SBB-10

<< kembali | lanjut >>

KEEMPAT ORANG itu sama sekali tidak menghiraukan kata-kata orang itu meskipun ada juga semacam pengakuan di dalam hatinya bahwa orang itu agaknya memiliki ilmu yang jauh lebih dari tingkat ilmu mereka.

Karena itu, maka keempat orang itu telah bersiap pula. Mereka berusaha untuk sekali lagi mengepung lawan mereka dan bersiap menyerang dari segala arah.

Namun dalam pada itu, orang yang berada di dalam kepungan itu berkata lagi, “Jadi kalian mau mengulangi lagi kegagalan kalian? Apakah kalian tidak mempunyai cara yang lebih baik dari cara yang bodoh ini.”

Para pengawal itu termangu-mangu. Namun salah seorang di antara mereka tiba-tiba saja menggeram, “Kau mulai menjadi ketakutan melihat kami bersungguh-sungguh mengepungmu.”

Orang itu mengerutkan dahinya. Namun kemudian orang itu tertawa. Tidak terlalu keras, sangat menyakitkan hati. Katanya, “Kau memang aneh-aneh. Ada saja cara untuk menutupi kekurangan diri. Tetapi baiklah. Marilah, kita mulai dengan permainan jamuran ini. Nanti sekali-kali bergantian di tengah lingkaran.”

Keempat orang itu jantungnya bagaikan disentuh bara. Kemarahan telah membakar seisi dadanya. Karena itu, apapun yang terjadi, maka mereka benar-benar akan menyelesaikan pertempuran itu.

Karena itu, maka tiba-tiba saja seorang di antara keempat orang itu telah menarik pedangnya sambil berkata, “Ki Sanak. Apaboleh buat. Menghadapi perampok dan penyamun memang tidak ada paugeran untuk tidak mempergunakan senjata.”

Orang yang berdiri ditengah lingkaran itu memandang lawan-lawannya dengan tajamnya. Apalagi ketika ketiga pengawal yang lain pun telah melakukan hal yang sama.

“Ki Sanak,” berkata orang yang berdiri ditengah itu. “Kalian mulai bermain dengan senjata. Apakah kalian menyadari akibatnya. Sentuhan senjata sangat berbeda akibatnya dengan sentuhan jari dengan kekuatan wajar. Sentuhan ujung senjata akan dapat menggores kulit dan mengoyak daging.”

“Aku memang ingin mengoyak kulit dagingmu dan merobek jantungmu,” berkata pengawal itu.

“Betapa garangnya,” sahut orang itu. “Tetapi baiklah. Kita akan melihat arti dari tingkah laku kalian itu.”

Para pengawal tidak menjawab lagi. Namun dengan demikian maka mereka sudah siap untuk mulai dengan pertempuran yang menentukan karena mereka sudah bersenjata.

Namun ketika orang yang dikepungnya itu memandang arena pertempuran antara kawannya dan Ki Wiradana, maka para pengawal itu diluar sadarnya juga berpaling sekilas. Namun mereka menjadi gelisah. Ternyata bahwa Ki Wiradana telah terdesak beberapa langkah surut.

“Apa kataku,” berkata orang yang berada di dalam kepungan, “Bukan kawanku yang terdesak, tetapi Ki Wiradana.”

“Persetan,” geram salah seorang pengawal. “Kami bunuh kau, kemudian kami akan bertempur bersama Ki Wiradana.”

Para pengawal itu tidak menunggu jawaban, dengan serta merta mereka telah menyerang dengan senjata mereka masing-masing.

Bagaimanapun juga orang yang berada di dalam kepungan itu mengalami kesulitan untuk menghindari serangan dari empat ujung pedang pada jarak yang pendek.

Karena itu, tiba-tiba saja ia telah mengambil sesuatu dari balik bajunya.

Ternyata ia telah menarik pisau belati panjang. Sepasang, tidak hanya sebuah.

Dengan sepasang pisau belati itu, ia telah melawan empat ujung pedang di tangan para pengawal.

Perlawanan orang itu memang mengejutkan. Dengan pisau-pisaunya ternyata ia mampu menangkis serangan pedang yang datang beruntun dari segala arah. Bahkan ketika terjadi benturan-benturan antara senjata mereka, maka keempat pengawal itu mejadi semakin heran. Pisau-pisau yang terhitung kecil dibandingkan dengan pedang-pedang mereka itu mampu menggetarkan tangan mereka hampir pada setiap sentuhan antara senjata mereka.

“Orang ini memang luar biasa,” berkata para pengawal itu di dalam hatinya.

Apalagi ketika kemudian orang itu mulai berloncatan dan justru menyerang. Maka kepungan keempat pengawal itu telah terdorong melebar dengan sendirinya, sehingga kepungan itu tidak banyak memberikan arti lagi.

“Bukan salahku,” berkata orang itu. “Kalianlah yang mulai dengan senjata.”

Para pengawal tidak menjawab. Pertempuran itu menjadi semakin sengit. Tetapi para pengawal ternyata tidak berbuat banyak.

“Dengar para pengawal,” berkata orang itu. “Aku kali ini hanya mempergunakan pisau-pisau belati. Jika aku mempergunakan senjataku yang sebenarnya yang masih berada di pelana kudaku, maka kalian akan menjadi semakin menyesal.”

Keempat pengawal itu tidak sempat menjawab. Mereka justru berloncatan semakin jauh. Namun demikian, maka setiap kali mereka berusaha untuk menyerang beruntun, tetapi kadang-kadang juga berbareng.

Sementara itu, orang-orang yang lewat dan bahkan orang-orang padukuhannya pun melihat perkelahian yang telah terjadi itu. Karena itu maka mereka pun menjadi semakin lama semakin gelisah. Pemilik warung yang ketakutan itu akhirnya tidak dapat menahan diri lagi. Pada saat pertempuran itu menjadi semakin sengit, dan darah mulai meleleh dari luka, maka ia pun telah berlari ke gardu terdekat dan dengan sekuat tenaga telah membunyikan kentongan.

Suara kentongan dengan nada titir itu menjadi semakin menarik perhatian. Bahkan beberapa lama kemudian, terdengar suara kentongan yang lain telah menyambutnya dan sambung menyambung suara kentongan itu menjalar semakin lama semakin jauh.

Ternyata suara kentongan itu telah terdengar oleh para bebahu padukuhan itu.

Dengan segera mereka pun berlari-lari menuju ke banjar. Namun orang-orang di banjar masih belum tahu pasti apa yang terjadi.

Baru sejenak kemudian, dua orang berlari-lari memberitahukan apa yang telah terjadi di warung itu. Dua orang yang dianggap gegedug di daerah padukuhan itu dan sekitarnya sama sekali tidak mampu berbuat apa-apa. Bahkan kemudian beberapa orang yang semua bersama-sama singgah di warung itu telah saling berkelahi.

Dengan demikian maka para bebahu padukuhan itu telah membawa laki-laki yang bersedia membantunya dengan senjata di tangan menuju ke warung itu. Meskipun mereka bukan orang-orang berilmu, tetapi menurut pendapat bebahu itu, jika mereka datang dalam jumlah yang besar, maka hal itu tentu akan berpengaruh juga.

Ketika seorang bekel yang memimpin orang-orang padukuhan itu datang dengan hati-hati memasuki halaman warung di pinggir jalan itu, hatinya menjadi berdebar-debar. Ia melihat orang-orang yang sedang berjalan melalui jalan itu berhenti dan mengerumuni pintu pagar yang rendah dari halaman warung itu

“Minggir Ki Sanak,” minta Bekel yang diikuti oleh sekelompok laki-laki bersenjata.

Beberapa orang telah menyibak. Namun ketika Ki Bekel itu memasuki pintu warung, maka pemilik warung itu berkata, “Terlambat Ki Bekel.”

“Kenapa?” bertanya Ki Bekel.

“Dua orang perampok itu telah melarikan diri dengan meninggalkan korban-korbannya,” jawab pemilik warung itu.

Ki Bekel termangu-mangu. Sementara itu pemilik warung itu pun berkata, “Aku persilakan Ki Bekel melihat di sebelah warungku ini.”

Ki Bekel dan beberapa orang laki-laki itu kemudian pergi keserambi yang ditunjukkan oleh pemilik warung itu. Yang dijumpainya sangat mengejutkan.

Beberapa orang terbaring di amben bambu di serambi itu. Sementara itu, seorang di antara mereka yang terluka itu pun duduk di bibir amben sambil menyeringai menahan sakit.

“Apa yang terjadi Ki Sanak?” bertanya Ki Bekel.

Ki Wiradana, satu-satunya orang yang masih sempat duduk meskipun sambil menahan sakit itu pun menjawab, “Telah terjadi perampokan.”

“Di siang hari begini?” bertanya seseorang.

“Ya,” jawab Ki Wiradana. “Perampokan yang gila. Dua orang telah mengikuti perjalananku dari Pajang. Ternyata mereka baru bertindak ketika aku sampai disini.”

“Apakah Ki Sanak melawan?” bertanya Ki Bekel.

“Ya. Kami telah melawan. Tetapi kedua perampok itu agaknya memang memiliki ilmu yang tinggi,” jawab Ki Wiradana.

“Apakah ada barang-barang Ki Sanak yang sempat dibawa?” bertanya Ki Bekel.

“Tidak,” jawab Ki Wiradana. “Kami masih mampu mempertahankannya meskipun kawan-kawanku mengalami cidera yang agak parah.”

Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam. Kemudian seorang yang memiliki pengetahuan tantang obat-obatan datang untuk mengobatinya.

“Siapakah Ki Sanak sebenarnya?” bertanya Ki Bekel.

Ki Wiradana pun kemudian menyebut tentang dirinya dan jabatannya. Baru kemudian ia pun bertanya, “Dan Ki Sanak?

“Aku adalah Bekel di padukuhan ini,” jawab Ki Bekel. Lalu, “Jika Ki Sanak pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan, maka perjalanan Ki Sanak ke Pajang agaknya ada hubungannya dengan jabatan Ki Sanak itu.”

“Agaknya memang demikian,” jawab Ki Wiradana.

Ki Bekel mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Dengan keadaan Ki Sanak dan para pengawal Ki Sanak, maka agaknya Ki Sanak tidak akan sempat melanjutkan perjalanan hari ini. Kami ingin mempersilakan Ki Sanak tinggal barang satu dua hari di padukuhan ini. Jika keadaan Ki Sanak sudah baik, maka kami persilakan Ki Sanak melanjutkan perjalanan. Namun Ki Sanak perlu berhati-hati. Mungkin para perampok itu masih saja mengikuti Ki Sanak.”

Ki Wiradana mengangguk-angguk. Tetapi katanya, “Jika keadaanku sudah baik, aku tidak akan menunda perjalanan kembali. Sebenarnya aku tidak gentar menghadapi keduanya.”

“Tetapi Ki Sanak terluka cukup parah,” berkata Ki Bekel.

“Mungkin aku telah melakukan satu kesalahan. Aku terlalu menganggap mereka tidak berbahaya,” jawab Ki Wiradana. Lalu katanya, “Tetapi bukankah jalan menuju ke Sembojan tidak hanya satu?”

“Memang ada beberapa jalur. Aku dapat menunjukkan jalur jalan yang jarang sekali dilalui. Mungkin Ki Sanak dapat mengambil jalan itu.”

Ki Wiradana mengangguk-angguk. Bahkan kemudian katanya, “Kami sangat berterima kasih atas kesediaan Ki Sanak untuk menerima kami barang satu dua hari di padukuhan ini. Aku kira dalam dua hari keadaan kami sudah menjadi baik kembali.

Namun apakah dengan demikian kami akan dapat menyulitkan padukuhan ini jika kedua orang itu dengan nekad berusaha meneruskan niatnya untuk merampok kami justru pada saat kami masih dalam keadaan seperti ini?”

Ki Bekel itu pun menjawab, “Jumlah kami cukup banyak. Mungkin kemampuan kami tidak seberapa. Tetapi dalam jumlah yang tidak terhitung dibandingkan jumlah yang hanya dua orang itu, maka kami akan dapat mempertahankan diri kami dari keduanya.”

Dengan demikian, maka Ki Wiradana dan para pengawalnya pun kemudian telah dibawa ke banjar. Ki Wiradana sendiri mampu berjalan meskipun kemudian Ki Bekel mempersilakannya naik juga ke atas sebuah pedati sebagaimana para pengawalnya.

“Naiklah,” berkata Ki Bekel. “Jika kau memaksa diri untuk berjalan juga, maka luka-lukamu akan terasa semakin parah.”

Ki Wiradana tidak membantah. Ia pun kemudian naik ke atas pedati. Namun katanya kemudian, “Kami menitipkan kuda-kuda kami.”

“Jangan kau risaukan,” jawab Ki Bekel. “Kami mengurusi kuda-kuda kalian sebaik-baiknya.”

Dengan demikian maka Ki Wiradana pun tinggal di banjar padukuhan itu. Ternyata orang-orang padukuhan itu adalah orang-orang yang lugu dan ramah. Namun dalam keadaan yang bagi mereka cukup gawat itu, hampir setiap laki-laki telah menyediakan diri untuk berbuat sesuatu bagi padukuhannya. Ketika senja mulai turun, maka gardu-gardu pun mulai terisi. Jauh lebih banyak dari mereka yang berkewajiban ronda pada malam itu. Peristiwa di warung ditepi jalan yang menghubungkan Pajang dan Sembojan itu, telah mendorong setiap orang laki-laki untuk berbuat sesuatu.

Tetapi tidak seorang pun yang datang mengganggu padukuhan itu. Yang dicemaskan, bahwa kedua orang perampok itu, apalagi jika mereka mengajak kawan-kawan mereka untuk datang ke padukuhan itu, ternyata tidak terjadi. Malam-malam di padukuhan itu terasa sebagaimana malam-malam sebelumnya. Tenang dan sepi, selain di gardu-gardu peronda, mereka yang berjaga-jaga sibuk berusaha agar mereka tidak segera tertidur. Ada yang merebus air, merebus ketela pohon, dan ada yang berjalan hilir mudik di depan regol-regol padukuhan.

Namun tiga malam telah lewat. Keadaan Ki Wiradana pun benar-benar telah kelihatan baik meskipun sebenarnya luka-lukanya masih belum sembuh benar. Dalam keadaan yang banyak melepaskan tenaga, maka luka-luka itu akan dapat berdarah lagi.

Apalagi para pengawalnya. Keadaan mereka masih belum sebaik keadaan Ki Wiradana.

Namun Ki Wiradana mulai menjadi gelisah. Meskipun sejak ia berangkat dari Tanah Perdikan ia sudah mengatakan bahwa kepergiannya mungkin memerlukan waktu beberapa hari untuk menyelesaikan persoalan Tanah Perdikan Sembojan dengan tuntas, namun ia pun mulai digelisahkan oleh kemungkinan bahwa orang-orang di Tanah Perdikan Sembojan sudah menunggu-nunggunya.

Karena itu, meskipun keadaannya masih belum sembuh sama sekali, Ki Wiradana kemudian minta diri untuk meneruskan perjalanannya.

“Sebaiknya kau menunggu luka-lukamu sembuh sama sekali,” berkata Ki Bekel.

“Terima kasih Ki Bekel. Aku agaknya sudah terlalu lama meninggalkan Tanah Perdikan Sembojan. Pertolonganmu sudah terlalu banyak sehingga aku tidak dapat melupakannya disaat-saat mendatang. Mungkin aku masih akan hilir mudik antara Sembojan dan Pajang setelah keadaan menjadi tenang. Dalam kesempatan itu, aku akan dapat singgah di rumahmu,” jawab Ki Wiradana.

Ki Bekel tidak dapat menahannya lagi. Ia mengerti, bahwa tugas seorang Kepala Tanah Perdikan bukannya tugas yang ringan, sehingga karena itu, maka sebagai pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Ki Wiradana tidak dapat terlalu lama pergi.

Sebenarnya para pengawal Ki Wiradana masih ingin tinggal lebih lama agar luka-luka mereka menjadi semakin baik. Tetapi agaknya Ki Wiradana sudah tidak dapat menunggu lagi, sehingga mereka pun terpaksa ikut pula bersiap-siap untuk meninggalkan padukuhan itu.

“Sebenarnya aku masih ingin menunda perjalanan ini dalam dua tiga hari lagi,” berkata salah seorang di antara mereka.

“Tempat ini menyenangkan,” desis kawannya. “Aku dapat tinggal disini dengan tenang dan mendapat pelayanan yang menyenangkan pula.”

Tetapi mereka tidak dapat mencegah Ki Wiradana yang merasa sudah terlalu lama meninggalkan kewajibannya.

Dalam pada itu Ki Bekel pun bertanya, “Ki Wiradana. Demi keamanan perjalanan Ki Wiradana, apakah aku dapat memerintahkan dua tiga orang pergi ke Sembojan untuk memanggil pengawal yang cukup seandainya di perjalanan Ki Wiradana yang masih belum sembuh benar itu bertemu dengan para perampok?”

Ki Wiradana mengerutkan keningnya. Jarak antara Sembojan dan padukuhan itu memang tidak terlalu jauh. Ia akan dapat menunggu sehari jika ia sependapat dengan pendapat Ki Bekel. Dengan demikian mungkin lima atau enam orang pengawalnya akan dapat menjemputnya.

Namun Ki Wiradana itu akhirnya menggeleng. Katanya, “Terima kasih Ki Bekel. Biarlah aku dan para pengawal yang ada menempuh perjalanan kembali. Seperti yang sudah kita sebut-sebut, jalan ke Tanah Perdikan bukan hanya satu. Mudah-mudahan aku tidak diganggunya lagi dalam perjalanan pulang.”

Demikianlah, maka setelah membenahi diri, maka pada saat fajar menyingsing, Ki Wiradana pun telah berada di punggung kudanya bersama para pengawalnya. Mereka akan menempuh perjalanan mereka yang sebenarnya memang sudah tidak terlalu jauh.

Namun kemungkinan yang buruk itu masih saja dapat terjadi, jika kedua orang perampok itu mencegat mereka di perjalanan kembali.

