perang gelar” berkata, Iswari, “sekali-sekali Ki Randukeling akan dapat menyusup dengan Pasukan kecil menyerang tempat-tempat terpencil.”

“Mereka tentu sudah menyusun jenis-jenis isyarat” berkata Kiai Badra, “karena itu, maka pasukan Pajang lah yang lebih banyak mengambil sikap atas pasukan Jipang meskipun pasukan Jipang juga meningkatkan geraknya.”

Iswari mengangguk-angguk. Namun ia melihat kakeknya itu pun kemudian merenung. Bahkan Kiai Badra itu pun kemudian berkata, “Aku akan berbicara dengan Kiai Soka dan Gandar.”

“Silahkan kakek” jawab Iswari, “jika kita menempatkan kekuatan diantara pasukan Pajang bukan berarti bahwa kita merasa memiliki kelebihan dari, Pajang. Kita mengerti bahwa kekuatan Pajang yang tertinggi tentu berada di tepi Bengawan Sore dihadapan Pasanggrahan pasukan Jipang. Pajang sebelumnya tentu tidak akan memperhitungkan kekuatan yang tiba-tiba saja tampil diantara pasukan Jipang itu,”

Demikianlah Kiai Badra pun kemudian membicarakan satu, kemungkinan untuk membantu pasukan Jipang khusus menghadapi orang-orang yang samula berada di Tanah Perdikan Sembojan.

“Kita ingin melawan mereka dimanapun” berkata Kiai Badra kemudian, “di Tanah Perdikan ini dan di Pajang.”

Kiai Soka ternyata sependapat dengan Kiai Badra. Sambil mengangguk-angguk ia berkata., “Kita dapat melakukannya. Satu dua orang diantara kita akan pergi ke Pajang bersama penghubung itu. Jika kita diijinkan, maka kita akan dapat mencari kesempatan berhadapan dengan para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan yang berada di Pajang.

“Mereka bukan para pemimpin Tanah Perdikan menurut Iswari” potong Kiai Badra.

Kiai Soka tersenyum. Katanya, “Iswari benar. Mereka bukan para pemimpin Tanah Perdikan ini. Tetapi yang kita maksud bukankah orang-orang yang telah mempengaruhi Ki Wiradana dalam memegang kendali pemerintahan sejak meninggalnya Ki Gede.”

“Jika demikian, maka biarlah aku pergi ke Pajang. Aku titipkan Iswari kepada Kiai dan Nyai Soka. Biarlah Gandar menemani aku di Pajang. Mungkin aku mernerlukan kawan berbincang menjelang tidur di malam hari.” berkata Kiai Badra.

“Jangan kau” berkata Kiai Soka, “sudah lama aku, tidak pergi bertamasa. Biarlah aku pergi bersama Gandar. Kau asuh cucumu dan biarlah Nyai Soka selalu membimbingnya untuk meningkatkan ilmunya. Karena pada suatu ketika ada kemungkinan bahwa Iswari akan bertemu sendiri dengan Warsi. Sementara itu Sambi Wulumg dan Jati Wulung akan dapat maneruskan tugasnya membimbing anak-anak muda antuk meningkatkan kemampuan mereka pula bersama dengan mereka yang pernah mendapat bimbingan dari para perwira Jipang.”

Kiai Badra termangu-anangu. Namun akhirnya ia sependapat. Katanya, “Baiklah. Kita akan membicarakannya bersama.”

Ketika orang-orang yang kemudian mendukung Iswari yang memerintah Tanah Perdikan Sembojan atas nama anaknya itu berkumpul, maka telah diambil satu kesimpulan, bahwa Kiai Soka dan Gandar akan berangkat ke Pajang untuk secara khusus menghadapi terulama Ki Randukeling.

“Tugasku tidak membunuhnya” berkata Kiai Soka, “tetapi sekedar membatasi geraknya, karena membunuh Ki Randukeling bukan satu pekerjaan yang mudah.”

Kiai Badra anengangguk-aatgguk. Katanya, “Kita semua pernah mendengar kemampuan Ki Randukeling, Karena itu, jika ia tidak lagi dapat berbuat sekehendak hatinya di Pajang, maka itu pun sudah memadai. Sementara Itu, Kiai Soka akan mendapat gambaran langsung tentang sikap anak-anak muda Sembojan di Pajang.”

“Anak-anak muda Semhojan itu tentu belum mengenal aku” berkata Kiai Soka.

“Itu lebih baik, sehingga tidak ada prasangka apapun juga sebelumnya. Apapun tanggapan yang akan mereka berikan, Kiai Soka adalah orang baru bagi mereka,” jawab Kiai Badra,

Demikianlah, maka bersama dengan seorang penghubung, maka Kiai Soka telah menetapkan, di keesokan harinya untuk berangkat ke Pajang, bersama Gandar. Ternyata bahwa Gandar pun merasa gembira dengan tugasnya.. Dengan nada berat ia berkata, “Kita, akan menghadapi Ki Wiradana dan orang-orangnya dimanapun mereka berada. Kita akan dapat bekerja sama dengan Pajang karena Ki Wiradana bekerja sama deugan orang-orang Jipang.”

Iswari yang ada juga didalam pemtemuan itu berkata, “Ya. Kita telah memperluas medan. Kita, bertempur melawan mereka dimanapun. Sokarang kita melawan mereka tidak di Tanah Perdikan ini, tetapi di Pajang. Sayang, bahwa kita tidak mempunyai kekuatan cukup untuk kita bawa ke Pajang untuk langsung menghadapi mereka di segala medan.”

Kiai Badra tersenyum. Kepada penghubung yang datang dari Pajang ia berkata, “Bukan maksud kita memanfaatkan kekuatan Prajurit Pajang.”

Penghubung itu pun tersenyum pula. Katanya, “Aku mengerti maksud kalian.”

Dengan demikian, maka pertemuan itu. tetah menentukan sebagaimana dikehendaki oleh Kiai Soka. Di keesokan harinya Kiai Soka dan Gandar akan mengikuti penghubung itu ke Pajang. Jika panglima pasukan Pajang tidak berkeberatan, maka Kiai Soka dan Gandar akan ikut berada di medan., “Bukan untuk membantu Pajang karena Pajang kekurangan Senopati. Bukan pula memanfaatkan Pajang yang memang sedang berperang dengan Jipang, tetapi kami memang ingin membuka medan di segala tempat” berkata Kiai Soka sambil tersenyum pula. Lalu katanya, “Sementara itu, jika aku dapat membantu membatasi gerak Ki Randukeling, maka ketiga orang Senopati yang mendapat tugas khusus itu dapat berada di medan dalam tugas yang lain.”

Penghubung itu pun mengangguk-angguk. Katanya, “Kita. akan bersama-sama melihat medan.”

Malam itu, Kiai Saka telah mempersiapkan dirinya karena esok harinya ia akan pergi ke Pajang. Demikian pula Gandar. Sementara itu, ia telah berpesan kepada Nyai Soka untuk benar-benar mempersiapkan Iswari, agar pada saatnya Iswari benar-benar mampu menyelesaikan persoalannya, sudah tentu dengan segala macam cara. Halus atau kalau perlu kasar.

“Aku akan berusaha” berkata Nyai Soka, “ia sudah menguasai semua unsur yang diperlukan. Ia sudah mengembangkannya. Mungkin yang diperlukan adalah latihan-latihan yang ajeg. Ia sudah melampaui laku yang paling berat dan berhasil dengan baik.”

“Syukurlah” berkata Kiai Soka, “nampaknya, segala sesuatunya sudah meranubat untuk mencapai puncak persoalan. Kita tidak tahu berapa lama Pajang dan Jipang bermusuhan. Karena hal ini akan berpengaruh juga atas Tanah Perdikan ini dengan segala persoalannya

Demikianlah, ketika dini hari menjelang fajar di keesokan harinya, maka tiga orang tolah bersiap-siap untuk berangkat. Seorang penghubung, Kiai Soka dan Gandar. Mereka mengenakan pakaian petani yang akan pergi, ke sawah agar tidak menarik banyak perhatian. Meskipun demikian, mereka membawa juga kain panjang yang dapat dikenakannya jika perlu atau sekedar diikatkan di lambung untuk menutup ikat pinggang mereka yang besar dan tebal.

Iswari dan Kiai Badra mengantar mereka sampai ke regol. Sementara Nyai Soka, Sambi Wulung dan Jati Wulung bahkan berdiri diluar regol. Kiai Soka masih. juga memberikan beberapa pesan kepada Nyai Soka dan kedua orang kakak beradik seperguruan itu.

Sejenak kemudian maka ketiga orang itu telah melangkah menjauh dan hilang di tikungan dalam keremangan fajar.

“Mudah-mudahan Yang Maha Murah selalu molindungi mereka” desis Nyai Soka.

“Ya nek” sahut Iswasi, “kita akan -selalu, berdoa untuk mereka.”

Kiai Badrapun mengangguk-angguk. Ia tidak mengatakan sesuatu. Tetapi didalam hati ia pun sepandapat dengan Iswari. Karena betapapun tinggi ilmu seseorang, namun ia tetap terbatas dalam kelemahannya. Karena itu, maka sandainya yang paling kuat bagi seseorang adalah Yang Maha Murah.

Dalam pada itu, Kiai Soka yang rambutnya sudah mulai memutih itu berjalan dengan langkah-langkah yang tidak terlalu cepat disamping penghubung yang datang dari Pajang. Sementara itu Gandar berjalan di belakang mereka.

Perjalanan ke Pajang adalah perjalanan yang cukup panjang. Namun agaknya ketiga orang itu adalah orang-orang yang sudah terbiasa berjalan jauh, sehingga mereka tidak terlalu memikirkan jarak yang akan mereka tempuh.

Namun di sepanjang jalan Kiai Soka, Gandar dan penghubung dari Pajang itu sempat melihat, akibat yang terjadi didalam tata kehidupan karena peperangan. Meskipun perang itu sendiri tidak menyentuh padukuhan-padukuhan yang jauh dari Pajang, namun asap peperangan itu agaknya terasa juga sampai ke tempat yang jauh itu. Pasar-pasar tidak lagi terlalu ramai. Beberapa orang yang merasa mempunyai banyak anak dan masih kecil-kecil telah berusaha untuk menyimpan bahan makanan. Namun dari pendengaran ketiga orang itu ketika rnereka sejenak berada di pasar, menyimpan pun membuat mereka menjadi cemas, bahwa sekali-sekali akan datang prajurit dari manapun juga. Terutama yang sangat mereka takuti adalah prajurit Jipang, karena mereka merasa sebagai orang-orang Pajang, yang akan merampas simpanan mereka yang saharusnya menjadi persediaan bagi anak-anak mereka.

Namun disamping kecemasan, maka orang-orang di padukuhan-padukuhan itu cepat menjadi curiga. Jika ada orang yang kurang mereka kenal lewat, maka orang itu akan salalu diawasi. Bahkan anak-anakpun kadang-kadang berlarian ketakutan siapapun yang lewat itu.

Kiai Saka yang berjalan di sebelah penghubung itu pun kemudian berdesis, “Inilah akibat dari peperangan. Meskipun tempat-tempat ini jauh dari ajang pertempuran, tetapi ketakutan, kecemasan dan ketidak pastian sangat terasa pula.”

Penghutbung itu mengangguk-angguk. Dengan nada berat ia berkata, “Bagaimanapun juga perang mempunyai akibat yang tidak baik.”

Kiai Soka menarik nafas sambil besgumam, “Tetapi perang itu masih saja selalu terjadi.”

Penghubung itu tidak menjawab. Tetapi ia pun berkata kepada diri sendiri, “Yang paling dibenci itu setiap kali telah terjadi.”

Gandar yang berjalan di belakang mereka tidak menyambung sepatah katapun. Ia lebih banyak merenungi medan-medan yang akan dimasukinya di Pajang. Ia sudah mulai membayangkan betapa pertempuran-pertempuran itu terjadi hampir setiap saat, tersebar dan kacau. Jarang sekali terjadi nerang gelar yang beradu dada. Tetapi yang sering terjadi adalah benturan-benturan kekerasan dimana-mana.

Tetapi akibat perang dan kekerasan itu bukan saja telah menimbulkan ketakutan dan keceanasan. Tetapi kadang-kadang juga menimbulkan kekasaran sikap dan tidak terkedali.

Ketika. Kiai Soka dian kedua orang yang berjalan bersamanya menyusur sebuah pategalan, maka mereka telah dikejutkan oleh satu peristiwa yang telah menyayat hati. Beberapa orang laki-laki muda sedang menyeret dua orang perempuan dengan kasarnya. Perempuan itu tidak sempat menjerit panjang. Tetapi suaranya segera terputus karena mulutnya telah tersumbat lagi.

Tetapi jerit yang terputus itu sempat didengar oleh Kiai Soka, penghubung dari Pajang itu dan Gandar. Karena itu, maka mereka pun telah berlari memasuki pategalan itu.

Kahadiran mereka memang telah mengejutkan, beberapa orang laki-laki muda yang sedang menyeret dua orang perempuan itu. Seorang diantara mereka dengan kasar telah membentak, “Apa kerjamu disini he?”

Yang menjawab adalah Gandar, “Siapa kalian? Orang-orang Jipang yang berada dan bekeliaran di Pajang?”

Laki-laki muda itu termangu-mangu. Namun tiba-tiba saja seorang diantara kedua orang perempuan itu sempat menjawab karena mulutnya yang terlepas, “Bukan Mereka laki-laki pedukuhan sebelah.”

Gandar menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berkata, “Ternyata aku salah duga. Yang jelek-jelek aku kira selalu dilakukan oleh orang-orang Jipang. Tetapi temyata bahwa orang Pajang pun telah melakukan hal yang terkutuk ini.

