SST-04

<< kembali | lanjut >>

ADA lebih dari tujuh kalangan sabung ayam,” jawab Sambi Wulung, “sepuluh tempat bermain dadu. Tempat panahan yang luas dan apakah disini juga ada binten?”

Kiai Windu menggeleng. Katanya, “Disini tidak ada binten. Panahan disini kurang menarik meskipun ada, yang terbanyak adalah permainan dadu.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Dengan nada berat Sambi Wulung berkata, “Aku juga ingin tidur.”

“Silahkan,” berkata Kiai Windu, “aku tidak mengantuk.”

Sambi Wulungpun kemudian merebahkan dirinya diatas amben yang besar berjajar dengan ketiga kawan Kiai Windu. Sedangkan Jati Wulung masih juga belum merasa mengantuk.

Tiga orang kawan Kiai Windu itupun sudah tertidur nyenyak. Sementara Sambi Wulung pun segera tertidur pula. Yang kemudian masih duduk dan berbincang adalah Kiai Windu dan Jati Wulung.

Dalam pada itu Jati Wulung pun telah bertanya kepada Kiai Windu, “Bagaimana kita makan disini?”

“Disini ada semacam kedai. Kita dapat memesan makanan sesuai dengan selera kita. Namun tentu saja hanya yang mungkin disediakan,” jawab Kiai Windu.

“Jadi disediakan beberapa jenis lauk pauk disini?” bertanya Jati Wulung.

“Ya.” jawab Kiai Windu, “nanti kita akan melihatnya.”

Jati Wulung mengangguk-angguk. Sementara itu Kiai Windu bertanya, “Apakah kau tidak ingin tidur lebih dahulu?”

“Tidak. Aku tidak terbiasa tidur di siang hari,” jawab Jati Wulung,” betapapun letihnya. Apalagi menjelang senja seperti ini.”

Tetapi Kiai Windu itu tersenyum. Katanya, “Ternyata kalian adalah orang-orang yang sangat berpengalaman.”

“Kenapa?” bertanya Jati Wulung.

“Kau bukan saja tidak terbiasa tidur di siang hari. Tetapi kau dan saudaramu itu terbiasa tidur bergantian. Apalagi kalian berdua belum mengenal aku dengan baik,” desis Kiai Windu.

“Kau pun memiliki pengalaman yang luas. Kau kira aku tidak tahu bahwa kau mendapat giliran berjaga-jaga yang pertama. Justru saat yang paling gawat ketika kita memasuki tempat seperti ini?” desis Jati Wulung.

Kiai Windu itu pun tertawa pendek. Diperhatikannya ketiga kawannya yang tertidur lelap. Namun seorang diantara mereka nampak gelisah. Meskipun lukanya yang tidak terlalu dalam itu sudah diobati, namun agaknya masih juga terasa pedih.

Ketika malam menjadi semakin malam, maka yang tertidur itu pun justru telah terbangun. Setelahn membenahi diri, maka mereka bersama-sama meninggalkan bilik mereka untuk pergi ke kedai di bagian belakang dari tempat perjudian yang disebut Song Lawa itu.

Karena Sambi Wulung dan Jati Wulung nampak ragu-ragu untuk meninggalkan bilik mereka maka Kiai Windu pun berkata, “Kita tidak usah mencemaskan barang-barang kita. Tidak ada seorang pencuri pun yang berani masuk ketempat ini.”

Keduanya mengangguk-angguk. Namun Jati Wulung menyahut, “Ditempat lain, keadaannya berbeda. Justru perampok-perampok besar telah berusaha untuk ikut memasuki tempat seperti ini. Mereka bukan saja mencuri, tetapi mereka akan merampok dengan kekerasan.”

“Disini penjagaannya cukup kuat untuk melawan perampok-perampok seperti itu,” desis Kiai Windu.

Jati Wulung mengangguk-angguk. Namun ia tidak berbicara lagi.

Mereka berenam pun kemudian telah berada dibagian belakang dari tempat perjudian dan sabung ayam itu. Sebenarnyalah tempat itu memang cukup luas. Di halaman samping memang terdapat tempat untuk beradu ketrampilan memanah. Tetapi bukan sekedar ketrampilan. Mereka mempergunakan nilai-nilai panahan itu untuk perjudian dengan taruhan yang tinggi.

Di belakang ternyata terdapat sebuah kedai yang besar. Beberapa buah amben dan lincak bambu terdapat di kedai itu. Ketika mereka berenam memasuki kedai itu, ternyata didalam kedai itu sudah terdapat beberapa orang yang sedang makan dan minum. Dengan tingkah laku yang kasar mereka bertebaran di beberapa amben dan lincak bambu. Dari jarak yang panjang mereka berbicara sambil berteriak-teriak.

Sambi Wulung dan Jati Wulung termangu-mangu ketika mereka melihat perempuan yang ribut didalam biliknya itu ada pula diantara mereka yang sudah lebih dahulu duduk di kedai itu. Bahkan seorang perempuan yang lain pun ada di kedai itu pula. Seorang perempuan yang nampak tegar dan agak gemuk. Hampir mirip dengan Bibi, duduk di sudut kedai itu menghadapi nasi dan lauk pauknya.

Keenam orang itu pun kemudian mengambil tempat yang agak terpisah. Betapa kasarnya Kiai Windu dan kawan-kawannya, ternyata mereka masih juga mempergunakan pikiran dan kadang-kadang bersikap tenang dan mapan pula.

Seorang diantara merekalah yang kemudian pergi memesan makan dan minum bagi keenam orang itu.

Beberapa saat kemudian, nasi hangat sebakul kecil telah dihidangkan. Beberapa macam lauk pauk dan sayur yang masih berasap. Sambal terasi yang baunya membuat mereka bertambah lapar.

Meskipun malam sudah mendekati pertengahannya, tetapi ternyata di kedai itu masih banyak orang yang makan minum atau sekedar berbicara dan berkelakar.

Namun ketika keenam orang itu sedang sibuk menyuapi mulut mereka, maka beberapa orang telah memasuki kedai itu pula. Suara mereka telah lebih dahulu bagaikan mengguncang seisi kedai itu. Tertawa yang keras diselingi dengan umpatan kasar.

Ruangan yang luas itu bagaikan bergetar ketika perempuan yang agak gemuk, yang duduk disudut itu kemudian berteriak, “He, jangan berbicara terlalu keras dan kasar. Bukankah ini sudah hampir tengah malam?”

Orang-orang itu memang terdiam sejenak. Namun suara tertawa mereka pun meledak lagi. Seorang diantara mereka menjawab, “jangan marah Nyai. Kau sendiri berteriak-teriak dengan suaramu yang melengking meniti rusuk-rusuk atap kedai ini. Sudahlah, biarlah kita berlaku seperti biasanya. Bukankah tempat ini merupakan tempat segala orang dengan segala tingkah lakunya?”

Perempuan yang agak gemuk itu termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian berguman, “persetan kalian.”

Tanpa menghiraukan mereka yang baru datang itu lagi, maka perempuan gemuk itu telah melanjutkan makannya. Sesuap demi sesuap. Namun ternyata perempuan itu makan banyak sekali.

Sambi Wulung dan Jati Wulung lah yang agaknya juga tertarik sekali oleh kehadiran orang-orang itu. Ketika Jati Wulung bergeser, maka Sambi Wulung pun menahannya sambil berdesis, “Sudahlah.”

Kiai Windu mengerutkan keningnya. Dengan nada rendah ia bertanya, “Kenapa?”

Sambi Wulung menggeleng. Katanya, “Tidak apa-apa.”

Kiai Windu termangu-mangu. Meskipun kedua orang itu belum lama dikenalnya, tetapi rasa-rasanya Kiai Windu telah menangkap watak keduanya yang keras dan garang. Kedua orang yang mengaku bernama Wanengbaya dan Wanengpati itu.

Sambi Wulung dan Jati Wulung memang tidak memperhatikan mereka lagi. Namun justru orang-orang itulah yang telah melihat Sambi Wulung dan Jati Wulung, duduk diantara enam orang sambil makan dan minum.

Tiba-tiba saja kelakar mereka pun terhenti. Mereka saling menggamit dan berbisik.