Tetapi Ki Wiradana akan memilih jalan yang paling kecil kemungkinannya diketahui atau diperkirakan oleh para perampok itu akan dilaluinya, sehingga Ki Wiradana berharap bahwa para perampok itu tidak akan mengganggunya disisi perjalanannya itu.

Sejenak kemudian, beberapa ekor kuda itu pun telah berpacu. Ki Bekel dan para bebahu padukuhan itu mengantar mereka sampai ke regol banjar.

Ki Wiradana menempuh sisa perjalanannya dengan hati yang berdebar-debar.

Bagaimanapun juga ia tidak dapat ingkar, bahwa sebenarnyalah Ki Wiradana tidak akan mampu menandingi ilmu orang yang berusaha merampoknya itu. Ia akan dapat berkata apa saja kepada orang lain sebagaimana kepala Ki Bekel, bahwa seolah-olah ia telah lengah menghadapi lawannya karena ia tidak mengira sama sekali, bahwa perampok itu ternyata memiliki ilmu yang cukup. Tetapi kepada dirinya sendiri ia harus mengakui imbangan kemampuan yang sebenarnya antara dirinya dengan perampok yang telah melukainya itu.

Dalam pada itu, ternyata bahwa perjalanan Ki Wiradana yang sudah tidak terlalu panjang itu tidak dapat ditempuhnya dengan terlalu cepat, karena keadaan Ki Wiradana terutama para pengawalnya yang masih belum sembuh benar. Bahkan Ki Wiradana dan para pengawalnya masih juga harus beristirahat disebuah kedai untuk menjaga agar keadaannya tidak menjadi terlalu buruk.

Akhirnya, setelah menempuh perjalanan dengan penuh ketegangan, Ki Wiradana dan para pengawalnya pun selamat sampai ke rumah mereka di Sembojan. Demikian mereka memasuki Tanah Perdikan Sembojan, maka rasa-rasanya jantung mereka telah tersiram dengan embun yang sejuk. Meskipun kemungkinan buruk itu masih saja dapat terjadi di Tanah Perdikan mereka sendiri, tetapi kemungkinan itu sudah menjadi sangat kecil.

Meskipun demikian, kedatangan Ki Wiradana telah mengejutkan hati Warsi yang menunggunya dengan berdebar-debar. Ki Wiradana yang datang dengan luka-luka ditubuhnya meskipun sudah mengalami penyembuhan meskipun belum sempurna.

Ki Wiradana tidak dapat mengulas peristiwa yang terjadi itu terlalu banyak, karena beberapa orang pengawal menyaksikan kekalahannya. Meskipun demikian, ia masih mampu membuat kesan, bahwa kekalahannya itu bukannya karena ilmunya yang berselisih banyak, tetapi semata-mata karena kelengahan Ki Wiradana sendiri.

Sementara itu, para pengawalnya yang masih dalam keadaan yang lebih buruk dari Ki Wiradana sendiri, demikian mereka sampai di rumah pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan itu, maka mereka langsung pergi ke serambi samping.

“Beri kami minum panas,” berkata salah seorang di antara mereka kepada pelayan Ki Wiradana, sementara itu para pengawal itu pun segera membaringkan diri. Badan rasa-rasanya masih terlalu lemah dan luka-luka mereka yang sudah pampat itu rasa-rasanya akan kambuh lagi jika mereka tidak segera beristirahat.

Seseorang yang mengalami luka parah di punggungnya mempergunakan cara tersendiri untuk beristirahat. Ia duduk disebuah lincak di serambi sambil memeluk bantal dan bersandar menyamping pada lengannya.

Jantung Warsi menjadi berdegupan lebih cepat. Ketika ia melihat luka Ki Wiradana maka ia dapat mengambil kesimpulan sesuai dengan ketajaman pengamatannya meskipun tidak dikatakan kepada Ki Wiradana, bahwa yang melukai suaminya adalah orang yang melukai ayahnya yang mengaku saudagar permata.

“Saudagar itu masih berada disini,” berkata Warsi. “Apakah kakang perlu bertemu dan berbicara tentang orang yang melukai kakang? Mungkin mereka mempunyai hubungan atau bahkan orangnya adalah orang itu juga, yang pekerjaannya memang memasuki penginapan-penginapan dan merampok orang-orang bermalam.”

“Tetapi orang-orang yang merampok kami di perjalanan tidak melakukannya di penginapan sebagaimana yang dilakukan atas saudagar emas itu,” jawab Ki Wiradana.

“Apakah mereka akan berani melakukannya di Pajang? Di sebuah kota yang ramai, yang setiap saat jalan-jalan dilalui oleh prajurit yang sedang meronda?” sahut Warsi.

Ki Wiradana mengangguk-angguk. Katanya, “Mungkin kau benar. Baiklah, aku akan berbicara dengan saudagar itu.”

“Tetapi tentu tidak perlu sekarang. Kakang perlu beristirahat setelah menempuh perjalanan dalam keadaan terluka seperti itu,” berkata Warsi.

Ki Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Ia memang merasa tubuhnya sangat letih.

Bukan saja karena perjalanannya, tetapi juga karena luka-lukanya yang belum sembuh benar.

Ketika ia kemudian pergi ke pakiwan, maka dilihatnya para pengawalnya berada di serambi sambil menghirup minuman panas. Mereka nampak sangat letih dan bahkan nampaknya mereka masih merasakan luka-luka mereka pedih tersentuh keringat.

Tetapi minuman panas itu agaknya membuat mereka merasa segar.

“Minumlah,” berkata Ki Wiradana. “Kemudian kalian masih memerlukan pengobatan. Kita mempunyai tabib yang lebih baik dari dukun di padukuhan itu,” berkata Ki Wiradana kepada para pengawalnya.

Setelah membersihkan diri serta menghadapi minuman dan makanan, maka Ki Wiradana telah memanggil saudagar yang masih berada di rumahnya. Diceriterakannya apa yang telah terjadi atasnya di perjalanan serta disebutnya ciri-ciri orang itu sebagaimana dikenalnya. Bahkan ciri-ciri tata geraknya yang paling tajam dapat ditangkap oleh Ki Wiradana.

Saudagar itu mengangguk-angguk. Katanya, “Tentu orang itu juga. Ciri-ciri itu sesuai benar. Sebenarnyalah bahwa kedua orang itu adalah orang-orang yang pekerjaannya merampok para korbannya di penginapan atau diperjalanan setelah dari penginapan itu.”

“Dengan demikian, maka kita harus mengawasi setiap penginapan yang ada di Tanah Perdikan ini,” berkata Ki Wiradana. “Tetapi agaknya disini hanya ada satu dua.

Tidak lebih dari lima buah di seluruh Tanah Perdikan di pusat-pusat perdagangan.

Selebihnya orang-orang dalam perjalanan akan bermacam di banjar-banjar padukuhan. Mereka biasanya tidak memerlukan penginapan-penginapan sebagaimana para pedagang dan saudagar-saudagar.”

Saudagar itu mengangguk-angguk. Katanya, “Satu pengalaman yang berharga.”

Ki Wiradana mengangguk-angguk. Tetapi timbul di dalam angan-angannya satu usaha untuk menjebak kedua orang perampok itu di penginapan yang berada di Tanah Perdikan Sembojan pada suatu saat dengan cara yang harus diperhitungkan sebaik-baiknya.

Agaknya berbeda dengan pikiran Ki Wiradana, Warsi memandang peristiwa itu dengan rangkaian-rangkaian peristiwa yang lain. Warsi belum pernah mendengar sebelumnya, bahwa ada perampok-perampok yang berusaha mencari korbannya di penginapan-penginapan.

“Mungkin kedua orang itu melakukan cara yang aneh itu belum terlalu lama,” berkata Warsi di dalam hatinya.

Tetapi ia cenderung menduga, bahwa kedua orang itu sama sekali tidak ingin merampok sebagaimana diduga oleh Ki Wiradana. Kedua orang itu adalah bagian dari sekelompok orang yang mengadakan pertunjukan keliling dengan penari yang mirip sekali dengan Nyai Wiradana yang hilang. Mereka sengaja menumbuhkan kesan yang dapat mengganggu ketenangan hidup Ki Wiradana dengan keluarganya, bahkan seisi Tanah Perdikan Sembojan.

Dengan demikian maka Warsi mengambil satu kesimpulan, bahwa mereka adalah orang-orang yang berpihak kepada Iswari yang telah hilang itu.

“Ternyata kekuatan mereka cukup meyakinkan,” berkata Warsi di dalam hatinya.

Namun kemudian, “Tetapi mereka baru menilai kemampuan kami dari kemampuan ayah dan kakang Wiradana. Pada saatnya nanti mereka akan berhadapan dengan aku sendiri.”

Tetapi Warsi sependapat dengan langkah yang diambil oleh Ki Wiradana untuk mengawasi setiap penginapan. Yang penting baginya bukan pengawasan penginapan itu sendiri. Tetapi kesiagaan dan peningkatan kemampuan para pengawal yang akan dapat dipergunakannya setiap saat pada langkah-langkah berikutnya.

Namun yang menggelisahkan Warsi kemudian adalah adanya salah satu syarat bagi pelaksa-naan wisuda. Bagi Tanah Perdikan Sembojan berupa sebuah bandul yang bertatahkan lukisan kepala seekor burung elang dan tergantung pada seutas rantai yang kesemuanya terbuat dari emas.

“Wiradana memang dungu,” geram Warsi di dalam hatinya. “Kenapa ia tidak dapat menguasai benda itu sebelumnya.”

Namun Warsi pun telah diganggu oleh perasaan sesal karena ia dengan tergesa-gesa telah membunuh Ki Gede sebelum pertanda itu berada di tangan Ki Wiadana. Namun hal itu dilakukannya karena Warsi belum mengetahui, bahwa Wiradana, anak Ki Gede itu sendiri belum mengetahuinya juga meskipun ia pernah melihat benda itu.

“Tetapi langsung atau tidak langsung Ki Gede sudah mengatakannya pada saat ia menunjukkan benda itu,” berkata Warsi di dalam hatinya. “Tetapi otak Wiradana memang tumpul. Ia hanya tampan pada wajahnya, tetapi otaknya tidak lebih dari otak udang.”

Namun sementara itu Wiradana telah berusaha untuk mencari benda yang merupakan salah satu syarat bagi diwisudanya menjadi Kepala Tanah Perdikan itu diseluruh sudut rumahnya. Ia telah membongkar bilik ayahnya dan bahkan mengeluarkan semua perabot yang ada di dalam bilik itu.

“Aku harus menemukannya,” geram Ki Wiradana.

Betapapun jantung Warsi bergejolak, namun dihadapan suaminya ia berkata, “Kakang memang harus menemukannya. Tetapi kakang tidak perlu menjadi sangat gelisah dan bahkan menjadi bingung. Jika hal itu memang temurun kepada kakang, maka pertanda itu tentu akan dapat kakang ketemukan. Bukankah kakang tidak perlu tergesa-gesa? Pada saat ini sebagaimana kakang katakan, pimpinan pemerintahan di Pajang, termasuk Kanjeng Adipati sendiri dengan disibukkan oleh peristiwa yang mengejutkan, yang menurut kakang telah terjadi di Demak. Karena itu, sambil mencari dengan tenang kita masih harus menunggu persoalan Demak itu dapat diselesaikan dan Kanjeng Adipati di Pajang kembali ke istananya.”

Ki Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Kata-kata isterinya itu memang dapat sedikit menenangkan kegelisahannya. Tetapi sebelum benda itu diketemukan, rasa-rasanya hatinya masih saja merasa selalu gelisah.

Sementara itu, maka Warsi pun kemudian bertanya, “Tetapi apakah kakang sempat mengingat, apakah benda itu pernah diberitahukan atau ditunjukkan kepada orang lain selain kakang?”

“Maksudmu kepada siapa?” justru Ki Wiradana ganti bertanya.

“Kepada istri kakang pada waktu itu misalnya?” Warsi menjelaskan.

Wiradana mengerutkan keningnya. Ia mencoba mengingat-ingat, apakah ayahnya pernah menunjukkan benda itu kepada Iswari.

Karena itu maka katanya, “Aku belum pernah melihat ayah menunjukkan benda itu kepada Iswari. Tetapi ayah sangat dekat dengan perempuan itu, sehingga kemungkinan itu memang ada.”

“Apakah mungkin benda itu justru dibawa oleh istri kakang itu?” bertanya Warsi kemudian.

“Tentu tidak. Pada waktu ia pergi untuk yang terakhir kalinya, ia bersama perempuan di padukuhan diluar Tanah Perdikan ini pergi menengok seseorang yang melahirkan. Mustahil bahwa dengan demikian ia membawa benda itu,” Ki Wiradana mengingat-ingat. Namun katanya kemudian, “Aku akan mencari benda itu di manapun juga. Mungkin memang Iswari yang menyimpannya.”

Sekali lagi Wiradana membongkar rumahnya. Ia mencari ditempat-tempat yang mungkin menjadi tempat penyimpanan bagi Iswari. Namun ia sama sekali tidak menemukan apapun juga.

Dalam keadaan yang hampir putus asa Wiradana itu berkata, “Segala sesuatunya akan aku serahkan kepada Ki Tumenggung Wirajaya. Jika benda itu memang tidak diketemukan, maka ia akan mengusahakan dengan cara apapun juga. Tetapi sudah tentu lebih baik jika benda itu dapat diketemukan. Maka semuanya akan berjalan lancar dan tidak berbelit-belit.”

Warsi mengumpat di dalam hatinya. Tetapi ia pun tidak dapat berbuat apa-apa. Ia melihat, bagaimana Wiradana berusaha mencari benda yang menjadi pertanda kekuasaan di Tanah Perdikan Sembojan itu. Tidak ada jengkal ruang yang terlampauinya. Namun benda itu benar-benar tidak dapat diketemukan.

Karena itu, harapan yang masih ada tinggal pada Ki Tumenggung Wirajaya. Ki Tumenggung yang ramah dan baik hati, yang nampaknya memang tidak ada niat untuk mempersulit persoalan.

Namun sebagaimana pejabat yang terdahulu, memang ada kemungkinan bahwa Ki Tumenggung Wirajaya itu akan diganti. Tetapi menilik waktu jabatannya, maka hal itu tidak akan segera terjadi jika tidak ada persoalan yang sangat penting.

Tetapi hubungan antara Pajang dan Demak tentu akan mengalami goncangan-goncangan dengan peristiwa yang baru saja terjadi, sehingga kemungkinan-kemungkinan itu memang dapat saja terjadi dalam waktu dekat.

Dengan menyesal, Wiradana pun berkata kepada istrinya, “Sayang sekali Warsi. Benda itu tidak dapat aku ketemukan.”

Bagaimanapun juga gejolak perasaan Warsi, namun dengan lembut ia berkata, “Sudahlah kakang. Kita serahkan segala sesuatunya kepada Yang Maha Adil. Jika hak itu memang akan temurun kepada kakang, maka bagaimanapun caranya, maka pada suatu saat kakang tentu akan diwisuda.”

Ki Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku berharap bahwa wisuda itu akan dilakukan sebelum anak kita lahir.”

“Bukan suatu tuntutan yang mutlak kakang,” berkata Warsi. “Hal itu kita inginkan agar di saat anak kita lahir, maka ia adalah anak kepala Tanah Perdikan yang sah. Tetapi segala sesuatunya tentu tergantung kepada keadaan. Meskipun anak kita lahir sebelum kakang diwisuda, namun anak itu tetap anak kakang yang kapanpun saatnya akhirnya akan diwisuda juga menjadi Kepala Tanah Perdikan.”

Wiradana mengangguk-angguk. Kata-kata Warsi itu memang dapat sedikit meredakan gejolak kegelisahannya. Meskipun demikian ia tidak akan dapat melupakan sama sekali, bahwa ia masih belum memegang benda yang menjadi pertanda kekuasaan di Tanah Perdikan Sembojan.

Namun dalam pada itu, maka persoalan lain harus dilakukannya pula. Ia tidak dapat terpancang kepada satu persoalan yang masih belum dapat dipecahkannya itu, karena Tanah Perdikan Sembojan menuntut penyelesaian banyak sekali persoalan-persoalan.

Yang dilakukan lebih dahulu oleh Ki Wiradana adalah usaha untuk mengatasi kemungkinan datangnya dua orang perampok di rumah-rumah penginapan. Karena itu, maka Ki Wiradana telah menghubungi para pemimpin penginapan di padukuhan-padukuhan yang memiliki rumah penginapan yang tidak banyak jumlahnya, termasuk pimpinan pengawal di padukuhan induk.

“Aku akan bersedia menjadi umpan,” berkata saudagar yang bermalam di rumah Ki Wiradana yang tidak lain adalah ayah Warsi sendiri itu.

“Tetapi perampok itu tahu, bahwa barang-barang Ki Sanak sudah tidak ada lagi,” berkata Ki Wiradana.

“Sudah barang tentu aku akan meninggalkan Tanah Perdikan ini untuk beberapa lama. Baru kemudian aku akan kembali lagi dengan membawa barang-barang berharga.

Nah, mudah-mudahan mereka akan dapat kita jebak dengan cara itu,” sahut saudagar permata itu.

Ki Wiradana mengangguk-angguk. Meskipun demikian ia merasa ragu-ragu, apakah hal itu tidak akan membahayakan saudagar itu sendiri. Pada benturan pertama, perampok itu tidak membunuhnya, atau tidak sempat membunuhnya karena para pengawal telah berdatangan. Tetapi pada kesempatan lain, mungkin perampok itu akan benar-benar membunuh.

Tetapi Ki Wiradana tidak melihat orang lain yang mungkin dapat dijadikan umpan.

Umpan itu sendiri memang harus tidak terlalu lunak sehingga memungkinkannya bertahan untuk beberapa saat lamanya sebelum para pengawal datang membantunya menangkap kedua orang perampok itu.

Sementara itu saudagar itu pun berkata, “Nah, dalam keadaan yang sudah diperhitungkan, maka kita akan dapat berhasil. Sementara itu, aku sebenarnya memang akan segera datang lagi. Bukankah sudah aku katakan bahwa aku memang ingin mempunyai sebidang tanah di Tanah Perdikan ini?”