“Gila” geram salah seorang laki-laki muda “apakah urusan kalian dengan kami?”

“Yang kalian lakukan adalah urusan semua orang. Justru pada saat Pajang sedang berprihatfin, kalian telah menjadi biadab” jawab Gandar.

Lai-laki muda itu menjadi marah. Beberapa orang diantara mereka segera mengepung Gandar, sedangkan dua diantara mereka masih tetap memegangi kedua orang perempuan itu.

Laki-laki yang mengepung Gandar itu tidak begitu memperhatikan Kiai Soka yang disangkanya sebagaimana orangorang tua yang lain, sedang penghubung dari Pajang itu pun sepantasnya menilik ujudnya tidak lebih dari seorang gembala kambing yang sedang lapar.

Hanya Gandar lah yang oleh beberapa orang laki-laki muda Itu dinilai berbahaya. Karena itu, maka hanya Gandar lah yang mendapat perhatian dari mereka.

Apalagi nampaknya Kiai Soka dan penghubung dari Pajang itu tidak berani berbuat sesuatu. Mereka dimata beberapa orang laki laki muda itu seakan-akan menjadi ketakutan,.

Sebenarnyalah penghubung dari Pajang itu sudah hampir melangkah maju ketika ia melihat Gandar sudah terkepung. Tetapi Kiai Soka telah menggamitmya ketika Penghubung itu berpaling kepadanya, maka penghubung itu mengerti maksud Kiai Soka, sehingga ia pun tidak berbuat apa-apa.

Sementara itu, salah seorang diantara laki-laki itu berkata, “Kau telah masuk kedalam liang ular bandotan. Tidak akan ada jalan kembali. Setiap orang yang akan dapat melaporkan peristiwa ini kepada siapapun, akan dilenyapkan, karena jika tingkah laku kami diketahui oleh orang-orang padukuhan, maka kami dapat membayanghan apa yang akaa terjadi atas kami.”

“Anak setan” gerarn Gandar, “jika kau tahu akibat dari perbuatanmu, kenapa hal itu kalian lakukan? Hukuman yang palimg pantas bagi kalian adalah hukuman picis, atau hukuman yang dipasrahkan kepada tangan-tangan orang padukuhan itu.”

“Ya. Karena itu, maka kalian bertiga akan mati disini” berkata laki-laki muda itu.

“Kau kira perempuan-perempuan itu tidak akan dapat berbicara tentang kalian?” bertanya Gandar.

Laki-laki itu termangu-mangu sejenak. Lalu katanya dengan nada tinggi, “Merekapun akan mati.”

“Gila” geram Gandar, “meskipun kalian belum berhasil berbuat laku iblis itu, tetapi kalian telah berniat melakukanriya. Maka hukuman kalianpun sepantasnya adalah hukuman yang seberat-beratnya. Kalian harus dihajar sampai, setengah mati atau menjadi cacat atau kehilangan akal sama sekali.”            ‘

Laki-laki muda itu menjadi sangat marah. Dengan garangnya ia berkata kepada kawan-kawannya, “Orang ini harus kita bunuh.

“Ya” jawab laki-laki mulai yang lain, “ia sangat berbahaya bagi kita.”

Yang lain lagi tiba-tiba sudah menyahut, “Cepat kita lakukan. Sebelum ada orang yang menengok pategalanya.”

“Musim begini jamg orang pergi menengok pategalannya” tiba-tibu saja diluar dugaan penghubung dari Pajangg itu berdesis.

Semua orang berpaling kepadanya. Namun, penghubung itu tiba-tiba telah bergeser dan berdiri di belakaag Kiai Soka seperti sikap seorang yang sangat ketakutan.

Beberapa laki-laki muda itu sama sekali tidak menghiraukannya lagi. Mereka pun kemudian bergeser semakin mendekati Gandar. Bahkan seorang yang paling garang diantara merekapun kemudian berkata sebagai aba-aba, “Cepat kita selesaikan orang-orang gila ini.”

Kawan-kawannyapun segera bersiap. Namun Gandar pun telah bersiap pula. Bahkan dengan suara bergetar ia berkata, “Kalian adalah orang-orang Pajang yang sejenis dengan Ki Wiradana yang menjadi, liar karena perempuan. Bahkan yang kalian lakukan adalah tingkah yang lebih nista lagi. Kau akan dikutuk oleh setiap orang yang berotak waras dan kau akan dihadapkan pada tanggung jawab kepada Yang Maha Adil, katena perempuan-perempuan itu adalah mahluk-Nya sebagaimana kalian.”

Beberapa orang laki-laki muda itu tidak sabar lagi menghadapinya, sementara itu kedua orang perempuan yang dipegangi oleh dua orang diantara laaki-laki muda itu pun telah mulai meronta, telah bergeser semakin dekat. Seorang diantara mereka bahkan telah mulai menyerang dengan kakinya yang ke garah dada.

Gandar bergeser. Tetapi tiba-tiba saja beberapa orang itu telah menyerangnya bersama-sama dari jarak yang cakup dekat.

Gandar memang tidak dapat menghindari semua serangan itu. Tetapi Gandar adalah orang yang terlatih dan orang yang telah menyusun daya tahannya sehingga memiliki kekuatan daya tahan yang sangat besar.

Karena itu, serangan-wnang,an itu baginya hampir tidak mempunyai pengaruh dan sama sekali tidak menumbuhkan akibat apapun juga. Bahkan ia pun sempat mernbalas serangan-serangan itu dengan serangan pula.

Gandar memang belum ingin, langsung menumbangkan lawan-lawannya. Ia ingin menunjukkan bahwa beberapa laki-laki muda itu tidak akan dapat berbuat apa-apa jika mereka berhadapan dengan kekuatan ilmu kanuragan yang sebenarnya. Bahkan Gandar telah berniat untuk menghukum, orang-orang itu agar mereka menjadi jera, sebelum kedua perempuan itu akan sempat melaporkan apa yang terjadi kepada Ki Bekel agar Ki Bekel dapat memberikan hukuman lagi yang sesuai dengan tingkah laku mereka.

Sejenak kemudian maka telah terjadi perkelahian antara Gandar melawan beberapa orang laki-taki muda itu. Namun sebenarnyalah bahwa laki-laki muda yang bersama-sama berusaha untuk membunuh Gandar itu tidak dibekali oleh kemampuan yang memadai. Satu dua orang diantara mereka nampalmya pernah berlatih kanuragan, totapi kemampuan mereka sama sekali tidak berarti bagi Gandar.

Ketika Gandar mulai berputar, maka kepungan itupun segera telah pecah.

Seakan-akan ada kekuatan yang tidak mereka ketahui telah mengacaukan kepungan itu. Hampir setiap orang merasa telah didorong oleh kekuatan yang tidak mereka ketahui itu. Bahkan dua orang diantara mereka telah terbarting jatuh menelentang.

Tetapi beberapa orang laki-laki mudaa itu menganggap hahwa yang terjadi itu hanyalah satu kebetulan saja, karena rnereka kurang berhati-hati dan menganggap bahwa lawan mereka tidak akan memberikan perlawanan yang berarti.

Dengan demikian maka orang-orang itu pun menjadi, lebih berhati-hati. Mereka tidak lagi asal saja melingkari Gandar dan menyerang beramai-ramai.

Setelah mereka melihat sekilas apa yang dapat dilakukan oleh Gandar, maka mareka pun mulai menyadari, bahwa mereka tidak dapat memperlakukan orang itu sekehendak hati mereka.

Seanantara itu, Kiai Soka dan penghubung ddari Pajang itu. memperhatikan perkelahian itu dengan seksama. Namun dalam sekejap mereka telah dapat menduga, bahwa perkelahian itu akan cepat berakhir.

Sejenak kemudian. Kiai Sokapun telah barbisik di telinga penghubung dari Pajang itu, “Jaga, jangan sampai ada yang melarikan diri. Mereka memang harus mendapat hukuman yang setimpal”

“Seandainya ada yang melarikan diripun tidak apa” jawab penghubung itu, “bukankah satu saja diantara mereka yang tertangkap atau membebaslcan kedua perempuan itu, sudah cukup bahan untuk mengetahui mereka semuanya?”

Kiai Soka mengangguk-angguk. Tetapi katanya, “Gandar agaknya ingin memberikan hukuman kepada mereka semuanya sebelum mereka jatuh ketangan Ki Bekel dan orang-orang padukuhan.”

Penghubung dari Pajang itu mengangguk-angguk. Iapun mengerti maksud Kiai Soka. Karena iau, maka keduanya pun kemudian justru telah berpencar.

Beberapa orang laki-laki muda yang berkeIahi melawan Gandar itu terkejut melihat sikap kedua orang yang semula dianggapnya sama sekali tidak berdaya itu. Yang seorang adalah laki-laki tua sedangkan yang lain seperti orang yang kelaparan. Namun tiba-tiiha mereka justru telah menarik perhatian.

Kiai Soka yang bergeser justru telah mendekati kedua orang, perempuan yang meronnta semakin kuat. Sementara penghubung dari Pajang itu berada di sebelah lain.

Kedua orang yang memegangi perempuan itu pun menjadi curiga melihat Kiai Soka mendekati mereka. Sementara itu keduanya, harus lebih memperhatikan perempuan-perempuan yang meronta-ronta itu.

Dalam kebingungan tiba-tiba seorang, diantara laki-laki muda itu telah memukul tengkuk perempuan yang sedang meromba itu, sambil berteriak, “Diam kau. Jika kau masih meronta-ronta, aku akan mencekikmu.”

Perempuan itu justru berteriak kesakitan. Namun tiba-tiba saja ia terdiam, karena laki-laki muda yang memegangi yang benar-benar telah mencekiknya.

Kiai Soka terkejut melihat tingkah laku laki-laki muda itu. Unntuk sesaat ia menjadi ragu-ragu. Apakah ia akan bertindak atau tidak. Tetapi jika ia berdiam diri saja, maka perempuan itu, benar-benar akan dapat mati tercekik.

Karena itu, maka Kiai Soka tidak dapat berbuat lain daripada mendekati laki-laki itu, sementara laki-laki itu berteriak, “Pergi. Jika kau maju selangkah lagi, aku bunuh perempuan ini seketika, dan aku akan marnbunuhmu juga.”

Tetapi seakan-akan laki-laki itu tidak sempat menyelesaikan kata-katanya. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya telah nenjada. Namun, tiba-tiba saja terasa tengkuknya tersentuh tangan. Namun kernudian tubuhnya terasa sangat lemah. Tangannya tidak mampu lagi menekan leher perempuan itu. Bahkan ketika perempuan itu sekali lagi berusaha melepaskan diri laki-laki muda yang memeganginya itu pun telah terjatuh dengan lemahnya.

Perempuan itu justru menjadi heran. Sementara Kiai Soka telah berada selangkah di belakangnya.

“Kau tidak apa-apa?” bertanya Kiai Soka.

Perempuan itu memutar tubuhnya. Ia menjerit tertahan ketika ia melihat laki-laki yang memeganginya itu terbaring lemah di sebelahnya.

“Kau tidak apa-apa?” Kiai Soka mengulang.

“Tidak” jawab perempuan itu gagap.

Namun Kiai Soka tidak sempat bertanya lebih banyak lagi. Tiba-tiba saja laki-laki yang soorang telah menyeret periempuan yang dipegangnya dengan kasar dan memaksanya lari mengikutinya.

Tetapi nasibnya ternyata seperti juga yang terjadi atas kawannya. Tiba-tiba saja ia telah terlempar dan terbanting jatuh. Meskipun ia tidak pingsan, tetapi rasa-rasanya tubuhnya menjadi sangat lemah. Tulang-tulangnya bagaikan terlepas, sehingga karena itu maka orang itu tidak mampu lagi berdiri dan apalagi melarikan diri.

Kedua orang perempuan itu telah bebas. Namun Kiai Soka kemudian boerkata, “Jangan pergi dahulu.”

Perempuan itu termangu-mangu. Namun mereka tidak mampu lagi berpikir tentang diri mereka, sehingga mereka masih tetap berdiri tegak di tempatnya.

Beberapa orang laki-laki yang sedang berkelahi melawan Gandar dan sudah menjadi semakin terdesak menjadi semakin bingung melihat tingkah laku Kiai Soka yang semula dianggapnya sebagai sekedar orang yang sudah menjadi tua.

Namun tiba-tiba mereka melihat kawan-kawannya telah terbanting tanpa sempat rnemberikan perlawanan.

Semenntara itu, Gandar pun mulai berusaha untuk mengakhiri. perkelahian. Geraknya menjadi seanakin cepat dan keras.  Sehingga kemudian seorang demi seorang telah disakitinya. Serangan-serangannya hampir tidak pernah dapat dielakkan.

Setiap orang yang bersama-sama mengeroyoknya itu telah tersentuh tangannya. Yang terkena dadanya, rasa-rasanya nafasnya telah menjadi tersumbat. Yang tersentuh keningnya, kepalanya terasa hampir terlepas dari lehernya. Sementara yang dikenai punggungnya, tulang belakangnya seakan-akan telah retak.

Karena itulah, maka setiap orang di antara laki-laki muda yang berkelahi melawan Gandar itu merasa bahwa mereka memang tidak akan mampu mengalahkannya. Meskipun Gandar hanya seorang diri, tetapi ternyata bahwa kecepatan geraknya mampu mengimbangi lawan-lawannya.