“Dua orang gila di ngGebayan itu,” desis seorang diantara mereka.

“Aku sudah mengira bahwa kita akan bertemu lagi disini,” sahut yang lain.

“Mereka justru berenam sekarang,” berkata yang lain lagi.

Tidak ada yang menyahut. Tetapi mereka pun merasa, bahwa mereka mempunyai lebih banyak kawan di tempat itu.

Namun mereka tidak lagi berkelakar, berteriak dan mengumpat kasar meskipun Sambi Wulung dan jati Wulung nampaknya tidak menghiraukan mereka.

Untuk beberapa saat, ruangan itu telah menjadi hening. Namun keheningan itu segera dipecahkan lagi ketika seorang yang berwajah keras, bermata setajam mata burung hantu, bertubuh tinggi agak kekurusan, memasuki kedai itu. Dengan nada tinggi tiba-tiba saja ia berkata lantang, “He, Nyai. Kau ada disini.”

“Kau,” perempuan yang agak gemuk itu pun berteriak.

Laki-laki yang bertubuh tinggi agak kekurusan itu pun kemudian mendekatinya. Tetapi langkahnya terhenti, ketika tiba-tiba seorang perempuan yang lain, yang disiang harinya hampir saja bertempur dengan kawannya sendiri tiba-tiba saja telah berdiri dan berjalan mendekati laki-laki itu. Dengan nada rendah ia berkata, “Kau datang juga?”

Laki-laki itu terkejut. Agaknya ia tidak mengira bahwa ia akan bertemu dengan perempuan itu ditempat perjudian dan sabung ayam itu.

“Kenapa kau disini?” bertanya laki-laki itu.

“Seperti kau juga berada disini,” jawab perempuan itu.

Laki-laki yang bertubuh tinggi itu tergagap sejenak. Namun kamudian katanya, “Aku sudah terbiasa berada ditempat ini.”

“Jangan pura-pura tidak tahu,” desis perempuan itu, “aku juga sudah sering berada disini. Meskipun barangkali tidak sesering kau.”

Laki-laki itu mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Silahkan. Kita akan bertemu di permainan dadu lusa. Atau barangkali kau juga ingin bertaruh di tempat sabung ayam?”

“Kau memang berpura-pura bodoh atau memang sudah pikun,” berkata perempuan itu, “setiap aku disini, aku selalu berada di lapangan panahan.”

“O, ya” laki-laki itu mengangguk-angguk.

“Kau masih berhutang kepadaku,” berkata perempuan itu.

Laki-laki itu tertawa. Katanya, “Akan aku bayar dengan cara yang kau kehendaki.”

Tetapi laki-laki itu tidak sempat berbicara lebih panjang. Tiba-tiba saja perempuan yang agak gemuk itu telah mendekatinya. Sambil memegangi lengannya dengan kedua tangannya itu bertanya, “Kau akan makan?”

Laki-laki itu tergagap. Tetapi ia pun menjawab, “Ya. Aku akan makan.”

Digandengnya laki-laki itu dan disorongnya duduk di sebelah tempat duduknya disebuah amben kecil. Katanya, “Disini sudah disediakan makan yang cukup. Bukankah kau senang makan pete rebus dengan sambal terasi yang sangat pedas?”

Laki-laki itu masih berpaling kearah perempuan yang seorang lagi. Tetapi perempuan itu sudah melangkah kembali ketempat kawan-kawannya duduk.

 “Perempuan yang cantik,” desis perempuan yang agak gemuk itu.

Laki-laki yang bertubuh tinggi itu tidak menjawab. Namun ia pun kemudian memperhatikan makan yang tersedia dihadapan perempuan yang agak gemuk itu.

 “Tinggal ini?” bertanya laki-laki.

 “Bukankah ini pesananku?” bertanya perempuan itu, lalu, “aku akan memesan buatmu.”

“Terima kasih,” jawab laki-laki itu.

Perempuan itu pun kemudian bangkit. Ia menuju kepada penjual di kedai itu untuk memesan beberapa macam makanan.

Sambi Wulung dan Jati Wulung yang baru pertama kali memasuki daerah Song Lawa itu pun semakin mengenal, apa yang ada didalam lingkungan yang terasing itu. Namun keduanya berpaling kearah Kiai Windu ketika orang itu bertanya, “Kau heran melihat kehidupan disini? Bagaimana dengan Gresik.”

“Di Gresik semuanya lebih teratur. Tidak ada orang yang bertindak menurut keinginan sendiri,” jawab Sambi Wulung.

Kiai Windu mengangguk-angguk. Tetapi mereka segera tertarik pada pertengkaran yang terjadi di sudut lain. Dua orang laki-laki yang terhitung masih muda nampaknya telah berselisih. Semakin lama pertengkaran itu menjadi semakin kasar dan keras.

Orang-orang yang ada di kedai itu hanya berpaling saja memandangi mereka. Namun orang-orang itu sama sekali tidak berbuat sesuatu. Mereka sibuk dengan kepentingan mereka masing-masing. Laki-laki yang bertubuh tinggi dan perempuan yang agak gemuk itu pun hanya berpaling saja. Keduanya segera tenggelam dalam kesibukan mereka sendiri. Keduanya pun melanjutkan makan dan bergurau sejadi-jadinya.

Sambi Wulung dan Jati Wulung menarik nafas dalam-dalam. Tetapi Kiai Windu pun berkata, “Tidak ada orang yang membuang-buang waktu untuk mengurusi orang lain.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung hanya mengangguk-angguk saja.

Sementara itu, kedua orang yang bertengkar itu agaknya sudah tidak dapat menahan diri lagi. Karena itu, maka yang seorang diantara mereka mulai memukul lawannya bertengkar.

Perkelahian pun segera terjadi. Semakin lama menjadi semakin seru. Keduanya ternyata memiliki ketrampilan yang tinggi, sehingga dengan demikian, maka perkelahian pun menjadi seimbang.

Untunglah bahwa keduanya bergeser keluar kedai, sehingga tidak merusakkan suasana dan peralatan didalam kedai itu, sementara pemilik kedai itu sudah melangkah mendekati keduanya seandainya keduanya merusakkan kedainya.

Ternyata pemilik kedai atau orang yang dikuasakan, yang baru keluar dari belakang dinding, adalah orang yang bertubuh raksasa, yang pantas membuka kedai di tempat yang garang seperti itu. Wajahnya menunjukkan kekerasan sikap dan hatinya.

“Itukah pemiliknya?” tiba-tiba Sambi Wulung berdesis.

“Ya,” jawab Kiai Windu, “yang lain itu adalah orang-orang yang diupah. Tetapi jangan mengira bahwa mereka bukan orang-orang yang tidak mampu berkelahi.”

Sambi Wulung terdiam. Namun ketika kedua laki-laki muda itu berkelahi diluar kedai, maka raksasa pemilik kedai itu sama sekali tidak mengganggu mereka.

Perkelahian itu berlangsung semakin sengit. Namun ternyata bahwa keduanya sama sekali tidak bersenjata. Meskipun demikian ketika serangan-serangan dari kedua belah pihak mulai mengenai tubuh mereka, maka mereka pun mulai menyeringai menahan sakit.

Dibawah lampu minyak yang menggapai halaman kedai itu, kedua nya nampak semakin garang dan keras. Namun beberapa saat kemudian seorang yang lain telah datang. Dengan serta merta orang itu telah memasuki arena perkelahian. Namun ternyata bukan membantu salah seorang diantara mereka yang berkelahi. Tetapi ia justru menyerang kedua-duanya.

Kedua laki-laki muda itu ternyata berada dibawah pengaruh laki-laki yang datang kemudian. Ternyata mereka pun telah berhenti berkelahi, ketika mereka menyadari kehadirannya.

“Setan,” geram laki-laki yang baru datang itu, “kalian telah berkelahi lagi.”

“Ia telah mulai lagi,” sahut yang seorang. Tetapi yang lain segera memotong, “Bukan aku. Ia telah menggangguku.”

“Aku rontokkan gigi kalian. Pergi,” geram laki-laki yang datang kemudian.

Keduanya tidak membantah. Namun ketika keduanya mulai beranjak, terdengar suara raksasa pemilik kedai itu, “Bayar dahulu.”

