SBB-15

<< kembali | lanjut >>

WAJAH menantu Ki Demang itu menjadi semakin sendu. Namun Kiai Badra pun berkata, “Tetapi beruntunglah orang ini, bahwa ia tidak mati sebagai seorang perampok yang akan dicampakkan ke dalam kubur dengan iringan caci dan maki.”

Menantu Ki Demang mengangguk-angguk. Katanya, “Ia mati sebagai seorang sahabat yang baik. Dan ia akan dihormati oleh seisi padukuhan, bahkan Kademangan ini.”

Kiai Badra pun kemudian berdiri sambil berdesis, “Masih ada seorang yang perlu kita perhatikan.”

Menantu Ki Demang itu pun bangkit pula. Namun ternyata bahwa mereka sudah tidak melihat lagi pertempuran. Gandar berdiri tegak disebelah sosok tubuh yang terbaring diam.

“Apakah kau membunuhnya?” bertanya Kiai Badra.

Gandar menggeleng. Katanya, “Ia tidak mati.”

Menantu Ki Demang pun kemudian bersama Kiai Badra melangkah mendekatinya. Sebenarnyalah bahwa orang itu masih hidup. Tetapi luka-luka di bagian dalam tubuhnya telah membuatnya tidak berdaya untuk melawan.

Kiai Badra pun kemudian berkata kepada menantu Ki Demang, “Mereka memerlukan perawatan. Yang terbunuh harus diselenggarakan sebaik-baiknya, sementara yang terluka memerlukan pengobatan.”

Menantu Ki Demang itu pun mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Biarlah aku memanggil para pelayanku. Biarlah mereka membantu.”

Menantu Ki Demang itu pun kemudian memanggil beberapa orang laki-laki yang juga tinggal di rumah itu. Namun mereka adalah laki-laki yang tidak akan dapat membantunya dalam kesulitan pertempuran. Jika mereka harus tampil juga dipertempuran, maka hanya berarti memperbanyak korban saja.

Orang-orang itulah yang kemudian harus mengumpulkan para prajurit Jipang yang terluka. Mereka ditempatkan di gandok, di dalam bilik yang khusus.

“Persetan,” geram salah seorang dari perwira itu ketika Kiai Badra berusaha mengobatinya, “Kenapa kau tidak membunuhku?”

“Kalian adalah prajurit-prajurit Jipang. Kami sampai saat ini masih membatasi persoalan dengan prajurit-prajurit Jipang.”

“Tetapi bukankah kalian orang-orang Pajang?” bertanya perwira itu.

“Ya. Kami orang-orang Pajang. Bukan prajurit-prajurit Pajang,” jawab Kiai Badra pula.

“Tetapi kalian akan menyesal bahwa kalian tidak membunuh kami. Jika kalian biarkan kami kembali ke dalam kesatuan kami, maka mungkin kami pun akan kembali ke rumah ini dan menghancurkan seluruh isinya.”

“Jika demikian maka kita akan bertemu lagi,” jawab Kiai Badra pula. “Mungkin aku atau Gandar akan dipanggil dalam kesatuan-kesatuan keprajuritan. Mudah-mudahan kita dapat bertemu dan bertempur dalam kedudukan yang sejajar.”

“Anak iblis,” geram perwira dari Jipang itu. “Kalian telah menghina kami. Bukan watak kami berterima kasih karena kami tidak terbunuh dalam kekalahan seperti ini.”

“Terserah kepada kalian,” jawab Kiai Badra.

Namun Gandar yang mulai jengkel menjawab, “Terima kasih atau tidak, itu bukan persoalan kami. Kami telah merasa bersyukur bahwa kami mendapat kesempatan untuk tidak membunuh lawan-lawan kami.”

Perwira-perwira Jipang itu menggeram. Seorang di antara mereka berkata, “Bagaimanapun juga kami tetap seorang prajurit. Kami tidak pernah merasa menyerah dan minta dihidupi.”

“Cukup,” Gandarlah yang memotong pembicaraan itu, “Aku tidak perlu sesorahmu. Aku akan berbuat sebagaimana ingin kami perbuat. Kalian bukan apa-apa bagi kami.”

Para perwira itu benar-benar merasa terhina. Seorang di antara mereka berkata, “Apa hakmu membentak kami?”

Wajah Gandar menjadi merah. Tetapi Kiai Badra lah yang menyahut, “Tidak ada hak kami membentak kalian. Gandar juga tidak membentak. Ia hanya menyatakan kejengkelan perasaannya, karena ia menghadapi sikap kalian yang tidak wajar? Kenapa kalian bersikap seperti itu. Kalian tidak usah berusaha untuk menutup-nutupi kekurangan kalian dengan tingkah laku yang aneh-aneh begitu. Justru bagi seorang laki-laki, maka ia akan menerima kenyataan sebagaimana adanya. Kenyataan itu adalah bahwa kami telah mengalahkan kalian. Kenapa kalian berpura-pura tidak mau menerima kenyataan, bahwa kami memang tidak membunuh kalian?”

Para perwira Jipang itu termangu-mangu. Sementara Kiai Badra berkata selanjutnya, “Sebaiknya kita berhubungan sebagaimana hubungan antara sesama. Jangan terlalu membatasi diri dengan kedudukan dan keyakinan. Kami tahu bahwa kiblat di antara kita tidak sama. Tetapi biarlah yang tidak sama itu tidak sama. Tetapi pada hakikatnya, apakah perbedaan di antara kita?”

Para perwira itu tidak menjawab. Mereka pun kemudian tidak mempersoalkan lagi ketika Kiai Badra mengobati mereka, sementara para pembantu menantu Ki Demang sibuk dengan mayat yang terdapat dihalaman. Satu di antara sosok tubuh yang membeku itu dianggap mempunyai kedudukan yang berbeda.

Dalam pada itu, menantu Ki Demang itu pun kemudian telah mendapatkan istrinya yang mendekap anaknya yang kecil di dalam biliknya. Seorang perempuan tua mengawaninya. Sementara anaknya yang besar masih tidur dengan nyenyaknya.

Dengan suara gagap terdengar istrinya itu berdesis, “Kakang, apa yang telah terjadi?”

Menantu Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Katanya dengan suara dalam, “Semuanya sudah selesai. Yang Maha Agung telah melindungi kita.”

“Jadi?” bertanya istrinya pula.

“Kami berhasil menguasai keadaan,” jawab menantu Ki Demang itu. “Tetapi benar-benar karena pertolongan Tuhan. Jika dua orang kawanku itu tidak bermalam di rumah ini, mungkin keadaannya akan berbeda.”

“O,” istrinya mendekap anaknya semakin erat.

“Sudahlah. Beristirahatlah. Kau tidak perlu cemas lagi. Semuanya sudah selesai. Sebentar lagi, tentu orang-orang Kademangan akan datang,” berkata suaminya.

Sebenarnyalah, menantu Ki Demang telah mengirimkan seorang pembantunya untuk memberitahukan kepada mertuanya, bahwa telah terjadi perampokan di rumahnya.

Namun sementara itu, atas persetujuan menantu Ki Demang Kiai Badra yang telah mengobati para perwira dari Jipang itu bertanya, “Apakah kalian dapat meninggalkan tempat ini?”

“Kenapa?” bertanya salah seorang di antara para perwira itu.

“Sebentar lagi tempat ini akan penuh dengan orang-orang Kademangan ini,” jawab Kiai Badra. “Mungkin mereka akan bersikap kasar terhadap kalian.”

“Aku tidak takut seandainya mereka membunuh aku,” geram salah seorang di antara mereka.

“Bukan soal takut atau tidak takut,” jawab Kiai Badra. “Tetapi aku tidak mau terjadi keributan lagi.”

Para perwira itu termangu-mangu. Namun menantu Ki Demang itulah yang kemudian berkata meskipun agak ragu, “Biarlah mereka kita letakkan dibelakang. Di bilik para pembantuku.”

Kiai Badra mengangguk-angguk. Dengan wajah ragu ia berkata kepada para perwira itu, “Jangan menolak. Yang kami lakukan ini bukan apa-apa.”

Para prajurit Jipang itu tidak menolak. Mereka kemudian dibawa ke bagian belakang rumah itu agar tidak menimbulkan persoalan baru dengan orang-orang padukuhan yang tentu akan berdatangan.

Kepada para pembantunya menantu Ki Demang itu pun telah berpesan, agar mereka tidak menyebut-nyebut orang-orang yang ada di dalam bilik mereka.

“Orang-orang itu adalah prajurit-prajurit Jipang yang sebenarnya tidak terlibat dalam perampokan ini. Tetapi mereka terkait karena seorang di antara para perampok adalah seorang yang masih mempunyai hubungan darah dengan mereka, yang mungkin dengan dalih apapun juga, sehingga prajurit-prajurit itu terjebak ke dalam tindak kekerasan ini,” berkata menantu Ki Demang.

Para pembantunya termangu-mangu. Seorang di antara mereka bertanya. “Karena mereka sudah terlibat, bukankah seandainya mereka dibunuh tidak akan ada persoalan?”

“Jangan berkata begitu?” jawab menantu Ki Demang. “Mereka adalah prajurit-prajurit Jipang. Jika seorang saja di antara mereka terbunuh disini, maka Kademangan ini akan dihancurkan. Kau harus tahu, bahwa disebelah perbatasan terdapat sepasukan prajurit Jipang. Jika mereka mendengarnya, maka Kademangan ini akan mengalami mala petaka. Tentu akan berbeda sikap mereka, jika mereka tetap hidup dan kita perlakukan dengan baik, meskipun mereka tetap mengancam. Namun kita masih yakin akan kebeningan hati nurani mereka sebagai manusia, sehingga mereka tidak mendendam kita.”

Para pembantunya mengangguk-angguk. Agaknya keterangan menantu Ki Demang itu dapat dimengerti pula.

Sebenarnyalah, sejenak kemudian Ki Demang sendiri telah datang ke rumah menantunya. Beberapa orang bebahu telah menyusul bersama beberapa orang pengawal Kademangan. Bahkan kemudian orang-orang yang mendengar keributan di sepanjang jalan yang dilalui oleh Ki Demang dan para pengawal, telah terbangun pula dan ikut pergi ke rumah menantu Ki Demang itu.

Tetapi ketika mereka sampai di rumah itu, keadaan telah menjadi tenang. Ki Demang telah ditemui oleh menantunya di halaman, sementara para pembantunya termangu-mangu menyaksikan kehadiran orang-orang padukuhan itu.

“Syukurlah, bahwa kesulitan telah teratasi,” berkata Ki Demang kepada menantunya.

“Ada beberapa orang yang telah menolong aku,” berkata menantu Ki Demang yang kemudian memperkenalkannya dengan Kiai Badra dan Gandar yang telah menyembunyikan tunggulnya dibalik selongsongnya.

Ki Demang mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak sempat tahu terlalu banyak tentang Kiai Badra dan Gandar, karena menantu Ki Demang itu telah menyebut pula seorang sahabatnya yang terbunuh.

“Kasihan,” desis Ki Demang, yang kemudian bertanya, “Jadi ada berapa orang yang terbunuh?”

“Seorang sahabatku yang harus mendapatkan penghormatan dari orang-orang padukuhan ini, karena telah ikut mempertahankan rumah ini dengan mengorbankan jiwanya,” berkata menantu Ki Demang.

Ki Demang masih mengangguk-angguk. Namun segalanya masih harus dikerjakan jika matahari telah naik.

Demikianlah Kademangan itu telah disibukkan dengan penguburan beberapa orang dalam suasana yang berbeda. Di antara mereka yang dianggap sebagai perampok yang ingin merampok rumah menantu Ki Demang, terdapat seorang pahlawan yang dihormati oleh seisi Kademangan. Bahkan oleh menantu Ki Demang, keluarganya telah diberinya sekadar uang untuk membantu upacara yang harus dilakukan.

Kepada Ki Demang, menantunya mengatakan, bahwa ia tidak dapat menyebut jumlah perampok yang datang ke rumahnya dengan pasti, karena perkelahian yang kemudian terjadi menjadi kisruh. Tetapi ada di antara mereka yang tidak terbunuh, sempat melarikan diri meninggalkan halaman rumahnya.

“Kenapa kau tidak memberikan isyarat dengan kentongan?” bertanya Ki Demang.

“Kami tidak sempat melakukannya,” jawab menantunya. “Tiba-tiba saja kami sudah terlibat ke dalam pertempuran yang membingungkan.”

Namun dalam pada itu, yang terjadi di rumah menantu Ki Demang itu seakan-akan merupakan satu peristiwa yang telah mencuci namanya. Dengan demikian, maka segalanya yang buram yang pernah dilakukannya telah dihapuskan, meskipun seorang di antara kawannya harus menjadi korban dalam pembersihan nama itu, sementara dua orang kawannya yang lain mati sebagai perampok-perampok.

Ketika keadaan rumah menantu Ki Demang itu sudah sepi kembali, maka Kiai Badra dan Gandar pun dipersilakannya untuk mencari pemecahan tentang orang-orang Jipang yang masih ada di rumahnya.

“Apakah yang sebaiknya kami lakukan dengan mereka?” bertanya menantu Ki Demang itu.

“Mereka tentu sudah berangsur baik. Kita tawarkan saja kepada mereka, apakah mereka akan tinggal disini untuk sementara atau mereka akan segera kembali kepada pasukannya,” jawab Kiai Badra. “Tetapi mereka tentu tidak akan berani terlalu lama berada disini, karena mereka akan dapat dianggap melarikan diri dari kesatuan mereka. Aku yakin bahwa, kepergian mereka kepada saudaranya itu tentu tidak sepenuhnya mengemban tugas dari pimpinan pasukannya, karena kepergian mereka tidak ada hubungannya dengan keinginan mereka memiliki sesuatu yang bukan hak mereka, meskipun ada juga alasannya yang lain sebagaimana pernah kau sebut, bahwa mereka telah mendorong langkah-langkah seperti yang telah kalian lakukan agar timbul kesan, bahwa Pajang tidak lagi terasa tenang.”

Menantu Ki Demang itu mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Tetapi aku masih mohon bantuan Kiai, agar Kiai dapat menyampaikannya kepada mereka.”

Kiai Badra termangu-mangu sejenak. Jawabnya, “Sebenarnya aku harus segera sampai ke Tanah Perdikan Sembojan, meskipun tidak langsung memasuki Tanah Perdikan itu sendiri, karena aku akan singgah di sebuah padepokan kecil.”

“Hanya sebentar. Bukankah tidak akan makan waktu yang lama?” desis menantu Ki Demang.

Kiai Badra memandang Gandar sejenak, seakan-akan minta pertimbangannya. Tetapi Gandar hanya menundukkan kepalanya saja.

Karena itu, maka Kiai Badra pun berkata, “Baiklah. Aku akan menemui mereka.”

Di antar oleh menantu Ki Demang dan Gandar, Kiai Badra telah pergi untuk menemui orang-orang Jipang yang berada di bilik para pembantu menantu Ki Demang. Sebagaimana yang sudah disepakati, maka Kiai Badra pun telah menawarkan kepada orang-orang Jipang itu, apakah mereka akan tinggal di rumah ini sampai keadaan mereka menjadi baik, atau mereka akan kembali ke kesatuan mereka.

“Persetan,” geram salah seorang perwira, “Jangan terus-terusan menghina kami.”

Kiai Badra mengerutkan keningnya. Sementara perwira itu berkata selanjutnya, “Kau sadar, bahwa kau berkuasa atas kami. Katakan, apa yang kau kehendaki sebenarnya. Aku menjadi tawananmu, atau kau akan membunuhku bersama kawan-kawanku.”

Wajah Kiai Badra menegang. Namun ia pun mulai berkata keras, “Sikapmu berlebihan. Aku tahu, bahwa kau ingin menunjukkan sikap perwiramu. Tetapi tidak perlu dengan permainan yang memuakkan begitu. Sekarang jawab. Jika kau sudah mampu berjalan, tinggalkan tempat ini dan kembalilah ke dalam kesatuanmu agar kau tidak menjadi beban disini. Bukan saja beban untuk melayani makan dan minummu, tetapi juga beban tanggung jawab, karena kau berada di daerah Pajang.”

Para perwira itu termangu-mangu sejenak. Namun akhirnya yang berkumis tebal itu pun berkata, “Kami akan kembali ke kesatuan kami.”

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam.

“Jika demikian berbenahlah. Kalian harus meninggalkan tempat ini tanpa menarik perhatian,” berkata Kiai Badra.

Para prajurit Jipang itu pun kemudian membenahi diri. Mereka memang masih nampak lemah dan sakit di dalam tubuh mereka. Tetapi mereka pun menganggap bahwa lebih baik kembali ke dalam kesatuan mereka, agar mereka tidak terlalu lama pergi, sehingga akan dapat menimbulkan prasangka pula di antara kawan-kawannya sendiri.

“Mereka akan dapat mengira bahwa aku mendapat bagian yang terlalu banyak sehingga perlu disembunyikan,” berkata salah seorang di antara mereka itu di dalam hatinya.

Demikianlah, maka setelah mereka berbenah diri dan tidak lagi menarik perhatian, maka mereka pun telah meninggalkan Kademangan itu tanpa singgah di rumah saudaranya yang telah terbunuh.

Namun, satu hal yang tidak diduga oleh menantu Ki Demang, ketika para perwira yang garang itu meninggalkan regol halaman rumahnya, orang berkumis lebat, yang menurut ujud wajahnya adalah seorang yang keras kasar itu telah berdesis, “Terima kasih atas sikap kalian terhadap kami.”

Menantu Ki Demang itu justru termangu-mangu. Namun Kiai Badra lah yang menjawab, “Mudah-mudahan kalian selamat sampai ke kesatuan kalian.”

Orang berkumis itu mengangguk-angguk. Namun ia tidak mengucapkan sepatah kata pun lagi, sementara kawannya pun hanya berdiam diri saja sambil melangkah menjauh.

Namun dalam pada itu, Kiai Badra berkata kepada menantu Ki Demang ketika orang-orang yang masih lemah itu menjadi semakin jauh, “Nampaknya, mereka tidak akan mengganggu Kademangan ini.”

Menantu Ki Demang itu mengangguk-angguk. Katanya, “Menilik sikapnya, maka mereka tidak mendendam. Tetapi sikap itu baru nampak pada saat terakhir.”

