SBB-19

<< kembali | lanjut >>


KI RANGGA termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Segala sesuatunya harus dibicarakan dengan Panglima pasukan Jipang itu di sini. Tetapi Ki Randukeling harus menyadari, bahwa untuk berbicara tentang kemungkinan itu harus ada utusan khusus yang menghadap Kanjeng Adipati Arya Penangsang di Jipang, atau setidak-tidaknya Patih Mantahun yang keduanya berada di tepi Bengawan Sore berhadapan dengan pasukan Pajang yang dipimpin oleh Hadiwijaya dengan para panglimanya yang paling berbahaya. Pemanahan dan Penjawi. Untuk itu diperlukan waktu yang cukup panjang.”

Ki Randukeling mengangguk-angguk. Dengan nada datar ia berkata, “Baiklah. Besok pasukan ini akan dijemput. Sementara itu kita akan dapat berbicara tentang kemungkinan yang lain yang barangkali dapat kita tempuh.”

Ki Rangga mengangguk-angguk. Jawabnya dengan suara datar, “Kita tunggu sampai besok Ki Randukeling.”

Ki Randukeling mengangguk pula sambil menjawab, “Baiklah. Aku pun akan beristirahat.”

Langit memang sudah menjadi merah. Tetapi Ki Randukeling bergeser dan mencoba untuk tidur pula barang sejenak.

Sementara itu, beberapa orang pengawal justru telah terbangun. Mereka telah pergi ke sebuah mata air yang besar yang terdapat ditengah-tengah hutan kecil itu, sehingga airnya yang melimpah telah mengalir menjadi sebuah parit kecil yang berair sangat bening.

Dalam pada itu, Ki Wiradana pun telah menyempatkan diri pula untuk beristirahat. Sementara Warsi berada disamping anaknya yang masih bayi agar anak itu tidak menangis kedinginan. Seorang perempuan yang tidak dapat menentang kemauan Warsi untuk ikut, tertidur pula beralaskan sehelai tikar kecil yang memang dibawa dari Tanah Perdikan Sembojan. Di luar sadarnya, dari kedua matanya yang terpejam telah mengembun air mata, karena perempuan itu telah menangis di dalam mimpinya yang buruk.

Sementara itu, di tepi hutan, beberapa orang pengawal yang bertugas telah mulai terkantuk-kantuk. Ketika langit menjadi semakin terang, beberapa orang pengawal yang lain telah menggantikan mereka di beberapa tempat untuk mengamati padang perdu di luar hutan itu, karena setiap saat sesuatu akan mungkin terjadi. Menurut perhitungan para pemimpin pasukan kecil itu, kedatangan mereka tentu telah tercium oleh petugas sandi di Pajang yang seakan-akan telah menyebarkan telinga dan mata di batang-batang pepohonan dan gerbang-gerbang padukuhan.

Namun pasukan pengawal yang kecil itu telah dapat beristirahat dengan tenang dan tanpa gangguan.

Dalam pada itu, pasukan Pajang memang tidak berusaha untuk mengganggu pasukan Jipang. Kecuali pasukan Pajang belum tahu pasti kekuatan pasukan Jipang itu meskipun mereka yakin bahwa pasukan itu hanya pasukan kecil, namun orang-orang Pajang mempunyai perhitungan tertentu atas pasukan itu.

“Pasukan itu tentu akan bergabung dengan induk pasukan Jipang disisi Timur Pajang,” berkata seorang Senapati Pajang.

“Kenapa kita tidak menghancurkan pasukan itu selagi masih terpisah dan lemah?” berkata Senapati yang lain. “Bukankah dengan demikian pekerjaan kita tidak akan menjadi berat, karena jika pasukan itu telah bergabung dengan induk pasukannya, maka kekuatan mereka pun akan menyatu.”

Senapati yang pertama menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kita masih memperhitungkan siapakah sebenarnya lawan kita. Yang datang itu, menurut keterangan dari penghubung kita di Tanah Perdikan Sembojan, sebagian besar adalah anak-anak muda Sembojan. Hanya beberapa orang pemimpinnya memang dipengaruhi oleh Jipang dan berkiblat pada Jipang. Jika kita menghancurkan pasukan itu, maka anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojanlah yang akan menjadi korban. Bukan orang-orang Jipang.”

“Apakah bedanya?” bertanya Senapati yang lain. “Tanah Perdikan Sembojan telah memilih Jipang sebagai kiblatnya. Bukankah dengan demikian berarti bahwa Tanah Perdikan Sembojan telah menempatkan dirinya sebagai lawan kita? Bahkan dengan kasar Tanah Perdikan Sembojan dapat disebut memberontak.”

“Kau benar adi,” jawab Senapati yang pertama. “Tetapi hal itu bukan dilakukan atas kesadaran seluruh rakyat Tanah Perdikan Sembojan. Jika kita mempelajari apa yang telah terjadi di Tanah Perdikan Sembojan, maka kita menjadi jelas, bahwa kita tidak akan dapat memusuhi rakyat Tanah Perdikan Sembojan. Bahkan kita akan menjadi kasihan terhadap mereka.”

Senapati yang lain itu pun menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnyalah bahwa ia pun telah mendengar serba sedikit tentang susunan pasukan Tanah Perdikan Sembojan yang datang dengan panji-panji kebesaran pasukan Jipang.

Namun baginya, siapapun juga, tetapi jika ia datang atas nama Jipang, maka ia pun harus dihancurkannya pula.

Tetapi segala sesuatunya tergantung atas perintah yang diterimanya menghadapi pasukan lawan yang semakin terdesak itu.

Meskipun demikian Pajang masih tetap memperhitungkan kehadiran pasukan Jipang itu, sehingga Pajang tidak dapat mengirimkan pasukan yang kuat menyusul pasukan yang dipimpin langsung oleh Adipati Pajang untuk menghadapi pasukan Jipang yang dipimpin langsung oleh Adipati Jipang.

Dengan demikian maka pasukan Pajang telah tertahan untuk tidak mengambil langkah-langkah yang keras terhadap pasukan Jipang yang terdiri dari anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan.

Karena itulah maka di hari berikutnya pasukan kecil dari Tanah Perdikan Sembojan itu tidak dapat gangguan sama sekali dari orang-orang Pajang.

Namun satu hal yang dipahami oleh orang-orang Pajang bahwa di antara pasukan kecil itu terdapat sedikitnya dua orang yang berilmu tinggi, sehingga para pemimpin Pajang harus memperhatikannya.

Hari itu dilalui oleh pasukan Tanah Perdikan Sembojan dengan ketegangan yang mencengkam. Para pengamatnya dengan waspada mengamati padang perdu diluar hutan.

Tetapi ternyata mereka tidak pernah melihat sesuatu yang mencurigakan.

Sementara itu, para pengamat dan petugas sandi dari Pajang memperhatikan pasukan itu dari kejauhan. Namun mereka mendapat perintah untuk tidak berbuat sesuatu atas pasukan itu atau memancing keadaan, sehingga timbul kegelisahan yang akan dapat mengubah kedudukan pasukan yang sudah diketahui tempatnya itu.

Ketika kemudian malam turun, maka para petugas sandi pun telah memperketat pengamatan mereka. Bukan saja pada pasukan kecil di hutan itu. Tetapi juga pada pasukan induk dari kekuatan Jipang yang berada di sisi Timur itu.

Dengan cermat mereka memperhatikan, apa yang terjadi dan apa yang telah dilakukan oleh kedua bagian dari pasukan Jipang itu. Kemudian atas hasil pengamatan mereka setelah lewat senja, maka para petugas sandi dari Pajang memperhitungkan, bahwa kedua pasukan itu akan melakukan satu gerakan bersama pada malam itu.

“Apakah mereka akan menyerang?” bertanya salah seorang di antara para petugas sandi.

“Kita siapkan pasukan Pajang untuk menahan mereka jika benar mereka akan menyerang. Tetapi semuanya masih harus diperhitungkan,” jawab yang lain.

Karena itu, maka laporannya telah sampai kepada para pemimpin prajurit Pajang tentang gerakan-gerakan dari kedua pasukan Jipang itu.

Memang ada beberapa dugaan. Di antaranya adalah, bahwa kedua pasukan itu sedang berusaha untuk menemukan jalan agar mereka dapat menggabungkan diri.

“Mereka tidak akan dengan serta merta menyerang dari dua alas yang berbeda. Apalagi nampaknya pasukan yang datang kemudian itu belum mapan,” berkata salah seorang Senapati setelah mengurai semua laporan yang sampai kepadanya dari segala pihak.

Beberapa orang Senapati sependapat. Nampaknya kedua pasukan yang bersiap-siap itu sekadar mencari jalan untuk saling bergabung.

Meskipun demikian, pasukan Pajang tidak ingin mengalami akibat yang buruk dari kelengahannya. Pasukan Jipang itu dapat saja melakukan sesuatu yang tidak terduga atau yang tidak diperhitungkan sebelumnya. Menyerang dengan pasukan yang kurang mampu alas berpijaknya di malam hari.

Karena itu, maka semua kubu pertahanan Pajang pun telah dipersiapkan. Pasukan berkuda yang meskipun tidak begitu besar telah siap menjelajahi daerah perbatasan. Jika benar pasukan Jipang itu menyerang disisi yang mana pun, pasukan Pajang telah siap untuk menghadapinya.

Dengan tegang para petugas sandi mengamati gerak pasukan Jipang. Mereka mengikuti dengan cermat apa yang telah ditugaskan untuk menilai keadaan mengambil kesimpulan bahwa pasukan Jipang itu tidak akan menyerang.

“Seperti yang sudah kita duga sebelumnya,” berkata seorang petugas sandi.

“Pasukan Jipang itu sekadar menjemput kawan-kawannya yang terlalu kecil untuk berjalan sendiri di daerah lawan seperti ini,” sahut yang lain.

“Kita akan melakukan hal yang sama jika kita mengalami keadaan seperti itu,” berkata yang lain lagi.

Namun para petugas sandi itu tidak meninggalkan sasaran pengamatan mereka sehingga pasukan yang bergabung itu kembali ke landasan pertahanan mereka semula.

Seorang petugas sandi menarik nafas dalam-dalam. Dengan tegang ia mengikuti gerak pasukan Jipang itu. Namun demikian ia masih juga sempat bergumam, “Satu gerakan yang manis. Gelar yang dipasang pada saat-saat yang gawat merupakan gelar yang sangat mapan, sehingga seandainya pasukan Pajang menyerang, mereka akan sempat menemukan jalan keluar.”

Kawannya mengangguk-angguk. Katanya, “Sejak semula kita menyadari, bahwa para Senapati Jipang adalah orang-orang yang memiliki kemampuan yang tinggi. Bukankah dalam tata keprajuritan Pajang dan Jipang mempunyai sumber yang sama, sehingga banyak kesamaan di dalam tata gerak kita dengan mereka?”

Petugas yang pertama mengangguk-angguk. Namun ia pun berdesis, “Tetapi ingat, mereka tidak terdiri dari para prajurit Jipang. Tetapi mereka terdiri dari orang-orang Tanah Perdikan Sembojan.”

“Tetapi pelatih-pelatih mereka dan sekarang yang memegang kendali atas mereka adalah orang-orang Jipang,” jawab kawannya.

Petugas sandi yang pertama mengangguk-angguk. Desisnya, “Ya. Yang memegang kendali atas mereka adalah orang-orang Jipang.”

Karena itulah, maka pasukan Pajang kemudian mendapat laporan bahwa meskipun sebagian dari pasukan Jipang itu adalah anak-anak muda dari Tanah Perdikan, namun mereka memiliki kemampuan sebagaimana prajurit Jipang.

“Tetapi bagaimanapun juga kita mendapat perintah untuk memperlakukan mereka tidak sebagaimana kita memperlakukan prajurit Jipang itu sendiri,” berkata salah seorang Senapati.

Tetapi perintah itu memang sangat berat untuk dapat dilakukan dengan seksama. Dalam pertempuran yang sebenarnya, apabila orang-orang Tanah Perdikan Sembojan bergabung dengan para prajurit Jipang, para prajurit Pajang tentu sulit untuk memilih dan memperlakukan mereka dengan cara yang berbeda.

Dalam pada itu, pasukan Tanah Perdikan Sembojan yang dipimpin oleh Ki Wiradana memang telah bergabung dengan pasukan Jipang yang sebagian mereka juga terdiri dari anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan. Kedatangan mereka telah disambut dengan gembira oleh anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan. Pada saat pasukan Jipang itu menjemput mereka, maka anak-anak Sembojan itu tidak sempat menyatakan kegembiraan mereka atas kedatangan kawan-kawan mereka yang menyusul kemudian itu. Baru setelah mereka berada di rumah-rumah yang mereka pergunakan sebagai barak-barak pasukan Jipang disisi Timur Pajang itu, maka mereka dapat menyatakan perasaan mereka. Anak-anak muda yang telah lebih dahulu berada di Pajang itu merasa seolah-olah mereka mendapat kesempatan untuk melihat kampung halamannya di Tanah Perdikan Sembojan.

Namun dalam pada itu, pada kesempatan yang mereka dapatkan kemudian untuk berbicara agak panjang, anak-anak muda yang datang kemudian menjadi berdebar-debar. Kesempatan menempa diri anak-anak muda itu tidak seluas kawan-kawan mereka yang terdahulu. Karena itu ketahanan tubuh mereka agak berbeda.

Namun seorang di antara anak-anak Tanah Perdikan Sembojan yang telah berada lebih dahulu di Pajang itu pun berkata, “Tetapi dengan demikian kita telah mendapatkan satu pengalaman yang dahsyat di dalam hidup kita. Pada satu saat, jika kita mendapat kesempatan kembali ke Tanah Perdikan Sembojan, kita akan membuat Tanah Perdikan Sembojan menjadi satu Tanah Perdikan yag luar biasa kuatnya.”

“Jika kesempatan itu tidak dapat kita dapatkan?” bertanya kawannya.

“Kita gugur dalam perjuangan yang suci untuk menegakkan garis keturunan tahta di Tanah ini,” jawab kawannya.

Bagaimanapun juga, terasa kulit anak muda yang datang kemudian itu meremang. Gambaran-gambaran yang didapatkannya dari kawan-kawannya memang menggetarkan.

Karena itu memang ada beberapa tanggapan atas ceritera tentang pertempuran-pertempuran yang pernah terjadi di Pajang. Ada di antara anak-anak muda itu yang menjadi bangga, bahwa mereka telah mendapat kesempatan untuk melakukan satu kerja dan tugas besar. Tetapi ada di antara mereka yang menjadi berdebar-debar karena kerja yang terbentang dihadapan mereka benar-benar kerja yang harus dilakukan dengan mempertaruhkan nyawa. Sementara itu mereka tidak tahu dan tidak yakin, apakah yang disebut perjuangan itu benar-benar mempunyai nilai seperti yang dikatakan.

“Siapakah yang sebenarnya berhak atas tahta Demak?” bertanya beberapa orang di antara mereka. Tetapi tidak seorang pun yang dapat menjawab dengan mantap. Kecuali jika mereka bertanya kepada para prajurit Jipang.

Sementara itu, Ki Randukeling dan Ki Rangga Gupita tengah berbicara dengan para pemimpin pasukan Jipang. Ki Randukeling berusaha untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi Tanah Perdikan lebih dahulu dengan dukungan prajurit Jipang yang ada di Pajang.

“Kami berkeberatan Ki Randukeling,” jawab Panglima prajurit Jipang, “Kami mendapat tugas disini. Kami memerlukan bantuan segala pihak untuk tugas ini. Bukan sebaliknya, meskipun kami berjanji bahwa jika tugas kami disini sudah selesai, kami akan pergi ke Tanah Perdikan Sembojan, mengantar kembali anak-anak muda yang telah dengan gagah berani membantu kami dalam perjuangan ini. Merekalah yang tentu akan dapat menyelesaikan persoalan Tanah Perdikan mereka tanpa campur tangan orang lain. Tetapi jika keadaan memaksa maka kami pun tidak akan segan-segan turun tangan. Aku yakin, bahwa tugas itu akan selesai dalam satu hari.”

“Benar Ki Sanak,” jawab Ki Randukeling. “Jika dikerjakan maka kerja itu akan selesai dalam satu hari. Tetapi untuk sampai ke hari yang satu itu, kita harus menunggu berapa bulan atau barangkali lebih lama lagi.”

“Aku tidak dapat melanggar tugas dan wewenang yang diberikan kepadaku oleh Ki Patih Mantahun,” jawab Panglima itu. “Karena itu, jika memang keadaan memaksa, maka aku akan mengirimkan utusan untuk berbicara dengan Patih Mantahun tentang permintaan Ki Randukeling.”

Ki Randukeling termangu-mangu. Namun ia dapat membayangkan, bahwa berhubungan dengan pemimpin Kadipaten Jipang memerlukan waktu yang lama. Namun demikian Ki Randukeling tidak dapat memaksakan kehendaknya.

Sementara itu Ki Wiradana yang mendengarkan pembicaraan itu mencoba untuk menyambung, “Terima kasih atas segala kesediaan Ki Sanak. Sebagai pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan, maka aku sangat mengharapkan bantuan itu, sebagaimana kami telah membantu pasukan Jipang disini. Namun apabila mungkin, kami memang mengharapkan segala sesuatunya terjadi lebih cepat, seperti yang diminta oleh Ki Randukeling.”

Tetapi Ki Wiradana itu terdiam ketika Warsi menggamitnya dengan kasar meskipun tersembunyi. Namun Ki Wiradana segera menyadari bahwa Warsi tidak sependapat dengan kata-katanya itu.

Tetapi Panglima itu menjawab, “Aku mengerti. Tetapi aku pun minta kalian mengerti batas-batas tugasku dan persoalan yang besar yang sedang dihadapi oleh Jipang. Sudah tentu aku tidak dapat melupakan bantuan yang besar dari Tanah Perdikan. Bahkan Jipang pun akan segera mendengar apa yang telah kalian lakukan disini.”

