SBB-11

<< kembali | lanjut >>

KAKEK,” tiba-tiba saja Warsi berlari menghambur, lalu, “Silahkan kakek.”

Orang tua itu mengangguk-angguk. Wajahnya nampak terang dan tatapan matanya bagaikan bersinar oleh nyala api kemauan yang membara di dalam dadanya.

“Ini rumahmu Warsi,” bertanya orang tua itu, “Bagus sekali.”

“Ya. Kakek. Marilah. Inilah kakang Wiradana, suamiku,” Warsi mempersilahkan.

Orang tua itu melangkah masuk. Wiradana pun kemudian menyambutnya dengan penuh hormat, “Aku adalah Wiradana kakek.”

“Kau adalah cucuku,” desis orang tua itu.

“Ini adalah kakekku kakang. Ayah dari ibuku,” Warsi memperkenalkan.

“Marilah kakek, silahkan,” Wiradana pun mempersilahkan pula.

“Hari ini ayah juga berada disini kakek,” berkata Warsi.

“O, begitu. Kebetulan sekali. Sudah lama aku tidak bertemu dengan ayahmu,” jawab orang tua itu.

Sekilas orang tua itu memandang ayah Warsi yang mengaku sebagai saudagar itu. Tetapi ia sudah tahu, bahwa yang disebut ayah oleh Warsi itu justru orang lain.

Ketika Warsi datang bersama orang yang disebutnya ayahnya itu, kakeknya mengumpat di dalam hati.

“Orang seperti kadal ini diakunya sebagai ayahnya,” berkata kakek Warsi di dalam hatinya.

Namun ia pun menanggapi kehadirannya sebagai ia menanggapi kedatangan menantunya.

Pertemuan itu pun rasa-rasanya menjadi akrab. Bahkan saudagar itu pun telah terlibat pula dalam pembicaraan-pembicaraan yang berkepanjangan tentang diri mereka masing-masing.

Kedatangan orang yang mengaku sebagai kakek Warsi itu memberikan harapan baru bagi Ki Wiradana. Ia melihat pada wajah dan sorot matanya, bahwa orang itu memiliki kemampuan berpikir melampaui orang-orang Tanah Perdikan Sembojan sendiri. Dengan demikian ia berharap bahwa selain Ki Saudagar, ayah Warsi dan Warsi sendiri, ia akan mendapat kawan berbincang lebih banyak lagi.

Hari itu, kakek Warsi itu masih belum mengatakan sesuatu. Ia masih saja berbicara tentang keluarganya. Tentang kampung halaman dan tentang dongeng-dongeng yang lain yang menarik bagi Ki Wiradana.

Namun dalam pada itu, ketika senja mulai membayang di langit, Ki Wiradana dan Ki Saudagar telah mempersiapkan lagi satu jebakan sebagaimana malam sebelumnya.

Mungkin perampok itu datang lagi setelah mereka tahu, bahwa saudagar emas permata itu berada lagi di Tanah Perdikan Sembojan dan bermalam di penginapan yang terdahulu.

Tetapi nampaknya kakek Warsi yang baru datang itu telah berusaha untuk menahan saudagar itu, agar malam itu ia tidur di rumah Ki Wiradana.

“Ada yang ingin aku katakan,” berkata orang yang mengaku sebagai kakek Warsi.

“Kepada siapa?” bertanya saudagar itu, “Kepada Ki Wiradana dan istrinya atau kepadaku.”

“Kepada kalian semuanya,” berkata orang itu.

Dengan demikian maka Ki Saudagar itu pun untuk malam itu telah bermalam di rumah Wiradana. Orang yang mengaku kakek Warsi itu mempunyai persoalan yang akan dibicarakan dengan mereka. Namun ayah Warsi yang mengaku sebagai saudagar itu mengerti, apa yang akan dibicarakan oleh pertapa dari Gunung Kemukus itu.

Sebenarnyalah malam turun perlahan-lahan di atas Tanah Perdikan Sembojan. Orang tua yang diperkenalkan Warsi sebagai kakeknya yang bernama Ki Randukeling, telah memanggil orang-orang yang ingin diajaknya berbicara di ruang dalam termasuk Warsi sendiri.

Setelah orang-orang itu berkumpul, dan setelah mereka meneguk minuman panas, maka Ki Randukeling itu pun berkata, “Aku minta maaf, bahwa aku datang dengan membawa satu persoalan yang barangkali justru akan dapat mengganggu ketenangan Ki Wiradana.”

Ki Wiradana menjadi berdebar-debar. Namun serba sedikit Warsi sudah dapat menduga, bahwa yang akan dikatakan oleh Ki Randukeling adalah persoalan Tanah Perdikan Sembojan dalam hubungannya dengan Pajang dan Jipang.

Ki Wiradana yang sama sekali masih belum mengetahui apa yang akan dikatakannya telah mendengarkannya dengan sungguh-sungguh, sementara itu Ki Randukeling berkata selanjutnya, “Ki Wiradana, bukankah Ki Wiradana sudah mengetahui serba sedikit persoalan yang timbul antara Demak, Pajang dan Jipang yang barangkali juga akan menyangkut banyak pihak yang lain? Nah, agaknya aku perlu berbicara serba sedikit tentang hal itu sesuai dengan pengetahuanku. Jika ternyata aku keliru, maka aku mohon dapat diluruskan.”

Ki Wiradana mengerutkan keningnya. Menilik sikap dan pembicaraannya, maka kakek Warsi itu benar-benar akan berarti baginya untuk membantunya memerintah Tanah Perdikan Sembojan yang terasa mulai bergejolak karena bermacam-macam sebab.

Dalam pada itu, Ki Randukeling melanjutkan, “Tetapi sebelumnya aku mohon Ki Wiradana dapat mempertimbangkan sebaik-baiknya. Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan. Aku tidak berkeberatan di dalam pertemuan ini hadir Ki Saudagar. Mungkin Ki Saudagar yang menurut dugaanku sering melakukan perjalanan ke tempat-tempat yang jauh akan dapat memberikan pertimbangan atas pendapatku.”

Ki Wiradana menjadi semakin berdebar-debar. Dengan jantung yang terasa berdeguban semakin keras ia mendengarkan Ki Randukeling berkata selanjutnya. “Ki Wiradana. Aku sudah mendengar dari Warsi, apa yang terjadi atasmu dengan pengunduran saat-saat kau dikukuhkan karena Pajang sedang sibuk. Sebenarnya hal itu tidak perlu terjadi, karena persoalanmu tidak bersangkut paut dengan persoalan yang terjadi di Demak. Adipati Pajang dapat saja melaksanakan kewajibannya atas Demak dan sekaligus mengukuhkan kedudukanmu. Mungkin Adipati itu memang tidak dapat datang sendiri ke Tanah Perdikan ini. Tetapi ia dapat memerintahkan orang lain untuk melakukannya.”

Ki Wiradana mengangguk-angguk. Jawabnya, “Ya kakek. Ternyata sikap orang-orang Pajang tidak menguntungkan bagiku.”

“Itu adalah ciri orang-orang Pajang,” berkata Ki Randukeling selanjutnya.

Ki Wiradana mengerutkan keningnya. Dengan nada tinggi ia bertanya, “Ciri yang bagaimana kakek?”

“Orang-orang Pajang memang orang-orang yang bekerja sangat lamban. Bahkan lebih buruk dari itu, orang-orang Pajang termasuk Adipati Hadiwijaya, selalu menunda-nunda pekerjaan yang sebenarnya dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Bahkan kadang-kadang ada-ada saja alasan yang sebenarnya tidak masuk akal untuk memperlambat pekerjaan mereka. Bukan sekadar karena orang-orang Pajang adalah orang-orang yang malas, tetapi ada perasaan dengki terhadap keberhasilan seseorang. Mereka lebih senang melihat Ki Wiradana dalam keadaan terkatung-katung daripada Ki Wiradana dengan mantap menjadi seorang Kepala Tanah Perdikan,” berkata Ki Randukeling.

Ki Wiradana mengangguk-angguk. Katanya, “Pantas. Ada saja alasan Ki Tumenggung Wirajaya. Nampaknya Ki Tumenggung adalah seorang yang ramah, dan dengan ikhlas ingin membantu mempermudah penyelesaian persoalan pengukuhan ini. Tetapi agaknya benar juga pendapat kakek. Semua orang Pajang memang bekerja dengan lamban, berpura-pura dan tidak jujur.”

“Tepat,” jawab Ki Randukeling, “Coba, ingat-ingat apa saja yang pernah dilakukan oleh Ki Tumenggung itu.”

“Ia nampaknya baik sekali terhadapku kakek. Tetapi ia telah mempersulit pengukuhan ini dengan alasan yang agaknya memang dibuat-buat. Ia memaksa untuk menemukan sebuah bandul dan rantainya yang sampai saat ini hilang sepeninggalan ayah. Menurut keterangan Ki Tumenggung, bandul emas yang bertatahkan gambar kepala seekor burung elang itu merupakan syarat bagi wisudaku sebagai Kepala Tanah Perdikan Sembojan. Karena itu, Ki Tumenggung minta aku mencarinya sambil menunggu kesempatan setelah persoalan Kangjeng Adipati Pajang dapat diselesaikan,” jawab Ki Wiradana.

“Nah, bukankah sudah nyata,” berkata Ki Randukeling, “Sebenarnya syarat itu tidak perlu sama sekali. Siapakah yang meragukan bahwa Ki Wiradana adalah anak Ki Gede Sembojan yang terbunuh itu? Jika orang-orang Pajang tidak ingin mempersulit keadaan, maka pengukuhan itu dapat saja dilakukan tanpa pertanda itu dan tidak usah menunggu persoalan dengan Demak selesai.”

Ki Wiradana mengangguk-angguk. Ia sependapat dengan Ki Randukeling. Karena itu, ia menjadi semakin kecewa terhadap sikap orang-orang Pajang. Bahkan Adipati Pajang sendiri. Karena ia pun telah langsung menghadapnya, namun ia tidak berhasil mendapatkan ketetapan waktu sebelum anaknya lahir.

Namun demikian, apakah yang dapat diperbuatnya, karena Tanah Perdikan Sembojan termasuk daerah kekuasaan Adipati Pajang. Segala keputusan hanya dapat diberikan oleh Pajang bagaimana pun bunyinya.

Dalam pada itu, ayah Warsi yang menyebut dirinya sebagai saudagar emas permata itu pun berkata, “Ki Randukeling. Aku adalah seorang pedagang keliling yang pernah mendatangi berbagai kota, termasuk Jipang, Pajang dan Demak. Sebenarnyalah pemerintahan di Pajang adalah pemerintahan yang paling buruk dibandingkan dengan Kadipaten lain. Terutama Jipang. Jipang memiliki seorang Adipati yang terampil trengginas. Cepat bertindak dan tidak terlalu memikirkan persoalan-persoalan kecil yang tidak berarti. Seandainya persoalan Ki Wiradana ini terjadi di Jipang, maka aku kira segala sesuatunya tentu sudah mendapat penyelesaian sewajarnya.”

“Ya,” sahut Ki Randukeling, “Agaknya tidak ada persoalan apapun juga yang dapat timbul hanya karena bandul dan karena kesibukan. Sebenarnya Adipati Pajang tidak usah menyibukkan diri untuk mengurusi Demak, karena sudah ada orang-orang tertentu, para pemimpin Demak, orang-orang tua serta para pemimpin agama yang memikirkan, bagaimana selanjutnya pemerintah di Demak sepeninggalan Kangjeng Sultan Trenggana.”

Ki Wiradana mengerutkan keningnya. Sementara itu Warsi pun bertanya, “Tetapi apakah kita boleh memilih kakek? Misalnya, kita ingin menempatkan Tanah Perdikan ini dibawah kuasa Jipang bukan Pajang.”

Ki Randukeling menarik nafas dalam-dalam. Pertanyaan Warsi benar-benar telah mengarah. Ternyata bahwa Warsi memang seorang yang memiliki ketajaman berpikir, sehingga ia dapat langsung membimbing pembicaraan itu ke sasaran tanpa disadari oleh Ki Wiradana.

Dipandanginya Warsi sejenak. Kemudian katanya kepada Ki Wiradana, “Sudah tentu kita tidak dapat memilih. Bukan kitalah yang menentukan, Tanah Perdikan ini berada dibawah kekuasaan siapa. Tetapi memang sudah ada ketentuan sebelumnya yang disetujui bersama antara para Adipati, bahwa satu lingkungan dinyatakan berada di wilayah Kadipaten tertentu. Karena itu, kita harus tunduk kepada satu ketentuan pembagian wilayah itu. Dan Pajang ternyata merupakan Kadipaten yang berhak memerintah Tanah Perdikan ini.”

“Tetapi ternyata Pajang tidak dapat berbuat sebaik-baiknya bagi kepentingan Tanah Perdikan ini kakek,” berkata Warsi pula.

Ki Randukeling termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Pertanyaanmu membuat aku berdebar-debar. Aku memang mempunyai persoalan yang dapat kita bicarakan malam ini dengan sungguh-sungguh. Langsung menyangkut hubungan antara Tanah Perdikan ini dengan Pajang.”

“Maksud kakek?” Warsi pulalah yang bertanya.

Ki Randukeling termenung sesaat. Ada semacam keragu-raguan membayang di wajahnya. Namun kemudian katanya, “Baiklah, aku tidak akan terlalu banyak memberikan alasan. Tetapi aku berharap bahwa kalian dapat memikirkan persoalan ini dengan sungguh-sungguh. Sebagaimana aku katakan, aku tidak akan memaksa satu keputusan. Tetapi hendaknya masalah ini dipikirkan baik-baik,” Ki Randukeling berhenti sejenak, sementara Ki Wiradana menjadi berdebar-debar. Lalu katanya lebih lanjut, “Ki Wiradana. Nampaknya Pajang memang tidak begitu menghiraukan Tanah Perdikan yang tidak terlalu dekat dengan pusat pemerintahan Kadipaten Pajang, sehingga Adipati Pajang menganggap bahwa Tanah Perdikan ini sama sekali tidak penting, atau barangkali Adipati Pajang memang tidak ingin melihat ketidakpastian terjadi di atas Tanah Perdikan ini. Karena itu, sebagai satu lingkungan yang hidup dan memiliki pertimbangan-pertimbangan tertentu, maka kita tidak akan dapat menentukan sikap terhadap Pajang. Pada saat Pajang berada di dalam ketidakpastian. Karena Pajang adalah sebuah Kadipaten yang berada dibawah kekuasaan Demak, maka dalam kekalutan ini, diharapkan akan dapat terjadi pergeseran kekuatan dan kekuasaan dari keturunan Trenggana kembali ke keturunan Sekar Seda Lepen.”

Wiradana mengerutkan keningnya. Keterangan Ki Randukeling telah membuatnya menjadi berdebar-debar. Sementara itu Ki Randukeling berkata selanjutnya, “Ki Wiradana. Jika Pajang memang tidak lagi menganggap Tanah Perdikan ini penting untuk digarap dan dibimbing menuju ke satu keadaan yang mantap, maka buat apa Tanah Perdikan ini masih tetap bersandar kepada Pajang. Kenapa kita tidak beralih kiblat dengan menempatkan diri kita dibawah kekuasaan Jipang. Jipang letaknya memang tidak jauh, tetapi jika yang lebih jauh itu mampu memberikan tempat yang lebih baik bagi Tanah Perdikan ini, apa salahnya?”

Ki Wiradana menjadi tegang. Pada saat-saat ia mengikuti pembicaraan Ki Randukeling, ia memang sudah menduga, bahwa pembicaraan itu akan sampai kesana.

Namun demikian, agaknya tawaran ini memang sangat menarik. Rasa-rasanya ia sudah tidak berpengharapan lagi untuk dapat dikukuhkan apalagi dalam waktu singkat karena beberapa alasan. Salah satu alasan adalah pertanda kuasa Tanah Perdikan Sembojan yang hilang itu.

“Memang mungkin hanya merupakan satu alasan saja,” berkata Ki Wiradana di dalam hatinya. “Tetapi sebenarnya Pajang atau justru Adipati Pajang ingin Tanah Perdikan ini hapus dan menjadi daerah Pajang sebagaimana Kademangan-kademangan yang tidak mempunyai wewenang menentukan lingkungannya sendiri selain patuh dan tunduk segala perintah dan paugeran dari Pajang, terutama menyangkut pajak.”

Namun dalam pada itu, Ki Wiradana tidak segera menjawab. Ada kebimbangan di dalam hatinya untuk menentukan pilihan, sehingga karena itu, maka untuk beberapa saat ia justru terdiam.

Karena Ki Wiradana justru termangu-mangu, maka Ki Randukeling itu pun berkata, “Kau tidak perlu gelisah dan memaksa diri untuk mengambil keputusan cucuku. Berpikirlah. Karena kau mempunyai seorang istri, maka bicarakanlah persoalanmu dengan istrimu.”

Ki Wiradana mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah kakek. Aku akan mencoba merenungkan. Mungkin dalam waktu singkat kami, maksudku aku dan istriku sudah akan dapat mengambil keputusan.”

“Pertimbangkan keputusanmu baik-baik, karena persoalannya menyangkut bukan saja kau berdua, tetapi seisi Tanah Perdikan ini,” berkata kakek itu pula. Lalu, “Selebihnya Jipang letaknya lebih jauh dari Pajang. Karena itu dalam beberapa hal, Tanah Perdikan ini akan mendapat lebih banyak kebebasan. Jipang tidak akan sempat membuat perhitungan sampai yang sekecil-kecilnya mengenai perkembangan Tanah Perdikan ini, juga dalam hal perhitungan pajak. Apalagi sampai saat ini adalah sebuah Kadipaten yang kaya raya, sehingga hal-hal seperti itu tidak akan banyak mendapat perhatian.

Ki Wiradana mengangguk-angguk. Tetapi ia memang tidak ingin mengambil keputusan. Ia akan membuat pertimbangan-pertimbangan sesuai dengan keterangan-keterangan yang didengarnya dari kakek Warsi dan dari Ki Saudagar.

Dalam pada itu, ketika malam menjadi larut, maka orang-orang yang berbincang itu pun merasa telah cukup. Mereka pun kemudian dipersilakan beristirahat di bilik-bilik yang sudah disediakan. Saudagar emas itu pun bermalam pula di rumah Ki Wiradana sebagaimana pernah dilakukannya sebelumnya.