“Ya. Aku kira Kademangan ini tidak perlu merasa cemas bahwa mereka akan mendendam. Betapa kasarnya seseorang, ia dapat menilai sikap orang lain kepada dirinya.”

Menantu Ki Demang itu berdesis, “Kami mengucapkan terima kasih kepada Kiai. Langkah yang Kiai ambil ternyata telah memberikan hari-hari depanku yang terang. Sekaligus menyelamatkan aku dari dendam orang-orang Jipang itu.”

“Sudahlah,” berkata Kiai Badra. “Untuk seterusnya kau harus berhati-hati. Kau jangan lagi terjerumus ke dalam langkah yang sesat meskipun nampaknya jauh lebih mudah dari cara yang wajar. Dengan caramu, maka kau akan cepat menjadi kaya. Tetapi jika kau teruskan, kau pun akan cepat mati. Bahkan mungkin dibunuh oleh orang-orang Kademangan ini sendiri termasuk ayah mertuamu.”

“Aku sudah menyadari kesesatan ini,” berkata menantu Ki Demang itu. “Karena itu, aku tidak akan mengulanginya.”

Sementara itu Kiai Badra dan Gandar pun kemudian minta diri. Mereka tidak ingin tertahan lebih lama lagi di Kademangan itu. Namun dalam pada itu, Kiai Badra pun berkata, “Tetapi bukankah Kademangan ini bukannya kademangan yang tidak mampu berbuat sesuatu. Maksudku, jika terpaksa bukankah Kademangan ini memiliki pengawal yang akan dapat melakukan sesuatu, betapapun kecil artinya?”

“Ada Kiai,” jawab menantu Ki Demang. “Tetapi sungguh tidak berarti sama sekali. Anak-anak muda yang meronda hanya sekadar dapat membangunkan orang-orang yang tertidur nyenyak. Tetapi jika mereka dipaksa untuk memasuki benturan kekuatan, aku tidak dapat mengatakannya, apakah mereka akan dapat memberikan arti atau hanya akan menambah korban saja.”

“Ki Sanak,” berkata Kiai Badra. “Saat ini Pajang sedang menghadapi keadaan yang gawat. Jipang benar-benar telah menempatkan pasukannya di mulut gerbang kota, dari sebelah menyebelah. Karena itu, maka Pajang memerlukan seluruh kekuatan yang ada, yang pada saatnya tentu akan digerakkan.”

“Sebenarnya kami juga dapat membantu, tetapi hanya dengan jumlah tenaga. Tidak dengan kemampuan,” berkata menantu Ki Demang itu.

“Waktunya memang sudah terlalu pendek. Tetapi apa salahnya jika kau berusaha untuk menghimpun mereka. Meskipun hanya satu dua hari, namun sudah tentu akan ada gunanya, jika kau ajari mereka, bagaimana caranya memegang senjata. Bukankah kau memiliki kemampuan untuk itu?”

“Ah,” menantu Ki Demang itu menarik nafas dalam-dalam, “Apa artinya kemampuanku menghadapi kekuatan raksasa dari Jipang itu.”

“Jika Kademangan ini sendiri harus menghadapinya, memang tidak akan berarti apa-apa. Tetapi jika semua Kademangan mempersiapkan anak-anak mudanya, maka keadaannya tentu akan berbeda. Mungkin secara pribadi, anak-anak muda itu tidak berarti dalam olah kanuragan. Tetapi dalam jumlah yang besar, serta kemampuan dasar memegang senjata, maka mereka akan memberikan arti yang besar bagi Pajang.”

Menantu Ki Demang itu mengangguk-angguk. Sementara itu Kiai Badra berkata, “Kau adalah menantu Ki Demang. kau tentu mempunyai pengaruh yang besar pada anak-anak mudanya.”

Menantu Ki Demang itu menunduk. Desisnya, “Selama ini aku kurang bergaul dengan mereka.”

“Belum terlambat,” berkata Kiai Badra, “Kau dapat memulainya.”

Menantu Ki Demang itu mengangguk-angguk. Tetapi sebenarnyalah ia berjanji kepada diri sendiri, bahwa ia akan mulai dengan satu langkah yang memberikan arti kepada Kademangannya. Ia tidak sebaiknya hanya sebagai sesuatu bagi kepentingan diri sendiri. Apalagi dengan cara yang pernah ia tempuh, meskipun dengan demikian ia menjadi disegani karena kekayaannya yang dengan cepat menanjak.

“Kiai,” berkata menantu Ki Demang. “Aku akan berusaha. Selama ini aku berjuang untuk membuat diriku kaya, bahkan dengan cara yang paling buruk. Ketika aku mengawini anak Ki Demang, maka beberapa orang menghinaku, bahwa aku sebenarnya hanya ingin menghisap kekayaan Ki Demang saja, karena aku termasuk orang yang tidak berkecukupan. Tetapi aku dan istriku saling mencintai. Sehingga akhirnya aku telah bertekad untuk melakukan apa saja asal aku dapat membuktikan bahwa aku tidak sekadar menghisap kekayaan istriku, tetapi justru aku dapat membuatnya lebih kaya lagi. Dengan kedok seorang saudagar keliling, dengan sedikit modal yang memang aku dapatkan dari istriku, maka aku telah melakukan pekerjaan terkutuk itu.”

“Semuanya sudah lampau. Kau dapat bekerja dengan wajar. Bukankah kau mempunyai sawah?” bertanya Kiai Badra.

“Sawahku sekarang cukup luas,” jawab menantu Ki Demang itu.

“Sawahmu dapat kau jadikan alas hidupmu, sementara kau bekerja keras bagi Kademangan ini,” berkata Kiai Badra.

Menantu Ki Demang itu mengangguk-angguk. Yang terbayang di rongga matanya adalah hari depan yang baik. Tiga orang kawannya dalam kerja yang terkutuk itu telah terbunuh, sehingga tidak akan ada seorang saksipun yang dapat mengungkap lembaran hitam dari perjalanan hidupnya sampai saatnya ia bangkit dari kegelapan.

”Baiklah Kiai,” jawab menantu Ki Demang. “Aku akan berbuat apa saja yang mungkin bagi Kademangan ini.”

“Kau harus sadar, bahwa kau adalah menantu Ki Demang,” berkata Kiai Badra kemudian.

Menantu Ki Demang itu mengangguk-angguk. Katanya, “Aku mengerti Kiai.”

Kiai Badra pun menarik nafas dalam-dalam. Namun ia sadar, bahwa ia harus segera meninggalkan tempat itu dan kembali ke padepokan Kiai Badra untuk menyusun langkah-langkah yang harus diambil, justru setelah ia menerima tunggul pertanda kuasa Adipati Pajang yang dilimpahkan kepada cucunya, yang memiliki pula pertanda pemegang pimpinan Tanah Perdikan Sembojan.

Dengan demikian maka dukungan wewenang Iswari untuk berbuat sesuatu sudah lengkap. Langkah-langkahnya direstui oleh kekuasaan yang lebih tinggi serta hak yang diakui bagi Tanah Perdikan Sembojan itu.

Sejenak kemuian maka Kiai Badra telah minta diri. Bersama Gandar ia meneruskan perjalanan menuju ke padepokan Kiai Badra dan Nyai Soka yang menjadi landasan langkah-langkah yang akan diambil untuk kembali ke Tanah Perdikan Sembojan.

Demikian mereka meninggalkan menantu Ki Demang yang berulang kali mengucapkan terima kasih kepada mereka, maka Kiai Badra pun berniat untuk tidak berhenti lagi dimanapun juga. Jika orang-orang Jipang yang akan kembali ke kesatuannya diperbatasan itu cepat mencapai tujuannya dan menceriterakan tentang tunggul itu, serta ada satu dua orang perwira yang lebih tua yang mengenali artinya, mungkin sekelompok prajurit berkuda akan berusaha menyusul mereka.

Karena itu, maka Kiai Badra berusaha untuk tidak berjalan melalui jalan-jalan yang ramai. Berdua mereka telah memilih jalan-jalan yang lebih kecil, sehingga tidak banyak orang yang memperhatikan tunggul yang dibawanya.

Ternyata bahwa mereka sudah memasuki ujung hari yang menjadi semakin buram. Agaknya mereka terlalu lambat berangkat dari rumah menantu Ki Demang, sehingga mereka akan kemalaman lagi di jalan. Tetapi Kiai Badra dan Gandar sudah berniat untuk tidak berhenti meskipun malam turun. Mereka pun tidak lagi ingin berhenti untuk makan disebuah kedai. Tetapi Gandarlah yang harus membeli makanan yang dibungkus dengan daun pisang yang akan mereka makan justru ditempat yang tersembunyi.

Ketika malam turun, rasa-rasanya perjalanan mereka justru menjadi aman. Tidak ada lagi orang yang berpapasan dan memandangi tunggul yang diselubungi dengan selongsong kain putih itu dengan tatapan mata penuh pertanyaan.

Ternyata Kiai Badra dan Gandar benar-benar seorang pejalan yang berpengalaman. Meskipun jalan yang mereka tempuh belum pernah mereka kenal sebelumnya, namun akhirnya mereka menemukan arah yang benar, sehingga mereka pun memasuki jalan yang terbiasa mereka lalui menjelang tengah malam.“Kita menempuh jalan yang benar,” desis Kiai Badra.

Ya. Bukit kecil itu dapat menjadi ancar-ancar. Bukankah bukit yang nampak remang-remang di malam yang tidak begitu gelap ini adalah Gunung Kendit sedangkan disebelahnya, yang runcing itu adalah Gunung Prapat?”

Kiai Badra tersenyum sambil memandang langit yang jernih dan sepotong bulan yang tergantung dilangit. Kemudian kedua bukit yang menjadi ancar-ancar perjalanan mereka, sehingga mereka tidak tersesat terlalu jauh dari tujuan.

Ternyata perjalanan mereka selanjutnya sama sekali tidak terganggu. Dengan selamat mereka mencapai padepokan Tlaga Kembang. Namun agaknya kedatangan mereka di lewat tengah malam telah mengejutkan seisi padepokan.

“Apa yang kakang bawa?” bertanya Nyai Soka ketika ia melihat tunggul dalam selongsongnya.

“Nanti, aku akan berceritera,” jawab Kiai Badra.

Nyai Soka termangu-mangu. Namun ia mengenali bentuk dari benda yang dibawanya itu sebagai sebuah tunggul. Karena itu, maka ia pun bertanya, “Apakah kakang membawa sebuah tunggul?”

“Ya,” jawab Kiai Badra. “Aku memang membawa sebuah tunggul.”

“Darimana kakang mendapatkannya?” desak Nyai Soka.

“Jangan takut aku mencuri di jalan,” jawab Kiai Badra sambil tersenyum. “Tetapi sudah aku katakan, aku akan menceriterakannya nanti, setelah aku mandi. Panasnya udara dan keringatku yang membasahi pakaianku di perjalanan, rasa-rasanya sangat mengganggu kesegaranku disisa malam ini.”

Nyai Soka pun kemudian membiarkan Kiai Badra dan Gandar mandi. Sementara itu, hampir seisi padepokan telah terbangun dan duduk di sebuah amben besar di ruang dalam sambil mengamati tunggul yang masih di dalam selongsongnya, yang ditaruh di dalam ploncotan oleh Kiai Badra.

Sementara itu, Nyai Soka telah membangunkan seorang cantrik untuk merebus air, karena agaknya Kiai Badra dan Gandar yang merasa haus.

Baru sejenak kemudian, mereka duduk melingkar diamben yang besar di ruang dalam itu sambil menghirup minuman panas dengan gula kelapa.

“Nah, ceriterakan,” minta Nyai Soka.

“Kau tidak sabar menunggu matahari terbit,” desis Kiai Badra. “Sebenarnya aku masih sempat tidur barang sekejap.”

“Kakang, minum sambil berbicara,” berkata Nyai Soka. “Nanti masih ada waktu sekejap untuk memejamkan mata.”

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tunggul itu adalah pertanda bahwa kita mengemban perintah Adipati Pajang.”

“Perintah apa?” bertanya Nyai Soka.

“Perintah untuk mengambil kembali Tanah Perdikan Sembojan dari tangan orang-orang yang tidak berhak dan melepaskan dari pengaruh Jipang,” berkata Kiai Badra.

Orang-orang yang mendengar keterangannya itu termangu-mangu. Namun Kiai Badra pun kemudian menceriterakan apa yang telah terjadi dalam perjalanannya ke Pajang untuk menemui para pemimpin Kadipaten itu, meskipun Kanjeng Adipati sendiri berada di satu tempat yang berhadapan dengan pasukan Jipang, seberang menyeberangi Bengawan Sore.

Mereka yang mendengarkan ceritera Kiai Badra itu menjadi tegang. Dengan sungguh-sungguh mereka mengikuti setiap persoalan yang dikemukakan oleh Kiai Badra, sehingga akhirnya Kiai Badra itu berkata, “Sebenarnyalah, bahwa yang mendapat perintah untuk melaksanakan semuanya itu adalah Iswari. Bukan aku, bukan Gandar dan bukan Kiai atau Nyai Soka.”

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Kiai Badra meneruskan, “Sedangkan Iswari pun bertindak atas nama anaknya. Apalagi pertanda kekuasaan Tanah Perdikan pun ada pada kita, sehingga anak itu memang mempunyai hak atas jabatan Pemimpin Tanah Perdikan Sembojan.”

Namun dalam pada itu, Iswari menjawab, “Tetapi bukan kedudukan itulah yang kita pentingkan kakek.”

“Anakmu kelak harus memandang bahwa jabatan itu penting baginya. Jika ia menjadi Kepala Tanah Perdikan, maka ia memang harus mempunyai minat untuk memegangnya, sehingga dengan demikian maka ia akan mempunyai gairah perjuangan, meskipun dengan demikian harus ada batasan-batasan lain yang akan membedakannya dengan orang-orang tamak yang cenderung memenuhi keinginan dan selera pribadi tanpa menghiraukan isi Tanah Perdikan itu sendiri,” berkata Kiai Badra.

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak membantah keterangan kakeknya.

Sementara itu, Kiai Badra pun berkata, “Nah mulai hari ini kita akan mengemban tugas yang penting dan berat. Kita memerlukan waktu, pikiran dan dukungan. Bahkan kita memerlukan apa saja yang akan dapat menjadi pendorong perjuangan ini. Sementara itu, kita harus juga memperhitungkan kekuatan Jipang yang sudah mencengkam Tanah Perdikan ini, karena sewaktu-waktu pasukan Jipang akan dapat ditarik dari perbatasan dan diperbantukan untuk mengatasi kemelut yang mungkin terjadi di Tanah Perdikan yang sudah menyatakan diri menjadi bagian dari Jipang ini. Kau sadari itu Iswari?”

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ya kakek. Tetapi bukankah kita tidak tergesa-gesa dan Pajang tidak memberikan batasan waktu?”

“Ya. Kita memang tidak mendapat batasan waktu. Tetapi pertengkaran antara Pajang dan Jipang itu berjalan terus. Jika kita dapat mengganggu pemusatan pasukan Tanah Perdikan Sembojan yang berpihak kepada Jipang itu, maka berarti kita sudah meringankan beban Pajang. Dan sebaliknya jika Pajang bergerak, maka kita mendapat kesempatan untuk berbuat untuk banyak di Tanah Perdikan ini karena pasukan Jipang dan Tanah Perdikan Sembojan itu terikat dalam benturan kekuatan dengan Pajang,” berkata Kiai Badra. Bahkan ia pun telah menceriterakan pula apa yang terjadi antara dirinya dan Gandar dengan para perwira dari Jipang.

“Baiklah,” berkata Nyai Soka kemudian, “Kita harus memikirkannya masak-masak. Kita memerlukan waktu dan pengamatan yang luas. Baru kita menentukan sikap.”

“Tetapi waktu yang kita perlukan itu jangan terlalu panjang bahwa tanpa batas,” sahut Kiai Badra.

Nyai Soka tersenyum. Katanya, “Selama ini kakang tidak pernah nampak sangat tergesa-gesa untuk menangani satu persoalan seperti saat ini. Tetapi baiklah, semula akulah yang tergesa-gesa, sementara kakang akan beristirahat. Tetapi ketika kakang mulai berbicara dengan perasaan, maka rasa-rasanya sekarang juga kita harus berbuat sesuatu.”

Kiai Badra mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian tersenyum. Katanya, “Baiklah. Aku ingin beristirahat sebelum minum beberapa teguk air panas. Meskipun sesaat lagi fajar akan menyingsing, namun agaknya aku masih mempunyai waktu.”

Demikianlah, maka Kiai Badra dan Gandar telah pergi ke biliknya. Namun dalam pada itu, Nyai Soka dan Kiai Soka masih duduk ditempatnya bersama dengan Iswari.

Nampaknya mereka masih melanjutkan pembicaraan tentang perintah Pajang yang di tandai dengan tunggul yang dibawa oleh Kiai Badra itu dengan sungguh-sungguh. Bagi Iswari, maka ia harus mempertaruhkan segala-galanya bagi kepentingan Pajang dan kepentingan anak laki-lakinya, meskipun ayah anaknya itu telah melakukan satu kesalahan yang sangat besar kepadanya.

“Langkah yang segera dapat kita ambil adalah mempersiapkan diri. Kita harus menampa diri kita masing-masing lahir dan batin untuk menghadapi kekuatan yang mungkin akan mengejutkan kita, karena selain Tanah Perdikan Sembojan sudah berada dibawah pengaruh dan mungkin juga perlindungan dari Jipang, maka disekitar pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan adalah orang-orang dari lingkungan keluarga Kalamerta,” berkata Kiai Soka.

Iswari mengangguk-angguk. Ia menyadari. Tetapi tekadnya memang sudah bulat, apapun yang akan terjadi dengan dirinya, maka ia harus mengusir perempuan yang telah merusak bukan saja keluarganya, tetapi Tanah Perdikan Sembojan itu sendiri.”

“Sudahlah,” berkata Kiai Soka, “Kita pun masih sempat beristirahat barang satu dua kejap.”

“Aku tidak lagi,” berkata Nyai Soka. “Aku harus segera pergi ke dapur. Merebus air dan menyiapkan keperluan pagi ini.”

“Ketela rebus,” bertanya Kiai Soka.