Beberapa orang laki-laki muda itu merasa bahwa jika mereka berkelahi terus, maka mereka mungkin akan dapat terbunuh karenanya. Gandar nampaknya tidak mengekang dirinya sehingga setiap kali, terdengar seorang lawannya mengaduh dan menyeringai kesakitan. Bahkan seorang di antara mereka telah terlempar jatuh dan tertatih-tatih berusaha untuk dapat bangkit. Tetapi malang baginya, bahwa ia justru telah terinjak oleh kawannya sendiri sehingga sekali ia mengaduh menahan sakit, sementara kawannya yang menginjaknya pun telah terjatuh pula justru menimpanya.

Dengan demikian, maka orang-orang yang berkelahi melawan Gandar itu mudai dibayangi aleh ketakutan. Gandar pun telah bergerak semakin cepat. Ia mulai melakukan sebagaimana dikatakan. Ia mulai menghukum orang-orang yang telah menjadi biadab itu dengan mengenai tubuh mereka dengan serangan-serangan yang keras.

Meskipun demikian Gandar bukan terlepas sama sekali dari pengendalian diri. Ia memang tidak ingin membunuh. Karena itu, ia hanya mempergunakan tenaga cadangannya untuk mempercepat geraknya. Tetapi ia tidak mampergunakan untuk meningkatkan kekuatan serangannya agar tidak seorang pun yang terbunuh karenanya.

Tetapi lawan-lawannya agaknya tidak ingin mati di tempat itu, karena menurut penglihatan mereka orang yang dikeroyoknya itu memiliki kemampuan yang tidak terhingga. Mereka tidak tahu, bahwa lawannya itu tidak berniat untuk membunuh. Sehingga karena itu, mereka mulai berpikir untuk melarikan diri.

Seorang laki-laki muda yang bertubuh pendek nampaknya tidak dapat menahan ketakutannya. Ketika kawan-kawannya mulai mengaduh lagi maka tiba-tiba saja ia pun telah berusaha untuk meloncat dan melarikan diri.

Tetapi malang baginya. Penghubung dari Pajang itu ternyata lebih cepat dan ia pun berhasil menangkapnya. Memukul di perutnya.

Orang bertubuh pendek itu terbungkuk. Namun tiba-tiba saja lutut penghubung dari Pajang itu telah mengenai wajah orang itu.

Penghubung itu tidak pula mengerahkan segenap kekuatannya sebagaimana juga dilakukan oleh Gandar. Namun demikian bagi orang bertubuh pendek itu, maka rasa-rasanya kiamat telah menerkamnya. Matanya menjadi berkunang-kunang dan sejenak kemudian ia pun telah menjadi pingsan.

Kawan-kawannya yang lain pun tiba-tiba juga dijangkiti oleh ketakutan yang semakin meningkat Dua orang diantara merekapun telah berusaha untuk lari pula. Namun seorang di antaranya terjatuh karena kakinya terkait kaki penghubung dari Pajang itu, sementara yang lain dapat ditangkap pergelangan tangannya dan tubuhnya terasa telah terputar cepat sekakali. Ketika tangan itu dilepaskan, maka tubuhnya bagaikan terlempar keras sekali. Tanpa dapat mengendalikan diri, maka tubuh itu, telah menghantam sebatang pohon, di pategalan yang menjadi rusak itu.

Tulang-tulangnya terasa berpatahan. Ia pun telah jatuh pula terlentang disisi sebatang pohon kelapa.

Sementara itu, kawannya yaag terjatuh karena kakinya terkait itu pun telah membentur sebatang pohon pula ketika ia jatuh tertalungkup. Dahinya mengenai pokok pohan turi. Meskipun tidak begitu besar, tetapi dahi itu pun telah terluka oleh goresan batang turi sehingga darahpun telah mengalir dari luka itu.

Luka itu sendiri sebenarnya tidak terlalu besar. Tetapi sebagaimana yang sering terjadi, luka di bagian kepala memang banyak mengalirkan darah.

Dalam pada itu, Gandar pun telah melakukan sebagaimana dikatakannya. Setiap orang harus mendapat hukumannya, sebelum mereka jatuh ketangan Ki Bekel dan orang-orangnya.

Sejenak kemudian, maka orang-orang yang berkelahi melawan Gandar itu pun tidak lagi mampu bertahan. Mereka tidak sempat pula melarikan diri, karena penghubung dari Pajang serta Kiai Soka telah menahan mereka.

Sejenak kemudian, maka orang-orang itu pun telah terbaring di, tanah sambil menyeringai kesakitan. Beberapa orang diantaranya nampak matanya menjadi biru, sementara keningnya bagaikan membengkak. Yang lain tangannya serasa patah dan tidak dapat bergerak lagi. Sedangkan ada pula dian tara mereka yang menjadi pingsan dan ada yang tubuhnya dilumuri oleh darah dari luka lukanya.

Kedua perempuan yang ketakutan itupun menjadi sangat pucat Namun mereka pun merasakan bahwa mereka telah terlepas dari bahaya yang paling pahit, dan bahkan mungkin nyawanya pun terancam pula karena laki-laki yang telah mereka kenal, itu tiba-tiba menjadi liar.

“Kena apa mereka tiba-tiba memperlakukan kalian sepeeti itu?” bertanya Kiai Soka kepada kedua orang perempuan itu.

Kedua penempuan itu masih gemetar. Tetapi seorang di antara mereka sudah dapat menjawab, “Mungk:in ada diantara yang mendendam kami.”

“Kenapa mendendam?” bertanya Kiai Soka.

“Ada diantara mereka yang menghendaki kami menjadi isterinya. Tetapi niat itu tidak pernah dapat terjadi karena orang tua kami tidak menyetujuinya. Ternyata dua orang yang mendendam itu mendapat beberapa orang kawan untuk melakukan perbuatan terkutuk ini.” jawab perempuan itu, “ditambah lagi suasana yang tidak menentu serta kekacauan yang terjadi dimana-mana.”

Kiai Soka mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Angin yang berhembus dari medan peperangan telah meracuni tata kehidupan. Tetapi apakah kalian berani pulang berdua ke padukuhan ?”

Kedua orang perempuan itu saling berpandangan.

“Bukankah orang-orang yang mengganggu kalian itu sudah tidak berdaya lagi?” desak Kiai Soka.

Kedua orang perempuan itu tidak segera menjawab. Karena itu maka Kiai Soka pun berkata selanjutnya, “Kembalilah ke padukuhan. Laporkan apa yang terjadi kepada Ki Bekel. Biarlah Ki Bekel datang kemari. Kami bertiga akan menunggui mereka, agar tidak seorang pun sempat melarikan diri.

Kedua orang ku termangu-manggu. Namun kemudian salah seorang diantara mereka yang nampaknya lebih tenang menghadapi persoalan yang gawat itu berkata, “Kami akan mencoba.”

Demikianlah kedua orang itu pun kemudian berjalan denagan jantung yang masih berdegupan. Kiai Soka mengantar mereka sampai kepinggir pategalan. Lalu katanya, “Nah, berjalanlah sendiri. Bukankah padukuhanmu tidak terlalu iauh?

“Yang nampak diseberang bulak pendek itulah padukuhan kami” jawab salah seorang dari kedua perempuan itu.

“Aku awasi kalian dari sini” berkata Kiai Soka.

Kedua orang itupun kemudian turun kejalan setelah membenahi pakaian mereka yang kusut. Dengan tergesa-gesa keduanya melintasi bulak kecil dan hilang ditegal padukuhan.

Sejenak kemudian, dipadukuhan itu telah terdengar suara kentongan yang menjalar. Tidak terbiasa bahwa suara kenthongan terdengar disiang hari meskipun sudah menyelang sore.

Kiai, Soka menarik nafas. Beberapa saat kemudian ia pun melihat sekelompok orang laki-laki bersenjata telah keluar dari padukuhan.

Kiai Soka pun dengan cepat telah kembali ketempat Gandar berkelahi. Orang-orang yang dihajar oleh Gandar itu pun masih saja belum mampu untuk bangkit. Meskipun yang pingsan telah sadar, tetapi rasa-rasanya ia masih belum dapat bangkit berdiri.

Ketika kemudian terdengar suara ribut mendekati tempat itu, maka Kiai Soka pun telah memberi isyarat kepada Gandar dan penghubung dari Pajang itu untuk meninggalkan tempat.

Sejenak kemudian, maka Ki Bekel dan orang-orang padukuhan telah sampai di tempat itu atas petunjuk kedua orang perempuan yang hampir saja mengalami malapetatka. Kemarahan Ki Bekel tidak dapat ditahan lagi ketika ia melihat seorang diantara laki-laki muda yang sedang tertatih-tatih mereka untuk berdiri.

“Kau” geram Ki Bekel, “jadi kau yang telah melakukannya bersama anak-anak iblis ini he?

Laki-laki muda utu tidak menjawab. Tetapi wajahnya menjadi pucat sekali. Ia menjadi lebih ketakutan menghadapi Ki Bekel daripada ketiga orang yang telah pergi itu.

Ki Bekel yang marah itu maju selangkah. Sekali lagi ia membentak, “Beberapa saat yang lalu, kau sudah menyatakan dihadapanku dan dihadapan para bebahu, bahwa kau tidak akan melakukan perbuatan terkutuk itu. Adalah hak perempuan itu dan orang tuanya untuk menolak lamaranmu, karena setiap orang dipadukuhan ini tahu siapa kau. Dan dengan demikian kau menjadi sakit hati dan berusaha melakukan perbuatan iblis ini he? Bahkan kau telah membawa kcawan-kawanmu pula bersamamu.”

Orang itu tidak menjawab. Sementara Ki Bekel membentaknya lebih keras, “Dengar anak setan. Apakah kau memang menantang aku he ?”

Orang itu masih belum menjawab. Tetapi kemarahan Ki Bekel nampaknya sudah tidak tertahankan lagi. Tiba-tiba saja ia telah memukul perut orang itu sekuat tenaganya.

Terdengar keluhan tertahan. Orang itu terbungkuk sambil memegangi perutnya yang menjadi sangat sakit dan mual.

Dengan serta merta Ki Bekal telah menangkap rambut orang itu. Sambil rnengibas-kibaskannya ia berteriak, “Hukuman apa yang pantas aku berikan kepadamu he?”

Orang-orang yang datang bersamanyapun tertegun. Mereka tidak pernah melihat Ki Bekel marah seperti itu. Justru karena itu, maka mereka malahan menjadi termangu mangu.

Naman sejenak kemudian terdengar Ki Bekel itu berkata kepada orang-orang yang datang bersamanya, “Tangkap semua orang yang ada disini.”

Orang-orangnya itupun tiba-tiba bagaikan tersadar dari mimpi. Merekapun kemudian bergerak serentak, menangkap semua orang yang masih kesakitan itu.

“Ikat mereka” perintah Ki Bekel.

Beberapa orang termangu-mangu. Mereka tidak membawa tali. Namun seorang diantara mereka berkata, “Kita cari serat batang pisang.

Beberapa orangpun telah mencari batang pisang di pategalan itu. Dengan serat pada batang pisang mereka telah mengikat setiap orang. Meskipun pengikat itu tidak terlalu kuat, tetapi ikatan itu telah memberikan kesan bahwa mereka adalah orang-orang tangkapan.

Tetapi dalam pada itu, Ki Bekel itu pun bertanya kepada kedua perempuan yang telah melaporkan peristiwa yang menimpa diri mereka itu, “Dimanakah orang-orang yang kau sebut-sebut itu?”

“Menurut kata-katanya, mereka menunggui orang-orang tni Ki Bekel” jawab salah seorang dari kedua orang pereanpuan itu.

Namun Ki Bakel ternyata tidak menemukan mereka. Bahkan ketika beberapa orang pembantunya mencari, mereka tidak menjumpai seorang pun.

Tetapi seseorang pun kemudian berkata kepada Ki Bekel, “Aku menemukan jejak mereka.”

Ki Bekel dan beberapa orang pun kemudian melilhat, bekas kaki-orang-arang yang meninggalkan tempat itu.

“Memang tiga orang” berkata Ki Bekel.

“Siapakah mereka itu Ki Bekel?” bertanya salah seorang diantara para bebahu yang ikut bersama Ki Bekel.

Ki Bekel menggeleng, Katanya, “Aku tidak tahu. Tetapi agaknya mereka adalah orang-orang berilmu. Mungkin mereka adalah tiga orang prajurit sandi yang sedang bertugas. Tetapi mungkin juga bukan.”

“Ya, ternyata seorang diantara mereka mampu mengalahkan beberapa orang laki-laki gila. itu” desis seseorang.

Ki Bekel mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba saja ia teringat kepada orang-orang yang telah melakukan perbuatan terkutuk itu. Karena itu, maka tiba-tiba ia berteriak, “Seret mereka ke padukuhan. Tempatkan mereka di banjar. Semua orang pedukuban harus melihat wajah-wajah mereka. Aku tidak peduli, apakah mereka ada yang sudah berkeluarga atau belum. Ikat mereka pada pepohonan di halaman banjar itu. Tetapi setiap orang harus dijaga agar tidak ada pengkhianat yang akan berusaha membebaskan mereka.”

Para bebahu dan orang-orang yang ikut bersama Ki Bekel dengan senjata di tangan itupun sebenarnya telah marah pula seperti Ki Bekel. Karena itu, maka dengan kasar mereka telah menyeret orang-orang yang hampir saja melakukan perbuatan yang paling keji itu keluar dari pategalan meskipun orang-orang yang mereka seret itu adalah tetangga-tetangga mereka sendiri. Namun mereka adalah orang yang memang mempunyai cacat didalam pergaulan sehari-hari di padukuhan.

Ki Bekel dan beberapa orang bebahu untuk beberapa saat masih berada di pategalan. Tetapi mereka bena-benar tidak dapat rnenjumpai tiga orang yang telah menolong kedua orang perempuan itu.