Ki Wiradana hanya menarik nafas saja, sementara Warsilah yang menjawab. “Kami serahkan segala kebijaksanaan kepada Ki Sanak. Kami memang sudah bertekad untuk membantu sebagaimana kami katakan kepada Ki Rangga. Karena itu, maka seharusnya kami justru tidak membuat pasukan Jipang disini dibebani dengan persoalan-persoalan yang terjadi di Tanah Perdikan Sembojan.”

Panglima pasukan Jipang itu tersenyum. Katanya, “Terima kasih. Jipang akan memberikan imbalan sesuai bahkan melampaui apa yang telah diberikan oleh Tanah Perdikan Sembojan. Jika Pajang telah hancur, dan kekuasaan berada di tangan Jipang, maka Jipang akan menata kembali pemerintahan yang tersebar dari ujung Demak sampai ke ujung lainnya. Dari ujung Barat sampai ke ujung Timur, dari pesisir Utara sampai ke pesisir Selatan.”

Yang mendengarkan mengangguk-angguk. Ki Rangga Gupita yang tersenyum berkata, “Masa depan itulah yang mendorong Tanah Perdikan Sembojan bersedia melakukan apa saja. Aku tahu pasti, bahwa Tanah Perdikan Sembojan merupakan bagian kekuatan Jipang disisi Selatan, yang dalam masa yang mendatang akan dapat dipergunakan sebagai landasan kekuatan Jipang di lingkungan ini.”

Ki Randukeling menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat Panglima pasukan Jipang dan Warsi tersenyum. Namun wajah Wiradanalah yang menjadi buram.

Tetapi Ki Randukeling tidak mengatakan sesuatu.

Dengan demikian, maka ada dua hal yang akan dilakukan oleh Panglima pasukan Jipang. Tetap membayangi pasukan Pajang di perbatasan dengan kekuatan yang sudah bertambah betapapun kecilnya, serta mengirimkan utusan kepada Ki Patih Mantahun untuk mohon pertimbangan, apakah tugasnya di Pajang dapat ditinggalkan barang sepekan untuk menyelesaikan persoalan Tanah Perdikan Sembojan.

Namun ketika pertemuan itu kemudian diakhiri, maka Warsi telah berkata kepada kakeknya, “Kakek terlalu tergesa-gesa. Kenapa kita harus mempersoalkan Tanah Perdikan itu? Seandainya kita dapat merebutnya kembali, apakah kita akan dapat mempertahankannya jika anak-anak kita harus kembali ke Pajang untuk berjuang bersama-sama pasukan Jipang disini?”

Ki Randukeling menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Biarlah kita menunggu utusan yang pergi ke Jipang. Mungkin para pemimpin Jipang dapat memberikan petunjuk yang justru kita anggap lebih baik dari pendapat kita disini. Namun bagiku kedudukan para prajurit Jipang dan anak-anak dari Tanah Perdikan disini tanpa alas. Jika perjuangan ini berlangsung lama, maka dari mana anak-anak mendapat dukungan bagi makan mereka dan sumber kebutuhan-kebutuhan yang lain. Kita tidak akan dapat menggantungkannya dari Jipang yang jauh, karena mungkin di antara Jipang dan Pajang ini pasukan Pajang akan sempat memotong segala hubungan antara pasukan Jipang yang berada disini dan di Kadipaten atau di pesangrahan sebelah Bengawan Sore. Kita juga tidak dapat menggantungkan kemungkinan untuk memeras rakyat Pajang sendiri agar selalu memberikan berasnya kepada kita. Padahal kebutuhan beras itu semakin lama menjadi semakin banyak. Bahkan mungkin juga kebutuhan-kebutuhan yang lain. Kita memerlukan lauk pauk dan kebutuhan-kebutuhan lain yang sulit dihindari.”

Warsi termangu-mangu sejenak. Ia dapat mengerti keterangan kakeknya. Namun ia tidak begitu tertarik untuk melakukan sebagaimana dikatakan oleh kakeknya untuk membentuk landasan perjuangan di Tanah Perdikan Sembojan.

“Perang ini tidak akan terlalu lama,” berkata Warsi di dalam hatinya. “Menurut pendengaranku dari Ki Rangga Gupita, berdasarkan perhitungan yang sungguh-sungguh, maka pasukan Jipang di tepi Bengawan Sore akan dengan cepat menghancurkan pasukan Pajang, asal Pajang tidak sempat mengirimkan bantuan kepada pasukan Pajang yang berhadapan dengan pasukan Jipang itu.”

Dengan demikian maka untuk sementara pasukan Jipang di Pajang sebelah Timur tidak mengubah kebijaksanaan mereka untuk tetap membayangi Pajang agar Pajang tidak melepaskan pasukan untuk membantu pasukannya yang dipimpin langsung oleh Adipati Pajang.

Namun dalam pada itu, pertentangan antara Jipang dan Pajang itu telah berkembang semakin jauh. Usaha beberapa pihak untuk menyelesaikan persoalan Jipang dan Pajang itu dengan damai, tidak dapat tanggapan yang baik dari kedua belah pihak yang sudah terlanjur dibakar oleh permusuhan.

Ketika seseorang yang mempunyai pengaruh yang besar atas kedua Adipati itu berusaha untuk mencari penyelesaian dengan mempertemukan kedua Adipati itu langsung, justru hampir saja menimbulkan perang tanding.

Betapapun segannya, kedua orang Adipati itu memenuhi permintaan orang yang mereka hormati itu untuk datang. Namun ketika keduanya benar-benar telah duduk berhadapan, selagi orang yang berusaha untuk mempertemukan mereka belum hadir, telah terjadi sesuatu yang sangat menegangkan.

Sebenarnya orang yang memiliki pengaruh yang besar itu ingin melihat kedua orang Adipati yang memiliki banyak kelebihan dari orang kebanyakan itu mampu menemukan satu pemecahan yang lebih baik dari perang. Namun yang terjadi bukanlah yang dikehendaki. Ketika kedua orang yang bermusuhan itu hadir, mereka telah dibekali dengan sikap curiga dan bahkan kebencian.

Arya Penangsang yang duduk berhadapan dengan Adipati Pajang itu tiba-tiba justru tertarik kepada keris Adipati Hadiwijaya. Dalam ruang yang hening tegang itu, tiba-tiba saja Arya Penangsang bertanya kepada Adipati Hadiwijaya,” Adimas, nampaknya keris adimas itu memancarkan cahaya tuah yang luar biasa besarnya. Apakah adimas memiliki keris yang baru?”

“Bukan kakangmas,” jawab Hadiwijaya,” Ini adalah kerisku yang dahulu.”

“Sambil menunggu, apakah aku diperkenankan meminjam keris adimas. Aku tertarik sekali karena nampaknya aku belum pernah melihat keris adimas yang satu ini.”

Adipati Hadiwijaya menjadi ragu-ragu. Dipandanginya wajah Arya Penangsang. Namun yang dilihatnya adalah senyum dibibirnya yang hampir tertutup oleh kumisnya yang tebal.

“Apakah aku terlalu berprasangka,” bertanya Adipati Hadiwijaya di dalam hatinya. “Mungkin kakangmas Arya Penangsang benar-benar sekadar ingin mengisi kekakuan suasana yang menegangkan ini. Tetapi satu-satunya cara adalah demikian.”

Karena itu, maka akhirnya Adipati Hadiwijaya itu telah menjawab, “Keris ini bukan keris yang baik kakangmas. Jika sekilas keris ini nampak lebih baik dari yang lain, itu hanya ujud luarnya saja.

“Ah,” desis Arya Penangsang. “Jangan merendahkan diri begitu. Aku tahu bahwa adimas memiliki ketajaman penglihatan atas jenis-jenis pusaka dan benda-benda bertuah. Karena itu, biarlah aku melihat keris itu barang sebentar.”

Adipati Hadiwijaya masih ragu-ragu. Ia melihat Arya Penangsang itu juga membawa keris sendiri. Jika ia bermaksud buruk, maka ia tidak perlu meminjam kerisnya yang belum tentu memiliki daya kekuatan sebagaimana keris Arya Penangsang yang terkenal itu. Adipati Hadiwijaya mengenali keris Arya Penangsang itu sejak lama. Keris yang diberi nama Kiai Setan Kober itu merupakan keris yang sulit dicari duanya diseluruh Demak.

Karena itu, akhirnya Adipati Pajang itu pun menarik nafas dalam-dalam. Katanya di dalam hatinya, “Aku terlalu berprasangka.”

Dengan demikian, maka Hadiwijaya itu pun menjawab, “Baiklah kakangmas. Tetapi kakangmas jangan mentertawakan keris itu. Keris yang barangkali tidak berarti dibandingkan dengan Kiai Setan Kober yang kakangmas bawa itu.”

Adipati Jipang itu tersenyum. Namun keningnya berkerut ketika ia melihat Adipati Hadiwijaya itu benar-benar menarik kerisnya yang diselipkannya di punggungnya.

Dengan gerak naluriah Adipati jipang itu justru bangkit berdiri dan bergeser surut.

Adipati Hadiwijaya tertegun sejenak. Namun kemudian katanya, “Nah, bukankah keris ini tidak berarti apa-apa bagi kakangmas.”

Arya Penangsang memandangi keris itu sejenak. Namun kemudian ia pun bergeser pula untuk menerima keris itu, meskipun ia tetap berhati-hati.

Sejenak Adipati Jipang itu mengamati keris Adipati Hadiwijaya yang berada ditangannya. Namun tiba-tiba wajah Arya Penangsang itu berubah. Senyumnya tiba-tiba saja telah lenyap dari bibirnya. Pandangan matanya pun telah berubah pula seakan-akan memancarkan api kemarahan yang sudah lama tertahan di dadanya. Dengan nada berat Arya Penangsang itu berkata, “Keris seorang Adipati tentu keris yang bertuah. Karena itu, aku ingin mencoba, apakah benar dengan keris ini aku akan dapat mengakhiri pertentangan antara Pajang dan Jipang. Bukan dengan satu tusukan di dada menembus jantung, tetapi dengan goresan kecil di lengan atau bahkan di ujung jari. Keris seorang Adipati akan mampu membunuh seseorang yang betapapun saktinya hanya dengan goresan kecil yang tidak lebih dari sentuhan ujung duri.”

Wajah Adipati Hadiwijaya menegang. Ternyata bahwa kecurigaannya bukannya berlebihan. Bukan sekadar prasangka atau bahkan mimpi buruk.

Apalagi ketika tiba-tiba saja Adipati Jipang itu telah bersikap.

“Apa artinya kakangmas?” bertanya Adipati Hadiwijaya.

“Kita adalah laki-laki,” jawab Arya Penangsang. “Selama ini kita telah mengorbankan berpuluh bahkan beratus orang yang tidak berkepentingan langsung dengan persoalan kita. Karena itu, marilah persoalan kita ini kita selesaikan sendiri. Kita selamatkan para prajurit bahkan orang-orang yang tidak bersenjata di padukuhan-padukuhan.”

Wajah Adipati Hadiwijaya menjadi tegang. Namun sebagai seorang Adipati maka Hadiwijaya tidak akan ingkar. Ketika pada mulanya ia mencoba untuk berlaku sebaik-baiknya dihadapan orang yang sama-sama mereka hormati, maka sikap Arya Penangsang itu benar-benar telah menggelapkan hatinya dan hilanglah segala macam unggah-ungguh yang harus dilakukannya.

Karena itu, maka Adipati Pajang itu pun mundur selangkah. Ia pun tiba-tiba telah menyingkapkan bajunya yang panjang. Dengan suara bergetar ia berkata, “Inilah pusakaku yang sebenarnya kakangmas. Kakangmas tentu mengenal Kiai Crubuk. Meskipun ujudnya sangat sederhana, namun aku yakin bahwa pusakaku ini akan dapat menyelesaikan persoalan.”

“Bagus,” geram Arya Penangsang. “Ternyata kau jantan juga adimas.”

Adipati Pajang pun telah bersiap sepenuhnya menghadapi segala kemungkinan. Sementara itu Arya Penangsang menjadi ragu-ragu, justru karena Adipati Pajang telah menggenggam pusakanya yang memang sudah dikenalnya lebih dahulu dari Crubuk.

Meskipun demikian Adipati Jipang itu ingin mencobanya, jika keris yang dipinjamnya dari Adipati Pajang itu tidak dapat membunuh pemiliknya sendiri, maka ia masih membawa kerisnya yang disegani oleh setiap orang diseluruh Demak, Kiai Setan Kober.

Namun dalam pada itu, pada saat-saat gejolak perasaan kedua Adipati itu memuncak, orang yang sama-sama mereka hormati itu telah memasuki ruangan. Betapa terkejutnya orang itu. Namun kedua Adipati itu pun ternyata telah mengurungkan niatnya untuk berperang tanding.

“Inikah yang akan terjadi?” bertanya orang yang telah memanggil keduanya.

Kedua Adipati itu tertegun. Mereka mulai menyadari betapa dorongan perasaan mereka tidak terkendali, justru pada saat-saat seorang yang berpengaruh atas mereka keduanya berusaha ingin mendapatkan penyelesaian yang lebih baik dari perang.

Tetapi dengan demikian maka pembicaraan tidak akan dapat berlangsung dengan baik, sehingga orang yang berpengaruh atas keduanya itu berkata, “Aku sangat kecewa atas peristiwa ini. Ternyata Kanjeng Adipati berdua adalah anak-anak ingusan yang belum dewasa menanggapi persoalan yang ingin aku ketengahkan. Karena itu, biarlah aku menunda pertemuan ini sampai saat-saat yang akan aku usulkan kemudian.”

Kedua Adipati itu dipersilakan kembali ke pesanggrahan masing-masing. Namun dengan pesan, “Aku mohon Kanjeng Adipati berdua menetapi kedudukan kalian sebagai kesatria. Silakan kembali ke pesanggrahan masing-masing. Kalian tidak akan berlaku seperti dua orang gembala yang berkelahi di padang karena berebut sebutir telur burung puyuh.”

Kedua Adipati itu pun kemudian mohon diri setelah keduanya memohon maaf atas tingkah laku mereka, serta Adipati Jipang mengembalikan keris Adipati Pajang yang dipinjamnya, dan yang hampir saja dipergunakan untuk mengakhiri hidup pemiliknya. Namun ternyata bahwa Adipati Pajang pun telah siap menghadapi segala kemungkinan.

Di luar, kedua kelompok pengawal masing-masing menunggu dengan tegang. Sebenarnyalah mereka masing-masing telah bersiap sepenuhnya menghadapi segala kemungkinan. Bagaimanapun juga mereka tidak dapat lepas dari perasaan saling mencurigai.

Namun kemudian kedua Adipati yang mereka sertai itu telah keluar bersama-sama diiringi orang yang telah mengundang mereka untuk satu pembicaraan yang seharusnya dapat mengurangi ketegangan, namun yang hasilnya justru sebaliknya.

Tetapi diperjalanan kembali ke pesanggrahan masing-masing tidak terjadi sesuatu yang tidak diharapkan. Keduanya telah menempuh jalan yang berbeda.

Namun bagaimana pun juga, peristiwa itu telah membuat keduanya menjadi saling membenci dan mendendam. Kedua Adipati yang masih mempunyai saluran kekeluargaan itu benar-benar telah dibakar oleh permusuhan yang sulit untuk dapat bertaut kembali.

Sementera itu, perang masih berlangsung terus meskipun tidak merupakan perang gelar yang menentukan. Tetapi dibeberapa tempat, pasukan-pasukan yang berkelompok dari kedua belah pihak, kadang-kadang telah berbenturan dan korban pun berjatuhan.

Di Pajang pasukan Jipang yang merasa tidak mampu memecahkan kekuatan Pajang memang tidak berusaha untuk memasang gelar. Tetapi pasukan Jipang itu selalu saja mengganggu agar Pajang tidak sempat mengirimkan pasukan untuk memperkuat kedudukan pasukannya yang berada di bawah pimpinan langsung Adipati Pajang di tepi Bengawan Sore.

Dengan demikian, maka usaha Ki Randukeling untuk memperkuat kedudukan landasan di Tanah Perdikan Sembojan pun menjadi semakin sulit. Namun Ki Randukeling kemudian dapat mengerti, meskipun ia telah berpendirian bahwa cara itulah yang lebih baik. Dalam pertempuran yang lama dukungan makanan dan perlengkapan itu sangat dipentingkan.

Namun sementara itu, para Senapati di Pajang pun selalu mengganggu kedudukan pasukan Jipang di Pajang. Apalagi pasukan Jipang disisi Timur. Senapati itu masih saja selalu melakukan hubungan dengan para pemimpin di Tanah Perdikan Sembojan.

“Sembojan sedang berusaha membenahi diri dengan tenaga yang sangat terbatas,” pesan Iswari kepada para Senapati di Pajang, “Karena itu, mohon dijaga agar pasukan Jipang tetap berada dalam pengamatan Pajang.”

Para Senapati di Pajang pun telah berusaha memenuhi pesan itu. Mereka pun berkepentingan agar Sembojan tidak menjadi landasan kekuatan pasukan Jipang di daerah Pajang itu. Karena itulah maka Pajang selalu berusaha mengganggu pasukan Jipang. Dengan demikian, maka pasukan Jipang itu tidak akan pernah sempat berbuat lain dari mempertahankan dirinya.

Dalam setiap pembicaraan, maka Panglima pasukan Jipang disisi Timur itu selalu mengatakan, bahwa kekuatan Jipang itu tidak akan dapat dikurangi. Mereka pun tidak akan dapat meninggalkan kedudukan mereka, agar jika terjadi sesuatu perubahan keseimbangan pasukan Pajang dan Jipang pada kekuatan induk mereka, pasukan itu tidak dibebani tanggung jawab.

Di Tanah Perdikan Sembojan, Iswari telah bekerja keras dibantu oleh para Bekel dan bebahu Tanah Perdikan yang sebelumnya seakan-akan telah kehilangan kedudukannya.

Tetapi Sembojan telah menjadi sebuah Tanah Perdikan yang lemah. Sebagian besar anak-anak mudanya telah berada di Pajang bersama pasukan Jipang. Sementara itu, yang masih tinggal di Sembojan harus bekerja keras melakukan tugas-tugas yang seharusnya dilakukan oleh tenaga yang jauh lebih banyak.