“O,” kedua laki-laki yang berkelahi itu termangu-mangu. Namun seorang diantara mereka menjawab, “Aku belum sempat makan.”

“Tetapi kau sudah memesan, dan pesanan itu sudah dihidangkan. Jika kau tidak sempat makan itu salahmu sendiri,” geram raksasa itu.

Laki-laki yang datang kemudian itu pun berkata pula, “Bayar.”

Kedua laki-laki muda itu pun kemudian terpaksa mengeluarkan beberapa keping uang untuk membayar makanan yang belum sempat mereka makan.

Ketika ketiga laki-laki dihalaman itu pergi, maka raksasa itu pun tidak segera masuk kembali. Ia telah duduk pula disebuah amben bambu di sudut kedai itu mengamati orang-orang yang di tengah malam masih juga berada di-dalam kedainya.

Ki Windu dan kawan-kawannya sama sekali tidak memperhatikannya lagi. Hanya Sambi Wulung dan Jati Wulung sajalah yang sekali-sekali masih memandang raksasa itu. Bahkan kemudian Jati Wulung berkata, “Sehari orang itu tentu makan seekor kambing.”

Tetapi tiba-tiba Kiai Windu berdesis, “Sst. Jangan memperolok-olok begitu. Ia bukan jenis orang yang suka bergurau. Jika ia marah, maka kita akan mendapatkan kesulitan.”

“Kenapa?” bertanya Jati Wulung.

“Kekuatannya melampaui kekuatan seekor kerbau.” jawab Kiai Windu, “tidak ada seorang pun yang berani menantangnya. Jika ada, maka orang itu tentu akan menjadi bahan olok-olok, karena ia akan menjadi cacat atau bahkan mati.”

“Mati?” Sambi Wulung menjadi heran. “Apakah ia berhak membunuh tanpa batasan?”

“Jangan lupa. Kita berada di Song Lawa,” jawab Kiai Windu.

Sambi Wulung mengangguk-angguk. Bahkan sambil menunjuk sebuah bangunan yang agak terpisah ia berkata, “Kau lihat rumah kecil itu?”

“Ya,” jawab Sambi Wulung.

“Rumah itu khusus dibuat bagi mereka yang menjadi putus asa setelah mengalami kekalahan yang tidak terhitung lagi disini. Atau mungkin karena hal-hal lain. Mereka dapat membunuh diri disana dengan cara yang mereka sukai. Didalam rumah kecil itu terdapat bermacam-macam senjata dan tali gantungan yang dapat dipergunakan setiap saat. Setiap pagi dan sore. dua orang petugas akan membersihkan tempat itu dan menguburkan mayat-mayat,” berkata Kiai Windu.

Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berkata, “Memang luar biasa. Di tempat-tempat lain aku tidak pernah menjumpai hal seperti itu. Di sebelah Barat Pajang, di Gresik, di Bergota dan di tempat-tempat lain yang pernah aku datangi.”

“Mungkin. Tetapi tempat-tempat itu tidak terletak dilereng Gunung Kukusan,” sahut Kiai Windu.

Sambi Wulung mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Agaknya tempat ini merupakan tempat yang paling wingit dari tempat-tempat yang pernah aku datangi.”

“Kau pernah ke tempat judi di Bergota?” bertanya Kiai Windu.

“Ya. Kenapa?” bertanya Sambi Wulung.

“Aku juga pernah datang ketempat itu,” jawab Kiai Windu.

“Tetapi kita belum pernah bertemu,” berkata Sambi Wulung kemudian.

“Aku baru dua kali. Sudah lama aku tidak pernah datang lagi ke Bergota,” berkata Kiai Windu pula.

Sambi Wulung tidak menyahut. Ia tertarik kepada orang baru yang memasuki warung itu. Namun ternyata orang itu tidak berbuat apa-apa selain duduk dan memesan makanan.

Beberapa saat Sambi Wulung, Jati Wulung serta Kiai Windu dengan kawan-kawannya masih duduk di kedai itu. Ketika malam menjadi semakin malam, maka mereka berenam pun meninggalkan kedai itu dan kembali kedalam bilik mereka.

Namun ternyata bahwa keadaan telah berubah. Beberapa orang lagi telah memasuki tempat itu, justru di tengah malam. Dengan demikian maka keadaan pun menjadi semakin riuh. Meskipun tengah malam telah lewat.

“Kita mendapat semakin banyak kawan disini,” berkata Kiai Windu.

“Ya. Semakin dekat dengan hari-hari yang ditentukan, maka penghuni tempat ini akan menjadi semakin banyak,” berkata Jati Wulung. Lalu, “Tetapi apakah barak-barak ini akan dapat menjadi penuh?”

“Lebih dari lima musim aku datang ketempat ini,” jawab kiai Windu, “barak-barak ini biasanya terisi hampir penuh.”

“Keributan-keributan pun terjadi setiap hari?” bertanya Sambi Wulung.

“Ya. Setiap hari. Di kalangan sabung ayam lah yang paling banyak terjadi. Kemudian di tempat bermain dadu. Yang paling sedikit terjadi keributan adalah di lapangan panahan di belakang. Meskipun demikian pernah terjadi beberapa kali perang tanding dengan panah karena mereka berselisih pendapat tentang taruhan mereka.”

“Perang tanding sampai mati?” bertanya Jati Wulung.

“Ada yang mati dan ada yang tidak,” jawab Kiai Windu.

Jati Wulung pun kemudian mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya lebih lanjut.

Beberapa saat kemudian mereka pun telah berbaring di pembaringan. Tetapi Sambi Wulung tidak segera memejamkan matanya. Bahkan kemudian, ia telah bangkit dan duduk di sudut pembaringan dihadapan pintu yang tertutup rapat, bahkan diselarak.

Kiai Windu tidak menegurnya. Ia tahu, bahwa orang itu mendapat giliran untuk berjaga-jaga. Sambi Wulung tidak mau berjaga-jaga sambil berbaring, karena ia akan dapat terseret kedalam mimpi tanpa disadarinya.

Namun seorang kawan Kiai Windu pun telah bangkit pula dan duduk disebelah Sambi Wulung.

“Kau tidak mengantuk?” bertanya orang itu.

Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia pun duduk bersandar dinding sambil berdesis, “Kenapa kau tidak tidur seperti kawan-kawanmu?”

“Sebagaimana kau yang juga tidak mau tidur,” jawab orang itu.

Sambi Wulung tersenyum. Katanya, “Di tempat seperti ini kita memang perlu berhati-hati.”

Orang itu hanya mengangguk saja. Namun ia pun kemudian juga beringsut mencari sandaran pada dinding.

Ternyata barak itu tidak pernah sepi semalam-malaman. Masih saja terdengar orang-orang berbicara. Kadang-kadang terdengar pula suara tertawa.

Menjelang pagi, Jati Wulung pun telah terbangun. Demikian pula seorang kawan Kiai Windu yang lain, sehingga yang berjaga-jaga pun kemudian telah berganti.

Namun ternyata tidak terjadi sesuatu dimalam itu. Sambi Wulung ternyata masih sempat tidur beberapa saat. Ketika matahari terbit, ia pun telah terbangun.

Bergantian pula mereka telah pergi ke pakiwan. Meskipun matahari telah mulai terapung di langit, namun Song Lawa masih nampak lengang. Sebagian besar dari orang-orang yang berada di barak-barak itu ternyata masih tidur nyenak. Biasanya mereka tidur mulai larut malam dan bangun ketika matahari sudah menjadi agak tinggi.

Seorang diantara kawan-kawan Kiai Windu pun agaknya malas juga untuk bangun. Tetapi Kiai Windu membentaknya, “Kawanmu yang luka itu pun sudah mandi dan membenahi diri. Jangan ikut-ikutan malas seperti orang lain.”

Betapapun matanya masih berat, tetapi ia pun telah bangun dan pergi juga ke pakiwan.

Tetapi karena beberapa tempat masih juga terpakai, maka ia pun harus menunggu meskipun tidak terlalu lama.