Sementara itu, orang-orang yang sebenarnya masih kesakitan karena sikap Gandar itu pun tanpa dapat mengelak telah diseret dengan kasar, bahkan sekali-sekali mereka telah didera, dipukul dan ditendang, untuk dibawa ke banjar padukuhan. Kelakuan mereka memang telah membuat semua peughuni padukuhan itu menjadi marah.

Diluar penglihatan orang-orang padukuhan itu serta Ki Bekel, maka Kiai Soka, Gandar dan penghubung dari Pajang menyaksikan orang-orang yang diseret ke padukuhan itu dengan kerut di kening. Bagaimanapun juga ternyata Kiai Soka menjadi cemas. Katanya, “Apa yang akan dilakukan oleh orang-orang yang marah itu?”

“Tidak apa-apa” jawab penghubung dari Pajang mereka adalah keluarga sendiri.”

“Tetapi nampaknya orang-orang padukuhan itu benar-benar menjadi marah dan tidak lagi teringat bahwa yang mereka seret itu adalah tetangga-tetangga mereka sendiri.” berkata Kiai Soka.

“Mudah mudahan dengan demikian mereka menjadi jera.” geram Gandar, “bahkan jika tetangga-tetangganya tidak sampai hati menghajar mereka, biarlah diserahkan kepadaku.”

“Ah, kau” sahut Kiai Saka, “sebaiknya kita memang tidak ikut campur. Mudah-mudahan Ki Bekel tidak kehilangan akal, sehingga orang-orang padukuhan itu dapat mengadili orang-orang yang bersalah itu dengan sebaik-baiknya, tidak dibayangi oleh kemarahan yang meledak-ledak. Agaknya orangorang itu memang bukan orang-orang yang dapat hidup rukun dengan tetangga-tetangganya.”

Gandar mengangguk-angguk. Tetapi ia masih bergumam, “Kesalahan mereka adalah kesalahan yang sangat besar. Jika perbuatan tenrutuk itu terjadi, maka orang-orang itu sepantasnya dihukum sangat berat “

“Meskipun belum terjadi, tetapi niat mereka melakukan uya memang sudah memungkinkan mereka untuk dihukum – berkata petugas penghubung dari Pajang itu, “tetapi sebaiknya Ki Bekel mengadilinya dengan kepala dingin.”

Kiai Soka mengangguk-angguk pula. Sementara itu orang-orang yang telah ditangkap itu telah diseret masuk ke padukuhan. Baru kemudian ketiga orang yang akan pergi ke Pajang itu melihat Ki Bekel dan beberapa orang bebahu menyusul.

“Agaknya Ki Bekel telah mencari kita” berkata Gandar.

“Ya. Kedua orang perempuan itu tentu telah mengatakan apa yang terjadi” sahut penghubung dari Pajang itu.

Sebenarnyalah Ki Beke1 merasa sangat kecewa bahwa ia tidak dapat menemukan orang-orang yang telah menolang kedua orang perempuan itu. Demikian pula orang tua mereka. Agaknya mereka masih merasa berhutang sebelum mereka sempat mengucapkan terima kasih bahwa anak-anak mereka telah dilepaskan dari tindakan yang jahanam.

Ketika Ki Bekel dan beberapa orang babahu telah lenyap kedalam padukuhan, maka Kiai Soka pun berkata, “Marilah kita melanjutkan perjalanan.”

Penghubung dari Pajang itu pun mengangguk-angguk. Tetapi ia masih juga bergumam, “Di padukuhan-padukuhan yang lain, mungkin akan dapat timbul akibat pula karena angin peperangan yang berhembus kesemua penjuru Pajang. Mungkin peristiwanya berbeda, tetapi akibatnya adalah keresahan sebagaimana terjadi di padukuhan ini.”

Kiai Soka menarik napas panjang. Katanya, “Memang mungkin sekali. Semuanya itu harus mendapat perhatian dari Pajang. –

“Pajang menyadari, tetapi kami tidak mempunyai pasukan yang cukup luas jangkauannya karena sebagiaa besar kekuatan kami berada di pinggir Bengawan Sore.” jawab penghubung itu.

Kiai Soka mengerti juga bahwa prajurit Pajang seakan-akan telah terbagi habis di medan-medan perang yang berpencar. Sehingga padukuhan-padukuhan yang tersebar agaknya kurang mendapat perhatian.

Sementara itu penghubung dari Pajang itupun berkata, “IYni adalah satu pengalaman yang mahal. Dalam keadaan seperti ini, maka disadari betapa pantingnya pengawal di Kademangan-kadeanangan dan padukuhan-padukuhan. Dengan demikian maka para pengawal itu akan dapat melakukan pengamanan setidak-tidaknya bagi kademangan masing-masing. Karena menurut perhitungan, para penjahat pun akan dapat mempergunakan kesempatan seperti ini untuk dengan semena-mena melakukan kejahatannya.”

Kiai Soka mengangguk-angguk pula. Katanya, “Ya. Dengan demikian maka setiap Kademangan. akan dapat menjaga diri mereka sendiri.”

Penghubung itu berdesis, “Hal ini akan dapat kita sampaikan kepada para Senopati. Mungkin mereka pun akan menyadarinya pula bahwa selama ini kita kurang memperhitungkan kemungkinan seperti ini. Justru karena merasa kuat dan memiliki prajurit yang cukup. Namun tennyata dalam keadaan seperti sekarang, prajurit yang dirasa cukup itu masih juga kurang. Dan kekurarngan itu dapat diatasi dengan menyerahkan pertanggungan jawab perlindungan kepada Kademangankademangan masing-masing. “

Kiai Soka masih saja mengangguk–angguk. Tetapi Gandar sama sekali tidak menyambung. Perhatiannya masih tertuju kepada orang-orang yang. telah mencoba untuk melakukan perbuatan terkutuk itu.

Namun dalam pada itu, maka Kiai Soka pun telah mangajak mereka untuk bergerak. Mereka masih harus melanjutkan perjalanan ke Pajang. Meskipun jaraknya sudah tidak terlalu jauh lagi, namun mereka tidak dapat terlalu lama terhenti. Karena mereka menyadari, bahwa selama itu, peperangan dapat saja membakar padukuhan-padukuhan di sekitar Per’batasan.

“Sebentar lagi kita akan memasuki daerah yang berada didalam lingkungan ajang peperarngan.” berkata penghubung itu.

Kiai Soka berpaling ke arah Gandar. Numpaknya Gandar pun mendengarkan keterangan penghubung itu dengan bersungguh-sungguh.

Demikianlah maka mereka bertiga pun telah melanjutkan perjalanan. Kiai Soka dan Gandar harus membuka medan menghadapi orang-orang Tanah Perdikan Sembojan di perbatasan kota di Pajang.

Dengan demikian maka, Iswari telah menunjukkan sikapnya kepada Warsi, bahwa. Iswari benar-benar berani menghadapi Warsi dimanapun dan dalam keadaan apapun, sehingga perlawanan yang dapat diberikannya tidak hanya terbatas di Tanah Perdikan Sembojan, tetapi di, Pajangpun Iswari telah menempatkan kekuatannya untuk melawan Warsi.

Kehadiran Kiai Soka dan Gandar dalam hubungannya dengan kekuatan Pajang memang tidak banyak berpengaruh, Meskipun para Senapati Pajang telah mengucapkan terima kasih pula, kepada mereka. Namun Kiai Soka sendiri telah berkata, “Yang penting bagi kami adalah satu pernyataan perang mutlak melawan Warsi dan orang-orang yaag ada di sekitarnya. Mungkin kedatangan kami memang tidak akan memberikan pengaruh apapun juga bagi perang antara Pajang dan Jipang di sisi sebelah Timur Pajang ini. Tetapi tentu akan memberikan pengaruh terhadap orang-orang Tanah Perdikan Semboylan yang ada disini. Sebenarnyalah kedatangan kami adalah satu pernyataan tekad kami. Mungkin pada kesempatan lain, kami akan memanggil sekelompok kecil anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan untuk mengguncang perasaan anak-anak muda yang sudah terlanjur berada diantara oraag-orang Jipang.”

Para Senapati Pajang mengaagguk-angguk. Seorang diantara mereka bertanya, “Apakah kalian sudah dikenal oleh anak-anak muda Sembojan?”

“Aku mungkin belum” jawab Kiai Soka, “tetapi Gandar sudah banyak dikenal bahkan Ki Wiradana mengenalnya dengan baik.”

Senapati itu mengangguk-angguk pula. Lalu katanya, “Baiklah. Kami akan rnembantu apapun yang baik bagi kalian menghadapi orang-orang Tanah Perdikan Sembojan. Karena kehadiran kalian pun akan memberikan arti bagi kami untuk ikut membatasi gerak orang yang bernama Ki Randukeling itu.”

Dengan demikian maka Kiai. Soka dan Gandarpun telah ditempatkan di lingkungan ajang pertempuran disisi Timur. Sementara itu Kiai Soka pun telah berpesan kepada Gandar, “Tugas kita bukan untak membunuh siapapun. Tetapi kita akan sekedar membatasi ruang gerak para pengikut Warsi disamping pernyataan perang ltu sendiri”

“Tetapi apa salahnya jika kita membunuh mereka” berkata Gandar, “bukankah itu akan berarti bahwa kita telah mengurangi lawan jika kita benar-benar harus menghadapi mereka kalak?”

Kiai Soka menarik nafas dalam-dalam. Namun katanya, “Biarlah mereka menyadari, bahwa kekalahan yang mereka alami kelak adalah kekalahan menghadapi orang-orang Tanah Perdikan. Bukan kekalahan dari orang-orang Pajang. Jika kita membunuh sekarang, tentu apa yang kita lakukan ini dianggapnya sebagai kemenangan orang-orang Pajang atas mereka, sehingga mereka tidak menyadari, bahwa perkembangan kekuatan Tanah Perdikan akan dapat benar-benar mengalahkan mereka.”

Tetapi Gandar masih menjawab, “Tetapi apakah yang akan terjadi jika ternyata mereka kelak mempunyai kakuatan yang cukup yang tidak akan dapat kita lawan?”

“Kita akan tetap bekerja sama dengan Pajang. Tetapi dalam kedudukan yang berbeda.” jawab Kiai Soka.

Kiai Soka menyadari, bahwa Gandar masih tetap merasa, tidak puas dengan keterangannya itu. Tetapi karena Gandar kemudian tidak bertanya tentang apapun lagi, maka Kiai Soka pun tidak berkata lebih lanjut.”

Ketika Kiai Soka dan Gandar telah beristirahat sehari, maka mereka pun mulai melihat-lihat medan. Mereka telah berada diantara prajurit Pajang yang mulai menyerang kedudukan orang-orang Jipang, meskipun tidak dalam gerakan yang menentukan”

– Kita akan menyerang kedudukan Jipang yang sebagian besar terdiri dari orang-orang Tanah Perdikan Sernbojan” berkata Senapati yang memimpin serangan itu, “dalam serangan yang demikian, kita telah menentukan satu kelompok kecil yang mungkin harus berhadapan dengan orang-orang terpenting dari Tanah Perdikan Sembojan itu. Karena itu, biasanya dalam serangan terhadap mereka, kita membawa orang-orang terkuat yang ada di medan ini selain jumlah pasukan yang memadai.”

Kiai Soka dan Gandar mengangguk-angguk. Ia pun melihat beberapa orang perwira ada didalam pasukan itu, yang menurut perhitungannya agak terlalu banyak bagi pasukan yang bergerak dalam keadaan wajar, dibanding dengan besarnya pasukan.

Namun Kiai Soka menyadari, bahwa didalam pasukan orang-orang Tanah Perdikan Sembojan memang terdapat beberapa orang yang memiliki kemampuan yang tinggi. Disamping Ki Randukeling juga terdapat Warsi sendiri, ayahnya dan beberapa orang lain. Bahkan ternyata, bahwa Ki Rangga Gupita telah banyak berada diantara pasukan yang terdiri dari anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan daripada diantara para prajurit Jipang sendiri.

Pasukan Pajang itu melingkari beberapa padukuhan untuk menaapai satu sasaran yang telah diperhitungkan lebih dahulu. Mereka akan menyerang dari arah lambung.

Tetapi serangan semacam itu bukannya serangan yng akan menentukan kedudukan. Namun dengan serangan-serangan yang demikian maka pasukan Pajang akan tetap rnenunjukkan bahwa Pajang mempunyai kekuatan yang masih cukup besar menghadapi Jipang yang berusaha meningkatkan gerakannya sesuai dengan perintah Patih Mantahum

“Tujuan kita bukan untuk mendesak mundur pasukan Jipang yang berada di padukuhan itu” berkata Senapati yang memimpin pasukan Pajang, “meskipun demikian jika mungkin dan diperhitungkan tidak akan jatuh korban terlalu banyak, kita akan mengusir mereka keluar. Namun tidak untuk menduduki tempat itu. Tetapi dengan demikian kita sudah memberikan pukulan lahir dan batin”

Kiai Soka mengangguk-angguk. Ia sadar, bahwa pasukan Jipang tidak hanya berada disatu padukuhan. Sementara yang akan menjadi sasaran mereka adalah padukuhan yang dihuni oleh pasukan yang lebih banyak terdiri dari orang dari Tanah Perdikan Semibojan.

Meskipun demikian para Senapati Pajang tidak melangkah dengan tanpa perhitungan yang cermat. Mereka sudah memperhitungkan, bagaimana mereka harus menarik diri jika serangan mereka sudah dianggap cukup memberikan peringatan kepada pasukan Jipang tentang kekuatan Pajang dihadapan orang-orang Jipang itu, sehingga dengan demikian Jiipang tidak akan dapat bergerak leluasa dan mengambil prakarsa dalam pentempuran-pertempuran selanjutnya, karena para petugas sandi Pajang sudah mengetahui perintah Ki Patih Mantahun untuk meningkatkan serangan-serangan pasukan Jipang dimanapun mereka berada.