Namun, ketika malam menjadi sepi, dan para tamu Ki Wiradana sudah berada dibalik bilik masing-masing, maka Ki Wiradana masih duduk di ruang dalam bersama istrinya.

“Warsi,” berkata Ki Wiradana kemudian, “Kita sudah mendengar keterangan kakek tentang kemungkinan-kemungkinan yang dapat kita lakukan. Bagaimana menurut pendapatmu?”

“Segalanya terserah saja kepada kakang,” berkata Warsi sambil menunduk, “Mana yang baik bagi kakang, aku merasa akan baik juga bagiku.”

“Tetapi persoalan ini adalah persoalan yang gawat Warsi. Bukan saja menyangkut aku dan kau. Tetapi menyangkut Tanah Perdikan ini. Jika aku mengambil keputusan untuk menghindari kekuasaan Pajang dan menyatukan diri dengan Jipang, maka ada beberapa kemungkinan dapat terjadi. Mungkin Pajang akan datang untuk menghukum Tanah Perdikan ini. Menangkap aku dan bahkan mungkin keluargaku. Kemudian merampas Tanah Perdikan ini untuk selama-lamanya,” berkata Wiradana dengan sungguh-sungguh. “Tetapi jika kita tidak bergabung dengan Jipang seperti yang dikatakan oleh kakekmu itu, nasib Tanah Perdikan ini agaknya lambat laun juga akan sama saja. Tetapi sudah barang tentu tidak akan terjadi kekerasan sebagaimana jika kita dengan serta merta memisahkan diri dari Pajang. Sebab dengan demikian kita akan dapat disebut sebagai pemberontak.”

Warsi menarik nafas dalam-dalam. Ia sendiri berada dalam kebimbangan. Selama ini ia adalah istri yang penurut, yang tidak banyak memberikan pendapat selain menurut saja, meskipun dengan cara lain, cara yang sangat lembut selalu memberikan tekanan yang tidak terlawan oleh Wiradana.

“Apakah aku dapat memberikan pendapatku dengan cara yang selama ini aku pergunakan? pertanyaan itu mulai bergetar di hatinya.

Namun Warsi masih akan mencobanya. Jika ia mengalami kesulitan dalam persoalan yang penting dan gawat ini, maka terpaksa ia akan mempergunakan cara lain. Ia sendiri sudah memutuskan, bahwa Wiradana memang harus menempatkan diri dibawah kuasa Jipang.

Sementara itu karena Warsi tidak segera menjawab, maka Ki Wiradana pun telah mendesaknya, “Aku memerlukan pendapatmu Warsi.”

Warsi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku hanya seorang istri kakang. Segala sesuatunya memang terserah kepadamu. Apa yang baik bagimu, tentu akan baik juga bagiku. Karena itu, barangkali kakang dapat berbicara sekali lagi dengan kakek. Kakang dapat minta pendapatnya. Apa yang sebaiknya kita lakukan di Tanah Perdikan ini. Namun sebenarnyalah aku kasihan melihat keadaanmu kakang. Meskipun aku kurang mengerti, tetapi rasa-rasanya orang-orang Pajang itu telah menganggap bahwa mereka dapat berbuat sesuka hatinya terhadapmu. Sebagai seorang istri aku hanya dapat merasakan sebagaimana kau rasakan. Sementara ini aku pun mengerti, bahwa kau tidak lagi menghormati Pajang sebagaimana sebelumnya. Namun segalanya terserah, manakah yang baik bagi kakang.”

Ki Wiradana mengerutkan keningnya. Seperti setiap kali terjadi, kata-kata istrinya yang dikatakannya tidak dalam nada pertimbangan selain sekadar pasrah itu memberinya dorongan untuk mengambil keputusan. Namun demikian ia sependapat, bahwa sebaiknya ia berbicara sekali lagi dengan kakek Warsi. Tetapi rasa-rasanya Ki Wiradana itu sudah mengerti bahwa Warsi sendiri agaknya tidak lagi menginginkannya untuk tetap berkiblat kepada Pajang, tetapi Warsi tidak berani mengatakannya dengan terus terang.

Tetapi Ki Wiradana tidak ingin mengganggu kakeknya yang sedang beristirahat. Karena itu maka segalanya yang menyumbat dadanya ditahankan sampai keesokan harinya.

Demikianlah, ketika Ki Wiradana dan tamu-tamunya duduk di sebuah amben besar di pagi harinya, menghadapi mangkuk-mangkuk minuman panas, rasa-rasanya ia tidak sabar lagi menunggu. Karena itu, maka Ki Wiradana lah yang kemudian membuka pembicaraan tentang kemungkinan untuk melepaskan diri dari Pajang dan bergabung dengan Jipang.

“Tetapi bagaimana jika Pajang itu datang dengan pasukan segelar sepapan?” bertanya Ki Wiradana.

Kakek Warsi itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Semuanya akan dapat diperhitungkan sebaik-baiknya. Sudah barang tentu cucu tidak akan dengan serta merta mengumumkan, bahwa Tanah Perdikan Sembojan tidak lagi berada dibawah kuasa Adipati Pajang. Kita akan melakukannya dengan diam-diam seolah-olah tidak terjadi sesuatu. Namun sementara itu, kita membuat hubungan dengan Jipang. Baru setelah Jipang menyatakan siap melindungi Tanah Perdikan ini, maka baru kita akan menyatakannya secara terbuka. Sementara itu, antara Jipang dan Pajang sudah tidak ada lagi pengikatnya yang akan dapat mengambil keputusan. Pada saat Demak masih berdiri, maka persoalan yang timbul antara dua Kadipaten, akan dicari penyelesaiannya di Demak. Tetapi kini tidak ada lagi kekuasaan Demak itu. Sedangkan siapakah yang akan menggantikannya, masih dalam persoalan. Bahkan mungkin kekuasaan Demak akan beralih ke Jipang karena Arya Penangsang memang berhak atas kekuasaan itu,” Kakek Warsi pun berhenti sejenak, sementara itu ayah Warsi yang mengaku sebagai saudagar itu pun berkata, “Aku mengerti. Jika aku diijinkan memberikan pendapatku, aku setuju dengan keterangan Ki Randukeling. Tidak ada yang dapat diharapkan lagi dari Pajang. Apalagi ketika pada saat terakhir aku sempat melihat Jipang meskipun hanya dalam waktu dua hari. Ternyata kekuatan Jipang jauh melampaui kekuatan Pajang. Jika terjadi sesuatu, maksudku jika terjadi pertentangan sehingga mengakibatkan perang maka tidak ada kekuatan yang akan dapat mengimbangi Jipang. Kecuali itu, Arya Penangsang adalah seseorang yang tidak ada duanya di Demak. Apalagi dibandingkan dengan Adipati Hadiwijaya dari Pajang. Karena itu, menurut pendapatku, jalan seperti yang dikatakan oleh Ki Randukeling itu akan dapat ditempuh oleh Tanah Perdikan ini, sementara itu, latihan-latihan bagi para pengawal Tanah Perdikan dapat ditingkatkan.”

Ki Wiradana mengangguk-angguk. Hampir di luar sadarnya ia memandang laki-laki yang disebut ayah oleh Warsi, sehingga orang itu pun kemudian berdesis, “Agaknya memang tidak ada pilihan lain yang lebih baik.”

Pendapat orang-orang itu benar-benar telah menjeratnya. Namun demikian ia masih juga bertanya kepada Warsi, “Bagaimana pendapatmu Warsi. Kau lihat, orang-orang yang aku anggap mempunyai pengetahuan dan pengalaman ini berpendapat, bahwa sebaiknya kita meninggalkan Pajang dan berpihak kepada Jipang.”

Warsi menundukkan kepalanya. Namun katanya, “Aku tidak dapat memberikan pertimbangan apapun kakang, karena aku memang tidak mengerti. Tetapi disini ada kakek dan ada ayah. Sementara itu Ki Saudagar itu pun memiliki pengetahuan dan pengalaman yang luas tentang Kadipaten-kadipaten yang berada di luar Pajang. Mereka telah memberikan pertimbangan mereka, sehingga segala sesuatunya kakanglah yang dapat memutuskannya. Bagiku, mana yang menguntungkan bagi kakang dan Tanah Perdikan ini adalah yang paling baik. Jika menurut kakang Jipang memberikan lebih banyak kemungkinan bagi kebaikan Tanah Perdikan ini, maka aku pun hanya mengikut saja.”

Ki Wiradana mengangguk-angguk. Meskipun Warsi tidak menentukan, tetapi Ki Wiradana menjadi semakin mantap. Karena itu maka katanya, “Kakek. Jika pertimbangan kakek dan ayah demikian, diperkuat oleh keterangan Ki Saudagar, maka aku pun tidak mempunyai pilihan lain. Tetapi dengan keterangan, bahwa perpindahan kiblat itu tidak akan menimbulkan kesulitan bagi Tanah Perdikan ini jika Pajang menggunakan kekerasan.”

“Aku akan membantu cucu,” berkata Ki Randukeling. “Aku mempunyai hubungan dengan orang-orang Jipang. Aku akan minta kepada mereka untuk melindungi Tanah Perdikan ini. Sementara itu para pengawal Tanah Perdikan ini sendiri harus mendapat latihan-latihan yang sungguh-sungguh. Pada saatnya Pajang tidak akan berani mengirimkan pasukannya keluar, jika mereka merasa terancam oleh pasukan Jipang.”

 “Tetapi Jipang letaknya cukup jauh kakek,” berkata Wiradana.

“Tetapi Jipang dapat mengirimkan pasukannya segelar sepapan mendekati Pajang. Maka Pajang akan selalu merasa terancam bahaya,” berkata kakeknya.

Wiradana mengangguk-angguk. Agaknya kakeknya tidak asal saja mengutarakan pendapatnya. Tetapi ia pun mempunyai pertimbangan-pertimbangan berdasarkan nalar. Sementara itu kakeknya berkata, “Jipang harus menempatkan pasukannya disebelah Barat Pajang agar perhatian mereka selalu tertuju ke Barat. Tidak ke Timur.”

Dengan demikian, pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan itu telah mengambil satu keputusan. Namun keputusan itu akan tetap merupakan rahasia sampai saatnya Tanah Perdikan Sembojan mampu menghadapi kemungkinan Pajang mempergunakan kekerasan, dengan bantuan Jipang. Baru kemudian Tanah Perdikan Sembojan akan menengadah wajahnya sambil berkata, “Pajang aku tidak memerlukan pengukuhanmu. Aku dapat berdiri tanpa Pajang.”

Dalam pada itu, kakek Warsi itu pun kemudian berkata, “Jika kau sudah bulat Wiradana, maka biarlah aku segera mulai dengan langkah-langkah berikutnya. Tetapi aku berpesan kepada semuanya yang mendengar keputusan ini untuk tetap merahasiakannya. Kau juga Warsi. Kau tidak boleh lupa membicarakannya jika kau sedang berkumpul dengan perempuan-perempuan lain. Tidak seorang pun boleh mengetahuinya.”

“Baik kakek,” jawab Warsi. “Aku akan selalu mengingatkannya.”

“Sementara ini segalanya dapat berjalan sebagaimana biasanya. Tidak ada perubahan-perubahan yang boleh nampak,” berkata Ki Randukeling selanjutnya.

“Ya,” berkata Saudagar, “Aku pun akan melanjutkan usahaku menjebak perampok itu.”

“Tetapi bagaimana jika mereka justru orang-orang Jipang?” bertanya Wiradana.

“Tidak apa-apa. Mereka harus ditangkap. Seperti aku katakan, sikap kalian tidak boleh berubah dengan serta merta,” sahut Ki Randukeling.

Ki Wiradana mengangguk-angguk. Namun ia berharap bahwa keadaan Tanah Perdikan Sembojan akan menjadi lebih baik. Menurut ingatannya, sejak ayahnya menjadi Kepala Tanah Perdikan di Sembojan, Pajang memang tidak pernah memberikan bimbingan apapun juga. Diserahkannya segala sesuatunya kepada ayahnya untuk mengerjakan. Namun pada saat-saat tertentu, Pajang menghendaki Tanah Perdikan Sembojan membayar pajak berwujud apa saja yang dapat diserahkan. Bukan saja hasil bumi dan ternak. Tetapi juga uang. Sehingga dengan demikian, maka menurut penglihatan Ki Wiradana kemudian setelah ia mendapat keterangan dari kakek Warsi, Pajang hanya dapat memeras tanpa dapat memberikan apa-apa.

Ternyata keputusan Ki Wiradana itu ditanggapi dengan sungguh-sungguh oleh Ki Randukeling. Sebagai pengikut Arya Penangsang yang setia, maka ia tidak mau kehilangan kesempatan itu. Laporan tentang sikap Ki Wiradana itu harus segera sampai kepada para pimpinan di Jipang, terutama Patih Mantahun.

Namun sebelum kakek Warsi itu berada di Tanah Perdikan Sembojan, ia memang sudah berhubungan dengan petugas sandi dari Jipang. Orang itu harus berada pula di Sembojan dan pada suatu saat harus menemuinya.

Sebenarnyalah ketika Ki Randukeling itu pada satu pagi yang cerah berjalan-jalan di jalan bulak di antara tanaman padi yang subur, seseorang telah berjalan pula searah di belakangnya. Namun orang itu berjalan lebih cepat, sehingga semakin lama jarak di antara keduanya semakin dekat.

Ketika orang itu kemudian berada tiga langkah di belakang Ki Randukeling, maka orang itu bergumam, “Apakah aku berbicara dengan Ki Randukeling?”

Ki Randukeling berpaling. Dilihatnya seorang laki-laki muda berwajah cerah. Laki-laki yang bertubuh tegap kekar, namun sama sekali tidak menunjukkan sifat dan tingkah laku yang garang.

Ki Randukeling menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kau Rangga Gupita?”

Laki-laki muda itu tersenyum. Katanya, “Aku mengikuti Ki Randukeling dari ujung bulak ini.”

“Sejak kapan kau berada di Tanah Perdikan ini?” bertanya Ki Randukeling.

“Sesuai dengan pesan Ki Randukeling,” jawab laki-laki yang disebut Rangga Gupita.

“Baiklah. Aku memang memerlukan kau segera,” berkata Ki Randukeling. “Kau akan bersamaku ke rumah Ki Wiradana. Dan aku akan menyebutmu sebagai cantrikku yang menyusul aku, karena seisi padepokanku di Gunung Kukusan sudah menungguku.”

“Terserah saja kepada Ki Randukeling,” jawab Rangga Gupita.

“Untuk selanjutnya aku hanya akan menyebut namamu saja. Tidak dengan gelarmu,” berkata Ki Randukeling.

“Mana yang baik bagi kita di daerah yang masih belum aku kenal betul ini,” jawab Rangga Gupita.

“Baiklah,” jawab Ki Randukeling. Lalu katanya, “Sebenarnyalah usahaku ternyata telah berhasil. Aku dapat membujuk Ki Wiradana untuk menempatkan dirinya dibawah pengaruh Jipang. Tanah Perdikan ini letaknya memang agak jauh dari Pajang. Tetapi arahnya akan memberikan kemungkinan yang baik. Sementara itu, Jipang juga akan menempatkan pasukannya di sebelah barat Jipang.”

“Kau harus segera menyampaikan laporan kepada Ki Patih Mantahun. Yang perlu segera dilakukan adalah mengirimkan beberapa orang perwira yang akan melatih anak-anak muda Tanah Perdikan ini, agar pada saatnya dapat dipersiapkan untuk menghadapi Pajang, di samping prajurit Jipang yang akan dikirim kelak. Namun dengan kekuatan Tanah Perdikan ini, maka Jipang akan dapat menghemat prajuritnya, karena Jipang tentu akan menghadapi kekuatan-kekuatan lain,” berkata Ki Randukeling.

“Tetapi kekuatan yang paling besar adalah kekuatan Pajang,” sahut Rangga Gupita.

Ki Randukeling mengangguk-angguk. Namun katanya, “Tanah Perdikan ini juga akan dapat memberikan dukungan kekuatan menghadapi Pajang.”

Rangga Gupita mengangguk-angguk. Katanya, “Aku sependapat dengan Ki Randukeling. Dan aku akan segera melakukannya. Tetapi apakah aku perlu singgah di rumah Ki Wiradana?”

“Kau belum mengenalnya. Kau perlu berkenalan dengan pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan itu,” berkata Ki Randukeling. “Tetapi sebagai cantrikku. Cantrik seorang pertama di Gunung Kukusan.”

“Baiklah. Aku akan berkenalan dengan Ki Wiradana. Tetapi kenapa aku harus disebut sebagai cantrik Gunung Kukusan? Apakah ada salahnya jika aku menyebut diriku seorang prajurit dari Jipang? Atau barangkali lebih lengkap lagi bahwa aku berada disini dalam tugas sandi?” berkata Rangga Gupita.

“Kita masih belum yakin akan sikap Ki Wiradana. Nampaknya memang masih belum mantap. Tetapi untuk sementara kau dapat menyebut dirimu cantrik Gunung Kukusan. Pada saatnya nanti kau akan mengatakan yang sebenarnya,” jawab Ki Randukeling.

“Jika demikian, maka aku harus menyesuaikan sikapku dan barangkali pakaianku?” bertanya Rangga Gupita.

“Bagaimana dengan pakaianmu? Kau sudah memakai pakaian seorang petani. Apalagi? Apakah pakaian cantrik itu harus lain dan barangkali lebih buruk dari pakaian seorang petani seperti yang kau pakai?” berkata Ki Randukeling.

“Memang kesannya, seorang cantrik adalah seseorang yang hidup dalam dunia tersendiri. Di sebuah padepokan tanpa menghiraukan kehidupan di luar lingkungannya,” berkata Rangga Gupita.

“Aku adalah seorang pertapa. Tetapi jika aku keluar dari padepokan, maka aku akan menyesuaikan diri dengan tujuanku sehingga aku akan dapat menempatkan diri dimanapun dalam hubungan antar manusia,” berkata Ki Randukeling.

“Tetapi aku pernah melihat seorang pertapa dalam pakaian kusut yang sekadar dililitkan di tubuhnya berada di jalan-jalan raya di Jipang,” berkata Rangga Gupita.