Ki Wiradana itu pun mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Baiklah. Kita harus merencanakannya dengan cermat agar dengan demikian, kita tidak akan mengalami kegagalan, dan bahkan Ki Saudagar akan benar-benar kehilangan lagi barang-barang yang mahal harganya itu.”

Dengan demikian, maka keduanya pun telah membuat rencana yang terperinci untuk menjebak perampok yang menurut dugaan mereka selalu melakukan perampokan atas orang-orang yang berada di penginapan-penginapan. Orang-orang yang mereka duga membawa barang-barang yang cukup berharga, meskipun Ki Wiradana menjadi heran juga bahwa kedua orang itu dapat menyebut bandul dan kalung pertanda kekuasaan Tanah Perdikan Sembojan.

“Agaknya kedua orang itu berusaha menyelidiki calon korbannya dengan seksama.

Atau mungkin ada orang lain yang mempunyai tugas khusus untuk menyelidiki calon korbannya, sedang keduanya tinggal melaksanakan saja,” berkata Ki Wiradana.

Saudagar itu mengangguk-angguk. Jawabnya, “Mungkin demikian. Karena itu, maka kita pun harus berhati-hati. Kita tidak boleh menganggap mereka terlalu ringan.

Mungkin dua orang yang merampok aku berbeda dengan dua orang yang melakukannya atas Ki Wiradana, sehingga mereka merupakan satu jaringan kekuatan yang harus kita perhatikan dengan sungguh-sungguh karena tangan-tangannya telah mulai meraba ketenangan Tanah Perdikan Sembojan.”

Ki Wiradana mengangguk-angguk. Ia sadar, bahwa sepeninggalan ayahnya tidak ada lagi orang kuat di Tanah Perdikan Sembojan itu. Wiradana sendiri hanya dapat menyombongkan kemampuan ayahnya, karena Wiradana tidak mempelajari ilmu itu dengan tekun dan melakukan laku yang seharusnya dilakukan, namun terasa sangat berat.

Tetapi ia tidak dapat sekadar menyesali diri. Ia harus mengisi kekurangan itu dengan memperkuat pasukan pengawalnya, sementara itu, ia harus berusaha untuk menyisihkan waktu, melakukan latihan-latihan yang berat, agar ilmunya dapat meningkat.

Namun Wiradana pun sadar, bahwa tanpa guru, usahanya akan merupakan usaha yang sangat sulit dan berat, serta memerlukan kesungguhan yang tidak tanggung-tanggung.

Akhirnya Wiradana telah menemukan kesepakatan. Saudagar emas itu akan segera meninggalkan Tanah Perdikan Sembojan dan dalam waktu sebulan akan kembali lagi.

Sementara itu, Wiradana akan menyiapkan pengawal-pengawal khusus bagi penginapan yang akan dipergunakan oleh saudagar emas dan permata itu.

Demikianlah, maka setelah cukup lama saudagar itu tinggal pada keluarga Wiradana, serta keadaannya telah pulih kembali seperti sediakala, maka saudagar itu bersama seorang kawannya telah minta diri. Namun mereka terikat pada rencana yang akan mereka lakukan sebulan kemudian. Saudagar itu bukan saja akan menjadi umpan untuk menjebak kedua perampok itu, tetapi ia juga ingin membeli sebidang tanah di Tanah Perdikan Sembojan.

Dalam pada itu, ketika Warsi sempat berbicara tanpa hadirnya Wiradana ia berkata, “Ayah, agaknya ayah dapat bertindak tepat. Sebagaimana ayah ketahui, bahwa kita berhadapan dengan kekuatan yang agak cukup besar. Mungkin kedua orang yang merampok ayah itu juga orang yang merampok kakang Wiradana. Tetapi mungkin bukan meskipun mereka berasal dari kelompok yang sama. Kita tidak boleh melepaskan persoalan itu dengan hadirnya serombongan pengamen dengan seorang penari yang mirip dengan Iswari, istri kakang Wiradana yang terdahulu. Kemudian perampokan atas ayah dan yang baru saja terjadi atas kakang Wiradana. Kenapa perampokan iu hanya terjadi disekitar kita saja. Bukan orang lain. Seandainya orang itu tidak mengetahui bahwa ayah adalah ayahku, namun mereka menganggap bahwa ayah telah berhubungan dengan keluarga Wiradana, sehingga perhiasan yang ayah bawa, kecuali yang tertinggal padaku, telah diambilnya.”

Ayah Warsi mengangguk-angguk. Katanya, “Mungkin pengamatanmu benar. Karena itu, kau harus berhati-hati.”

“Ayah, aku sekarang sedang mengandung. Sementara itu, kakang Wiradana ternyata tidak cukup kuat untuk melindungi aku dan Tanah Perdikan ini jika kekuatan tertentu itu benar-benar akan menghancurkan kedudukannya. Karena itu, aku mohon ayah dapat membantu kami,” minta Warsi.

“Sebulan lagi aku akan berada disini,” berkata ayahnya.

“Maksudku, bukan ayah sendiri. Bukankah ayah juga tidak dapat berbuat banyak terhadap kedua orang perampok itu?” berkata Warsi.

“Lalu, maksudmu bagaimana?” bertanya ayahnya.

“Ayah harus mengirimkan orang lain kepadaku,” berkata Warsi. “Orang yang memiliki kekuatan yang memadai.”

“Siapakah yang kau maksud?” bertanya ayahnya. “Orang yang kau anggap sebagai ayahmu itu?”

“Pada satu saat itu juga ia harus berada disini. Tetapi ayah dapat berhubungan dengan keluarga Kalamerta yang berada di tempat lain yang menurut ayah akan dapat membantuku. Apakah orang itu akan datang sebagai pamanku atau sebagai siapapun juga.”

 Ayahnya mengangguk-angguk. Ia dapat mengikuti jalan pikiran Warsi, bahwa agaknya memang ada kekuatan yang membayangi kekuasaan Ki Wiradana. Bahkan seperti juga Warsi, ayahnya memang dipengaruhi juga oleh satu dugaan, bahwa Nyai Wiradana yang tua itu belum mati.

“Baiklah Warsi,” berkata ayahnya. “Aku akan berusaha berhubungan dengan kekuatan-kekuatan yang akan dapat membantumu. Karena ternyata Wiradana memang tidak dapat berbuat banyak menghadapi orang-orang yang mungkin dengan sengaja membayangi kekuasaannya.”

“Terima kasih ayah,” sahut Warsi. “Semakin cepat orang itu datang, agaknya akan menjadi semakin baik. Kita rasa-rasanya sudah didesak oleh keadaan yang tidak dapat kita hindari lagi. Sementara ini aku memang hanya bersandar kepada kakang Wiradana dan para pengawalnya, yang meskipun tidak memiliki ilmu apapun juga namun jumlahnya ternyata cukup banyak. Nanti, jika anakku telah lahir, maka agaknya aku harus mengambil sikap yang lebih mantap untuk menentukan masa depan bagi keturunanku.”

Ayahnya mengangguk-angguk. Namun agaknya ia sedang mengingat-ingat, siapakah yang mungkin akan dapat dihubungi.

Namun tiba-tiba ia berkata, “Bagaimana jika aku berhubungan dengan kakekmu di kaki Gunung Kukusan. Maksudku, pamanku yang tinggal disebuah padepokan yang tidak banyak dikenal.”

“Maksud ayah, adik kakek?” bertanya Warsi.

“Ya. Bukankah kau sudah mengenalnya?” bertanya ayahnya pula.

“Tentu ayah. Bukankah satu saat dimasa kecilku, aku pernah tinggal di padepokan itu?” wajah Warsi tiba-tiba menjadi cerah. Namun sejenak kemudian nada suaranya menurun, “Tetapi apakah kakek akan bersedia datang?”

“Aku akan mencoba. Aku akan mengatakan semua persoalan yang terjadi, sejak kematian pamanmu Kalamerta. Mungkin hatinya akan bergerak,” berkata ayah.

“Tetapi aku tidak dapat memastikannya apakah ia mau datang dan bermain-main bersama kita.”

“Tergantung cara ayah menyampaikan persoalan,” berkata Warsi. “Tetapi aku menjadi lupa-lupa ingat akan sifat dan watak kakek itu.”

“Baiklah,” berkata ayah Warsi. “Aku mempunyai waktu sebulan. Mudah-mudahan ia akan bersedia mendahului aku dan menemuimu, benar-benar sebagai kakekmu dan kau perkenalkan kepada Wiradana juga sebagai kakekmu.”

“Ayah dari orang yang mengaku ayahku itu?” bertanya Warsi.

“Bukankah kau mempunyai ayah dan ibu? Katakanlah bahwa kakekmu itu adalah kakek menurut garis dari ibumu,” jawab ayahnya.

Warsi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Permainan ini menjadi terlalu rumit. Mungkin pada suatu saat aku lupa berhadapan dengan siapa aku sebenarnya dan siapa menurut permainan yang sedang kita lakukan.”

“Tetapi bukankah hal itu tidak akan berlangsung terlalu lama? Jika kau sudah melahirkan anakmu, maka semuanya akan menjadi sesuai dengan keadaanmu yang sebenarnya. Kau akan menguasai Wiradana sebagaimana kau menguasai permainan yang tidak berdaya. Apalagi dengan orang-orang yang kita anggap akan dapat bekerja bersama dengan kita,” berkata ayahnya.

Warsi mengangguk-angguk. Ia memang akan menghentikan permainan itu sampai batas kelahiran anaknya. Sesudah itu, maka semuanya akan bergerak dengan wajar meskipun barangkali tidak akan menyenangkan hati Wiradana.

Namun demikian, Warsi masih juga bertanya, “Tetapi bagaimana jika kakang Wiradana ternyata masih belum diwisuda?”

Ayahnya menarik nafas dalam-dalam. Katanya dengan nada rendah, “Tentu merupakan satu persoalan. Mau tidak mau kita harus menunggunya.”

Warsi memandang ayahnya sekilas. Tetapi ia pun berdesah, “Aku pun memikirkannya.”

“Tetapi jangan terlalu risau,” berkata ayahnya. “Kau harus menginat anak di dalam kandungan itu agar tidak terlalu terpengaruh oleh kegelisahan-kegelisahan ibunya. Dengan demikian maka anakmu tidak akan terganggu badani maupun jiwani.”

Warsi mengangguk-angguk.

Katanya, “Ya ayah. Namun demikian aku menunggu perkembangan keadaan selanjutnya.

Sebagaimana ayah ketahui, kakang Wiradana tidak cukup berilmu menghadapi kekisruhan yang setiap saat akan dapat melanda Tanah Perdikan ini. Meskipun mungkin dalam keadaan terpaksa aku masih mampu melindungi diriku dengan gerak yang terbatas, namun sebelum saatnya datang sesuai dengan perhitungan yang mapan, aku belum akan menyatakan diriku sendiri di hadapan kakang Wiradana dan dihadapan orang-orang Tanah Perdikan ini.”

“Baiklah Warsi. Tetapi sepeninggalanku kau memang harus berhati-hati. Aku sudah menentukan batas waktu satu bulan. Dengan demikian maka selama ini aku tidak akan berada di Tanah Perdikan ini,” berkata ayahnya.

“Namun untuk mengurangi beban, biarlah dipertengahan bulan nanti, orang yang aku sebut sebagai ayahku itu akan dapat datang mengunjungi aku barang sepekan untuk membantuku jika aku benar-benar dalam kesulitan,” berkata Warsi.

“Baiklah. Aku akan mengatakan kepadanya, agar ia datang mengunjungimu,” jawab ayahnya.

Dengan demikian, maka disamping kesepakatan Wiradana dengan saudagar emas itu, maka saudagar itu telah membuat kesepakatan sendiri dengan Warsi di luar pengetahuan Ki Wiradana. Sehingga sampai pada saatnya orang itu benar-benar minta diri dan meninggalkan rumah Ki Wiradana bersama seorang kawannya.

Sepeninggalan orang itu, Wiradana memang merasa sepi. Bukan saja karena tidak ada kawan berbincang di ujung malam, namun menurut Ki Wiradana, ia benar-benar menjadi sendiri menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi.

Dalam keadaan yang demikian, maka Ki Wiradana telah menenggelamkan diri ke dalam lingkungan pasukan pengawalnya. Ia menjadi semakin bergairah memberikan latihan-latihan yang berat bagi orang-orang yang khusus dan mendapat kepercayaan sepenuhnya daripadanya.

Dengan sungguh-sungguh Ki Wiradana mengajari mereka untuk mengawasi beberapa rumah penginapan, terutama penginapan yang akan dipergunakan oleh saudagar emas pertama itu sebulan mendatang.

Namun kekuatan yang dibangun oleh Ki Wiradana itu tidak saja ditujukan bagi para perampok yang diduga sering mendatangi rumah-rumah penginapan, tetapi juga untuk menegakkan kedudukannya, karena Ki Wiradana masih merasa sangsi, apakah ia tidak akan mengalami kesulitan jika pertanda kuasa Tanah Perdikan Sembojan itu tidak diketemukan. Seandainya Ki Wiradana tidak menemui kesulitan karena sikap Ki Tumenggung Wirajaya, namun jika hal itu diketahui oleh orang-orang Sembojan sendiri, mungkin justru akan dapat timbul masalah karenanya.

Sementara itu, ayah Warsi yang meninggalkan Tanah Perdikan Sembojan telah berada di rumahnya. Kepada orang-orangnya ia memerintahkan untuk bersiap-siap.

“Sebanyak mungkin di antara kita harus berada di Sembojan,” berkata ayah Warsi.

“Jika tidak ada sanak saudara kita yang berada di Sembojan, maka kalian yang harus merantau dan mencari pekerjaan di Sembojan, atau ada di antara kalian yang akan turut dengan aku tinggal di Sembojan karena aku akan membeli tanah di Tanah Perdikan itu. Dengan demikian maka kedudukan Warsi akan menjadi semakin kuat.”

Sementara itu katanya kepada laki-laki yang disebut sebagai ayah Warsi. “Kau harus segera pergi ke Sembojan. Satu atau dua pekan lagi. Mungkin Warsi memerlukan bantuanmu karena suaminya tidak akan mampu melindunginya jika ia benar-benar dalam keadaan bahaya. Warsi sendiri untuk beberapa bulan ini tidak akan dapat terlalu banyak bergerak, karena ia sedang mengandung. Ia harus mempertahankan kandungannya, sehingga dengan demikian maka keturunannya kelak akan dapat menggantikan kedudukan Ki Wiradana.”

Orang yang disebut ayah Warsi itu mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Secepatnya aku akan pergi ke Tanah Perdikan Sembojan.”

“Sebaiknya kau tidak pergi sendiri,” berkata ayah Warsi. “Ajaklah salah seorang yang dapat kau percaya kemampuannya. Kau dapat menyebut paman Warsi atau saudara sepupu atau apa saja. Warsi tentu akan tanggap.”

“Jika demikian aku harus memilih. Tetapi aku tidak akan memerlukan waktu sampai sepekan untuk mendapatkan teman pergi ke Tanah Perdikan Sembojan,” jawab orang yang disebut ayah Warsi itu.

“Sementara itu, aku akan pergi ke kaki Gunung Kukusan. Aku akan pergi ke rumah paman yang berada di padepokan itu. Mungkin akan dapat membantu jika pada saatnya Warsi memerlukannya,” berkata ayah Warsi.

“Kenapa harus pergi ke Gunung Kukusan?” bertanya laki-laki yang disebut ayah Warsi itu. “Apakah kita tidak mempunyai kekuatan cukup untuk menghadapi orang-orang Sembojan yang mungkin menjadi gila karena sikap Ki Wiradana?”

“Bukan terhadap orang-orang Sembojan,” jawab ayah Warsi. “Mungkin Warsi harus berhadapan dengan kekuatan di luar Tanah Perdikan. Kekuatan di dalam Tanah Perdikan tidak akan banyak berarti lagi, karena Wiradana sudah menyusun kekuatan. Tetapi menghadapi sekelompok orang-orang ngamen yang memiliki seorang penari seperti Nyai Wiradana yang terdahulu, kemudian orang yang merampok aku dan orang yang merampok Ki Wiradana sendiri, memerlukan perhatian yang sungguh-sungguh.”

Laki-laki yang disebut ayah Warsi itu mengangguk-angguk. Ia pun menyadari, bahwa tentu ada kekuatan dari luar. Sebagaimana Warsi dan ayahnya, maka laki-laki itu sependapat, bahwa kekuatan dari luar Tanah Perdikan Sembojan itu tentu berhubungan dengan hilangnya Nyai Wiradana terdahulu.

“Apakah dengan demikian, kita tidak dapat menempuh jalan memintas?” bertanya laki-laki yang disebut ayah Warsi itu.

“Maksudmu?” bertanya ayah Warsi.

“Bagaimana jika orang-orang Sembojan tidak justru menunggu. Jika kita yakin, bahwa orang-orang itu tentu mempunyai hubungan dengan keluarga Nyai Wiradana yang terdahulu, maka sebaiknya orang-orang Sembojan sajalah yang datang ke padepokannya. Dengan demikian maka segalanya tentu akan selesai dengan tuntas.

Mereka tidak akan dapat lagi mengganggu kita untuk selamanya,” berkata laki-laki itu.

“Jika kita berbuat dengan tergesa-gesa, yang mungkin terjadi adalah dua kemungkinan. Yang tidak akan mengganggu mungkin mereka tetapi mungkin justru kita,” jawab ayah Warsi.

“Apakah kekuatan mereka sangat nggegirisi sehingga kita termasuk kekuatan para pengawal Tanah Perdikan Sembojan harus merasa cemas?” bertanya laki-laki itu pula.

“Kau memang dungu,” jawab ayah Warsi. “Menghadapi sesuatu yang tidak jelas, kita tidak boleh tergesa-gesa. Jika mereka tidak yakin memiliki kekuatan, mereka tidak akan berani memasuki Tanah Perdikan Sembojan dalam kelompok pengamen dan membawa seorang penari yang mirip sekali dengan Nyai Wiradana.”