Dalam pada itu, kedatangan pasukan Pajang itu pun telah diketahui pula oleh para pengamat dari Jipang. Karena itu, maka sebelum pasukan Pajang itu mendekati sasaran dari lambung, pasukan Jipang telah bersiap-siap pula. Justru bagian dari pasukan Jipang yang sebagian besar terdiri dari anak-anak muda Tanah Perdikan Sembajan.

Ketika laporan tentang kedatangan pasukan Pajang itu disampaikan kepada Senapati Pajang yang ada di padukuhan itu, maka ia pun segera memerintahkan para pemimpin kelompok untuk berkumpul. Senapati itupun telah mengundang para pemimpin dari Tanah Perdikan Sembojan yang ada di padukuhan itu.

“Sebentar lagi, pasukan Pajang akan menyerang kedudukan kita. Kita tidak boleh menunjukkan kelemahan. Kita harus menunjukkan kekuatan Jipang dimana-mana. Seorang penghubung akan pergi ke padukuhan di seberang sungai. Sejauh mungkin mereka harus mengirimkan bantuan yang dapat segera mereka gerakkan,” berkata Senapati itu, “Kita harus memukul mundur pasukan Pajang itu atau menghancurkannya sama sekali.”

Ki Rangga Gupita mengangguk-angguk. Tetapi ia pun bertanya, “Apakah kekuatan pasukan Pajang itu, sudah kita ketahui?”

“Sudah dapat kita kira-kirakan. Pasukan itu memang lebih kuat dibandingkan dengan pasukan Jipang ada di padukuhan itu. Tetapi sementara kita bertahan, maka bantuan tebtu akan segera datang. “

“Kita memang harus menunjukkan kekuatan kita” sahut Warsi, “kita, para pemimpin dari Tanah Perdikan Sembojan yang turun ke medan.”

Ki Randukeling pun menyahut, “Sikap orang-orang Pajang memang sangat menjemukan. Aku tahu, mereka tentu menyiapkan para perwiranya untuk menghadapi kita yang dianggap memiliki ilmu yang tinggi. Tetapi aku sudah jemu dengan permainan seperti itu. Kita harus mulai bersungguh-sungguh.”

“Aku sudah bersungguh-sungguh sejak aku berada di medan” berkata Ki Rangga, “mungkin Ki Randukelingl yang belum bersungguh-sungguh.”

“Mungkin. – jawab Ki Randukeling, “sebenarnya aku masih segan membunuh orang terlalu banyak. Tetapi tingkah taku orang-orang Pajang memang sudah memuakkan.”

“Seharusnya kita sudah melakukannya sejak perintah Ki Patih Mantahun disebarkan” berkata Senapati Jipang ita, “kita semua harus memperbanyak gelombang-gelombang serangan dan menunjukkan kekuatan yang sebesar-besarnya dimana-mana. Langkah itu diambil sebagai pendahuluan gerakan terakhir yang akan dilakukan oleh kekuatan induk pasukan Jipang di tepi Bengawan Sore. Sebab menurut perhitungan dan tanda-tanda yang dilihat oleh para petugas sandi, ada niat Pajang untuk menarik sebagian dari pasukannya memperkuat kedudukannya di tepi Bevgawan Sore itu.”

Ki Randukeling mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Kitalah yang mengambil langkah-langkah menentukan. Bukan Pajang. Kita harus menunjukkan bahwa kekuatan Jipang di sekitar Pajang ini pun cirkup besar untuk menghancurkan pasukan Pajang yang tersisa.”

“Nah, kita harus bersiap sekarang.” berkala Senapati itu.

Para pemimpin pasukan Jipang dan Tanah Pendikan Sembojan itu pun segera pergi ke pertahanan yang telah mereka susun didalam lingkungan dinding padukuhan. Sementara itu dua orang penghubung telah pergi ke penempatan pasukan Jipang yang lain, untuk minta bantuan seperlunya atas dasar perhitungan para pengamat atas besarnya pasukan Pajang.

Ki Randukeling yang telah berada di garis pertahanan itu pun kemudian berkata, “Waktunya memang sudah datang. Jika aku terlalu banyak membunuh, maka itu bukan salahku. Orang-orang Pajang harus mengakui kelemahan mereka.”

“Seperti kebiasaan mereka, maka mereka akan menempatkan beberapa orang untuk melawan kakek sehingga gerak kakek sangat terbatas. Demikian juga terhadap kami. Agaknya mereka sudah membuat perhitungan-perhitungan yang cermat untuk itu.” desis Warsi.

“Aku masih dapat melakukan sesuatu diatas batas kemampuan beberapa orang prajurit Pajang itu. Apalagi dalam gerak pasukan yang tidak sepenuhnya seperti ini.” berkata Ki Itandukeling, “dan sekarang benar-benar telah menjadi muak.”

“Kenapa kakek baru muak sekarang?” bertanya Warsi, “kenapa tidak sejak kita terusir dari Tanah Perdikan Sembojan? Kakek, kita tidak boleh membuang waktu. Tetapi kakek pun harus mengakui bahwa cara Pajang membatasi gerak kita, memang menyulitkan kita.”

Ki Randukeling mengangguk-angguk. Katanya, “Aku memerlukan bantuan kalian. Jika para perwira itu berkelompok, kenapa kita tidak melakukannya hal yang sama, khusus untuk mengikat mereka dalam pertempuran? Jika kalian berhasil, maka aku akan mendapat kesempatan.”

Ki Rangga mengangguk-angguk. Katanya, “Aku sependapat. Kita dapat berkelompok seperti para perwira Pajang. Jika mereka berkelampok untuk menghadapi seorang diantaca kita, maka jika kita juga berkelompok, maka mereka lah yang tentu akan mengalami kesulitan.”

Senapati pasukan Jipang itu menyahut, “Apakah sebaiknya kita coba sebentar lagi?”

“Ya” jawab Ki Randukeling, “biarlah orang-orang Pajang menyadari, bahwa kita sudah muak melihat tingkah laku mereka.”

“Baiklah” berkata Ki Rangga, “aku akan bertempur bersama Warsi dan ayahnya. Kami bertiga tentu akan menggetarkan kekuatan Pajang yang terlalu yakin akan kekuatan diri sendiri. sekelompok perwira tidak akan berarti bagi kami bertiga.”

“Kau jangan mengabaikan kemampuan para perwira Pajang” sahut Senapati Jipang, “sebaiknya kalian berada didalam satu kelompok bersama Ki Randukeling. Jika pertempuran telah berlangsung, maka kalian akan dapat mengambil langkah-langkah yang paling menguntungkan. Bukankah diantara kalian masih ada para pemimpin yang lain? Misalnya Ki Wiradana sendiri?”

Ki Randukeling mengangguk-angguk. Jawabnya, “Aku sependapat. Kita tidaik usah terpecah pecah. Kita akan menghadapi kelornpok-kelompok perwira itu dengan cara yang tidak pernah mereka bayangkan semula.”

Senapati Jipang itu pun berkata pula, “Kami pun akan membuat kelompok-kelompok pula untuk menghadapi mereka.”

Demikianlah, maka pasukan Jipang itu telah mengatur diri untuk menerima serangan pasukan Pajang. Mereka telah melakukan satu cara yang berbeda dari yang pernah mereka lakukan sebelumnya.

Sernentara itu pasukan Pajang pun menjadi semakin dekat, sementara semua orang didalam pasukan itu telah bersiap-siap. Beberapa, orang perwira khusus yang memiliki kennampuan melebihi prajurit kebanyakan, serta mempunyai kemungkinan untuk menempatkan diri dalam perlawanan yang berat menghadapi orang-orang berilmu tinggi dari Jipang dan Tanah Perdikan Sembojan telah mengelompok pula. Para prajurit pun telah menerima perintah untuk pada setiap saat menempatkan diri bersama para perwira itu, jika para perwira itu memerlukan.

“Jumlah kita lebih banyak dari pasukan Jipang yang ada di padukuhan itu” berkata Senapati yang memimpin pas.ukan Pajang, “bahkan seandainya datang bantuan dari pedukuhan yang lain.”

Senapati Pajang itu pun kemudian memberikan isyarat ketika pasukannya telah mendekati padukuhan yang dihuni oleh pasukan Jipang. Namun pasukan dipadukuhan itu yang terbanyak adalah justru orang-orang dari Tanah Perdikan Sembojan.

Pasukan Pajang itu berhenti beberapa puluh tonggak dari padukuhan. Mereka pun kemudian menebarkan pasukannya dalam galar, sehingga Pajang telah siap bertempur dalam perang gelar yang utuh.

Sementara itu pasukan Jipang pun, telah bersiap pula. Mereka pun telah menebar pula. Namun mereka masih teta:p berada dibalik dinding padukuhan. Sebagian justru telah berlindung dibalik pepohonan dengan tombak di tangan, sedangkan yang lain memegaag busur dan anak panah.

Ki Rangga tersenyum. Katanya, “Setelah hari ini lewat, kita akan memperbanyak gelombang serangan-serangan. Kitalah yang akan menentukan, kapan kita bertempur dan kapan kita beristirahat. Kita pula yang akan menghitung berapa orang di satu hari telah kita bunuh di antara prajurit Pajang, sehingga akhirnya prajurit Pajang itu akan habis sendirinya, dan kita akan menduduki Pajang. Jika terjadi demikian, maka pasukan Pajang di tepi Bengawan Sore akan terkejut dan kehilangan gairahnya untuk bertempur, sehingga Jipang akan dengan mudah menumpas mereka, seperti memijit buah ranti.”

Sementara itu Ki Randukeling berkata, “Tugas kita belum selesai seandainya Pajang pecah. Kita masih harus merebut kembali Tanah Perdikan Sembojan.”

“O,” Ki Rangga tertawa. “Setelah hari ini lewat, kita? Tidak ada sepenginang Sembojan akan dapat kita selesaikan.”

Ki Randukeling mengerutkan keningnya. Katanya, “Ki Rangga ternyata tidak mempunyai gambaran yang benar tentang Tanah Perdikan Sembojan.”

“Ah,” Ki Rangga mengerutkan keningnya., “Bertanyalah kepada Warsi, isteri pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan atau bertanyalah kepada Ki Wiradana sendiri.”

Ki Randukeling tidak menjawab langsung. Tetapi ia pun kemudian berdesis, “Kita akan melihat, apa yang kelak terjadi jika kalian tidak mau melihat kenyataan.”

Warsi pun kemudian menyahut, “Kakek benar-benar telah menjadi orang tua.”

Ki Randukeling memandang Warsi dengan tajamnya. Kemudian katanya, “Jadi buat apa kau libatkan aku ke dalam persoalan ini jika kau anggap aku sudah terlalu tua?”

Wajah Warsi tiba-tiba menjadi tegang. Namun kemudian katanya, “Maafkan aku kakek. Aku tidak bermaksud menyakiti hati kakek. Agaknya aku terlalu percaya kepada kekuatan yang ada pada kita sekarang, sehingga aku terlalu yakin akan dapat berbuat apapun juga atas Tanah Perdikan Sembojan yang sudah tidak mempunyai kekuatan lagi. Apalagi dengan bantuan kekuatan Jipang.”

“Kebanggaan diri yang berlebihan akan merugikan diri sendiri,” berkata Ki Randukeling. “Tetapi sudahlah. Kita akan membicarakannya kemudian. Kita sekarang sedang menunggu kehadiran pasukan Pajang.”

Senapati Jipang yang memimpin prajurit-prajurit Jipang di padukuhan itu pun kemudian berkata, “Persoalan Tanah Perdikan Sembojan adalah persoalan yang kecil dibandingkan dengan persoalan yang kita hadapi sekarang.”

“Ya. Tetapi Jipang harus mempunyai landasan di daerah Selatan. Bahkan seandainya Pajang telah diduduki, namun aku tidak yakin jika Pajang menyerah bersama seluruh rakyatnya,” jawab Ki Randukeling. Namun kemudian, “Tetapi sudahlah. Pasukan Pajang sudah mulai bergerak mendekati padukuhan ini.”

Senapati itu pun kemudian bergeser selangkah mendekati dinding padukuhan. Diamatinya gerak pasukan Pajang dalam gelar yang mendekati padukuhan itu.

“Bunyikan isyarat,” perintah Senapati itu.

Sejenak kemudian telah terdengar isyarat kentongan kecil dengan irama dua-dua ganda. Sementara itu, pasukan Pajang dalam gelar telah menjadi semakin dekat. Namun pasukan Pajang saat itu tidak melengkapi gelarnya dengan pertanda-pertanda kebesaran. Tanpa rontek dan umbul-umbul, kecuali tunggul pertanda pasukannya dengan panji-panjinya.

Pasukan Pajang itu pun juga mendengar isyarat yang dibunyikan oleh pasukan Jipang. Tetapi pasukan Pajang itu memang sudah mengira, jika kehadirannya sudah diketahui oleh pasukan Jipang. Karena itu suara isyarat itu tidak mengejutkannya.

Beberapa saat, pasukan Pajang itu kemudian telah memasang pelindung di baris paling depan. Mereka yang membawa perisai akan berada di barisan pertama. Jipang akan menyambut mereka dengan anak panah dan lembing yang dilontarkan dari balik dinding padukuhan yang tidak begitu tinggi dan dari balik pepohonan dan rumpun-rumpun bambu.