“Ah, tentu tidak. Tetapi mungkin juga, bahwa pertapa yang demikian benar-benar telah melepaskan diri dari hubungan lahiriah dengan dunia ini,” berkata Ki Randukeling. “Itulah bedanya antara mereka dengan aku. Aku masih menganggap diriku yang pertapa ini, sebagian dari lingkunganku. Aku masih berpikir tentang Tanah Perdikan Sembojan agar menjadi bagian dari Jipang dan melepaskan diri dari Pajang. Aku masih mempunyai pilihan bahwa kekuasaan Demak sebaiknya kembali saja kepada keturunan Sekar Seda Lepen, dan tidak jatuh ke tangan keturunan Trenggana,” jawab Ki Randukeling.

Rangga Gupita mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Aku mengerti. Dan kini Ki Randukeling justru sedang sibuk melibatkan diri dalam persoalan besar yang terjadi di Jipang.”

“Ya. Demikianlah memang yang terjadi,” jawab Ki Randukeling.

Rangga Gupita tersenyum. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu.

Demikianlah keduanya pun kemudian berbelok dan melingkar lewat jalan sempit kembali ke padukuhan induk. Ketika mereka memasuki halaman rumah Ki Wiradana, maka orang-orang yang melihatnya menjadi heran, bahwa pertapa itu datang dengan seseorang.

Namun Ki Randukeling kemudian menjelaskan, bahwa orang itu adalah salah seorang cantriknya yang menyusulnya.

“Namanya Gupita,” berkata Ki Randukeling kepada Ki Wiradana.

Gupita pun diterima dengan baik, sementara Ki Randukeling pun kemudian memanggil Ki Wiradana, Warsi dan laki-laki yang disebut sebagai ayah Warsi, sementara ia pun menyuruh memanggil saudagar emas berlian yang sedang berada di penginapannya dalam usahanya untuk menjebak dua orang perampok.

“Dua orang sedang pergi ke penginapan itu,” Ki Wiradana memberitahukan kepada kakeknya ketika mereka sudah berkumpul di ruang tengah.

“Kita menunggu sejenak,” berkata Ki Randukeling.

Sementara itu Warsi telah menghidangkan minuman hangat dan makanan. Namun sebenarnyalah bahwa ia telah mengerti apa yang akan dikatakan oleh kakeknya itu.

Sejenak kemudian, maka saudagar emas berlian yang menginap di penginapan itu pun telah datang pula dan duduk di antara mereka. Dengan kerut di dahinya ia bertanya, “Apakah ada sesuatu yang penting dan harus segera ditangani?”

“Tidak terlalu penting Ki Saudagar,” jawab Ki Randukeling. Bahkan ia pun masih sempat bertanya, “Bagaimana dengan perampok itu?”

“Mereka sama sekali tidak menampakkan dirinya,” jawab Ki Saudagar itu.

“Ternyata mereka pun mempunyai perhitungan,” berkata Ki Randukeling. Lalu, “Tetapi baiklah. Aku akan mengatakan kepentinganku kali ini,” kakek Warsi itu berhenti sejenak, lalu katanya, “Seorang cantrik dari padepokan telah menyusul. Mereka menganggap bahwa aku telah pergi terlalu lama.”

“Jadi kakek akan kembali?” bertanya Ki Wiradana.

“Ya. Aku akan kembali ke Gunung Kukusan. Tetapi aku pun akan langsung berhubungan dengan Jipang. Aku akan menyampaikan keputusan kalian. Namun aku berpesan, jangan melakukan sesuatu yang dapat menarik perhatian. Jangan membocorkan rahasia ini,” jawab pertapa dari Kukusan itu.

“Lalu apakah yang dapat aku kerjakan disini?” bertanya Ki Wiradana.

Ki Randukeling mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Kau tetap dapat meningkatkan latihan-latihan bagi pengawalmu menurut kemampuan tenaga yang ada. Agaknya hanya kau sendirilah yang akan mampu memberikan latihan-latihan itu.”

Ki Wiradana mengangguk-angguk. Jawabnya, “Ya kakek. Aku disini seolah-olah hanya seorang diri. Aku harus melakukan semuanya.”

“Apakah ayah cucu juga melakukan sebagaimana kau lakukan sekarang?” bertanya Ki Randukeling.

“Ya kakek. Ayah juga berbuat segala sesuatunya sendiri. Ada beberapa pengawal kepercayaannya. Tetapi kemampuan dan ilmunya tidak lebih baik dari yang kita lihat sekarang,” jawab Ki Wiradana.

Dalam pada itu, tiba-tiba saja saudagar emas dan berlian itu berkata, ”Ki Wiradana. Jika Ki Wiradana tidak berkeberatan, aku bersedia membantu. Bukankah aku juga akan menjadi penghuni Tanah Perdikan ini jika aku sudah mendapatkan sebidang tanah disini? Bukankah juga menjadi kewajibanku untuk ikut serta berbuat sesuatu bagi Tanah Perdikannya?”

Ki Wiradana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, ”Terima kasih Ki Saudagar. Aku sangat berterima kasih. Dengan demikian maka tugasku akan menjadi sedikit ringan.”

Laki-laki yang disebut ayah Warsi itu pun hampir saja ikut pula menyediakan diri. Tetapi Warsi menggamitnya, sehingga orang itu mengurungkan niatnya.

Namun dalam pada itu, kakek Warsi itu pun berkata, ”Wiradana. Jika aku berhasil berhubungan dengan Jipang, maka aku akan minta beberapa orang untuk melatih para pengawal di sini. Mereka adalah perwira-perwira prajurit Jipang yang memang mempunyai wewenang untuk menempa para prajurit. Dengan demikian maka para pengawal Tanah Perdikan ini akan mempunyai kemampuan seorang prajurit yang pilih tanding. Dalam keadaan yang demikian dibantu oleh sekelompok prajurit Jipang yang sebenarnya, maka Pajang tidak akan dapat berbuat apa-apa atas Tanah Perdikan ini, sementara pasukan Jipang yang lain mengancam Pajang dari arah Barat.”

Ki Wiradana mengangguk-angguk. Ia berharap bahwa segala sesuatunya dapat berjalan dengan baik sehingga Tanah Perdikan Sembojan akan benar-benar mampu tegak di luar kekuasaan Pajang yang penilaian Ki Wiradana, tidak banyak menghiraukan kepentingan Tanah Perdikan itu, selain dengan tekanan telah memungut pajak yang besar.

Demikianlah, maka kakek Warsi itu pun telah menentukan, bahwa di pagi hari berikutnya ia akan meninggalkan Tanah Perdikan itu kembali ke Gunung Kukusan dan apabila mungkin akan berhubungan dengan Jipang untuk menyampaikan maksudnya.

Namun sebelum meninggalkan Tanah Perdikan, kakek Warsi itu sempat memberikan pesan-pesan yang sangat berarti bagi Ki Wiradana untuk menyusun latihan-latihan bagi para pengawalnya.

Bahkan Ki Randukeling itu telah memberikan petunjuk tentang tataran para pengawal.

”Ada tiga tataran,” berkata Ki Randukeling. ”Tataran pertama, adalah mereka yang memang menyatakan diri sebagai pengawal. Jumlahnya memang tidak terlalu banyak. Tetapi mereka adalah pusat kekuatan Tanah Perdikan ini. Mereka harus tidak merangkap pekerjaan lain, kecuali mengkhususkan diri dalam tugasnya sebagai pengawal. Bahkan sawah ladang mereka pun harus mereka serahkan untuk digarap orang lain. Kepada mereka Ki Wiradana dapat memberikan penghasilan tetap bagi hidup mereka dan jika sudah berkeluarga, bagi keluarga mereka. Tataran kedua adalah anak-anak muda yang menyatakan diri bersedia menjadi pengawal di padukuhan masing-masing. Tetapi mereka tidak mengkhususkan diri. Mereka masih tetap dalam kerja mereka sehari-hari. Mereka harus bekerja di sawah dan ladang bagi hidup mereka dan keluarga mereka. Namun pada saat tertentu mereka mendapat tugas-tugas pengawalan, sebagai kewajiban mereka terhadap Tanah Perdikan. Mereka pun harus mendapat latihan-latihan yang baik sebagaimana seorang prajurit meskipun tidak akan sejajar dengan para pengawal khusus. Sedangkan tataran yang ketiga adalah semua laki-laki di Tanah Perdikan ini. Semua orang akan mendapat kewajiban untuk berbuat sebagaimana para pengawal jika Tanah Perdikan ini terancam bahaya. Tegasnya jika Tanah Perdikan ini diserang dari luar.”

Ki Wiradana mengangguk-angguk. Katanya, ”Terima kasih kakek. Aku akan mencoba menyusun tataran pengawal di Tanah Perdikan ini sebagaimana kakek katakan. Mudah-mudahan aku berhasil.”

”Latihan-latihan harus segera kau mulai. Kau tidak perlu menunggu kedatangan para perwira. Justru dengan demikian, maka tidak akan nampak perubahan yang serta merta dalam latihan-latihan para pengawal di Tanah Perdikan ini,” berkata kakek Warsi kemudian.

Pesan ini ternyata sangat berarti bagi Ki Wiradana. Bahkan telah menumbuhkan gejolak di dalam dadanya, mendorong tekadnya untuk membuat Tanah Perdikan Sembojan sebagai Tanah Perdikan yang kuat dan tidak tergoyahkan. Bukan saja menghadapi Pajang, tetapi juga menghadapi orang-orang Sembojan sendiri yang nampaknya ada beberapa pihak yang tidak dengan ikhlas melakukan perintah-perintahnya dan bahkan menunjukkan gejala untuk menentangnya.

Sepeninggal kakek Warsi di saat yang telah direncanakan maka Ki Wiradana pun segera berkemas. Namun ia merasa sedikit heran, bahwa ternyata kakek Warsi adalah orang yang agaknya memiliki pengetahuan dan pengalaman yang luas. Ia bukan seorang pertama yang berpandangan sesempit padepokannya. Bahkan menurut pendapat Ki Wiradana, ayah Warsi pun bukan seorang yang terlalu bodoh meskipun ia tidak lebih dari seorang penggendang.

“Nampaknya Warsi benar-benar tersesat ketika ia menjadi penari jalanan. Bagaimanakah pendapat kakeknya jika ia melihat bahwa Warsi berjalan beriringan dalam pakaian penari di sepanjang jalan di malam hari, kemudian menanggapi kekasaran laki-laki dalam janggrung yang dibaui oleh tuak?” berkata Ki Wiradana di dalam hatinya.

Tetapi Ki Wiradana tidak mengatakan kepada siapapun juga pertanyaan yang terbersit di dalam hatinya itu.

Dalam pada itu, sepeninggal kakek Warsi, Wiradana dan Ki Saudagar benar-benar telah bersiap untuk menyusun pasukan pengawal Tanah Perdikan dalam tataran sebagaimana dikatakan oleh kakek Warsi. Meskipun yang ada sebenarnya di Tanah Perdikan Sembojan sudah mirip sebagaimana dikatakan oleh Ki Randukeling, namun Wiradana harus menegaskan, yang manakah pengawal khusus dan yang manakah pengawal dalam tataran yang lebih luas.

Sementara itu, Warsi yang berbicara dengan laki-laki yang disebut ayahnya telah menggeram, “Kau jangan ikut-ikutan. Hampir saja aku lupa menampar mulutmu. Kau adalah seorang pengendang. Jangan merasa dirimu memiliki ilmu untuk ikut melatih para pengawal di Tanah Perdikan ini.”

Laki-laki itu hanya mengangguk saja.

“Nah, hati-hatilah menempatkan dirimu sebagaimana aku harus sangat berhati-hati menempatkan diriku,” berkata Warsi kemudian.

“Berpura-pura untuk waktu yang sangat lama kadang-kadang terlupa juga,” gumam laki-laki itu.

“Jika kau merusakkan permainan ini, aku bunuh kau,” geram Warsi.

Laki-laki itu tidak menjawab. Tidak ada gunanya berbantah dengan Warsi. Bahkan mungkin Warsi benar-benar akan menampar mulutku.

Demikianlah, Ki Wiradana telah bekerja keras untuk memperbaiki susunan tataran pengawalnya. Ia memang tidak terlalu banyak harus membuat perubahan-perubahan.

Para pengawal yang ditunjuk untuk menjadi alas kekuatannya itulah yang kemudian dianggapnya sebagai pengawal khusus. Mereka sejak sebelumnya memang sudah menerima hadiah dan pemberian dari Ki Wiradana lebih banyak dari para pengawal yang lain dengan harapan bahwa mereka akan patuh dan selalu melakukan perintahnya.

“Jika mungkin, mereka sebaiknya ditempatkan di barak-barak tertentu. Meskipun tidak semua dari para pengawal khusus itu. Tetapi inti dari pasukan khusus yang mampu bergerak setiap saat dengan cepat. Katakanlah, mereka adalah pasukan pengawal berkuda dari Tanah Perdikan ini.”

Ki Wiradana mengangguk-angguk. Namun dengan demikian, ia akan memerlukan anggaran yang banyak untuk kepentingan para pengawalnya.

“Pajak di Tanah Perdikan ini terlalu rendah,” berkata Ki Saudagar itu kepada Ki Wiradana. “Maksudku bagi mereka yang berkecukupan, pajak dapat dinaikkan serba sedikit. Ki Wiradana jangan menyebut bahwa mereka dikenakan pajak lebih banyak, tetapi mereka harus membayar iuran bagi peningkatan kesejahteraan Tanah Perdikan ini, termasuk segi keamanannya. Ki Wiradana dapat sedikit memberikan gambaran apa yang terjadi di Demak, sehingga dalam keadaan yang tidak menentu ini, mungkin terjadi kekisruhan,” Ki Saudagar itu berhenti sejenak. Selanjutnya, “Orang-orang jahat, akan dapat memanfaatkan keadaan ini untuk kepentingan diri mereka sendiri. Apalagi jika perhatian para Adipati tertuju kepada pengisian tahta yang kosong itu. Tetapi lebih parah lagi jika terjadi benturan pendapat dan bahkan mungkin peperangan. Tetapi sekali lagi aku peringatkan pesan Ki Randukeling, bahwa Ki Wiradana untuk berpihak kepada Jipang adalah merupakan satu keputusan yang masih sangat rahasia. Hanya orang-orang di dalam rumah Ki Wiradana sajalah yang boleh mengetahui. Pengawal yang paling dipercaya pun sebaiknya belum mendengar tentang keputusan ini.”

“Ya Ki Saudagar. Aku memang belum mengatakan kepada siapapun juga,” jawab Ki Wiradana.

“Bagus,” jawab saudagar itu. “Sementara itu Ki Wiradana dapat mengatur para pengawal sebaik-baiknya. Aku akan membantu memberikan latihan-latihan bersama seorang kawanku itu.”

“Terima kasih. Kita memang harus segera mulai,” berkata Ki Wiradana.

“Semakin cepat semakin baik. Aku yakin bahwa Ki Randukeling akan bergerak dengan cepat. Kita harus sudah siap dengan susunan tataran para pengawal sebelum beberapa orang perwira dari Jipang itu datang.”

Ki Wiradana mengangguk-angguk. Katanya, “Dalam waktu sebulan aku akan sudah siap dengan susunan tataran para pengawal sebagaimana dikehendaki oleh kakek dari Gunung Kukusan. Aku tidak terlalu banyak membuat perubahan-perubahan. Yang penting bagiku adalah justru penegasan, nama-nama dari pasukan khusus dan nama-nama dari para pengawal yang lain.”

Dengan demikian, maka Ki Wiradana telah memanggil beberapa orang kepercayaannya. Dengan singkat ia menguraikan keadaan yang mereka hadapi pada saat-saat terakhir, dengan kosongnya tahta di Demak, maka mungkin akan terjadi persoalan-persoalan yang tidak dikehendaki. Tetapi seperti yang dipesankan Ki Randukeling dan Ki Saudagar, persoalan hubungan antara Jipang dan Tanah Perdikan itu sama sekali tidak disinggungnya.

Demikianlah, maka dalam waktu yang terhitung singkat, Ki Wiradana telah menyiapkan susunan tataran pada pengawal. Ia telah membuat suatu barak yang akan menjadi barak para pengawal khusus dari pasukan berkuda Tanah Perdikan Sembojan.

Dalam waktu yang singkat pula, setiap padukuhan harus sudah mengirim nama-nama para pengawalnya.

Ki Saudagar ternyata mengagumi gerak Ki Wiradana yang cepat itu. Sebagaimana dikatakannya, dalam waktu satu bulan hanya lebih beberapa hari, semuanya telah tersusun rapi. Meskipun barak yang khusus bagi pengawal berkuda masih belum selesai sepenuhnya, tetapi sebagian dari pengawal berkuda yang pada umumnya terdiri dari anak-anak muda yang belum berkeluarga itu telah dapat mempergunakannya.

“Bagi mereka yang sudah berkeluarga akan tetap tinggal pada keluarga masing-masing,” berkata Ki Wiradana. “Tetapi mereka harus mampu bergerak cepat dan berada di barak pasukan pengawal berkuda dalam waktu pendek. Kecuali jika ada perintah lain,” berkata Ki Wiradana kepada para pengawal itu.

Dengan para pemimpin pengawal, Ki Wiradana telah membicarakan cara yang akan ditempuh untuk memberikan latihan-latihan yang lebih baik bagi mereka.

“Untuk sementara, aku dan Ki Saudagar akan menempa mereka dari pasukan pengawal yang tinggal di barak dan mereka yang termasuk pasukan pengawal khusus yang jumlahnya tidak terlalu banyak. Hanya dalam waktu sekali sepekan, para pengawal di padukuhan-padukuhan akan mendapat latihan-latihan dari para pengawal khusus,” Ki Wiradana menegaskan.

Dengan demikian, maka Tanah Perdikan Sembojan itu nampaknya menjadi semakin hidup. Setiap hari mereka melihat latihan-latihan yang dilakukan oleh para pengawal khusus. Sedangkan sepekan sekali pasukan khusus itu justru mendapat waktu untuk beristirahat dari latihan-latihan mereka, tetapi mereka justru memberikan latihan-latihan kepada para pengawal yang lain di padukuhan-padukuhan.

Tetapi di samping kegiatan para pengawal yang membuat Tanah Perdikan Sembojan itu nampak bertambah perkasa, terdengar di banyak sudut Tanah Perdikan orang yang mengeluh. Ternyata peningkatan beban anggaran Tanah Perdikan Sembojan itu harus dipikul oleh rakyat. Orang-orang yang dianggap berkecukupan harus memberikan sumbangan khusus disamping pajak mereka. Bahkan kemudian bukan saja mereka yang berkecukupan. Pelaksanaannya ternyata telah menimbulkan persoalan-persoalan tersendiri.