Tetapi Nyai Soka menggeleng. Katanya, “Pagi ini aku tidak merebus ketela.”

“Lalu apa?” bertanya Kiai Soka.“Aku akan membuat pondoh jagung,” jawab Nyai Soka.

“O, senang sekali. Mungkin Karena Kiai Badra dan Gandar baru datang dari Pajang, sehingga kau pagi ini membuat pondoh jagung,” berkata Kiai Soka selanjutnya.

Nyai Soka tidak menjawab lagi. Tetapi ia pun langsung pergi ke dapur. Sementara di dapur seorang pembantunya telah mulai menyalakan perapian. Sedangkan Kiai Soka pun ternyata tidak lagi pergi ke biliknya, tetapi ia justru turun ke halaman dan berjalan-jalan mengitari belumbang di bagian belakang padepokan kecil itu.

Sementara itu Iswari telah sibuk dengan anaknya. Sebentar lagi, anak itu harus dimandikannya. Biasanya Iswari memandikan anaknya langsung dengan air sumur yang hangat.

Demikianlah, ketika matahari kemudian terbit, orang-orang yang tinggal di padepokan kecil itu telah bersiap. Tetapi sebelum mereka mulai membicarakan langkah-langkah yang akan mereka ambil, maka mereka diminta lebih dahulu oleh Nyai Soka untuk minum minuman hangat dan makan pondoh jagung yang telah dibuatnya.

Baru sejenak kemudian, orang-orang itu pun telah mulai memasuki satu pembicaraan untuk menemukan langkah-langkah yang akan dapat mereka ambil.

Namun setelah pembicaraan mereka berputar-putar, akhirnya mereka sampai pada satu kesimpulan, bahwa langkah pertama yang akan mereka ambil adalah menjajagi kembali sikap orang-orang Tanah Perdikan Sembojan dengan mengirimkan sekelompok rombongan penari dan pengiring yang akan memasuki Sembojan.

“Sebagian besar para pengawal telah tidak ada ditempat,” berkata Kiai Badra. “Sementara itu, iring-iringan kita harus kuat, karena jika terpaksa, maka kita akan benar-benar bertempur, meskipun kita belum sampai maksud yang sebenarnya untuk merebut kembali Tanah Perdikan itu. Tetapi setidak-tidaknya, kita sudah mulai dengan satu sikap yang akan dapat dibaca oleh orang-orang Tanah Perdikan Sembojan. Sehingga dengan demikian, maka mereka akan dapat menentukan pilihan, apakah yang harus mereka lakukan.”

Orang-orang yang mendengarkan pertimbangan Kiai Badra itu mengangguk-angguk. Mereka sependapat, bahwa mereka tidak boleh terlalu lama berpisah dengan rakyat Sembojan justru dalam keadaan yang kalut ini, sehingga dengan demikian maka setiap rencana mereka dapat disesuaikan dengan perkembangan gejolak rakyat Tanah Perdikan Sembojan.

“Apalagi pada saat ini Ki Randukeling tidak ada di Tanah Perdikan,” berkata Sambi Wulung.

“Meskipun demikian, kita tidak boleh lengah,” berkata Kiai Soka. “Bukankah keluarga Kalamerta membayangi kekuasaan Tanah Perdikan itu.”

“Ya. Dan Nyai Wiradana itu sendiri adalah orang yang sangat berbahaya. Apalagi ia sekarang sudah membuka kedoknya. Orang-orang Tanah Perdikan sudah mengetahui, bahwa Nyai Wiradana adalah seorang perempuan yang memiliki kemampuan yang tinggi. Ia bukan sekadar penari jalanan sebagaimana mereka duga dahulu.”

“Baiklah,” berkata Kiai Badra. “Kita akan mempersiapkan sebuah rombongan yang lengkap.”

Sementara di padepokan Tlaga Kembang dipersiapkan sebuah rombongan yang akan mengiringi seorang penari memasuki Tanah Perdikan Sembojan, maka Nyai Wiradana telah mengendalikan suaminya dengan ketat. Segala sesuatu ketentuan dan peraturan bersumber dari Nyai Wiradana. Bahkan Nyai Wiradana telah mengambil langkah untuk membentuk pasukan di antara anak-anak muda yang tersisa, agar apabila diperlukan, maka mereka akan dapat dikirim ke perbatasan.

“Anak-anak muda Tanah Perdikan ini sudah habis,” berkata Ki Wiradana, “Jika mereka akan dikirim ke luar, maka Tanah Perdikan ini sendiri tidak akan terlindung jika sekelompok perempok kecil memasuki padukuhan-padukuhan.”

“Jangan terlalu bodoh kakang,” jawab istrinya. “Bukankah aku mengerti, bahwa masih ada anak-anak muda yang cukup banyak, sehingga apabila diambil separo daripadanya, maka Tanah Perdikan ini masih tetap kuat.”

“Tetapi bukankah kita sudah mengirim cukup banyak anak-anak muda untuk membantu Jipang? Dan bukankah kekuatan Jipang yang berada di sebelah-menyebelah Pajang itu cukup kuat untuk menekan Pajang, karena sebagian besar prajurit Pajang justru ditarik ke luar untuk berhadapan dengan pasukan Jipang di Demak?” bertanya Ki Wiradana.

“Kau jangan terlalu banyak mempersoalkan hal itu,” berkata istrinya. “Jangan membuat aku marah, karena aku masih ingin menghormatimu sebagai seorang suami.”

Setiap kali Ki Wiradana menghadapi ancaman yang demikian, maka ia tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Ia harus melakukan perintah istrinya untuk mengumpulkan sebagian dari anak-anak muda yang tersisa untuk mendapat latihan-latihan yang berat. Para pengawal khusus yang sudah ditempa oleh para perwira dari Jipang dan Nyai Wiradana sendiri akan memberikan latihan-latihan kepada mereka.

Rencana itu telah sampai pula ketelinga Kiai Badra. Tetapi Kiai Badra sama sekali tidak mencemaskannya, karena kekuatan itu ditujukan untuk menghadapi Pajang.

“Jika rencana itu dilaksanakan, maka Tanah Perdikan itu akan menjadi semakin lemah,” berkata Kiai Badra.

Tetapi Sambi Wulung bertanya, “Tetapi bagaimana keadaan Tanah Perdikan setelah perang itu selesai. Jika para pengawal yang mendapat tuntunan dan pengaruh para perwira dari Jipang itu kembali, apakah tidak akan timbul persoalan di antara mereka dengan rencana kita?”

“Sudah tentu,” jawab Kiai Badra. “Tetapi kita harus memikirkannya, apa yang sebaiknya kita lakukan. Untuk itu kita masih mempunyai waktu.”

Sambi Wulung mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Kita akan segera memasuki Tanah Perdikan di malam hari.”

“Tetapi ternyata bahwa kita harus menunggu untuk melihat perkembangan penyusunan kekuatan yang akan dilakukan di Tanah Perdikan,” berkata Kiai Badra.

Namun ternyata Kiai Badra tidak memerlukan waktu yang lama. Mereka dapat menyaksikan perkembangan yang tumbuh di Tanah Perdikan Sembojan lewat Sambi Wulung dan Jati Wulung. Latihan-latihan yang lesu betapapun dipaksakan oleh para pemimpin dan para pengawal yang pernah mendapat latihan-latihan yang berat dari para perwira di Jipang.

“Tanah Perdikan ini sudah kehilangan urat nadi kekuatannya,” berkata Wiradana. “Sekarang Tanah ini masih akan diperas sampai kering.”

“Lakukan perintah ini atau kau akan menyesal,” ancam istrinya.

Ki Wiradana tidak dapat berbuat sesuatu. Ia harus melakukan sebagaimana dikatakan oleh istrinya. Apalagi di dalam rumahnya kemudian selalu terdapat ayah Warsi yang sebenarnya dan tukang gendang yang merupakan tangan kanan dari ayah Warsi yang mengaku sebagai pedagang emas berlian itu.

Betapa penyesalan mencengkam jantung Ki Wiradana, ia pun mulai menduga-duga tentang kematian ayahnya.

“Tentu ada hubungannya dengan rencana yang nampaknya telah disusun sangat rapi oleh Warsi,” berkata Wiradana kepada diri sendiri.

Tetapi semuanya sudah terlanjur. Dari Warsi ia mempunyai seorang anak yang akan dengan cepat merenggut kedudukannya. Menilik sikap Warsi dan orang-orang yang berada disekitarnya, maka pada suatu saat ia tentu akan disingkirkan tanpa menunggunya sampai tua. Anaknya yang dilahirkan oleh Warsi itulah yang akan segera menggantikannya. Dewasa atau belum dewasa. Bahkan angan-angan Ki Wiradana itu sampai pada puncak kekecewaannya melihat sikap Warsi terhadap Ki Rangga Gupita yang untungnya baru berada di hadapan Pajang bersama Ki Randukeling.

Dalam pada itu, ternyata Pajang dan Jipang telah terlibat semakin dalam memasuki persoalan yang menyangkut tahta Demak yang ditinggalkan. Kematian demi kematian telah terjadi. Menurut berita yang didengar oleh para pemimpin di Pajang, Arya Penangsang berusaha untuk membunuh orang-orang yang dapat mengganggu keinginannya untuk merebut tahta, seorang demi seorang. Tidak dalam perang.

Dengan demikian, maka Kanjeng Adipati Hadiwijaya dari Pajang pun menjadi semakin berhati-hati. Disiapkannya perisai lahir dan batin, agar ia tidak terbunuh sebagaimana beberapa orang putera dan menantu Sultan Trenggana yang telah wafat itu.

Di Pasanggrahan Adipati Hadiwijaya, penjagaan telah diperkuat. Para prajurit selalu berada disekitar bilik tidur Adipati Hadiwijaya sendiri. Sementara Kanjeng Adipati Hadiwijaya pun selalu mengeterapkan ilmunya meskipun ia berada di dalam bilik yang dijaga ketat oleh para prajuritnya.

Sementara itu, di Pajang sendiri, para prajurit yang tinggal telah bersiap dalam kesiagaan tertinggi. Pasukan Jipang memang telah berada dihadapan hidung mereka. Bahkan diperkuat dengan para pengawal dari Tanah Perdikan Sembojan.

Namun Pajang pun tidak sekadar mempercayakan pertahanannya kepada para prajurit. Karena itu, maka Pajang pun telah memanggil beberapa orang pengawal dari daerah-daerah disekitar kota yang dianggap memiliki kemampuan dasar dalam olah kanuragan untuk ikut mempertahankan kota apabila pasukan Jipang benar-benar menyerang.

Sementara itu, maka di padepokan Tlaga Kembang telah terjadi satu persiapan yang matang. Sekelompok pengiring dan penari telah siap untuk pergi ke Sembojan. Bukan hanya seorang penari, tetapi yang akan ikut bersama kelompok itu adalah dua orang penari. Seorang penari yang telah dikenal oleh orang-orang Sembojan dan seorang penari yang lain adalah seorang perempuan yang lebih tua dari penari yang seorang dan tidak mempunyai ujud yang pantas sebagai seorang penari. Tetapi yang seorang ini akan lebih banyak memancing tertawa para penontonnya kelak.

“Nah, rombongan kita sekarang menjadi lebih besar, mulai berdendang semua laki-laki Tanah Perdikan Sembojan akan terbius dan di esok harinya, mereka akan berduyun-duyun mencari pesinden yang bersuara emas itu.”

Yang menyahut adalah Kiai Badra, “Tetapi jika mereka menemukannya, maka mereka akan menjadi pingsan karenanya.”

Nyai Soka tertawa berkepanjangan. Bahkan Iswari pun tersenyum pula sebagaimana perempuan yang disebut Serigala Betina itu.

Demikianlah, dengan persiapan yang matang bukan saja untuk mengiringi seorang penari, tetapi juga untuk bertempur apabila perlu, maka rombongan penari jalanan itu telah berangkat menuju Sembojan.

Kehadiran rombongan penari yang sudah agak lama hilang itu, memang mengejutkan. Ketika rombongan itu memasuki sebuah padukuhan, maka mereka pun segera kebar di simpang tiga, di pinggir padukuhan.

Ternyata rombongan penari itu masih menarik perhatian. Orang-orang padukuhan itu segera berkumpul mengitari rombongan penari itu. Yang mereka saksikan kemudian bukan hanya seorang penari sebagaimana terdahulu, tetapi dua orang. Yang seorang memang lebih banyak berputaran dan mengundang tawa. Ujudnya yang agak kegemukan dan terhitung seorang perempuan yang gagah menurut ukuran perempuan kebanyakan, dengan gerak dan rias yang menyolok, memang membuatnya menjadi lucu. Perempuan itu tidak terlalu baik untuk menari, tetapi cukup memberikan kesegaran pada pertunjukan itu.

Tetapi satu hal yang menarik perhatian, bukan oleh para penonton, tetapi justru oleh setiap orang dalam rombongan itu, bahwa di antara para penontonnya, anak-anak mudanya terlalu jauh susut dari yang pernah mereka lihat sebelumnya.

“Sebagian dari mereka telah dikirim ke Pajang,” berkata orang-orang Tlaga Kembang itu di dalam hatinya.

Namun ketika rombongan penari itu kemudian beristirahat, dan di antara para pengiringnya sempat berbincang dengan orang-orang padukuhan itu, maka mereka mengetahui bahwa selain yang dikirim ke Pajang, maka sebagian lagi di antara mereka telah ditarik masuk ke dalam barak-barak untuk mendapatkan latihan keprajuritan, sehingga yang tinggal adalah anak-anak muda yang lemah, yang terlalu tua untuk latihan-latihan yang berat dan yang masih terlalu muda.

“Apakah masih ada yang mendapat tempaan di barak-barak?” bertanya Kiai Soka.

“Ya. Mereka dipersiapkan untuk mempertahankan Tanah Perdikan ini jika diperlukan,” jawab seseorang.

Tetapi orang lain menyambung, “Bukan hanya untuk itu. Tetapi aku kira mereka mungkin akan dikirim ke Pajang juga menyusul saudara-saudaranya yang telah terlebih dahulu diumpankan.”

Kiai Soka mengangguk-angguk, sementara Kiai Badra tidak berani berterus terang menampakkan wajahnya kepada orang-orang Sembojan sebagaimana juga Gandar, karena sebagian di antara orang-orang Sembojan itu telah mengenal mereka.

Sementara itu, Kiai Soka pun bertanya, “Ki Sanak, apakah peraturan yang dahulu masih berlaku?”

“Peraturan yang mana?” bertanya orang Sembojan itu.

“Bahwa para pengawal bahkan setiap orang harus menangkap kami apabila kami berada di Tanah Perdikan ini,” jawab Kiai Soka.

Orang Sembojan itu mengerutkan keningnya. Kemudian jawabannya, “Peraturan itu memang belum dicabut. Agaknya memang demikian. Tetapi bagi kami, apakah salah kalian?”

Kiai Soka mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Terima kasih atas sikap ini.”

Namun dalam pada itu orang Sembojan itu pun bertanya, “Tetapi Ki Sanak. Apakah kalian masih tidak bersedia menjawab teka-teki tentang penari itu?”

Kiai Soka termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Teka-teki tentang apa?”

“Ujudnya yang mirip sekali dengan Nyai Wiradana. Bahkan kami menganggap bahwa orang itu adalah Nyai Wiradana,” jawab orang Sembojan itu.

Kiai Soka tertawa. Namun katanya, “Kami akan kebar lagi dilain tempat. Kecuali jika ada yang minta rombongan itu menari disini.”

Orang Sembojan itu menjawab kecewa. Tetapi ia pun kemudian menarik nafas dalam-dalam sambil berkata, “Tanah Perdikan ini sekarang memang sedang bergejolak. Semua orang yang memiliki kelebihan berusaha membuat kami menjadi gila.”

“Apa maksudmu?” bertanya Kiai Soka.

“Kalian dapat melihat apa yang terjadi disini. Dan di antara yang membuat kami gila ada perempuan yang mirip sekali dengan Nyai Wiradana, justru pada saat kami memerlukannya,” berkata orang Sembojan itu. “Sebagian orang-orang Sembojan memastikan, bahkan ada yang mengaku sudah mendapat penjelasan yang sebenarnya, bahwa perempuan itu memang Nyai Wiradana yang meninggalkan rumahnya karena kecewa melihat sikap Ki Wiradana yang telah berhubungan dengan penari iblis itu.”

Kiai Soka menarik nafas dalam-dalam. Namun sekali lagi ia berkata, “Terima kasih Ki Sanak. Kami akan meneruskan perjalanan kami menyusuri jalan-jalan Tanah Perdikan ini untuk mencari makan.”

Orang-orang Tanah Perdikan Sembojan itu tidak dapat mencegah mereka. Selain mereka memang tidak ingin minta juga sebenarnyalah orang-orang Sembojan itu masih dibayangi oleh ingatan mereka terhadap peraturan, bahwa jika rombongan itu menari di rumah seorang di antara mereka, melihat rombongan penari itu, mereka harus menangkap atau melapor kepada para pengawal.

Tetapi menurut pendapat orang-orang padukuhan itu, pengawal padukuhan yang sudah menjadi semakin lemah itu pun sebenarnya mengetahui kehadiran rombongan itu. Namun mereka masih belum mengambil tindakan apapun juga.

Sementara itu di gardu dimulut lorong padukuhan dua orang pengawal sedang berbincang tentang rombongan itu pula.

”Aku pernah mendengar meskipun aku tidak tahu kebenarannya, bahwa rombongan penari itu bukan saja mampu memukul gamelan dan mengiringi tarian perempuan yang mirip sekali dengan Nyai Wiradana itu. Tetapi mereka juga mampu bertempur,” berkata seorang di antara mereka.

”Itu wajar. Setiap rombongan pertunjukan jalanan, tentu mempunyai satu dua orang yang dapat mereka andalkan, karena ada kemungkinan mereka mengalami gangguan di jalan,” jawab kawannya.

”Jadi bagaimana dengan kita?” bertanya yang pertama.

Kawannya tidak segera menjawab. Sementara orang yang pertama mendesak, ”Apakah kita akan menangkap mereka? Jika kau ingin kita berbuat demikian, aku pun akan melakukannya. Lepas dari pertimbangan berhasil atau tidak berhasil.”