Ketika pasukan Pajang itu hanya tinggal beberapa langkah saja dari dinding padukuhan, maka terdengar isyarat titir yang memanjang. Satu isyarat yang menggantikan bunyi bende tiga kali berturut-turut. Isyarat bahwa pasukan Jipang harus segera mulai menyambut kedatangan pasukan Pajang itu.

Dengan isyarat itu, maka sebagaimana diperhitungkan oleh pasukan Pajang, anak panah dan lembing pun mulai meluncur dari balik dinding dan pepohonan. Karena itu, maka pasukan Pajang itu pun telah berlindung dibalik perisai yang tersusun rapat. Sehingga dengan demikian maka pasukan Pajang itu seakan-akan tidak terhambat sama sekali.

Meskipun demikian, ada juga lembing dan anak panah yang sempat menyusup dibawah perisai dan mengenai kaki prajurit Pajang.

Tiga orang prajurit Pajang yang belum mencapai batas pertempuran harus sudah keluar dari gelar. Mereka segera mendapat perawatan. Ujung anak panah dan lembing telah melukai kaki mereka sehingga seakan-akan mereka tidak lagi mampu melangkah terus.

Tetapi setelah mendapat sedikit pengobatan dan darahpun menjadi pampat, maka mereka telah bangkit sambil berkata, “Aku akan menyusul pasukan itu.”

“Tunggu,” sahut yang merawat. “Biarlah darahmu tidak keluar lagi dari luka. Kalian harus beristirahat barang sejenak. Pertempuran itu tidak akan segera berakhir. Bahkan mungkin akan memerlukan waktu lama sehingga saatnya matahari terbenam.”

Ketiga orang itu tidak memaksa. Tetapi rasa-rasanya mereka tidak sabar menunggu sampai saat yang diperkenankan oleh orang yang mendapat tugas merawat mereka.

Dalam pada itu, pasukan Pajang telah mencapai dinding padukuhan. Dengan demikian, maka anak panah pun tidak lagi dapat dipergunakan dengan baik. Karena itu, maka para prajurit Jipang dan anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan yang membawa busur telah diletakkannya. Mereka telah mencabut pedangnya dan dengan tangkasnya mereka menyambut kedatangan pasukan Pajang.

Sejenak kemudian pertempuran pun berlangsung dengan sengitnya. Pasukan dari kedua belah pihak telah bertempur di batas dinding padukuhan. Pasukan Pajang memang telah mendapat pesan dari para Senapati dan pemimpin kelompok agar mereka tidak terlalu dalam terlibat ke dalam pertempuran di dalam dinding padukuhan. Mereka justru harus berusaha memancing orang-orang Jipang untuk keluar dari padukuhan.

Bahkan sesuai dengan rencana, maka gelar pasukan Pajang itu telah bergerak justru surut beberapa langkah. Ketika tunggul pasukannya terangkat dan panji-panjipun terayun-ayun, terdengar isyarat dari mulut para pemimpin kelompok agar pasukan Pajang itu mundur.

Gerak itu ternyata telah berhasil memancing pasukan Jipang keluar dari dinding padukuhan. Mereka berloncatan menyerang dan berusaha mendesak pasukan Pajang lebih jauh.

Tetapi ternyata beberapa langkah dari dinding padukuhan, Pasukan Pajang itu berhenti. Gerak mundurnya tidak lagi dilanjutkannya. Bahkan pasukan itu seakan-akan telah menemukan tempat untuk bertumpu dengan kuatnya.

Kedua belah pihak pun kemudian telah meningkatkan kemampuan mereka. Namun mereka masih mengekang diri, karena mereka menyadari bahwa pertempuran itu akan berlangsung cukup lama.

Sementara itu beberapa orang perwira Pajang memang sudah berada di dalam kelompok-kelompok kecil. Tetapi mereka belum mulai bergerak karena mereka belum menemukan tekanan yang berat dari Ki Randukeling dan para pemimpin dari Tanah Perdikan Sembojan yang lain, namun yang tidak diakuinya di Sembojan sendiri.

Namun dalam pada itu, ternyata orang-orang dari Tanah Perdikan Sembojan telah menentukan sikapnya yang lain. Ki Randukeling telah berada di dalam satu kelompok bersama Ki Rangga Gupita, Warsi, ayah Warsi, Ki Wiradana dan orang yang pernah diaku sebagai ayah Warsi itu. Sementara itu, anak-anak muda yang telah memiliki kemampuan sebagaimana seorang prajurit telah bertempur dengan tangkasnya pula.

Ternyata Ki Randukeling dan para pemimpin dari anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan yang berpihak kepada Jipang itu melakukan sebagaimana dikatakan. Mereka sama sekali tidak mengekang diri lagi. Ketika mereka membentur pasukan Pajang maka mereka pun telah bersiap untuk membunuh.

Kelompok yang terdiri dari raksasa-raksasa di dalam olah kanuragan itu mengikuti gerak maju pasukan Jipang yang terpancing keluar dari padukuhan. Ketika pasukan Pajang mulai memantapkan garis pertempuran, maka Ki Randukeling pun berkata, “Kita akan mulai. Tidak ada lagi keragu-raguan.”

“Ya,” sahut Ki Rangga, “Tidak ada belas kasihan dan pengekangan diri. Tetapi harus berlaku juga bagi Ki Randukeling.”

Ki Randukeling mengangguk-angguk kecil. Namun kebesarannya sebagai seorang pertapa memang telah membuatnya ragu-ragu meskipun ia telah menyatakan tidak ada keragu-raguan. Sebagai seorang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi, apakah ia akan membunuh para prajurit kebanyakan yang berlandaskan pada ilmu keprajuritannya tanpa ilmu yang lain.

Namun terdengar Ki Rangga berkata, “Marilah Ki Randukeling. Kita akan berada di medan.”

“Marilah kakek,” Warsi mengajaknya pula., “Seperti yang kakek katakan. Tidak ada keragu-raguan.”

Ki Randukeling mengangguk-angguk. Katanya, “Marilah, mulailah.”

“Baiklah,” berkata Ki Rangga., “Aku akan mulai.”

Ki Rangga pun kemudian telah menarik tangan Warsi sambil berkata, “Marilah. Kita merupakan pasangan yang paling menakutkan di medan perang.”

Dengan gerak naluriah Warsi berpaling kepada Ki Wiradana. Bagaimanapun juga, laki-laki itu adalah suaminya. namun ia pun segera meninggalkannya dan memasuki medan bersama Ki Rangga.”

Wiradana termangu-mangu. Namun tiba-tiba sepasang tangan telah mendorongnya sambil berkata, “Marilah. Kau tidak usah sakit hati melihat istrimu berpasangan dengan orang yang memiliki ilmu yang seimbang dengannya di peperangan. Tidak di dalam bilik. Majulah sesuai dengan rencana. Kita akan berada di dalam satu kelompok.”

Ki Wiradana bagaikan terbangun dari mimpinya. Dipandanginya wajah ayah Warsi dengan jantung yang berdenyut semakin cepat.

“Apalagi yang kau pikirkan,” bentak ayah Warsi.

Namun dalam pada itu terdengar suara lain, “Ia adalah pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan.”

Ki Wiradana dan ayah Warsi itu berpaling. Ki Randukeling berdiri tegak sambil memandang ayah Warsi itu dengan tajamnya.

Ayah Warsi itu tidak menjawab. Tetapi iapun kemudian melangkah menyusul Warsi ke medan.

“Marilah,” ajak Ki Randukeling kemudian., “Kita akan melakukan satu permainan yang mengejutkan bagi Pajang.”

Ki Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Jawabannya bagaikan tidak sadar, “Marilah kakek. Aku sudah siap.”

Keduanya pun kemudian telah melangkah pula memasuki medan. Mereka harus berada dalam satu kelompok sebagaimana sudah direncanakan.

Namun dalam pada itu, ternyata Rangga Gupita dan Warsi telah lebih dahulu menyerang para prajurit Pajang. Tetapi seorang pemimpin kelompok yang telah melihat kehadirannya telah memerintahkan seorang penghubung memberikan isyarat bahwa di tempat itu terdapat orang-orang Jipang yang memerlukan perhatian.

Sementara itu, maka sekelompok prajurit telah berusaha membatasi gerak Ki Rangga dan Warsi. Tetapi keduanya teryata benar-benar telah mengamuk seperti serigala yang kelaparan.

Para prajurit Pajang memang mengalami kesulitan. Kedua orang itu ternyata benar-benar memiliki ilmu yang sangat tinggi bagi para prajurit kebanyakan. Karena itulah, maka dalam waktu yang singkat, maka seorang prajurit Pajang telah terluka lengannya. Bahkan sekejap kemudian yang lain pun telah menyeringai pula menahan pedih di pundaknya.

Namun dalam pada itu, isyarat yang diberikan oleh penghubung itu pun segera ditangkap oleh Senapati yang memerintahkan para perwira yang memiliki landasan ilmu yang lebih baik dari para prajurit untuk mendekati medan yang dianggap berbahaya itu.

“Isyarat itu tidak mengatakan bahwa yang datang adalah Ki Randukeling,” berkata Senapati itu kepada Kiai Soka dan Gandar.

Kiai Soka mengangguk-angguk. Namun ternyata demikian para perwira itu meninggalkan induk pasukan, isyarat yang lain telah sampai kepada Senapati itu. Sambil menarik nafas Senapati itu berkata, “ Ya Kiai. Ki Randukeling pun ada ditempat itu.”

Kiai Soka tersenyum. Katanya “Aku akan pergi ke tempat itu pula. Mudah-mudahan aku memilikii kemampuan untuk mengimbangi ilmu Ki Randukeling yang luar biasa itu.”

“Aku percaya bahwa Kiai Soka akan dapat melakukannya” jawab Senapati itu.

Kiai Soka tidak menjawab. Tetapi ia pun segera bergeser bersama Gandar menuju ke tempat yang diisyaratkan.

Sebenarnyalah, di tempat itu telah terjadi pertempuran yang semakin sengit. Ketika para perwira datang ketempat itu, maka para pemimpin dari anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan yang berpihak Jipang telah berada ditempat itu pula.

Namun pada saat para perwira itu dalam kelompok-kelompok kecil ingin berpencar, mereka telah ditemui oleh seorang penghubung yang melaporkan, bahwa para pemimpin dari pasukan Tanah Perdikan Sembojan itu berada didalam satu kelompok,

“Bukan kebiasaan mereka” berkata salah seorang perwira.

“Memang bukan kebiasaan mereka” jawab penghubung itu, “tetapi agaknya mereka ingin melakukan sesuatu untuk mengatasi keterbatasan mereka jika mereka berhadapan dengan kelompok-kelopok kecil perwira yang mempunyai ilmu melampaui para prajurit.”

“Baiklah” berkata perwira itu, “kita harus menyesiuaikan diri.”

“Silahkan. Keadaan sudah menjadi gawat” berkata penghubung itu.

“Kita akan membicarakannya” berkata perwira itu. “Cepatlah. Kematian telah disusul dengan kematian,” berkata penghubung itu pula dengan cemas.

Para perwira itu pun kemudian telah berbicara beberapa saat. Tetapii kesimpulan yang mereka ambil adalah, merekapcun berada di satu kelompok yang lebih besar untuk menghadapi kelompok orang-orang berilmu itu.

“Kita akan dapat menentukan sikap berikutnya jika kita sudah berada di medan” berkata perwira yang tertua diantara mereka, “korban telah jatuh. Kita jangan terlalu lama membiarkan para prajurit dalam kesulitan”

Demikianlah prajurit-prajurit yang dianggap memiliki kelebihan dari prajurit kebanyakan itu pun segera menempatkan dirinya di medan. Namun mereka memang menjadi berdebar-debar melihat beberapa orang yang dianggap berilmu tinggi berada didalam satu kelompok Bahkan diantara mereka terdapat Ki Randukeling.

Ketika Ki Randukeling melihat beberapa orang perwira hadir di medan, maka ia pun menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Agaknya kita akan dapat mulai dengan permainan yang lebih baik. Aku lebih senang membunuh orang-orang berilmu daripada membunuh prajurit-prajurit yang dungu itu.”

Ki Ranggapun tertawa. Katanya “Marilah Ki Randukeling. Tidak ada keragu-raguan. Tidak ada belas kasihan dan pebgekangan diri. Siapapun yang datang kehadapanku, akan aku bunuh.”

Warsi pun menyahut “Membunuh adalah tugas kita di medan pertempuran seperti ini.”

Para perwira Pajang itu pun menjadi semakin berhati-hati. Mereka mengerti, betapa tingginya ilmu Ki Randukeling. Jika ia berdiri sendiri, maka beberapa orang perwira dapat megepungnya dan membatasi geraknya. Tetap dalam kelompok orang-orang berilmu yang seakan-akan menghadap, ke segala arah itu, maka para perwira itu harus berbuat dengan perhitungan yang lebih baik.

Sementara itu, para prajurit Pajang telah berusaha untuk menekan lawannya, di segala titik benturan.

Karena para pemimpin dari anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan itu berada di satu kelompok, maka, di medan yang membentang itu, tidak terdapat kekuatan-kekuatan yang mencuat dari para prajurit kebanyakan. Para Perwira Jipang memang memiliki kemampuan melampaui para prajuritrrya. Tetapi mereka tidak merupakan kekuatan penentu, karena kemampuan mereka tidak lebih dari para pemimpin kelompok dari Pajang.

Namun yang benar-benar mengejutkan adalah kelompok para pemimpin yang datang dari Tanah Perdikan Sembojan. Ternyata mereka benar-benar bagaikan menjadi buas. Raugga Gupita dan Warsi seolah-olah memang tidak dapat dikekang lagi. Bahkan Ki Rangga Gupita telah mempergunakan kemampuan tertingginya, sehingga setiap senjata yang bersentuhan dengan senjatanya, meskipun hanya sentuhan kecil, telah menjadi rambatan mengalirnya panas yang bagaikan membakar telapak tangan.