Namun demikian tidak ada kesempatan untuk mengeluh bagi para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan yang menggeser kedudukan Ki Wiradana itu. Yang terbentang dihadapan mereka adalah tugas dan tanggung jawab yang sangat berat.

Meskipun demikian, betapapun berat tugas yang harus mereka lakukan, namun orang-orang Sembojan merasa sempat menarik nafas dalam-dalam. Selama ini nafas mereka merasa sesak dikejar-kejar oleh seribu macam kewajiban tanpa mengerti hak mereka yang sebenarnya.

Yang kemudian tampil dalam tugas-tugas yang biasanya dilakukan oleh anak-anak muda, adalah semua orang laki-laki yang sudah dewasa sampai batas mereka yang masih mempunyai kekuatan yang cukup untuk bekerja. Sementara itu para remaja telah mendapat tugas mereka masing-masing. Bahkan anak-anak pun telah melakukan apa yang paling sesuai bagi mereka. Sedangkan perempuan-perempuan Tanah Perdikan pun tidak mau tinggal diam. Meskipun tenaga mereka tidak sekuat tenaga laki-laki, namun dengan kemauan yang keras, maka mereka pun dapat menghasilkan kerja yang besar bagi padukuhan mereka masing-masing.

Di samping kerja keras untuk memperbaiki kesejahteraan dan tata kehidupan, maka Tanah Perdikan Sembojan pun mencoba untuk menyusun kekuatan yang tersisa. Seperti dalam kerja, maka laki-laki yang masih mampu mengangkat senjata telah menyatakan dirinya untuk ikut menjadi pengawal Tanah Perdiakan Semboyan. Bahkan mereka yang sebelumnya menangisi anak mereka yang berangkat ke Pajang, telah datang ke­pada Ki Bekel untuk menyatakan kesediaan mereka pula.

”Tidak, semua orang harus jadi pengawal” jawab Ki Bekel, “banyak lapangan kerja yang dapat kau masuki.”­

”Aku akan menunjukkan kepada anakku kelak jika ia masih dilindungi Tuhan dan sempat kembali, bahwa aku, ayah­nya telah berusaha menebus langkah-langkahnya yang sesat”  jawab orang itu.

Tetapi Ki Bekel menjawab, “Anakmu tidak bersalah mutlak. Ia telah terbawa oleh arus yang tidak dapat dilawannya. Bagaimana sikapmu jika anakmu itu kembali dalam barisan yang justru menyerang Tanah ini?”

“Aku akan berusaha bertemu di medan. Aku akan memberikan kesadaran kepadanya. Atau aku berikan dadaku jika itu memberikan kepuasan kepadanya, sebagaimana ia akan puas melihat Tanah Perdikan ini menjadi karang abang” jawab orang itu.

Namun, langkah Iswari tidak terbatas pada Tanah Perdikannya saja. Ia menghubungi beberapa Kademangan di sekitar Tanah. Perdikannya atas narna anak laki-lakinya yang akan mewarisi kedudukan kakeknya karena ayahnya berhalangan.

Beberapa hal telah dibicarakan. Bahkan Iswari berhasil meyakinkan mereka untuk bekerja bersama menghadapi ke­mungkinan yang sangat buruk apabila Ki Wiradana, serta orang-orang yang berada di sekelilingnya kembali untuk me­nguasai Tanah Perdikan Semboyan dengan bantuan dari manapun juga.

“Jika mereka tidak berhasil memasuki Tanah Perdikan ini, maka mereka akan mempergunakan Kademangan-kadema­ngan di sekitar Tanah Perdikan ini sebagai landasan” berkata lswairi, “karena itu maka setiap Kademangan pun harus menyusun kekuatan yang dapat dikerahkan untuk mengatasinya. Sudah tentu, kita harus bekerja sama.”­

Para Demang itu pun menyadari. Sementara rnereka, telah mendengar dan mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi di Tanah Perdilkan Sembojan pada masa pemerintaban Ki Wiradana. Meskipun Ki Wiradana dan orang-orang yang mem­pengaruhinya belum lama meninggalkan Tanah Perdikan untuk pergi ke Pajang, namun perubahan-perubahan pun telah mulai nampak.

”Ada beberapa orang yang akan dapat membantu anak-anak muda di Kademangan-kademangan di sekitar Tanah Per­dikan untuk berlatih menguasai beberapa jenis sennjata. Meskipun waktunya tarlalu, pendek, namun itu lebih baik daripada tidak sama sekali.” berkata Iswari.

Temyata pendekatan yang dilakukan Iswari itu mendapat sambutan yang sangat baik, Di Kademangan-kademangan itu pun, telah ditingkatkan kegiatan anak-anak muda untuk me­ngadakan latihan-latihan menggunakan senjata. Dalam waktu yang sangat pendek, mereka diusahakan untuk dapat menge­nali oleh kanuragan.

Dengan demikiaan maka kesibukan pun telah berkembang. Tidak saja di Tanah Perdikan Sembojan, tetapi juga di Kademangan-kademangan di sekitarnya. Keputusan Ki Wiradana untuk berpihak kepada Jipang telah menjadi salah satu sebab, mangapa Kademangan-kademangan itu menjadi semakin dekat dengan Iswari.

Memang ada kecemasan pada Kademangan-kademangan itu bahwa Ki Wiradana serta orang-orang Jipang yang men­dukungnya akan mendendam dan berbuat sewenang-wenang apabila mereka sempat kembali dan merebut kedudukan me­reka. Namun mereka pun berpengharapan bahwa Jipang tidak akan dapat menang atas Pajang, sehingga prajurit-prajurit Jipang tidak akan berani berbuat sekehendak hati rnereka sendiri karena Pajang akan dapat mengambil tindakan yang keras terhadap mereka.

Karena itulah, maka langkah anak-anak muda di sekitar Tanah Perdikan Sembojan itu pun telah berderap pula dengan irama yang mantap, sebagaimana dilakukan oleh anak-anak Tanah Perdikan Sembojan sendiri.

Sernentara itu, pertentangan antara Jipang dan Pajang tidak juga mereda. Suasana justru menjadi semakin panas, meskipun kedua belah pihak yang berada di pasanggrahan sebe­rang-menyeberang Bengawan Sore masih belum mengambil langkah-langkkah.

Tetapi, di beberapa daerah benturan-benturan kekuatan justru semakin banyak terjadi.

Adipati Jipang yang tidak telaten menunggu saat yang di­anggap paling baik, berusaha untuk memecahkan kebekuan yang mencengkam kedua kekuatan induk Pajang dan Jipang yang sudah berhadapan. Pertempuran-pertempuran yang tersebar di beberapa daerah tidak akan dapat memecahkan persoalan dan menyelesaikan perselisihan itu. Di satu medan, pasukan Pajang berhasil mendesak pasukan Jipang. Tetapi di ­medan yang lain terjadi sebaliknya. Namun di sekitar Kota Pajang, pasukan Pajang masih tetap menguasai keadaan sepenuhnya.

Tetapi, setiap kali Arya Penangsang ingin menyerang pesanggrahan Adipati Hadiwijaya di Pajang, Patih Mantahun se­lalu berusaha menghalanginya.

“Kenapa kau tiba-tiba telah berubah menjadi pengecut Mantahun,?” berkatanya Arya Penangsang.

“Ampun Kangjeng Adipati,” jawab Mantahun, “su­dah berkali-kali hamba katakan, bahwa dalam keadaan seperti sekarang ini, pasukan Kangjeng Adipati jangan manyeberangi Bengawan Sore.”­

“Omong kosong” bentak Arya Pemangsang, “kau kira Bengawan Sore itu mampu menghisap kemampuan Arya Penangsang? Ilmuku yang aku sadap dari beberapa orang guru dan aku dapatkan dengan laku yang berat, tidak akan susut seujung duri pun jika aku menyeberang Bengawan Sore. Aku dengan ilmuku, akan sanggup mengakhiri hidup Adipati Pajang yang tamak dan sombong itu.”

“Hamba percaya Kangjeng Adipati” jawab Mantaun, “Kangjeng Adipati memang memiliki ilmu yang tiada tara­nya. Tetapi sekali lagi hamba mohon, jangan menyeberang Bengawan Sore. Bukan karena kemampuan dan ilmu Kangjeng Adipati akan susut. Tetapi keadaan pasukan Jipang pada saat-saat menyeberangi Bengawan yang luas itu sangat lemah. Pasukan Jipang harus mengatasi arus Bengawan Sore yang meskipun tidak terlalu deras, tetapi agak dalam dan panjang. Pada saat yang demikian pasukan Pajang yang berada di sebe­rang akan dapat memanfaatkan keadaan itu untuk menguramgi jumlah pasukan Jipang sebanyak-banyaknya”

“Tetapi jika, aku sampai naik ke darat, maka aku akan memusnahkan pasukan Pajang itu” jawab Arya Penangsang.“ ”sementara itu aku yakin tidak ada pusaka orang , Pajang yang mampu melukaii kulitku. Mungkin ada juga ada yang dapat tergores di kulitku itu, tetapi tidak akan ada yang mampu membunuhku, karena kematianku justru terletak di tajamnya pusakaku sendiri, Setan Kober.”

“O, ampun Kangjeng” potong, Ki Patih Mantahun, ”­jangan Kangjeug menyebut lagi tentang rahasia yang terbesar dari batas hidup Kangjeng Adipati sendiri itu.”­

“Aku hanya mengatakannya di hadapanmu, karena aku tahu kesetiaanmu kepadaku” jawab Arya Penangsang.

“Hamba mengerti Kangjeng. Dan hambapun pernah mendengar Kangjeng menyebutnya. Dalam keadaan seperti sekarang ini, mungkin ada telinga dan mata di celah-celah dinding ruang atau di serambi dan di lingkungan.”

”Aku tidak peduli. Keris itu tidak pernah terpisah daripadaku” jawab Arya Penangsang.

Ki Patih Mantahun menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Sudahlah Kangjeng. Tetapi sekali lagi hamba mohon pasukan Jipang jangan menyeberangi Bengawan Sore.”

“Jadi apa artinya kita berada disini? Jika pasukan Pajang tidak juga menyeberangi Bengawan itu, apakah kita akan berada disini sampai tua?” bertanya Arya Penangsang.

“Hamba memang sudah tua Kanjeng,” jawab Patih Mantahun. “Tetapi kita harus sedikit tenang menghadapi Adipati Pajang yang mempunyai perhitungan yang cermat. Kedua panglimanya yang memiliki perhitungan yang tajam itu, menjadikan pasukan Pajang memiliki landasan yang kuat diseberang sebagaimana pasukan kita disini. Pemanahan dan Penjawi adalah dua orang Panglima yang jarang ada bandingnya. Karena itu, maka aku mohon sekali lagi Kanjeng Adipati memperhitungkan setiap langkah yang akan diambil.”

“Aku tidak sabar,” jawab Adipati Jipang.

“Kelemahan itulah yang akan dipergunakan oleh orang-orang Pajang untuk menjebak Kanjeng Adipati. Karena itu, Kanjeng Adipati harus menyadarinya. Mungkin pada suatu saat kita akan mempergunakan cara yang dapat mengejutkan orang-orang Pajang,” berkata Patih Mantahun.

“Bagaimana jika kita mengambil jalan melingkar. Kita akan menyeberangi Bengawan ini tetapi tidak dihadapan pasukan Pajang. Kita menempuh perjalanan menyusuri Bengawan ini beberapa ratus tonggak, kemudian kita menyeberang. Baru setelah kita berada di seberang kita menyerang kedudukan Adipati Pajang dari lambung,” berkata Arya Penangsang.

“Mungkin cara itu dapat ditempuh. Tetapi sudah tentu dengan perhitungan yang teliti, karena pengamat dari Pajang yang melihat perjalanan pasukan ini, akan memberikan isyarat, sehingga pasukan Pajang pun akan mengikuti perjalanan pasukan kita menelusuri sungai,” jawab Mantahun.

“Kita memang sudah pikun,” geram Arya Penangsang. “Jika demikian, kita pindahkan saja pusat pemerintahan Demak disini. Kita memerintah Demak dari tempat ini sambil menunggui Hadiwijaya yang terkantuk-kantuk di pesanggrahannya.”

Ki Patih Mantahun menarik nafas dalam-dalam. Ia mengenal sifat dan watak Arya Penangsang seperti mengenal sifat dan wataknya sendiri. Hatinya yang mudah terbakar dan darahnya yang cepat mendidih kadang-kadang merugikan kedudukannya. Apalagi jika mereka sudah berada di medan perang.

Karena itu, maka menunda keinginan Arya Penangsang untuk segera selesai dengan persoalannya, kalah atau menang, maka Patih Mantahun itu pun berkata, “Kanjeng, sebenarnya ada jalan lain yang dapat ditempuh.”

“Jalan apa? Menyerah?” geram Adipati Jipang.

“Tentu saja tidak,” jawab Patih Mantahun. “Untuk mengurangi korban dari antara mereka yang tidak bersalah dan tidak tahu-menahu persoalannya, maka sebenarnya ada jalan lain yang dapat Kanjeng lakukan?”

“Bagus,” sahut Adipati Jipang. “Aku memang sudah berpikir untuk menantang Adipati Pajang itu berperang tanding. Jika kau sependapat, maka aku akan menantangnya. Di darat atau ditengah Bengawan Sore. Dihadapan saksi-saksi dari orang-orang yang berpengaruh di Demak serta para Panglima dari kedua belah pihak. Siapa yang tinggal hidup, ialah yang berhak menjadi Sultan Demak menggantikan paman Trenggana.”

“O, bukan itu yang hamba maksud,” Patih Mantahun telah memotong dengan serta merta.

Arya Penangsang mengerutkan keningnya. Dengan nada tinggi ia bertanya, “Jika bukan cara itu, lalu cara yang mana?”

“Ampun Kanjeng Adipati,” jawab Patih Mantahun. “Hamba justru ingin mengusulkan satu cara yang lain.”

“Cara apa?” bertanya Adipati Jipang tidak sabar.

“Satu cara yang dapat kita lakukan untuk mencapai maksud kita tanpa banyak korban dikedua belah pihak. Bagaimana pertimbangan Kanjeng Adipati jika kita memerintahkan beberapa orang yang kita anggap memiliki kelebihan untuk berusaha memasuki pesanggrahan Adipati Pajang?” bertanya Ki Patih Mantahun.

“Untuk apa?” bertanya Arya Penangsang pula.

“Membunuh Adipati Pajang. Jika Adipati Pajang terbunuh, maka perang untuk seterusnya akan berhenti. Di Pajang tidak akan ada orang yang dapat menggantikan kedudukannya dan berani melawan Kanjeng Adipati,” jawab Patih Mantahun.

“Gila,” geram Arya Penangsang. “Kau ajari aku berlaku licik he? Kau ajari aku bertindak sebagai seorang pencuri yang licik dan pengecut. Tidak akan menantangnya berperang tanding.”

“Jangan Kanjeng,” sahut Patih Mantahun. “Cobalah Kanjeng dengar. Bukankah ayahanda Arya Penangsang juga dibunuh dengan cara yang licik? Dan bukankah kita juga pernah menempuh cara yang sama untuk membunuh Kanjeng Sunan Prawata dan Adipati Kalinyamat?”

Wajah Arya Penangsang menegang. Namun kemudian ia menggeram, “Jika kita membunuh dengan cara yang sama itu bukannya karena aku takut berhadapan dengan mereka dalam perang tanding. Tetapi bagiku mereka tidak mempunyai bobot yang pantas untuk melakukan perang tanding melawanku. Karena itu, maka lebih baik mereka diselesaikan dengan cara tersendiri tanpa menitikkan keringatku. Tetapi berbeda dengan Adipati Pajang, Hadiwijaya adalah seorang yang menurut pendengaranku memiliki ilmu yang sangat tinggi. Karena itu, aku menganggap bahwa ia pantas untuk turun ke gelanggang dalam perang tanding melawanku. Jika aku menang, maka orang akan melihat betapa tinggi kemampuan Arya Penangsang, tetapi jika aku kalah, namaku tidak akan tercemar karena aku telah berperang tanding dengan orang yang memiliki tingkat kedudukan dan ilmu yang setataran.”

“Tetapi bagaimanapun ada juga bedanya,” jawab Patih Mantahun. “Kanjeng Adipati memiliki darah keturunan langsung dari Demak. Lalu siapakah Adipati Pajang yang pada masa mudanya disebut Mas Karebet itu atau yang juga dipanggil Jaka Tingkir?”

Arya Penangsang termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Ia menantu paman Sultan Trenggana.”

“Ya. Ia memang menantu. Tetapi bukankah Kanjeng Adipati mengetahui, betapa liciknya cara yang ditempuhnya, sehingga ia dapat memasuki lingkaran keluarga pamanda Sultan Trenggana?” berkata Mantahun. “Anak itu hanya mengandalkan modal ujud lahiriahnya. Ia memang seorang anak muda yang tampan pada waktu ia mengabdi di istana Sultan Trenggana. Dengan modal itulah ia dapat mencuri hati salah seorang putri Sultan Trenggana. Nah, betapa nistanya ceritera yang selanjutnya, terjadi sehingga Kanjeng Sultan Trenggana tidak dapat lagi menghindari kenyataan itu, jika ia tidak ingin kehilangan putrinya yang sangat dikasihinya.”

“Bagaimana dengan Kebo Danu di hutan Prawata? Bukankah karena kesaktian Karebet maka ia berhak kembali ke istana?” bertanya Arya Penangsang.

“Semua itu tidak lebih dari satu permainan yang sudah disusun oleh Karebet itu sendiri, dibantu oleh beberapa orang pendukungnya, sehingga seakan-akan yang terjadi itu benar-benar satu kelebihan dari Karebet yang juga disebut Jaka Tingkir itu,” berkata Mantahun. “Karena itu, hamba persilakan Kanjeng mendengarkan pendapat hamba. Mengirimkan beberapa orang untuk memasuki pesanggrahan dan membunuh Jaka Tingkir itu.”