Batas antara mereka yang berkecukupan dan yang tidak termasuk berkecukupan memang sulit untuk ditentukan. Apalagi ada kesengajaan dari para petugas yang menentukan batas untuk mengaburkan batasan yang tidak jelas itu, sehingga dengan demikian maka sebagian besar dari orang-orang Tanah Perdikan Sembojan itu dianggap saja berkecukupan. Sedangkan besar kecilnya sumbangan yang harus mereka berikan itu pun merupakan masalah yang kadang-kadang harus diatasi dengan kekerasan.

Namun dalam pada itu, rakyat kecil di Tanah Perdikan Sembojan tidak dapat menolak ketentuan yang dipaksakan kepada mereka oleh Ki Wiradana, pengemban tugas Kepala Tanah Perdikan yang mempergunakan para pengawal khusus sebagai alat untuk melaksanakan ketentuan itu. Yang dapat mereka lakukan tidak lebih dari mengeluh dan bergeremang di antara mereka.

Sementara itu, Rangga Gupita telah membawa berita tentang Tanah Perdikan Sembojan itu ke Jipang. Ketika ia langsung menyampaikan masalahnya kepada Ki Patih Mantahun, maka Ki Patih itu pun bertanya, “Apakah kau yakin bahwa Tanah Perdikan itu benar-benar dapat dipercaya.”

“Pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan adalah cucu Ki Randukeling,” jawab Rangga Gupita.

“Bawa Ki Randukeling kemari,” berkata Ki Patih Mantahun.

“Ia berada di padepokannya, di Gunung Kukusan,” jawab Rangga Gupita. “Ia ingin mempersiapkan segala sesuatunya, karena Ki Randukeling sendiri ternyata ingin tinggal untuk waktu yang agak lama di Tanah Perdikan Sembojan. Sehingga karena itu, maka ia harus mengatur padepokannya, agar selama ia tidak berada di padepokan, segala sesuatunya dapat berjalan lancar.”

“Katakan, bahwa Mantahun ingin berbicara langsung. Aku kira ia akan menyediakan waktu, karena Ki Randukeling kadang-kadang mempunyai pikiran yang menarik, sebagaimana usahanya untuk menarik Tanah Perdikan Sembojan ke dalam lingkungan perjuangan Kangjeng Adipati Jipang. Justru karena kelak Sembojan yang menguntungkan dan tanahnya yang menurut pendengaranku sangat subur,” berkata Ki Mantahun.

“Sebagian tanahnya memang sangat subur,” jawab Rangga Gupita. “Tetapi baiklah. Aku akan menghubungi Ki Randukeling. Mudah-mudahan ia cepat selesai dengan padepokannya sendiri.”

Sebenarnyalah, bahwa Ki Randukeling sama sekali tidak berkeberatan untuk pergi ke Jipang setelah ia selesai membenahi padepokan yang akan ditinggalkannya untuk waktu yang mungkin agak lama. Memang ada sesuatu yang ingin langsung dibicarakannya dengan Ki Patih Mantahun tentang kemungkinan-kemungkinan yang dapat dilakukan di Tanah Perdikan Sembojan.

Namun sambil menunggu kedatangan Ki Randukeling maka para pemimpin di Jipang telah dapat membicarakan rencana yang mapan bagi Tanah Perdikan Sembojan.

Dengan demikian, ketika Ki Randukeling benar-benar datang menemui Ki Patih Mantahun bersama Rangga Gupita, maka banyak persoalan yang sudah dapat disiapkan pemecahannya. Dengan demikian maka tidak banyak lagi masalah-masalah yang masih harus dipersoalkan.

“Yang perlu,” berkata Ki Randukeling, “Jipang harus segera mengirimkan beberapa orang perwira untuk memberikan latihan-latihan kepada para pengawal di Tanah Perdikan. Dengan demikian Tanah Perdikan itu akan dapat dipersiapkan, bukan saja sebagai sumber persediaan makanan, tetapi sumber kekuatan. Ki Patih mungkin tidak dapat memperkirakan, berapa lama Kangjeng Adipati Arya Penangsang memerlukan waktu untuk menyelesaikan perjuangannya.”

“Kau benar Ki Randukeling,” jawab Ki Patih Mantahun. “Kita harus bersiap-siap untuk perjuangan yang lama.”

“Bukankah sampai saat ini masih belum jelas, apa yang akan terjadi?” bertanya Ki Randukeling.

“Para pemimpin di Demak, orang-orang tua yang berpengaruh dan para Adipati sedang berbicara tentang kemungkinan-kemungkinan yang paling baik bagi masa depan Tanah Perdikan ini. Tetapi pembicaraan itu tidak akan berkeputusan. Kangjeng Adipati di Jipang harus berpegangan kepada jalur kekuasaan yang sebenarnya di Demak, karena terbunuhnya ayahanda Adipati di Jipang telah menggeser jalur kedudukan Sultan di Demak, dari keturunan Sekar Seda Lepen kepada keturunan Trenggana,” berkata Patih Mantahun.

“Tetapi apakah Adipati Jipang mendapat cukup dukungan?” bertanya Ki Randukeling.

 “Memang mungkin dukungan itu masih harus diperjuangkan. Tetapi itu merupakan bagian dari perjuangan Adipati Jipang dalam keseluruhan,” jawab Patih Mantahun. Namun kemudian, “Tetapi alat perjuangan terakhir adalah siap di Jipang. Kami, para pemimpin di Jipang sudah bertekad, bahwa alat perjuangan terakhir, yaitu kekuatan senjata, telah cukup memadai untuk melawan semua kekuatan yang mungkin akan bergabung, termasuk Pajang. Apalagi para pengawal di Tanah Perdikan Sembojan itu dapat dibina sebagaimana prajurit.”

“Sejak sebelumnya mereka sudah mendapat latihan-latihan yang tentu masih belum memadai. Tetapi setidaknya dapat merupakan pemanasan dari usaha berikutnya, menempa mereka menjadi prajurit-prajurit sebagaimana prajurit Jipang.”

Ki Patih mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan mengirim beberapa orang perwira segera.”

“Sesudah aku berangkat ke Tanah Perdikan,” berkata Ki Randukeling.

“Kapan kau berangkat?” bertanya Ki Patih.

“Besok aku akan kembali ke padepokan. Hanya untuk satu malam. Kemudian aku akan langsung menuju ke Tanah Perdikan. Bersama Rangga Gupita,” jawab Ki Randukeling.

“Jika demikian, aku akan mengirimkan beberapa orang perwira tiga hari mendatang. Mereka akan langsung pergi ke Tanah Perdikan Sembojan,” berkata Ki Patih.

“Perintahkan mereka menemui aku di Tanah Perdikan di rumah Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikannya,” pesan Ki Randukeling. “Tetapi ingat, jangan menarik perhatian orang-orang kebanyakan. Dalam kelompok-kelompok kecil, yang sebanyak-banyaknya terdiri dari tiga orang.”

“Baik. Aku akan menuruti petunjukmu. Sementara itu, persiapan yang lain pun telah dilakukan,” berkata Ki Patih Mantahun.

“Sebaiknya Ki Patih mempersiapkan satu pasukan yang dapat memancing perhatian orang-orang Pajang. Jika kekerasan itu tidak dapat dihindari, maka biarlah sepasukan Jipang berada disebelah barat Pajang untuk menarik perhatian mereka. Sementara itu, Sembojan dapat mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk menyerang Pajang dari arah Selatan,” berkata Ki Randukeling.

“Kami akan sangat memperhatikan. Tetapi jika saatnya datang, aku akan menghubungi lagi Ki Randukeling sambil mengetahui sampai dimana persiapan yang dilakukan oleh Sembojan,” berkata Ki Patih.

Demikianlah, maka Ki Randukeling telah meninggalkan Jipang. Ia tidak merasa perlu berhubungan langsung dengan Arya Jipang, karena baginya Arya Jipang dan Ki Patih Mantahun tidak banyak bedanya. Meskipun Patih Mantahun telah cukup tua dilihat dari banyaknya umur, tetapi ia masih tetap seorang Patih yang pikirannya sangat diperlukan oleh Arya Jipang. Bahkan dalam umurnya yang semakin tua, bukan saja pikirannya yang masih jernih, tetapi kemampuan ilmunya jarang ada duanya.

Sepeninggal Ki Randukeling, Ki Patih Mantahun telah mempersiapkan beberapa orang perwira yang akan dikirim ke Tanah Perdikan Sembojan. Menurut perhitungannya maka agaknya duapuluh orang perwira yang berbobot akan dapat membentuk satu pasukan yang kuat dalam waktu yang singkat di Tanah Perdikan. Dengan demikian, maka Tanah Perdikan yang semula menjadi daerah kuasa Pajang itu justru akan dapat membayangi Pajang sendiri. Sementara pasukan Jipang yang sebenarnya akan berada di sebelah Barat Pajang.

“Memang hanya Pajang yang perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh,” berkata Mantahun di dalam hatinya.

Sebenarnyalah bahwa saingan yang terberat bagi Arya Penangsang adalah Adipati Pajang Hadiwijaya. Meskipun Hadiwijaya bukan menantu dari puteri tertua Sultan Trenggana, tetapi ia adalah orang yang dianggap memiliki kemampuan terbaik di antara keluarga Sultan Demak itu.

Meskipun demikian, Arya Penangsang tidak tanggung-tanggung menghadapi keturunan Trenggana yang dianggapnya telah merenggut tahta dari ayahnya. Sehingga dengan demikian, dalam kekuasaan yang wajar, ia tentu bukan salah seorang dari calon yang akan menggantikan Sultan Trenggana.

Dalam pada itu, Ki Patih Mantahun yang telah mempersiapkan duapuluh orang perwira pilihan, telah melaporkannya pula kepada Arya Penangsang bahwa Tanah Perdikan Sembojan telah menyatakan diri berdiri dipihak mereka.

“Kau yakin?” bertanya Arya Penangsang.

“Hamba yakin Kangjeng Adipati,” jawab Mantahun, “Karena hamba telah bertemu langsung sahabat hamba yang bernama Ki Randukeling.”

“Ya. Aku mengenal orang itu,” potong Arya Penangsang.

“Nah, pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan yang kecewa terhadap Pajang itu adalah cucu Ki Randukeling,” jawab Patih Mantahun.

“Bagus,” jawab Arya Penangsang, “Kita harus menjadikan Tanah Perdikan itu, kecuali alas penyediaan makan bagi perjuangan jangka panjang, juga tenaga. Aku tidak berkeberatan atas rencanamu tentang Tanah Perdikan itu.”

“Hamba sudah menyiapkan duapuluh orang perwira terpilih,” berkata Mantahun.

“Biarlah mereka pergi,” jawab Arya Penangsang. “Tetapi mereka harus bekerja cepat. Mereka harus selalu menyesuaikan diri dengan langkah-langkah yang akan aku ambil.”

“Rangga Gupita berada di Tanah Perdikan itu pula. Ia adalah seorang perwira dari pasukan sandi. Ialah yang akan mengatur segala hubungan antara Tanah Perdikan Sembojan dengan Jipang,” jawab Mantahun.

“Tetapi apakah kita mungkin dalam waktu dekat, sebelum kita sempat berbuat sesuatu. Pajang telah datang dengan pasukannya untuk memaksa Tanah Perdikan itu kembali tunduk kepada kuasa Pajang?” bertanya Arya Penangsang.

“Terhadap Pajang, Tanah Perdikan itu belum menyatakan sikap. Baru kemudian, jika Tanah Perdikan itu sudah kuat, maka barulah ia akan menyatakan dirinya berada dibawah perlindungan Jipang. Sementara itu, Jipang telah menempatkan pasukannya untuk membayangi Pajang dari arah Barat,” jawab Patih Mantahun.

Arya Jipang mengangguk-angguk, “Aku memang merasa perlu untuk menekan Pajang dengan menunjukkan kekuatan. Dengan demikian maka Pajang akan menjadi cemas, sehingga dalam pembicaraan-pembicaran yang akan berlangsung, Pajang tidak akan bersitegang untuk mempertahankan keturunan Trenggana memegang kendali pemerintahan di Demak,” Arya Penangsang itu berhenti sejenak, lalu, “Tetapi jika Tingkir itu tetap keras kepala, maka apaboleh buat. Pajang harus dihancurkan.”

Dengan demikian, maka Arya Penangsang pun telah merestui rencana Patih Mantahun yang akan diterapkan di Tanah Perdikan Sembojan dan Arya Penangsang pun tidak berkeberatan untuk mengirimkan pasukannya ke sebelah Barat Pajang untuk memancing perhatian Pajang dan sekaligus memberikan tekanan dalam pembicaraan-pembicaraan yang diadakan di Demak.

Dengan ijin dan bahkan restu itu, berangkatlah duapuluh orang perwira ke Tanah Perdikan Sembojan. Tetapi seperti pesan Ki Randukeling, maka duapuluh orang itu tidak pergi bersama-sama dalam satu iring-iringan. Mereka terbagi dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari dua atau tiga orang dengan mengikuti jalan yang berbeda-beda, sehingga dengan demikian kepergian mereka ke Tanah Perdikan tidak menarik perhatian orang di sepanjang jalan. Apalagi dalam kemelut yang sedang terjadi di Demak, maka setiap keadaan akan selalu menjadi arah pengamatan dari pihak yang lain.

Beberapa hari kemudian, Ki Randukeling yang telah berada di Tanah Perdikan Sembojan itu lebih dahulu. Ia datang bersama Rangga Gupita yang diakunya sebagai cantriknya.

Kedatangan Ki Randukeling memberikan harapan-harapan baru bagi masa depan Tanah Perdikan itu, meskipun harus dilalui melewati masa-masa ketegangan.

Demikian Ki Randukeling berada kembali di Tanah Perdikan, maka ia pun segera menyampaikan kepada Ki Wiradana bahwa hubungan dengan Jipang sudah terjalin.

“Dalam waktu dekat, akan datang para perwira yang mendapat tugas untuk menyusun kekuatan di Tanah Perdikan ini. Orang-orang Jipang percaya, bahwa disini, di Tanah Perdikan ini tersedia tenaga yang cukup. Jika terdapat beberapa orang yang dapat menyusunnya menjadi satu kekuatan yang teratur, maka kekuatan Tanah Perdikan ini harus diperhitungkan,” berkata Ki Randukeling kemudian.

“Terima kasih kakek,” jawab Ki Wiradana. “Waktunya memang menjadi semakin mendesak. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, Warsi akan melahirkan, sementara itu, sama sekali tidak ada kabar dari Pajang tentang wisuda itu. Sehingga dengan demikian maka keputusan untuk berpihak kepada Jipang akan aku tunjukkan kepada Pajang.”

“Tetapi jangan tergesa-gesa dan jangan bertindak sendiri. Kau harus menyesuaikan langkahmu dengan tahap-tahap yang dilakukan oleh Jipang menghadapi kemelut ini.”

 Ki Wiradana mengangguk-angguk, katanya, “Aku mengerti kakek.”

“Nah, sejak sekarang kau dapat mempersiapkan orang-orangmu. Duapuluh orang akan datang. Tidak hanya satu atau dua orang, kau sadari jumlah itu? Duapuluh orang. Satu kekuatan yang cukup besar bagi Tanah Perdikan ini. Dan mereka akan membantumu menyusun pasukan pengawal di Tanah Perdikan ini,” berkata Ki Randukeling. “Bukankah dengan demikian Tanah Perdikan ini akan menjadi Tanah Perdikan yang kuat?”

Ki Wiradana menjadi berdebar-debar. Namun ia pun merasa bahwa ternyata ia tidak harus bekerja sendiri sebagaimana dilakukan oleh ayahnya dahulu. Ia kini mempunyai beberapa orang kawan. Dan bahkan duapuluh orang perwira dari Jipang akan datang ke Tanah Perdikan ini.

Rencana kehadiran duapuluh orang perwira itu pun kemudian diberitahukan oleh Ki Wiradana dalam satu pertemuan tertutup para pemimpin pengawal Tanah Perdikan. Kepada mereka pun Wiradana belum mengatakan, bahwa orang-orang yang bakal datang itu adalah orang-orang dari Kadipaten Jipang. Ki Wiradana hanya mengatakan, bahwa mereka adalah para sahabat kakeknya.

“Namun demikian, pada saatnya kalian memang harus mengetahui langkah-langkah yang akan kami ambil kemudian,” berkata Ki Wiradana.

Keterangan Ki Wiradana itu memang menjadi bahan pembicaraan para pemimpin pengawal. Mereka memang berpengharapan untuk mendapatkan ilmu yang lebih tinggi. Tetapi mereka juga ingin tahu, siapakah sebenarnya duapuluh orang yang bakal datang.

“Jika orang-orang itu sudah pasti berada di Tanah Perdikan ini, maka barulah aku akan memberitahukan persoalan yang sebenarnya kepada kalian,” berkata Ki Wiradana kepada para pemimpin pengawal yang agaknya selalu dibayangi oleh berbagai macam pertanyaan itu.

Wiradana menjadi gelisah menunggu kedatangan para perwira seperti yang dikatakan oleh Ki Randukeling. Tetapi Ki Randukeling berkata, “Mereka pasti akan datang. Mungkin hari ini. Mereka tidak akan berjarak lebih dari dua hari dari kedatanganku.”

Sebenarnyalah seperti yang dikatakan oleh Ki Randukeling, maka orang pertama dan kedua telah datang pada hari itu. Mereka langsung menuju ke rumah Ki Wiradana, disusul dengan orang-orang berikutnya.

Agar tidak menarik perhatian orang-orang Sembojan sendiri, maka sebagian dari kuda-kuda mereka pun telah dibawa langsung ke halaman belakang.

Ternyata dua puluh orang itu datang berurutan dalam jarak waktu yang tidak terlalu dekat. Mereka memang menempuh jalan yang berbeda atau kecepatan yang berselisih, sehingga tidak menimbulkan kesan, bahwa orang-orang berkuda dalam kelompok-kelompok kecil itu merupakan satu kesatuan.