“Bukankah itu baru sekadar dugaan? Mungkin kelompok itu tidak ada sangkut pautnya dengan keluarga Nyai Wiradana yang hilang itu. Tetapi kita sajalah yang dibayangi oleh keragu-raguan untuk bertindak dengan cepat,” desis laki-laki itu kemudian.

“Memang ada seribu kemungkinan,” jawab ayah Warsi. “Tetapi kita harus memilih yang paling baik bagi kita.”

Laki-laki yang disebut ayah Warsi itu menarik nafas dalam-dalam. Namun ia berusaha untuk membayangkan, perkembangan terakhir yang mencekam di Tanah Perdikan Sembojan. Juga tentang pertanda kuasa yang tidak dapat diketemukan oleh Ki Wiradana itu.

Dengan demikian, maka mereka telah menyiapkan diri masing-masing. Ayah Warsi yang sebenarnya, bersiap-siap pergi ke Kaki Gunung Kukusan, sementara orang yang disebut ayah Warsi itu bersiap-siap untuk pergi ke Tanah Perdikan Sembojan.

Namun ia akan memilih seorang kawan yang paling baik untuk menghadapi segala kemungkinan.

Namun orang itu sadar, bahwa Tanah Perdikan Sembojan telah disentuh oleh kekuatan yang tidak dapat dilawan oleh ki Wiradana sendiri dan oleh ayah Warsi itu.

“Hanya Warsi yang akan mampu menghadapi mereka,” berkata orang itu di dalam hatinya. Namun sebagaimana didengar dari ayah Warsi, bahwa Warsi itu sedang mengandung, sehingga sebelum anaknya lahir ia tidak akan dapat banyak berbuat.

Karena itu, maka akhirnya laki-laki yang diaku sebagai ayah Warsi di Tanah Perdikan Sembojan itu pun tidak melihat cara lain kecuali yang akan dilakukan oleh ayah Warsi, menghubungi salah seorang dari keluarga Kalamerta yang dianggap memiliki kelebihan.

Setelah bersiap-siap, maka ayah Warsi itu pun kemudian berangkat ke kaki Gunung Kukusan. Waktu yang ada padanya hanyalah sebulan saja sebelum ia harus berusaha kembali ke Tanah Perdikan Sembojan. Karena itu, ia harus mempergunakan waktu itu sebaik-baiknya. Sedangkan laki-laki yang mengakui sebagai ayah Warsi itu pun telah berusaha untuk menemukan seseorang di antara beberapa orang kawannya untuk ikut ke Tanah Perdikan Sembojan pada saat-saat keadaan Tanah Perdikan Sembojan menjadi semakin hangat.

Namun dalam pada itu, Warsi sendiri sedang dicengkam oleh kecemasan. Ia tidak ingin kandungannya itu terganggu. Namun di Tanah Perdikan Sembojan benar-benar tidak ada lagi kekuatan yang dapat diandalkan. Perampok-perampok itu dengan leluasa dapat menerkam korbannya. Bahkan di antaranya adalah pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan itu sendiri. Tetapi jika tergesa-gesa menyatakan dirinya yang sebenarnya, maka untuk menghadapi benturan kekerasan, ia mencemaskan kandungannya. Juga karena Wiradana ternyata masih belum dapat menyelesaikan persoalannya untuk mendapatkan wisuda sebagai Kepala Tanah Perdikan yang sah.

Dengan demikian, maka untuk sementara yang dapat dilakukan oleh Warsi adalah sekadar mendorong agar ia bekerja keras untuk meningkatkan kemampuan pengawal-pengawalnya dan dirinya sendiri.

“Tetapi jangan terlalu memaksa diri kakang,” berkata Warsi dengan nada lembut seorang istri.

Ki Wiradana mengangguk kecil. Baginya Warsi adalah seorang istri yang penuh dengan kasih sayang. Yang berusaha untuk berbuat sebaik-baiknya bagi suaminya dan yang menjaga agar keadaan suaminya tidak menjadi memburuk karena kerja yang terlalu keras. Yang selalu meredakan setiap ketegangan yang mencekam dan yang sama sekali tidak mementingkan diri sendiri, karena apapun yang dilakukan semata-mata bagi kepentingan suaminya saja.

Karena itu, bagi Wiradana, Warsi adalah seorang isteri yang sangat baik, yang merasa bahwa dirinya berasal dari perempuan yang derajatnya tidak seimbang karena seakan-akan Wiradana telah memungutnya dari pinggir jalan dan bahkan telah mengorbankan istrinya yang terdahulu.

Dengan dugaan-dugaan yang demikian, rasa-rasanya Wiradana menjadi semakin sayang dan bahkan didorong oleh perasaan iba dan belas kasihan, ia menganggap bahwa Warsi adalah seorang istri yang sebaik-baiknya. Apalagi setelah perempuan itu mengandung.

Namun dengan demikian, maka Wiradana lah yang ingin segala sesuatunya cepat sekali. Ia ingin membuat istrinya menjadi sangat gembira bahwa pada saatnya lahir, ia sudah diwisuda menjadi Kepala Tanah Perdikan Sembojan. Bukan lagi sekadar pemangku jabatan .

Tetapi agaknya ia masih harus menempuh jalan yang berliku untuk sampai kepada keinginannya itu.

Dalam pada itu, Wiradana mulai melihat istrinya mempersiapkan perlengkapan bagi bayinya yang akan lahir kelak. Warsi sudah mulai membuat kain popok dan menyiapkan bothekan.

“Bukankah waktunya masih agak lama?” bertanya Wiradana.

“Tetapi membuat perlengkapan begini memang memerlukan waktu yang agak lama kakang,” sahut istrinya.

“Bukankah masih ada waktu setengah tahun lagi,” berkata Ki Wiradana pula.

“Memang waktu rasa-rasanya masih panjang. Tetapi jika saatnya datang, rasa-rasanya semuanya akan tergesa-gesa,” jawab istrinya.

Wiradana hanya mengangguk-angguk saja. Tetapi rasa-rasanya hatinya menjadi semakin membengkak ketika ia melihat istrinya dengan tekun dan bersungguh-sungguh menyambut kedatangan bayinya meskipun masih setengah tahun mendatang.

Sementara itu, Wiradana masih juga bekerja keras dengan pengawal khususnya.

Namun usahanya itu tidak sia-sia. Pengawal khususnya memang menjadi sekelompok pengawal pilihan.

Pengawal pilihan itulah yang kemudian mendapat tugas dari Ki Wiradana untuk mengembangkan kemampuannya kepada para pengawal di setiap padukuhan, sehingga dengan demikian, maka jajaran pengawal Tanah Perdikan Sembojan termasuk kesatuan pengawal yang kuat dan trampil.

Namun dalam pada itu, sebagaimana pernah dibicarakan dengan Ki Tumenggung Wirajaya, bahwa pada permulaan bulan berikutnya dari saat Ki Wiradana menghadap, maka Ki Wiradana itu akan datang lagi menghadap Ki Tumenggung. Mungkin memang belum ada yang dapat dilakukan oleh Ki Tumenggung karena keadaan yang tiba-tiba saja mencengkam keluarga Adipati Pajang dengan gugurnya Kanjeng Sultan Demak.

Namun mungkin ada sela-sela waktu yang didapatkannya untuk membicarakan kemungkinan-kemungkinan yang dapat dilakukan di Tanah Perdikan Sembojan.

Karena itu, maka ketika bulan muda sudah datang dan memasuki peredarannya, Ki Wiradana telah membicarakan kemungkinan untuk sekali lagi menghadap Ki Wirajaya sebagaimana pernah dibicarakan sebelumnya.

“Memang mungkin aku belum akan mendapatkan penyelesaian yang tuntas,” berkata Ki Wiradana. “Tetapi setidak-tidaknya aku akan dapat mengingatkan ki Tumenggung jika Ki Tumenggung belum sempat membicarakannya dengan Kanjeng Adipati.”

“Tetapi perjalanan ke Pajang ternyata berbahaya kakang,” berkata Warsi.

“Aku akan membawa pengawal lebih banyak lagi,” berkata Ki Wiradana. “Dengan demikian, maka tidak akan ada orang yang akan mengganggu perjalananku.”

Warsi termangu-mangu. Sebenarnyalah bahwa ia cemas jika Wiradana akan mengalami kesulitan di perjalanan. Jika para penjahat itu menginginkan kematiannya, maka agaknya hal itu akan dapat dilakukannya. Tetapi dengan pengawal yang lebih

banyak, memang mungkin perjalanan Ki Wiradana akan menjadi lebih aman.

Namun mengingat keinginannya untuk mendesak, agar Ki Wiradana segera diwisuda, Warsi justru ingin mendorongnya agar Ki Wiradana segera berangkat dan menyelesaikan persoalannya. Sehingga pada saat anaknya lahir, Ki Wiradana benar-benar sudah seorang Kepala Tanah Perdikan yang sah. Dengan demikian, maka jika ia ingin menguasainya, maka persoalannya tidak lagi akan menyangkut dengan hari-hari wisudanya.

Akhirnya Warsi memilih untuk membiarkan Ki Wiradana pergi dengan pengawal yang lebih banyak lagi. Apalagi pengawal-pengawal itu telah mengadakan latihan hampir setiap hari dengan tekun dan bersungguh-sungguh.

Sambil menunggu kedatangan saudagar emas permata yang memberikan batas waktu sebulan sejak ia meninggalkan Tanah Perdikan, maka Ki Wiradana pun telah memutuskan untuk sekali lagi menghadap kepada Ki Tumenggung Wirajaya sebagaimana dikatakannya pada waktu ia menghadap untuk pertama kalinya.

Pada saat-saat Ki Wiradana siap untuk berangkat, maka ia sudah mengatur para penjaganya sebaik-baiknya. Ia sudah menentukan apa yang harus mereka lakukan jika terjadi sesuatu.

Namun menjelang Ki Wiradana siap untuk berangkat, maka di rumah Ki Wiradana telah kedatangan dua orang tamu. Seorang laki-laki yang dikenalnya sebagai ayah Warsi, bersama seorang laki-laki yang lain yang disebutnya sebagai suadara sepupunya.

Ki Wiradana menjadi gembira sekali. Justru pada saat ia akan meninggalkan istrinya yang sedang mengandung, maka orang yang dianggapnya mertuanya itu telah datang.

“Kebetulan sekali ayah,” berkata Wiradana setelah ia menanyakan keselamatan ayahnya, “Aku justru telah bersiap-siap untuk pergi ke Pajang. Dengan demikian maka Warsi tidak jadi berada di rumah sendiri, karena ayah akan berada di sini sampai paling sedikit, saatnya aku datang.”

“Ternyata satu kebetulan yang baik,” berkata laki-laki itu. “Tetapi apakah Ki Wiradana akan pergi untuk waktu yang lama?”

“Tidak ayah. Aku hanya akan meyakinkan penyelesaian wisudaku menjadi Kepala Tanah Perdikan yang sampai saat ini ternyata masih belum dapat dilaksanakan,” jawab Ki Wiradana.

“Baiklah. Aku akan berada disini sampai kau kembali,” sahut laki-laki itu.

“Tetapi Ki Wiradana akan pergi kira-kira berapa hari?”

“Antara empat sampai lima hari saja ayah,” jawab Ki Wiradana. “Dalam waktu itu mungkin aku sudah mendapatkan kejelasan meskipun mungkin masih ada tenggang waktu dari pelaksanaan wisuda itu sendiri. Tetapi aku memerlukan kepastian.

Karena anakku akan lahir kira-kira setengah tahun lagi.”

“Pergilah,” berkata laki-laki itu, “Selama itu, bahkan mungkin sesudah kau kembali, aku akan berada di tempat ini, membantu Warsi yang mungkin memerlukannya.”

Dengan demikian, Ki Wiradana menjadi semakin longgar perasaannya untuk meninggalkan istrinya, karena ayah mertuanya dan seorang saudara sepupunya akan berada di rumahnya.

Demikianlah, pada hari yang sudah ditentukan, Wiradana pergi ke Pajang. Ia tidak hanya dikawal oleh empat orang tetapi ia membawa tujuh orang pengawal yang terpecah. Tiga orang bersamanya dan empat orang yang lain akan berkuda beberapa puluh langkah di belakangnya. Selebihnya, Ki Wiradana telah memilih jalan yang tidak terlalu banyak dilalui orang, sehingga dengan demikian maka kemungkinan perjalanannya diketahui orang-orang yang bermaksud jahat menjadi berkurang.

Sementara Ki Wiradana menempuh perjalanan ke Pajang, maka ayah Warsi yang sebenarnya telah berada di padepokan pamannya, di kaki Gunung Kukusan. Bahkan ia sudah mengutarakan semua persoalan yang dihadapi Warsi sebagai keponakan Kalamerta dan yang telah berhasil membunuh orang yang telah membunuh Kalamerta itu sendiri.

“Saat ini ia memerlukan bantuan untuk mewujudkan keinginannya sampai kepada anak keturunannya,” berkata ayah Warsi kepada pamannya.

Pamannya, seorang pertapa di lereng Gunung Kukusan mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Kalian tidak membicarakannya dengan aku sebelumnya. Kalian tidak pernah datang berkunjung ketempat ini. Kalian hanya memberitahukan kematian Kalamerta. Sesudah itu tidak ada apa-apa lagi. Sekarang tiba-tiba saja kau datang dengan persoalan yang sudah menjadi rumit karena pokal anakmu.”

“Tetapi Warsi mempunyai perhitungan buat masa depan bagi keturunannya,” berkata ayahnya.

“Dan ia menyerahkan dirinya kepada seorang laki-laki hanya karena ia menginginkan anaknya kelak menjadi Kepala Tanah Perdikan Sembojan? Apakah itu tidak sama artinya dengan perempuan-perempuan yang menyerahkan dirinya kepada laki-laki untuk mendapatkan harta benda dan kekayaan?” bertanya pamannya.

“Jangan menilai begitu terhadap Warsi paman,” berkata ayah Warsi. “Paman tentu mengenal keluarga Kalamerta sebaik-baiknya. Apa yang kami kerjakan dan apa pula yang kami inginkan.”

“Ya. Aku kenal gerombolan Kalamerta sebagai gerombolan perampok yang garang,” berkata pertapa di kaki Gunung Kukusan itu.

“Jika pada suatu saat, keturunan Warsi dapat menjadi seorang yang terpandang, maka aku kira cara untuk mencari harta dan kekayaan yang demikian itu tidak akan terjadi lagi bagi keturunan keluarga Kalamerta,” jawab ayah Warsi. Lalu, “Namun satu hal yang paman harus mengetahuinya, bahwa Warsi memang sudah jatuh cinta kepada laki-laki yang sebelumnya ingin dibunuhnya itu. Dan perasaan itulah yang pertama-tama tumbuh di hati Warsi. Baru kemudian ia ingin anaknya menjadi Kepala Tanah Perdikan Sembojan. Karena itu maka dugaan paman tentang Warsi tidak seluruhnya benar.”

Petapa di kaki Gunung Kukusan itu mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Sebenarnya aku tidak berkeberatan melibatkan diri dalam persoala Warsi. Tetapi pada saat ini, aku mempunyai sebuah persoalan tersendiri, yang juga memerlukan penyelesaian. Bahkan segera.”

“Persoalan apa paman?” bertanya ayah Warsi.

“Apakah kau sudah mendengar bahwa Kanjeng Sultan Demak gugur di peperangan, meskipun tidak sedang berada di medan?” bertanya petapa itu.

“Ya paman. Aku mendengarnya ketika aku berada di Sembojan,” jawab ayah Warsi.

“Nah, jika demikian, maka kau perlu mengetahui bahwa tahta yang kosong itu telah menumbuhkan persoalan. Keluarga Kanjeng Sultan Demak mulai mempersoalkan, siapakah yang akan menggantikan kedudukan Kanjeng Sultan. Namun satu hal yang perlu kau ketahui, bahwa ada garis keturunan yang lain yang juga berhak atas tahta Demak,” berkata petapa itu.

“Siapa paman?” bertanya ayah Warsi.

“Putera Pangeran Sekar Seda Lepen. Arya Penangsang dari Jipang,” jawab pertapa itu.

Ayah Warsi mengerutkan keningnya. Namun demikian katanya, “Tetapi apakah hal itu ada hubungannya dengan persoalan paman?”

Pertapa itu tersenyum. Katanya, “Aku adalah pengikut Adipati Jipang yang setia. Aku mempunyai hubungan yang sangat erat dengan Ki Patih Mantahun, pepatih Kadipaten Jipang.”

Ayah Warsi menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk ia berdesis, “Paman akan menghubungkan persoalan itu dengan kedudukan Warsi di Sembojan?”

“Ya. Aku akan berada di Sembojan. Tetapi dalam rangka mempersiapkan Sembojan menjadi alas perjuangan Adipati Jipang. Jika benar terjadi perang antara Jipang dan keluarga Sultan Demak yang lain termasuk Adipati Pajang maka Sembojan akan merupakan tempat berpijak yang sangat baik untuk menghadapi Pajang. Sementara itu Arya Penangsang akan mempersiapkan pancadan perjuangan menghadapi Cirebon dan sisa kekuatan di Demak sendiri,” berkata petapa itu.

Ayah Warsi mengangguk-angguk. Baginya sama sekali tidak ada keberatan apapun juga, seandainya Sembojan berada di pihak Jipang jika benar-benar terjadi permusuhan. Tetapi bagaimana dengan Ki Wiradana sendiri. Selama ini Sembojan merupakan salah satu wilayah Pajang. Daerah Tanah Perdikan yang luas yang membentang di bagian Timur Pegunungan Sewu di pesisir Selatan. Jipang yang jauh dari Pajang memang memerlukan tempat berpijak. Meskipun Sembojan juga tidak terlalu dekat dari Pajang, tetapi letaknya yang di arah Selatan itu akan dapat memberikan banyak bantuan. Selain bantuan pangan, mungkin di Sembojan terdapat anak-anak muda yang bersedia berjuang bagi Jipang.