Kawannya termangu-mangu. Namun kemudian katanya, ”Kita tidak melihat langsung. Biar sajalah. Anggap saja kita tidak tahu bahwa ada serombongan penari jalanan di padukuhan ini.”

”Kita mendengar gamelannya. Kita melihat orang-orang pergi menonton dan kita mendengar orang-orang berbicara tentang penari yang mirip dengan Nyai Wiradana itu,” berkata anak muda yang pertama.

”Aku tidak melihat mereka lewat dan aku tidak mendengar mereka berceritera tentang rombongan penari itu,” jawab kawannya.

”Persetan,” geram orang yang pertama. ”Kau ingkar. Katakan saja bahwa kau dan juga aku tidak berani bertindak atas mereka. Itu lebih jujur.”

Kawannya tidak menjawab. Tetapi ia semakin membenamkan dirinya dibalik selimut kain panjangnya. Sambil memeluk lutut ia duduk bersandar dinding gardu di mulut lorong.

Dalam pada itu, maka iring-iringan penari jalanan itu pun telah menelusuri jalan di bulak-bulak menuju padukuhan berikutnya. Mereka sama sekali tidak ingin menghindari para pengawal di gardu-gardu atau mereka yang sedang meronda nganglang Tanah Perdikan.

Namun dalam pada itu, ketika rombongan itu mendekati sebatang pohon asam yang besar di pinggir jalan, Kiai Soka yang berada di paling depan telah memberikan isyarat. Kiai Soka telah melihat dua orang yang berjongkok di pinggir jalan dibawah pohon asam itu. Dalam kegelapan malam, yang nampak oleh ketajaman pandangan Kiai Soka tidak lebih dari dua sosok bayangan yang kehitam-hitaman.

”Berhati-hatilah,” berkata Kiai Soka. ”Tentu bukan para pengawal Tanah Perdikan ini. Jangan terlibat persoalan dengan lain yang akan dapat mempersulit kedudukan kita.”

Tidak ada yang menjawab. Tetapi iring-iringan kecil itu berjalan terus dengan lampu minyak yang tergantung di pikulan gamelan yang sederhana.

Kiai Soka yang berada di paling depan memberi isyarat rombongan itu berhenti ketika dilihatnya dua orang itu bangkit berdiri dan bergeser selangkah ke depan.

”Selamat malam Ki Sanak,” terdengar salah seorang dari kedua orang itu berdesis.

”Selamat malam,” jawab Kiai Soka.

”Sebuah rombongan penari yang sangat besar menurut ukuran yang wajar,” berkata orang itu.

Kiai Soka mengerutkan keningnya. Dengan nada dalam ia bertanya, ”Apakah Ki Sanak akan minta rombongan kami untuk menari?”

Kedua orang itu berpandangan sejenak. Namun salah seorang di antara mereka berkata, ”Ya Ki Sanak. Kami ingin minta rombongan ini menari.”

”O, bagus,” jawab Kiai Soka. ”Dipadukuhan yang mana?”

”Bukan hanya di padukuhan, tetapi diseluruh Tanah Perdikan,” jawab orang itu.

Kiai Soka mengerutkan keningnya. Namun ia pun segera tanggap. Orang itu tentu mempunyai maksud tertentu terhadap rombongan penarinya. Karena itu, maka ia pun menjadi semakin berhati-hati.

Dengan nada datar Kiai Soka pun kemudian bertanya, “Ki Sanak. Jawaban Ki Sanak telah menumbuhkan persoalan di dalam diriku. Aku minta maaf, bahwa sebagai orang tua aku tidak segera mengetahui maksud Ki Sanak yang sebenarnya meskipun aku tahu, bahwa yang Ki Sanak katakan merupakan ungkapan yang harus dicari maknanya.”

Orang itu tertawa. Jawabnya, “Ketika rombongan ini kebar di padukuhan sebelah, aku ikut menyaksikan. Satu pertunjukan yang sangat menarik. Seorang penari yang memang menguasai kemampuan menari, seorang yang memberikan kesegaran pada pertunjukan karena sikap dan ujudnya, dan seorang pesinden dengan suara yang ngelangut meskipun sudah mulai bergetar karena umurnya.”

“Dan Ki Sanak tertarik kepada pertunjukan itu?” bertanya Kiai Soka.

“Ya. Menurut seorang penonton penarinya mirip sekali dengan Nyai Wiradana,” berkata orang itu.

Kiai Soka menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ki Sanak tentu bukan orang Tanah Perdikan ini. Nah, siapakah Ki Sanak sebenarnya dan apakah maksud Ki Sanak?”

“Kami orang Sembojan,” jawab orang itu.

“Orang Sembojan tentu mengenal Nyai Wiradana. Bukan sekadar menurut kata orang. Jika kalian orang Sembojan kalian tentu mengetahui menurut penglihatan Ki Sanak sendiri, apakah penariku itu mirip atau tidak dengan Nyai Wiradana,” berkata Kiai Soka.

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. “Baiklah. Kami memang bukan orang Sembojan. Tetapi menurut kami, penari itu sama sekali tidak mirip dengan Nyai Wiradana.”

“Mungkin Ki Sanak benar,” jawab Kiai Soka.

“Yang mirip dengan Nyai Wiradana adalah orang lain, yang memiliki persamaan. Tetapi orang itu adalah Nyai Wiradana sendiri,” jawab orang itu.

Kiai Soka menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Apakah Ki Sanak mendapat tugas dari para pemimpin Jipang untuk melakukan satu tindakan tertentu terhadap kami? Mungkin atas permintaan Wiradana atau istrinya yang sebenarnya adalah keluarga Kalamerta yang terkenal itu? Atau Ki Sanak sendiri memang keluarga Kalamerta yang ingin menegakkan kewibawaan Wiradana dan istrinya yang juga seorang penari jalanan?”

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun seorang di antara mereka berkata, “Kalian terlalu berprasangka buruk. Kami bukan orang Jipang dan bukan pula keluarga Kalamerta.”

“Sebut. Siapakah kalian?” desis Kiai Soka.

“Sudah kami katakan, bahwa kami adalah orang-orang yang ingin minta kalian menari. Tidak hanya sekadar dipadukuhan-padukuhan. Tetapi diseluruh Tanah Perdikan ini,” jawab orang itu. Lalu, “Bukan saja seorang penari. Tetapi kalian semuanya dan bahkan apabila mungkin mengajak orang-orang Tanah Perdikan ini untuk ikut menari.”

Kiai Soka termangu-mangu sejenak. Namun yang tidak dapat menahan diri adalah Sambi Wulung, “Apakah maksudmu sebenarnya? Jangan mencoba untuk mempermainkan kami.”

Namun Kiai Badra telah menggamitnya. Ialah yang kemudian berdiri disebelah Kiai Soka sambil berkata, “Ki Sanak. Bukan soal yang sulit untuk berbicara tanpa diketahui ujung pangkalnya oleh lawannya berbicara. Aku dapat mengucapkan kata-kata yang barangkali tidak kau mengerti maksudnya. Tetapi bukankah lebih baik bagi kita apabila kita berbicara dengan terus-terang, jelas dan dapat dimengerti maksudnya, apapun yang kemudian harus terjadi.”

Orang yang semula berada di bayangan pohon asam itu pun bergerak maju. Malam memang tidak terlalu gelap. Udara terang, bintang bergayutan tetapi bulan tidak ada di langit.

Meskipun demikian, Kiai Badra mampu melihat garis-garis wajah yang mendekatinya itu. Bahkan tiba-tiba saja ia berdesis, “Ki Tumenggung sendiri yang telah datang ke Tanah Perdikan ini?”

Orang itu tersenyum. Katanya, “Aku memerlukan untuk pergi melihat Tanah Perdikan ini dan berusaha untuk dapat berhubungan dengan serombongan penari jalanan yang berkeliling di Tanah Perdikan ini. Sudah tiga hari tiga malam aku di sini. Hampir saja aku memutuskan untuk kembali ke Pajang karena tidak ada jalan bagiku untuk dapat bertemu dengan Kiai Badra.”

“Maaf Ki Tumenggung. Kami tidak tahu dengan siapa kami berhadapan,” desis Kiai Badra, yang kemudian katanya kepada Kiai Soka, “Ini adalah Tumenggung Wirajaya. Seorang pemimpin di Pajang yang bertanggung jawab tentang Tanah Perdikan yang ada di lingkungan kekuasaan Kadipaten Pajang.”

“O,” Kiai Soka mengangguk hormat, “Kami mohon maaf Ki Tumenggung, kami tidak mengerti bahwa kami berhadapan dengan Ki Tumenggung Wirajaya.”

“Tidak apa Kiai,” jawab Ki Tumenggung. “Aku memang ingin untuk tidak dikenal. Sementara itu, aku merasa beruntung bahwa aku dapat bertemu dengan Kiai dan Kiai Badra di sini.”

Kiai Badra pun kemudian telah memperkenalkan orang yang sebenarnya adalah Ki Tumenggung Wirayuda sendiri beserta pengawalnya yang telah memerlukan datang melihat Tanah Perdikan Sembojan dari dekat.

Bahkan Ki Tumenggung itu pun kemudian berkata, “Aku tidak sekadar ingin melihat Tanah Perdikan ini setelah kehilangan tulang-tulangnya sehingga seakan-akan sudah tidak mempunyai kekuatan lagi karena anak-anak mudanya yang terbaik telah diumpankan di hadapan pasukan pajang. Tetapi aku memang ingin berbicara dengan Iswari yang dianggap sudah hilang dari Tanah Perdikan ini, karena menurut Kiai Badra, Iswari lah yang akan memegang tunggul pertanda kuasa Kadipaten Pajang yang dilimpahkan kepada pemimpin sejati dari Tanah Perdikan ini.”

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Iswari. Kemarilah Ki Tumenggung Wirajaya akan berbicara denganmu.”

Dengan ragu-ragu Iswari pun melangkah maju mendekat. Sementara Ki Tumenggung bertanya, “Apakah aku dapat berbicara sekarang? Maksudku dihadapan orang-orang ini semuanya?”

“Silakan Ki Tumenggung,” jawab Kiai Badra. “Semua orang di dalam rombongan ini adalah orang-orang yang terpercaya. Karena itu, apakah kita harus mencari tempat yang baik untuk dapat duduk sambil berbicara?”

“Tidak perlu,” jawab Ki Tumenggung. “Aku tidak akan berbicara panjang. Aku tidak ingin mengganggu serombongan penari yang sedang mencari makan.”

Kiai Badra tersenyum, sementara Ki Tumenggung sambil tersenyum pula meneruskan, “Karena itu, aku ingin berbicara singkat dan langsung.”

“Silakan Tumenggung,” sahut Kiai Badra yang kemudian berkata kepada cucunya, “Dengarkan baik-baik.”

“Iswari,” berkata Ki Tumenggung, “Meskipun aku belum pernah melihat sebelumnya, tetapi demikian aku melihat seorang penari di arena, aku langsung dapat menebak, yang manakah yang bernama Iswari. Tentu bukan yang bertubuh sedikit kegemukan dan tinggi besar seperti seorang laki-laki dengan rias yang menggelikan itu.”

Iswari hanya tersenyum sambil menundukkan kepalanya, “Nah, dengarlah,” berkata Ki Tumenggung. “Sebagaimana kalian ketahui, Tanah Perdikan ini sudah menjadi sangat lemah. Namun demikian, aku masih akan berusaha untuk membuat Tanah Perdikan ini semakin kecut melihat perkembangan suasana di Pajang. Kami sudah mempersiapkan sepasukan prajurit khusus untuk mengganggu pasukan Jipang yang diperkuat oleh anak-anak muda Tanah Perdikan ini. Mudah-mudahan kami tidak harus mengorbankan jiwa terlalu banyak, lebih-lebih anak-anak muda Tanah Perdikan ini. Sementara itu, kalian dapat mengamati keadaan. Mungkin Tanah Perdikan ini akan mengirimkan bantuan bagi pasukannya yang berada di bawah pengaruh Jipang. Namun pada saat yang demikian, kalian akan dapat banyak berbuat bagi Tanah Perdikan ini.

“Apa yang harus kami lakukan di sini,” bertanya Iswari.

“Kita akan dapat bekerja bersama. Agar anak-anak muda dari Tanah Perdikan ini tidak menjadi umpan yang tidak berarti di Pajang. Jika kami bergerak dan kalian bergerak, maka aku kira anak-anak muda tidak akan dilemparkan ke dalam api pertempuran di Pajang, karena Tanah Perdikan ini sendiri memerlukan mereka. Tanah Perdikan ini harus mengatasi kerusuhan yang ditimbulkan oleh sekelompok orang yang mengadakan pertunjukan keliling di Tanah Perdikan ini.”

“Kami mengerti Ki Tumenggung,” jawab Iswari. “Tetapi sejak kapan pasukan Pajang akan bergerak?”

“Secepatnya. Besok aku sudah berada kembali di Pajang. Sementara itu segala sesuatunya sudah direncanakan dengan masak, sehingga setiap saat pasukan Pajang akan dapat bergerak. Sementara itu kami selalu mengadakan hubungan dengan prajurit Pajang yang berhadapan langsung dengan induk pasukan Jipang yang dipimpin sendiri oleh Adipati Jipang, Arya Penangsang,” jawab Ki Tumenggung.

“Baiklah,” jawab Iswari. “Jika demikian, maka kami pun masih belum mulai hari ini. Kami akan mulai beberapa hari lagi, setelah pasukan Pajang bergerak, dan kami mendapat kabar, bahwa Tanah Perdikan ini menyiapkan orang-orangnya untuk dikirim.”

Ki Tumenggung mengangguk-angguk. Katanya, “Bagus. Ternyata kau mampu membuat perhitungan-perhitungan tentang peperangan yang aku pasti belum pernah kau lakukan sebelumnya.”

“Ah,” Iswari menundukkan kepalanya.

“Sudahlah. Segala sesuatunya akan berjalan seperti yang aku katakan. Jika terjadi perubahan, maka kami akan memberitahukan kepada kalian. Tetapi dimana aku atau orang-orangku dapat menemui kalian?” bertanya Ki Tumenggung.

“Di padepokan kecil di luar Tanah Perdikan ini,” jawab Iswari.

“Atau kita akan menentukan tempat yang lebih baik,” Kiai Badra memotong. “Tempat yang tidak terlalu jauh dari Tanah Perdikan ini, sehingga setiap gerakan akan dapat langsung dimengerti.”

“Kita akan membuat barak yang tersembunyi? Di hutan itu misalnya?” bertanya Iswari.

“Ya. Kita akan membuat semacam tempat persiapan-persiapan. Sudah tentu harus tersembunyi,” jawab Kiai Badra.

“Dimanapun jadilah,” jawab Ki Tumenggung.

Mereka pun kemudian sepakat untuk mengadakan tempat pertemuan di lereng bukit yang disebut Gunung Prapat. Bukit yang kecil dan terletak disebuah hutan yang tidak begitu lebat. Namun cukup sunyi karena jarang sekali disentuh oleh kaki seseorang.

Dengan kemampuan angan-angan mereka, maka mereka pun telah menentukan tempat itu, sehingga kedua belah pihak tidak akan menjadi kebingungan.

Dua atau tiga orang di antara kami akan selalu berada ditempat itu bergantian,” berkata Kiai Badra.

Ki Tumenggung Wirajaya mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah kita sudah menemukan beberapa kesepakatan. Yang penting kita akan dapat selalu bertemu, karena kita sudah menetapkan tempat untuk pertemuan itu. Pembicaraan berikutnya akan dapat dilakukan kemudian.”

“Ya Ki Tumenggung. Jika ada perintah, maka perintah itu dapat dilangsungkan ke tempat yang sudah kita sepakati atau utusan Ki Tumenggung dapat menunggu sebentar tidak lebih dari sehari semalam,” berkata Kiai Badra.

“Ya. Aku mengerti. Mungkin yang sedang mendapat giliran ditempat itu sedang mengejar seekor rusa atau bahkan ikut dalam rombongan seperti ini,” berkata Ki Tumenggung. “Karena itu, jika kami tidak menjumpai kalian di hutan itu, maka kami akan dapat menunggu kalian disepanjang jalan di Tanah Perdikan ini. Karena kalian sedang mencari nafkah.”

Kiai Badra, Kiai Soka dan orang-orang dalam rombongan itu pun tertawa pula.

”Nah, sudahlah. Yang penting kalian mengetahui bahwa demikian aku sampai ke Pajang, maka aku akan mulai. Prajurit-prajurit Jipang itu sudah terlalu lama menakut-nakuti orang-orang Pajang yang selalu menjadi gelisah. Bahkan beberapa orang sudah mulai mengungsi masuk gerbang kota. Agaknya orang-orang Jipang itu memang sudah mulai mengganggu penduduk,” berkata Ki Tumenggung.

Kiai Badra mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menceriterakan apa yang telah terjadi dengan dirinya dan Gandar selagi mereka menempuh perjalanan dari Pajang kembali ke padepokan kecil mereka. Sementara itu, Kiai Badra pun yakin, bahwa orang-orang Jipang itu tidak akan datang mengganggu Kademangan yang pernah menjerat mereka ke dalam kesulitan. Jika terjadi sesuatu atas Kademangan itu tentu dilakukan oleh orang-orang Jipang yang lain.

Demikianlah, maka sejenak kemudian Ki Tumenggung itu pun telah minta diri untuk kembali ke Pajang. Ia berharap bahwa ia tidak akan terlalu lama diperjalanan, sehingga ia akan dapat mulai dengan segera.

”Malam masih panjang,” berkata Ki Tumenggung. ”Aku berharap bahwa malam ini dan besok sudah cukup bagi perjalananku untuk mencapai Pajang.”

”Apakah Ki Tumenggung tidak akan menjadi sangat letih?” bertanya Kiai Soka.

”Pertanyaan yang aneh,” jawab Ki Tumenggung. ”Jika pertanyaan itu keluar dari seorang anak muda yang duduk terkantuk-kantuk di pematang karena pekerjaannya tidak lebih dari menunggui air, aku menganggapnya wajar.”

Kiai Soka tersenyum. Katanya, ”Satu pertanyaan basa-basi saja Ki Tumenggung.”

Ki Tumenggung pun tertawa. Lalu katanya, ”Sudahlah. Supaya aku tidak dihambat oleh kantuk jika aku terlalu malam berangkat dari Tanah Perdikan ini.”