Setelah kedua puluh orang itu lengkap berada di rumah Ki Wiradana, maka mereka pun telah diterima dengan resmi oleh Ki Randukeling. Kemudian Ki Randukeling menyerahkan keduapuluh orang itu kepada Ki Wiradana.

“Ki Wiradana dapat memanfaatkan keduapuluh orang perwira ini untuk membentuk satu pasukan yang kuat di Tanah Perdikan ini,” berkata Ki Randukeling. Lalu, “Segala sesuatunya terserah kepada Ki Wiradana. Tetapi keduapuluh orang ini mempunyai pengetahuan dan pengalaman. Meskipun demikian, keputusan terakhir tetap pada Ki Wiradana, karena pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan disini adalah Ki Wiradana. Keduapuluh orang itu tidak mencampuri pemerintahan di Tanah Perdikan ini. Mereka datang untuk membantu Ki Wiradana. Tidak untuk menyaingi pemerintahan Ki Wiradana.”

Ki Wiradana pun kemudian menerima mereka dengan senang hati dan penuh dengan harapan bagi masa depan Tanah Perdikan itu. Untuk selanjutnya, keduapuluh orang itu akan ditempatkan di beberapa rumah yang sudah disediakan didekat barak yang sudah dibuat bagi para pengawal khusus.

Dengan kehadiran mereka, maka untuk selanjutnya Ki Wiradana tidak merasa perlu lagi untuk merahasiakan hubungan Tanah Perdikan itu dengan Jipang khusus terhadap para pemimpin pengawal. Namun demikian, para pemimpin pengawal itu harus merahasiakannya kepada orang-orang diluar lingkungan mereka karena Tanah Perdikan Sembojan tidak ingin Pajang segera melakukan tindakan seandainya mereka mengetahui. Jika berita tentang keduapuluh orang itu tersebar dan hubungan antara Tanah Perdikan Sembojan dengan Jipang meluas diketahui, maka hal itu tentu akan segera sampai kepada orang-orang Pajang. Karena itu orang-orang Sembojan harus berusaha untuk menyimpan rahasia itu sejauh mungkin dan menyesuaikan langkah-langkah mereka dengan langkah-langkah yang diambil oleh Jipang menghadapi Demak dan Pajang.

Demikianlah dengan hati-hati, keduapuluh orang itu telah ditempatkan di rumah-rumah yang sudah disediakan didekat barak pada pengawal khusus. Sementara itu, Ki Wiradana telah mengambil langkah-langkah selanjutnya.

“Kalian harus membantu aku,” berkata Ki Wiradana. “Karena itu maka kalian harus melakukan kewajiban kalian dengan sebaik-baiknya. Keduapuluh orang yang datang itu merupakan satu kesempatan yang sangat baik bagi Tanah Perdikan ini, karena dengan demikian Tanah Perdikan ini akan dapat menyusun satu pasukan pengawal yang kuat, melampaui kekuatan Tanah Perdikan manapun juga. Kalian tidak lagi berada pada tataran pengawal Tanah Perdikan sebagaimana para pengawal Tanah Perdikan yang lain, tetapi kalian adalah prajurit-prajurit pilihan yang berada pada tataran prajurit Demak sendiri,” Ki Wiradana berhenti sejenak, lalu, “Namun demikian langkah-langkah yang aku ambil sekarang ini harus kalian rahasiakan. Keduapuluh orang itu akan berbaur menjadi satu dengan kalian, sehingga tidak akan nampak dari luar, bahwa disini ada duapuluh orang perwira dari prajurit Jipang.”

Para pemimpin pengawal itu mengangguk-angguk. Mereka mendengarkan penjelasan Ki Wiradana yang panjang lebar dengan seksama, sehingga mereka pun mengerti dengan jelas segala maksud dan tujuannya.

Demikianlah, sejak saat itu, Ki Wiradana menyerahkan pasukan pengawalnya kepada para perwira itu untuk mendapatkan latihan-latihan yang sebaik-baiknya.

Pada hari-hari pertama, keduapuluh orang itu berusaha untuk mengetahui tingkat kemampuan para pengawal yang ada di barak yang akan menjadi alas ukuran untuk mulai dengan latihan-latihan berikutnya. Kemudian para perwira dari Jipang itu telah membagi para pengawal menjadi duapuluh kelompok kecil. Masing-masing sepuluh orang. Dengan demikian maka Tanah Perdikan Sembojan akan mempunyai duaratus orang yang akan menjadi inti kekuatan Tanah Perdikan itu.

Ternyata bahwa keduapuluh orang perwira itu pun telah menentukan waktu latihan sebagaimana ditentukan oleh Ki Wiradana sebelumnya.

“Kami akan memberikan satu hari dalam sepekan kepada kalian untuk melatih kawan-kawan kalian di padukuhan-padukuhan, sehingga dengan demikian maka para pengawal di padukuhan-padukuhan itu pun pada saatnya akan dapat membantu kalian dengan sebaik-baiknya,” berkata para perwira itu kepada kelompoknya.

Dengan demikian, maka mulailah Tanah Perdikan Sembojan dengan satu masa yang sangat sibuk. Para pengawal benar-benar harus menjalani latihan-latihan yang sangat berat, sebagaimana latihan-latihan yang dilakukan oleh prajurit. Apalagi para perwira itu menghadapi satu jumlah yang terhitung kecil bagi latihan-latihan keprajuritan.

Namun demikian ternyata rahasia bagi kedatangan duapuluh orang Jipang itu tetap merupakan rahasia yang hanya diketahui oleh para pemimpin pengawal dan duaratus pengawal khusus yang mendapat latihan yang sangat berat itu. Mereka dengan rapat menyimpan rahasia itu sehingga para pengawal di padukuhan pun tidak mengetahui, bahwa dalam latihan-latihan pasukan pengawal khusus itu terdapat orang-orang Jipang.

Sementara itu, latihan-latihan bagi para pengawal khusus itu memang sangat berat. Setiap pagi mereka menempa kemampuan jasmaniah mereka dengan berlari-lari menempuh jarak yang semakin lama semakin panjang. Memanjat lereng-lereng pegunungan atau meloncati bebatuan di sungai-sungai. Mereka mendapat latihan-latihan dalam perkelahian pribadi maupun dalam kelompok. Sementara itu pada saat-saat tertentu, mereka bersama-sama berlatih dalam perang gelar yang mapan.

Mereka pun diajari berkelahi dengan mempergunakan bermacam-macam senjata. Senjata yang disediakan, bahkan senjata apapun yang mereka ketemukan ditempat perkelahian itu terjadi. Batu, potongan kayu, bambu dan bahkan lumpur dan pasir.

“Kalian harus menjadi seorang yang mampu mengatasi segala persoalan yang dapat timbul di peperangan,” berkata para perwira itu kepada para pengawal.

Namun dalam pada itu, betapapun berat latihan-latihan yang harus mereka jalani, mereka pun mendapat keseimbangan dengan pemberian yang cukup banyak dari Ki Wiradana. Mereka tidak perlu lagi memikirkan makan dan minum. Mereka juga tidak memikirkan karena semuanya itu sudah disediakan oleh Ki Wiradana. Bahkan mereka masih mendapat uang untuk keperluan mereka yang lain.

Tetapi dengan demikian, maka semakin lama semakin banyaklah rakyat yang mengeluh. Pasukan pengawal khusus itu merupakan beban yang berat bagi Tanah Perdikan Sembojan. Meskipun atas dasar beberapa pertimbangan Jipang justru telah memberikan bantuan atas terbinanya pasukan pengawal khusus itu bagi kepentingan Jipang, namun beban itu masih terasa sangat berat di pundak rakyat Tanah Perdikan itu.

Meskipun demikian, keluhan mereka sama sekali tidak didengar oleh para pemimpin di Tanah Perdikan. Apalagi yang kemudian memegang kendali pemerintahan di Sembojan bukan lagi Ki Wiradana dan para pembantu serta orang-orang tua di Tanah Perdikan itu, tetapi justru orang-orang yang tidak dikenal sebelumnya. Selain Ki Wiradana terdapat seorang pertapa yang disebut kakek Nyi Wiradana. Kemudian seorang saudagar emas dan berlian untuk menetap pula. Yang lain adalah seorang laki-laki yang disebut ayah Nyi Wiradana meskipun wajah mereka tidak mempunyai kemiripan sama sekali.

Sementara itu yang melaksanakan segala tugas di Tanah Perdikan itu memang sudah bergeser pula. Para Bekel di padukuhan-padukuhan tidak lagi bertugas apapun, karena semuanya telah dilaksanakan oleh para pemimpin pengawal yang bertanggung jawab langsung kepada Ki Wiradana. Para pemimpin pengawal itu hanya menghubungi para bekel untuk menentukan besar kecilnya pajak tambahan. Itu pun akhirnya yang mengambil keputusan adalah para pemimpin pengawal itu sendiri. Dalam pelaksanaan pemungutannya dilakukan oleh para pemimpin pengawal itu.

Dengan demikian, maka tata pemerintahan di Tanah Perdikan Sembojan memang benar-benar telah bergeser.

Dalam pada itu, dari hari ke hari, kandungan Warsi pun menjadi semakin besar. Saat-saat kelahiran pun menjadi semakin dekat. Namun demikian Ki Wiradana sudah tidak lagi mempunyai keinginan untuk pergi ke Pajang menanyakan kemungkinan wisuda bagi pengukuhan jabatannya. Apalagi sampai sedemikian lama, Wiradana masih belum menemukan ciri kekuasaan di Tanah Perdikan Sembojan yang berupa sebuah bandul pada rantai yang terbuat dari emas dan bertatahkan lukisan kepala burung elang.

Demikianlah, pada saat-saat Tanah Perdikan Sembojan sedang sibuk meningkatkan kemampuannya di bidang kekuatan pasukannya serta menunggu kelahiran anak Warsi yang menjadi semakin dekat, maka di Demak telah terjadi satu kegemparan yang dengan cepat tersebar beritanya. Meskipun peristiwa itu sendiri tidak terjadi di Demak, namun peristiwa itu terjadi sebagai akibat kekosongan tahta di Demak.

Sunan Prawata, salah seorang putra Sultan Trenggana telah terbunuh.

Meskipun sulit untuk mengetahui bagaimana pembunuhan itu terjadi, namun didekat tubuh Sunan Prawata yang terbunuh bersama istrinya, terdapat mayat seorang yang diduga telah membunuh Sunan Prawata.

Sementara itu, berita kematian Sunan Prawata itu telah dihubungkan dengan niat adipati Jipang untuk mengambil kembali tahta dari Demak ke Jipang.

Ki Wiradana yang mendengar berita itu kemudian telah bertanya kepada Ki Randukeling, “Bagaimana pendapat kakek tentang berita ini.”

“Aku mendengarnya dari para perwira Jipang yang mendapat berita dari penghubung mereka, bahwa Sunan Prawata seharusnya memang terbunuh,” jawab Ki Randukeling.

“Kenapa?” bertanya Ki Wiradana.

“Menurut orang-orang Jipang. Sunan Prawata lah yang memerintahkan seseorang membunuh ayah Adipati Jipang. Seandainya ayah Adipati Jipang itu tidak terbunuh, maka ialah yang berhak menggantikan kedudukan ayahnya yang pada waktu itu memegang kekuasaan di Demak. Tetapi karena ayah Adipati Jipang itu terbunuh, maka tahta telah diwariskan kepada adiknya, Sultan Trenggana,” berkata Ki Randukeling.

“Tetapi apakah benar bahwa ayah Arya Penangsang dibunuh atas perintah Sunan Prawata?” bertanya Ki Wiradana.

Ki Randukeling mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Tidak ada seorang pun yang menghendaki kematiannya kecuali Sunan Prawata. Ia mengharap bahwa dengan demikian, maka tahta temurun kepada ayah Sunan Prawata. Pangeran Trenggana.”

Ki Wiradana mengangguk-angguk. Sementara itu Ki Randukeling berkata, “Tidak ada yang dapat mengatakan yang sebenarnya. Baik kematian Sekar Seda Lepen, maupun kematian Sunan Prawata. Orang-orang yang membunuh mereka telah terbunuh pula ditempat kejadian, sehingga dengan demikian tidak ada seorang pun yang dapat menceriterakan, siapakah sebenarnya yang telah memerintah kepada orang-orang itu untuk melakukan pembunuhan. Namun yang sudah terjadi adalah Pengeran Sekar Seda Lepen terbunuh oleh orang yang kemudian dibunuh oleh para pengikut Pangeran Sekar Seda Lepen ditempat itu juga. Sedangkan pembunuh Sunan Prawata telah mati juga ditempat pembunuhan terjadi. Menilik keadaannya, maka keris yang dipergunakannya untuk membunuh Sunan Prawata dengan menusuknya sampai tembus dari dada ke punggung, bahkan ujung keris itu telah menyentuh pula istri Sunan Prawata itu pulalah yang dipergunakan untuk membunuh pembunuh itu dengan melemparkannya dan langsung mengenai pembunuh itu. Karena itu, maka segala macam kesimpulan dan dugaan semata-mata. Meskipun demikian, dugaan itu tentu mendekati kebenaran.”

Ki Wiradana mengangguk-angguk. Namun yang penting langkah-langkah ternyata sudah mulai diambil dari pihak manapun juga. Justru langkah-langkah kekerasan. Yang terjadi adalah satu pembunuhan yang tentu akan mempunyai akibat berikutnya.

Karena itu, maka Ki Wiradana menganggap peristiwa itu sebagai permulaan dari benturan-benturan mendatang. Termasuk di Tanah Perdikannya yang telah menentang Pajang Dengan peristiwa kematian Sunan Prawata itu, mungkin Pajang pun akan mulai menggerakkan pasukannya untuk mengatasi keadaan.

Dengan demikian, maka Ki Wiradana telah berusaha untuk bekerja lebih keras. Ia ingin membuat Tanah Perdikannya menjadi kuat dan jika saatnya datang, maka Tanah Perdikan Sembojan tidak akan mengecewakan.

Karena itu, maka Ki Wiradana telah berusaha dengan segenap alat kekuasaannya yang ada untuk menambah pemasukan pajak yang disebutnya sebagai bebasan perjuangan bagi rakyat Tanah Perdikan. Dengan hasil pajak itu, Ki Wiradana telah membuat peralatan perang yang lebih baik dari yang telah ada. Ki Wiradana telah memerintahkan untuk membuat senjata, perisai dan alat-alat lain yang mungkin dipergunakan dalam peperangan.

Namun dengan demikian, maka rakyat Tanah Perdikan itulah yang merasa diri mereka menjadi semakin kering diperah oleh pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan itu. Tetapi mereka sama sekali tidak berani mengelak. Apalagi setelah mereka melihat, bahwa pengawal Tanah Perdikan Sembojan menjadi semakin kuat dan semakin garang meskipun terhadap tetangga-tetangga mereka sendiri.

Tetapi ternyata tidak semua orang dalam lingkungan pasukan pengawal khusus serta para pemimpin pengawal menjadi seperti orang yang kehilangan kiblat. ternyata masih ada dua orang di antara mereka yang tetap menyadari, apa yang telah terjadi di Tanah Perdikan mereka. Tetapi karena mereka tidak mempunyai kesempatan serta kekuatan untuk menentang, maka untuk sementara mereka merasa lebih baik mengikuti arus. Bahkan mereka telah berusaha untuk dapat ikut serta terpilih menjadi pengawal khusus yang tinggal di barak dan mendapatkan latihan-latihan yang sangat berat, namun yang kemudian telah membuat mereka benar-benar setataran dengan prajurit Demak.

Sebenarnyalah bahwa duaratus orang pengawal Tanah Perdikan Sembojan telah menjadi pengawal pilihan. Kemampuan mereka tidak kalah dengan prajurit Demak yang terpilih sekalipun. Namun demikian setiap dari mereka masih harus berlatih dengan keras untuk memelihara keadaan tubuh mereka dan meningkatkan kemampuan mereka. Baik secara pribadi maupun dalam kelompok-kelompok dan perang gelar yang lengkap.

Tetapi sebenarnyalah bahwa perkembangan Tanah Perdikan Sembojan bukannya tidak diamati oleh orang-orang diluar Tanah Perdikan itu. Tetapi bukan oleh Pajang, karena Pajang benar-benar sedang sibuk dengan persoalan Demak. Apalagi ketika berita tentang kematian Sunan Prawata telah sampai ke Pajang. Maka Pajang pun menjadi gempar pula.

Namun dalam pada itu, Kangjeng Adipati di Pajang ternyata jarang sekali berada di istananya di Pajang. Sebagian besar waktunya telah dipergunakan untuk mencoba memecahkan persoalan yang rumit yang terjadi di Demak. Bahkan Adipati Hadiwijaya masih berusaha untuk melerai setiap pertengkaran yang mungkin terjadi.

Tetapi ketika agaknya arah penunjukan pewaris Demak adalah dirinya, maka kemudian telah timbul kesulitan pada Adipati Hadiwijaya untuk dianggap tidak berpihak. Orang-orang lain, terutama Arya Penangsang tentu menuduh, bahwa langkah-langkah yang diambilnya adalah sekadar meratakan jalan untuk mengangkat dirinya sendiri menjadi Sultan. Mungkin di Demak, mungkin di Pajang sendiri.

Meskipun demikian, usaha Adipati Pajang itu masih juga dilanjutkannya, tanpa mengenal lelah.

Sementara itu, kekuatan Tanah Perdikan Sembojan pun telah menjadi semakin kuat. Pasukan pengawal khusus itu benar-benar merupakan pasukan yang luar biasa.

Keadaan di Tanah Perdikan itu telah membuat sekelompok orang menjadi berprihatin. Dengan cermat mereka telah mengamati perkembangan yang terjadi di Tanah Perdikan Sembojan. Mereka tidak yakin bahwa Tanah Perdikan itu akan dapat berkembang demikian pesatnya tanpa campur tangan orang lain.

Karena itu, maka dengan sangat hati-hati dua orang telah berada di Tanah Perdikan itu. Dengan cermat mereka mengamati keadaan. Sekali-sekali mereka melihat latihan-latihan yang telah diselenggarakan oleh para pengawal khusus.

Meskipun tidak pernah mendengar di dalam pembicaraan dimanapun juga, namun dengan mangamati cara latihan yang dipergunakan maka kedua orang itu dapat menduga, bahwa para pengawal khusus itu telah mendapat tuntunan dari para prajurit Jipang.