Petapa di kaki Gunung Kukusan itu pun kemudian berkata, “Sembojan akan menjadi sangat penting artinya. Bukankah di Sembojan terdapat tanah yang subur? Dalam perang yang mungkin akan berlangsung lama kita harus menyediakan sumber-sumber pangan untuk mendukung perjuangan itu. Bahkan mungkin di Tanah Perdikan Sembojan terdapat orang-orang yang berotak waras, yang melihat sejarah keturunan raja-raja di Demak dengan lebih cermat. Sebenarnyalah bahwa Adipati Jipang mempunyai hak dan wewenang yang paling besar untuk menduduki tahta Demak sepeninggal Trenggana. Karena ayahandalah yang sebenarnya berhak untuk menjadi Sultan di Demak seandainya ia mendapat gelar setelah terbunuh dengan Pangeran Sekar Seda Lepen. Dan keluarga pengkhianat itulah yang kemudian berhasil menduduki tahta Demak. Nah, apakah hal itu akan dapat dibiarkan berkelanjutan?

Sudah waktunya tahta itu kembali kepada yang sebenarnya berhak. Arya Penangsang dari Jipang.”

Ayah Warsi itu mengangguk-angguk. Jika demikian, maka persoalannya menjadi semakin luas. Tidak lagi persoalan antara keluarga Kalamerta dan keluarga Ki Gede di Tanah Perdikan Sembojan serta kesulitan untuk mendapatkan kesempatan wisuda karena pertanda kuasa yang belum diketemukan. Namun persoalannya telah menyangkut hubungan antara Pajang dan Demak, bahkan dengan Jipang. Jika Wiradana menyetujui sikap pamannya, maka berarti bahwa Sembojan akan terseret ke dalam persoalan yang lebih besar dari persoalannya sendiri.

Meskipun demikian, ayah Warsi itu berkata kepada pamannya, “Paman, sebaiknya paman pergi ke Sembojan. Paman akan dapat bertemu dan berbicara di antara kami yang berada di Sembojan.”

Pamannya itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Jadi aku harus memasuki satu arena permainan yang membingungkan itu?”

“Jika paman sudah berada di Sembojan untuk beberapa hari, maka paman tidak akan mengalami kebingungan lagi. Semuanya akan berjalan sebagaimana sewajarnya,” berkata ayah Warsi. “Di Sembojan kita akan dapat menentukan segala-galanya.

Karena sebenarnya Warsi menghadapi lawan yang cukup berat. Warsi mempunyai dugaan bahwa perampok-perampok itu bukannya sekadar perampok yang menginginkan harta benda. Tetapi mereka tersangkut dalam satu kelompok yang memang menginginkan kegoyangan pemerintahan Tanah Perdikan yang dipimpin oleh Ki Wiradana. Menurut dugaan Warsi, mereka adalah orang-orang yang setia kepada Nyai Wiradana yang lama, yang mungkin masih belum terbunuh sebagaimana diduga oleh Ki Wiradana sendiri.

Paman ayah Warsi itu mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Baiklah. Aku akan pergi ke Sembojan. Kemudian aku akan menghubungi para pengikut Adipati Jipang. Aku berharap, bahwa sebelum aku pergi ke Sembojan aku dapat berpesan agar salah seorang dari petugas Sandi Jipang dapat pergi ke Sembojan menemui aku.”

“Jika demikian, apakah paman dapat pergi bersamaku?” bertanya ayah Warsi.

“Aku juga harus datang ke Sembojan sebagai seorang pedagang?” bertanya pertapa itu.

“Tidak. Paman datang benar-benar sebagai kakek Warsi,” jawab ayah Warsi.

“Tetapi Warsi sudah mempunyai ayah lain sebagaimana kau ceriterakan,” sahut pertapa itu. “Bahkan seandainya aku adalah kakek Warsi, bagaimana alasannya bahwa aku dapat datang bersama kau.”

“Kita tidak dapat bersamaan. Paman dapat langsung menuju ke rumah Warsi.

Sementara itu, aku akan langsung pergi ke penginapan yang sudah kami sepakati sebelumnya untuk menjadi tempat menjebak perampok-perampok itu. Bahkan mungkin paman akan dapat membantu kami menangkap perampok itu. Jika kami dapat menangkap seorang saja di antara mereka, maka aku kira, segalanya akan terungkap termasuk penari yang mirip sekali dengan Nyai Wiradana, apabila pendapat Warsi tentang orang-orang yang mengganggu Tanah Perdikan itu benar,” berkata ayah Warsi.

Pamannya yang tinggal di sebuah Padepokan di Kaki Gunung Kukusan itu pun mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku akan pergi ke Sembojan. Aku akan menjajagi kemungkinan untuk menjadikan Sembojan salah satu landasan bagi perjuangan Arya Penangsang disisi Selatan tanah ini. Tetapi sebelumnya ajari aku untuk mengenali tokoh-tokoh ceritera yang hidup di negeri Sembojan itu, agar aku tidak salah sebut dan tidak salah ucap. Adalah satu ceritera yang lucu jika aku ternyata tidak mengenali orang yang disebut ayah Warsi itu, justru adalah kakeknya.”

“Paman tentu sudah mengenalnya. Ia pernah datang kemari,” berkata ayah Warsi.

“Mudah-mudahan aku tidak salah pilih,” berkata pamannya.

“Agaknya lebih baik aku datang sehari sebelum paman. Aku akan dapat memesan Warsi, agar ia dengan cepat menempatkan peranan masing-masing pada susunan yang seharusnya,” berkata ayah Warsi.

“Agaknya memang lebih baik demikian,” berkata pamannya. Namun kemudian katanya, “Tetapi jika menurut katamu tidak ada orang kuat di Tanah Perdikan itu, kenapa Tanah itu tidak langsung dikuasainya saja oleh Warsi.”

“Warsi masih menunggu Ki Wiradana diwisuda, selain ia juga masih menunggu bayinya yang akan lahir,” jawab ayah Warsi.

Demikianlah maka kedua orang itu pun telah menentukan rencana berikutnya, sehingga pada saatnya segalanya akan dapat berjalan dengan lancar dan tidak akan menumbuhkan persoalan sebelum saatnya itu memang akan ditumbuhkannya.”

Dalam pada itu, Ki Wiradana yang pergi ke Pajang, telah berada di Pajang pula.

Tetapi ia tidak ingin bermalam di rumah Ki Tumenggung Wirajaya agar tidak merepotkannya. Ia bermalam di penginapan yang pernah dipergunakannya dahulu, dengan pengertian bahwa ia telah membawa pengawal lebih banyak, sehingga ia akan dapat mengatasinya jika kedua orang perampok itu masih akan merampoknya lagi.

Sementara itu tujuh orang pengawal yang pernah ikut bersamanya namun yang sudah mendapat latihan-latihan yang keras untuk meningkatkan kemampuannya meskipun dalam waktu yang terhitung singkat.

Ternyata Ki Tumenggung Wirajaya memang seorang yang ramah. Diterimanya Wiradana dengan senang hati. Bahkan sekali lagi ia menawarkan agar Wiradana bersedia bermalam di rumahnya.

“Terima kasih Tumenggung,” jawab Ki Wiradana. “Aku datang bersama beberapa orang pengawal.”

“Pengawal?” bertanya Ki Tumenggung.

Dengan singkat Ki Wiradana menceriterakan pengalamannya ketika ia kembali ke Sembojan pada saat ia menghadap yang terdahulu.

Ki Tumenggung mengangguk-angguk. Katanya, “Nampaknya orang-orang itu memanfaatkan keadaan yang mulai hangat di Demak.”

Ki Wiradana mengangguk kecil. Katanya, “Apakah ada persoalan yang timbul sepeninggal Kanjeng Sultan Demak?”

“Persoalan yang sering dihadapi. Jawab dari pertanyaan, “Siapakah yang akan menggantikannya,” jawab Ki Tumenggung.

Ki Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Ternyata tentang warisan itu memang akan dapat membakar persaudaraan. Bukan hanya orang-orang yang berderajat rendah, tetapi orang-orang yang berderajat tinggi pun sering berebut warisan. Warisan harta benda atau warisan kedudukan, atau bahkan kedua-duanya.

Namun dalam pada itu, Ki Wiradana pun segera kembali kepada persoalan tentang dirinya, “Tetapi apakah Kanjeng Adipati Hadiwijaya sudah berada kembali di Pajang?”

“Sudah Ki Wiradana. Tetapi tentu hanya untuk sesaat. Mungkin dalam waktu dekat, Kanjeng Adipati akan kembali ke Demak dalam persoalan yang sama,” jawab Ki Tumenggung.

“Jika demikian, bagaimana dengan persoalanku? Dengan kemungkinan penyelenggaraan wisuda?” bertanya Ki Wiradana.

“Aku sudah menyampaikannya kepada Kanjeng Adipati,” jawab Tumenggung.

“Namun dalam kesibukannya, maka Kanjeng Adipati hanya memerintahkan untuk menyiapkan pertanda kuasa di Tanah Perdikan Sembojan. Kanjeng Adipati masih belum dapat mengatakan, kapan wisuda itu akan dapat dilakukan, berhubung dengan kesibukan Kanjeng Adipati sendiri. Apalagi dalam persoalan ini Adipati di Jipang, Arya Penangsang telah ikut campur pula, karena ia merasa pula berhak atas tahta Demak.”

Wajah Ki Wiradana menjadi tegang. Katanya, “Dengan demikian apakah berarti bahwa mungkin dalam waktu setelah tahun ini, wisuda itu belum menemukan pertanda kuasa Tanah Perdikan itu. Pada saat ayah tidak seorang pun yang ingat akan benda yang penting bagi Tanah Perdikan Sembojan itu.”

Ki Tumenggung menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ki Wiradana. Aku sebagai seorang petugas dalam hal ini, akan selalu berusaha. Tetapi aku tentu tidak akan dapat berbuat banyak jika Kanjeng Adipati sendiri baru dalam keadaan sibuk dan tegang. Sebenarnyalah aku tidak berani mendesak sampai dua tiga kali. Nanti, jika keadaan sudah menjadi semakin baik, barulah aku akan mengulangi persoalan itu lagi.”

“Tetapi hal itu sangat penting bagi kami di Tanah Perdikan Sembojan Ki Tumenggung,” desis Ki Wiradana.

“Aku mengerti Ki Wiradana. Aku akan membantu Ki Wiradana sejauh dapat dan berani aku lakukan. Namun baiklah Ki Wiradana mengetahui, tetapi hanya untuk Ki Wiradana sendiri agar tidak menggelisahkan rakyat, bahwa Kanjeng Adipati telah memerintahkan untuk menyiapkan prajurit. Karena itu, maka dapat dibayangkan bahwa persoalannya menjadi cukup gawat,” jawab Ki Tumenggung.

Ki Wiradana menjadi berdebar-debar. Nampaknya persoalan Demak itu akan berpengaruh juga atas Tanah Perdikan Sembojan. Setidak-tidaknya bahwa saat wisudanya pun akan tertunda sampai waktu yang tidak dapat ditentukan.

Tetapi Wiradana memang merasa berada dalam kesulitan. Ki Tumenggung Wirajaya adalah orang yang sangat baik kepadanya. Ia sudah berbuat sejauh dapat dilakukan. Bahkan ternyata Ki Tumenggung telah menyampaikannya pula kepada Kanjeng Adipati tentang persoalan Tanah Perdikan Sembojan. Namun Kanjeng Adipati yang sedang dicengkam oleh persoalan di Demak itu belum dapat menentukan, apa yang akan dilakukannya.

“Jika Kanjeng Adipati sudah memerintahkan menyiapkan pasukan, maka keadaan tentu akan benar-benar gawat,” berkata Wiradana di dalam hatinya.

Karena itu, maka ia hanya dapat berkata, “Ki Tumenggung. Jadi apakah yang sebaiknya harus aku lakukan?”

“Maaf Ki Wiradana,” jawab Ki Tumenggung dengan penuh penyesalan. “Aku kira yang dapat Ki Wiradana lakukan sekarang, adalah sekadar menunggu. Selama itu, Ki Wiradana dapat mengusahakan pertanda yang hilang itu, mungkin akan dapat diketemukan. Dalam keadaan seperti ini, maka Kanjeng Adipati tentu tidak sempat memikirkan kemungkinan-kemungkinan lain daripada mempergunakan tata cara sebagaimana seharusnya berlaku.”

“Tetapi jika benda itu memang hilang Ki Tumenggung, karena ayah meninggal dalam keadaan tidak wajar?” bertanya Ki Wiradana.

Ki Tumenggung itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Memang dapat diusahakan untuk mengatasinya. Dengan beberapa orang saksi dan kesediaan beberapa orang tua di Tanah Perdikan Sembojan untuk bertanggung jawab, serta kesediaan beberapa orang pejabat di Pajang untuk ikut mempertanggung jawabkan pula, bahwa yang di wisuda adalah pewaris sah. Namun jika ditempuh cara itu, maka pelaksanaannya akan menjadi semakin rumit. Justru pada saat Kanjeng Adipati sibuk sekali seperti sekarang ini, pelaksanaannya tentu akan tertunda. Memang aku tidak dapat menyebut batasan waktu. Jika persoalan Demak cepat selesai, maka hal yang menyangkut Tanah Perdikan Sembojan pun cepat dapat diselesaikan. Tetapi jika tidak, maka mungkin persoalan Ki Wiradana pun akan tertunda. Tetapi seperti yang aku katakan, bukankah tidak ada persoalan apapun pada Ki Wiradana? Agaknya Ki Wiradana tidak mempunyai kecemasan bahwa akan terjadi perebutan kekuasan di Tanah Perdikan itu karena anak Kepala Tanah Perdikan yang terdahulu memang hanya satu. Nampaknya tidak ada pula orang yang merasa berhak atas kedudukan itu selain Ki Wiradana sendiri, sebagaimana Arya Penangsang bagi Kerajaan Demak. Bukankah sebenarnya tidak terlalu jauh berbeda kedudukan Ki Wiradana, sesudah atau sebelum diwisuda?”

Ki Wiradana memang tersentuh ke dalam satu keadaan yang sulit. Ia tidak dapat berbuat apapun atas Ki Tumenggung yang baik dan ramah itu. Namun penundaan itu akan menyusahkannya dan mungkin juga istrinya yang ingin wisuda itu dilaksanakan sebelum anaknya lahir.

Tetapi apaboleh buat. Segalanya terjadi diluar kuasa Ki Tumenggung itu sendiri, bahwa kebetulan sekali telah terjadi persoalan di Demak dan menyangkut Kanjeng Adipati Pajang.

Meskipun demikian, Ki Wiradana masih juga bertanya, “Ki Tumenggung, apakah dalam keadaan seperti ini, aku diperkenankan menghadap Kanjeng Adipati? Mungkin jika aku dapat memberikan penjelasan, Kanjeng Adipati akan bersedia memikirkannya dan melakukan langkah-langkah darurat.”

Ki Tumenggung mengerutkan keningnya. Katanya, “Mungkin aku dapat mengusahakan agar kau menghadap. Tetapi akibatnya tentu tidak akan menguntungkan Ki Wiradana, justru karena pikiran Kanjeng Sultan yang sedang kusut.”

Ki Wiradana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Aku akan mohon belas kasihannya. Mungkin agak berbeda dengan jika ia berhadapan dengan Ki Tumenggung. Berhadapan dengan yang berkepentingan, mungkin hati Kanjeng Adipati akan menjadi luluh meskipun dalam keadaan yang kusut sekalipun.”

Ki Tumenggung Wirajaya menjadi ragu-ragu. Namun ia berusaha untuk sekali lagi memperingatkan, “Tetapi hal itu akan berakibat sebaliknya. Kanjeng Adipati akan merasa selalu terdesak justru dalam keadaan yang tidak menguntungkan.”

“Aku mohon dengan sangat Ki Tumenggung,” berkata Ki Wiradana. “Bukan berarti aku tidak percaya kepada Ki Tumenggung. Tetapi semata-mata dengan perhitungan, bahwa jika Kanjeng Adipati melihat langsung keadaannku, mungkin Kanjeng Adipati akan memberikan sedikit perhatian dalam kekalutannya itu.”

Ki Tumenggung menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Baiklah. Jika kau bersikeras hati untuk menghadap, aku akan berusaha.”

Sebenarnyalah Ki Tumenggung adalah orang yang sulit untuk menolak permintaan orang lain meskipun hal itu akan dapat menyulitkan dirinya sendiri. Jika Ki Wiradana sempat menghadap maka persoalannya tidak akan menjadi semakin mudah dipecahkan. Namun ia tidak sampai hati untuk mengecewakan Ki Wiradana.

“Biarlah ia mendengar sendiri, apa yang dikatakan oleh Kanjeng Adipati,” berkata Ki Tumenggung di dalam hatinya.

Karena itu, maka katanya, “Jika demikian, baiklah Ki Wiradana harap menunggu satu dua hari. Mudah-mudahan kesempatan itu segera terbuka. Mungkin justru tidak dihari-hari paseban. Tetapi pada saat-saat khusus yang sering dipergunakan oleh Kanjeng Adipati untuk menerima persoalan-persoalan yang tidak perlu dibicarakan dalam sidang di paseban.”

“Terima kasih Ki Tumenggung. Aku akan menunggu sampai saatnya Ki Tumenggung memanggil aku. Aku berada di penginapan seperti yang pernah aku sebutkan,” sahut Ki Wiradana.

Dengan demikian, timbullah di hati Ki Wiradana harapan. Ia akan menjelaskan sebagaimana adanya. Jika Kanjeng Sultan menaruh belas kasihan atas anaknya yang akan lahir, maka Kanjeng Sultan akan dapat mengambil satu kebijaksanaan.