Kiai Badra dan Kiai Soka pun mengangguk hormat. Sementara itu Ki Tumenggung berkata kepada Iswari, ”Setelah aku dapat langsung bertemu dengan orang yang oleh Kiai Badra diusulkan untuk memimpin perlawanan terhadap keadaan di Tanah Perdikan ini, maka aku yakin bahwa kau akan dapat melakukannya dengan baik.”

”Aku mohon restu Ki Tumenggung,” desis Iswari sambil menundukkan kepalanya.

Demikianlah maka Ki Tumenggung Wirajaya dan pengawalnya pun telah meninggalkan tempat itu untuk langsung kembali ke Pajang sebagaimana dikatakannya. Ki Tumenggung ingin hari berikutnya meskipun mungkin malam hari, ia sudah berada di Pajang untuk segera bersama-sama Panglima pasukan di Pajang mengatur perlawanan terhadap orang-orang Jipang yang berada dihadapan hidung mereka dibantu oleh orang-orang dari Tanah Perdikan Sembojan.

Sepeninggalan Ki Tumenggung, maka Kiai Badra pun berbicara dengan orang-orang di dalam rombongannya, apakah sebaiknya mereka akan meneruskan permainan mereka malam itu, atau mereka akan kembali ke Tlaga Kembang, untuk selanjutnya membangun sebuah barak di tempat yang sudah mereka tentukan.

”Kita sudah berada di Tanah Perdikan,” berkata Iswari. ”Mungkin ada juga baiknya, malam ini kita teruskan permainan kita.”

”Baiklah,” berkata Kiai Soka. ”Sebaiknya memang kita teruskan agar Nyai Soka yang sudah telanjur merias diri tidak kecewa.”

”Ah kau,” sahut Nyai Soka. ”Jangan takut, bahwa setiap laki-laki di Sembojan akan mencari aku Kiai.”

Kiai Soka tertawa. Yang lain pun tertawa pula. Namun Kiai Soka masih juga berkata, ”Tetapi yang paling sulit bagi kita adalah, apabila pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan ini jatuh cinta kepada penari jalanan kita, sebagaimana pernah terjadi.”

”Ah, kakek,” desis Iswari. ”Ia tidak akan jatuh cinta kepadaku. Itu sudah pasti. Tetapi mungkin ia akan jatuh cinta kepada perempuan yang dikenalnya sebagai Serigala Betina itu.”

”O,” sahut Serigala Betina itu. ”Ia akan menjadi suami yang sangat baik. Jika kelak aku mempunyai anak, maka anak itu akan berhak atas jabatan Kepala Tanah Perdikan.”

Orang-orang di dalam rombongan itu tertawa. Namun Jati Wulung pun kemudian berkata, ”jangan panggil lagi perempuan itu dengan Serigala Betina, agar ia tidak menjadi buas.

“Ah, kau ini ada-ada saja,” desis perempuan itu.

“Bukan lagi kebiasaanku,” jawab Iswari. “Hanya sekali ini. Setiap hari aku memanggilnya dengan namanya.”

“Panggilan itu tidak berpengaruh,” desis perempuan yang disebut Serigala Betina itu.

Demikianlah, maka iring-iringan itu pun kemudian melanjutkan perjalanan mereka ke padukuhan sebelah. Mereka sempat kebar di sudut padukuhan dan memanggil orang-orang padukuhan itu untuk berkerumun. Tetapi tidak seorang pun di antara orang-orang padukuhan itu, sebagaimana padukuhan-padukuhan yang lain, yang berani minta rombongan itu untuk menari di halaman rumahnya, karena mereka masih dibayangi perintah Ki Wiradana untuk menangkap orang-orang yang dianggap menggelisahkan Tanah Perdikan itu.

Meskipun demikian mereka tidak dapat menahan diri untuk pergi ke sudut padukuhan itu menyaksikan pertunjukkan yang sangat menarik dan menumbuhkan ketegangan di dalam hati mereka, justru karena penarinya menurut mereka adalah Nyai Wiradana itu sendiri.

Dua tiga padukuhan dilalui malam itu. Ternyata bahwa rombongan itu pun tidak melanjutkan perjalanan mereka ke Tanah Perdikan, karena mereka pun segera meninggalkan perbatasan menuju ke padepokan kecil mereka.

Namun satu hal telah mereka ketahui, bahwa Pajang sudah siap untuk mulai dengan permainannya. Karena itu maka segalanya harus dipersiapkannya dengan sebaik-baiknya. Begitu pasukan Pajang mulai mengusik prajurit Jipang, maka di Tanah Perdikan itu pun harus dimulai pada langkah-langkah yang serupa.

Dan itu akan terjadi segera setelah Ki Wirajaya sampai di Pajang.

Sebenarnyalah, bahwa di Pajang segala persiapan telah dilakukan. Mereka hanya menunggu Ki Tumenggung Wirajaya yang mengadakan hubungan dengan Tanah Perdikan Sembojan. Ketika Ki Tumenggung melampaui batas waktu yang ditentukan, maka para pemimpin di Pajang menjadi cemas, bahwa telah terjadi sesuatu dengan Ki Tumenggung. Namun di samping itu, pasukan Pajang pun telah mendapat perintah untuk bergerak setiap saat.

Tetapi pada saat yang paling menegangkan, maka Ki Tumenggung Wirajaya yang telah mereka tunggu itu pun datang. Dengan senyum di bibirnya ia hadir di barak yang menjadi pusat pembicaraan para manggala di Pajang untuk mengambil keputusan-keputusan dalam hubungannya dengan kehadiran pasukan Jipang.

“Aku terlambat setengah malam,” berkata Ki Tumenggung.

“Kami sudah merasa sangat cemas,” jawab seorang Senopati, “Kami sudah memutuskan untuk membicarakan langkah-langkah yang akan kami ambil.”

“Jadi kalian sudah mengambil keputusan?” bertanya Ki Tumenggung.

“Kami baru memutuskan untuk mengambil keputusan. Kau mengerti maksudku?” jawab Senopati itu.

Ki Tumenggung Wirajaya yang selalu tersenyum itu tersenyum pula. Katanya, “Istilahmu cukup berbelit-belit. Tetapi aku mengerti. Dan dengan demikian aku masih mendapat kesempatan untuk ikut berbicara bersama kalian.”

Demikianlah, maka malam itu juga telah dilakukan pembicaraan penting tentang langkah-langkah yang akan diambil Pajang untuk menghadapi perkembangan keadaan. Ki Wirajaya pun telah melaporkan hasil perjalanannya ke Tanah Perdikan Sembojan. Ia baru dapat bertemu dengan Kiai Badra para saat terakhir dari kunjungannya ke Tanah Perdikan Sembojan.

“Baiklah,” berkata panglima pasukan Pajang, “Kita akan mulai dengan rencana kita. Jika orang-orang yang disebut oleh Ki Tumenggung Wirajaya di Tanah Perdikan Sembojan melakukan langkah-langkah sebagaimana telah disepakati, maka Tanah Perdikan Sembojan tidak akan mengirimkan pasukan tambahan ke Pajang, dan sebaliknya pasukan Tanah Perdikan yang sudah telanjur berada disini tidak akan dikirim kembali ke Tanah Perdikan untuk membantu dan menegakkan kedudukan pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan yang curang itu.”

“Ya,” sahut Ki Tumenggung Wirajaya. “Rencana itu dapat dilaksanakan. Aku yakin, bahwa rencana itu akan dapat berjalan juga di Tanah Perdikan.”

Demikianlah, maka Panglima pasukan Pajang di Pajang itu telah mengambil suatu keputusan. Keputusan yang dengan cepat akan dilaksanakan berbareng dengan keberangkatan dua orang penghubung ke pasanggrahan pasukan Pajang yang berhadapan dengan pasukan Jipang disebelah menyebelah Bengawan Sore, karena Kanjeng Adipati Hadiwijaya sendiri ada di pasanggrahan itu, siap menghadapi langkah-langkah yang dapat diambil oleh Arya Penangsang yang juga berada di pasanggrahannya di antara para prajuritnya yang terpilih.

Malam itu, para pemimpin di Pajang masih sempat beristirahat sejenak. Namun demikian fajar mulai menyingsing, maka para Senopati itu pun telah mempersiapkan pasukannya masing-masing.

Dengan susunan perang, pasukan segelar sepapan itu pun telah keluar dari regol kota menuju ke sarang lawan dan memasang gelar menghadapi pasukan Jipang. Namun pasukan Pajang masih memelihara jarak sehingga saat itu keduanya masih belum turun memasuki pertempuran.

Para pengamat dari Jipang yang melihat pasukan segelar sepapan telah berada di luar pintu gerbang, maka mereka pun segera menyusun diri. Tetapi menilik jarak yang masih terlalu jauh, maka orang-orang Jipang itu pun menganggap bahwa Pajang masih belum akan bergerak langsung hari itu juga.

Dalam pada itu, maka para pemimpin Jipang pun telah mengadakan pembicaraan. Menurut laporan para petugas pengawasan, pasukan Pajang bukannya pasukan yang sangat kuat.

“Kita akan mampu menghancurkan dan menghalau sisa-sisa pasukan itu,” berkata Ki Rangga Gupita yang berada di antara pasukan Jipang. “Meskipun yang nampak itu agaknya jauh lebih kuat dan bersungguh-sungguh dibandingkan dengan pasukan-pasukan Pajang yang telah menampakkan diri dihadapan mereka sebelumnya dan menghilang kembali, masuk ke dalam gerbang kota.”

Dengan demikian maka pasukan Jipang pun telah bersiap. Sebagian dari pasukannya telah berada di luar padukuhan yang dipergunakannya sebagai pasanggrahan. Mereka telah memasang kerangka gelar yang akan mereka pergunakan apabila pasukan Pajang itu benar-benar menyerang. Namun sementara itu, sebagian yang lain masih saja berada di dalam padukuhan.

“Jangan menghambur-hamburkan tenaga tanpa arti,” berkata para pemimpin Jipang. “Nampaknya orang-orang Pajang yang putus asa itu ingin memancing agar kita menjadi tegang dan kehilangan keseimbangan. Biarlah orang-orang Pajang itu menghamburkan tenaga mereka sendiri. Tetapi kita cukup berpengalaman dan tidak terpancing untuk berbuat sesuatu yang tidak ada gunanya. Namun, meskipun demikian kita harus tetap berhati-hati menghadapi perkembangan keadaan. Kita tidak boleh lengah.”

Dengan demikian maka sebagian dari pasukan Jipang termasuk orang-orang Tanah Perdikan Sembojan itu masih sempat beristirahat sepenuhnya, meskipun setiap saat bunyi isyarat mereka harus bersiap memasuki gelar yang sudah dipasang kerangkanya.

Sebagaimana diperkirakan oleh orang-orang Jipang, maka Pajang tidak bergerak pada hari itu. Pasukan Pajang tetap berada ditempat mereka memasang gelar dihadapan pasukan Jipang yang berada disebuah padukuhan. Padukuhan yang menjadi kosong karena penduduknya telah mengungsi ke luar padukuhan itu.

Panglima pasukan Pajang telah mendengarkan setiap laporan tentang gerak pasukan Jipang itu setiap saat. Namun menurut laporan para pengamat, pasukan Jipang tidak menarik pasukannya ke luar dari padukuhan dan siap menghadapi pasukan Pajang sepenuhnya. Tetapi mereka hanya sekadar memasang kerangka gelar.

“Luar biasa,” berkata Panglima pasukan Pajang, “Mereka benar-benar prajurit pilihan. Mereka tetap tenang dalam keadaan seperti ini.”

Ki Tumenggung Wirajaya mengangguk-angguk. Namun katanya, “Tetapi bukankah kita akan mengetrapkan rencana kita dalam keseluruhan termasuk gerak pasukan?”

“Tentu,” jawab Panglimanya. “Mudah-mudahan kita berhasil mengatasi pasukan Jipang itu dengan cara kita.”

Ketika matahari menjadi terik, maka orang-orang Jipang yang masih berada di padepokan itu memandang gelar sepasukan Pajang dikejauhan dengan senyum dibibir. Orang-orang Pajang itu sebagian besar telah dibakar oleh panasnya terik matahari. Mereka tidak berusaha untuk mengubah gelar atau bahkan menarik sebagian dari para prajuritnya untuk memasuki padukuhan dan berteduh dibawah rimbunnya pepohonan bergantian seperti yang dilakukan oleh orang-orang Jipang. Bahkan orang-orang Pajang itu telah memasang tunggul, rontek dan umbul-umbul untuk menunjukkan kebesaran pasukannya.

“Orang-orang Pajang memang bodoh,” berkata para perwira Jipang. “Apa arti semua pertanda kebesaran bagi kami? Bahkan dengan demikian mengetahui bahwa sebenarnya pasukan Pajang itu terlalu kecil sehingga mereka merasa perlu untuk memantapkan kedudukan mereka dengan segala macam pertanda kebesaran.”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Mereka sependapat dengan penilaian perwira itu. Bahkan beberapa orang perwira masih sempat tidur nyenyak di siang hari untuk menghilangkan kejemuannya menunggu.

Keadaan itu tidak berubah sampai saatnya matahari turun ke barat. Bahkan ketika senja turun, orang-orang Pajang sama sekali tidak beringsut dari tempatnya.

“Mereka benar-benar telah menjadi gila,” desis seorang perwira Jipang.

Namun Rangga Gupita memotong, “Itu adalah satu cara yang pernah dilakukan oleh para prajurit Demak. Tetapi agaknya yang dilakukan itu kurang tepat. Seharusnya pasukan yang demikian adalah pasukan yang mengepung kedudukan lawannya. Sedangkan pasukan Pajang itu tidak mengepung kita. Tetapi seperti yang sudah kita ketahui, mereka sekadar memancing agar kita selalu berada dalam ketegangan.”

“Seharusnya kitalah yang melakukannya dihadapan pintu gerbang kota Pajang,” desis seorang perwira yang lain.

“Ya. Barangkali itu lebih tepat,” jawab kawannya. “Tetapi kita tidak akan melakukan pekerjaan yang tidak berarti.”

Demikianlah, maka Jipang lebih condong untuk memperkuat pengamatan dan mempertahankan kerangka gelar. Setiap saat gelar itu dapat disempurnakan dengan cepat, sementara pasukannya yang lain masih dapat menunggu dengan tanpa ketegangan.

Namun satu hal yang tidak dilihat oleh orang-orang Jipang. Pasukan Pajang memang masih selalu berada di tempatnya. Tunggul, rontek dan umbul-umbul masih terpancang dengan megahnya. Namun ketika gelap menyelubungi medan, sebagian dari pasukan Pajang itu telah dihisap kembali masuk ke dalam gerbang kota.

Yang terjadi, ketika fajar menyingsing adalah sangat mengejutkan. Pasukan Jipang yang menghadapi gelar itu sama sekali tidak melihat gerakan apapun juga, sehingga mereka masih tetap menganggap bahwa hari itu pasukan Pajang tidak akan bergerak meskipun dari padukuhan yang dipergunakannya sebagai pesanggrahan mereka melihat kesibukan. Tetapi kesibukan itu tidak lebih dari orang-orang yang membagi makanan bagi pasukan Pajang. Karena itu, maka pasukan Jipang sama sekali tidak mengubah keadaannya pula.

Tetapi yang sebenarnya terjadi pada saat itu adalah, bahwa pasukan Pajang segelar sepapan telah dengan serta merta menyerang kedudukan pasukan Pajang disisi yang lain.

Serangan itu memang mengejutkan. Pasukan Jipang itu telah mendapat hubungan dari pasukan yang diperkuat oleh anak-anak muda dari Tanah Perdikan Sembojan dan melaporkan bahwa pasukan Pajang telah memasang gelar dihadapan mereka. Namun ternyata yang tiba-tiba mendapat serangan adalah pasukan Jipang disisi yang lain.

Serangan itu datangnya tiba-tiba sekali dan diluar perhitungan para perwira Jipang yang berada disebelah Barat Pajang. Mereka bahkan sudah menyiapkan sebagian dari pasukannya untuk membantu pasukan Jipang yang berada disisi Timur bersama pasukan Tanah Perdikan Sembojan. Namun tiba-tiba pasukan Jipang yang disisi Barat itulah yang mendapat serangan dengan kekuatan yang sangat besar. Kekuatan yang tidak disangka-sangka karena sebagian dari pasukan Pajang telah berada di sekitar Demak dan yang lain mengadakan gelar disisi Timur Kota.

Namun pasukan Jipang adalah pasukan yang gigih. Mereka adalah prajurit-prajurit yang ditempa dalam suasana yang penuh dengan gejolak perjuangan, karena Adipati Jipang sejak semula merasa bahwa haknya atas tahta Demak telah dirampas oleh seseorang yang kemudian mengalir ke jalur Sultan Trenggana.

Tetapi bagaimanapun juga kekuatan yang besar dari Pajang dibanding dengan kekuatan Jipang, apalagi sergapan yang tiba-tiba itu telah membuat pasukan Jipang menjadi kacau.

Dengan kemampuan para pemimpinnya, Jipang berusaha untuk menyusun diri dalam gelar perang yang memadai. Gelar yang paling mungkin dicapai untuk menghadapi gelar Sapit Urang yang datang dengan garangnya.

Para prajurit Jipang juga berusaha untuk menghadapi pasukan Pajang dengan tebaran pasukan, karena mereka tidak mau terperangkap ke dalam kepungan. Karena itu, maka pasukan Jipang telah menyusun gelar Wulan Panunggal dengan meletakkan kekuatannya pada ujung gelarnya, sementara bagian tengah dari pasukan Jipang memang ditarik mundur beberapa lapis. Namun kemudian mereka berusaha untuk bertahan pada garis tertentu, sementara kedua ujung pasukannya dengan tajam menyerang dan menusuk gelar lawan.

Tetapi kekuatan gelar lawannya juga ada di ujung pasukan. Apalagi pasukan Pajang sempat merencanakan dan menyusun gelarnya dengan tertib sehingga perhitungannya lebih mapan dari pasukan Jipang yang harus bergerak dengan tiba-tiba.