Arya Penangsang mengerutkan keningnya. Untuk beberapa saat ia berdiam diri memikirkan pendapat Patih Mantahun itu. Namun kemudian katanya, “Ada juga baiknya untuk dicoba sambil menunggu kemungkinan lain yang dapat terjadi dengan pasukan yang saling membeku ini. Mungkin dengan langkah itu akan timbul satu gejolak yang dapat menggerakkan kedudukan kita disini.”

Dengan demikian maka Arya Penangsang telah menyerahkan sepenuhnya persoalan kepada Ki Patih Mantahun. Dengan nada datar ia berkata, “Terserah kepadamu Mantahun. Aku tidak begitu tertarik meskipun aku tidak berkeberatan. Yang penting bagiku, Hadiwijaya akan terbangun dan berbuat sesuatu sehingga seakan-akan tidak sekadar membuang waktu tak berarti menunggu Bengawan Sore ini.

 “Ia akan mati dan tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi,” jawab Mantahun. “Semua pengikutnya akan ketakutan dan akhirnya Pajang akan menyerah.”

Arya Penangsang tidak mendengarkan lagi mimpi Mantahun itu. Bahkan ia pun segera meninggalkan tempat itu untuk melihat kudanya yang bernama Gagak Rimang.

Sementara itu, Patih Mantahun yang telah mendapat izin untuk berusaha membunuh Adipati Pajang itu pun telah memanggil seorang kepercayaannya untuk menghadap.

“Ampun Ki Patih,” berkata orang itu. “Apakah ada tugas yang penting yang harus hamba lakukan?”

Ki Patih Mantahun itu mengangguk-angguk. Katanya, “Ada tugas yang sangat berat yang harus kau lakukan. Nyawamu akan menjadi taruhan.”

“Hamba tidak pernah berkeberatan,” jawab orang itu. “Mati dalam melakukan tugas bagi hamba justru merasa lebih baik dari pada mati terbaring di amben karena diterkam oleh penyakit.”

“Tetapi tugasmu kali ini benar-benar tugas yang sulit untuk dapat kau lakukan,” berkata Patih Mantahun.

“Tugas apapun tidak akan pernah menggetarkan jantung hamba,” jawab orang itu.

Patih Mantahun mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Dengarlah. Kau harus membunuh seseorang.”

Orang itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun tertawa. Jawabnya, “Satu permainan yang menyenangkan. Apakah tugas itu termasuk berat bagi hamba Ki Patih tahu, bahwa hamba adalah seorang yang memiliki bekal yang cukup untuk melakukannya.”

“Mungkin kau memiliki bekal yang cukup jika aku memerintahkanmu untuk membunuh penghuni rumah disudut padukuhan itu,” jawab Mantahun. “Tetapi kali ini kau harus membunuh seorang prajurit linuwih.”

Orang itu terpaksa mengerutkan keningnya. Dengan nada rendah ia bertanya, “Siapa yang harus aku bunuh? Bukankah Ki Patih Mantahun mengetahui, bahwa aku pernah berguru kepada lebih dari tiga orang pertapa yang memiliki ilmu yang tuntas?”

“Jangan membual,” jawab Mantahun. “Aku tahu ketiga orang gurumu itu.”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Namun ia pun kemudian menundukkan kepalanya. Ia tidak dapat menyombongkan diri dihadapan Ki Patih Mantahun, karena ia tahu benar bahwa Patih Mantahun memiliki ilmu melampaui guru-gurunya.

Namun dalam pada itu, Patih Mantahun itu pun berkata selanjutnya, “Tetapi ada satu yang menarik padamu. Salah seorang gurumu menguasai ilmu sirep. Aku pun tahu bahwa kau juga sudah mewarisi ilmu sirep itu, sehingga dengan ilmu itu kau akan dapat melakukan tugasmu. Tentu saja kau tidak akan sendiri. Kau akan pergi bersama tiga orang lain yang juga memiliki tataran ilmu seperti tataran ilmumu.”

Orang itu mengerutkan keningnya. Namun ia masih bertanya, “Siapakah yang harus hamba bunuh? Sebenarnya hamba lebih senang bekerja sendiri. Orang lain agaknya akan justru dapat mengganggu tugas-tugas hamba.”

“Jangan terlalu sombong,” desis Ki Patih Mantahun. “Besok aku pertemukan kau dengan tiga orang yang akan pergi bersamamu itu.”

“Tetapi Ki Patih Mantahun memberitahukan, siapakah yang harus hamba bunuh,” berkata orang itu.

“Besok aku akan memberitahukan kepada kalian dalam waktu yang bersamaan,” jawab Ki Patih Mantahun. Lalu, “Namun aku ingin menunjukmu sebagai pemimpin kelompok yang terdiri atas empat orang itu. Namun dengan keterangan, jika tidak seorang pun di antara tiga orang yang akan pergi bersamamu itu memiliki kelebihan darimu. Jika ternyata salah seorang di antara ketiga orang itu memiliki ilmu yang lebih tinggi darimu, maka ialah yang akan menjadi pemimpin di antara kalian.”

Orang itu mengerutkan keningnya. Dengan nada datar ia berkata, “Hamba tidak gelisah karena tiga orang itu. Hamba yakin, bahwa tidak seorang pun di antara mereka yang memiliki kelebihan dari hamba. Tetapi yang menggelisahkan hamba adalah justru karena Patih Mantahun tidak menyebut nama orang yang harus hamba bunuh itu. Sebenarnya, jika hamba tahu pasti, maka hamba akan dapat mengatakan, bahwa hamba tidak memerlukan seorang kawanpun.”

“Jangan membual,” bentak Patih Mantahun. “Aku mengenalmu. Mengenal guru-gurumu. Aku tahu takaran kemampuanmu.”

Orang itu terdiam. Sebenarnya Patih Mantahun mengetahui segala-galanya.

Karena itu, maka orang itu pun mohon diri ketika Ki Patih Mantahun berkata, “Kau boleh pergi sekarang. Yang sangat aku perlukan padamu adalah kemampuanmu menyebarkan sirep.”

“Baik Ki Patih,” jawab orang itu. “Hamba akan menunggu perintah selanjutnya.

Sepeninggal orang itu, maka Patih Mantahun pun telah mempersiapkan segala-galanya. Seperti yang dikatakannya, maka ia pun menghubungi ketiga orang yang lain. Orang yang menurut pendapat Patih Mantahun memiliki kemampuan yang tinggi dan sesuai untuk tugas yang sangat berat itu.

Sementara Patih Mantahun mempersiapkan rencananya, maka telah datang utusan dari Panglima pasukan Jipang di Pajang. Utusan itu menghadap Ki Patih dengan membawa persoalan yang menyangkut pasukan Jipang di sisi Timur Pajang.

Patih Mantahun memang memikirkan pernyataan utusan itu. Sebagaimana dikatakan oleh utusan itu, bahwa Ki Randukeling mempunyai pertimbangan tersendiri tantang pasukan Jipang di Pajang.

“Aku dapat mengerti,” berkata Patih Mantahun. “Tetapi aku berharap bahwa perang antara Jipang dan Pajang itu tidak akan berkepanjangan. Sementara itu, Jipang sedang mempersiapkan satu gempuran terakhir terhadap pasukan induk Pajang yang ada disini. Karena itu, untuk sementara pasukan itu harus tetap berada ditempat, agar Pajang tidak sempat mengirimkan bantuannya kepada pasukannya yang ada disini.”

“Panglima pasukan Jipang disisi Timur juga sudah mengambil keputusan yang demikian,” jawab utusan itu. “Tetapi keputusan Ki Patih akan memantapkan keputusan itu, sementara Ki Randukeling akan merasa puas pula karena ia tidak merasa seakan-akan pendapatnya sekadar dipotong oleh Panglima pasukan Jipang di Pajang itu.”

“Ia berhak mengambil keputusan,” berkata Patih Mantahun. “Ia adalah seorang Panglima yang diangkat oleh Kanjeng Adipati Arya Penangsang.”

“Tetapi orang itu mengenal Ki Randukeling sebagai seorang yang dekat dengan Ki Patih,” jawab utusan itu.

“Baiklah. Katakan kepada Ki Randukeling, bahwa untuk sementara aku tidak dapat menyetujuinya. Mungkin dalam perkembangan berikutnya aku dapat mempertimbangkannya lagi,” berkata Ki Patih.

Dengan keputusan itulah utusan itu kemudian kembali ke Pajang untuk menyampaikannya kepada Panglimanya dan Ki Randukeling yang sebenarnya sudah tidak terlalu mendesak lagi. Apalagi ketika Ki Randukeling melihat dari dekat, bahwa pasukan Pajang selalu saja mengganggu pasukan Jipang itu meskipun tidak dengan serangan yang menentukan.

***

Pada saat-saat yang demikian, Tanah Perdikan Sembojan benar-benar telah berusaha menyusun dirinya. Beberapa Kademangan di sekitarnya telah bangkit pula. Mereka memiliki anak-anak muda yang justru jauh lebih banyak dibandingkan dengan Tanah Perdikan Sembojan sendiri, yang sebagian dari anak-anak mudanya telah berada di Pajang.

Tata kehidupan pun telah berubah pula perlahan-lahan. Namun terasa oleh setiap penghuni Tanah Perdikan Sembojan. Sementara hubungan dengan tetangga Kademangan pun rasa-rasanya menjadi semakin akrab. Bahkan dalam tata kehidupan sehari-hari rasa-rasanya Kademangan-kademangan itu tidak terpisah oleh batas dengan Tanah Perdikan Sembojan.

Meskipun Tanah Perdikan Sembojan menjadi lemah karena kehilangan banyak anak-anak mudanya, namun Tanah Perdikan Sembojan tetap mempunyai pengaruh yang besar terhadap lingkungan di sekitarnya. Kademangan-kademangan disebelah-menyebelah Tanah Perdikan itu masih tetap menghormati Tanah Perdikan dan bahkan seakan-akan justru berkiblat kepadanya, karena beberapa orang yang dikirim oleh Tanah Perdikan Sembojan benar-benar dapat memberikan bimbingan dan tuntunan kepada anak-anak muda di Kademangan-kademangan itu dalam olah kanuragan.

Sembojan telah dengan sengaja memamerkan kelebihannya untuk tetap mempertahankan pengaruhnya. Karena itulah, maka orang-orang yang dikirim ke Kademangan-kademangan telah dengan sengaja meskipun terkendali menunjukkan kelebihan mereka.

Bahkan Sambi Wulung dan Jati Wulung pun telah memamerkan ketrampilannya. Ditanamnya patok-patok bambu yang tidak sama tingginya disebuah tanah yang cukup lapang. Kemudian dengan kecepatan gerak dan ketangkasannya mempertahankan keseimbangan, keduanya seakan-akan telah berloncatan dan menari-nari diatas tonggak-tonggak bambu itu.

Kemudian mereka pun telah menunjukkan kemampuan mereka mempermainkan senjata. Pada saat keduanya berada di atas patok-patok bambu maka keduanya telah menunjukkan satu permainan senjata yang mengagumkan.

Di tempat lain Kiai Soka sendiri juga bermain-main bersama Kiai Badra. Orang-orang tua itu mempunyai cara tersendiri untuk memancing minat orang-orang di Kademangan sebelah untuk bekerja keras mempelajari kemungkinan dengan senjata.

Ternyata bahwa usaha mereka itu pun berhasil. Beberapa anak muda terpilih dengan mengikuti latihan-latihan khusus. Sementara itu kemampuan mereka harus disebarkan kepada kawan-kawan mereka.

Di samping orang-orang tua yang berilmu tinggi, itu maka anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan yang tersisa, yang pernah ditempa oleh para perwira Jipang dapat juga membantu memberikan latihan kepada anak-anak muda di Kademangan-kademangan itu.

Dengan demikian, maka dalam waktu yang terhitung singkat, di Kademangan-kademangan itu telah terdapat kesibukan yang luar biasa. Sementara anak-anak mudanya pun mulai mengenali bagaimana caranya memegang senjata.

Ternyata bahwa kemauan anak-anak muda itu demikian besarnya sehingga mereka seakan-akan tidak mengenal waktu. Mereka berlatih kapan saja disela-sela kewajiban mereka disawah dan kewajiban-kewajiban yang lain, di samping latihan-latihan pada waktu yang memang sudah ditentukan, dua hari sekali.

***

Dalam pada itu, di pesanggrahan Patih Mantahun, dipinggir Bengawan Sore, telah terjadi satu pendadaran bagi mereka yang akan menjalankan tugas yang diberikan oleh Patih Mantahun. Di tempat yang tersembunyi dari penglihatan orang lain, Patih Mantahun telah berusaha untuk melihat kemampuan dari keempat orang itu.

Mereka harus melakukan sebagaimana diperintahkan oleh Patih Mantahun untuk mendapatkan penilaian, siapakah di antara mereka yang paling pantas untuk memimpin kawan-kawan mereka dalam tugas yang sangat berat itu.

“Dalam keadaan terpaksa, maka kalian harus menghindarkan diri dari kemungkinan yang paling buruk. Karena itu, maka aku ingin melihat, apakah kalian memiliki kemampuan berlari. Meskipun yang lain dapat berlari cepat, tetapi jika seorang di antara mereka tertangkap maka kerahasiaan tugas kalian akan terancam,” berkata Patih Mantahun.

Keempat orang itu mengumpat. Seorang di antaranya berkata, “Kami adalah orang-orang yang memiliki nama yang besar. Untuk apa kami harus berlomba lari seperti anak-anak.”

“Tutup mulutmu,” bentak Patih Mantahun, “Jika kau tidak berani melakukannya, pergi saja dari sini.”

Orang itu tidak berani bertanya lebih lanjut. Ia menyadari watak Patih Mantahun yang tua itu. Dalam usianya yang semakin banyak, maka kekerasan hati dan sikapnya tidak juga berkurang.

“Kalian tidak akan mendapat upah apapun juga selain kepemimpinan. Siapa yang menang akan menjadi bahan pertimbangan, karena masih ada beberapa pertarungan lagi di antara kalian,” berkata Patih Mantahun.

Orang itu tidak mengelak. Mereka berempat harus berlari menuju sebatang pohon yang sangat besar. Setelah melingkari pohon itu maka mereka harus kembali ke Patih Mantahun.

“Kalian tidak hanya lari secepatnya saja. Tetapi kalian boleh saling menghalangi. Sedikit kekerasan memang akan terjadi. Tetapi harus tetap mengendalikan diri, bahwa kalian sedang dalam pendadaran, sehingga siapa yang mencederai yang lain sampai parah, ia justru dianggap kalah,” berkata Patih Mantahun.

“Gila,” geram mereka di dalam hati. Tetapi tidak seorang pun yang berani menolak rencana Ki Patih Mantahun itu.

Sementara itu, mereka pun segera mempersiapkan diri. Ki Patih Mantahun pun kemudian membagikan masing-masing seutas tali sepanjang satu depa. Katanya, “Ini adalah satu-satunya senjata kalian. Kalian dapat mempergunakan sepanjang tidak membunuh yang lain.”

Keempat orang itu termangu-mangu. Namun mereka pun menyadari, bahwa derajat kepemimpinan itu ternyata harus mereka tebus dengan permainan yang keras dan bahkan mungkin kasar.

Tetapi mereka adalah orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi dan merasa bahwa yang satu tidak akan kalah dari yang lain. Karena itulah, maka tidak seorang pun di antara mereka yang merasa gentar menghadapi pendadaran itu. Bahkan mereka merasa justru saling dipermainkan oleh Ki Patih Mantahun.

Tetapi sebenarnya Ki Patih ingin melihat bukan saja siapakah yang paling tangkas dan berkemampuan tertinggi, tetapi ia juga ingin melihat apakah keempat orang itu memiliki keseimbangan untuk melakukan satu tugas tertentu.

Sejenak kemudian Ki Patih Mantahun pun telah memberikan isyarat untuk bersiap. Kemudian ia pun mulai menghitung, “Satu, dua, tiga.”

Keempat orang itu pun segera meloncat berlari. Mereka telah mengerahkan bukan saja kemampuan wadag mereka, tetapi didorong oleh tenaga cadangan yang kuat di dalam hati mereka, maka mereka pun telah berlari seperti anak panah yang terlepas dari busurnya.

Namun agaknya mereka masih belum berniat untuk saling menghalangi. Mereka masih berusaha untuk lebih dahulu sampai ke pohon besar yang harus mereka putari.

Ternyata keempat orang itu memiliki kecepatan berlari yang hampir sama. Dorongan kekuatan yang melampaui kekuatan orang kebanyakan memang memberikan kelebihan atas keempat orang itu.

Namun demikian, Ki Patih Mantahun masih menunggu, apa yang terjadi kemudian jika keempat orang itu mencoba saling menghalangi.

Ketika keempat orang itu hampir bersamaan mencapai pohon besar yang harus mereka putari, maka mulailah mereka saling menghalangi. Seorang di antara mereka telah mencoba menyentuh kaki yang lain yang sebelumnya menjadi agak lengah justru karena ia mendapat kesempatan berada paling depan. Ternyata bahwa sentuhan pada kakinya itu telah membuatnya kehilangan keseimbangan, sehingga ia pun telah jatuh terguling di tanah. Seorang yang hampir saja menginjaknya telah meloncat dengan tangkasnya. Bahkan demikian orang Itu menjejak tanah, tiba-tiba tangannya telah menangkap lengan orang yang lain. Dengan satu hentakan maka orang itu pun telah terdorong menyamping. Seperti yang terjatuh itu, maka ia pun kehilangan keseimbangan.

Tetapi yang lain pun tidak tinggal diam. Bahkan seorang di antara mereka telah menyekap yang lain dan membantingnya ditanah. Sementara itu, yang membanting kawannya itupun tidak sempat berlari lebih jauh, karena seorang telah mendekap kakinya.

Semula keempat orang itu masih dibatasi oleh keseganan mereka untuk berbuat lebih keras. Namun semakin lama keseganan itupun menjadi semakin kabur, sehingga akhirnya, mereka pun mulai saling mendorong, saling menyekap dan bahkan benturan-benturan kekerasan sulit untuk dihindari lagi.