Namun Ki Tumenggunglah yang mengalami kesulitan. Ia menjadi ragu-ragu untuk menyampaikan permohonan Ki Wiradana kepada Kanjeng Adipati yang diketahuinya sedang dalam keadaan yang terlalu sibuk. Bukan saja secara wantah, tetapi juga kesibukan nalar dan budinya. Kanjeng Adipati memang menantu Kanjeng Sultan Demak yang paling muda. Namun beberapa pihak menganggap bahwa ia adalah salah seorang yang memiliki kelebihan dari menantu-menantu Kanjeng Sultan yang lain.

Tetapi Ki Tumenggung yang tidak dapat menolak permintaan Ki Wiradana itu, akhirnya dalam satu kesempatan memberanikan diri untuk menyampaikannya kepada Kanjeng Adipati.

“Ampun Kanjeng Adipati,” berkata Ki Tumenggung dengan suara bergetar, “Apakah hamba diperkenankan menyampaikan satu permohonan dari salah seorang hamba di Pajang?”

Adipati Pajang menurut kebiasaannya memang bukan orang yang garang. Ia banyak mendengarkan pendapat orang lain bahkan ia senang berbincang dalam waktu-waktu senggangnya dengan siapapun juga yang dianggapnya berguna baginya.

Namun dalam kekalutan itu, Kanjeng Adipati bertanya, “Siapakah yang akan menghadap dan dalam persoalan apa?”

“Ampun Kanjeng Adipati. Yang akan menghadap Ki Wiradana, pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan di Sembojan,” jawab Ki Tumenggung Wirajaya.

”Untuk apa?” wajah Kanjeng Adipati mulai berkerut.

“Sebenarnyalah hamba sudah menjelaskan tentang kedudukannya dalam hubungan permohonannya untuk diwisuda. Namun ia ingin menghadap langsung Kanjeng Adipati. Mungkin ia dapat memberikan penjelasan lebih banyak dan mungkin Kanjeng Adipati akan berbelas kasihan jika Kanjeng Adipati langsung dapat bertemu dengan orang itu,” berkata Ki Tumenggung dengan ragu.

Wajah Kanjeng Adipati Hadiwijaya itu menjadi tegang. Dengan nada datar ia bertanya, “Bukankah aku sudah memberi jawaban atas hal itu kepadamu?”

“Hamba Kanjeng Adipati. Tetapi seperti yang hamba katakan. Ki Wiradana ingin menyampaikan persoalannya langsung kepada Kanjeng Adipati,” jawab Ki Tumenggung.

“Jika demikian, jika setiap orang yang mempunyai kepentingan dengan persoalan Tanah Perdikan akan menghadap aku langsung, maka aku tidak memerlukan kau lagi Ki Tumenggung. Aku mengangkatmu dalam jabatanmu adalah agar aku tidak harus mengurusi semua persoalan yang timbul di Kadipaten ini,” jawab Kanjeng Adipati.

Ki Tumenggung sudah mengira, bahwa ia akan mendapat jawaban yang demikian. Tetapi ia memang tidak dapat berbuat lain justru karena ia ingin berbuat sebaik-baiknya.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja Kanjeng Adipati berkata, “Tetapi baiklah suruhlah Wiradana itu menghadap. Nanti sore setelah matahari turun menjelang senja. Aku mempunyai waktu luang.”

Ki Tumenggung menjadi heran atas kesempatan yang tidak diduganya itu. Namun sebagaimana didengarnya, bahwa Ki Wiradana mendapat kesempatan untuk menghadap menjelang senja.

Karena itu, maka Ki Tumenggung kemudian mohon diri untuk menyampaikan berita itu kepada Ki Wiradana.

Alangkah gembiranya hati Ki Wiradana. Ternyata demikian mudahnya ia mendapat kesempatan untuk menghadap. Tidak ada kesulitan apapun juga. Sekali Ki Tumenggung menyampaikan permohonannya, maka Kanjeng Adipati segera memberinya kesempatan. Tidak besok, apalagi lusa. Tetapi nanti sore menjelang senja.

Rasa-rasanya semuanya akan dengan cepat selesai. Besok ia akan pulang ke Sembojan dengan kepastian, bahwa Kanjeng Adipati sudah menentukan hari wisuda baginya, jauh sebelum anaknya itu lahir. Dengan demikian, maka ia pun akan segera dapat membenahi Tanah Perdikan Sembojan tanpa ragu-ragu lagi.

Ketika matahari mulai turun, Ki Wiradana telah berada di rumah Ki Tumenggung.

Rasa-rasanya ia tidak sabar lagi menunggu senja. Hari itu matahari menjadi seakan-akan bergerak turun lambat. Namun akhirnya waktunya datang juga. Bersama Ki Tumenggung Wirajaya, Ki Wiradana pergi ke istana Adipati Hadiwijaya di Pajang.

Seperti yang dikatakan, maka Adipati Pajang benar-benar telah menerima Ki Wiradana disebuah ruang yang khusus bagi Adipati Hadiwijaya untuk menerima orang-orang yang datang menghadap di luar paseban.

Ketika Kanjeng Adipati memasuki ruangan, maka Ki Wiradana menjadi berdebar-debar. Bahkan Ki Tumenggung pun tidak kurang berdebar-debarnya pula.

Dengan ketajaman penggraitanya, Ki Tumenggung merasakan sesuatu yang kurang wajar terhadap sikap Kanjeng Adipati yang sedang dalam suasana yang kalut karena kematian Sultan Trenggana di Demak.

Setelah beberapa saat Kanjeng Adipati duduk, barulah ia bertanya, “Apakah kau yang bernama Wiradana, pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan?”

Ki Wiradana menunduk sambil menyembah. Katanya, “Kanjeng Adipati. Hamba adalah Wiradana, pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan.”

“Apakah maksudmu mohon menghadap?” bertanya Kanjeng Adipati kemudian.

“Mungkin Ki Tumenggung Wirajaya pernah menyampaikan permohonan hamba untuk mendapatkan wisuda, karena sebenarnyalah hamba dan istri hamba sangat berharap, agar hamba telah diwisuda sebelum anak hamba itu lahir setengah tahun mendatang,” jawab Ki Wiradana.

“Jadi kau sudah menyampaikan persoalanmu kepada Ki Tumenggung Wirajaya?” bertanya Kanjeng Adipati.

“Hamba Kanjeng Adipati,” jawab Ki Wiradana.

“Lalu, apakah jawab Ki Tumenggung?” bertanya Adipati Pajang itu.

Ki Wiradana mengerutkan keningnya. Ia mulai merasakan sesuatu yang menekan jantungnya. Namun ia harus menjawab pertanyaan Kanjeng Adipati itu.

Karena itu, maka Ki Wiradana itu pun terpaksa mengatakan apa yang pernah dikatakan oleh Ki Tumenggung Wirajaya. Ia tidak dapat mengurangi atau menambah, karena Ki Tumenggung itu hadir juga di ruang itu.

Ketika Ki Wiradana selesai menyampaikan jawaban yang pernah diberikan kepadanya oleh Ki Tumenggung, maka Adipati Pajang itupun bertanya, “Jika demikian, maka aku kira persoalannya telah ditangani dan ditanggapi oleh Ki Tumenggung yang memang mempunyai tugas untuk itu. Kenapa Ki Wiradana masih memerlukan waktu untuk menghadap aku?”

“Hamba ingin memohon belas kasihan,” sahut Ki Wiradana dengan nada memelas.

“Ki Wiradana,” berkata Kanjeng Adipati Hadiwijaya, “Aku memang minta agar Ki Wiradana datang saat ini. Tetapi apa yang akan aku katakan tidak berbeda dengan apa yang sudah aku katakan kepada Ki Tumenggung Wirajaya. Sebagaimana kau ketahui, bahwa pikiranku sekarang sedang kalut. Karena itu, jangan menambah beban pada saat-saat yang begini. Ketahuilah, bahwa kau telah melakukan satu kesalahan. Untunglah bahwa Ki Tumenggung Wirajaya adalah orang yang baik hati. Jika kau berhadapan dengan orang lain, maka kau tentu sudah diusirnya dan bahkan persoalanmu akan menjadi berkepanjangan karena kau telah berusaha melangkahi wewenangnya. Karena itu, kembalilah ke Tanah Perdikan Sembojan. Tunggulah sampai Ki Tumenggung memanggilmu untuk diwisuda. Kau harus belajar dari pengalamanmu agar kau menjadi dewasa. Bukan dalam hal umur, tetapi dalam hal tataran pemerintahan.”

Jantung Ki Wiradana terasa bagaikan berhenti berdentang. Tubuhnya menjadi lemas dan keringatnya mengalir di seluruh tubuhnya.

“Jangan cemas bahwa aku akan menghukummu dengan mempersulit persoalanmu,” berkata Kanjeng Adipati, “Tetapi ketahuilah, bahwa segala sesuatunya harus dilakukan sesuai dengan paugeran. Siapkan semua uba-rampe. Baru kemudian hari wisuda itu akan ditentukan. Dengan sedikit keterangan, bahwa aku masih harus menyelesaikan persoalan Demak yang bagiku lebih penting karena menyangkut lebih banyak lingkungan dan rakyat daripada Tanah Perdikan Sembojan.”

Semua harapan yang telah ditimbun di dalam dada Ki Wiradana itupun telah larut.

Ternyata Adipati Pajang bukannya akan memberikan kesempatan kepadanya untuk mendapat wisuda sesuai dengan permohonannya, tetapi Adipati Pajang itu justru hanya sekadar ingin menunjukkan kesalahannya.

Karena itu, setelah pintu tertutup sama sekali baginya, maka ia pun bersama Ki Tumenggung mohon diri.

“Kau masih harus lebih banyak belajar,” berkata Adipati Hadiwijaya itu. “Kau harus mengendapkan gejolak keinginanmu yang tidak terkendali itu. Karena dengan demikian, justru kau akan terjerumus ke dalam kesulitan.”

Betapa Ki Wiradana menyesali perbuatannya, namun sebenarnyalah bahwa Ki Tumenggung Wirajaya adalah orang yang baik. Ia sama sekali tidak ikut pula menyalahkan Ki Wiradana. Bahkan ia kemudian berusaha untuk meringankan beban perasaan Ki Wiradana. “Sudahlah. Jangan kau risaukan. Nanti jika persoalan Kanjeng Adipati dengan Demak itu selesai, maka akulah yang akan menyampaikannya sekali lagi.”

“Tetapi kapan?” bertanya Ki Wiradana.

“Itulah yang tidak aku ketahui. Dan bahkan Kanjeng Adipati sendiri pun tidak mengetahuinya,” jawab Ki Tumenggung.

Ki Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Rasa-rasanya ia sudah tidak mempunyai harapan lagi untuk dapat memenuhi keinginannya, diwisuda sebelum anaknya lahir.

Ki Tumenggung yang melihat kekecewaan membayang di wajah Ki Wiradana itu pun berkata, “Sekali lagi aku ingin memperingatkanmu, Ki Wiradana. Bahwa kedudukanmu sekarang dengan sesudah diwisuda tidak akan jauh berbeda. Bagimu tidak akan ada orang yang mengganggumu dan merasa dirinya juga berhak atas Tanah Perdikan Sembojan sehingga sebenarnya kau tidak perlu merisaukannya.”

Ki Wiradana mengangguk-angguk. Ia pun mencoba untuk mengurangi perasaan kecewanya dengan menekan pengertian seperti yang dikatakan oleh Ki Tumenggung itu.

Dengan demikian maka Ki Wiradana menganggap tidak perlu lagi untuk berada di Pajang lebih lama. Ia sudah menentukan, bahwa keesokan harinya, ia akan kembali ke Tanah Perdikan Sembojan.

Ketika ia menyampaikan hasil pertemuannya dengan Kanjeng Adipati, maka para pengawalnya pun menjadi kecewa. Mereka sebenarnya berdoa agar Ki Wiradana cepat diwisuda, karena dengan demikian, mereka pun akan menerima hadiah dari pemimpinnya yang masih terhitung muda itu. Namun ternyata bahwa keinginan itu akan tetap menjadi keinginan saja.

Namun dalam pada itu, pada hari-hari terakhir ia berada di Pajang, maka Ki Wiradana memang melihat beberapa kesibukan yang tidak dilihat sebelumnya. Ia melihat prajurit berkuda yang hilir mudik di jalan-jalan raya. Bahkan di penginapan-penginapan telah terjadi semacam pemeriksaan terhadap orang-orang yang bermalam. Masing-masing mendapat beberapa pertanyaan yang harus dijawab dengan meyakinkan.

Ketika sekelompok peronda datang ke penginapan Ki Wiradana, maka mereka memang menjadi curiga melihat beberapa orang yang berasal dari Tanah Perdikan Sembojan bermalam. Namun Ki Wiradana yang langsung menghadapi para peronda itu berhasil meyakinkan tentang yang dikatakannya.

“Jika kalian meragukan keteranganku, kalian dapat bertemu dengan Ki Tumenggung Wirajaya atau bertanya langsung kepada Kanjeng Adipati,” berkata Ki Wiradana.

Para peronda itu ternyata mempercayainya sehingga mereka tidak mengganggu Ki Wiradana dengan tujuh orang pengawalnya.

Namun dalam pada itu, di bagian lain dari penginapan itu, justru pada bagian yang sering dipergunakan oleh para saudagar dan orang-orang yang mempunyai banyak bekal perjalanan, yaitu pada sebuah bilik, telah terjadi keributan.

Sekelompok peronda itu yang dipimpin oleh seorang lurah prajurit menemukan seseorang yang dianggap mencurigakan. Apalagi ternyata ketika salah seorang dari para prajurit itu justru telah dapat mengenalinya.

“He, bukankah kita pernah bertemu di Demak. Pada waktu aku bertugas mengawal Kanjeng Adipati Hadiwijaya di Pajang. Aku tidak pernah dapat melupakanmu karena kita waktu itu terlibat kedalam satu persoalan sehingga hampir saja terjadi bentrokan di antara kita di Demak. Di warung itu kau agaknya memang sedang mabuk. Sehingga kau mengigau tentang kedudukan yang seharusnya berada di tangan Arya Penangsang,” berkata prajurit itu. “Sehingga ketika aku mencegah kau membuat kerusakan di warung itu, kita terlibat dalam perselisihan. Untunglah pada waktu itu sekelompok peronda dari Demak telah melerai kita, sehingga persoalan yang hampir saja menyala menjadi benturan kekerasan itu dapat dihindarkan. Sementara kau waktu itu telah diserahkan kepada kawan-kawan yang kemudian datang. Para pengawal Adipati Jipang.”

Wajah orang itu menjadi tegang. Namun kemudian ia berkata, “Aku memang prajurit Jipang. Tetapi apa salahku di sini. Aku sedang dalam perjalanan menengok salah seorang saudaraku yang sedang sakit di sebuah padukuhan di sebelah Selatan Pajang.”

“Di padukuhan mana?” bertanya prajurit itu.

“Kali Pancer,” jawab prajurit Jipang itu. “Jika kau tidak percaya, marilah, besok kita pergi ke Kali Pancer.”

Para prajurit peronda itu termangu-mangu sejenak menghadapi seorang prajurit Jipang itu. Namun akhirnya lurah prajurit itu berkata, “Baiklah Ki Sanak. Jika kau memang prajurit Jipang dan tidak berniat untuk berbuat sesuatu yang tidak kami inginkan di sini, maka kami ingin mempersilakan ki Sanak bermalam tidak disini.”

“Kenapa?” bertanya prajurit itu.

“Untuk kepentingan keamanan Ki Sanak sendiri. Marilah, ikut kami ke barak. Ki Sanak akan dapat bermalam disana. Besok Ki Sanak akan dengan leluasa melanjutkan perjalanan menuju ke Kali Pancer. Di sebelah Selatan Pajang memang ada sebuah padukuhan yang bernama Kali Pancer,” berkata lurah prajurit Pajang yang sedang meronda itu.

“Aku tidak mengerti maksdmu,” berkata prajurit Jipang itu. “Apakah itu berarti bahwa kalian ingin menangkapku?”

“Sama sekali tidak,” jawab lurah prajurit itu. “Tetapi kau tentu mengetahui suasana yang sekarang sedang kemelut ini.”

“Yang kemelut adalah persoalan orang-orang besar. Tetapi orang-orang kecil sekali seperti aku ini, tentu sama sekali tidak berkepentingan apapun juga,” berkata prajurit itu.

“Karena itu, marilah. Sebaiknya kau bermalam di barak saja,” berkata lurah prajurit Pajang.

“Kau aneh,” sahut prajurit Jipang. “Sebaiknya kau tidak perlu mengurusi aku. Biar saja aku bermalam dimanapun.”

Lurah prajurit itu mengerutkan keningnya. Katanya, “Kau jangan berprasangka buruk. Prajurit Pajang bukan prajurit liar yang akan berbuat sekehendak sendiri. Tetapi kami berbuat di atas landasan paugeran. Karena itu, jangan cemas. Kami tidak ingin berbuat apa-apa. Kami hanya ingin agar tidak terjadi sesuatu atas kau di sini. Karena bagaimana pun juga, tentu ada orang yang akan dapat memancing di air keruh, justru pada saat kau berada di Pajang. Disebuah penginapan dengan gaya seorang perwira atau seorang saudagar yang kaya raya, karena kau telah memilih sebuah ruangan khusus yang mahal.”

Prajurit Jipang itu menjadi tegang. Ia memang pantas untuk dicurigai. Selain ia tidak mengenakan pakaian kelengkapan seorang prajurit Jipang, ia memang berada di tempat yang jarang dipergunakan bagi orang kebanyakan. Biasanya orang-orang yang tidak mempunyai banyak uang akan bermalam di tempat yang terbuka di penginapan itu.

Apalagi kebiasaan orang menempuh perjalanan biasa, yang kemalaman di jalan, tidak bermalam di penginapan. Tetapi di banjar-banjar padukuhan. Apalagi padukuhan yang disebut Kali Pancer adalah padukuhan yang sudah tidak jauh lagi dari penginapan itu sehingga apabila ia benar ingin pergi ke Kali Pancer, maka ia tidak akan singgah di tempat ini.