Orang itu terkejut, ketika yang keluar dari salah satu bilik pakiwan itu adalah seorang perempuan. Sambil tersenyum perempuan itu bertanya, “Kenapa kau tidak masuk saja?”

“Semua terisi,” jawab kawan Kiai Windu itu.

“Masuk ke bilik ini,” berkata perempuan itu.

“Bukankah pakiwan ini baru saja kau pakai?” desis laki-laki itu sambil mengerutkan keningnya.

Tiba-tiba saja wajah perempuan itu menjadi garang. Sambil menggeretakkan giginya ia berkata, “Kau akan mengintip saat aku mandi he?”

“Gila,” sahut kawan Ki Windu itu, “jika aku ingin kenapa tidak aku lakukan? Bahkan seperti yang kau katakan, memasuki bilik itu selagi kau ada didalam?”

Mata perempuan itu bagaikan menyala. Katanya, “Jika sekali lagi terjadi seperti itu, aku ambil biji matamu.”

“Mataku sangat berharga bagiku. Hampir sama dengan nyawaku,” geram laki-laki itu.

Perempuan itu masih belum berpakaian lengkap itu tidak menjawab lagi. Tetapi dari matanya memang memancar kebencian.

Kawan Kiai Windu itu pun tidak lagi melayaninya. Ia-pun segera masuk kedalam bilik itu, sebelum ada orang lain yang mendahuluinya.

Meskipun ia sudah menyiram tubuhnya dengan air dingin, namun ia masih saja berguman, “perempuan gila. Dikiranya aku apa, mengintipnya mandi. Apalagi ia sama sekali bukan perempuan yang cantik.”

Namun kemudian ia harus mendengarkan seseorang yang dibilik yang lain telah berlagu tembang Dandanggula. Suaranya sama sekali tidak baik, bahkan nadanya sumbang. Susunan kalimatnya kisruh tanpa mengikuti paugeran tembang tentang guru lagu dan guru wilangan.

Tetapi orang-orang lain yang sedang mandi tidak mempedulikannya. Demikian juga kawan Kiai Windu itu. Bahkan ia pun menjadi tergesa-gesa, sehingga asal saja tubuhnya menjadi basah.

Sejenak kemudian, keenam orang itu pun telah selesai membenahi diri. Mereka pun kemudian keluar dari dalam bilik mereka untuk melihat-lihat halaman Song Lawa yang luas itu.

Beberapa kalangan adu ayam sudah siap untuk dipergunakan keesokan harinya. Sementara itu, arena panahan pun telah dibenahi pula. Telah disediakan di arena panahan itu, sasaran yang cukup meskipun biasanya pesertanya tidak terlalu banyak. Tetapi di arena ini taruhannya biasanya lebih besar daripada ditempat lain.

Di halaman tempat perjudian itu Sambi Wulung dan Jati Wulung sempat memperhatikan orang-orang yang bertugas berjalan hilir-mudik. Pada umumnya mereka adalah orang-orang yang bertubuh tinggi besar dan berwajah keras. Raksasa-raksasa itu selain bertugas menyiapkan segala keperluan, juga merupakan kekuatan untuk menjaga agar tempat perjudian itu tidak dikacaukan oleh orang-orang yang datang. Namun mereka tidak banyak mencampuri persoalan yang timbul diantara mereka yang datang berkunjung ketempat itu, bahkan seandainya persoalan itu sampai pada satu akibat kematian sekalipun. Mereka kadang-kadang memang berusaha untuk melerai pertengkaran. Tetapi tidak selalu dilakukan dengan sungguh-sungguh.

Ketika Kiai Windu memberitahukan hal itu kepada Sambi Wulung, maka Sambi Wulung pun berkata, “Satu kesalahan yang besar telah dilakukan oleh mereka yang berkuasa di Song Lawa.”

“Kenapa?” bertanya Kiai Windu.

“Seharusnya mereka mempunyai kekuatan cukup untuk mentertibkan tempat ini. Melerai setiap perselisihan dan mengatur setiap permainan,” berkata Sambi Wulung.

“Itu hanya memperbanyak pekerjaan saja,” jawab Kiai Windu.

“Tetapi orang-orang yang gila pada perjudian tetapi lemah, tidak akan takut datang kemari untuk ikut bermain dadu atau bertaruh pada sabung ayam,” berkata Sambi Wulung, “dengan demikian maka pengunjung di tempat ini akan menjadi semakin ramai, sehingga pemasukan pun akan bertambah lagi.”

Kiai Windu mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia berkata, “benar juga. Tetapi segala sesuatunya akan dapat terjadi diluar tempat ini. Misalnya, orang-orang yang dendam terhadap mereka yang menang tetapi lemah, akan dapat membalas dendam di perjalanan kembali ke tempat tinggal masing-masing.

“Tempat ini harus menyediakan pengantar sampai ke padukuhan-padukuhan yang melindunginya dengan paugeran,” jawab Sambi Wulung.

Kiai Windu mengerutkan keningnya. Tatapi ia berdesis, “Mungkin hal seperti itu dapat dilakukan. Tetapi agaknya mempunyai banyak kesulitan. Meskipun demikian jika ada kesempatan dapat juga disampaikan kepada mereka yang bertugas disini.”

Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam. Namun ia pun menyadari bahwa cara itu akan sangat sulit diterapkan di daerah lereng Gunung Kukusan yang sudah terbiasa dengan caranya yang lama. Yang sebenarnya dirasa mengganggu bagi para penghuni lereng Gunung Kukusan yang lain, sebagaimana orang-orang padukuhan ngGebayan yang selalu dibayangi oleh kecemasan.

Dalam pada itu, Kiai Windu pun kemudian berkata kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung, “Kau tunggu kami didalam. Kami akan keluar sebentar menengok kuda-kuda kami. Meskipun kuda-kuda itu sudah dirawat oleh orang-orang yang khusus ditugaskan, tanpa ditilik langsung, mungkin akan mengalami perlakuan yang kurang baik karena mereka merawat bukan milik mereka sendiri.”

Sambi Wulung mengerutkan keningnya. Tetapi ia pun kemudian bertanya, “Bagaimana jika kami ikut keluar sebentar? Rasa-rasanya ingin juga melihat suasana diluar dinding yang membuat lingkungan ini bagaikan menjadi pengab.”

“Jangan keluar,” cegah Kiai Windu, “kau belum mempunyai tanda yang dapat kau pergunakan untuk masuk dan keluar. Jika yang bertugas dipintu gerbang itu orang lain yang lebih bebal dari yang terdahulu tanpa mau mendengarkan penjelasan, maka persoalannya akan sulit. Karena itu, lebih kalian berdua berada didalam. Ingat, kalian akan diberi tanda itu jika kalian dianggap baik dan tidak berbahaya.”

“Bukankah disini dapat berbuat apa saja?” bertanya Jati Wulung.

“Maksudnya tentu saja berbahaya bagi tempat ini. Bukan bagi para pengunjung yang lain,” jawab Kiai Windu.

Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk.

“Berhati-hatilah. Kami tidak akan lama. Jika kalian merasa sulit untuk mengekang diri melihat segala macam tingkah laku orang disini, masuk saja kedalam bilik dan berbaring untuk menghilangkan kesal,” berkata Kiai Windu kemudian.

“Baiklah. Kami akan menunggu,” sahut Sambi Wulung.

Demikianlah maka Kiai Windu dan ketiga orang kawannya pun telah menuju kepintu gerbang untuk menengok kuda-kuda mereka yang mereka tinggalkan. Agaknya kuda-kuda itu memang kuda-kuda yang mahal dan sudah barang tentu kuda yang baik.

Sepeninggal Kiai Windu, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung masih melihat-lihat keadaan. Mereka pun kemudian berjalan menuju ke arena panahan yang luas. Ketika dilihatnya beberapa orang yang nampaknya sedang memperhatikan jarak dari tempat memanah dan sasaran, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung pun telah melangkah menuju ke sudut lapangan yang luas itu. Keduanya-pun kemudian duduk dibawah sebatang pohon rambutan yang kebetulan tidak sedang berbuah.

Sambil bersandar batang pohon rambutan itu Sambi Wulung sempat memperhatikan kesibukan yang semakin meningkat. Sedangkan Jati Wulung kemudian telah berbaring diatas rerumputan.