Warsi benar-benar mengamuk sebagai seekor harimau betina. Tanpa kekaug sama sekali, sehingga semua gerak senatanya bagaikan menyebarkan udara kematian. Ayahnya pun menjadi bagaikan liar dan kehilangan pengamatan. Sementara yang masih tetap ragu-ragu adalah Ki Wiradanaa sendiri. Tetapi karena ia sudah berada di lingkungan orang yang sedang mengamuk, maka ia pun telah bertempur pula dengan segenap kemampuannya.

Ki Randukeling memang tidak menjadi buas seperti yang lain. Ia masih tetap mengendalikan dirinya. Meskipun ia akan mungkin berbuat lebih kasar, tetapi ia masih rnemikirkan harga dirinya sebagai seorang pertapa yang besar dan orang yang dekat dengan Ki Patih Mantahun.

Namun demikian, meskipun masih juga tetap dikekang, tetapi kemampuan Ki Randukeling memang menggetarkan orang-orang yang berada dalam kelompok berusaha membatasi geraknya.

Dalam susunan yang lain, maka para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan itu benar-benar menjadi sangat berbahaya. Bahkan para perwira Pajang yang menghadapi mereka tengah memeras nalar mereka, apa yang sebaikmya mereka lakukan untuk melawan cara yang dipergunakan oleh para pmnimpin Tanah Perdikan Sembojan itu.

Ketika pertempuran menjadi semakin seru, maka terjadilah keseimbangan yang tidak merata. Di medan yang menebar itu, pasukan Pajang mampu menguasai keadaan. Tetapi pada satu titik pertempuran, para pemimpin dari anak-anak muda Tanah Perdikan itu mengamuk tanpa dapat dibatasi geraknya, sehingga bagaikan putaran angin pusaran yang membabat segala sesuatu yang disentuhnya.

Kecemasan itu benar-benar mencengkam para perwira dan prajurit Pajang. Mereka merasa perlu untuk menemukan satu cara mengatasinya. Tidak langsung dalam banturan yang tentu akan menuntut terlalu banyak korban.

Yang dapat dilakukan oleh Pajang adalah menyampaikran kesulitan itu kepada Senapati yang memimpin pasukan Pajang lang datang menyerang, bahwa Jipang, khususnya, pasukan Tanah Perdikan Sembojan telah mempergunakan cara baru yang mengejutkan Pajang.

“Tekan pasukan Jipang di sekitar tempat itu dengan cara yang sama” perintah Senopati itu, “ beri hesan bahwa pasukan Pajang akan menghancurkan pasukan Jipang sampai tuntas”.

Perintah itu pun segera sampai pula kepada para pemimpin kelompok di medan di sekitar para pemimpin pasukan Tanah Perdikan Sembojan ditamhah Ki Rangga Gupita bagaikan mengamuk.

Pasukan Pajang yang marah itu pun segera melakukan perintah itu, Tanpa arnpun mereka menekan pasukan Jipang yang sebagian besar justru terdiri dari anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan untuk mempengaruh perasaan para pernimpinniya.

Tetapi para pemimpin pasukan Tanah Perdikan Sembojan itu agaknya telah menemukan satu cara yang mereka anggap cukup baik untuk menghancurkan kekuatan Pajang, terutama para perwiranya. Karena itu, maka untuk sementara mereka membiarkan kesulitan yang dialami oleh pasukannya.

“Kita akan dapat membunuh lebih banyak” teriak Ki Rangga Gupita.

“Ya. Kita hancurkan orang-orang Pajang yang merasa dirinya berilmu.”

“Dimana Tumenggung Wirajaya” teriak Ki Rangga Gupita “permainan kita belum tuntas. Kenapa aku tidak melihatnya di medan sejak aku kembali kemari.”

Para perwira Pajang itu termangu-mangu. Sebenarnyalah Ki Tumenggung Wirajaya memiliki ilmu yang tinggi. Tetapi ia sedang melakukan tugas lain tidak di medan pertempuran. Namun tantangan itu memperingatkan para perwira Pajang bahwa Ki Tumenggung Wirajaya akan dapat dihadapkan kepada orang yang menantangnya itu.

Tetapi tiba-tiba yang terdengar justru suara lain. Suara yang terdengar lembut sareh. Tetapi getarannya bagaikan telah mengguncang setiap dada, “Jangan mencari Tumenggung Wirajaya yang sedang sibuk. Ia hari ini tidak sempat melayani kalian. Tetapi agaknya akulah penganggur yang tidak mempunyai pekerjaan lain dapat melakukan tugasnya di medan ini.

Suara itu benar-benar mengejutkan. Lebih-lebih Ki Randukeling yang memiliki ilmu yang sangat tinggi. Suara itu seolah-olah khusus ditujukan kepadanya lewat sentuhan jiwani yang sangat khusus.

Karena itu, dengan nada suara yang sama Ki Randukeling justru bertanya “He, Ki Sanak. Siapakah kau?”

“Aku adalah salah seorang kawula dari Tanah Perdikan Sembojan yang sebenarnya adalah salah satu keluarga Kadipaten Pajang.” jawab suara itu, “tetapi Sembojan ternyata telah menempuh jalan sesat dan memilih bertempur bersamasama Jipang justru rnelawan Pajang.”

“Siapa kau?” ulang Ki Randukeling.

“Orang memanggilku Kiai Soka. Aku adalah adik dari kakek Iswari yang kini memerintah Tanah Perdikan Sembojan atas nama anak laki-lakinya karena ayah anak itu berhalangan. Iswari telah melakukan tugas sehari-hari dari pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan. Kedatanganku di medan ini telah mengemban beberapa tugas, antara lain memberikan kesadaran kepada anak-anak muda Sembojan tentang kedudukan mereka, dan menyatakan kepada kalian orang-orang sesat, bahwa Tanah Perdikan Sembojan yang berdiri tegak diatas kebenarannya akan mengejar kemanapun kalian lari.”

“Kaulah itu Kiai?” desis Ki Randukeling

“Persetan” Warsi lah yang berteriak dengan suara heras. Tetapi terasa bahwa suara itu adalah suara mantab yang sama sekali tidak mampu rnengimbangi, getar suara Kiai Soka. “Anak pemangku jabatan Kepala Tamah Perdikan Sembojan itu ada disini bersamaku.”

“Jangan berteriak-teriak begitu” terdengar suara lain. Meskipun tidak seperti Kiai Soka, tetapi Gandar sempat membangunkan kekuatan ilmunya lewat getar suaranya, “aku tahu kau memiliki ilmu yang tinggi. Tetapi sekarang kalian adalah orang-orang terbuang. Dengar sekali lagi seperti yang dikatakan oleh Kiai Soka. Aku datang untuk menunjukkan kepada kalian, bahwa kemanapun kalian lari, maka kalian akan tetap dikejar.”

“Aku bunuh kau” teriak Ki Rangga yang mencoba mengimbangi getar suara Gandar.

Tetapi yang terdengar adalah suara Gandar tertawa. Katanya “Kaulah petugas sandi dari Jipang yang telah bekerja sama dengan Ki Randukeling dan kemudian benar-benar menguasai Ki Wiradana bukan saja senyum dibihir sebagaimana dilakukan pada saat Warsi datang pertama kali di Tanah Perdikan, tetapi benar-benar dengan kekerasan? Karena Warsi benar-benar menjadi buas setelah ia merasa kekuatannya terkumpul di Tanah Perdikan Sembojan?”

“Persetan” teriak Ki Rangga Gupita. Hampir saja ia meloncat berlari kearah Gandar. Tetapi Warsi mencegahnya. Katanya, “Akulah yang akan membunuhnya.”

Warsi tidak menunggu lebih lama lagi. Ia pun telah meloncat, benar-benar sebagai seekor harimau betina kearah Gandar. Sementara itu Kiai Soka justru telah berpesan, “jangan bunuh perempuan itu.”

“Aku sudah muak” geram Gandar.

“Jaga perasaan Iswari. Biarlah Iswari yang kelak menundukkannya.” desis Kiai Soka.

“Apakah Iswari mampu?” bertanya Gandar. “Kita akan rnenjajaginya” jawab Kiai Soka.

Gandar tidak menjawab lagi. Perempuan yang garang itu telah berada dihadapannya.

Karena itu maka Gandar pun harus segera bersiap. Ia menjadi berdebar-debar ketika ia melihat Warsi tidak mempergunakan senjata pedang. Tetapi dalam puncak kemarahannya dan menghadapi lawan yang dianggapnya cukup tangguh, maka ia telah mempergunakan senjata lenturnya.

Warsi telah mengurai rantainya yang merupakan senjata andalannya.

Tetapi Gandar justru ingin tetap mempergunakan senjata yang sejak semula telah dibawanya ke medan itu. Sebuah tombak pendek. Meskipun Gandar juga mempunyai dan mampu mempergunakan senjata lentur, tetapi ia tidak ingin mempergunakannya menghadapi Warsi yang telah lcbih dahulu mengurai rantainya.

“Kau akan menyesal karena kesombonganmu” geram Warsi.

“Apa daya seorang perempuan” desis Gandar, “aku sudah banyak mengenal perempuan yang katanya berilmu tinggi.”

“Tutup tnulutcnu” bentuk Warsi, sambil mengayunkan rantainya.

Gandar terkejut. Ujung rantai itu memang hampir saja menyambar mulutnya. Namun Gandar cepat bergeser, sehingga rantai itu tidak berhasil menyentuhnya.

“Kau terlalu cepat marah” berkata Gandar, “tenanglah sedikit, agar kau tidak kelihatan terlalu liar.”

“Diam. Diam kau” Warsi berteriak, “kau akan bertempur atau akan berbicara saja?”

Gandar tertawa. Namun ia pun dengan tangkas mengelak ketika rantai ditangan Warsi, itu barputaran menyambarnwa. Namun demikian Gandar meloncat, ujung rantai itu telah memburunya, mematuk dengan dahsyatnya.

Gandar tidak menjadi gugup. Ia pun cepat menghindar. Bahkan dengan sebelah tangannya, Gandar menjulurkan tombaknya ke arah dada Warsi.

Satu serangan yang tidak terduga. Karena itu, Warsi lah yang kemudian harus mengelak.

Dengan demikian maka pertempuran pun menjadi semakin meningkat. Ternyata bahwa Gandar harus mengakui, bahwa Warsi memang memiliki ilmu yang tinggi. Namun hampir diluar sadamya, Gandar bertanya, “Ilmu inikah peninggalan Kalamerta yang garang itu”

“Persetan” geram Warsi marah.

Grandar tidak berbicara lagi. Tetapi ia harus benar-benar memusatkan perhatiannya kepada ujung rantai Warsi yang menyambar-nyambar dengan dahsyatnya., “Bahkan kadang-kadang rantai itu berputar-putar bergulung bagaikan kabut yang siap melibatnya kedalam satu putaran maut.

Tetapi Gandar memang tangkas. Ia sama sekali tidak menjadi bingung. Dengan kemampuan i1munya yang tinggi, maka ia pun mampu mengimbangi kegarangan harimau betina yang memiliki keturunan ilmu Kalamerta itu.

Ia pun mengimbangi kecepatan gerak Warsi dengan kerapatan gerak pula. Sekali-sekali ujung tombaknya mampu menyusup diantara gumpalan putaran rantai Warsi, sehingga Warsi pun harus bergeser surut.

Sebagaimana Gandar harus mengakui kemampuan Warsi, maka Warsi-pun tidak dapat mengingkari kenyataan. Gandar memiliki kelebihan dari sesamanya dalam olah kanuragan.

Dengan demikian maka pertempuran antara keduanya pun semakin lama menjadi semakin sengit. Keduanya telah mengerahkan segenap kemampuannya untuk saling mengatasi.

Namun dalam pada itu, Gandar pun berusaha untuk mengamati kemampuan Warsi jika kemampuan itu sudah sampai ke puncak. Meskipun ia harus bertempur dengan segenap kemampuannya, tetapi Gandar tidak melupakan pesan Kiai Soka. Warsi tidak baleh dibunuh seandainya ia mampu melakukannya, karena pada suatu saat Iswari ingin bertemu langsung dengan perempuan itu.

Tetapi Iswari tidak boleh menjadi korban dalam pertemuan itu. Karena itu, maka Gandar harus mampu mamberikan pertimbangan, apakah Iswari benar-benar sudah siap atau belum menghadapi ilmu, Kalamerta itu.

Dulain pihak Kiai Soka telah berhasil memancing Ki Randukeling keluar dari sekelompok orang-orang berilmu yang memimpin anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan yang ada di Pajang bersama pasukan Jipang itu, Dengan nada rendah Ki Randukeling berkata, “Kau telah merusak rencana kami Ki Sanak.”

“Rencana yang mana yang kau maksudkan?” bertanya Kiai Soka.

“Kami ingin menghancurkan pasukan Pajang yang datang hari ini ke padukuhan ini” berkata Ki Randukeling.

“Kenapa” bertanya Kiai Soka pula.

“Kedatangawmu telah merubah gelar yang kami siapkan” jawab Ki Randukeling, “gelar yang khusus menjebak para perwira dari Pajang.”

“Jangan bermain-main dengan jiwa anak-anak Tanah Perdikan” berkata Kiai Soka, “bukankah dengan caranu itu, kematian sajalah yang akan bertambah banyak. Bukan penyelesaian seperti yang kau harapkan.”

“Kenapa begitu?” bertanya Kiai Randukeling.