Pertempuran semakin lama menjadi semakin seru. Tetapi hentakan pertama pasukan Pajang ternyata mempunyai pengaruh yang besar. Perlahan-lahan pasukan Jipang memang terdesak, sehingga mereka telah menarik garis surut.

Tetapi pasukan Pajang mendesaknya dengan tanpa ampun. Bagi mereka pertempuran itu akan ikut menentukan kedudukan Pajang selanjutnya.

Ternyata bahwa serangan yang tiba-tiba itu memang sulit untuk diatasi oleh pasukan Jipang. Betapapun mereka dengan sikap seorang prajurit sejati bertempur tanpa mengenal gentar, namun para pemimpin Jipang juga mempunyai perhitungan yang dilandasi dengan nalar. Jika mereka memaksakan diri bertempur terus, maka korban akan semakin banyak jatuh, sementara itu mereka tidak akan berhasil mempertahankan diri. Karena itu, maka Senapati tertinggi yang memimpin pasukan Jipang itu, setelah mengadakan pembicaraan pendek dengan para pembantunya, telah memutuskan untuk memerintahkan pasukannya mundur.

Sejenak kemudian, maka isyarat itu pun telah didengar oleh seluruh pasukan Jipang. Karena itu, selagi mereka masih mempunyai kekuatan, maka mereka pun telah bergerak mundur melintasi bulak-bulak dan pategalan.

Dengan kemampuan seorang prajurit, maka pasukan Jipang yang mundur itu masih tetap kelihatan utuh. Sehingga dengan demikian, maka pada saat-saat tertentu pasukan itu masih juga mampu memukul lawannya. Bahkan beberapa orang sempat membawa kawan-kawan mereka yang terluka. Namun demikian satu dua orang di antara mereka yang terbunuh, terpaksa harus mereka tinggalkan.

Pasukan Pajang berusaha untuk mendesak mereka dan memburu pasukan yang mundur itu. Tetapi pasukan Jipang mampu mempergunakan pategalan dan padukuhan-padukuhan untuk menemukan perisai bagi pasukannya yang sedang mundur itu.

Akhirnya, para pemimpin Pajang memerintahkan pasukannya untuk menghentikan pengejaran. Nampaknya para pemimpin pasukan Pajang tidak lagi melihat manfaatnya untuk mengejar pasukan Jipang itu terus-menerus. Apalagi langit menjadi buram dan senja pun akan segera turun.

Panglima pasukan Pajang yang sehari sebelumnya sempat mengatur gelar disisi Timur ternyata telah memimpin langsung pasukan Pajang yang menyerang kedudukan pasukan Jipang itu. Dengan demikian maka pasukan Pajang telah menduduki padukuhan yang untuk beberapa lama telah dipergunakan sebagai pesanggrahan dari pasukan Jipang disisi Barat. Tetapi mereka tidak akan tetap berada di padukuhan itu.

Sementara itu, maka pasukan Pajang pun telah ditarik kembali. Malam itu juga panglima pasukan Pajang itu telah memerintahkan pasukannya untuk kembali ke garis gelar pasukannya disisi Timur.

Hari itu juga pasukan Jipang yang berada di sisi Timur telah dihubungi oleh dua orang penghubung pasukan Jipang di sisi Barat. Mereka melaporkan apa yang telah terjadi. Pasukan Pajang telah mengerahkan pasukannya untuk menyerang kedudukan Jipang di sisi Barat.

“Gila,” geram Ki Rangga Gupita, “Kita jangan kehilangan waktu. Kita harus menyerang kedudukan pasukan Pajang di sisi Timur.”

“Kapan?” bertanya seorang perwira.

Ki Rangga Gupita termangu-mangu sejenak. Matahari telah mulai turun ketika laporan itu sampai kepadanya. Jika ia mempersiapkan serangan, maka waktunya tinggal sedikit sebelum malam tiba. Karena itu, maka katanya, “Besok pagi-pagi menjelang fajar kita bersiap. Mudah-mudahan pasukan Pajang masih belum siap. Sebagian dari mereka ternyata berada di sisi Barat. Yang nampak oleh kita adalah sekadar bayangan kekuatan pasukan Pajang. Karena itu, maka besok pagi-pagi benar kita harus mendahului kehadiran pasukan Pajang yang lebih besar lagi. Mereka agaknya masih menikmati kemenangan mereka di sisi Barat.”

Rangga Gupita bergerak dengan cepat. Senapati pasukan Jipang yang ada di sisi Timur itu pun telah menyiapkan pasukannya. Mereka sudah berada di dalam gelar malam itu, sehingga jika langit menjadi terang esok pagi, pasukan itu langsung dapat bergerak.

Hampir semalam suntuk para pemimpin pasukan Jipang tidak tertidur. Namun mereka masih juga memperhitungkan keadaan wadag mereka, sehingga beberapa orang berusaha untuk beristirahat meskipun hanya sekejap.

Ketika fajar menyingsing, maka pasukan pun telah bersiap. Mereka telah mendapat ransum mereka, karena ada kemungkinan bahwa mereka akan bertempur sehari penuh, sehingga dengan demikian maka mereka harus makan lebih dahulu sekenyang-kenyangnya.

Untuk beberapa saat prajurit-prajurit Jipang dan para pengawal Tanah Perdikan itu sempat beristirahat. Mereka berjalan hilir mudik untuk memanaskan tubuhnya, serta mendorong makanan yang baru saja mereka makan turun ke dalam perut.

Rangga Gupita ternyata tidak menunggu sampai matahari terbit. Ketika semuanya sudah siap, maka ia pun telah berhubungan dengan Panglima pasukan Jipang dan memberikan beberapa pendapat dan pesan.

“Sekarang sudah saatnya,” desis Rangga Gupita.

Senapati Jipang yang memimpin pasukan di sisi Timur itu pun segera memberikan isyarat kepada para pemimpin kelompok sehingga sejak kemudian segalanya telah siap sepenuhnya.

Karena itu, maka Senapati pasukan Jipang itu pun telah memerintahkan pasukannya untuk menyerang kedudukan pasukan Pajang di luar pintu gerbang.

Sejenak kemudian, maka pasukan Jipang yang diperkuat oleh para pengawal Tanah Perdikan Sembojan yang sudah terlatih telah menyerang pasukan Pajang bagaikan banjir bandang. Dengan sorak yang getap gempita dan bagaikan memecahkan langit, diiringi oleh isyarat suara bende yang mendengung memenuhi udara, maka pasukan Jipang itu menghantam pasukan Pajang digaris gelarnya.

Dalam pada itu, pasukan Pajang ternyata sudah lengkap sebagaimana dilihat oleh pasukan Jipang pada hari pertama. Mereka yang berada di sisi Barat telah kembali di dalam gelar yang padat itu.

Hal itulah yang diperhitungkan oleh Rangga Gupita. Mereka yang memimpin pasukan Jipang itu menduga bahwa sebagian pasukan Pajang tentu ditarik di sisi Barat dan untuk sementara masih menikmati kemenangan mereka. Karena itu, maka Rangga Gupita dan para pemimpin pasukan Jipang mengambil keputusan untuk dengan tergesa-gesa menyerang pasukan Pajang itu.

Tetapi hal itu sudah diperhitungkan oleh para pemimpin prajurit di Pajang. Sebagaimana mereka menarik sebagian prajurit Pajang dari gelarnya di sisi Timur masuk kembali ke dalam regol dan kemudian justru menyerang ke Barat, maka para prajurit itu pun dengan diam-diam di malam hari telah merayap kembali ke dalam gelar di sisi Timur. Meskipun mereka merasa letih dan bahkan beberapa di antara mereka telah dilukai dengan goresan-goresan kecil, namun mereka sudah siap untuk bertempur.

Meskipun demikian ada juga di antara kawan-kawan mereka yang tidak dapat ikut kembali ke dalam gelar, karena terluka parah dan bahkan ada di antara mereka yang terbunuh.

Demikianlah, ketika pasukan Pajang itu menyaksikan pasukan Jipang berlari-larian menyerang mereka dalam gelar yang utuh, maka mereka pun telah bangkit pula. Mereka tidak mau didorong dalam benturan pertama tanpa memberikan hambatan.

Karena itu, maka di antara para prajurit yang ada di dalam gelar itu pun telah siap menyambut lawan mereka. Sekelompok prajurit yang terpencar pada bagian-bagin gelar telah berloncatan ke depan sambil menarik busur mereka. Beberapa orang yang lain justru bergeser surut mengambil ancang-ancang.

Sejenak kemudian, maka anak panah pun telah berebut terbang di udara. Suaranya yang berdesing nyaring telah menggelitik jantung. Bahkan ternyata orang-orang Pajang telah membuat hujan anak panah itu semakin menggetarkan jantung karena ada beberapa di antara anak panah yang dilontarkan itu adalah anak panah sendaren.

Tetapi para prajurit Jipang pun cukup terampil. Dengan serta merta maka prajurit-prajurit yang membawa perisai segera mengambil tempat dipaling depan. Mereka berusaha melindungi kawan-kawannya dengan perisai mereka. Mereka berusaha untuk memukul dan mengibaskan anak panah yang beterbangan di atas kepala mereka.

Namun sejenak kemudian, maka yang menyusul beterbangan di udara adalah beberapa puluh lembing. Prajurit-prajurit Pajang yang mengambil ancang-ancang telah melontarkan lembing-lembing yang berada di tangan mereka.

Dalam pada itu, bagaimana pun juga para prajurit Jipang berusaha untuk berlindung di balik perisai-perisai namun satu dua ada juga anak panah dan lembing yang lolos dan mematuk sasaran. Satu dua orang prajurit Jipang dan anak-anak muda Tanah Perdikan itu pun ada juga yang roboh jatuh di tanah. Karena dorongan kekuatan sendiri, maka orang-orang yang sedang berlari itu pun sulit untuk berhenti atau menghindar, sehingga orang-orang yang terjatuh itu justru telah terinjak kaki-kaki kawan-kawannya.

Namun demikian pasukan Jipang dan anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan yang jumlahnya cukup besar itu telah bergeser maju dengan cepat, sehingga kesempatan untuk mempergunakan lembing dan anak panah pun segera terputus. Pasukan lawan itu menjadi begitu dekat.

Dengan demikian, maka para prajurit Pajang itu pun telah meletakkan busur mereka. Mereka pun berganti menggenggam pedang dan tombak. Dengan senjata merunduk maka mereka pun telah menyambut kedatangan lawan.

Demikianlah, maka kedua gelar itu pun bertemu. Pertempuran pun segera membakar arena. Pasukan Jipang yang telah lebih dahulu berteriak-teriak itu pun membentur pasukan Pajang dengan garangnya.

Namun pasukan Pajang benar-benar sudah siap menerima kehadiran lawannya. Dengan tangkasnya mereka menghindari serangan. Namun tiba-tiba merekalah yang mengayunkan pedang mendatar menebas tubuh lawannya.

Tetapi orang-orang Jipang pun telah bersiap sepenuhnya, sehingga karena itu, maka mereka pun dengan cepat bergeser surut dan bahkan serangan merekalah yang datang mendesak.

Dengan demikian maka pertempuran itu pun semakin lama menjadi semakin sengit. Kedua belah pihak telah saling menyerang dan saling mendesak. Kedua belah pihak adalah prajurit-prajuti pilihan. Bahkan anak-anak Tanah Perdikan Sembojan pun adalah anak-anak yang memiliki bekal kemampuan yang cukup. Mereka telah ditempa oleh para perwira dari Jipang, sehingga dengan demikian maka mereka tidak canggung lagi untuk turun ke arena.

Namun ternyata bagi anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan, para prajurit Pajang terlalu garang bagi mereka. Agak berbeda dengan latihan-latihan yang mereka alami dengan para perwira dari Jipang. Dalam pertempuran yang sebenarnya, di dalam benturan gelar yang padat, maka ujung senjata menyambar-nyambar tanpa dikekang sama sekali. Sehingga dengan demikian, karena kurangnya pengalaman betapapun tingginya latihan-latihan yang telah mereka lakukan, namun pertempuran yang sengit itu telah membuat jantung mereka menjadi berdebar-debar.

Namun di antara mereka terdapat orang-orang Jipang yang tidak kalah garangnya dengan orang-orang Pajang, sehingga dengan demikian, maka anak-anak muda dari Tanah Perdikan Sembojan itu pun mendapat tuntunan langsung, bagaimana menghadapi para prajurit Pajang. Meskipun bagaimana pun juga ketiadaan pengalaman mereka mempunyai pengaruh yang besar.

Ketika matahari memanjat langit semakin tinggi, maka pertempuran menjadi semakin seru. Apalagi ketika tangan-tangan mereka telah mulai basah oleh keringat. Maka kedua belah pihak seakan-akan menjadi semakin garang.

Dalam pada itu, selagi pertempuran antara ke dua pasukan itu meningkat sengit, maka dua orang dengan jantung berdebaran berdiri agak jauh di belakang pasukan Jipang sambil mengamati pertempuran itu. Seorang yang sudah berusia agak tinggi berdesis, ”Ternyata bahwa usaha para perwira Jipang tidak sia-sia. Anak-anak muda Sembojan telah menjadi tangkas dan mampu dilepas di medan yang berat seperti ini. Tetapi mereka belum berpengalaman.”

”Ya Ki Randukeling,” jawab yang lain. ”Mereka tidak mengecewakan. Aku berharap bahwa tidak usah menunggu matahari terbit, pasukan Pajang telah pecah dan mereka akan kita hancurkan sebelum mereka sempat mencapai pintu gerbang.

Ki Randukeling mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, ”Rangga Gupita. Kau ini sekadar bermimpi atau karena kau ingin membuat hatimu sendiri tenteram?”

”Kenapa?” bertanya Ki Rangga Gupita.

”Apakah kau tidak melihat benturan yang terjadi antara kedua pasukan itu?” bertanya Ki Randukeling pula.

”Aku melihatnya. Bukan dalam pengamatan sekilas, setidak-tidaknya pasukan itu seimbang?” bertanya Ki Rangga Gupita. Lalu katanya, ”Tetapi jika pertempuran itu mencapai lewat tengah hari, maka anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan sudah menjadi tidak canggung. Mereka akan segera mencapai puncak kemampuan mereka, sehingga mereka akan menjadi semakin meningkat. Dalam keadaan yang demikian, maka seolah-oleh kekuatan pasukan Jipang akan bertambah.”

Tetapi Ki Randukeling menyahut, ”Jangan berharap terlalu banyak dari anak-anak Tanah Perdikan Sembojan. Mereka memang telah menunjukkan kemampuan yang tinggi. Tempaan yang diberikan oleh perwira Jipang itu benar-benar membuat mereka menjadi anak-anak muda yang memiliki jiwa dan kemampuan seorang prajurit. Tetapi yang harus mendapat perhatian adalah bahwa pengalaman mereka sama sekali tidak berarti bagi pertempuran seperti ini. Karena itu, bagi mereka yang tidak mampu berpikir cepat untuk menyesuaikan diri, akan segera mengalami kesulitan. Selain itu, kita harus ingat, bahwa di antara anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan, bahkan bagian yang cukup besar, adalah para pengawal yang mendapat latihan lebih sedikit dari pengawal khusus Tanah Perdikan yang mungkin kita sebut memiliki kemampuan seorang prajurit itu.”

”Mereka yang mendapat latihan-latihan tidak langsung itu pun ternyata telah mampu bergerak dengan tangkas. Mereka yang cepat menempatkan diri mereka ke dalam gelar. Kemudian mereka pun dengan cepat sebagaimana dilakukan para prajurit, menyesuaikan diri menghadapi gelar lawan. Mengisi kekosongan dan relung-relung gelar yang disusupi oleh lawan,” berkata Rangga Gupita.

Ki Randukeling mengangguk-angguk. Desisnya, ”Mudah-mudahan kau benar. Tetapi kita tidak boleh menutup mata terhadap kenyataan. Kita tidak boleh berpura-pura bangga atas pasukan kita, jika sebenarnya pasukan itu mengalami kesulitan.”

”Ki Randukeling,” desis Ki Rangga Gupita, ”Di bagian manakah dari gelar itu yang mengalami kesulitan. Bukankah di segala tempat pasukan Jipang mampu menahan kemajuan para prajurit Pajang.”

Ki Randukeling mengangguk-angguk. Ia memang melihat kedua gelar itu saling bertahan meskipun mereka telah bertempur cukup lama. Namun Ki Randukeling masih menyaksikan keahlian anak-anak muda Tanah Perdikan yang belum berpengalaman.

Menurut Ki Rangga Gupita, mereka akan segera terbiasa menghadapi lawan di medan.

Mereka tidak akan lagi canggung dan tidak akan gentar melihat darah memercik dari tangan mereka. Jika sudah demikian, maka kemampuan mereka seakan-akan menjadi meningkat.

“Tetapi Ki Rangga tentu ingin membuat hatinya sendiri menjadi tenang,” berkata Ki Randukeling. “Ketahanan tubuh anak-anak muda itu tentu berbeda dengan para prajurit yang sudah jauh berpengalaman. Anak-anak yang berani itu telah menghentakkan segenap kekuatan dan tenaga mereka, meskipun mereka sudah dipesan untuk menghematnya, karena pertempuran itu akan berlangsung lama. Karena itu, maka keseimbangan dapat dipertahankan pada permulaan dari pertempuran itu, tetapi kemudian tidak seperti yang diharapkan oleh Ki Rangga. Ketahanan tubuh anak-anak muda itu akan segera menurun dan keseimbangan pun berubah.”

Ki Rangga menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Aku akan berada di pertempuran. Meskipun aku hanya satu orang tetapi jika aku mampu membuat orang-orang Pajang terkejut, maka agaknya akan mempunyai pengaruh yang besar pula bagi anak-anak Tanah Perdikan Sembojan itu sendiri,” ia berhenti sejenak, lalu, “Bagaimana dengan Ki Randukeling?”

“Aku tidak akan memasuki medan hari ini. Belum waktunya. Entahlah jika besok pagi atau waktu-waktu yang lain,” jawab Ki Randukeling.

Ki Rangga Gupita menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar, bahwa Ki Randukeling bukannya prajurit Jipang yang dapat diperintahnya. Ia dapat berbuat menurut kehendaknya sendiri.

Karena itu, maka Ki Rangga pun tidak memaksa. Bahkan katanya, “Baiklah Ki Randukeling. Beristirahatlah. Aku akan berada di antara anak-anak muda Tanah Perdikan itu.”