“Latihan-latihan itu menunjukkan ciri yang sama dengan para prajurit di Jipang,” berkata salah seorang di antara mereka.

Yang lain menarik nafas dalam-dalam. Tetapi mereka tidak dapat mengamati latihan-latihan itu terlalu lama, agar tidak ada seorang yang kemudian menjadi curiga.

Ketika keduanya meninggalkan tempat-tempat latihan maka yang seorang telah berkata, “Ya. Kita dapat memastikan. Jipang telah ikut campur di dalam persoalan ini.”

“Bukankah Tanah Perdikan ini sebenarnya termasuk wilayah Pajang?” bertanya kawannya.

Yang lain mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Tanah Perdikan ini memang wilayah Pajang. Jika Jipang memasuki Tanah Perdikan ini tentu sudah dibicarakannya lebih dahulu dengan Ki Wiradana, sehingga dengan demikian maka Tanah Perdikan Sembojan ternyata telah berusaha untuk melepaskan diri dari induknya dan berusaha menggabungkan diri dengan Jipang. Mungkin pergolakan yang terjadi di Demak dengan meninggalnya Sultan telah membuat Tanah Perdikan ini berubah sikap.”

Kawannya menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Memang menarik untuk diketahui. Kita sebaiknya mengamati perkembangan ini dengan seksama. Kita biarkan saja saudagar emas itu di penginapannya. Agaknya ia memang dengan sengaja memancing kita untuk merampoknya sekali lagi.”

Yang lain tersenyum. Katanya, “Tetapi aku justru ingin melakukannya. Aku ingin mengetahui sampai dimana tataran kemampuan para pengawal itu setelah mereka mendapat latihan-latihan dari orang-orang Jipang.”

“Kita sudah dapat menduganya dengan melihat latihan-latihan yang sekadar dilakukan seperti anak-anak yang sedang bermain sembunyi-sembunyian dan kadang-kadang sedikit bermain senjata. Tetapi aku condong untuk sekadar mengganggu, agar Tanah Perdikan ini menyadari, bahwa mereka tidak dapat melakukan menurut kehendak hati mereka tanpa dinilai oleh orang lain,” berkata yang seorang

“Bukankah dapat kita lakukan keduanya sekalipun?” jawab yang lain. “Menganggu dan sedikit menunjukkan kepada para pengawal yang terlalu berbangga dengan kemampuan itu, bahwa apa yang telah mereka miliki bukan berarti apa-apa bagi mereka yang bertualang di dunia kanuragan.”

Kawannya mengangguk-angguk. Lalu, “Apa yang akan kita lakukan?”

“Apakah sebaiknya kita membawa Iswari sekaligus dalam pakaian penarinya?” desis yang lain.

“Kita harus bertanya dahulu kepada Kiai Badra atau Kiai Soka,” jawab kawannya. “Tetapi kita berbuat sesuatu sekarang ini.”

Yang lain mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Yang paling mudah adalah mencegat pengawal khusus yang sedang meronda di malam hari. Kita hentikan mereka dan kita rampas kudanya.”

Kawannya mengangguk-angguk pula, “Aku sependapat,” katanya.

“Tetapi apakah kita perlu meninggalkan pertanda perguruan Guntur Geni,” desis yang seorang.

Tetapi kawannya menggeleng. Jawabnya, “Belum waktunya. Kita masih ingin membuat orang-orang Sembojan kebingungan.”

Ternyata kedua orang itu benar-benar ingin melakukan apa yang mereka katakan. Mereka ingin menjajagi kemampuan para pengawal khusus, namun sekaligus mereka ingin menunjukkan, bahwa ada sesuatu yang harus diperhatikan oleh Tanah Perdikan Sembojan.”

Sementara itu, karena sudah cukup lama tidak terjadi sesuatu di Tanah Perdikan Sembojan, maka para pemimpin pengawal dan para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan itu tidak terlalu banyak memperhitungkan kemungkinan terjadinya kejahatan. Yang mereka pikirkan adalah peningkatan tataran para pengawal. Jika para pengawal menjadi kuat, maka tentu tidak ada orang yang berani mengganggu ketenangan Tanah Perdikan itu.

Namun yang terjadi ternyata berbeda dengan dugaan orang-orang Sembojan, bahwa sudah tidak ada lagi orang yang berani mengganggu ketenangan Tanah Perdikan itu.

Karena itu, maka para pengawal tidak lagi banyak melakukan pengamatan di atas Tanah Perdikannya itu.

Meskipun demikian sekali-kali masih juga dilakukan perondaan yang melintasi jalan-jalan yang menghubungkan padukuhan yang satu dengan padukuhan yang lain. Itu pun sebenarnya dalam rangka pemeliharaan kewibawaan Ki Wiradana dengan meragakan pasukan pengawal berkudanya.

Namun yang terjadi, pada satu malam adalah justru mengejutkan sekali. Ketika dua orang pengawal berkuda melintasi sebuah bulak panjang, maka tiba-tiba mereka telah dihentikan oleh dua orang yang tidak dikenal. Dua orang yang nampaknya kotor sekali, mengenakan caping bambu yang lebar dan bertelanjang dada. Salah seorang dari keduanya telah menyangkutkan ikat kepalanya di lehernya, sedangkan yang lain mengikatkan ikat kepalanya pada lambungnya.

Kedua orang pengawal yang merasa pernah ditempa oleh para perwira dari Jipang itu pun menghentikan kuda mereka. Dengan keyakinan yang kuat terhadap diri sendiri, maka keduanya pun telah meloncat turun dan mengikatkan kuda mereka pada batang-batang perdu di pinggir jalan.

Sambil bertolak pinggang salah seorang dari keduanya itu pun bertanya, “He, apakah kalian orang-orang yang sudah gila. Ujud kalian memang mirip dengan orang gila. Apalagi tingkah laku kalian.”

“O, tentu tidak Ki Sanak,” berkata salah seorang yang telah menghentikan peronda itu, “Kami hanya ingin bertanya.”

“Tetapi caramu menghentikan kudaku bukanlah cara seseorang yang ingin sekadar bertanya. Tetapi seolah-olah kalian ingin merampok kami. He, apakah kalian tidak mengetahui, bahwa kami berdua adalah dua orang dari pasukan pengawal khusus?” bertanya pengawal itu.

“Aku tidak tahu Ki Sanak,” jawab orang yang menghentikannya. “Aku hanya mengetahui bahwa Ki Sanak berdua adalah orang-orang berkuda yang melintas.”

Pengawal itu mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Kau akan bertanya apa?”

Kedua orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian seorang di antara keduanya berkata, “Kami ingin bertanya, apakah jalan ini menuju ke padukuhan induk Tanah Perdikan?”

Kedua pengawal itu mengangguk-angguk. Kemudian yang seorang berkata, “Ya. Jalan ini menuju ke padukuhan induk. Apakah kau mempunyai keperluan di padukuhan induk?”

“Ya Ki Sanak,” jawab orang yang tidak berbaju itu. “Kami mempunyai kepentingan dengan seorang perempuan yang bernama Warsi. Bekas seorang penari jalanan yang tidak tahu diri. Kepada keluarganya dan tetangga-tetangganya ia mengaku menjadi istri Kepala Tanah Perdikan Sembojan. He, bukankah itu ngayawara? Bukankah itu hanya sebuah mimpi dan bahkan mungkin akan dapat mencemarkan nama baik Kepala Tanah Perdikan disini?”

Kedua pengawal itulah yang kemudian saling berpandangan. Sejenak kemudian salah seorang dari kedua pengawal itu berkata, “Siapakah kalian sebenarnya?”

Jawab orang yang tidak berbaju itu seakan-akan meyakinkan, “Aku adalah pamannya.”

“Kalau kau berhasil mencapai padukuhan induk, apa yang akan kau lakukan?” bertanya pengawal itu.

“Aku akan melaporkannya kepada Kepala Tanah Perdikan ini. Biarlah Kepala Tanah Perdikan ini menangkap perempuan jalanan yang menyebut dirinya istri Kepala Tanah Perdikan Sembojan itu,” jawab orang berwajah kotor itu.

Seorang di antara pengawal itu pun kemudian bertanya, “Apakah kau mengetahui, bahwa Kepala Tanah Perdikan Sembojan sudah meninggal? Sekarang, pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan itu adalah anaknya, Ki Wiradana.”

“O,” orang berwajah kotor itu mengangguk-angguk. “Tetapi apakah benar bahwa pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan itu kawin dengan seorang penari jalanan?”

Pertanyaan itu terlalu sulit untuk dijawab. Karena itu maka salah seorang pengawal itu berkata, “Bukankah penari itu kemenakanmu?”

“Seandainya kemenakanmu itu benar-benar kawin dengan seorang pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan, apakah kau merasa bangga?” bertanya pengawal itu.

“Tidak. Sama sekali tidak. Jika terjadi demikian tentu ada yang tidak wajar. Apalagi menurut pendengaranku dengan sombong kemenakanku yang penari jalanan itu mengatakan, bahwa ia berhasil merebut Kepala Tanah Perdikan itu dari istrinya, seorang perempuan yang baik, yang berasal dari padepokan. Yang bekerja dengan jujur sebagai istri Kepala Tanah Perdikan bagi kesejahteraan Tanah Perdikan ini. Bahkan menurut pendengaranku, istri Kepala Tanah Perdikan yang lama itu telah dibunuh oleh suaminya sendiri hanya karena Kepala Tanah Perdikan, atau pemangkunya itu, ingin memperistri kemenakanku itu,” berkata orang berwajah kotor itu.

“Cukup,” tiba-tiba pengawal itu membentak. “Ingat kata-katamu dapat menyeretmu ke dalam kesulitan.”

“Tunggu Ki Sanak,” potong orang yang berwajah kotor itu. “Aku justru ingin melaporkannya kepada pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan itu, agar ia mengetahuinya. Dengan demikian maka ia akan dapat bertindak lebih baik menghadapi berita-berita yang dapat mencemarkan namanya.”

Kedua pengawal itu termangu-mangu. Namun kemudian seorang di antara mereka berkata, “Baiklah. Mari ikut kami. Kami akan mempertemukan kau dengan pemangku Kepala Tanah Perdikan ini.”

Kedua orang yang berwajah kotor itulah yang kemudian menjadi termangu-mangu. Mereka tidak menyangka bahwa para pengawal itu akan menawarkan niatnya yang demikian. Namun sudah barang tentu keduanya tidak bermaksud menghadap Ki Wiradana. Karena itu maka seorang di antara mereka berkata, ”Kami hanya ingin tahu, apakah jalan ini menuju ke padukuhan induk.”

”Ya. Jalan ini memang menuju ke padukuhan induk. Karena itu, marilah, kita berjalan bersama-sama. Aku akan menuntun kudaku dan bersama-sama pula menghadap Ki Wiradana, pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan ini,” jawab salah seorang pengawal itu.

”Terima kasih,” jawab salah seorang dari kedua orang yang berwajah kotor itu. ”Kami akan pergi sendiri. Kami akan menghadap jika matahari telah terbit. Bukankah menghadap pada saat sekarang ini sudah tidak waktunya lagi.”

”Tetapi kau dapat menunggu dan jika kau tidak pergi ke padukuhan induk sekarang, dimana kau akan bermalam?” bertanya salah seorang dari kedua pengawal itu.

”Kami dapat bermalam dimana saja. Mungkin di banjar padukuhan terdekat. Tetapi mungkin ditempat lain,” jawab orang yang menyangkutkan ikat kepala di lehernya.

”Tidak Ki Sanak,” berkata pengawal itu. ”Justru karena tingkah laku kalian yang aneh, maka sebaiknya kalian pergi ke padukuhan induk bersama kami.”

”Kami berkeberatan Ki Sanak,” jawab orang yang mengikatkan ikat kepala di lambungnya.

”Keberatan atau tidak keberatan,” jawab pengawal yang seorang. ”Tegasnya, kami akan menangkap kalian karena sangat mencurigakan.”

Tetapi kedua orang berwajah kotor itu menggeleng. Yang seorang berkata, ”Jangan memaksa Ki Sanak. Apalagi berusaha menangkap kami. Kami datang dengan maksud baik. Seharusnya kalian justru membantu kami, “orang itu berhenti sejenak, lalu tiba-tiba saja ia berkata, ”Ki Sanak. Bukankah kalian tidak berkeberatan, bahwa untuk kepentingan kami selama berada di Tanah Perdikan ini, kalian meminjamkan kuda-kuda kalian? Nah, dengan demikian kalian telah membantu kami untuk membersihkan nama baik Kepala Tanah Perdikan kalian.”

Kedua pengawal itu menjadi tegang. Dengan demikian maka mereka pun pasti, bahwa kedua orang itu memang dengan sengaja ingin membuat persoalan.

Karena itu, maka kedua pengawal itu telah bersiap untuk menghadapinya sesuai dengan keadaan. Apalagi keduanya merasa bahwa mereka adalah pengawal khusus yang telah ditempa baik secara berkelompok maupun secara pribadi oleh para perwira dari Jipang.

Salah seorang dari kedua pengawal itu pun berkata, ”Kami memang sudah menduga bahwa kalian memang ingin merampok kuda-kuda kami yang besar dan tegar. Tetapi kalian ternyata telah salah langkah. Kami adalah pengawal khusus Tanah Perdikan ini. Kami adalah orang-orang kepercayaan Kepala Tanah Perdikan ini untuk menghadapi setiap usaha kejahatan.”

”Kami bukan penjahat,” jawab salah seorang di antara kedua orang berwajah kotor itu.

”Kau dapat saja menyebut dirimu bukan penjahat, bahkan seorang penolong atau seorang apapun juga menurut keinginan lidahmu. Aku tidak akan berkeberatan. Tetapi bahwa kau ingin memiliki kuda kami itu adalah satu unsur kejahatan meskipun kau dapat menyebut dalih apapun juga. Nah, sekarang kalian tidak usah banyak bicara. Menyerahlah. Sebab jika kami sudah mulai bertindak, akibatnya mungkin akan lain daripada jika kalian sekadar menyerah sebelum melakukan perlawanan,” berkata salah seorang dari kedua pengawal itu.

Tetapi seorang dari kedua orang berwajah kotor itu justru tertawa. Katanya, ”Kenapa kami harus menyerah untuk ditangkap, sementara kami merasa diri kami justru berjasa.”

Kedua orang pengawal itu benar-benar telah kehilangan kesabaran. Yang seorang telah memberikan isyarat kepada yang lain, sehingga keduanya pun kemudian telah melangkah merenggang untuk mengambil jarak yang satu dengan yang lain. Keduanya telah bersiap menghadapi kedua orang yang berwajah kotor itu.

Ternyata kedua orang berwajah kotor itu pun telah bersiap pula. Tanpa melepaskan caping mereka yang lebar, mereka pun telah mengambil jarak pula, sehingga dengan demikian maka mereka telah berhadapan seorang dengan seorang.

Kedua pengawal itu berusaha untuk mengenali wajah kedua orang yang dengan sengaja telah mengganggu mereka. Tetapi selain wajah itu kotor, wajah itu seolah-olah telah terlindung oleh bayangan caping mereka yang lebar yang menutupi kepala mereka. Sehingga dengan demikian, kedua pengawal itu sama sekali tidak melihat garis-garis wajah lawan-lawannya. Apalagi dalam keremangan malam.

Dengan demikian, maka memang tidak ada pilihan lain dari para pengawal itu selain memaksa keduanya menyerah dengan kekerasan.

Sejenak kemudian, maka orang-orang yang sudah siap itu mulai bergerak. Lambat, tetapi masing-masing berusaha untuk mengetahui kemungkinan yang mereka hadapi dalam olah kanuragan.

Selangkah demi selangkah, maka mereka pun mulai memancing perkelahian. Serangan-serangan yang pertama bukannya serangan yang sebenarnya. Namun ketika tangan dan kaki mereka telah mulai bersentuhan, maka mulailah mereka berloncatan. Serangan-serangan pun menjadi semakin mantap dan kuat. Sementara gerak mereka pun menjadi semakin cepat.

Orang yang mengikatkan ikat kepalanya di lambung telah berkelahi dengan pengawal yang bertubuh tinggi. Meskipun badannya tidak terlalu besar, tetapi agaknya anak muda itu memiliki kemampuan gerak yang sangat cepat. Tangan dan kakinya termasuk panjang sebagaimana tubuhnya yang tinggi. Dengan kemampuan yang disadapnya dari para perwira Jipang, maka anak muda yang bertubuh tinggi itu telah menyerang lawannya dengan kekuatan yang semakin meningkat dan kecepatan yang semakin tinggi.

Orang yang mengikatkan ikat kepalanya di lambung itu seolah-olah hanya melayaninya saja. Ketika pengawal bertubuh tinggi itu bergerak semakin cepat, maka lawannya bergerak semakin cepat pula. Jika pengawal bertubuh tinggi itu meningkatkan kekuatannya, maka lawannya pun telah meningkatkan kekuatannya pula sehingga dalam benturan-benturan kekuatan yang terjadi orang berwajah kotor itu tidak terdorong surut.

Sementara itu orang yang menyangkutkan ikat kepalanya di leher telah bertempur dengan seorang anak muda yang tubuhnya tidak terlalu tinggi. Tetapi dadanya nampak bidang dan tubuhnya kokoh kuat seperti seekor kerbau jantan. Geraknya pun cepat dan meyakinkan. Justru karena tubuhnya yang tidak terlalu tinggi, namun mantap dan kokoh, geraknya lebih banyak pada bagian bawah sebagaimana ia lebih banyak menyerang bagian tubuh yang rendah. Tetapi kakinya yang kokoh itu sekali-kali menyambar dengan kekuatan yang mengagumkan mengarah ke lutut lawannya.

“Ah,” desah orang yang menyangkutkan ikat kepala di lehernya,” Kau luar biasa. Jika tumitmu mengenai lututku, maka kakiku mungkin akan patah.”

Anak muda itu tidak menjawab. Tetapi serangan-serangannya datang beruntun. Ketika ia meloncat dengan kecepatan yang sangat tinggi, maka jari-jarinya yang mengembang telah mematuk ke arah lambung.

“Uah,” lawannya berdesah lagi, “Ujung-ujung jarimu akan dapat mengoyak perutku.”

“Diam,” geram anak muda yang bertubuh kokoh itu sambil meloncat menjauhi lawannya.”

Tetapi lawannya segera memburunya. Dengan kekuatan yang semakin tinggi anak muda yang bertubuh kokoh itu menyerangnya dengan kaki yang berputar.