Sejuk juga rasanya udara di lereng Gunung Kukusan itu. Apalagi angin yang lemah pertiup dari arah ngarai.

Jati Wulung yang berbaring itu, tanpa disadarinya telah dirayapi oleh perasaan kantuk. Matanya perlahan-lahan telah terpejam.

Tetapi ia terkejut ketika Sambi Wulung telah menggamitnya ambil berdesis, “Lihat.”

Jati Wulung pun tergagap. Dengan serta merta ia telah bangkit dan memandang kearah pandangan Sambi Wulung.

“Kau melihat apa?” bertanya Jati Wulung.

“Anak muda itu,” desis Sambi Wulung.

Keduanya pun kemudian memperhatikan seorang anak muda yang berpakaian rapi dan baik dengan bahan yang cukup mahal. Dua orang yang agaknya pengawalnya berjalan disampingnya sebelah menyebelah. Menilik sikap dan bentuk tubuhnya, maka kedua pengawal itu tentu bukan orang kebanyakan. Mereka tentu orang-orang yang berilmu tinggi.

“Apakah anak itu yang kita cari disini?” desis Sambi Wulung.

Jati Wulung tidak menjawab, tetapi ia terangguk-angguk kecil.

Namun Sambi Wulung pun kemudian berdesis, “Tetapi agaknya anak itu lebih tua dari Risang.”

“Ujudnya memang demikian,” sahut Jati Wulung, “jika anak itu lebih tua dari Risang, tentu bukan anak itu yang kita cari.”

Sambi Wulung mengangguk-angguk pula sambil berkata, “Wajahnya pun sama sekali tidak mirip dengan Risang. Bagaimanapun keduanya seayah, sehingga tentu ada kesamaan betapapun kecilnya.”

“Ya,” sahut Jati Wulung, “tetapi kita belum memperhatikan dengan baik. Kita baru melihatnya dari jarak yang agak jauh. Mungkin kita akan mendapat kesempatan untuk mendekati anak muda itu.”

Sambi Wulung berkata. Namun anak muda itu telah melintas.

Namun untuk beberapa saat kemudian Sambi Wulung dan Jati Wulung masih berada di tempatnya. Tetapi mereka pun tidak lagi memperhatikan orang yang mondar-mandir dilapangan yang akan dipergunakan untuk arena panahan itu. Bahkan Jati Wulung telah berbaring lagi sambil berkata, “Aku tiba-tiba menjadi malas disini. Aku mengantuk.”

“Kau semalam kurang tidur,” berkata Sambi Wulung, “lewat tengah malam kita masih berada di kedai Kemudian kau sempat tidur sebentar. Namun menjelang pagi, akulah yang tidur.”

“Tidak. Sebenarnya jauh dari cukup. Tetapi rasa-rasanya memang udara segar disini. Agak dingin, namun tidak terlalu menggigit. Di hari yang cerah begini aku justru menjadi sangat mengantuk,” sahut Sambi Wulung.

“Tidurlah,” berkata Sambi Wulung, “aku akan duduk sambil menunggu Kiai Windu datang.”

“Mereka agaknya akan langsung kedalam bilik,” berkata Jati Wulung.

Sambi Wulung tidak menyahut. Tetapi ia kembali duduk bersandar pada batang pohon rambutan yang cukup besar itu, sementara Jati Wulung berbaring sambil berbantal kedua telapak tangannya.

Menurut penglihatan Sambi Wulung memang semakin banyak orang yang berada di tempat yang disebut Song Lawa itu. Perempuan pun menjadi semakin banyak pula. Bahkan diantaranya perempuan-perempuan muda yang agaknya tidak untuk berjudi. Tetapi mereka adalah perempuan-perempuan yang lebih banyak bersolek untuk menggoncang hati-hati yang lemah dari laki-laki yang pada umumnya secara wadag terlalu kuat. Meskipun agaknya perempuan-perempuan muda seperti itu tidak memiliki kemampuan ilmu kanuragan, tetapi mereka berada dibawah perlindungan para petugas di Song Lawa, sehingga siapa yang berani mempermainkannya, maka mereka akan berhadapan dengan raksasa-raksasa yang banyak berkeliaran.

Tiba-tiba saja diluar sadarnya Sambi Wulung berkata, “jauhi mereka agar kita tidak kehilangan jalur tugas kita.”

Jati Wulung yang sudah terpejam matanya itu perlahan-lahan beringsut. Tanpa membuka matanya ia bertanya, “Apa yang harus dijauhi?”

“Perempuan-perempuan muda yang sengaja didatangkan kemari,” jawab Sambi Wulung.

Namun justru tiba-tiba saja Jati Wulung bangkit. Dengan nada tinggi ia bertanya, “Yang mana?”

“Awas,” desis Sambi Wulung, “jika kau mempunyai persoalan dengan salah seorang dari mereka, maka kau akan dapat kehilangan semua kesempatan yang sudah kau kita peroleh selama ini.”

“Bukankah aku tidak apa-apa?” bertanya Jati Wulung.

“Tetapi begitu kau mendengar tentang perempuan-perempuan muda, maka kau sudah kehilangan kantukmu,” berkata Sambi Wulung.

Jati Wulung tertawa. Katanya, “Kau selalu curiga. Aku hanya ingin tahu saja.”

Sambi Wulung tidak menjawab. Tetapi ia pun telah mengangkat wajahnya ke satu arah.

Sebenarnyalah bahwa Jati Wulung pun melihat tiga orang perempuan muda yang lewat diiringi oleh dua orang raksasa petugas dari Song Lawa tersebut.

“Sama sekali tidak menarik,” berkata Jati Wulung.

Sambi Wulung berpaling kearah Jati Wulung yang kemudian duduk disisinya. Sambil tersenyum ia berkata, “Tidur sajalah.”

“Nanti dulu. Aku memang tiba-tiba menjadi tidak mengantuk lagi,” jawab Jati Wulung.

Sambi Wulung tertawa pula. Katanya, “Kau memang harus berhati-hati.”

Jati Wulung pun tersenyum. Tetapi ia tidak menjawab.

Tetapi yang kemudian lewat bukan lagi perempuan-perempuan muda dengan rias yang berlebihan. Yang kemudian melintas di lapangan itu adalah Kiai Windu dengan tiga orang kawan-kawannya.

Ternyata bahwa Kiai Windu telah melihat Sambi Wulung dan Jati Wulung yang duduk dibawah pohon rambutan itu. Karena itu, maka mereka pun telah mendekatinya pula.

Sambil tersenyum Sambi Wulung berkata, “Kalian agaknya telah mengikuti perempuan-perempuan itu.”

“Ah,” sahut Kiai Windu, “aku kan sudah tua. Aku lebih senang bertaruh di arena sabung ayam daripada mempertaruhkan uangku untuk hal-hal seperti itu. Bahkan mungkin sebelum aku sempat bertaruh dadu, uangku sudah habis tuntas. Bahkan mungkin aku akan dapat menjual kudaku.”

Sambi Wulung berpaling ke arah Jati Wulung sambil berkata, “Nah, kau dengar?”

“Bukankah aku tidak berbuat apa-apa?” jawab Jati Wulung.

Sambi Wulung, Kiai Windu dan kawan-kawannya tertawa. Dengan nada rendah Kiai Windu berkata, “Mereka adalah pemeras-pemeras yang kasar disini. Namun ada juga orang yang merasa senang dengan pemerasan-pemerasan itu. Dengan bekerja sama para petugas Song Lawa, maka mereka dapat menguras seseorang sampai kering. Tetapi ada juga orang yang merasa dirinya tidak diperas.”

Jati Wulung menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku hanya memandangi mereka dari jauh saja. Mudah-mudahan dengan demikian aku tidak akan diperas karenanya.”

Kiai Windu tertawa semakin keras. Tetapi ia pun kemudian berkata, “Sudahlah. Wanengpati akan menjadi marah nanti.” Kiai Windu berhenti sejenak, lalu, “kami sudah melihat kedalam bilik sesudah menengok kuda-kuda kami. Karena kalian tidak ada, maka kami telah mencari kalian.”