“Mungkin kalian mampu membunuh prajurit Pajang lobih banyak” berkata Kiai Soka, “tetapi orang-orang Jipang pun terbunuh lebih banyak diluar lingkaran kelompok. Orang-orang berilmu tinggi dari Tanah Perdikan Sembojan ini. Karena itu, cara yang kau pakai adalah justru cara yang paling buruk dari segala pertempuran yang pernah terjadi.”

Kiai Randukeling mengangguk-angguk. Jawabnya, “Mungkin kau benar, karena para pemimpin dari Tanah Perdikan Sembojan telah berkumpul, sehingga yang tersebar didalam gelar hanyalah para prajurit dan anak-anak muda Tanah Perdikan. Untuk selanjutnya aku akan memikirkan cara yang lebih baik dari cara ini, sehingga korban tidak akan jatuh terlalu banyak.”

”Terima kasih” desis Kiai Soka, “kematian dikedua belah pihak yang meningkat dalam perang seperti ini bagiku merupakan satu keprihatinan yang tinggi:. Kematian prajurit Pajang yang meningkat membuatku menjadi cemas. Sementa’ra itu kematian anak-anak Tanah Perdikan yang berlipat membuat hatiku menjadi sangat terasa pahit.”

“Baiklah Ki Sanak” berkata Ki Randukeling, “aku akan selalu mengingat pesanmu itu, meskipun seandainya kau sudah tidak ada lagi.”

“Kenapa aku menjadi tidak ada?” bertanya Kiai Soka.

“Pertemuan kita kali ini berbeda dengan perternuan kita di Tanah Perdikan itu Kiai?”

“Ah, jangan berpura-pura begitu-. Bukankah kita berada di peperangan. Kau atau aku akan dapat terbunuh di peperangan seperti ini.” jawab Ki Randukeling.

Kiai Soka mengangguk-anggu!k. Sementara. itu katanya, “Memang mungkin kau atau aku dapat terbunuh. Tetapi kematian kita kurang bermanfaat disini.”

“Dimana yang menurut pertimbanganmu lebih bermanfaat?” bertanya Ki Randukeling.

“Jika aku mati, seakan-akan kematianku tidak lebih merupakan bagian dari pasukan Pajang. Sedangkan jika kau mati, kaupun hanya sekedar bagian dari orang-orang Jipang.” jawab Ki Soka.

“Jadi bagaimana ?” bertanya Ki Randukeling.

“Aku datang memang untuk menunjukkan bahwa Tanah Perdikan Sembojan berani menghadapi kalian dimanapun juga. Tetapi kita akan lebih berarti jika kita mati di Tanah Perdikan langsung dalam persoalan yang kita masuki. Apakah kau setuju ?” bertanya Kiai Soka.

Ki Randukeling merenung sejenak. Namun kemudian katanya, “Lihatlah. Pertempuran telah berubah. Kau berhasil mengacaukan kekuatan .pasukan Jipang, khususnya yang terdini dari anak-anak Tanah Perdikan.”

“Tetapi, aku sudah berpesan kepada Gandar untuk tidak membunuh Warsi.” berkata Kiai Saka seakan-akan tidak mendengar kata Ki Randukeling.

“Kenapa?” bertanya Ki Randukeling.

“Ada dua hal” jawab Kiai Soka, “yang pertama mungkin Gandar memang tidak mampu melakukannya. Sedangkan yang kedua, seandainya ia mampu membunuh, makca Iswari tentu akan sangat kecewa. Cucuku itu ingin sekali bertemu dengan Warsi. Mungkin cucuku tidak jujur. Ia tidak hanya dibebani oleh persoalan Tanah Perdikan yan harus diselesaikannya.  Tetapi ada persoalan pribadi yang menyangkut kehidupannya.”

Ki Randukeling mengangguk-angguk. Namun kernudian katanya, “Baiklah Kiai. Apapun yang akan terjadi, aku sependapat, bahwa Warsi harus bertemu dengan Iswari. Warsi adalah cucuku dan Iswari adalah cucu Kiai. Biarlah pada suatu saat keduanya menentukan, siapakah yang sebenarnya berbak atas Tanah Perdikan Sembojan atas nama anak mereka masing-masing. Tetapi satu hal yang Kiai harus ingat, Warsi memiliki warisan ilmu Kalamerta yang garang itu.”

“Itu tidak menentukan Ki Sanak,” berkata Kiai Soka., “Kalamerta mampu dikalahkan oleh Ki Gede Sembojan, tetapi anak Ki Gede yang bernama Wiradana itu sama sekali tidak mampu menunjukkan kemampuan ilmu warisan ayahnya. Karena itu, maka ia telah menjadi budak keturunan Kalamerta yang membalas dendam. Semula oleh senyuman, tetapi kemudian benar-benar oleh ilmunya.” Ki Randukeling mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Sekarang apa yang akan kita lakukan?”

“Terserah kepada Ki Sanak,” jawab Kiai Soka., “Kita sudah berada dipeperangan,” berkata Ki Randukeling.

Kiai Soka mengangguk kecil. Katanya, “Aku siap berbuat apa saja sekarang.”

“Kita akan bertempur. Tetapi aku setuju bahwa semuanya akan ditentukan kemudian di Tanah Perdikan Sembojan,” jawab Ki Randukeling.

Demikianlah, maka keduanya pun telah bersiap. Namun agaknya Ki Rangga Gupita yang melihat Ki Randukeling lebih banyak berbicara itu berteriak, “Marilah Ki Randukeling. Tanpa keragu-raguan dan tanpa belas kasihan.”

Ki Randukeling tidak menjawab. Tetapi teriakan itu mendorong untuk bertempur.

Meskipun demikian, maka Ki Randukeling memang tidak berharap untuk dapat membunuh Kiai Soka dan sebaliknya.

Meskipun demikian keduanya memang telah berusaha untuk saling menjajagi. Keduanya mulai melepaskan ilmu-ilmu mereka meskipun tidak sampai ke puncak.

Dengan demikian maka keseimbangan pertempuran itu pun memang berubah. Ki Rangga Gupita tidak lagi mempunyai kawan yang dapat mengimbanginya dalam sebuah kelompok. Meskipun ayah Warsi juga bertempur dengan garang, tetapi tanpa Warsi, Ki Rangga menjadi kecewa.

Meskipun demikian ia benar-benar telah bertempur sebagaimana direncanakan. Tanpa ragu-ragu. Namun kemudian ia lebih suka bertempur sendiri.

Dengan demikian, maka perwira dari Pajang menjadi lebih mudah menghadapinya.

Demikian juga menghadapi ayah Warsi, Ki Wiradana dan orang-orang lainnya yang memiliki kelebihan dari prajurit kebanyakan.

Dalam pada itu, pertempuran itu masih berlangsung terus. Ditempat-tempat tertentu, pasukan Pajang masih terus menekan pasukan Jipang, karena pasukan Pajang memang lebih banyak jumlahnya. Sementara itu, para pemimpin dari pasukan Tanah Perdikan Sembojan seakan-akan telah berkumpul menjadi satu kelompok yang ternyata tidak dapat melakukan rencana mereka, karena kehadiran Kiai Soka dan Gandar.

Namun demikian pasukan Pajang menekan semakin kuat lawannya, maka bantuan dari padukuhan sebelah pun telah datang. Sepasukan prajurit Jipang yang diantaranya juga terdiri dari anak-anak muda dari Tanah Perdikan Sembojan telah memasuki arena pertempuran.

Tetapi Senapati Pajang yang memimpin gelombang penyerangan itu tidak menjadi cemas. Ia sudah mendapat laporan tentang medan dalam keseluruhan, sehingga dengan demikian maka ia dapat membuat perhitungan-perhitungan tertentu.

Meskipun demikian tetapi kehadiran kekuatan baru pada pasukan Jipang telah memberikan perubahan atas keseluruhan perang gelar itu. Dengan demikian maka para pemimpin kelompok dari para prajurit Pajang harus memberikan aba-aba untuk menentukan imbangan kekuatan dari pasukannya dihadapan para prajurit Jipang.

Dalam pada itu, karena Ki Randukeling dan Warsi telah menemukan lawan masing-masing, maka sebagian dari para perwira Jipang yang dipersiapkan telah mendapat kesempatan untuk berada ditempat itu. Bahkan mereka pun berusaha untuk menebar dan berada di antara para prajurit.

Ki Rangga Gupita lah yang mengumpat-umpat tidak habis-habisnya. Dengan mengerahkan kemampuan dan ilmunya ia memang berusaha untuk membunuh sebanyak-banyaknya. Namun tiga orang prajurit terpilih Pajang menghadapinya dengan keberanian yang mengagumkan.

Ketiga orang Prajurit Pajang itu menyadari, bahwa Ki Rangga memiliki ilmu yang mendebarkan. Lewat sentuhan senjata ia mampu mengalirkan ilmunya, merambat dan menyengat telapak tangan lawannya.

Tetapi ketiga orang prajurit Pajang itu berusaha untuk menghindari setiap sentuhan senjata. Mereka berusaha untuk menghindari setiap serangan, namun diimbangi dengan serangan oleh prajurit yang kebetulan bebas dari serangan itu.

Ki Rangga Gupita mengumpat sejadi-jadinya. Ketiga orang Pajang itu ternyata juga orang pilihan. Mereka mampu bergerak cepat dan loncatan-loncatan panjang mereka dapat mengimbangi kelebihan Ki Rangga Gupita yang marah itu..

Sementara .itu. Warsi masih bertempur melawan Gandar dengan garangnya. Tetapi tidak banyak yang dapat mereka lakukan, karena ternyata masing-masing memang memiliki kelebihan.

Di arena gelar yang menebar, pertempuran pun menjadi.semakin lama semakin sengit.

Pasukan Pajang tidak lagi dapat menekan pasukan Jipang sebagaimana pada saat pasukan Jipang di padukuhan sebelah belum datang untuk membantu.

Tetapi pasukan Jipang pun tidak dapat dengan serta, merta mengusir pasukan Pajang dari daerah pertahanan mereka..

Namun dalam pada itu, kehadiran beberapa orang perwira Pajang yang tidak lagi berkumpul dalam satu kelompok untuk melawan Ki Randukeling dan Warsi telah mempengaruhi medan pula. Mereka sempat menimbulkan hentakan-hentakan di beberapa tempat di sepanjang gelar pasukan Pajang.

Sementara itu, beberapa orang prajurit pilihan masih tetap berada di sekitar Ki Rangga Gupita dan: ayah Warsi. Sedangkan Ki Wiradana tidak banyak menimbulkan persoalan. Meskipun ia memiliki kemampuan olah kanuragan, namun seorang perwira Pajang terpilih mampu mengedalikannya.

Dengan demikian maka ‘pertempuran antara kedua pasukan itu pun menjadi semakin sengit.

Pertempuran itu sendiri bagi pasukan Pajang bukannya pertempuran yang menentukan kedudukan pasukan. Tetapi Pajang berniat untuk mengguncang ketahanan jiwani pasukan Jipang Dengan serangan itu, maka Pajang menunjukkan bahwa Pajang masih tetap memiliki kekuatan yang besar untuk menghadapi Jipang.

Dalam serangan yang beutumpu kepada kekuatan seutuhnya, maka kekuatan Pajang benar-benar akan mampu mengacaukan kedudukan Jipang.

Dalam kekalutan perang itu, maka Gandar masih juga teringat akan beban kehadirannya di Pajang. Karena itu; maka setiap kali ia sempat maka iapun ,telah berteriak, “He, anak-anak muda Tanah Pardikan Sembojan. Apakah yang ingin kalian dapatkan dengan mengorbankan jiwa dan raga kalian bagi kepentingan Jipang. Dengar, bahwa saat ini Tanah Perdikan Sembojan sedang membangun diri, sehingga tenaga dan pikiran anak-anak mudanya sangat dibutuhkannya. Sementara itu, kalian berada bersama prajurit-prajurit Jipang dan memerangi Pajang.”

“Tutup mulutmu” teriak Warsi yang menyerangaya seperti amuk badai.

Tetapi Gandar pun telah siap menghadapi kemungkin itu. Ia memang terdiam. Namun dangan demikian maka serangan-serangan Warsi tidak dapat mengenainya. Bahkan ketika Gandar menghentakkan kemampuannya, ia telah mendesak Warsi beberapa langkah surut.

Namun ketika ada kesempatan lagi; maka Gandar itu pun berteriak, “Terserah kepada kalian anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan. Apakah kalian akan bersama kami atau lalian akan tetap berdiri disisi lain sehingga, dengan demikian kalian akan meunusuhi kami”

Sekali lagi Warsi menghentakkan kemampuannya menyerang Gandar. Namun serangan itu pun tidak mampu mendesaknya.

Tetapi teriakan-teriakan Gandar sama sekali tidak nampak mempunyai pengaruh dalam pertempuran itu. Anak-anak muda Tanah Pendikan. Sembojan masih bertempur dengan garangnya. Mereka yang memiliki: ilmu seimbang dengan para prajuri,t, telah .berada di garis pertama. Sementara mereka yang menyusul kemudian, berada di belakang mereka. Namun pada saat-saat yang gawat merekapun ikut pula menentukan. Bahkan ada diantara anak-anak muda Tanah Perdikan itu yang memang sudah dianggap memiliki kemampuan yang tidak ubahnya sebagaimana prajurit yang berpengalaman, sehingga dengan demikian maka mereka pun telah berada diantara prajurit-prajarit Jipang itu sendiri.

———-oOo———-

Bersambung ke Jilid 21.

Naskah diedit dari e-book yang diupload di website Tirai kasih http://kangzusi.com/SH_Mintardja.htm

Terima kasih kepada Nyi DewiKZ

<< kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s