Tetapi serangan itu pun sama sekali tidak mengenai sasarannya. Bahkan tiba-tiba saja, hampir tidak disadari, kaki orang yang berwajah kotor itu telah menyambar kaki lawannya yang satu lagi, yang menjadi tumpuan berat badannya selagi kakinya yang satu berputar.

Benar-benar diluar perhitungan anak muda itu. Karena itu, maka ia tidak sempat mengelak, sehingga kakinya yang berpijak di atas tanah itu telah disambar kaki lawannya sehingga ia pun kehilangan keseimbangannya.

Anak muda itu tidak mampu bertahan untuk tetap tegak. Karena itu maka ia pun telah terdorong jauh. Tetapi dengan sigapnya ia telah berguling beberapa kali, kemudian dengan cepat melenting berdiri.

Namun demikian ia tegak, terasa dadanya bagaikan didorong oleh kekuatan yang tidak terlawan. Ternyata tangan lawannya telah melekat didadanya.

Sekali lagi keseimbangannya tergantung. Dan sekali lagi ia terdorong jatuh terlentang.

Tetapi anak muda itu tidak jatuh terlentang seperti sebatang daun pisang. Ia sempat justru meloncat dan berputar di atas kepalanya. Dengan cepatnya pula ia melenting berdiri.

Tetapi ia telah dikejutkan lagi oleh lawannya yang berdiri hanya sejengkal dihadapannya. Tetapi lawannya itu tidak berbuat apa-apa. Lawannya itu tidak mendorongnya, tidak pula memukulnya. Ia hanya berdiri saja hampir melekat didadanya. Sedangkan sisi capingnya menyentuh dahinya.

Anak muda itu menjadi kebingungan sesaat. Tetapi ia pun segera menyadari, bahwa yang berdiri dihadapannya hampir beradu dada itu adalah lawannya. Karena itu, maka ia pun telah menarik sebelah kakinya surut, dan sambil merendah ia telah menghentakkan tangannya memukul dada orang itu dengan ayunan tangan lurus ke depan.

Jarak mereka sangat pendek. Karena itu, maka pukulan itu tentu akan meruntuhkan isi dada orang yang berwajah kotor itu. Tetapi anak muda itu sekali lagi terkejut. Orang itu sempat bergeser menyamping ke sisi tangannya yang menyerang.

Dengan cepat orang itu menangkap tangan pengawal itu dan sebelum pengawal itu sempat berbuat sesuatu, tangan itu telah terpilin kebelakang sehingga tubuh pengawal itu pun telah terputar pula.

Ketika pengawal itu berusaha untuk menghentakkan diri tiba-tiba saja sebuah pukulan yang keras telah mengenai punggungnya, tepat dibawah tengkuk.

Pada saat yang demikian itu, tangannya yang terpilin itu pun telah terlepas sehingga anak muda itu justru jatuh terjerembab. Wajah anak muda itu telah menyentuh tanah, sehingga wajah itu pun telah menjadi kotor, bahkan lebih kotor dari wajah lawannya. Sejemput pasir telah melekat dibibirnya sehingga mulutnya rasa-rasanya telah tersumbat.

Ketika anak muda itu berguling menjauh, lawannya tidak memburunya. Dibiarkannya anak muda itu bangkit sambil mengibas-ibaskan kepalanya dan membersihkan mulutnya dengan tangannya. Bahkan kemudian dengan lengan bajunya.

Orang berwajah kotor itu ternyata sangat menyakitkan hati. Ia justru tertawa melihat keadaan anak muda yang telah menelan sebagian pasir di mulutnya itu.

Sementara itu, kawannya yang bertubuh tinggi pun mengalami nasib yang sama. Anak muda bertubuh tinggi itu justru telah terlempar ke dalam parit di pinggir jalan. Begitu ia berusaha bangkit, tiba-tiba saja terasa kepalanya bagaikan dibebani sebongkah batu hitam, sehingga tanpa dapat berbuat sesuatu kepalanya itu telah terbenam ke dalam air.

Betapapun ia berusaha, tetapi pengawal bertubuh tinggi itu tidak kuat mengangkat kepalanya dari dalam air. Tanpa dikehendakinya, maka beberapa teguk air dari parit itu telah tertelan kedalam perutnya. Baru sejenak kemudian, kepalanya itu dilepaskan oleh lawannya, sehingga ia dapat meloncat berdiri.

Anak muda bertubuh tinggi itu mengumpat-umpat. Tetapi lawannya yang telah berdiri di atas tanggul parit itu tertawa berkepanjangan.

”Nampaknya kau sangat haus anak muda,” berkata lawannya yang berwajah kotor itu. ”Perkelahian ini baru saja mulai. Kau sudah tidak dapat menahan perasaan hausmu sehingga kau telah minum beberapa teguk air parit yang kotor itu.” Anak muda bertubuh tinggi itu menggeram. Kesabarannya telah benar-benar habis, sehingga tiba-tiba saja ia telah menarik pedang pendeknya.

”Orang gila,” ia menggeram. ”Jika kau mati dan tubuhmu terkapar di jalan ini bukan salahku.”

Lawannya mengerutkan keningnya. Tetapi ia berkata, ”Jangan main-main dengan senjata. Jika kau bermain dengan air, kau hanya akan menjadi basah seperti kau sekarang ini. Tapi jika kau bermain dengan api, maka kau akan dapat menjadi hangus. Dan jika kau bermain dengan senjata, maka kulit dagingmu akan dapat terkoyak karenanya.”

”Persetan,” geram anak muda bertubuh tinggi itu. ”Aku hanya ingin membawamu menghadap pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan ini untuk mengetahui apakah yang kau katakan itu benar atau tidak. Tetapi karena kau sudah melawan, maka aku akan dapat membunuhmu disini tanpa merasa bersalah.”

Orang yang berwajah kotor itu tertawa. Katanya, ”Kau dapat saja mengatakan tanpa bersalah. Memang sebagian besar kesalahan ini tidak terletak kepadamu. Jika Wiradana tidak kawin dengan perempuan jalanan sebagaimana pengakuan perempuan itu sendiri, maka semuanya ini tidak akan terjadi. Karena itu, biarlah aku meminjam kudamu untuk mempersoalkan hal ini di Tanah Perdikan Sembojan. Mudah-mudahan ceritera Warsi itu tidak benar. Dan pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikanmu tidak kawin dengan perempuan yang tidak tahu diri itu.”

”Jangan banyak bicara,” bentak pengawal yang bertubuh tinggi, ”Menyerahlah atau mati.”

Lawannya termangu-mangu sejenak. Ketika ia berpaling ke arah kawannya, maka perkelahiannya pun agak sedang terhenti. Namun kawannya itu sempat berkata, ”Aku memberi kesempatan kepada lawanku untuk membersihkan mulutnya. Jika lawanmu minum air yang kotor itu, lawanku menjadi lapar dan makan beberapa jemput pasir di tanah.”

Pengawal yang bertubuh tidak begitu tinggi dan berbadan kokoh itu telah menarik pedang pendeknya pula. Senjata para pengawal, jika mereka bertugas di dalam lingkungan Tanah Perdikan itu sendiri.

”Kau jangan mempergunakan senjata anak muda?” berkata lawannya.

”Kalian berdua akan mati,” jawab pengawal itu. ”Tetapi itu adalah salah kalian sendiri. Kami sudah berbaik hati dengan tawaran kami untuk membawa kalian menghadap Ki Wiradana. Tetapi kalian memilih mati.”

”Siapa yang memilih mati?” bertanya orang berwajah kotor itu.

”Persetan. Bersiaplah untuk mati,” geram pengawal itu.

Lawannya masih akan menjawab. Tetapi ia justru berpaling ketika ia mendengar pengawal bertubuh tinggi itulah yang kemudian menggeram sambil meloncat menyerang lawannya yang berdiri di tanggul parit.

”He, kau benar-benar bermain-main dengan pedang pendekmu itu?” berkata lawannya sambil meloncat menghindar. ”Ingat, pedang itu adalah salah satu ciri pengawal khusus Tanah Perdikan Sembojan. Karena itu, jangan kau pergunakan seenaknya. Senjata itu dibuat dengan uang yang dipungut dari rakyat Tanah Perdikan ini, sehingga jangan kau nodai dengan penggunaan yang tidak sepantasnya. Pedang itu seharusnya kau pergunakan untuk berbuat baik bagi kepentingan rakyat. Dengan pedang itu kau seharusnya melindungi aku yang ingin berbuat baik bagi Tanah Perdikan ini.”

”Jangan mengigau lagi,” geram pengawal itu. ”Pedang pendek ini memang ciri senjata para pengawal khusus. Karena itu, jika pedang pendek ini sudah berada ditangan, berarti akan terjadi pembunuhan. Jika seorang pengawal terpaksa membunuh, maka ia bertindak demi kepentingan Tanah Perdikan ini.

Lawannya tidak menjawab. Tetapi ia pun telah menyerang dengan garangnya.

Orang bertubuh kekar itu pun telah bersiap. Dengan nada datar ia berkata, ”Nasibmu tidak akan berbeda. Kau telah menjerumuskan dirimu sendiri ke dalam kesulitan yang tidak akan dapat kau atasi. Kau akan mati, dan kami berdua akan membuat laporan terperinci tentang kematian kalian berdua.”

Lawannya justru tertawa. Katanya, ”Kematianku tidak berada di tanganmu. Ingat, bahwa hidup dan mati tidak dapat ditentukan oleh kita sendiri atau sesama kita.”

”Aku akan menjadi lantaran kematianmu,” geram pengawal itu.

”Aku akan mendapat jalan pembebasan dari kematian ini. Aku akan berusaha. Dan baiklah kita akan melihat, siapakah yang usahanya dibenarkan oleh Yang Maha Menentukan. Kau atau aku” desis lawannya.

Keduanya tidak berbicara lagi. Pedang pendek pengawal itu mulai bergerak. Kemudian dengan garangnya ia telah meloncat menyerang.

Tetapi lawannya benar-benar telah bersiap. Karena itu, ketika serangan itu datang, maka dengan tangkasnya orang berwajah kotor dan memakai caping yang lebar itu telah meloncat menghindar. Namun pengawal itu tidak melepaskannya. Dengan cepat pula ia meloncat memburu. Pedangnya menyambar mendatar ke arah perut. Sentuhan ujung pedang yang tajam itu akan dapat membelah perut lawannya. Tetapi pedang itu tidak menyentuh sasaran sama sekali.

Sejenak kemudian pertempuran pun menjadi semakin sengit. Kedua pengawal yang bersenjata pedang itu bertempur dengan kemarahan yang membakar isi dada. Karena itu, maka dengan penuh nafsu untuk menghancurkan lawan-lawan mereka, pedang mereka telah terayun-ayun dengan dahsyatnya. Suaranya berdesing seperti suara gasing. Menyambar-nyambar dari segala arah.

Tetapi lawan-lawan mereka pun memiliki kemampuan bergerak melampaui kecepatan sambaran pedang itu. Karena itu, maka kedua ujung pedang itu sama sekali tidak mengenai sasarannya.

Untuk beberapa lamanya, keempat orang itu masih terlibat dalam pertempuran. Tata gerak mereka yang semakin cepat, telah memaksa mereka mengerahkan tenaga yang ada di dalam diri mereka bahkan didorong oleh kemampuan tenaga cadangan mereka.

Namun usaha para pengawal untuk menghabisi perlawanan kedua orang berwajah kotor dan memakai caping yang lebar itu tidak dapat segera mereka lakukan. Bahkan rasa-rasanya keduanya justru telah bergerak semakin cepat. Pedang-pedang pendek para pengawal itu masih belum dapat menyentuh keduanya.

Kedua pengawal itu telah mengerahkan segenap kemampuan dan tenaga mereka. Karena itu, dengan hentakan-hentakan yang kuat dan mengerahkan segenap tenaga cadangannya, maka kedua pengawal itu berusaha melibat lawannya semakin cepat. Pedang mereka berputaran dan terayun-ayun mengerikan, bagaikan gumpalan awan yang bergulung-gulung melanda lawan-lawan mereka.

Tetapi kedua lawannya itu mampu bergerak bagaikan tatit di langit. dengan kecepatan yang tidak terjangkau oleh gumpalan-gumpalan awan yang bergulung itu, mereka sempat menghindarkan diri dari bahaya yang akan dapat menggulung nasib mereka dan dengan demikian, menghentikan perlawanan mereka.

Namun kedua orang itu ternyata tidak terkapar di tengah jalan karena pedang-pedang lawannya. Mereka justru telah memancing kedua pengawal itu untuk mengerahkan segenap kemampuan mereka dan memeras seluruh tenaga mereka.

Sebenarnyalah kedua pengawal itu telah benar-benar melepaskan segenap tenaga yang ada. Karena itulah, maka kekuatan mereka pun segera menyusut dengan cepat. Tangan mereka tidak lagi mampu mengayunkan pedang mereka dengan kecepatan yang mantap. Sementara kaki mereka menjadi terasa sangat berat bagaikan melekat di tanah.

Kedua orang berwajah kotor itu mulai tersenyum. Dalam keadaan yang demikian, maka mereka mulai menentukan langkah berikutnya dari permainan mereka.

Pada saat kedua orang pengawal itu telah hampir kehabisan tenaga, maka mulailah kedua orang itu justru menyerang. Sekali-kali tangan mereka berhasil menyentuh pundak, punggung dan bahkan tengkuk.

Dengan cepat lawan-lawan para pengawal itu mampu menyusup di celah-celah putaran pedang yang menjadi sangat lamban. Bahkan perlawanan para pengawal itu menjadi tidak berarti sama sekali.

Sentuhan-sentuhan serangan kedua orang berwajah kotor itu menjadi semakin terasa menyakitkan tubuh kedua pengawal itu. Tetapi mereka memang tidak dapat berbuat sesuatu selain mengumpat dan sekali-kali berusaha menghindar. Tetapi jika mereka melangkah sedikit panjang, tubuh mereka justru telah terhuyung-huyung karena kehilangan keseimbangan.

Kedua orang itu benar-benar menjadi berputus asa, ketika seorang demi seorang keduanya telah kehilangan senjata mereka. Dengan kecepatan yang masih utuh, lawan pengawal yang tinggi itu sempat menendang pergelangan tangannya sehingga pedangnya telah terlempar, sementara yang lain justru berhasil merebut pedang pendek pengawal yang bertubuh kotor itu.

Sambil mengacukan pedang itu, orang bercaping lebar itu berkata, ”Nah, sekarang datang giliranku mengancammu. Serahkan kudamu atau kau akan aku cincang disini.”

Pengawal bertubuh kokoh itu tidak dapat berbuat apapun juga, sementara kawannya pun telah menjadi semakin lemah. Apalagi orang berwajah kotor yang seorang lagi telah memungut pula pedang pendek pengawal yang terlepas dari tangannya itu.

”Ki Sanak,” berkata salah seorang dari orang yang berwajah kotor itu, ”Aku minta kau menjawab dengan sebenarnya. Apakah benar bahwa perempuan yang bernama Warsi berada disini?”

Pengawal yang bertubuh tinggi itu memandang kawannya sejenak. Namun tiba-tiba saja lawannya telah menarik bajunya sambil membentak, ”Jawab.”

Pengawal itu tidak dapat berbuat lain. Ia pun kemudian mengangguk kecil.

”Jadi benar bahwa pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikanmu itu telah kawin dengan perempuan itu?” orang berwajah kotor itu meyakinkan.

Meskipun ragu-ragu pengawal itu mengangguk pula.

”Jadi anak itu benar-benar berada disini dan menjadi istri pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan ini?” desis salah seorang berwajah kotor itu. Lalu, ”Jika demikian maka kita harus segera bertindak.”

Kedua orang pengawal itu berdiri termangu-mangu. Tubuh mereka terasa bagaikan kehilangan tulang-tulangnya. Sedangkan perasaan sakit menyengat dimana-mana.

”Ki Sanak,” berkata salah seorang di antara kedua orang yang mencegat mereka, ”Apakah kalian sadari, apa yang telah terjadi di Tanah Perdikan ini sejak Ki Wiradana kawin dengan perempuan yang bernama Warsi itu. Sebenarnya ia memang bukan kemanakanku. Bukan pula sanak kadang. Aku bukan orang-orang yang ingin bertemu dengan Ki Wiradana. Tetapi kami berdua memang ingin berbicara dengan para pengawal.”

Kedua pengawal itu tidak menjawab. Tetapi mereka pun sudah menyadari sejak semula, bahwa dalih yang dikatakan oleh kedua orang itu memang sekadar untuk memancing persoalan. Karena itu, keduanya tidak terkejut sama sekali.

”Ki Sanak,” berkata orang yang ikat kepalanya disangkutkan di lehernya. ”Apalagi kini kalian berdua berada dibawah pimpinan para pelatih dari Jipang. Apakah dengan demikian Tanah Perdikan ini sudah berpaling dari Pajang dan berpihak kepada Jipang?”

Kedua pengawal itu mengerutkan keningnya. Seorang di antara mereka bertanya, ”Darimana kau tahu?”

”Tidak semua orang dungu sebagaimana kau dungu,” jawab orang yang menyangkutkan ikat kepalanya di lehernya. ”Cara yang dipergunakan oleh para pelatih pasukan pengawal khusus itu adalah cara-cara orang Jipang. Memang agak berbeda dengan yang dilakukan oleh orang-orang Pajang dan Demak. Mereka sama-sama keras dalam memberikan tuntunan, sama-sama berat dan bersungguh-sungguh. Tetapi adanya perbedaan yang hanya dapat dilihat oleh orang-orang yang banyak menekuni olah kanuragan. Yang kalian miliki sekarang dibawah latihan-latihan yang berat dari para perwira Jipang itu sama sekali belum sekuku ireng dibandingan dengan kemampuan orang-orang yang khusus menekuni olah kanuragan. Karena itu, seharusnya kalian jangan terlalu berbangga dengan bekal ilmu kalian. Namun yang lebih penting dari itu, aku ingin mendengar pendapat kalian apakah kalian merupakan pendukung yang setia, yang dengan kesadaran melangkah sejalan dengan Ki Wiradana, atau sekadar melakukan sebagaimana kebanyakan dilakukan orang. Sekadar menginginkan kedudukan, upah dan sedikit pujian dari sanak kadang?”