Namun tiba-tiba saja Jati Wulung yang dikenal dengan nama Wanengpati itu berkata, “He, kita belum makan. Kita akan pergi ke kedai.”

Kiai Windu mengerutkan keningnya. Sambil tersenyum ia bertanya, “Kenapa tiba-tiba saja kau mengajak pergi ke kedai? Apakah kau terbiasa makan sepagi ini.”

“Kau lihat matahari sudah melampaui ujung batang nyiur,” jawab Jati Wulung.

“Maksudku, kau terbiasa makan pagi, siang dan malam?” Kiai Windu menjelaskan.

Sambi Wulung tertawa. Katanya, “Marilah. Kita melihat siapa saja yang sudah berada di kedai itu.”

Yang lain pun tertawa. Jati Wulung sambil bangkit berkata, “Dugaan kalian tentu yang bukan-bukan. Tetapi seandainya benar, apa salahnya? Aku ulangi, aku hanya akan memandangi mereka dari jauh, sehingga tidak seorang pun akan dapat memeras aku.”

Semuanya tertawa. Seorang diantara kawan Kiai Windu itu tertawa terlaku keras, sehingga beberapa orang di lapangan itu berpaling kepadanya. Bahkan seorang raksasa yang bertugas di lapangan itu memandangi mereka dengan sorot mata yang tajam.

Namun tiba-tiba raksasa itu melihat Kiai Windu, sehingga justru karena itu, ia telah tertawa sambil melangkah mendekat.

“Cerah sekali agaknya,” desis orang itu.

“Kami menemukan kegembiraan disini,” jawab Kiai Windu.

“Syukurlah,” jawab raksasa yang ternyata telah mengenali Kiai Windu dan kawan-kawannya itu, “apa saja yang kalian bicarakan? Tetapi bukankah kalian tidak mentertawakan aku?”

“Ah,” sahut Kiai Windu, “kami mentertawakan diri kami sendiri. Dirumah kami masing-masing kami tidak perlu makan di pagi hari sampai matahari melewati puncak. Tetapi disini tiba-tiba kami menjadi lapar meskipun hari masih terhitung pagi.”

Raksasa itu tertawa pula. Lalu katanya, “pergilah ke kedai itu. Tentu masakannya masih berasap.”

“Kami memang akan pergi ke kedai itu,” jawab Kiai Windu.

Raksasa itu pun kemudian meninggalkan mereka dan kembali mengawasi orang-orang yang menyiapkan lapangan panahan yang akan menjadi salah satu ara perjudian dengan taruhan yang sangat tinggi.

“Nampaknya ia bersikap wajar,” berkata Sambi Wulung.

“Kenapa?” bertanya Kiai Windu.

“Aku membayangkan bahwa orang-orang yang bekerja disini tentu orang-orang kasar yang membentak-bentak dan sekali-sekali mengumpat dengan kata-kata kotor,” sahut Sambi Wulung.

“Sebagian besar memang demikian,” jawab Kiai Windu, “tetapi seperti yang kalian lihat, ada pula yang bersikap wajar.”

Tetapi pembicaraan mereka terpotong ketika Jati Wulung berkata, “Kenapa kita masih saja berbicara disini.”

Sambi Wulung lah yang menyahut, “Marilah. Orang tua yang satu ini memang aneh.”

Mereka pun kemudian telah meninggalkan lapangan itu untuk pergi ke kedai. Pada saat mereka mendekati kedai itu, Jati Wulung berdesis, “Mudah-mudahan anak muda itu masih berada di kedai itu.”

“Apakah kau tahu bahwa ia berada di kedai?” bertanya Sambi Wulung.

“Jika ia berjalan kearah ini, ia tentu akan pergi ke kedai atau ke pakiwan yang berada disebelah kedai itu, meskipun ada pakiwan yang lain. Tetapi dengan pakaian yang sudah rapi dan bahkan bahannya barangkali cukup mahal, maka ia tentu akan pergi ke kedai itu,” jawab Jati Wulung.

Sambi Wulung mengangguk-angguk. Tetapi mereka tidak mengatakannya kepada Kiai Windu.

Ketika mereka memasuki kedai yang cukup luas itu, maka mereka tidak segera melihat, siapa saja yang sudah duduk lebih dahulu. Namun mereka berenam pun telah menuju ke sebuah amben yang cukup besar disudut kedai itu.

Setelah mereka duduk sambil menunggu pesanan mereka, barulah mereka sempat memperhatikan satu demi satu orang-orang yang berada di kedai itu.

Seorang kawan Kiai Windu tiba-tiba saja berdesis sambil tertawa, “Ternyata pelayan yang menghidangkan makanan di kedai ini bukannya yang semalam.”

Tiba-tiba saja keenam orang itu serentak berpaling ke arah Jati Wulung. Kiai Windu pun berkata sambil tersenyum, “Mereka baru datang hari ini. Karena itu maka Wanengpati telah menjadi kelaparan sepagi ini.”

Kawan-kawannya tertawa. Sambi Wulung pun tertawa.

Jati Wulung sendiri tidak ikut juga tertawa. Tetapi perhatiannya ternyata lebih banyak tertuju kepada seorang anak muda yang memang dicarinya.

Tetapi untuk tidak menarik perhatian, maka Jati Wulung telah memberikan isyarat agar Sambi Wulung sajalah yang mempertanyakan anak muda itu.

Sebenarnyalah, maka sejenak kemudian Sambi Wulung menggamit Kiai Windu yang duduk disebelahnya. Tanpa berpaling kearah anak muda itu Sambi Wulung bertanya, “Kau kenal anak muda itu.”

“Anak muda yang mana?” bertanya Kiai Windu.

“Yang duduk di amben panjang di sebelah tiang itu.” jawab Sambi Wulung tanpa berpaling pula.

Kiai Windu pun tidak dengan serta merta memandang kearah yang dikatakan oleh Sambi Wulung. Namun akhirnya ia menemukan pula orang yang dimaksudkan.

Namun tiba-tiba saja wajah Kiai Windu menjadi tegang. Dengan nada rendah ia berkata, “Anak gila itu ternyata datang lagi. Aku mempunyai persoalan dengan anak itu.”

“Persoalan apa?” bertanya Sambi Wulung.

“Tiga rambahan ia tidak membayar taruhan yang disepakati. Dibayarnya aku dengan timang emasnya. Namun ternyata bahwa emas itu dipalsukan. Sayang bahwa aku mengetahui bahwa emas itu palsu setelah aku meninggalkan Song Lawa ini. Apalagi tanpa saksi,” jawab Kiai Windu.

“Lalu?” bertanya Sambi Wulung.

“Aku berhak mengambil bayaran itu. Aku bawa timang emas palsunya itu yang barangkali ia mau menukarnya dengan uang. Atau aku harus memaksanya,” berkata Kiai Windu.

“Sudahlah,” berkata Sambi Wulung, “dengan demikian akan timbul persoalan sebelum semua acara di Song Lawa ini dimulai.”

“Aku merasa ditipunya,” desis Kiai Windu.

“Tetapi ia membawa pengawal. Sedikitnya dua orang yang duduk di sebelah menyebelah,” berkata Sambi Wulung.

“Mereka hanya bertiga. Kita sedikitnya berenam,” berkata Kiai Windu.

Ketika Sambi Wulung dan Jati Wulung termangu-mangu, Kiai Windu itu pun tersenyum sambil berkata, “Tidak. Aku tidak akan menyeret kalian kedalam persoalan seperti ini. Dan aku pun tidak akan menuntutnya. Dimusim perjudian yang lalu, aku menang cukup banyak, sehingga timang emas yang dipalsukan itu tidak berarti apa-apa. Namun jika terasa sakit dihati, justru karena aku meresa tertipu itulah.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Dengan nada berat Jati Wulung berkata, “Sebaiknya kau tidak mempersoalkannya lagi, kecuali jika ternyata ke bilik di sebelah untuk membunuh diri, maka lebih baik kau tuntut emas palsu itu.. Jika kau terpaksa mati dalam perselisihan itu, maka kau tidak mati karena membunuh diri.”

“Ah kau,” desis Kiai Windu, “tetapi pendapatmu dapat dipikirkan kemungkinannya.”