Dalam pada itu, seorang prajurit Pajang yang lain telah mendapat keterangan dari pemilik penginapan itu bahwa orang itu sama sekali tidak mengaku sebagai orang Jipang. Ia membawa seekor kuda dan datang bersama dengan orang lain yang juga bermalam di tempat itu. Namun di tempat yang dipakai oleh kebanyakan orang. Di tempat yang terbuka. Tidak di dalam bilik seperti orang itu, yang mengaku sebagai seorang saudagar.

Prajurit Pajang menjadi semakin curiga. Prajurit yang mendapat keterangan dari pemilik penginapan itu pun kemudian ikut pula menakan agar orang itu bersedia bermalam di barak para prajurit.

Orang Jipang itu akhirnya menarik nafas dalam-dalam sambil berkata, “Apaboleh buat. Kalian, orang-orang Pajang, terlalu berprasangka buruk terhadap orang lain. Sebenarnya aku tidak mempunyai sangkut paut dengan kemelut yang terjadi di Demak sekarang ini, karena aku tidak lebih dari seorang prajurit rendahan.”

“Di barak kau tidak perlu membayar seperti di penginapan ini Ki Sanak,” berkata lurah prajurit yang memimpin sekelompok kawan-kawan yang sedang meronda itu.

“Orang Jipang itu tidak keluar dengan membawa barang banyak.”

 Prajurit Jipang itu mengerutkan keningnya. Sementara itu lurah prajurit Pajang itu berkata selanjutnya, “Bayaran yang terlalu tinggi bagi seorang prajurit rendahan seperti Ki Sanak ini. Bahkan mungkin tidak akan terjangkau.”

Wajah prajurit Jipang itu menegang. Ia merasakan tajamnya sindiran lurah prajurit Pajang itu. Tetapi orang Jipang itu sama sekali tidak menanggapinya.

Bahkan ia berkata, “Baiklah. Aku akan mengikut kalian. Tetapi sewa bilik di hari ini akan menjadi tanggungan kalian karena aku tidak mempergunakannya seutuhnya.”

 “Kami akan membicarakannya dengan pemilik penginapan ini,” berkata lurah prajurit Pajang. “Tentu ia tidak akan berkeberatan untuk membebaskanmu dari kewajiban membayar sewa bilik ini.”

“Tunggulah sejenak,” berkata prajurit Jipang itu. “Aku akan membenahi barang-barangku.”

Orang Jipang itu pun kemudian masuk ke dalam biliknya, sementara dua orang prajurit itu bergeser memperhatikan keadaan di ruangan terbuka dari penginapan itu.

Ki Wiradana dan para pengawalnya sama sekali tidak ikut campur dalam persoalan itu. Namun kesan yang mereka dapatkan adalah, bahwa persoalan antara Pajang dan Jipang dalam hubungannya dengan kekosongan di Demak menjadi agak meruncing.

Meskipun Kanjeng Adipati Pajang tidak mengumumkan secara terbuka agar tidak menggelisahkan rakyatnya, tetapi para prajurit telah mendapat perintah untuk bersiaga sepenuhnya seperti dikatakan oleh Ki Tumenggung Wirajaya.

Sejenak kemudian, pintu bilik itu pun telah bergerak. Tetapi yang terjadi benar-benar sangat mengejutkan. Ternyata orang Jipang itu tidak keluar dengan membawa barang-barangnya untuk pergi ke barak. Tetapi dengan tiba-tiba saja ia sudah menyerang prajurit Pajang yang berada di muka pintu biliknya.

Serangan itu demikian tiba-tiba sehingga kedua prajurit itu sama sekali tidak siap untuk melawan.

Demikian pedang terjulur dari bilik pintu, maka kedua prajurit itu berusaha untuk menghindar. Namun ujung pedang itu ternyata sempat memburunya dan mengoyak kulit dagingnya.

Pada serangan pertama, kedua prajurit itu sudah terluka. Yang seorang lambungnya sobek melintang, sedang yang lain dadanya terpatuk ujung pedang melubangi dagingnya. Untunglah bahwa ujung pedang itu tidak memotong jantungnya.

Tetapi kedua prajurit itu pun telah terjatuh dan tidak berdaya lagi untuk melawannya.

Sementara itu, orang-orang yang menginap di penginapan itu pun telah menjerit hampir berbareng. Terutama perempuan-perempuan yang berjualan hasil bumi dan bermalam di penginapan itu.

Para peronda yang lain pun perhatiannya segera tertarik pula kepada peristiwa yang tiba-tiba itu. Karena itu, maka mereka pun dengan tangkasnya berloncatan dengan senjata yang sudah siap berada di tangan.

Sementara itu, prajurit Jipang telah melukai kedua prajurit Pajang sehingga keduanya tidak lagi mampu bangkit dengan darah yang membasahi lantai penginapan itu berdiri tegak dengan pedang yang telah menjadi merah oleh darah kedua orang korbannya.

Namun yang kemudian berada dihadapannya bukan lagi hanya dua orang, tetapi empat orang prajurit yang sudah bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Namun yang terjadi kemudian sekali lagi telah membuat orang-orang yang ada di dalam bilik itu terkejut. Ternyata serangan berikutnya tidak datang dari orang yang berdiri di depan pintu itu. Seseorang yang berada di antara orang-orang yang berada di ruang terbuka penginapan itu telah menyergap orang-orang yang sudah siap menghadapi prajurit Jipang yang berada di depan pintu itu.

Sergapan yang tiba-tiba itu sekali lagi telah menelan korban. Dua orang terlempar dan jatuh berguling di lantai. Darah memancar dari luka tubuhnya.

Serangan yang tiba-tiba itu benar-benar telah berhasil dengan baik. Yang kemudian bersiap menghadapi segala kemungkinan tinggal dua orang saja di antara para peronda itu.

Tetapi selanjutnya tidak terjadi pertempuran di antara mereka. Dua orang yang telah melukai prajurit Pajang itu tiba-tiba saja telah menghambur keluar dari penginapan itu, menyusup ke dalam gelap.

Kedua orang prajurit Pajang itu telah berusaha untuk memburunya. Namun yang terdengar kemudian adalah derap kaki-kaki kuda.

“Tahan mereka,” teriak kedua orang prajurit itu hampir bersamaan.

Tetapi tidak seorang pun yang melakukannya.

Ketika salah seorang di antara dua orang prajurit itu siap turun ke halaman untuk berlari ke arah kudanya, maka yang seorang di antara mereka, yang ternyata adalah lurah prajurit peronda itu menahannya sambil berkata, “Kau bunyikan saja tanda bahaya. Biarlah aku yang mencoba mengikutinya. Mungkin aku dapat mencapai mereka sebelum mereka keluar dari gerbang.”

Prajurit itu mengurungkan niatnya. Sementara itu lurah prajurit itulah yang kemudian meloncat ke atas punggung kudanya dan berusaha mengejar orang-orang yang melarikan itu.

Sejenak kemudian terdengar suara kentongan yang mengoyak sepinya malam. Suara kentongan yang kemudian disaut oleh suara kentongan yang lain, sehingga akhirnya bergema diseluruh Pajang.

Sementara itu kaki-kaki kuda telah berderap di jalan-jalan kota. Namun lurah prajurit yang mengejar dua orang prajurit Jipang itu ternyata telah kehilangan arah. Ketika ia berusaha menyusul dan berbelok di tikungan, ternyata keduanya bagaikan telah menghilang dihisap bumi.

Untuk beberapa lamanya lurah prajurit yang memimpin kelompok peronda itu termangu-mangu. Namun kemudian ia bergerak maju lagi. Mungkin kedua orang Jipang itu bersembunyi dicelah-celah bayangan. Sementara kudanya dibiarkan lari menghilang, atau keduanya memang sudah berhasil lolos jauh dari pengamatannya.

Ketika prajurit Pajang itu mendengar suara kuda berderap mendekat, ia pun segera bersiaga. Tetapi yang dilihatnya adalah justru prajurit Pajang pula.

“Aku kehilangan buruanku,” berkata lurah prajurit itu kepada dua orang prajurit Pajang yang mendekat.

“Mereka kemana?” bertanya salah seorang dari kedua prajurit itu.

“Mereka berbelok ke tikungan ini. Namun ketika aku berbelok juga, mereka sudah hilang. Aku tidak lagi mendengar derap kaki kuda,” jawab lurah prajurit itu.

“Siapakah yang kau kejar?” bertanya salah seorang prajurit Pajang yang baru datang, “Kami memang mendengar isyarat kentongan. Dan karena itu kami sudah memencar. Tetapi kami tidak bertemu dengan orang yang mencurigakan.”

“Tetapi mereka tentu masih berada di dalam kota,” jawab lurah prajurit itu.

“Tentu mereka belum sempat keluar ketika isyarat kentongan itu berbunyi, sehingga dengan demikian, maka para petugas di regol-regol kota akan menghentikan orang-orang yang mereka curigai yang berusaha keluar dari kota.”

Kedua orang prajurit yang baru datang itu mengangguk-angguk. Sejenak mereka berkeliling di tempat kedua orang Jipang itu hilang. Namun mereka tidak menjumpai sesuatu.

Tetapi beberapa saat kemudian, mereka telah mendengar ringkik kuda disebuah halaman yang luas tetapi nampak terlalu rimbun oleh gerumbul-gerumbul perdu.

Karena itu, maka ketiga orang prajurit Pajang itu pun segera mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan.

Ketiganya yang kemudian turun dari kuda mereka, dengan hati-hati telah memasuki halaman itu. Pada jarak beberapa langkah di antara yang seorang dengan yang lain, maka ketiganya menuju ke arah suara ringkik kuda dengan senjata telanjang di tangan.

Beberapa langkah kemudian mereka berhenti. Mereka melihat gerak pada gerumbul-gerumbul perdu. Kemudian mereka melihat seekor kuda yang termangu-mangu di dalam kegelapan.

Dengan isyarat, maka lurah prajurit itu memberitahukan kepada kawan-kawannya.

Beberapa langkah mereka maju. Namun ternyata yang mereka ketemukan kemudian hanyalah seekor kuda. Bahkan kemudian beberapa langkah ditempat yang lebih dalam seekor kuda yang lain pun berdiri kebingungan.

Untuk beberapa saat lamanya ketiga orang prajurit itu masih tetap dalam kesiagaan tertinggi. Namun setelah beberapa saat mereka mengelilingi halaman itu dan tidak menemukan orang-orang yang mereka cari, maka mereka pun menyadari, bahwa kedua orang itu tentu sudah melarikan diri dengan meninggalkan kuda mereka. Dengan tanpa menunggang kuda, mereka akan lebih mudah menyusup di antara pepohonan di halaman-halaman, kebun-kebun dan daerah-daerah pepat yang lain.

Jika mereka berhasil mencapai dinding kota, maka mereka akan dapat dengan mudah meloncat keluar, tanpa melalui pintu gerbang.

Namun dalam pada itu, kedua orang prajurit Pajang yang datang kemudian itu berkata, “Peronda sudah tersebar setelah terdengar suara isyarat kentongan. Mudah-mudahan kedua orang itu dapat dijumpai para peronda sebelum mereka keluar dari kota.

Lurah prajurit itu mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Aku akan kembali ke penginapan itu. Empat orang kawanku terluka oleh serangan yang sangat licik.”

Ternyata bahwa kedua prajurit yang datang kemudian itu pun telah mengikuti pula ke penginapan. Agaknya di tempat itu telah terdapat beberapa orang peronda yang lain, dan orang-orang yang terluka itu telah mendapatkan pertolongan seperlunya.

Namun ternyata bahwa luka mereka cukup parah. Sehingga mereka harus dibawa ke tempat perawatan bagi para prajurit yang terluka.

Malam itu, seluruh kota telah menjadi sibuk. Para prajurit berusaha untuk menemukan dua orang prajurit dari Jipang yang tentu dalam tugas sandi berada di Pajang. Tetapi ternyata kedua orang itu tidak dapat diketemukan. Keduanya seolah-olah telah lenyap tanpa bekas. Bahkan beberapa orang prajurit telah memasuki beberapa rumah yang dicurigai. Tetapi mereka tidak menemukan keduanya.

Dalam pada itu, di penginapan, lurah prajurit yang empat kawannya terluka, ternyata menyesali sikap Ki Wiradana. Dengan nada datar ia berkata, “Ki Sanak. Sebenarnya kau dapat mengambil bagian dalam peristiwa seperti ini. Jika benar kau adalah pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan, maka kau termasuk bagian dari Pajang.”

“Apa yang kau maksud Ki Sanak?” bertanya Ki Wiradana.

“Kau dapat memerintahkan pengawalmu untuk ikut menangkap orang-orang Jipang itu,” berkata lurah prajurit itu.

Ki Wiradana mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Peristiwa itu terjadi sedemikian tiba-tiba, sehingga aku tidak siap untuk berbuat sesuatu. Ketika aku sadar, maka semuanya telah terjadi.”

Lurah prajurit itu menarik nafas dalam-dalam. Ia dapat mengerti alasan itu.

Tetapi dengan demikian maka menurut penilaian lurah prajurit itu, Ki Wiradana ternyata tidak mempunyai kemampuan berbuat dan mengambil keputusan dengan cepat, pada saat-saat yang rumit. Jika ia mampu menyesuaikan dirinya, maka kedua orang Jipang itu tentu dapat ditangkap, karena Ki Wiradana itu membawa tujuh orang pengawal di samping Ki Wiradana sendiri.

Tetapi lurah prajurit itu tidak mau mempersoalkannya dengan Wiradana. Ia memang tidak mempunyai kekuasaan untuk itu.

Sementara itu, Ki Wiradana sendirilah yang merasa bahwa prajurit Pajang itu telah membuat penilaian atas dirinya. Namun segala sesuatunya telah terjadi.

“Apakah hal seperti ini akan didengar oleh Ki Tumenggung Wirajaya atau bahkan Kanjeng Adipati sendiri?” pertanyaan itu terasa mulai mengganggu perasaannya.

Karena jika demikian, maka Ki Wiradana mencemaskan bahwa akibatnya akan berpengaruh atas permohonan wisudanya.

Namun akhirnya Ki Wiradana itu menghibur dirinya sendiri, “Ki Tumenggung Wirajaya bukan kanak-kanak lagi. Ia tahu mana yang baik dilakukan dan mana yang tidak.”

Ternyata disisa malam itu, Ki Wiradana tidak dapat tidur dengan nyenyak. Ia selalu merasa gelisah. Angan-angannya selalu dibayangi oleh kegagalannya mohon untuk segera diwisuda. Namun ia pun menjadi cemas bahwa akan datang orang-orang yang akan merampoknya.

“Apakah orang-orang yang merampok aku dan saudagar permata di Tanah Perdikan Sembojan itu juga orang-orang Jipang?” pertanyaan itu pun telah timbul di dalam hatinya. Tetapi ia sulit mencari hubungan antara Jipang dan perampokan. Sudah tentu Jipang tidak akan mengumpulkan dana bagi perjuangannya memperebutkan tahta Demak dengan perampokan, karena Jipang adalah sebuah Kadipaten.

Karena Ki Wiradana tidak dapat tidur nyenyak, maka pagi-pagi benar ia sudah bangun. Para pengawalnya pun telah dibangunkannya pula.

“Kita akan berangkat sebelum matahari terbit,” berkata Ki Wiradana.

Seperti yang dikatakannya, setelah biaya penginapannya bersama tujuh pengawalnya diselesaikan, maka Ki Wiradana pun telah bersiap-siap meninggalkan penginapan itu. Penginapan yang nampaknya masih tidur nyenyak. Pedati-pedati yang berada di halaman milik orang-orang yang bermalam di penginapan itu berderet di antara dinding sampai ke dinding. Lembu-lembunya yang dilepas dari pasangan ditambatkan di halaman samping. Sedangkan di sisi penginapan itu terdapat kandang kuda yang agak besar.

Agaknya orang-orang di penginapan itu kebanyakan akan terlambat bangun karena semalam mereka terganggu oleh peristiwa yang mendebarkan, yang telah membuat empat orang prajurit Pajang terluka parah.

Ketika Ki Wiradana keluar dari kota, beberapa kali ia harus berhenti untuk diperiksa. Di gerbang kota ia tertahan cukup lama. Namun akhirnya Ki Wiradana itu diperkenankan melanjutkan perjalanan karena jawaban-jawabannya atas pertanya-an prajurit yang berjaga-jaga dapat meyakinkan mereka.

Namun demikian, meskipun Ki Wiradana dan para pengawalnya sudah terlepas dari pintu gerbang, namun mereka masih juga merasa cemas. Karena itu, mereka selalu bersiaga menghadapi segala kemungkinan. Mungkin seperti dikatakan oleh Ki Wirajaya, bahwa ada orang-orang yang dengan sengaja mempergunakan kesempatan pada saat-saat kemelut itu untuk melakukan kejahatan.

Tetapi ternyata bahwa perjalanan Ki Wiradana dan para pengawalnya tidak mengalami hambatan. Mereka dengan selamat mencapai Tanah Perdikan Sembojan.

Tanah Perdikan yang besar, yang subur di antara pegunungan yang tersebar, namun yang ngarainya tetap basah di segala musim.

Kedatangan Ki Wiradana dengan perasaan kecewa telah disambut oleh Warsi dan orang yang disangka ayahnya. Sebagaimana diperjalanan Wiradana yang selamat secara wadag, maka di Tanah Perdikan Sembojan pun tidak terdapat sesuatu yang dapat mengguncangkan ketenangannya.

Namun berita yang dibawa oleh Ki Wiradana benar-benar mengecewakan Warsi.

Apalagi ketika dengan jantung yang berdeguban Wiradana mengatakan, bahwa wisuda itu tertunda untuk waktu yang tidak diketahui. Bahkan mungkin sampai saat anaknya lahir.

Dengan singkat Wiradana menceriterakan apa yang telah terjadi di Pajang. Dengan demikian, maka Warsi akan mendapat gambaran, bahwa sebenarnyalah Pajang memang sedang kisruh.

Terasa isi dada Warsi bagaikan akan meledak. Ia ingin bertindak untuk mengatasi persoalan yang seakan-akan terputus itu. Jika ia mendapat kesempatan menghadap, maka ia tidak akan sedungu Wiradana. Ia tentu mempunyai cara untuk mengemukakan alasan-alasannya.