Itulah yang ingin dilihat oleh Patih Mantahun. Satu perkelahian segi empat yang membingungkan.

Namun ketajaman penglihatan Patih Mantahun dapat mengamati dengan cermat, keempat orang yang dihadapinya itu. Apalagi ketika kemudian mereka menjadi saling memukul dan menghindar. Mendorong dan mendera.

Untuk beberapa saat perkelahian yang aneh itupun terjadi. Jika semula mereka hanya sekadar mempergunakan tenaga wadag mereka, maka semakin lama merekapun telah merambah kepada kemampuan ilmu mereka.

Dengan seksama Ki Patih Mantahun mengamati tali yang ada di tangan masing-masing. Untuk beberapa saat tali itu rasa-rasanya justru mengganggu. Namun ketika mereka sudah sampai kepada saat-saat yang menentukan, maka tali itu pun mulai dipergunakan. Seorang di antara mereka telah menghentakkan tali itu sehingga terdengar ledakan melampaui kerasnya ledakan cambuk. Namun seorang di antara mereka, telah mengerahkan kemampuan ilmunya, sehingga tali tiba-tiba telah berubah menjadi sebuah tongkat yang kuat bagaikan baja. Namun sebelum ia dapat mempergunakannya, seutas tali telah membelit pergelangannya, seakan-akan seekor ular yang buas yang menyerang begitu tiba-tiba.

Tetapi tali yang membelit pergelangan tangan itu tidak mampu merenggut tongkat yang digenggamnya erat-erat. Sementara itu telah terdengar lagi ledakan yang seakan-akan memecahkan selaput telinga.

Ki Patih Mantahun menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak merasa kecewa terhadap keempat orang itu. Mereka memiliki ilmu yang seimbang sehingga dalam keadaan tertentu tidak ada di antara mereka yang akan menjadi sebab kegagalan tugas mereka, kecuali jika mereka berempat bersama-sama kehilangan kesempatan untuk melakukan tugas mereka.

Dalam benturan ilmu segi empat itu sekaligus Ki Patih Mantahun dapat memperbandingkan setiap kemampuan mereka dengan langsung sehingga ia tidak memerlukan waktu yang terpisah-pisah.

Namun dengan demikian, maka keempat orang itu bergeser lambat sekali. Tidak ada kemajuan yang mendekatkan mereka kepada garis awal yang akan juga menjadi garis akhir. Bahkan sekali-kali seseorang di antara mereka harus terdorong mundur satu dua langkah. Namun ia pun dengan serta merta telah meloncat mendahului yang lain. Tetapi tiba-tiba saja seutas tali telah menjerat kakinya, dan satu hentakan telah menariknya mundur pula.

Ki Patih Mantahun menunggu dengan sabar permainan yang kemudian telah mengasyikkan itu. Ia harus menilai dengan cermat kemampuan yang tersimpan disetiap orang yang sedang bertanding. Justru karena kemampuan mereka seimbang, maka agak sulit bagi Ki Patih Mantahun untuk menentukan urutan kemampuan mereka.

Sebenarnyalah keempat orang itu sudah menjadi kehilangan kendali diri. Itulah sebabnya mereka benar-benar saling menyerang dengan garangnya. Namun ketahanan tubuh mereka melampaui ketahanan tubuh orang kebanyakan sehingga karena itu maka mereka masing-masing masih mampu untuk bertahan.

Namun dalam pada itu, bagaimana pun lambatnya, mereka telah berkisar pula setapak demi setapak mendekati garis batas. Sementara itu Ki Patih menunggu dengan telaten, namun dengan pengamatan yang cermat untuk menilai kemampuan mereka. Bahkan dengan nada dalam ia bergumam bagi dirinya sendiri, “Siapa yang lemah dan memiliki kemampuan yang tidak seimbang, tentu akan digilas oleh pendadaran yang berat itu.”

Sebenarnyalah jika ada di antara mereka yang ilmunya terpaut banyak dari yang lain, akan mengalami kesulitan untuk tetap bertahan. Bahkan mungkin jika yang demikian, ia tidak akan mampu lagi untuk bangkit.

Dengan demikian maka Ki Patih Mantahun tidak perlu lagi menyisihkannya, karena dengan sendirinya ia akan tersisih.

Tetapi betapapun lambatnya mereka maju, namun keempat orang itu mampu mendekati garis batas. Namun dalam keadaan yang sangat gawat, seorang di antara mereka mencoba melenting mencapai garis yang ditentukan oleh Ki Patih Mantahun. Namun seutas tali telah menjeratnya sehingga ia pun telah tertahan karenanya. Bahkan tiba-tiba saja sebuah lecutan yang keras terasa memukul punggungnya, sehingga karena itu, maka ia pun telah menggeliat.

Pada saat itu seorang yang lain telah berusaha untuk meloncatinya. Tetapi kakinya bagaikan terantuk tongkat besi. Namun dengan tangkasnya ia berusaha memperbaiki keseimbangannya agar ia tetap tegak.

Tetapi pada saat yang demikian, seorang justru telah berguling seperti gumpalan asap tertiup angin. Demikian ringannya melintasi garis batas. Ketika orang yang lain menerkamnya, maka orang yang berguling itu sempat menggeliat menghindarkan dirinya.

Sejenak kemudian orang itu pun telah melenting berdiri. Kemudian dengan suara lantang ia berkata, “Akulah yang pertama memasuki perbatasan.”

Kawan-kawannya pun telah tegak pula berdiri. Mereka semua sudah melintasi garis, hampir bersamaan. Selisih waktunya tidak lebih dari sekejap.

Patih Mantahun menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku telah melihat semuanya. Aku telah menyaksikan bagaimana kalian memperebutkan tanggung jawab. Karena seorang pemimpin justru harus bertanggung jawab sepenuhnya.”

Keempat orang itu termangu-mangu. Namun dalam pada itu, terasa tubuhnya mereka menjadi sangat letih. Tulang-tulang mereka bagaikan retak-retak di dalam ubuhnya. Perasaan nyeri dan pedih terasa dari ujung rambut sampai keujung ibu jari kaki mereka.

Sementara itu, mereka masih menunggu pendadaran berikutnya.

Tetapi Ki Patih Mantahun itu pun berkata, “Aku tidak akan melakukan pendadaran lagi. Aku menganggap bahwa yang kalian lakukan sudah cukup, sehingga aku sudah menjadi yakin, siapakah yang sebaiknya menjadi pemimpin di antara kalian.”

Keempat orang itu menjadi tegang. Tetapi mereka sama sekali tidak menjawab. Mereka menunggu, apa yang akan dikatakan oleh Ki Patih Mantahun tentang mereka.

Meskipun demikian keempat orang itu sudah dapat menduga, bahwa orang yang pertama melintasi batas itulah yang akan ditetapkan menjadi pemimpin mereka.

Dalam pada itu, maka Ki Patih Mantahun pun berkata, “Dengarlah. Menurut penilaianku, kalian memiliki kesempatan yang sama karena kalian telah menunjukkan kemampuan yang sama. Tetapi ada satu kelebihan pada seorang di antara kalian, yaitu kemampuan menguasai dan menyebarkan ilmu sirep.”

Orang-orang itu mengerutkan keningnya. Sementara Ki Patih berkata selanjutnya, “Karena itu, maka aku menetapkannya untuk menjadi pemimpin di antara keempat orang yang akan aku bekali dengan tugas-tugas yang sangat berat.”

Orang yang memiliki ilmu sirep dan yang kebetulan mampu berguling melintasi batas mendahului kawan-kawannya meskipun hanya sekejap itu pun mengangguk hormat sambil berkata, “Terima kasih atas kepercayaan Ki Patih. Hamba akan mencoba melakukan tugasku sebaik-baiknya.”

“Sebenarnya bagiku yang paling penting bukan siapakah yang akan menjadi pemimpin. Tetapi aku ingin melihat tataran kemampuan kalian. Agaknya kemampuan kalian yang satu dengan yang lain tidak terpaut terlalu banyak, sehingga dengan demikian maka kalian akan dapat bekerja bersama dengan baik. Saling mengisi dalam tugas yang sangat berat ini,” berkata Patih Mantahun. Lalu tiba-tiba saja ia berkata, “Siapakah yang merasa berkeberatan atas keputusanku ini?”

Tidak seorang pun yang menjawab. Sehingga dengan demikian maka Patih Mantahun pun berkata selanjutnya. “Baik. Jika demikian maka kalian akan mendapat kesempatan untuk melakukan tugas yang mungkin tidak pernah kalian duga sebelumnya.”

“Siapakah yang harus kami bunuh?” bertanya orang yang memiliki ilmu sirep dan yang diangkat menjadi pemimpin di antara keempat orang itu. “Sampai saat ini Ki Patih belum menyebutnya. Bahkan setiap kali Ki Patih hanya membuat kami menjadi berdebar-debar saja.”

Ki Patih mengangguk-angguk. Katanya, “Aku baru akan mengatakannya setelah aku yakin, bahwa kalian akan dapat menyelesaikan tugas ini. Yang akan kau bunuh adalah orang yang memiliki ilmu melampaui setiap orang di antara kalian. Karena itu, hanya dengan saling mengisi, maka kalian akan dapat mengatasi persoalan.”

“Ya, tetapi siapakah yang menjadi sasaran?” desak orang yang telah dipercaya untuk memegang pimpinan itu dengan tidak sabar.

Ki Patih Mantahun memandang orang itu dengan tajamnya. Namun kemudian bibirnya bergerak menyebut sebuah nama, “Hadiwijaya.”

Setiap mata terbelalak karenanya. Orang yang diangkat menjadi pimpinan itu bergerak setapak maju sambil berdesis, “Hadiwijaya. Adipati Pajang maksud Ki Patih.”

“Ya. Adipati Pajang,” sahut Ki Patih Mantahun.

Keempat orang itu saling berpandangan sejenak. Sementara itu terdengar Ki Patih menggeram, “Apakah kalian merasa takut? Jika kalian merasa takut, sebaiknya kalian katakan sekarang, karena aku tidak akan memaksakan perintah kepada para pengecut. Jika sebenarnya kalian takut, namun terpaksa dalam melakukan perintah ini, maka akibatnya akan tidak baik. Dengan demikian maka aku ingin mendapat ketegasan. Berani atau tidak. Jika kalian menyatakan tidak berani, maka tentu tidak ada orang lain yang harus melakukan kecuali aku sendiri.”

“Jangan Ki Patih,” cegah pimpinan dari keempat orang itu. “Ki Patih jangan tergesa-gesa mengambil sikap seperti itu. Biarlah kami berempat akan menyatakan kesediaan kami. Namun kami mohon petunjuk dan kesempatan untuk mempelajari keadaan.”

“Aku merasa mampu untuk melakukan sendiri. Jika aku minta kalian melakukannya, semata-mata untuk menghindari kesan bahwa Jipang telah berusaha memotong perang yang sedang berlangsung dengan satu pembunuhan. Meskipun akhirnya mereka pun tentu akan menduga seperti itu, tetapi mereka tidak akan dapat berkata semena-mena tanpa bukti. Karena itu, kalian harus tetap menjaga rahasia yang akan kalian emban bersama dengan tugas yang berat itu. Apakah kalian mengerti maksudku?”

“Hamba mengerti Ki Patih,” jawab pimpinan kelompok yang terdiri dari empat orang itu. “Seandainya kami, atau salah seorang dari kami tertangkap, maka kami mati bersama rahasia itu.”

Ki Patih Mantahun mengangguk-angguk. Katanya, “Bagus. Aku percaya kepada kalian. Jika salah seorang di antara kalian atau lebih bahkan semuanya saja tertangkap atau mati dalam tugas itu, maka keluarga kalian akan menjadi tanggung jawab kami. Keluarga kalian akan mendapat hadiah yang tidak ternilai harganya.”

“Terima kasih,” jawab pimpinan dari keempat orang itu. “Sekali hamba mohon petunjuk dan sedikit waktu barang dua tiga hari untuk mengamati keadaan.”

“Aku tidak berkeberatan,” jawab Patih Mantahun. “Tetapi dalam waktu dua tiga hari atau selama-lamanya sepekan jika kalian tidak berhasil maka leher kalian akan menjadi taruhan. Hanya ada dua pilihan bagi kalian. Berhasil atau mati.”

Keempat orang itu mengangguk-angguk.

“Katakan, apakah kalian bersedia atau tidak,” desak Mantahun.

Tidak ada jawaban lain yang mereka ucapkan kecuali bersedia. Perintah sudah telanjur diucapkan. Jika seorang di antara mereka menolak, maka untuk menjaga keutuhan rahasia, maka yang menolak itu tentu akan dibinasakan, bagaimanapun caranya.

“Malam nanti aku akan memberikan beberapa petunjuk,” gumam Patih Mantahun.

Demikianlah, ketika malam tiba, keempat orang itu telah menghadap Patih Mantahun di pesanggrahannya. Mereka mendapat beberapa petunjuk tentang tugas mereka dan sedikit keterangan tentang orang yang bernama Hadiwijaya.

“Hadiwijaya memiliki seribu macam ilmu. Pada masa mudanya ia adala pengembara, bahkan petualang yang menyusuri hutan, lereng-lereng pegunungan, memasuki gua-gua dan berguru pada para pertapa,” berkata Patih Mantahun.

Keempat orang itu mendengarkan dengan cermat. Mereka memang merasa bahwa tugas mereka saat ini adalah tugas yang sangat berat. Hadiwijaya adalah seorang Adipati yang berada di pesanggrahan dalam suasana perang. Ia adalah Panglima pasukannya dan karena itu penjagaan atas dirinya tentu dilakukan sangat kuat.

Tetapi keempat orang itu merasa bahwa mereka pun memiliki ilmu linuwih. Ki Patih Mantahun yang juga memiliki ilmu yang sangat tinggi itu tentu mampu menilai, apakah mereka berempat akan dapat atau setidak-tidaknya pantas melakukan tugas itu atau tidak.

Namun beberapa pesan Patih Mantahun sangat berarti bagi mereka berempat. Menurut keterangan yang didengar oleh Patih Mantahun, Adipati Pajang itu memiliki ilmu yang kebal.

“Ilmu itu tentu hanya diterapkan jika ia turun ke medan atau dalam perang tanding. Tetapi tidak jika ia sedang tidur lelap di pesanggrahannya. Apalagi jika ia merasa aman di bawah pengawalan pasukannya yang kuat dan tangguh,” berkata Ki Patih Mantahun. “Karena itu, maka kau harus menemukannya dalam keadaan tidur. Kau harus cepat bertindak, sebelum orang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi itu terbangun dan apalagi mampu dan sempat mengeterapkan ilmu kebalnya. Jika demikian, maka kau tentu akan gagal.”

“Baiklah Ki Patih,” jawab pimpinan dari keempat orang itu. “Hamba dan kawan mohon restu, mudah-mudahan hamba dan kawan-kawan mampu menjunjung kepercayaan Ki Patih untuk melakukan tugas ini”

“Lakukanlah dengan sebaik-baiknya. Aku yakin kalian akan berhasil. Apalagi seorang di antara kalian memiliki kemampuan melepaskan ilmu sirep, sehingga akan banyak menolong tugas-tugas kalian memasuki pesanggrahan yang tentu tidak akan sekuat istana Pajang sendiri,” pesan Patih Mantahun pula.

Demikianlah keempat orang itu pun kemudian mohon diri. Mereka akan mempersiapkan diri lahir dan batin untuk melakukan tugas yang sangat berat itu. Mereka benar-benar harus bertaruh nyawa, karena mereka akan memasuki pesanggrahan perang. Bukan pesanggrahan pada saat-saat Hadiwijaya bercengkerama di pinggir-pinggir hutan sambil berburu kijang.

“Selama-lamanya sepekan kalian harus sudah selesai dengan tugas ini,” berkata Patih Mantahun.

“Hamba Ki Patih,” jawab pemimpin dari keempat orang itu. “Kami akan mencoba melakukan sebaik-baiknya. Di hari-hari pertama kami masih mencoba untuk mengamati keadaan pesanggrahan itu. Mungkin kami mempunyai cara yang akan mempermudah tugas-tugas kami.”

“Lakukanlah apa yang baik menurut kalian,” berkata Ki Patih Mantahun kemudian.

Keempat orang itu pun kemudian mohon diri. Di luar pesanggrahan mereka membicarakan apa yang akan mereka lakukan untuk melaksanakan tugas yang sangat berat itu.

Keempat orang itu pun kemudian telah membagi tugas. Dua orang di antara mereka akan berupaya untuk dapat mendekati pesanggrahan Pajang dengan dalih apapun juga. Tetapi mereka tidak akan bersama-sama. Mereka akan menempuh cara mereka masing-masing.

Dengan demikian di hari berikutnya, keempat orang itu pun telah berpencar. Mereka menyeberangi Bengawan Sore ditempat yang berbeda dan tidak berada dihadapan pesanggrahan Pajang maupun Jipang.

Di hari pertama orang-orang itu mengamati pesanggrahan hanya dari kejauhan. Dua orang yang memang bertugas untuk mendekati pesanggrahan itu melihat, bahwa di antara orang-orang yang lewat didekat pesanggrahan itu adalah orang-orang yang menjajakan beberapa jenis makanan dan buah-buahan.

Orang-orang itu mencoba menghubungi penjual buah-buahan itu ketika para penjual meninggalkan pesanggrahan. Dari mereka orang-orang itu mendapat beberapa keterangan bahwa para prajurit Pajang yang berada di pesanggrahan itu sering membeli dari mereka buah-buahan dan makanan.

“Apakah mereka tidak dilarang membeli dari orang-orang yang sebelumnya tidak mereka kenal seperti kalian?” bertanya orang yang ingin berusaha mendekati itu.

“Sebagian dari mereka membeli juga,” jawab para penjual. “Aku tidak tahu, apakah sebenarnya mereka dilarang atau tidak. Namun selama ini kami tidak pernah diusir jika kami menjajakan makanan dan buah-buahan. Bahkan orang-orang tertentu mendapat pesanan untuk menyerahkan sayur-sayuran ke dapur dalam jumlah yang cukup banyak, karena di dapur itu telah dimasak makan dan lauk pauknya bagi semua prajurit yang ada di pesanggrahan itu. Orang yang ingin mengamati pesanggrahan itu mengangguk-angguk. Hari itu mereka berusaha keras untuk dapat menentukan satu langkah. Akhirnya mereka pun berhasil menghubungi para penjual makanan bahkan para penjual sayur-sayuran.