Jati Wulung pun tertawa. Namun ia bertanya, “Kau tahu nama anak muda itu?”

“Tahu,” jawab Kiai Windu, “namanya bagus sekali, sebagaimana wajahnya yang tampan dan pakaiannya yang selalu rapi.”

“Ya, siapa?” bertanya Jati Wulung tidak sabar.

“Wikrama,” jawab Kiai Windu, “nah bukankah nama yang sangat menarik?”

“Memang nama yang menarik,” jawab Sambi Wulung sambil mengangguk-angguk.

Namun Jati Wulung pun telah menarik nafas dalam-dalam pula. Sebenarnyalah ia merasa kecewa mendengar nama itu, karena nama itu bukannya nama dari seseorang yang dicarinya.

Karena itu, maka ia pun berkata, “Sayang sekali.”

“Apa yang sayang?” bertanya Kiai Windu.

“Anak semuda itu sudah berada di tempat seperti ini,” jawab Jati Wulung, “apakah orang tuanya tidak mengawasinya? Menurut pengamatanku, meskipun ia sudah dewasa tetapi tentu belum dewasa penuh.”

Kiai Windu mengangguk-angguk. Katanya, “Kau akan melihat bahwa ada beberapa orang anak muda yang sering datang ketempat ini. Bahkan ada yang lebih muda dari Wikrama.”

“O,” Sambi Wulunglah yang menyahut, “jika lebih muda dari anak muda itu, tentu ia belum dewasa.”

“Ya. Memang belum dewasa,” jawab Kiai Windu, “pengawal-pengawalnyalah yang sudah dewasa dan yang paling banyak mendapat kesenangan disini.”

“Kau mengenal mereka?” bertanya Sambi Wulung.

“Tentu,” jawab Kiai Windu, “seorang bernama Tanon. Seorang yang agaknya dilahirkan dalam keluarga yang kaya raya sebagaimana Wikrama itu. Ia lebih muda dari anak muda itu. Tetapi nampaknya ia tidak terlalu tertib sebagaimana Wikrama. Yang lebih muda sedikit adalah seorang anak yang memiliki kemampuan yang tinggi. Ia tidak sekedar bergantung kepada pengawal-pengawalnya seperti Wikrama dan Tanon yang biasanya membawa bukan hanya dua orang pengawal. Tetapi empat atau bahkan lebih.”

“Bukan main,” desis Jati Wulung, “remaja yang memiliki ilmu yang tinggi?”

“Ya. Namanya Puguh,” jawab Kiai Windu.

Jantung kedua orang itu berdesir. Baik Sambi Wulung maupun Jati Wulung untuk sejenak justru terdiam sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

Namun keduanya sempat menahan diri, sehingga perhatian mereka tidak menimbulkan kecurigaan. Bahkan kemudian Sambi Wulung itu pun bertanya, “Apa yang mereka lakukan disini?”

“Ah. Kau aneh. Sudah barang tentu berjudi. Memberikan taruhan pada sabung ayam dan permainan dadu. Tetapi Puguh sendiri memiliki kemampuan memanah yang tinggi. Ia memiliki kemampuan bidik yang luar biasa sehingga ia jarang dikalahkan di arena ini.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung menjadi berdebar-debar. Mereka segera teringat kepada Risang. Apakah Risang memiliki kemampuan sebagaimana dimiliki oleh Puguh?

Namun Sambi Wulung dan Jati Wulung belum menyaksikan sendiri seberapa jauh kemampuan remaja yang bernama Puguh itu.

“Mudah-mudahan tugas kami berhasil disini,” berkata keduanya didalam hati.

Jika keduanya berhasil berhubungan dengan Puguh, maka yang mereka perlukan adalah tempat tinggal Puguh itu dan dengan demikian maka akan ada kesempatan untuk mengamatinya. Bahkan ibunya.

Namun keduanya pun yakin, bahwa Warsi telah menjadi seorang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi setelah kekalahannya beberapa tahun yang lalu dalam perang tanding melawan Iswari.

Bahkan untuk menjajagi keadaan anak itu lebih jauh, Jati Wulung bertanya, “Kiai Windu. Apakah kau dapat membayangkan, bagaimanakah kira-kira ujud dari orang tua mereka. Terutama anak-anak yang masih remaja dan berkeliaran ditempat seperti ini. Kita yang tua-tua ini pun sebenarnya harus bertanya kepada diri-sendiri, apakah yang kita cari disini. Apalagi anak-anak yang masih sangat muda, bahkan remaja.”

“Aku belum pernah melihat orang tua mereka,” jawab Kiai Windu, “nampaknya mereka datang ketempat ini tanpa pernah bersama dengan orang tua mereka. Dan apakah orang tua mereka mengerti atau tidak, itu pun tidak aku ketahui.” Kiai Windu berhenti sejenak, lalu, “Maaf, aku bukan seorang yang mempunyai kepentingan dengan mereka.”

“Ya,” sahut Sambi Wulung, “kita memang tidak mempunyai kepentingan langsung dengan mereka. Tetapi kadang-kadang kita lebih banyak memikirkan orang lain daripada memikirkan diri sendiri. Aku sendiri adalah penjudi yang tidak tanggung-tanggung. Tetapi aku selalu menyesali anak-anak muda yang berada ditempat perjudian. Biarlah kita yang tua-tua ini terlanjur rusak. Tetapi jangan terjadi pada anak-anak muda itu.”

Kiai Windu mengangguk-angguk. Katanya, “Masih ada juga pilihannya padamu. Ternyata kau masih sempat berpikir jauh. He, apakah anakmu sebesar itu?”

Sambi Wulung mengerutkan keningnya. Katanya, “Mana mungkin orang seperti aku sempat mempunyai anak. Tetapi aku bersukur bahwa demikian yang terjadi, sehingga aku tidak harus menjadi korban karena perasaan kecewa terhadap anak-anakku, bila mereka berada ditempat-tempat seperti ini.”

Kiai Windu tidak bertanya lebih lanjut. Tetapi nampaknya ia justru berpikir. Bahkan kemudian kepalanya menunduk dalam-dalam. Suaranya menjadi berat, “Ki Sanak. Agaknya memang lebih baik tidak mempunyai seorang anak pun daripada mengalami kesulitan yang parah dengan anak-anak kita yang pernah dilahirkan. Aku mempunyai empat orang anak. Tiga diantaranya laki-laki. Semuanya sudah tidak ada lagi. Anakku tinggal seorang perempuan saja. Untunglah aku sudah mempunyai dua orang cucu.”

“O,” Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Namun diluar sadarnya Jati Wulung bertanya, “Kenapa dengan mereka?”

“Mereka semua terbunuh dalam perselisihan keluarga yang parah,” jawab Kiai Windu, “ketika seorang diantara anakku laki-laki diminta untuk mengawini anak sepupuku, ternyata anakku itu menolak, bagaimanapun aku membujuknya. Penolakan itu dianggapnya satu penghinaan, sehingga akhirnya terjadilah perselisihan itu. Dalam satu benturan kekerasan yang terjadi, yang menurut sepupuku itu untuk menebus malu, maka semua, ketiga anak laki-lakiku terbunuh. Bahkan isteriku pun terbunuh pula, meskipun ia sama sekali tidak melibatkan diri dalam perselisihan itu. Untunglah anak perempuanku sempat melarikan diri dan terlepas dari tangan sepupuku. Sehingga dengan terpaksa sekali, aku harus mengakhiri hidupnya. Semula ada niatku untuk membunuh juga anak perempuannya. Tetapi ternyata aku tidak sampai hati melakukannya. Jika semula aku menganggap bahwa anak perempuan itulah yang menjadi sumber malapetaka. Namun ternyata anak itu pun tidak tahu menahu atas langkah-langkah yang diambil oleh ayahnya. Sementara itu kematian ayahnya sudah merupakan hukuman yang berat baginya, karena ibunya telah meninggal pula pada saat ia masih kanak-kanak.”

“O, maaf Kiai,” desis Jati Wulung, “bukan maksudku untuk mengungkapkan kesedihan dihati Kiai.”