“Mudah-mudahan Jipang benar-benar mampu mematahkan perlawanan Pajang. Tetapi agaknya semua unsur harus kau perhitungkan,” jawab Ki Randukeling.

Ki Rangga pun tidak menyahut. Ia pun segera berlari meninggalkan Ki Randukeling menuju ke medan.

Tetapi semakin dekat ia dengan medan, maka hatinya pun menjadi semakin berdebar-debar. Ia mulai melihat apa yang semula tidak nampak oleh matanya, tetapi tertangkap oleh ketajaman mata Ki Randukeling. Ternyata bahwa di beberapa bagian dari medan, ia memang melihat kegelisahan dari anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan. Bahkan semakin dekat dengan medan, ia baru melihat, bahwa pasukan Pajang ternyata lebih banyak dari perhitungannya.

Namun demikian, ia masih melihat bahwa jumlah pasukan Jipang lebih besar dari pasukan Pajang sehingga dengan demikian, maka Ki Rangga masih berharap bahwa pasukan Jipang akan berhasil mendesak lawannya meskipun tidak secepat yang diduganya dan meskipun tidak menghancurkan pasukan Pajang sebagaimana diinginkan.

Untuk beberapa saat Ki Rangga berdiri dibelakang garis perang. Namun kemudian ia pun telah berusaha untuk menemukan Senapati tertinggi pasukan Jipang yang berada disisi Timur Pajang.

“Jumlah pasukan Pajang melampaui dugaan,” berkata Senapati itu ketika ditemui Ki Rangga di medan.

“Ya,” jawab Ki Rangga, “Agaknya sebagian prajurit yang kemarin berada disisi Barat telah sempat ditarik,” jawab Ki Rangga. “Kita agaknya terlambat. Jika kemarin meskipun menjelang sore kita menyerang pasukan Pajang, mungkin keadaannya akan berbeda.”

“Tetapi kita sudah terlibat ke dalam pertempuran,” geram Senapati itu.

“Aku akan ikut bertempur,” berkata Ki Rangga.

Senapati itu memandang Ki Rangga sejenak. Lalu katanya, “Terima kasih. Sebaiknya Ki Rangga berada di antara anak-anak muda Tanah Perdikan yang memerlukan dukungan kejiwaan. Mereka mulai terpengaruh oleh kegarangan pasukan Pajang, meskipun para prajurit Jipang telah berbuat yang sama. Dua orang Senapati pembantuku telah berada di antara mereka disayap kiri. Mungkin Ki Rangga akan berada di sayap kanan.”

Ki Rangga mengangguk-angguk. Jawabannya, “Baiklah. Aku akan berada disayap kanan. Namun setelah aku melapor kehadiranku di medan.”

Demikianlah, maka Ki Rangga Gupita itu telah menyusup di antara para prajurit Jipang dan anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan untuk mencapai ujung sayap disebelah kanan

Beberapa orang prajurit Jipang yang berada di sayap itu menyambut kedatangan Ki Rangga dengan gembira dan harapan. Bagi mereka Ki Rangga adalah seorang petugas sandi yang juga seorang prajurit yang memiliki kemampuan yang tinggi. Karena itu, maka kehadirannya tentu akan membantu memperingan tugas para prajurit Jipang.

“Marilah,” berkata Ki Rangga.

“Anak-anak ingusan itu tidak mampu berbuat banyak,” desis seorang perwira Jipang. “Mereka belum berpengalaman.”

“Tetapi bukankah kehadirannya dapat juga mengurangi beban para prajurit Jipang?” bertanya Ki Rangga.

“Ya,” jawab perwira itu.

Namun sejenak kemudian, keduanya pun telah terlibat ke dalam pertempuran melawan prajurit-prajurit Pajang.

Dalam pada itu, ternyata Ki Rangga Gupita memang seorang yang memiliki ilmu yang tinggi. Dalam waktu yang singkat, ia telah mampu menunjukkan kegarangannya. Seorang prajurit Pajang yang menyerangnya, tiba-tiba saja telah terdorong surut. Dengan cepatnya Ki Rangga mengayunkan pedangnya mendatar.

Yang terdengar adalah keluhan tertahan. Seleret luka telah mengoyak dada prajurit Pajang itu, sehingga sekali lagi ia terdorong surut. Bahkan kemudian prajurit itu pun telah jatuh terlentang dengan bermandikan darah yang mengalir dari luka di dadanya.

Ki Rangga mengamati pedangnya yang merah diujungnya. Ia sempat berpaling kepada anak-anak muda Tanah Perdikan. Dengan lantang ia berkata, “Siapa yang tangannya belum basah oleh darah, sentuhlah darah yang masih merah itu dengan ujung jarimu. Maka kalian akan menjadi seorang prajurit yang tidak lagi ragu-ragu menggerakkan senjata kalian di peperangan.”

Anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan itu pun termangu-mangu. Namun dalam pada itu, Ki Rangga Gupita pun telah maju mencari lawan yang lain.

Kehadiran Ki Rangga Gupita disayap itu telah membuat pertempuran menjadi berubah. Kegarangannya benar-benar menimbulkan kegelisahan di antara para prajurit Pajang.

Namun prajurit Pajang yang berpengalaman itu pun telah dengan cepat berusaha menguasai keadaan. Tiga orang di antara mereka telah menempatkan diri menghadapi Ki Rangga Gupita. Tiga orang yang dianggap memiliki kelebihan dari kawan-kawannya.

“Licik,” geram Ki Rangga Gupita setelah ia bertempur beberapa saat, sementara ketiga orang itu agaknya berhasil mengganggu keleluasaannya bergerak.

“Apa yang licik?” bertanya prajurit Pajang itu.

“Kalian maju bertiga,” sahut Ki Rangga.

“Kita berada di peperangan. Bukan dipertarungan dalam perang tanding. Siapapun dapat melawanmu. Bahkan seandainya sekelompok yang terdiri dari seratus orang sekalipun jika kami memilikinya,” jawab salah seorang di antara para prajurit Pajang itu.

Ki Rangga tidak menjawab. Ia pun segera memutar pedangnya dengan kecepatan yang hampir tidak dapat diikuti dengan mata wadag.

Namun ketiga orang prajurit Pajang itu berusaha dengan segenap kemampuan yang ada padanya untuk menahan keleluasaan gerak Ki Rangga, meskipun berkali-kali ujung senjata Ki Rangga hampir saja mematuk mereka.

Dalam kejemuan menghadapi ketiga orang itu, maka Ki Rangga telah meningkatkan ilmunya. Bukan saja penggunaan tenaga cadangannya, tetapi ilmunya yang mampu mengguncang ketabahan hati lawan-lawannya.

Ternyata bahwa Ki Rangga Gupita telah membuat ketiga lawannya kebingungan. Setiap sentuhan senjata mereka, maka terasa genggaman mereka atas senjata masing-masing menjadi sangat panas.

Namun demikian para pengawal itu masih tetap bertahan. Betapapun perasaan panas itu menyengat setiap jari-jarinya. Bahkan bagaikan menghanguskan kulit dagingnya.

Rangga Gupita itu tertawa ketika ia melihat lawan-lawannya menyeringai kesakitan. Dengan cepat ia berloncatan sambil memutar senjatanya. Kemudian senjata itu terayun mendatar menembus ke arah leher. Ternyata bahwa lawannya sempat menghindar. Namun ujung pedang itu seakan-akan telah menggeliat dan justru terjulur lurus ke arah jantung.

Rangga Gupita memang sengaja memberi kesempatan lawannya menangkis serangannya yang tidak begitu cepat. Namun demikian senjata lawannya itu menyentuh pedang Rangga Gupita, maka terdengar desah tertahan. Prajurit Pajang itu mengaduh karena tangannya bagaikan masuk ke dalam seonggok bara yang menyala.

“Gila,” geram prajurit Pajang itu, sementara Ki Rangga Gupita tertawa. Kepada anak-anak muda yang bertempur disekitarnya Ki Rangga itu berteriak, “Lihat, para prajurit Pajang tidak lebih dari kelinci-kelinci yang bodoh. Karena itu, maka jangan ragu-ragu. Karena kalian memiliki bekal yang jauh lebih baik dari orang-orang Pajang ini.”

Kata-kata Ki Rangga Gupita memang dapat membesarkan hati anak-anak muda dari Tanah Perdikan Sembojan itu. Sambil bersorak keras-keras mereka serentak menyerang lawan-lawan terdekat.

Namun mereka bukannya Rangga Gupita. Tidak seorang pun di antara anak-anak muda Tanah Perdikan yang tahu, apakah sebenarnya yang sudah terjadi. Mereka hanya melihat perubahan dalam keseimbangan pertempuran antara Ki Rangga dengan orang-orang Pajang itu. Tetapi mereka tidak mengerti seutuhnya, bahwa Ki Rangga telah mempergunakan segenap ilmunya sampai ke puncaknya. Mereka tidak mengerti bahwa setiap sentuhan senjata, maka tangan prajurit Pajang itu bagaikan tersentuh bara.

Yang mereka lihat hanyalah para prajurit Pajang itu menjadi terdesak karenanya.

Sebenarnyalah ketiga orang prajurit Pajang itu menjadi bingung. Mereka agaknya tidak mempunyai peluang sama sekali untuk dapat mengalahkan lawannya. Yang terjadi, semakin lama tangan mereka menjadi semakin lemah.

Ki Rangga masih tersenyum. Dengan nada datar ia berkata, “Nah, itu masih baru permulaan. Tetapi sebaiknya kalian harus bertempur sampai senjata kalian jatuh dengan sendirinya di atas tanah.”

Namun Ki Rangga itu terkejut, ketika ia mendengar jawaban atas kata-katanya dengan nada yang berbeda, sehingga Ki Rangga Gupita berpaling ke arah suara itu.

“Permainanmu sangat mengesankan Ki Sanak,” berkata orang yang kemudian dilihat oleh Ki Rangga menyusup di antara para prajurit Pajang.

Ki Rangga mengerutkan keningnya. Dengan nada rendah ia bertanya, “Siapakah kau Ki Sanak?”

“Sudah tentu prajurit Pajang. Tetapi jika kau ingin tahu namaku, aku adalah Wirajaya. Tumenggung Wirajaya,” jawab orang yang baru datang itu.

Ki Rangga Gupita termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun menyahut, “Jadi kau seorang Tumenggung? Tetapi menilik pakaianmu kau tentu dari kesatuan yang berbeda dengan prajurit-prajurit yang sedang bertempur ini?”

“Mungkin,” sahut Rangga Gupita. “Tetapi perbedaan yang tidak berarti, yang penting bahwa aku adalah prajurit Pajang dan kau adalah prajurit Jipang, karena jika dilihat dari pakaianmu, kau juga bukan dari kesatuan Jipang yang datang ini. Juga bukan satu di antara orang-orang Tanah Perdikan Sembojan. Siapa namamu Ki Sanak?”

“Kau tidak memerlukan namaku,” jawab Rangga Gupita.

“O,” desis Ki Tumenggung. “Aku sudah menyebut namaku. Bahkan namaku sendiri. Sekarang kau tidak mau menyebut sebuah nama meskipun nama itu bukan namamu sendiri.”

“Bukankah tidak ada artinya apa-apa jika aku menyebut nama yang bukan namaku sendiri,” sahut Ki Rangga yang kemudian bertanya, “Nah, sekarang apa yang kau kehendaki dalam pertempuran ini?”

“Kau aneh,” jawab Tumenggung Wirajaya. “Jika aku turun ke gelanggang tidak ada maksud yang lain kecuali menangkapmu serta beberapa orang Senapati yang lain.”

“Persetan,” geram Ki Rangga Gupita. “Kau kira kau memiliki kemampuan iblis sehingga kau dapat mengalahkan aku?”

“Aku memang tidak mempunyai kemampuan iblis,” jawab Ki Tumenggung. “Tetapi aku akan berusaha menandingimu.”

Ki Rangga tidak menjawab lagi. Ia pun segera mempersiapkan diri. Agaknya Ki Tumenggung Wirajaya memang lain dengan prajurit-prajurit kebanyakan.

Karena itu, maka sejenak kemudian Ki Rangga Gupita pun telah menyerangnya dengan garangnya. Ujung pedangnya yang bergetar telah mematuk ke arah dada.

Rangga Gupita yang gagal mengenai dada lawannya, tiba-tiba telah mengibaskan ujung pedangnya mendatar tepat setinggi dada.

Ki Tumenggung yang memang ingin menjajagi kemampuan dan ilmu lawannya berusaha untuk menangkisnya. Ia sadar, menilik sikap ketiga lawan Ki Rangga yang terdahulu. Dalam setiap sentuhan senjata nampaknya mereka menyeringai menahan sakit.

Karena itu, maka Ki Tumenggung Wirajaya telah mengetrapkan daya tahannya pada telapak tangannya.

Namun Ki Tumenggung itu terkejut juga. Ia tidak memiliki ilmu kebal, sehingga meskipun ia telah mengetrapkan kekuatan daya tahannya pada telapak tangannya, namun Ki Tumenggung itu merasakan juga panasnya bara api yang menyentuh tangannya itu.

Ki Tumenggung meloncat ke samping itu pun menarik nafas dalam-dalam. Ia pun sadar, bahwa ia berhadapan dengan seorang yang memiliki ilmu yang tinggi.

Namun Ki Tumenggung adalah seorang pemimpin Pajang yang disegani. Meskipun Ki Tumenggung lebih banyak tersenyum dalam keadaan apapun juga, namun ia memiliki kemampuan yang cukup tinggi pula.

Karena itu, maka yang terjadi kemudian adalah pertempuran antara dua kekuatan yang melampaui kekuatan orang kebanyakan.

Untuk mengatasi sentuhan yang dapat mengakibatkan telapak tangan Ki Tumenggung bagaikan menggenggam api itu, maka ia pun telah mengerahkan ilmunya untuk meningkatkan kecepatannya bergerak. Dengan kecepatan bergerak yang sangat tinggi, maka ia dapat membuat Ki Rangga agak kebingungan. Satu ilmu yang luar biasa, telah membuat Ki Tumenggung itu mampu membuat tubuhnya menjadi sangat ringan sehingga seolah-olah tidak berbobot. Dengan demikian maka ia pun mampu untuk bergerak cepat sekali.

Sekali-kali Ki Tumenggung itu ada di depan lawannya. Namun tiba-tiba Ki Tumenggung itu pun telah berada di belakang Ki Rangga Gupita.

Namun Ki Rangga tidak menjadi putus asa. Ia pun telah mengerahkan kemampuannya untuk mengatasi kecepatan gerak Ki Tumenggung meskipun ia lebih sering merasa kehilangan arah perlawanannya.

Namun setiap kali ia berhasil menangkis serangan Ki Tumenggung, maka rasa-rasanya ia telah membuat sebuah luka pada tubuh Ki Tumenggung, karena kemampuannya menyengat telapak tangan lawan dengan kekuatan ilmunya bagaikan panasnya bara api.

Dengan demikian maka pertempuran di antara kedua orang itu pun semakin lama menjadi semakin sengit. Sedangkan pertempuran dalam keseluruhannya pun terasa semakin membakar pula. Jumlah orang dalam pasukan Jipang memang lebih banyak. Tetapi kemampuan mereka, terutama anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan, masih belum dapat mengimbangi kemampuan para prajurit Pajang yang berpengalaman. Para pengawal Tanah Perdikan yang kebetulan mendapat tempaan dari para perwira secara langsung memang jauh lebih baik dari anak-anak muda yang mendapat latihan sekadarnya dari kawan-kawan mereka sendiri yang telah menempa diri pada para perwira dari Jipang itu.

Karena itulah, maka dua kekuatan itu menjadi bagaikan seimbang. Keduanya saling mendesak dan saling bertahan. Sorak yang membahana setiap kali meledak dari kedua belah pihak disusul dengan teriakan-teriakan yang bagaikan memecahkan selaput telinga.

Dalam pada itu, maka Senapati tertinggi prajurit Pajang yang ada di dalam medan pertempuran itu pun dengan pengamatannya yang cermat telah dapat menilai, bahwa pertempuran itu tentu akan berlangsung lama sekali. Bahkan Senapati itu yakin bahwa pada hari itu, mereka harus menghentikan pertempuran karena malam turun. Pasukan Pajang yang cukup besar itu tidak mampu memecahkan pasukan Jipang yang jumlahnya lebih banyak, meskipun di antaranya adalah anak-anak muda dari Sembojan.

Karena itu, maka Pajang yang masih mempunyai tenaga cadangan di balik gerbang kota itu akan dapat dipergunakan di hari berikutnya. Jika ia tidak dengan segera mengubah keseimbangan itu dan perang akan berlangsung berkepanjangan, maka korban akan menjadi semakin banyak.

“Ternyata pasukan disisi Timur ini lebih besar dari kekuatan pasukan Jipang disisi Barat,” berkata Senapati itu di dalam hatinya.

Sebenarnyalah, bahwa matahari semakin lama telah menjadi semakin rendah. Kemampuan dan tenaga di kedua belah pihak pun telah menjadi susut. Ayunan pedang sudah tidak lagi sederas saat pertempuran itu baru mulai. Tombak dan lembing tidak lagi mematuk secepat patukan ular bendotan.

Dalam pada itu, pertempuran antara Ki Tumenggung Wirajaya dan Ki Rangga Gupita pun rasa-rasanya tidak akan berkesudahan. Keduanya memiliki kemampuannya masing-masing yang dapat saling mengatasi dan saling mengimbangi meskipun dalam ujud yang berbeda.

Langit pun semakin lama menjadi semakin merah. Matahari perlahan-lahan telah turun dan memasuki sarangnya di ujung Barat, sehingga senja pun telah datang.

Pada saat yang demikian, maka terdengar isyarat dari kedua belah pihak untuk menghentikan pertempuran. Sebagaimana saat pertempuran itu akan dimulai, maka suara bende pun telah mengumandang dan menggelepar di udara. Sementara di pihak lain terdengar suara sangkakala meneriakkan aba-aba untuk menghentikan pertempuran itu pula.