Ketika salah seorang di antara mereka yang ingin mendekati pesanggrahan itu menyatakan ingin ikut berjualan sayur-sayuran, maka para penjual itu merasa keberatan.

“Kau dapat menyaingi kami,” berkata salah seorang di antara para penjual itu. “Hak itu sudah kami dapat sejak semula mereka berada disini.”

Tetapi orang itu berkata, “Tidak. Sama sekali tidak. Aku tidak akan mengurangi hak kalian. Aku hanya akan menjualnya kepada kalian sehingga dengan demikian kalian masih akan mendapat keuntungan. Jika aku menyerahkan sayur-sayuran ke dapur, tentu atas nama kalian. Dan aku tidak mau, berapa kalian mendapat uang dari mereka, asal kalian sudah membayar aku sesuai dengan pembicaraan.”

Sebenarnyalah orang-orang yang mendapat tugas dari Patih Mantahun itu sama sekali tidak memperhitungkan untung atau rugi. Mereka dapat menjual sayur-sayuran dengan harga yang lebih rendah dari penjual yang manapun juga. Bahkan bersedia mengirim sayur-sayuran itu langsung ke dalam pesanggrahan tanpa minta upah tambahan.

Dengan memecahkan beberapa kesulitan maka akhirnya dua orang di antara keempat orang itu berhasil mendekati barak. Yang seorang sebagai pedagang buah-buahan tanpa banyak persoalan dengan pedagang-pedagang yang lain, yang seorang baru pada hari keempat berhasil memasuki pesanggrahan dengan membawa sayur-sayuran yang dijualnya cukup murah kepada orang-orang yang biasanya mengirimkan sayur-sayuran ke pesanggrahan itu.

Namun dengan demikian, maka pada hari keempat itu pula, keempat orang itu bertemu dan berbicara tentang rencana mereka memasuki pesanggrahan. Beberapa bagian dari pesanggrahan itu sempat dilihat dan dikenali oleh kedua orang yang sempat memasukinya.

“Waktu kita tinggal sehari,” berkata pemimpin kelompok itu, “Apakah malam ini kita akan melakukannya?”

Seorang di antara mereka berkata, “Hari ini kita belum mempersiapkan diri. Mungkin secara lahir kita memang sudah siap sejak kita berangkat.”

Pemimpin kelompok itu mengangguk-angguk. Katanya, “Aku sependapat. Kita harus bersiap lahir dan batin. Secara badani dan jiwani.”

Akhirnya kelompok itu memutuskan bahwa mereka akan memasuki pesanggrahan itu besok malam. Malam itu, dan sehari sebelumnya mereka akan mempersiapkan diri sebaik-baiknya lahir dan batin. Bahkan bila mungkin mereka akan mengadakan semacam latihan untuk memasuki pesanggrahan itu, setidak-tidaknya mengenali pesanggrahan itu di malam hari, dan mencoba untuk mengetahui dimanakah para penjaga dan para peronda berada.

Demikianlah, ketika malam menjadi semakin kelam pada hari keempat itu, maka keempat orang itu pun telah dengan sangat berhati-hati mendekati pesanggrahan.

“Kau coba untuk menebarkan ilmu sirep,” berkata salah seorang di antara keempat orang itu.

“Tidak sekarang,” jawab pemimpin kelompok itu. “Dengan demikian dapat menarik perhatian dan menimbulkan kecurigaan, sehingga karena itu, mereka justru akan bersiaga di malam berikutnya.”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Dengan demikian, maka mereka harus sangat berhati-hati.

Dengan kemampuan yang tinggi, maka keempat orang itu berhasil mendekati pesanggrahan. Mereka seakan-akan merangkak dan bahkan kadang-kadang merayap seperti seekor ular dibelakang gerumbul-gerumbul perdu.

Dari tempat mereka, maka mereka dapat melihat para prajurit Pajang yang berjaga-jaga. Dua orang berada di regol pesanggrahan dengan senjata siap di tangan, sementara setiap kali, dua orang yang lain berjalan mengelilingi pesanggrahan itu.

“Tentu ada juga para penjaga lain di dalam lingkungan pesanggrahan,” berkata orang yang sempat memasuki pesanggrahan itu. “Di dalam pesanggrahan terdapat barak-barak yang berpencar. Nampaknya barak-barak itu dibangun dengan tergesa-gesa di sekitar rumah aslinya. Namun cukup rapat dan kuat.”

“Apakah kau tahu dimanakah Hadiwijaya tinggal di dalam barak itu?” bertanya pemimpin kelompok itu.

“Ya. Dari orang-orang yang berada didapur, aku mendapat keterangan bahwa Hadiwijaya ada disebuah barak kecil ditengah-tengah barak-barak yang lain, justru dibelakang rumah yang sebenarnya yang dipergunakan untuk pesanggrahan itu. Barak itu pun adalah bangunan susulan. Bukan bangunan yang menjadi bagian dari rumah yang dipergunakan untuk barak itu,” jawab kawannya yang berhasil menjadi penjual sayur dan mengantarkan langsung ke dapur meskipun baru pada hari keempat.

Keempat orang itu pun kemudian mengelilingi pesanggrahan itu untuk memperhitungkan, bagian manakah yang paling lemah dari pesanggrahan Hadiwijaya itu. Dari tempat itulah mereka akan mencoba memasuki pesanggrahan besok malam.

“Mudah-mudahan ilmu sirepku cukup tajam untuk membius semua prajurit yang bertugas pada malam besok,” berkata pemimpin kelompok itu. “Jika tidak, maka aku harap sebagian besar dari mereka akan tertidur, sementara kita akan dapat memasuki pesanggrahan.

Ternyata bahwa malam itu, keempat orang itu mendapatkan banyak bahan yang akan dapat mereka pergunakan dimalam berikutnya, memasuki pesanggrahan untuk membunuh Adipati Hadiwijaya.

Namun dihari berikutnya, salah seorang di antara mereka yang sudah telanjur menyanggupi menyerahkan sayur-sayuran harus masih bekerja keras. Tetapi orang itu telah menghubungi beberapa penjual sayur-sayuran dan membayarnya dengan harga yang lebih tinggi dari para pembeli yang lain meskipun orang itu akan menjadi rugi.

Tetapi pekerjaan itu dapat diselesaikannya sebelum matahari sepenggalah, sehingga ia masih akan mempunyai waktu untuk mempersiapkan diri sebagaimana kawan-kawannya.

Bahkan satu keuntungan yang didapatkannya, bahwa hari itu ia sempat melihat Ki Pemanahan dan Panjawi berjalan-jalan melihat-lihat keadaan di dapur. Semula mereka tidak mengenali kedua orang yang nampaknya memiliki wibawa yang tinggi itu. Baru kemudian dari para petugas di dapur ia mengetahui, bahwa kedua orang itu adalah Ki Pemanahan dan Ki Panjawi. Dua orang panglima yang disegani oleh kawan maupun lawan.

“Menilik cahaya wajah mereka dan sikap mereka, keduanya memang orang-orang yang berjiwa besar dan memiliki ilmu yang sangat tinggi,” berkata orang yang sempat bertemu dengan Pemanahan dan Panjawi itu.

“Kau cemas tentang mereka?” bertanya pemimpin kelompoknya.

“Jika aku berkata jujur, agaknya memang demikian,” jawab orang yang melaporkannya. “Tetapi aku harus mempunyai perhitungan nalar. Keduanya tentu tidak akan meronda di malam hari karena tugas-tugas itu tentu dilakukan oleh para prajurit. Hanya dalam keadaan tertentu saja mereka akan keluar dari bilik mereka.”

“Sebaiknya kau memantapkan sikapmu lebih dahulu,” berkata pemimpin kelompok itu.

“Ki Patih Mantahun tentu sudah mengenal kedua orang itu dengan baik, sebagaimana ia mengenal Hadiwijaya. Pada saat Demak masih tegak, maka mereka tentu sering berhubungan dan mungkin mereka pernah bersama-sama berada di satu medan. Karena itu, kau dan kita semua harus yakin, bahwa menurut penilaian Ki Patih Mantahun, kita pantas untuk melakukan tugas ini.”

“Ya. Aku menyadari,” jawab orang lain.

“Yang kau lihat itu barulah ujud lahiriahnya saja. Apakah ujud lahiriahnya itu akan menentukan tataran kemampuan mereka?” sahut pemimpin kelompok itu.

Orang yang melihat Ki Pemanahan dan Ki Panjawi itu pun mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Mungkin saja jiwani aku memang belum siap sekarang. Tetapi masih ada waktu. Kita dapat menyiapkan diri sampai saatnya menjelang senja.”

Demikianlah, maka mereka berempat pun telah berusaha untuk menempa perasaan masing-masing. Dengan demikian maka keempat orang itu berusaha untuk memasuki gelanggang dalam keadaan yang benar-benar telah siap apapun yang terjadi. Bahkan seandainya mereka harus diterkam oleh maut sekalipun.

Ketika matahari mulai menjadi semburat kuning, maka keempat orang itu pun telah membenahi dirinya. Mereka sempat makan bekal yang mereka persiapkan. Kemudian bersiap-siap sepenuhnya. Senjata mereka pun telah mereka lihat, sehingga mereka yakin bahwa senjata itu tidak akan mengecewakan mereka.

Betapapun tabahnya hati mereka, namun ketika gelap mulai turun, mereka pun menjadi berdebar-debar juga. Bahkan dengan jujur pemimpin kelompok itu berkata, “Kita harus menemukan ketenangan hati. Aku merasa gelisah oleh tugas yang sangat berat ini, meskipun aku adalah orang yang tidak pernah tergetar jantungku melihat tanganku bergelimang darah. Tetapi kali ini kita mengemban tugas yang memang sangat berat dan sulit. Kita harus mengakui, agar dengan demikian kita dapat melangkah di atas tanah yang mapan, bukan sekadar dalam kebanggaan mimpi.

Kawan-kawannya hanya mengangguk-angguk saja. Mereka menyadari sepenuhnya betapa beratnya tugas mereka. Memasuki sebuah pesanggrahan perang seorang Adipati yang sedang memimpin pasukannya, siap untuk bertempur. Apalagi seorang Adipati yang memiliki ilmu yang sangat tinggi.

Demikianlah ketika malam mulai turun, maka keempat orang itu pun benar-benar telah bersiap lahir dan batin. Dengan kepala tengadah mereka memandang pesanggrahan yang telah diselubungi oleh kegelapan. Pesanggrahan yang terletak disebuah padukuhan dipinggir Bengawan Sore.

Sejenak kemudian maka mereka pun mulai melangkahkan kaki mereka mendekati pesanggrahan itu. Perlahan-lahan dan sangat berhati-hati. Tidak mustahil bahwa mereka akan dapat bertemu dengan sekelompok prajurit yang sedang mengamati keadaan di sekitar pesanggrahan itu.

“Penjagaan yang paling kuat adalah pada wajah pesanggrahan itu yang menghadap ke Bengawan Sore,” berkata pemimpin kelompok itu. “Sebagaimana pernah kita bicarakan, kita akan memasuki lingkungan pesanggrahan lewat lambung sebelah kiri. Bukan begitu?”

“Ya,” jawab kawannya yang pernah memasuki pesanggrahan itu, “Jika kita berhasil masuk, maka aku telah melihat arah yang harus kita tuju di dalam pesanggrahan.”

Pemimpin kelompok itu mengangguk-angguk. Sementara itu, semakin dekat mereka dengan pesanggrahan, mereka pun menjadi semakin berhati-hati. Bahkan untuk beberapa saat mereka harus menunggu, karena malam masih terlalu dangkal untuk melakukan tugas mereka.

Namun akhirnya saat yang mereka tunggu, yang menurut perhitungan mereka paling tepat untuk melakukan tugas itu telah datang juga. Beberapa saat menjelang tengah malam.

Dengan hati-hati mereka telah merayap mendekati pesanggrahan dari lambung kiri. Kemudian mereka mencari tempat yang terlindung untuk mulai dengan usaha mereka memasuki pesanggrahan itu.

“Kita harus melakukan bersama-sama,” berkata pemimpin kelompok itu. “Aku akan melepaskan ilmu sirep. Aku minta kalian membantuku dengan cara apapun juga yang dapat kalian lakukan. Dengan demikian maka ilmu sirep itu akan menjadi semakin tajam. Jika saatnya sampai, maka para prajurit tentu akan tertidur nyenyak.”

Meskipun ketiga orang kawannya tidak memiliki ilmu yang dapat melepaskan ilmu sirep, namun mereka dapat membantu dengan cara mereka masing-masing untuk mendorong kemampuan ilmu sirep itu agar menjadi lebih tajam.

Demikianlah, maka ketiga orang kawannya tudak memiliki ilmu yang dapat melepaskan sirep, namun mereka dapat membantu dengan cara mereka masing-masing untuk menodrong kemampuan ilmu sirep itu agar menjadi lebih tajam.

Udara malam yang sejuk terasa menjadi semakin sejuk. Angin yang sumilir menyentuh dedaunan, mengusap tubuh-tubuh para prajurit yang sedang bertugas.

Beberapa orang prajurit yang duduk di dalam regol gardu pesanggrahan itu masih sibuk berbincang tentang tugas-tugas mereka. Dua orang di antara mereka mencoba melawan perasaan kantuk dengan permainan macanan. Permainan yang memang sering mereka lakukan jika mereka bertugas. Sementara itu, dua orang di antara mereka bertugas di regol dengan senjata telanjang. Mereka berjalan hilir mudik dengan tegapnya. Sedangkan di sela-sela longkangan, di antara bangunan-bangunan yang ada di pesanggrahan itu, beberapa orang prajurit sedang berjaga-jaga pula. Di sudut belakang pesanggrahan itu dua orang prajurit juga berjalan hilir mudik, silang menyilang. Sedangkan disudut lain, dua orang prajurit berdiri tegak memandang kegelapan.

Sebenarnyalah bahwa penjagaan di dalam pesanggrahan itu cukup kuat. Hampir setiap sudut pesanggrahan itu dapat dijangkau oleh pengamatan para prajurit bertugas.

Di luar pesanggrahan, empat orang sedang dengan tekun menyebarkan satu kekuatan yang dapat mempengaruhi ketahanan para prajurit yang bertugas. Dengan ilmu sirep maka para prajurit itu akan diserang oleh perasaan kantuk yang tidak terlawan.

Untuk beberapa saat, terjadi benturan kekuatan antara para prajurit yang bertugas dengan ilmu sirep yang mulai menyelubungi pesanggrahan itu. Para perwira tertinggi di pesanggrahan itu memang sudah tertidur sejak menjelang tengah malam. Mereka mempercayakan penjagaan dan pengamatan kepada para prajurit yang sedang bertugas. Sehingga dengan demikian mereka tidak sempat menyadari apa yang telah terjadi. Bahkan mereka pun bagaikan telah dibius sehingga pada saat mereka tidur, terasa tidur itu menjadi semakin nyenyak.

Dua orang yang sedang bermain makanan pun telah tidak sanggup lagi berpikir. Mereka sekali-kali masih melihat batu kerikil yang mereka pergunakan sebagai biji-biji permainan. Namun sekali-kali batu-batu kerikil itu menjadi kabur dan tidak lagi dapat mereka lihat karena mata mereka mulai terpejam.

Seorang prajurit yang bertugas malam itu sebagai penanggung jawab penjagaan dan pengamatan berusaha untuk menyadari apa yang telah terjadi. Ada niatnya untuk bangkit dan melihat berkeliling. Namun niatnya itu tidak pernah dilakukannya. Ia memang turun dari gardu. Dengan sisa kesadarannya ia melihat obor yang terpancang di atas regol. Namun kemudian ia telah duduk kembali dibibir gardu. Rasa-rasanya badannya menjadi sangat berat untuk turun lagi dan berjalan berkeliling.

Pada saat yang demikian, kawan-kawannya yang berada digardu itu pun telah mulai tertidur pula. Bahkan ada di antara mereka yang justru mulai mendengkur.

“He, siapa tertidur itu?” geram pemimpin kelompok yang bertugas itu.

Tidak ada jawaban. Prajurit yang bertanggung jawab itu berpaling. Tetapi yang dilihatnya sekadar bayangan-bayangan kabur yang tidak jelas. Bahkan kemudian prajurit itu pun telah tersandar dinding gardu pula. Sementara matanya mulai terpejam.

Angin malam yang sejuk mengusap wajahnya. Matanya yang terpejam menjadi semakin rapat.

Prajurit yang bertugas memimpin kelompok itu tidak sempat melihat bahwa dua orang diregol itu pun telah tertidur pula. Bahkan prajurit-prajurit yang bertugas di sudut-sudut belakang dan di long-kangan.

Demikian, maka pesanggrahan itu benar-benar telah menjadi lengang. Yang ada hanyalah tarikan-tarikan nafas yang teratur karena para petugas malam itu sudah tertidur.

Dalam pada itu, pemimpin dari empat orang yang mendapat tugas dari Ki Patih Mantahun telah mencapai puncak ilmunya. Ketika ia kemudian mengangkat wajahnya, maka ia pun berdesis dengan penuh keyakinan, “Ilmuku sudah mencengkam seluruh isi pesanggrahan.”

Kawan-kawannya pun telah mulai bangkit pula dari usaha mereka untuk membantu dengan cara mereka masing-masing. Berarti atau tidak berarti, karena mereka pun yakin, tanpa bantuan mereka, sirep itu pun akan dapat mencengkamnya.

“Marilah,” berkata pemimpin dari keempat orang itu, “Kita memasuki pesanggrahan. Meskipun aku yakin bahwa sirepku telah mempengaruhi seisi pesanggrahan, namun kita harus tetap berhati-hati. Mungkin ada satu dua orang yang terlepas dari pengaruh sirepku.”