Kedua orang itu menjadi bingung. Mereka tidak begitu mengerti apakah mereka mendukung perjuangan Ki Wiradana dengan sadar atau tidak.

Tetapi bahwa dengan kedudukan mereka sebagai seorang di antara pasukan pengawal khusus, memang memberikan kebanggaan kepada mereka. Seolah-olah Tanah Perdikan Sembojan tidak ada orang, apalagi anak muda yang lebih terhormat daripada anggota pasukan pengawal khusus. Karena itu, maka keduanya merasa kedudukannya itu merupakan kedudukan yang sangat menarik. Bahkan di samping kebanggaan mereka pun merasa bahwa mereka memiliki kemampuan yang sangat tinggi, yang tidak kalah dengan kemampuan prajurit Jipang atau Demak sekalipun.

Namun ternyata dihadapan dua orang berwajah kotor itu keduanya tidak mampu berbuat apa-apa.

Karena keduanya tidak segera menjawab, maka orang yang mengikatkan ikat pinggangnya di lambungnya itu pun berkata, “Nah, ternyata kalian tidak mengerti apa yang kalian lakukan selama ini selain mendapat kedudukan dan sedikit kebanggaan. Karena ketahuilah, bahwa kalian telah berada di satu tataran yang terpisah dari rakyat Tanah Perdikan ini. Sampai sekarang kalian melihat Warsi, istri Ki Wiradana sekarang sebagai seorang istri yang baik dan patuh. Namun sebenarnyalah ia merupakan sumber kesulitan yang bakal terjadi di Tanah Perdikan ini. Sedangkan alat-alat yang dipergunakannya di antaranya adalah kalian berdua.”

“Omong kosong,” geram salah seorang dari kedua orang pengawal itu.

Orang yang mengikatkan ikat pinggangnya di lambungnya itu memandangnya dengan tajamnya. Katanya, “Aku dapat menampar mulutmu sampai semua gigimu rontok. Jika tidak dengan tanganku aku dapat mencongkelnya dengan ujung pedang pendekmu ini. Tetapi dengar, aku tidak omong kosong. Jika kau mempunyai telinga, cobalah dengarkan keluh kesah rakyat Tanah Perdikan ini. Jika kau mempunyai mata, lihatlah tataran kehidupan rakyat yang menjadi semakin melarat. Nah, terserah kepada kalian, apa yang akan kalian lakukan. Aku tidak banyak berkepentingan dengan Tanah Perdikan ini. Tetapi aku mempunyai telinga dan mempunyai mata untuk mendengar dan melihat.”

Kedua orang pengawal itu termangu-mangu. Namun mereka mendengarkan pendapat kedua orang yang tidak dikenalnya itu.

Namun tiba-tiba salah seorang di antara kedua orang berwajah kotor itu bertanya, “Apakah kalian pernah melihat penari yang disebut-sebut mirip dengan Nyai Wiradana yang dahulu?”

Hampir diluar sadarnya keduanya menggeleng. Hampir berbareng pula keduanya menjawab, “Belum.”

“Nah, kalian harus memperhatikan berita itu. Mungkin di antara para pengawal ada yang pernah melihatnya. Karena ada di antara mereka yang pernah memburunya. Tetapi tidak berhasil menangkapnya,” berkata orang berwajah kotor itu.

Kedua pengawal itu masih saja terdiam. Tetapi sebenarnyalah mereka mendengar semua yang dikatakan oleh kedua orang berwajah kotor itu. Bukan saja mendengar, tetapi mereka mulai tertarik kepada kata-katanya. Seolah-olah keduanya telah memberikan sesuatu yang baru, yang selama itu mereka sisihkan dari perhatian mereka.

Nah, berkata orang yang memakai caping lebar dan menyangkutkan ikat kepalanya di lehernya, “Sekarang, aku memerlukan kuda-kuda kalian. Sebenarnya kuda itu tidak perlu sama sekali bagi kami. Tetapi dengan demikian, maka kami telah membuat suatu persoalan yang benar-benar harus kalian laporkan.”

“Itu tidak mungkin,” sahut salah seorang di antara kedua pengawal itu.

“Kenapa tidak. Bukankah lebih baik aku membawa kuda kalian daripada aku harus membantai kalian disini?” jawab orang yang menyangkutkan ikat kepala di lehernya.

Pengawal itu tidak menjawab. Mereka memang tidak akan dapat melawan. Sementara mereka menggenggam pedang ditangan, mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Apalagi pedang mereka telah berpindah tangan.

“Nah, menyingkirlah,” berkata yang menyangkutkan ikat kepalanya di lehernya. “Kami akan mengambil kuda-kuda kalian.

Kedua orang pengawal itu pun bergeser mundur. Mereka memang tidak dapat berbuat lain. Sementara orang yang mengambil kuda mereka itu pun berkata, ”Jika kalian tidak kehilangan kuda kalian, kalian dapat menutupi kekalahan kalian dan tidak melaporkan apa yang terjadi sekarang ini. Tetapi jika kalian kembali ke barak tanpa kuda kalian, maka kalian tidak akan dapat ingkar, bahwa kalian telah dikalahkan dan tidak dapat mempertahankan kuda-kuda kalian.”

Kedua pengawal itu hanya dapat mengumpat. Tetapi mereka tidak dapat mencegah kedua orang itu mengambil kuda mereka dan kemudian meloncat ke punggung kuda itu.

”Terima kasih,” berkata orang yang mengikatkan ikat kepala di lambung.

Kedua ekor kuda itu pun kemudian telah berderap meninggalkan para pengawal yang termangu-mangu. Namun beberapa langkah dari keduanya, kuda-kuda itu berhenti. Kedua orang yang menunggang kuda itu pun telah melemparkan pedang-pedang pendek para pengawal itu sambil berkata, ”Inilah ciri kebesaran kalian. Namun ingat, bahwa jika kalian benar-benar akan menjadi pengikut orang-orang Jipang, maka kalian akan berhadapan dengan Pajang. Dan apabila kalian tidak juga mau mendengar keluh kesah dan melihat kesulitan hidup orang-orang Tanah Perdikan ini, maka kalian berhadapan dengan orang-orang Tanah Perdikan ini, yang terdiri atas keluarga kalian sendiri.”

Demikian orang itu selesai berbicara, maka mereka pun telah memacu kuda mereka meninggalkan kedua orang pengawal yang termangu-mangu itu.

Baru ketika kuda-kuda itu lenyap ditikungan bagaikan ditelan gelapnya malam, maka para pengawal itu menarik nafas dalam-dalam.

”Permainan yang gila,” geram salah seorang dari kedua pengawal itu, ”Aku tidak mengerti, apa yang sebenarnya mereka kehendaki.”

Kawannya, pengawal yang bertubuh kekar kokoh itu pun menyahut, ”Mereka sekadar ingin mengguncang Tanah Perdikan ini. Agaknya keduanya adalah pengikut Nyai Wiradana yang hilang itu. Bukankah mereka menyebut-nyebut nama Nyai Wiradana?”

”Ya, mereka menyebut penari yang mirip Nyai Wiradana itu,” jawab yang bertubuh tinggi.

”Kita memang harus membuat laporan. Tetapi apakah kita juga akan mengatakan seutuh kedua orang itu tentang para perwira Jipang di Tanah Perdikan ini?” bertanya yang bertubuh kokoh.

Kawannya termangu-mangu. Namun kemudian katanya, ”Aku kira belum perlu mengatakannya sekarang. Kita melaporkan saja bahwa kita bertemu dengan beberapa orang yang telah merampok kuda-kuda kita. Kita berada di bulak yang jauh dari padukuhan sehingga kita tidak sempat membunyikan isyarat bahwa ada sekelompok perampok yang memasuki Tanah Perdikan ini.”

Yang lain mengangguk-angguk. Katanya, ”Marilah. Kita sadar bahwa kita akan mendapat hukuman karenanya. Tetapi itu lebih baik karena kita tidak dicincang disini.”

”Kedua orang itu tentu mempunyai maksud jauh dari pada sekadar mengadakan kekacauan disini di Tanah Perdikan ini. Aku sependapat, bahwa tentu ada hubungannya dengan Nyai Wiradana yang terdahulu,” desis pengawal yang bertubuh tinggi.

”Mungkin Nyai Wiradana yang terdahulu dengan sengaja telah meninggalkan suaminya ketika ia mendengar bahwa suaminya telah berhubungan dengan seorang penari jalanan,” berkata pengawal yang bertubuh kokoh itu tiba-tiba, ”Di tempat persembunyiannya ia telah membangun suatu kekuatan yang akan dapat mengimbangi kekuatan Ki Wiradana.”

”Mungkin kedua orang itu termasuk pendukungnya. Tetapi darimana orang itu tahu, bahwa para pelatih dari pasukan khusus itu adalah orang-orang Jipang,” desis orang yang bertubuh tinggi. ”Bukankah dengan demikian orang itu akan dapat berhubungan dengan Pajang.”

Yang lain mengangguk-angguk. Tetapi hampir diluar sadarnya ia bertanya, ”Manakah yang sebenarnya lebih baik. Pajang atau Jipang?”

Kawannya termangu-mangu. Namun akhirnya ia menggeleng, ”Aku tidak tahu, kenapa Ki Wiradana memilih Jipang daripada Pajang. Padahal menurut ingatanku, ketika ayah Ki Wiradana memegang pimpinan Tanah Perdikan ini dan Tanah Perdikan ini berada dibawah kuasa Pajang, tata kehidupan di sini berjalan dengan baik. Tidak ada kekisruhan dan tidak ada kesulitan. Namun pada saat-saat terakhir, sejak munculnya Kalamerta, maka keadaan menjadi semakin memburuk.”

“Dan Ki Gede Sembojan berhasil membunuh Kalamerta,” desis kawannya.

“Ya. Tetapi sejak itu keadaan Tanah ini menjadi kacau. Ki Wiradana tertarik kepada penari janggrung itu,” desis yang lain.

Keduanya mengangguk-angguk. Tetapi keduanya tidak dapat mengambil satu kesimpulan pun dari persoalan yang mereka bicarakan.

Sejenak kemudian, maka dengan tergesa-gesa keduanya telah kembali ke barak mereka dan langsung berhubungan dengan pemimpin pengawal yang sedang bertugas.

Dengan memotong-motong peristiwa yang sebenarnya dan dengan menambah sedikit, mereka menyampaikan laporan tentang sekelompok perampok yang mencegat mereka di bulak panjang.

“Berapa orang seluruhnya?” pemimpin pengawal itu bertanya.

“Enam orang,” jawab pengawal yang bertubuh tinggi itu. “Mereka merampok kuda-kuda kami. Menilik tata geraknya mereka adalah perampok-perampok yang sudah terbiasa dengan pekerjaan mereka.”

Pemimpin pengawal itu memandang kedua pengawal itu dengan wajah yang tegang. Dengan suara lantang ia berkata, “Dan kalian sama sekali tidak berdaya menghadapinya?”

“Kami telah bertempur dengan segenap kemampuan kami,” jawab yang bertubuh kokoh. Lalu, “Kami tidak tahu, seandainya pertempuran itu berlangsung terus, apakah kami yang akan mereka kalahkan, atau kami yang akan berhasil menangkap mereka.”

“Jadi mereka melarikan diri?” bertanya pemimpinnya.

“Ya,” jawab pengawal yang kokoh itu. “Empat orang bertempur melawan kami, dua yang lain mengambil kuda kami. Kemudian mereka pun telah berloncatan ke punggung kuda masing-masing.”

“Kalian tidak dapat berbuat apa-apa?” pemimpin pengawal yang marah itu hampir berteriak. “Justru pada saat mereka meloncat ke punggung kuda mereka.”

“Demikian cepatnya, rasa-rasanya kami tidak mendapat kesempatan,” yang bertubuh tinggi menyambung. “Dua orang lebih dahulu meloncat ke punggung kuda, sementara yang dua orang berusaha menahan kami, namun yang kemudian, dua orang yang sudah berada di punggung kuda itulah yang menyerang kami dari atas kudanya, sehingga memberikan kesempatan kedua orang kawannya yang lain naik ke atas kudanya pula. Sejenak kemudian, mereka telah memacu kuda mereka serta membawa kuda-kuda kami bersama mereka.”

Pemimpin pengawal itu termangu-mangu. Namun tiba-tiba saja ia bertanya, “Tetapi kenapa wajah kalian menjadi kotor dan kau menjadi basah kuyup.”

Kedua pengawal itu tergugup. Pengawal yang bertubuh tinggi itu menjawab, “Aku membersihkan kepalaku dengan air di pinggir jalan itu. Orang-orang berkuda itu telah membaurkan tanah dan pasir ke kepalaku pada saat aku mendesaknya, sehingga sesaat aku kehilangan penglihatanku karena pasir yang masuk ke dalam mataku.”

“Dan kau mencuci kepalamu dengan debu?” bertanya pemimpin pengawal itu kepada pengawal yang bertubuh kokoh.

Pengawal yang bertubuh kokoh itu menjadi bingung. Tetapi ia pun kemudian menjawab, “Aku tidak mencuci kepalaku. Tetapi cara lawanku pun tidak berbeda dengan cara yang sudah dilakukan oleh kawan-kawannya. Tetapi selain itu aku memang jatuh tertelungkup ketika aku berusaha mengejar orang-orang berkuda itu. Aku demikian tergesa-gesa dan pada saat mereka melarikan diri aku memang menjadi bingung dan tidak tahu apa yang harus aku lakukan, sehingga langkahku yang tergesa-gesa itu membuat aku kehilangan keseimbangan.”

Pemimpin pengawal itu termangu-mangu sejenak. Namun akhirnya ia berkata, “Meskipun agak ragu-ragu, tetapi aku terima alasan kalian untuk sementara. Meskipun demikian, bahwa kalian telah kehilangan kuda kalian, maka kalian harus menunggu keputusan yang akan diambil terhadap kalian untuk mempertanggungjawabkan kelengahan kalian itu.”

Kedua pengawal itu tidak menjawab. Tetapi mereka sudah menduga, bahwa mereka akan mendapat hukuman karenanya.

Ketika keduanya mendapat kesempatan untuk membenahi diri, maka orang yang bertubuh tinggi itu berkata, “Aku menjadi tidak sabar menunggu pagi, agar jalan itu dilalui pedati dan orang-orang yang pergi ke pasar.”

“Kenapa?” bertanya yang bertubuh kokoh.

“Aku cemas jika laporan ini didengar oleh para pelatih dari Jipang dan mereka dengan teliti melihat bekas perkelahian itu. Bukankah sama sekali tidak ada bekas perkelahian berkuda?” berkata orang yang bertubuh tinggi.

Kawannya mengangguk-angguk. Ia pun menjadi cemas pula karenanya. Namun ternyata bahwa mereka tidak melihat usaha untuk melihat bekas arena itu sehingga matahari terbit. Dengan demikian maka segala jejak dan bekas pun akan terhapus oleh kaki orang-orang yang akan ke pasar serta pedati atau kaki-kaki kuda termasuk kuda beban.

Baru setelah keduanya yakin bahwa para pemimpin pengawal dan para pelatih dari Jipang itu tidak melihat bukti kebohongan mereka, barulah mereka sempat beristirahat. Mereka sempat memejamkan mata sekejap. Namun sebentar kemudian mereka pun harus sudah bangun.

Ketika keduanya keluar dari dalam bilik, mereka melihat barak mereka telah kosong. Kawan-kawan mereka telah pergi keluar untuk berlatih bagi ketahanan tubuh mereka seperti yang setiap hari mereka lakukan, kecuali yang semalam bertugas dan yang masih belum selesai bertugas.

Kedua orang pengawal itu pun segera membenahi dirinya, karena waktu istirahat mereka akan segera habis. Sebentar lagi mereka harus bersiap mengikuti upacara serah terima tugas. Baru kemudian mereka mendapat istirahat sehari penuh. Namun menjelang sore mereka harus sudah bersiap ke barak mereka lagi untuk mengikuti latihan-latihan yang diadakan terus menerus dibawah pimpinan para perwira di Jipang.

Namun sementara itu, keduanya masih juga berbicara tentang kedua orang yang mereka jumpai itu. Ternyata mereka adalah orang-orang yang memiliki penglihatan yang tajam di dalam bidang olah kanuragan. Ternyata mereka mengetahui hanya dengan melihat cara-cara berlatih, bahwa pelatih itu adalah orang-orang Jipang.

“Apa maksud mereka sebenarnya?” pertanyaan itulah yang selalu mengganggu kedua pengawal itu.

Ternyata pertanyaan itu selalu saja timbul meskipun mereka berusaha melupakannya, sehingga akhirnya keduanya tidak mampu lagi menyimpannya di dalam hati. Keduanya dapat merahasiakan kehadiran para pelatih dari Jipang itu dan tidak membocorkannya kepada siapapun. Tetapi mereka tidak dapat menyimpan rahasia mereka sendiri tentang kedua orang itu.

Tetapi keduanya tidak dapat mengatakan kepada sembarang orang. Keduanya ternyata juga memilih orang yang mereka anggap cukup dewasa untuk menanggapi keadaan yang mereka alami. Orang yang tidak akan mungkin mencelakakannya.

“Aku telah memberikan laporan palsu,” berkata orang yang bertubuh tinggi itu kepada seorang kawannya yang dianggap akan dapat memberikan pertimbangan kepadanya, apakah sebaiknya ia berterus terang kepada pemimpin pengawal yang masih belum memutuskan hukuman apakah yang akan diberikan kepadanya.

“Aku kira begitu,” berkata orang itu. “Nampaknya kedua orang itu mempunyai tujuan yang sangat luas di Tanah Perdikan ini.”

“Kedua orang itu juga menyebut-nyebut tentang Nyai Wiradana keduanya. Baik yang sudah hilang maupun yang sekarang dalam perbandingan yang berlawanan. Mereka memuji Nyai Wiradana yang hilang itu dan mencela yang sekarang sampai habis-habisan,” berkata yang bertubuh kokoh. “Orang itu pun mengatakan tentang penari yang mirip dengan Nyai Wiradana yang hilang itu. Sayang aku belum pernah melihat penari itu.”

———-oOo———-

Bersambung ke Jilid 12.

Naskah diedit dari e-book yang diupload di website Tirai kasih http://kangzusi.com/SH_Mintardja.htm

Terima kasih kepada Nyi DewiKZ

<< kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s