Tetapi Warsi tidak dapat melakukannya. Selama ini ia berperan sebagai seorang istri yang lembut, yang tidak bernafsu untuk memiliki dan menguasai sesuatu yang menyangkut kebendaan dan kepentingan lahiriah.

Untuk beberapa saat Warsi berusaha menahan dirinya. Baru kemudian ia berkata, “Sudahlah kakang. Jangan dirisaukan. Kakang memang dapat mengusahakan jalan yang manapun juga. Tetapi jangan terlalu memaksa diri.”

Ki Wiradana termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian menjawab, “Tetapi apakah aku dapat menunggu sampai waktu yang tidak ditentukan itu Warsi? Dan apakah aku harus menemukan benda yang menjadi syarat wisuda itu, sementara aku sudah mencari disegala sudut rumah ini, tetapi aku tidak menemukannya?”

“Kakang masih terlalu letih,” berkata Warsi. “Kita akan dapat memikirkannya kemudian. Sekarang sebaiknya kakang beristirahat dahulu. Selanjutnya, persoalan kakang jangan terpancang kepada hari wisuda itu saja. Tetapi pergolakan yang terjadi antara Demak dan Jipang itu ternyata telah bergema sampai ke Pajang. Mungkin sebentar lagi akan menjalar ke Tanah Perdikan ini.”

Ki Wiradana mengangguk-angguk. Sebagaimana biasa, ia menganggap bahwa istrinya benar-benar berniat baik. Istrinya berusaha untuk membuatnya menjadi tenang dari kegelisahannya.

Sementara itu orang yang disebut sebagai ayah Warsi itu pun berkata pula, “Bukankah kita masih mempunyai waktu? Kita akan dapat memikirkannya dengan tenang. Memang sebaiknya kau beristirahat saja dahulu. Agaknya persoalan yang akan kau hadapi di Tanah Perdikan ini akan berkembang menjadi semakin banyak.

Kau masih harus memecahkan persoalan hari wisuda, sementara kau sudah membicarakan dengan seorang saudagar bahwa kau akan menjebak perampok-perampok itu sebagaimana diceriterakan oleh Warsi. Sementara itu persoalan Pajang dalam hubungannya dengan Demak telah berkembang pula menyangkut Kadipaten Jipang.

Karena itu, maka agaknya memerlukan waktu untuk memikirkannya dengan tenang.”

“Ya ayah,” jawab Ki Wiradana. “Tetapi aku disini merasa sendiri. Tidak ada orang yang dapat aku ajak berbincang. Orang-orang tua di Tanah Perdikan ini rasa-rasanya tidak mampu memberikan pendapat yang dapat membuka pikiranku.

Bahkan sebagian dari mereka berpikir terlalu sempit. Mereka tidak lebih dari orang-orang yang merasa dirinya pandai tetapi dalam ruang lingkup yang sangat sempit. Mereka tidak mengetahui persoalan-persoalan yang hidup dan berkembang di luar Tanah Perdikan ini. Pada masa ayah memerintah, ayah memang terlalu mumpuni, sehingga segala sesuatunya dipikirkan dan dilaksanakan oleh ayah sendiri. Agaknya aku belum sampai pada tataran itu.”

“Agaknya memang demikian Ki Wiradana. Tetapi itu bukan berarti bahwa kau sendiri. Mungkin kau dapat berbincang dengan istrimu. Jika orang-orang tua itu pun mungkin mempunyai pikiran-pikiran yang baik bagi Tanah Perdikan ini, namun kau harus dapat menangkap maksudnya, meskipun masih harus kau kembangkan sehingga menjadi pikiran yang berharga,” berkata laki-laki yang mengaku sebagai ayah Warsi itu.

Ki Wiradana mengangguk-angguk kecil. Kemudian ia pun berdesis, “Baiklah ayah. Aku akan beristirahat lebih dahulu. Namun dalam waktu dekat, aku berjanji untuk menjebak kedua orang penjahat yang sering melakukan kejahatan di penginapan-penginapan. Di Pajang kemarin kedua orang itu tidak dijumpai. Namun kekalutan terjadi karena ada kedua orang Jipang yang juga berada di penginapan itu pula.”

Demikianlah, Ki Wiradana pun telah berusaha melepaskan kerisauannya meskipun hanya sekejap-kejap. Kerisauannya itu selalu datang menggelitik hatinya, sehingga dihari-hari berikutnya ia menjadi lebih banyak merenung.

Namun dalam pada itu, dalam kesempatan tersendiri, Warsi itu pun bergumam dihadapan orang yang disebut sebagai ayahnya itu, “Wiradana memang terlalu bodoh untuk melakukan tugasnya. Pada saat ayahnya masih ada, ia agaknya terlalu manja dan jarang sekali mendapat tugas-tugas penting yang harus dipertanggung jawabkannya. Sampai saatnya ia menggantikan ayahnya, ia masih saja seperti kanak-kanak yang harus dituntun di saat belajar berjalan.”

Laki-laki yang disebut ayahnya itu mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Tetapi benturan-benturan itu akan dapat menjadi pengalaman yang berharga baginya. Mudah-mudahan ia akan segera menemukan sikap yang mantap.”

“Kau juga bodoh,” geram Warsi. “Akulah yang akan mengambil alih pimpinan di Tanah Perdikan ini. Biarlah ia dungu. Aku mengemudikan kelak,” suara Warsi tiba-tiba menurun. “Tetapi aku inginkan ia diwisuda lebih dahulu, baru aku akan melakukannya. Sebelum itu, jika orang-orang Pajang mengetahuinya, bahwa Wiradana sebenarnya tidak memerintah, akan dapat timbul persoalan dengan wisudanya kelak.

Bahkan mungkin akan ada langkah yang kurang menguntungkan yang diambil oleh Pajang.”

Laki-laki yang disebut ayah Warsi itu mengangguk-angguk. Namun ia tidak mengatakan sesuatu lagi. Ia sudah cukup mengenal watak dan sifat Warsi.

Dalam pada itu, maka hari-hari yang disepakati antara Ki Wiradana dengan saudagar emas permata untuk menjebak para perampok itu menjadi semakin dekat.

Dengan demikian, maka Ki Wiradana pun telah mempersiapkan orang-orang terbaiknya untuk mengawasi penginapan-penginapan, terutama yang akan dipergunakan oleh saudagar itu. Bahkan Wiradana telah memerintahkan kepada dua orang di antara para pengawal untuk bermalam di penginapan itu juga nanti di malam yang sudah dibicarakannya. Bahkan sejak malam sebelumnya.

Semakin dekat dengan hari yang ditentukan, Ki Wiradana menjadi semakin berhati-hati. Ia tidak ingin salah langkah. Apalagi saudagar itu justru akan menjadi korban karena kekeliruannya menghitung hari.

Sebenarnyalah, pada hari yang ditentukan saudagar itu telah datang. Ia telah memesan sebuah bilik khusus bagi dirinya dan seorang pembantunya. Sementara itu, ia dengan sengaja telah berjalan hilir mudik di pasar dan kemudian mengunjungi Ki Wiradana pada hari kedatangannya itu juga.

Kedatangannya telah disambut dengan gembira oleh Ki Wiradana sekeluarga. Bahkan saudagar itu pun telah diperkenalkan pula kepada laki-laki yang disebut sebagai ayah Warsi itu.

“Kami sudah siap,” berkata Ki Wiradana. “Mungkin malam ini atau malam-malam berikutnya jika terjadi lagi perampokan itu, maka para pengawal tentu akan berhasil menangkap mereka. Dengan demikian, maka akan terbuka rahasia perampokan itu. Apakah mereka benar-benar perampok atau orang-orang yang dengan sengaja membuat kekisruhan di Tanah Perdikan ini sebagaimana rombongan pengamen dengan penari yang mirip dengan Iswari atau mereka adalah orang-orang Jipang.”

“Orang-orang Jipang?” ayah Warsi yang mengaku sebagai saudagar itu terkejut.

“Ya, orang-orang Jipang,” jawab Ki Wiradana.

Ternyata saudagar itu memang belum mendengar apa yang terjadi di Pajang tentang orang-orang Jipang itu. Karena itu, maka Ki Wiradana pun kemudian berceritera serba singkat tentang orang-orang Jipang itu.

Saudagar itu mengangguk-angguk. Sekilas teringat olehnya rencana pamannya di Gunung Kukusan yang segera akan berada di Tanah Perdikan itu pula. Pamannya itu akan berusaha untuk menyeret Tanah Perdikan Sembojan ke dalam sengketa antara Jipang dan Demak termasuk Pajang tentang warisan tahta Demak itu sendiri.

“Ternyata asap dari api yang menyala di Jipang itu sudah sampai ke Pajang,” berkata ayah Warsi di dalam hatinya.

Tetapi ia tidak ingin mendahului keterangan pamannya tentang persoalan yang menyangkut hubungan Tanah Perdikan Sembojan dengan Jipang. Biarlah pamannya itu mengatakannya langsung kepada Ki Wiradana.

Namun dari Ki Wiradana pula ayah Warsi yang mengaku sebagai saudagar itu mendengar, bahwa kedudukannya masih belum dikukuhkan. Persoalannya berkait dengan kesibukan Adipati Pajang karena pergolakan yang terjadi di Demak. Apalagi kemudian meluas sampai ke Jipang.

“Tetapi pada suatu saat Ki Wiradana tentu akan menemukan satu jalan keluar yang barangkali memadai,” berkata ayah Warsi yang menyatakan dirinya sebagai seorang saudagar itu.

“Mudah-mudahan Ki Saudagar,” jawab Ki Wiraana. “Namun persoalan itu rasa-rasanya telah membuat hatiku menjadi pepat.”

“Sudah barang tentu. Namun karena Ki Wiradana sekarang sudah memangku jabatan Kepala Tanah Perdikan, maka seharusnya bahwa perhatian Ki Wiradana tidak boleh terampas hanya oleh satu persoalan saja,” berkata ayah Warsi itu. “Apalagi kita sudah mempersiapkan sebuah jebakan dan aku sudah menyediakan diri menjadi umpannya. Mudah-mudahan jebakan itu akan berhasil.”

“Mudah-mudahan,” desis Ki Wiradana.

Namun sementara itu, ketika Ki Wiradana beberapa saat meninggalkan Warsi menemui Saudagar itu bersama orang yang mengaku sebagai ayahnya, maka ayah Warsi yang sebenarnya itu pun berkata, “Kakekmu akan bersedia datang.”

“Syukur ayah,” jawab Warsi gembira. “Tetapi sampai saat ini kakek itu belum tampak. Bukankah kakek itu akan ayah persilakan datang mendahului ayah?”

“Ternyata ia lebih suka datang kemudian setelah aku memberitahukannya kepadamu.

Mungkin ia memerlukan bantuanmu untuk mengatur orang-orang kita yang terlibat ke dalam permainan ini, agar kakekmu tidak salah sebut. Juga terhadap orang yang disebut sebagai ayahmu itu,” berkata ayah Warsi.

Warsi mengangguk-angguk. Desisnya, “Jadi kapan kakek akan datang?”

“Mungkin besok atau lusa,” jawab ayah Warsi yang mengaku sebagai saudagar itu.

Namun kemudian katanya, “Tetapi di samping memenuhi undanganku, kakekmu juga mempunyai kepentingan tersendiri.”

“Kepentingan apa?” bertanya Warsi.

“Ia ternyata terlibat dalam kemelut antara Jipang dan Demak. Kakekmu adalah pengikut Arya Penangsang yang setia,” berkata ayah Warsi itu.

Warsi mengerutkan keningnya. Namun ketajaman penggraitanya telah menunjukkan kepadanya arah pembicaraannya dengan ayahnya itu. Bahkan hampir di luar sadarnya ia berkata, “Ayah, apakah kakek ingin melibatkan Sembojan dalam persoalan ini?”

Ayahnya mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Biarlah kakekmu sendiri besok menjelaskannya.”

Warsi mengangguk-angguk. Desisnya, “Menarik sekali. Nampaknya Pajang sudah tidak memperhatikan lagi keadaan Tanah Perdikan ini dengan mempersulit persoalan. Jika Pajang tidak mempersulit, apakah susahnya melakukan wisuda itu. Kami sendirilah yang mengadakan persiapan dan kemudian menyelenggarakan upacara. Semua biaya dan tenaga, kami sendirilah yang menanggungnya. Mereka, orang-orang Pajang itu tinggal datang dan mengucapkan beberapa kalimat pengukuhan saja. Tidak ada kesulitan meskipun Pajang sedang sibuk. Pengukuhan itu dapat berlangsung dalam waktu satu hari. Seandainya Adipati Pajang sendiri tidak dapat datang, maka ia dapat menugaskan salah seorang pemimpin pemerintahan, mungkin yang disebut Tumenggung Wirajaya itu untuk datang, asal ia membawa pertanda kuasa Adipati Pajang. Maka selesailah persoalannya.”

Ayah Warsi mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah, kau menunggu kakekmu. Hari ini atau besok aku masih menjadi umpan untuk memancing perampok itu.”

Hati-hatilah ayah. Meskipun kakang Wiradana sudah menyiapkan pengawal, tetapi mungkin terjadi sesuatu di luar perhitungan kita,” pesan Warsi. Untuk beberapa lama ayah Warsi yang dikenal oleh Wiradana sebagai saudagar itu masih berada di rumahnya. Namun beberapa lama kemudian ia pun minta diri untuk pergi ke penginapan.

Ki Wiradana yang kemudian menemuinya pula, telah mengantarkannya sampai ke regol halaman. Seperti Warsi ia berpesan, “Hati-hatilah Ki Saudagar. Mereka adalah orang-orang yang licik dan tidak segan-segan mempergunakan segala cara untuk melakukan usahanya yang kotor itu.”

Ayah Warsi itu tersenyum. Katanya, “Aku tidak akan melakukan kesalahan untuk kedua kalinya.”

Demikian orang itu meninggalkan rumahnya, maka lewat seorang pengawal Ki Wiradana telah memerintahkan mereka yang mendapat tugas khusus mengawasi penginapan yang terutama dipergunakan oleh saudagar itu untuk bersiaga.

“Satu atau dua orang harus mengawasi terus ke mana saudagar itu pergi. Siang apalagi malam. Karena perampok-perampk itu tidak memilih waktu,” berkata Ki Wiradana. Ternyata Ki Wiradana sendiri sudah mengalami di rampok di siang hari justru di jalan yang terhitung ramai.

Malam yang kemudian turun adalah malam yang tegang bagi Tanah Perdikan Sembojan, terutama di padukuhan induk. Beberapa pengawal tersembunyi, mengawasi penginapan yang dipergunakan oleh saudagar itu dengan seksama. Dua orang pengawal yang tidak dalam sikap pengawal, berada di penginapan itu pula.

Namun ternyata malam yang tegang itu lewat tanpa terjadi sesuatu. Para pengawal yang berjaga-jaga semalam suntuk, mengumpat di dalam hati ketika mereka melihat langit menjadi terang.

“Gila,” geram salah seorang di antara mereka, “Perampok itu sama sekali tidak menampakkan ujung hidungnya.”

“Justru perampok yang cerdik,” jawab kawannya. “Ia tidak mau menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam kesulitan. Bahkan kemungkinan untuk tertangkap.”

Pengawal yang pertama mengumpat. Tetapi kawannya yang lain segera menyahut.

“Mungkin aku dapat menyebutnya dengan istilah lain agar kita merasa lebih berjasa daripada menyebutnya cerdik. Mereka agaknya ketakutan melihat kita mengawasi penginapan itu.”

“Persetan,” geram kawannya yang pertama membuka pembicaraan.

Para pengawal itu tidak saling berbicara lagi. Agaknya tugas mereka untuk malam itu telah berakhir. Beberapa orang pengawal yang lain akan mengambil alih tugas mereka di siang hari. Namun sebenarnyalah para pengawal itu menjadi kecewa bahwa mereka tidak mendapat kesempatan untuk menangkap perampok yang telah mengganggu Tanah Perdikan mereka dan pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan itu.

Di hari yang baru itu, Warsilah yang dibebani oleh sebuah harapan akan kehadiran seorang tamu lagi. Kakeknya dari Gunung Kukusan sebagaimana dikatakan oleh pamannya. Kakeknya bukan saja akan dapat melindunginya yang sedang dalam keadaan mengandung itu, tetapi kakeknya juga membawa persoalan yang menyangkut hubungan antara Tanah Perdikan Sembojan dengan Jipang. Memang satu persoalan baru yang harus dipikirkannya. Tetapi Warsi agaknya sudah tidak tertarik lagi untuk tetap berada dibawah kekuasaan Pajang yang dianggapnya mengabaikan kepentingan Tanah Perdikan Sembojan.

“Tetapi aku memang memerlukan penjelasan dari kakek,” berkata Warsi di dalam hatinya.

Ketika matahari naik sepenggalah, maka saudagar emas yang menginap di penginapan serta menyediakan diri untuk menjadi umpan itu telah berada di rumah Wiradana. Dengan nada kesal ia berkata, “Semalam aku menunggu. Ternyata perampok licik itu tidak datang.”

“Aku pun hampir tidak tidur semalam,” sahut Ki Wiradana. “Aku selalu hilir mudik antara gardu di regol dan bilik pembaringan. Tetapi sampai hampir pagi aku tidak mendengar suara isyarat apapun juga.”

Saudagar itu mengangguk-angguk. Sementara itu pembicaraan mereka masih berkisar kepada usaha mereka menjebak perampok-perampok itu.

Namun dalam pada itu, seorang tamu telah da tang kerumah itu. Seorang yang rambutnya telah memutih dan wajahnya telah dipenuhi oleh garis-garis umur. Namun demikian tubuhnya masih nampak tegap kekar dalam ketuaannya.

———-oOo———-

Bersambung ke Jilid 11.

Naskah diedit dari e-book yang diupload di website Tirai kasih http://kangzusi.com/SH_Mintardja.htm

Terima kasih kepada Nyi DewiKZ

<< kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s