“Bagaimana dengan barak-barak lain di luar lingkungan itu?” bertanya seorang di antara keempat orang itu.

“Mereka tidak tahu apa yang terjadi di induk pesanggrahan ini,” jawab pemimpinnya. “Tetapi sekali lagi, kita memang harus berhati-hati. Kita tahu bahwa beberapa puluh tonggak dari tempat ini terdapat juga barak-barak para prajurit Pajang. Bahkan tidak hanya di satu tempat. Tetapi jarak itu cukup memisahkan persoalan yang akan terjadi malam ini di pesanggrahan Adipati Hadiwijaya ini.”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Tetapi mereka tidak menjawab.

Demikianlah maka mereka berempat pun telah menuju ke tempat yang mereka anggap paling baik. Mereka akan memasuki pesanggrahan Adipati Hadiwijaya itu dari lambung kiri.

Untuk beberapa saat lamanya, keempat orang itu berusaha untuk meyakinkan bahwa di dalam halaman pesanggrahan tidak terdapat lagi para prajurit yang berjaga-jaga atau berjalan mengelilingi halaman.

Mereka memang tidak mendengar sesuatu. Mereka tidak mendengar gemeremang atau langkah yang berdesir. Bahkan mereka tidak mendengar tarikan nafas di balik dinding halaman itu.

“Aku akan melihatnya,” desis salah seorang dari keempat orang itu.

Pemimpinnya tidak berkeberatan. Dibiarkannya seorang kawannya meloncat dengan sangat hati-hati ke atas dinding.

Orang itu pun kemudian menelungkup melekat dinding halaman itu sambil memperhatikan isi halaman pesanggrahan.

Untuk beberapa saat orang itu berdiam diri. Namun ternyata bahwa ia sama sekali tidak mendengar apapun juga dan tidak melihat sesuatu yang bergerak. Suasana di pesanggrahan itu bagaikan menjadi beku.

Orang itu pun memberikan isyarat kepada kawan-kawannya. Karena itu maka sejenak kemudian, ketiga orang yang lain pun telah berloncatan pula. Setelah menunggu sejenak diatas dinding, maka hampir berbareng mereka meluncur turun ke dalam lingkungan halaman pesanggrahan itu dan untuk beberapa saat mereka berusaha bersembunyi dibalik perdu.

Namun tiba-tiba seorang di antara mereka berdesis sambil menunjuk ke arah sesuatu.

“Apa?” bertanya kawannya.

Namun akhirnya mereka berempat sempat melihat. Dua orang prajurit yang tertidur nyenyak, terbaring ditanah dibawah bayangan tanaman hias yang tumbuh di halaman samping. Tanaman yang nampaknya kurang terpelihara, karena para prajurit agaknya lebih memperhatikan senjata mereka daripada tanaman hias yang tumbuh di halaman.

 “Mari kita lihat,” desis pemimpin kelompok itu.

Dengan hati-hati pula mereka berempat pun berusaha mendekati kedua orang yang tertidur itu. Ketika mereka menyentuh tubuh itu, maka agaknya keduanya tertidur sangat nyenyak.

“Marilah,” berkata pemimpin kelompok, “Kita sudah berhasil membuat mereka dan tentu juga seisi pesanggrahan ini tidur.”

“Kemana kita sekarang?” bertanya salah seorang di antara mereka.

“Jangan membuang waktu,” jawab pemimpinnya. “Kita langsung menuju ke bilik Adipati Hadiwijaya. Kita harus menemukannya dalam keadaan tidur.”

“Ikut aku,” berkata orang yang pernah mengenali isi pesanggrahan itu. Ia sudah mengetahui sebagaimana dikatakan oleh orang-orang yang bekerja didapur, bahwa Adipati Hadiwijaya ada di dalam sebuah barak khusus yang dibangun kemudian. Bukan berada di dalam rumah induk yang memang sudah ada sebelumnya.

Seperti pada saat mereka masuk, maka dengan hati-hati sekali mereka mendekati barak itu. Di kelokan longkangan mereka menemukan dua lagi prajurit yang tertidur nyenyak.

“Apakah kita tidak memaksa mereka untuk tidur selama-lamanya?” bertanya salah seorang diantara keempat orang itu.

“Tidak perlu” jawab pemimpinnya, “kita hanya akan membuang waktu. Mereka tidak akan terbangun sampai fajar. Mungkin seseorang dapat mengguncang-guncangnya. Tetapi selama sisa pengaruh sirep itu masih menyelubungi pasanggrahan ini, maka ia akan tetap tertidur.”

Kawannya rnengamgguk-angguk. Mereka yakin bahwa yang dikatakan oleh pemimpin kelompoknya itu benar.

“Marilah” berkata pemimpin kelompok itu, “jangan terlambat. Jika ada prajurit penghubung dari barak-barak yang lain datang ke tempat ini, maka mereka tentu akan men­jumpai, keadaan yang mengejutkan.”

“Jika mereka memasuki lingkungan ini, apakah mereka tidak terkena sirep?” bertanya seorang yang lain.

“Mungkin ia akan dapat terkena pengaruhnya” jawab pemimpin kelompok itu.

“Tetapi kita sendiri tidak” desis yang lain.

“Kita memasuki daerah sirep ini dengan sadar dan kesiagaan” jawab pemimpin kelompok itu.

Demikianlah, maka mereka pun langsung menuju ke barak Adipati Hadiwijaya. Ketika dengan hati-hati mereka merangkak mendekat, maka mereka menemukan dua orang penjaga di pintu barak itu tertidur pula dengan nyenyaknya. Bahkan seorang diantaranya telah mendengkur meskipun tidak terlalu keras.

Sejenak keempat orang itu termangu-manga. Mereka sadar, bahwa yangberada didalam barak itu adalah seorang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi. Satu pertanyaan telah menggelitik hati.

”Apakah Adipati Hadiwijaya juga terkena pengaruh sirep?”    `

Tetapi menurut perhitungan mereka, Adipati Pajang itu memang sudah tertidur sejak malam merambat semakin da­lam. Bahkan sebelum sirep itu mencengkam seisi pasanggrahan. Karena itu ada atau tidak ada sirep, maka Adipati Hadiwijaya itu tentu tertidur didalam barak itu. Jika kemudian sirep itu juga menyentuhnya., maka tidurnya pun akan menjadi semakin nyenyak.

“Meskipun demikian, keempat orang itu masih juga berdebar-debar. Rasa-rasanya mereka akan memasuki sebuah kandang harimau putih yang paling garang, mempunyai kulit yang kebal sebagaimana pernah mereka dengar dalam ceritera-ceritera. Bahkan menurut ceritera Ki Patih Mantahun, bahwa salah satu kekuatan aji Adipati Pajang adalah aji Macan Putih, disamping aji Lembu Sekilan dan Tameng Waja yang diwarisinya dari mertuanya, Kanjeng Sultan Trenggana.

Namun keempat orang itu berharap bahwa dalam keadaan tidur, semua aji itu tidak diterapkannya, karena ia merasa bahwa barak itu telah dijaga dengan kuatnya.

Sejenak kemudian, maka keempat orang itu pun telah merayap sejengkal demi sejengkal mendekati pintu. Mereka harus meyakinkan tentang kedua orang prajurit yang tertidur itu.

Demikianlah seorang di antara keempat orang itu pun telah merangkak mendekati kedua orang prajurit yang tidur tersandar dinding. Kedua tombak dari kedua prajurit tersandar pula.

Dengan mendengarkan pernafasannya dan bahkan kemudian meraba tubuhnya, maka orang yang mendekatinya itu pun yakin bahwa keduanya tertidur tanpa mungkin angun dalam waktu dekat.

Pemimpin kelompok itu pun mengangguk-angguk ketika ia mendapat isyarat dari orang yang sudah berada di depan pintu itu.

Keempat orang itu pun kemudian telah berada didepan pintu pula. Mereka tidak mematikan obor yang terpancang di atas pintu, agar jika masih juga ada orang yang terbangun dan melihat dari kejauhan tidak menjadi curiga karenanya.

“Kita akan masuk?” berkata pemimpin kelompok itu.

“Ya. Kita akan masuk,” desis yang lain.

Mereka pun perlahan-lahan mencoba membuka pintu. Ternyata pintu diselerak dari dalam.

“Apakah kita akan memecahkan pintu?” bertanya salah seorang dari keempat orang itu.

“Tidak,” jawab pemimpin kelompok. “Dengan demikian kita akan membuat kisruh. Keretak selarak pintu yang patah mungkin akan dapat membangunkan Adipati Pajang itu sendiri.”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Namun seorang di antara mereka bertanya, “Lalu apakah yang akan kita lakukan?”

“Kau dapat berlaku seperti pencuri. Kau masuk ke dalam barak dengan menggali bebatur di bawah dinding,” berkata pemimpinnya.

Kawannya tidak membantah. Ia sadar, bahwa dalam keadaan yang demikian, mereka harus bekerja sama sebaik-baiknya. Waktu mereka tidak terlalu banyak.

Sejenak kemudian, maka seorang di antara mereka telah menggali tanah dibawah dinding bambu sebuah bangunan baru yang ternyata adalah barak kecil yang dipergunakan oleh Adipati Pajang itu sendiri.

Untuk menggali itu memang diperlukan waktu. Tetapi karena hal itu sudah sering dilakukannya pada saat orang itu masih melakukan pencurian dahulu, maka pekerjaan itu termasuk cepat pula selesai. Apalagi tanah memang tidak begitu keras.

Dari lubang itulah maka orang yang menggali itu masuk. Sejenak kemudian, maka selarak pintu pun telah terangkat dan pintu itu sudah terbuka.

“Terima kasih,” berkata pemimpin kelompok. “Mari jangan membuang waktu.”

Keempat orang itu pun kemudian memasuki barak kecil itu, sementara pintu pun telah ditutup kembali dari dalam.

Sejenak keempat orang itu termangu-mangu. Mereka berdiri disebuah ruang yang sempit. Sementara itu, mereka menghadapi sebuah pintu lagi yang tertutup.

Seorang di antara keempat orang itu telah meraba pintu yang tertutup itu. Kemudian ia pun berdesis, “Sebuah pintu lereg.”

“Apakah pintu itu juga diselarak?” bertanya pemimpin kelompoknya.

Orang itu meraba pintu itu mencoba untuk mendorongnya, karena pintu itu harus digeser menyamping jika hendak dibuka.

Ternyata pintu itu tidak diselarak. Karena itu, maka dengan sangat hati-hati pintu itu pun telah dibuka.

Keempat orang terkejut ketika sebatang tombak rebah di sela-sela pintu yang terbuka sedikit itu. Untunglah bahwa seorang diantara mereka cepat menangkapnya.

Untuk beberapa saat meresa saling berpandangan. Na­mun kemudian mereka pun menyadari bahwa tombak itu tersandar di pintu, karena para penjaga yang tertidur didalam ruang sebelah.

Ketika pintu itu terbuka semakin lebar, maka sebenarnya­lah, dua orang prajurit di sebelah menyebelah pintu itu telah tertidur nyenyak.

Keempat orang itu sempat menarik nafas dalam-dalam kemudian mereka pun telah memasuki sebuah ruang dalam yang lebih luas.

Bangunan yang tidak begitu besar itu ternyata telah di­buat dengan baik dan kuat. Meskipun dari luar barak itu nampaknya sederhana, tetapi di bagian dalam ruangan-ruangan­nya diatur dan dihiasi dengan baik, sehingga memberikan ke­tenangan penghuninya.

“Ada tiga bilik” desis salah seorang dari keempat orang itu.

“Jelas bukan yang tengah” desis pemimpin kelompoknya, “kau lihat bahwa pintu di bilik tengah itu tidak tertutup rapat sehingga kita dapat melihat kedalam.”­

“Memang biasanya tidak di bilik tengah” sahut kawannya.

Sebenarnyalah bahwa di bilik tengah itu hanya terisi oleh sebuah pembaringan yang besar dengan berbagai kelengkapan tidur yang bertumpuk. Tetapi tidak dipergunakan oleh siapa pun juga.

“Sekarang kita tinggal memilih” berkata pemimpin kelompok, ”yang sebelah kiri atau yang sebelah kanan.”

“Kita akan melihatnya” desis seorang diantara me­reka.

Dengan sangat berhati-hati orang itu mendekati pintu. Dengan pendengarannya yang tajam ia mendengarkan tarikan nafas didalamnya. Namun keningnya berkerut, ketika terdenagar tarikan nafas tidak hanya seorang.

Orang itu pun telah memanggil dengan isyarat ketiga kawannya untuk meyakinkannya, bahwa yang didengarnya ada­lah tarikan nafas beberapa orang.

“Kita mencari kesempatan untuk mengintip” bisik sa­lah seorang diantara mereka.

Yang lain mangangguk-angguk.

Dengan hati-hati orang itu pun berusaha untuk melihat ke dalam lewat celah-celah dinding dan pintu. Dengan mengungkit dinding bilik itu, maka orang itu dapat melihat, siapakah yang berada didalam bilik.

Orang itu mengerutkan keningnya. Selangkah ia bergeser surut. Dengan demikian maka berturut-rturut ketiga orang kawanya pun dapat mengintipnya pula.

“Puteri” desis pemimpin keloanpak itu “tentu per­maisuri. Sedangkan yang tidur di latai adalah para embannya,

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Sementara itu, maka pemimpin kelompak itupun berkata selanjutnya “Jika demikian, maka Adipati Pajang tentu berada di bilik sebelah.”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Namun nampak kegelisahan mulai menyentuh lagi jantung mereka.

Pemimpin kelompok itu pun kemudian mulai mengatur diri. Dengan nada rendah ia berkata, “Aku dan seorang diantara kalian akan memasuki bilik itu dan sekaligus mem­bunuh Adipati Pajang. Sementara dua orang yang lain akan menjaga pintu. “Mungkin saja terjadi satu kesulitan, bahkan ada orang yang memasuki ruang ini pula. Kalian berdua harus bertahan agar tidak seorangpun masuk kedalam: ruang itu sebelum aku keluar setelah menghunjamkan sejataku ke tubuh Adipati Pajang.”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk.

Dengan demikian maka mereka berempatpun telah men­dekati bilik sebelah. Sejenak Mereka termangu-mangu di muka bilik itu dengan jantung yang tegang.

Dalam pada, itu, malam memang sudah menjadi se­makin dalam. Tengah malam sudah lewat beberapa lama. Udara malam masih saja terasa sejak mengusap tubuh-butuh yang tertidur. Namun demikian, keringat dingin telah mem­basahi pakaian keempat orang yang berusaha untuk membu­nuh Adipati Hadiwijaya.

Dalam heningnya malam mereka mendengar suara cengkerik yang berderik di halaman. Bahkan mereka pun telah men­dengar suara angkup dan bajangkerek yang ngelangut.

Keempat orang itu mengangkat wajahnya ketika mereka mendengar suara kentongan di kejauhan. Seorang di antara mereka berbisik, “Kentongan manakah yang berbunyi tu?”

“Cukup jauh,” jawab pemimpin kelompoknya. “Jangan hiraukan.”

Kawannya tidak menjawab lagi. Sementara itu, maka kedua orang yang sudah ditentukan termasuk pemimpin kelompok itu pun telah mendekati pintu. Mereka masing-masing telah menggengam keris telanjang di tangannya, sementara dua orang ang lain akan menjaga di luar pintu. Mereka pun telah menggenggam keris pula di tangan masing-masing.

Pemimpin kelompok itu telah mulai meraba pintu. Dicobanya untuk mendorong ke samping. Namun orang itu menarik nafas dalam-dalam. Pintu itu pun tidak diselarak dari dalam.

Tetapi justru demikian itu, ketika pintu mulai bergerak tangannya pun menjadi gemetar. Karena itu, maka pintu itu pun dilepaskannya sambil menarik nafas dalam-dalam.

Kawan-kawannya hanya termangu-mangu saja memperhatikan pemimpin kelompok yang nampaknya memang menjadi sangat tegang itu. Mereka menyadari apa yang bergejolak di dalam jantungnya, sebagaimana di dalam jantung mereka masing-masing

Dalam pada itu, suara bajangkerek rasa-rasanya menjadi semakin keras. Semakin hening suasana malam, maka suara itu menjadi semakin jelas dan bahkan semakin ngelangut. Apalagi bagi mereka yang pernah mendengar ceritera tentang terjadinya ajangkerek itu.

Untuk beberapa saat orang-orang di dalam kelompok itu yang menjadi utusan Ki Patih Mantahun itu bagaikan membeku. Namun pemimpin kelompok itu segera menyadari apa yang terjadi. Karena itu, maka tiba-tiba ia pun berdesis, “Marilah. Tabahkan hati kalian, sebagaimana harus aku lakukan.”

Sekali lagi orang itu memegang daun pintu lereg. Tetapi tangan itu sudah tidak ergetar lagi.

Perlahan-lahan orang itu mendorong pintu ke samping. Ketika celah-celah pintu itu menjadi semakin lebar, maka jantungnya memang bergejolak semakin keras. Mereka berempat kemudian melihat Adipati Hadiwijaya itu tidur dengan berselimut kain panjang. Justru membelakangi pintu yang sudah terbuka itu.

Untuk beberapa saat lamanya keempat orang itu berusaha menenangkan gejolak jantung mereka. Baru kemudian pemimpin kelompok serta seorang lagi yang ditugaskannya untuk memasuki bilik itu bersamanya mulai melangkah masuk. Perlahan-lahan dan sangat berhati-hati.

Adipati Hadiwijaya itu tidak boleh terbangun dan apalagi sempat membangunkan aji Macan Putihnya atau ajinya yang lain yang dapat membuatnya kebal.

Beberapa langkah dibelakang Adipati Pajang yang membelakangi pintu itu, kedua orang itu berhenti. Mereka pun telah membuat ancang-ancang dan mengeterapkan semua ilmu dan kemampuan yang ada pada mereka. Keris ditangan mereka mulai bergetar. Bahkan seakan-akan keris itu mulai membara. Keris yang seolah-olah merasa sangat kehausan itu pun kemudian telah siap menerkam mangsanya serta menghisap darahnya.