Bagaimanapun juga kedua belah pihak adalah prajurit-prajurit yang terlatih dan berpengalaman. Keduanya memiliki beberapa sifat yang hampir sama, meskipun prajurit Jipang pada umumnya memiliki watak yang lebih keras. Namun prajurit Pajang tidak kalah niatnya menghadapi keadaan yang betapapun sulitnya. Meskipun sekali-kali prajurit Pajang itu mengalami tekanan yang berat dan beruntun, namun garis pertahanan pasukan Pajang tidak patah atau terputus. Seperti tali busur yang terdesak melentur, namun kemudian menghentak lurus kembali.

Demikianlah ketika pertempuran itu beristirahat, maka para pemimpin Pajang telah sepakat untuk menurunkan pasukan cadangannya. Dengan cepat, maka para Senapati telah memanggil sebagian dari para prajurit yang bertugas untuk mengamankan keamanan lingkungan di dalam kota. Sementara itu menyerahkan keadaan dalam kota kepada anak-anak muda yang masih ada serta laki-laki yang masih belum terlalu tua dan masih memiliki kekuatan dan tenaga untuk melakukannya. Sedangkan untuk menjaga segala kemungkinan, maka para prajurit yang tersisa didalam kota telah diperlengkapi dengan kuda, agar jika diperlukan mereka dapat mencapai tempat-tempat tertentu dengan cepat. Sementara sebagian dari mereka telah diturunkan pula ke medan esok pagi.

Dengan hati-hati dan tidak menimbulkan kecurigaan, seorang demi seorang dari prajurit cadangan itu telah pergi ke gelar pasukan Pajang diluar kota menghadapi pasukan Jipang.

Namun sementara itu, seorang pengamat dengan tergesa-gesa menemui panglima pasukan Pajang yang ada di kota itu untuk menyampaikan laporan, “Kami melihat dua penghubung berkuda pasukan Jipang menuju ke Barat.

Panglima itu pun kemudian mengurai persoalannya bersama para Senapati yang lain. Mungkin kedua penghubung itu memberitahukan keadaan disisi Timur. Hanya sekadar sebagai pemberitahuan. Namun agaknya Pasukan Jipang itu mengharapkan bantuan. Namun agaknya pasukan Jipang yang masih sedang menyusun pertahanan di daerah yang dipergunakannya untuk menyusun pertahanan barunya itu, sulit untuk dapat memenuhinya. Selain itu maka jarak antara dua pemusatan pasukan Jipang itu cukup jauh. Kemungkinan yang lain adalah, pasukan disisi Timur memberitahukan bahwa pasukan Pajang sebagian terbesar ada disisi Timur itu, sehingga apabila pasukan Jipang disisi Barat akan menyerang, maka pertahanan disisi Barat tentu sedikit melemah.

“Kita harus berhati-hati menanggapi sikap prajurit Jipang yang ternyata mempunyai kemampuan yang sangat besar,” berkata Tumenggung Wirajaya.

“Ya. Hal itu kami sadari sepenuhnya,” jawab Panglima prajurit Pajang itu. Lalu, “Karena itu, maka kita harus segera mengambil sikap. Aku akan memerintahkan pasukan disisi Barat bersiaga sepenuhnya menghadapi segala kemungkinan. Sementara itu, aku tetap berniat untuk menghancurkan pasukan Jipang, atau setidak-tidaknya mendesaknya menjauh seperti disisi Barat.”

Ki Tumenggung mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Dengan pasukan cadangan itu kita berharap akan dapat memecahkan pasukan lawan esok pagi,” Ki Tumenggung berhenti sejenak, lalu, “Tetapi harus diingat, bahwa pasukan Jipang itu pun memiliki tenaga cadangan meskipun hanya sedikit.”

“Ya. Tetapi pasukan cadangan kita lebih banyak,” jawab Panglima pasukan Pajang itu.

Malam itu, pasukan Pajang akan dilengkapi dengan tenaga-tenaga cadangan, sementara kawan-kawan mereka yang terluka dan terbunuh telah dikumpulkan dari medan dan dibawa memasuki regol. Mereka telah dibawa ke banjar terdekat dengan pintu gerbang kota untuk mendapat perawatan dan pelayanan sebagaimana seharusnya.

Malam itu ternyata bahwa pasukan kedua belah pihak tidak segera dapat beristirahat. Namun para perwira dikedua belah pihak pun telah berusaha agar para prajurit itu mendapat kesempatan beristirahat sebanyak-banyaknya. Pekerjaan-pekerjaan lain diserahkan kepada mereka yang tidak turun ke medan esok pagi.

Beberapa orang prajurit telah melumuri kaki dan tangan mereka dengan param yang memang sudah disediakan. Dengan demikian, terasa urat nadi mereka menjadi hangat, dan darah pun mengalir dengan lancar. Karena itu, maka perasaan letih dan penat pun menjadi segera berkurang.

Tetapi seorang prajurit Pajang yang masih muda berkata kepada kawannya, “Kau sudah seperti seorang kakek-kakek. Baru sehari kau bertempur, kau sudah harus memerami kaki, tangan bahkan punggung dan perutmu.”

“Jangan sombong,” sahut kawannya. “Soalnya bukan kakek-kakek atau bukan. Tetapi tubuh ini terasa segar kembali setelah sehari kita bertempur.”

“Aku cukup dengan sedikit lama membenamkan diri disungai,” jawab prajurit muda itu. “Tubuhku telah segar kembali seperti pada saat aku datang kemari.”

“Mungkin kau cukup dengan mandi semalam suntuk. Tetapi bagiku param ini sangat berarti bagi urat-uratku yang hampir kejang,” jawab kawannya.

Keduanya tidak berbantah lagi. Masing-masing mempunyai kebiasaannya sendiri-sendiri, sehingga karena itu, maka mereka melakukan apa yang sesuai dengan kebiasaan mereka masing-masing.

Namun satu hal yang harus mereka lakukan, sebagaimana diperintahkan oleh para pemimpin mereka, adalah beristirahat sebanyak-banyaknya dapat mereka lakukan.

“Besok kalian masih harus bertempur penuh. Soalnya adalah menyangkut masalah hidup dan mati. Karena itu, beristirahatlah. Jika kalian dengan sombong merasa tidak memerlukan waktu untuk beristirahat sebaik-baiknya, maka mungkin sekali besok kau akan keluar dari medan di atas pundak orang-orang yang mengusungmu,” berkata seorang perwira kepada kelompok yang dipimpinnya.

Dengan demikian maka para prajurit pun telah berusaha sebanyak-banyaknya untuk beristirahat setelah mereka makan malam, sementara mereka yang terluka kecil oleh goresan-goresan senjata, namun masih mampu untuk bertempur, telah mengobati luka-luka mereka lebih dahulu sebelum mereka pergi tidur. Hanya sekelompok kecil sajalah yang bertugas bergantian mengamati keadaan.

Namun dalam keadaan yang demikian, seorang demi seorang pasukan Pajang telah bertambah.

Malam yang kemudian menjadi kelam, telah menyelubungi medan dengan kesenyapan. Tetapi tak banyak ada gerak di kedua belah pihak. Para prajurit tertidur silang melintang dengan dengkur yang tersendat-sendat.

Pada malam itu, di Tanah Perdikan Sembojan, serombongan pengamen telah memasuki padukuhan. Di ujung lorong, Kiai Badra yang memimpin rombongan itu bersama Kiai Soka berkata, “kita sudah dapat mulai sebagaimana dikehendaki oleh Ki Tumenggung Wirajaya. Aku yakin bahwa di Pajang, Ki Tumenggung pun sudah mulai pula mengusik orang-orang Jipang.”

“Ya,” jawab Kiai Soka. “Kita memang sudah mulai dengan rancangan kita. Jika mungkin maka kita akan menghindari benturan-benturan pada langkah-langkah pertama.”

“Mudah-mudahan,” jawab Kiai Badra. “Kita akan mengadakan pendekatan dengan orang-orang yang mungkin dapat kita ajak berbicara.”

Yang lain pun mengangguk-angguk. Namun mereka telah mempunyai bekal tertentu sehingga mereka tidak lagi ragu-ragu untuk menyatakan niat mereka yang sebenarnya.

Ketika rombongan itu mengadakan pertunjukan tanpa diminta oleh siapapun, maka orang-orang padukuhan itu pun telah banyak yang berkerumun. Namun, mereka terkejut ketika mereka melihat penarinya sama sekali tidak mengenakan pakaian sebagaimana mereka lihat. Penari yang ikut dalam rombongan itu memakai pakaian sehari-hari seperti yang dikenakan oleh perempuan-perempuan Tanah Perdikan Sembojan.

Namun dengan demikian, maka orang-orang yang menyaksikannya menjadi semakin tersentuh hatinya. Perempuan itu pasti Nyai Wiradana yang hilang.

Ketika orang-orang padukuhan itu sudah berkumpul karena mendengar suara gamelan, maka penarinya yang tidak mengenakan pakaian penari selain sehelai selendang yang diikatkan di lambung itu pun mulai bangkit dan berdiri di tengah-tengah arena, dikelilingi oleh orang-orang padukuhan itu yang melihat penari itu dengan heran.

Namun dalam pada itu, gamelan pun justu telah berhenti.

Orang-orang yang mengerumuni arena itu menjadi semakin heran. Namun mereka menunggu apa yang akan terjadi kemudian.

Dalam pada itu, maka penari yang tidak mengenakan pakaian penari itu pun kemudian melangkah mengelilingi arena sambil memandang orang-orang yang mengerumuninya. Sejenak kemudian tiba-tiba saja ia berkata, “Ki Sanak, orang-orang Sembojan yang baik hati. Aku minta maaf, bahwa kali ini aku tidak dapat menari bagi kalian karena sesuatu hal. Aku tidak sempat merias diri di pondokanku karena aku telah diusir oleh orang yang untuk sementara memberikan tempat kepada kami untuk tinggal, sementara di malam hari dan kadang-kadang disiang hari, kami mengadakan pertunjukan keliling seperti ini.

Orang-orang Sembojan itu pun mendengarkan keterangan penari yang tidak dalam pakaian tari itu dengan seksama. Sementara itu perempuan itu pun berkata lebih lanjut. “Karena itu, maka sejak saat ini kami tidak lagi mempunyai tempat untuk berteduh. Memang ada dua pilihan yang dapat kami lakukan. Kembali ke tempat asal kami, namun untuk datang kembali ketempat ini jaraknya terlalu jauh, sehingga mungkin akan dapat kami lakukan dalam waktu tiga atau empat bulan seperti pada saat kami pulang beberapa waktu yang lalu, atau kami mohon belas kasihan seseorang untuk memberikan tempat yang baru bagi kami. Sekadar untuk dapat tidur dan menempatkan peralatan kami yang tidak berarti.”

Orang-orang padukuhan itu termangu-mangu. Mereka merasa kasihan kepada perempuan yang mirip dengan Ki Wiradana itu, yang bahkan ada yang sudah menyebutkan bahwa perempuan itu adalah Nyai Wiradana itu sendiri.

Tetapi mereka tidak berani memberikan tempat kepada rombongan itu, karena mereka takut kepada Ki Wiradana yang telah menyatakan bahwa rombongan penari itu harus ditangkap jika mereka kembali ke Tanah Perdikan.

Karena orang-orang Tanah Perdikan di padukuhan itu nampak ragu-ragu, maka Nyai Wiradana yang menumbuhkan teka-teki itu pun berkata, “Ki Sanak, apakah Ki Sanak masih dibayangi kecemasan, bahwa pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan ini akan marah?”

Tidak ada jawaban. Tetapi beberapa orang mengangguk mengiakan.

“Baiklah. Jika demikian kami tidak akan memaksa. Agaknya Nyai Wiradana lah yang sebenarnya berkeberatan, karena Nyai Wiradana tidak ingin peristiwa yang pernah terjadi itu terulang. He, apakah bukan hanya sekadar fitnah saja bahwa Nyai Wiradana dahulu juga seorang penari seperti aku?” bertanya Iswari.

“Ya,” hampir berbareng beberapa orang telah menjawab.

“Tetapi menurut pendengaranku, sebelum Ki Wiradana kawin dengan penari itu, bukankah ia sudah beristri?” bertanya Iswari itu pula.

“Ya,” jawab beberapa orang yang semakin banyak jumlahnya.

“Dan istrinya itu kini sudah tidak ada lagi di Sembojan,” desak Iswari pula.

Semakin banyak orang yang menjawab, “Ya,” bahkan seorang telah berteriak. “Istrinya telah pergi.”

“Baiklah,” berkata Iswari. “Bagaimana pendapat kalian tentang istri Ki Wiradana yang telah pergi itu dengan istrinya yang sekarang?”

Tidak seorang pun menjawab. Jawaban yang sudah ada dikerongkongan pun telah ditelannya kembali.

Namun sementara itu Iswari itu berkata, “Ki Sanak. Menurut pendengaranku, pada saat istri Ki Wiradana itu pergi, ia baru mengandung. Apakah kalian juga mengetahuinya?”

Beberapa orang dengan ragu mulai menjawab lagi, “Ya.”

“Nah, jika demikian, maka anak itu sekarang tentu sudah lahir,” berkata Iswari. “Sementara itu anak Warsi, juga seorang penari jalanan itu sudah lahir pula. Tetapi siapakah yang lebih berhak untuk menjadi Kepala Tanah Perdikan kelak. Anak Iswari atau anak Warsi.”

Orang-orang yang mengerumuni arena itu termangu-mangu. Namun ada juga yang menjawab, “Anak Iswari. Ia lebih berhak atas kedudukan Kepala Tanah Perdikan ini daripada anak Warsi yang tamak itu.”

Kawan-kawannya berpaling ke arah orang itu. Bagaimanapun juga mereka merasa cemas akan kata-kata yang dilontarkan oleh salah seorang daripadanya. Jika yang dikatakan itu sampai terdengar oleh Ki Wiradana, maka ia tentu akan mendapat hukuman yang berat. Apalagi jika Warsi sendiri mendengarnya, maka nasib orang itu tentu akan buruk.”

Sementara itu, Iswari yang berada di tengah-tengah kerumunan orang banyak itu pun telah tersentuh hatinya mendengar jawaban itu. Ternyata bahwa paling tidak seorang di antara orang-orang Sembojan masih menganggapnya sebagai ibu dari seorang anak yang akan dengan sah memegang kedudukan Kepala Tanah Perdikan. Karena itu, di luar kendali perasaannya, maka muncullah dipermukaan, sifat perempuannya. Dengan susah payah ia telah menahan agar air mata yang memanasi pelupuknya itu tidak menitik jatuh.

Namun ternyata bahwa air mata itu masih juga meleleh dipipinya.

Tetapi cahaya lampu minyak yang tidak begitu terang tidak sempat menunjukkan butir-butir air yang menitik kulit pipinya itu.

Sementara itu, Iswari telah menghentakkan perasaannya sambil berkata, “Jika demikian, maka pada suatu saat, anak itu akan datang kepada Ki Sanak semuanya.”

Kata-kata Iswari itu ternyata merupakan satu isyarat, bahwa ia telah mengakui tentang dirinya sendiri. Bahwa ia bukan sekadar perempuan yang mirip dengan Nyai Wiradana. Tetapi dengan kata-katanya yang dilontarkan itu, serta ujudnya dalam pakaian sehari-hari, ternyata perempuan itu memang Iswari.

Karena itu, maka Ki Bekel yang kebetulan juga menyaksikannya, telah menyibak orang yang berkerumun itu. Ketika ia muncul di arena maka katanya, “Nyai, aku adalah bekel dari padukuhan ini. Bekel yang seakan-akan sudah dilupakan, karena semua tugasku sudah diambil alih oleh anak-anak muda yang disebut pengawal padukuhan yang langsung dipimpin oleh Ki Wiradana,” orang itu berhenti sejenak, lalu katanya, “Ada kecenderungan aku memberontak karenanya. Tetapi aku tidak akan mampu berbuat apa-apa. Meskipun demikian, setelah aku mendengar keterangan Nyai, maka aku telah mengambil satu kesimpulan tentang Nyai dan rombongan ini. Karena itu, aku akan mempersilakan rombongan ini untuk berada di rumahku. Apapun yang akan terjadi, aku akan menerimanya dengan senang hati.”

Iswari memandang Ki Bekel dengan tajamnya. Namun kemudian ia pun bertanya, “Kesimpulan apakah yang telah kau ambil tentang kami?”

“Semua orang yang berkerumun disini akan mengerti maksudku,” jawab Ki Bekel. “Marilah, singgah dan tinggal di rumahku. Aku tahu bahwa hal ini akan menjadi persoalan. Tetapi aku tidak berkeberatan.”

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Di luar sadarnya ia memandang Kiai Badra dan Kiai Soka yang ada di dalam temaramnya lampu minyak untuk mendapat pertimbangan.

Sementara itu, terdengar suara Kiai badra, “Baiklah ngger. Terimalah tawaran yang sangat berharga ini.”

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Ki Bekel. Kami sangat berterima kasih atas kesempatan ini.”

“Marilah. Jika kau masih ingin mendapat kesempatan untuk menari malam ini, kau dapat merias dirimu di rumahku. Tetapi jika kau anggap sudah terlalu malam sekarang, maka kau dapat melakukannya besok,” berkata Ki Bekel.

Iswari pun kemudian berkata, “Sekali lagi kami mengucapkan terima kasih. Dengan senang hati kami akan ikut bersama Ki Bekel,” Lalu katanya kepada orang-orang yang berkerumun itu, “Ki Sanak semuanya, aku minta maaf bahwa kali ini aku tidak dapat menari untuk kalian. Tetapi aku berjanji, besok aku akan menari di halaman rumah Ki Bekel, sebagaimana yang telah sering aku lakukan.”

Orang-orang yang berkerumun itu tidak menjawab. Tetapi sesuatu telah meyakinkan mereka dengan siapa mereka sebenarnya berhadapan.

Sejenak kemudian, maka iring-iringan kecil itu pun telah meninggalkan tempat itu menuju ke rumah Ki Bekel. Rumah yang cukup besar dan terhitung cukup baik dibandingkan dengan rumah disekitarnya. Agaknya Ki Bekel termasuk orang yang berkecukupan.

———-oOo———-

Bersambung ke Jilid 16.

Naskah diedit dari e-book yang diupload di website Tirai kasih http://kangzusi.com/SH_Mintardja.htm

Terima kasih kepada Nyi DewiKZ

<< kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s