Sejenak kemudian berdiri tegak. Namun sejenak kemudian maka keduanyapun telah meloncat menerkam dengan ujung keris masing-masing.

Suara bajangkrek diluar menjadi semakin keras. Seakan-akan menjerit kesakitan meskipun tikaman keris itu mengenai Adipati Pajang dan sama sekali tidak menyentuh bajangkrek itu.

Namun kedua orang itu menjadi heran dan bahkan kemudian menjadi berdebar-debar dan kebingungan. Ujung keris mereka sama sekali tidak mampu menembus kulit Adipati Pajang itu.

Namun keduanya tidak putus asa. Dengan mengerahkan segenap kekuatan dan tenaga mereka mengulangi lagi, menghujamkan keris di tangan mereka ke tubuh Adipati Pajang yang nampaknya tertidur lelap itu.

Tetapi keris itu pun sama sekali tidak berhasil melukai kulit Adipati Pajang. Bahkan ternyata hiruk pikuk itu justru telah membangunkannya.

Ketika Adipati Pajang menyingkapkan selimutnya dan ujung kain panjangnya mengenai kedua orang yang sedang berusaha membunuhnya itu, maka rasa-rasanya kedua orang itu telah tertimpa setumpuk batu padas yang runtuh dari tebing pegunungan.

Karena itu, maka keduanya telah terlempar dan terbanting jatuh sampai ke depan pintu bilik itu.

Kedua kawannya yang berada diluar, ketika mendengar kedua kawannya jatuh terguling dilantai, telah meloncat pula menjenguknya. Namun yang mereka lihat adalah, kedua kawannya itu telah terkapar dilantai. Dengan susah payah keduanya berusaha untuk bangkit berdiri, sementara keduanya justru telah mendorong kawan-kawannya yang datang membantunya itu untuk keluar dari dalam bilik itu.

Kedua kawannya yang sedang menolong itu pun menyadari keadaan ketika mereka melihat Adipati Pajang itu bangkit dari tidurnya dan kemudian duduk dibibir pembaringannya itu.

Karena itu maka dengan tergesa-gesa mereka keluar dari bilik itu dan berusaha untuk berlari ke pintu keluar.

Namun sekali lagi mereka terkejut. Ketika mereka berada di ruang tengah, maka dihadapan mereka telah berdiri dua orang dengan tangan bersilang didada.

Hampir di luar sadarnya, salah seorang di antara keempat orang itu berdesis, “Ki Pemanahan dan Ki Penjawi.”

“Kau mengenal aku?” bertanya Ki Pemanahan.

“Ya. Aku mengenal tuan berdua,” suara orang itu mulai gemetar.

Namun pemimpin kelompok kecil itu dengan cepat menguasai diri sambil menggeram, “Jangan mencoba menghalangi kami.”

Tetapi Ki Pemanahan dan Ki Penjawi itu tertawa. Sementara Ki Pemanahan itu pun bertanya, “Apakah kalian berhasil membunuh Kanjeng Adipati?”

Pemimpin kelompok itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian terdengar jawabannya, “Minggir, atau kerisku akan menghisap darah kalian.”

“Jangan keras kepala,” sahut Ki Penjawi. “Kalian telah terkepung. Seandainya kalian lolos dari pintu ini, maka diluar, prajurit Pajang telah siap untuk menghujani kalian dengan ujung senjata.”

“Aku tidak peduli,” jawab orang itu.

“Tenanglah. Lihatlah dibelakangmu. Kanjeng Adipati telah turun dari peraduan. Kalian hampir pingsan terkena ujung kain panjangnya, apalagi jika Kanjeng Adipati dengan sengaja berbuat sesutau atas kalian.”

Wajah keempat orang itu menjadi semakin tegang. Mereka menyadari dengan siapa mereka berhadapan. Ki Pemanahan dan Ki Penjawi adalah dua orang Panglima yang sangat disegani oleh siapapun juga. Mereka memiliki kemampuan yang sangat tinggi pula. Apalagi Kanjeng Adipati Hadiwijaya itu pun telah berada dibelakangnya pula.

“Nah,” bertanya Ki Pemanahan. “Apakah kalian masih akan melawan?”

Pemimpin kelompok kecil utusan Ki Patih Mantahun yang akan membunuh Kanjeng Adipati itu pun memandangi wajah kawan-kawannya. Nampaknya wajah-wajah itu telah diwarnai dengan keputusasaan. Apakah yang akan mereka lakukan tidak akan memberikan arti apa-apa. Mereka memang sudah merasakan, ujung kain panjang Adipati Pajang itu telah mendorong mereka sehingga mereka jatuh terbanting dilantai.

Sementara itu terdengar Adipati Pajang berkata, “Sudahlah. Jangan kau risaukan apa yang telah terjadi. Duduklah.”

Keempat orang itu menjadi semakin bingung. Namun ketika mereka sekali lagi memandang wajah Adipati Pajang, rasa-rasanya kewibawaannya telah mencengkam jantung mere­ka, sehingga mereka sama sekali tidak dapat melawannya.

Dengan lemahnya keempat orang itu pun kemudian duduk di lantai. Kangjeng Adipati Pajang, Ki Pemanahan dan Ki Penjawi berdiri di hadapan mereka dengan jarak beberapa langkah.

Tanpa mengangkat wajah wajah mereka, keempat orang itu duduk dengan jantung yang berdebaran.

“Kalian tidak meamerlukan senjata itu” berkata Ki Penjawi.

Keempatnya dengan gugup telah menyarungkan keris me­reka. Sementara Ki Pemanahan berkata, “Nah, dengan demikian kita akan dapat berbicara, dengan lebih baik.”

Keempat orang itu masih tetaip duduk sambil menundukkan wajah wajah mereka.

“Ki Sanak” berkata Adipati Pajang kemudian, “ter­nyata kalian memiliki ilmu yang luar biasa. Kalian telah me­nyebartikan ilmu sirep yang demikian tajamnya sehingga semua prajurit yang ada di pasanggrahan ini telah tertidur nyenyak.”

Keempat orang itu sama sekali tidak berani menjawab.

“Beruntunglah bahwa kami bertiga terlepas dari ser­gapan ilmu sirepmu itu, sehingga kami terlepas dari bahaya maut. Khususnya aku sendiri” berkata Kangjeng Adipati.

Keempat orang itu menjadi semakin tunduk. Mereka su­dah tidak dapat membayangkan lain tentang diri mereka, da­ripada tergantung di tiang gantungan besok dan menjadi ton­tonan orang-orang Pajang.

“Satu tontonan yang tentu menyenangkan mereka” berkata pemimpin kelompok itu didalam hatinya.

Sementara itu, Ki Pemanahan berkata, “Ki Sanak. Sampai sekarang pengaruh sirepmu masih mencengkam. Lihat, prajurit yang tertidur itu masih juga tidur dengan nyenyaknya.”

Tidak ada jawaban sama sekali, sedangkan kepala yang tunduk itu masih saja menunduk. Bahkan semakin dalam.

“Keributan yang terjadi di ruang ini sama sekali tidak dapat membangunkannya” berkata Ki Penjawi.

Jantung keempat orang itu menjadi semakin berdegupan

Akhirnya sebenarnyalah Adipati Pajang sampai pada satu pertanyaan yang sangat ditakuti oleh keempat orang itu. De­ngan nada rendah Adipati Pajang bertanya, “Ki Sanak. Siapakah sebenarnya kalian dan siapakah yang memerintahkan ka­lian melakukan perbuatan yang tercela ini ?”

Keempat orang itu menunduk semakin dalam, namun jantung mereka terasa berdentangan. Pertanyaan itu adalah per­mulaan dari kesulitan-kesulitan yang bakal datang dan akan memuncak pada satu cengkaman badani dan jiwani yang mungkin akan sangat berat bagi mereka.

Kadang-kadang memang timbul dorongan untuk membunuh diri saja dengan melawan ketiga orang itu. Tetapi tar­nyata mereka tidak mempunyai keberanian untuk melakukan­nya meskipun mereka adalah orang-orang pilihan. Wibawa dari ketiga orang itu benar-benar tidak teratasi oleh kegarang­an mereka sebagaimana mereka nyatakan sebelum mereka berangkat.

 “Siapa Ki Sanak?” bertanya Ki Pemanahan pula.

“Maaf Kangjeng Adipati” jawab pemimpin kelompok itu. Tetapi betapapun ia berusaha untuk menunjukkan kebe­saran jiwanya, namun suaranya masih tetap bergetar, “Kang­jeng Adipati tentu sudah mengetahui, bahwa hamba tidak akan dapat menjawab pertanyaan Kanjeng Adipati itu.”

Adipati Pajang itu termangu-mangu sejenak. Namun ia­pun justru tersenyum sambil berkata “Bagus. Ternyata ka­lian adalah orang-orang yang memang pantas melakukan tugas seperti ini. Selain memiliki ilmu yang tinggi, kalian juga mampu merahasiakan dan menjunjung nama orang yang me­merintahkan kalian melakukan tindakan ini.”

“Itu adalah kewajiban hamba Kangjeng Adipati dan juga tanggung jawab hamba.” suara pemimpin kelompok itu masih bergetar.

“Benar sekali” desis Adipati Pajang, “kau harus ber­tanggung jawab sebagai akibat dari kesediaannnu melakukan tugas ini. Bagi kalian tentu lebih baik mati dalam keadaan yang bagaimanapun juga daripada berbicara tentang orang yang menugaskan kalian.”

Pemimpin kelompok itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menjawab, sementara dada mereka berempat te­rasa menjadi semakin sesak.

 “Kematian dan penderitaan tentu bukan apa-apa bagi kalian yang setia pada janji” berkata Adipati Pajang, ”sifat itulah yang sangat menyenangkan bagi lawan-lawan kalian, karena mereka mendapat kesempatan untuk bertanya lebih la­ma. Tetapi jika kau dengan serta merta mengaku, maka per­mainan pun akan segera berhenti.”­

Keringat dingin semakin deras mengalir di seluruh tubuh keempat orang itu. Tetapi mereka memang sudah menyadari, jika mereka gagal dan apalagi tertangkap maka akibatnya akan terjadi sebagaimana yang dikatakan oleh Adipati Pa­jang.

Apalagi keempat orang itu menyadari, sifat-sifat Adipati Pajang pada masa mudanya. Maka kemungkinan yang pa­ling pahit akan mereka alami.

Tetapi itu, adalah akibat yang memang mungkin terjadi atas mereka yang telah menyatakan kesediaan untuk mengem­ban tugas yang sangat berat itu. Jika mereka berhasil, maka nama mereka akan disanjung di seluruh Jipang. Namun jika gagal, yang paling pahit itu lah yang akan dialaminya.

Karena keempat orang itu tidak segera menjawab, maka Ki Pemanahan lah yang berbicara, “Ki Sanak. Apakah ka­lian sedang mempertimbangkan kemungkinan yang paling baik yang akan kalian lakukan?”

Pemimpin kelompok itu menarik nafas dalam-dalam. Ke­mudian dengan nada dalam ia berkata, “Terserah apa yang akan tuan-tuan lakukan atas diri kami. Kami telah menyerah dan kami tidak akan dapat berbuat apa-apa. Tetapi kami terpaksa tidak dapat mengatakan apa-apa tentang diri kami.”-

Ki Pemanahan mengangguk-angguk. Sementara itu Adi­pati Pajangpun berkata, “Aku senang kepada kalian. Kalian adalah contoh dari utusan-utusan yang setia dan tidak gentar menghadapi apapun juga. Kalian tidak gentar menghadapi tiang gantungan. Bahkan kalian juga tidak gentar menghadapi tekanan yang dapat mendera tubuh kalian.”

“Apabaleh buat Kangjeng Adipati” jawab pemimpin kelompok itu, “hamba hanya ingin menempatkan diri pada kedudukan hamba. Hamba adalah orang-orang yang tidak berarti selain untuk kepentingan seperti ini. Karena itu, biar­lah hamba termasuk orang yang bertanggung jawab atas tugas yang dibebankan diatas pundak hamba.”

“Itulah yang menarik” jawab Adipati Pajang, “dalam kedudukan apapun juga seseorang harus dapat menunjukkan pertanggungan jawabnya atas kedudukan dan jabatannya. Karena itu, apa yang kau lakukan adalah satu ujud dari kesetiaan dan tanggung jawabmu.”­

Keringat keempat orang itu telah membasahi setiap be. itattg pada pakaian mereka. Pujian. itu rasa-rasanya membuat mereka semakin dekat deagan cambuk dan tongkat yang akan melecut dan mendera tubuh mereka. Bahkan mungkin api dan bara besi runcing yang dihadapkan ke biji mata mareka.

Namun Adipati Pajang itu berkata, “Karena itu Ki Sa­nak. Atas sikap kalian yang mengagumkan itu, kami sama sekali tidak akan menghukum kalian. Kalian akan kami beri kesempatan untuk meninggalkan barak ini dengan bebas dan kembali ketempat kalian berangkat. Jika yang kalian laku­kan ini alas kehendak kalian sendiri, maka aku minta untuk tidak kalian ulangi. Tetapi jika yang kalian lakukan ini ka­rena perintah seseorang, maka laporkan kepadanya apa yang telah terjadi atas kalian dan sampaikan salam kami kepada mereka.”

Hampir bersamaan keempat orang itu mengangkat wajah mereka. Namun nampak pada tatapan mata mereka, bahwa mereka kurang percaya atas keterangan itu.

“Agaknya kalian menjadi curiga bahwa kami akan men­jebak kalian dengan cara pengecut” berakta Adipati Pajang.

Tetapi Pemanahan lah yang tertawa. Katanya, “Maaf Ki Sanak. Aku telah mengatakan kepada kalian bahwa diluar prajurit Pajang telah menunggu, kalian dengan senjata dita­ngan. Tetapi sebenarnyalah bahwa sirepmu masih menceng­kam. Lihat, prajurit itu, masih belum bangun juga.”

Keampat orang itu memang menjadi bingung. Mereka ti­dak mengerti apa yang sebenarnya akan terjadi atas mereka. Namun sekali lagi Kangjeng Adipati Pajang berkata, “Ting­galkan pasanggrahan ini dengan tanpa perasaan cemas asal ka­lian tidak terperosok kedalam barak yang lain. Aku jamin, bahwa lalian akan selamat keluar dari dinding halaman barak ini. Asal kalian langsung meninggalkan lingkungan pasang­grahan pasukan Pajang dengan hati-hati dan tidak mengganggu prajurit yang sedang meronda, maka kalian akan selamat sampai ke rumah. Sekali lagi sampaikan salamku kepada orang yang memerintahkan kalian dan barangkali kau akan dapat membawa sekedar uang untuk keluargamu”

Benar-benar diluar dugaan. Adipati Pajaag itu pun telah mengambil segenggam uang. Dilemparkannya keping-keping uang itu kepada keempat orang itu.

“Ambil atas perintahku atau kami akan menggantungmu di tepi Bengawan Sore agar dilihat oleh orang-orang Jipang bahwa kepercayaannya tidak berdaya berbuat sesuatu di pa­sanggrahan orang-orang Pajang.” barkata Adipati Hadiwi­jaya.

Denyut jantung orang-orang yang menjadi utusan Ki Patih Mantahun itu terasa bagaikan terhenti. Agaknya Adipati Hadiwijaya itu sudah dapat menduga, siapakah yang meme­rintahkan mereka untuk datang ke pasanggrahannya dan membunuhnya.”

Karena itu tidak ada yang dapat mereka lakukan kecuali memungut keping-keping uang itu.

“Nah, sekarang tinggalkan tempat ini sebelum para pra­jurit terbangun karena kekuatan sirepmu tidak berdaya lagi atau aku melepaskan kekuatan aji untuk menghapuskan kekuatan sirepmu. Jika aku kehendaki, atau barangkali kakang Pemanahan dan Kakang Penjawi inginkan, sirepmu sebenar­nya tidak akan berdaya apa-apa di Pasanggrahan ini. Bahkan aku atau kakang Pemanahan dan kakang Penjawi akan mampu membuat kalian berempatlah yang tertidur di pasanggrahan ini, atau membuat kalian bingung dan tidak tahu jalan ke­luar.” berkata Adipati Pajang.

Keempat orang itu pun kemudian mulai bergeser. Tetapi keragu-raguan masih nampak di wajah mereka.

“Aku adalah Adipati Hadiwijaya dari Pajang. Yang aku katakan adalah kata-kata seorang kesatria yang tidak akan palsu” berkata Adipati Pajang itu,

”Ampun Kangjeng Adipati” berkata pemimpin kelompok itu, “hamba dan kawan-kawan hamba mohon diri,”­

“Hati-hatilah” berkata Adipati Pajang, “diluar pasanggrahan banyak prajurit Pajang yang meronda. Jika ka­lian bertemu dengan mereka maka berusahalah untuk bersem­bunyi, karena jika kalian mengganggu mereka karena kalian merasa berilmu tinggi, maka kalian akan benar-benar terjebak. Tetapi itu adalah karena kesalahan kalian sendiri.”

“Ampun Kangjeng Adipati. Kami sudah barang tentu tidak akan berani melakukannya” jawab pemimpin kelom­pok itu.

Demikianlah, maka keempat orang itu pun telah meninggalkan lingkungan pasanggrahan Adipati Hadiwijaya. Mereka telah diantar oleh Ki Pemanahan dan Ki Penjawi sampai ke ­regol.

Di regol, digardu dan di beberapa tempat, para prajurit masih tertidur nyenyak. Namun sekali lagi Ki Pemanahan berkata, “Jangan kau sangka bahwa kami tidak mempunyai kekuatan yang dapat melawan ilmu sirepmu. Yang kami lakukan sementara ini adalah dengan sengaja menunggu, apa yang akan terjadi. Kangjeng Adipati sama sekali tidak sedang tertidur dan kami berdua melihat bagaimana kalian masuk halaman pasanggrahan ini lewat lambung.”

———-oOo———-

Bersambung ke Jilid 20.

Naskah diedit dari e-book yang diupload di website Tirai kasih http://kangzusi.com/SH_Mintardja.htm

Terima kasih kepada Nyi DewiKZ

<< kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s