“Tidak. Kesedihan itu sudah terkubur bersama ketiga orang anak laki-lakiku. Mereka tidak mati sia-sia. Mereka telah mempertahankan martabat keluarganya. Tiga orang anak laki-lakiku mati bersama lebih dari lima orang lawan mereka.” Kiai Windu berhenti sejenak, lalu, “sekarang harapanku ada pada cucu-cucuku. Kedua cucuku itu adalah laki-laki.”

Yang mendengarkan keterangan Kiai Windu itu mengangguk-angguk. Sementara ia masih berkata, “Ketiga orang kawanku ini hanya seorang saja yang tahu pasti apa yang terjadi saat itu. Ia bersamaku sejak anak-anakku lahir. Yang dua orang diantara mereka bagiku termasuk orang-orang baru meskipun aku tidak meragukan kesetiaannya.”

“Tetapi bukankah Kiai tidak akan membiarkan cucu-cucu Kiai itu datang ketempat seperti ini sebagaimana dilakukan oleh kakeknya?” bertanya Sambi Wulung.

Kiai Windu mengangkat wajahnya. Ia justru tertawa. Namun katanya, “jangan menunggu pesanan kita menjadi dingin.”

Keenam orang itu pun kemudian telah makan bersama-sama. Rasanya memang nikmat sekali, sehingga perhatian mereka sepenuhnya tertuju kepada makanan mereka semata-mata.

Mereka sama sekali tidak memperhatikan ketika dua orang datang mendekati mereka. Tiba-tiba saja salah seorang dari mereka telah menepuk bahu salah seorang kawan Kiai Windu.

Ketika orang itu berpaling, maka yang menepuk bahunya itu pun telah melontarkan sekeping logam kedalam mangkuk nasi kawan Kiai Windu itu.

Wajah kawan Kiai Windu itu menjadi merah. Dengan serta merta ia bangkit sambil memandangi orang itu berganti-ganti dengan logam yang ada didalam mangkuknya.

Orang yang memasukkan logam itu tertawa. Katanya, “Kau kenal ciri itu?”

Kawan Kiai Windu itu menjadi semakin tegang. Dengan nada berat ia berkata, “Kau orang Macan Ireng?”

“Kau masih mengenalinya he?” jawab orang itu, “nah, kita ternyata bertemu disini.”

“Ya,” jawab kawan Kiai Windu, “aku sudah terbiasa disini. Agaknya kau baru sekarang datang ke tempat ini. Siapa yang menanggungmu he? Atau kau sengaja ingin membuat persoalan lagi dengan aku sehingga kau memasuki tempat ini?”

“Kebetulan aku melihatmu disini. Aku hanya sekedar ingin mengingatkan, bahwa persoalan kita masih belum selesai,” berkata orang itu.

“Tetapi caramu bagiku adalah satu tantangan,” berkata kawan Kiai Windu, “kau masukkan benda itu didalam mangkukku.”

“Aku menunggu sampai kau selesai makan,” jawab orang itu, “tetapi jika kau benar-benar tersinggung, apaboleh buat.”

“Bagus,” jawab kawan Kiai Windu, “aku benar-benar tersinggung dengan caramu. Mari, kita pergi ke lapangan panahan. Kita akan mendapat tempat yang luas untuk berbuat apa saja.”

Tetapi Kiai Windu kemudian berdesis, “Buat apa kita meributkannya sekarang. Kita mempunyai banyak waktu. Bukankah kita masih duduk-duduk disini menikmati makanan kita.”

“Tetapi tantangan ini tidak dapat aku biarkan,” jawab kawan Kiai Windu.

“Aku setuju. Tetapi kenapa sekarang?” bertanya Kiai Windu.

“Mangkukku sudah dikotorinya,” jawab kawannya itu.

“Kita minta mangkuk yang lain,” jawab Kiai Windu, “jika kita sudah selesai disini, maka terserah kepadamu. Nampaknya orang baru itu memang belum terlalu banyak mengenal tempat ini.”

“Persetan dengan tempat ini,” jawab orang yang menyebut dirinya dari kelompok Macan Ireng itu. “aku tidak perlu mengenalnya lebih dahulu.”

“Jangan hiraukan,” berkata Kiai Windu, “duduk dan kita teruskan makan.”

Sebelum kawannya menjawab, Kiai Windu telah memberikan isyarat kepada seorang pelayan untuk minta sebuah mangkuk yang bersih.

Kawan Kiai Windu pun telah duduk kembali. Ketika ia sempat memandang berkeliling, ternyata beberapa orang yang ada didalam kedai itu memandanginya.

Karena itu, maka katanya, “Jika kau ingin membuat perhitungan, nanti kita bertemu. Kawanku tidak mau merusakkan kedai ini, karena untuk menggantinya, harganya terlalu mahal. Hampir lipat sepuluh dari harga yang seharusnya.”

“Bagus,” jawab orang itu, “persoalan kita cukup berharga untuk dinilai dengan ilmu kita.”

Kawan Kiai Windu itu tidak menghiraukannya lagi. Ia duduk kembali ketika ia mendapat sebuah mangkuk yang bersih.

Kedua orang itu pun kemudian telah melangkah pergi pula. Seorang masih sempat menepuk pundaknya sambil berkata, “Mudah-mudahan kau menepati janjimu.”

Kawan Kiai Windu tidak menjawab. Ia sudah menyuapi mulutnya kembali. Sebenarnyalah bahwa ia memang belum selesai makan.

Ketika kedua orang itu sudah keluar dari kedai itu, maka Kiai Windu pun berkata, “berikan pertanda itu.”

Kawannya mengambil logam dari mangkuknya, mencucinya dengan air bersih yang disediakan untuk mencuci tangan dan memberikannya kepada Kiai Windu.

“Macan Ireng,” desis Kiai Windu, “kau mempunyai persoalan apa dengan orang-orang Macan Ireng, he?”

Kawannya mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Aku pernah melukai seseorang yang ternyata orang Macan Ireng.”

“Kenapa kau lukai orang itu?” bertanya Kiai Windu. Lalu, “kapan itu kau lakukan sehingga aku tidak mengetahuinya?”

“Aku sedang dalam perjalanan menengok keluargaku di padukuhan Sempon, dekat Kudus. Aku masih mempunyai seorang paman disana dan anakku ada disana pula,” jawab kawan Kiai Windu.

“Ya. Aku tahu bahwa kau pergi ke Kudus lebih dari sebulan yang lalu,” berkata Kiai Windu.

“Aku bertemu dengan seseorang yang semula aku tidak tahu, bahwa orang itu adalah orang dari gerombolan Macan Ireng,” jawab kawan Kiai Windu, “orang itu berusaha untuk mengambil seorang anak kecil. Mungkin ia memang berniat jahat. Aku kira termasuk usaha pemerasan dengan menuntut tebusan bagi anak kecil itu.”

“Anak itu anakmu?” bertanya Kiai Windu.

“Bukan. Anak itu adalah anak pamanku itu,” jawab kawan Kiai Windu.

“Kenapa tiba-tiba saja orang Macan Ireng berusaha mengambil anak pamanmu?” bertanya Kiai Windu.

“Pamanku termasuk orang berada di Sempon. Selebihnya, ada semacam perselisihan terjadi di padukuhan Sempon antara keluarga pamanku itu dengan keluarga seorang bebahu yang berpengaruh. Agaknya orang Macan Ireng itu termasuk seorang yang telah diperalat oleh bebahu itu dan sekaligus untuk melakukan pemerasan.” jawab kawannya.

“Bagaimana sepeninggalmu? Apakah pamanmu tidak menjadi sasaran yang lunak bagi lawannya?” bertanya Sambi Wulung.

“Paman adalah orang kaya. Ia telah membayar tiga orang untuk melindunginya,” jawab kawan Kiai Windu itu.

Jati Wulung mengerutkan keningnya. Katanya, “Hanya tiga orang untuk menghadapi gerombolan Macan Ireng? He, apakah gerombolan Macan Ireng hanya terdiri dari dua orang itu saja?”

“Tentu tidak,” jawab kawan Kiai Windu itu, “tetapi yang tiga orang itu juga anggauta dari sebuah gerombolan yang akan dapat menyaingi gerombolan Macan Ireng. Jika Macan Ireng mengganggu salah seorang dari ketiga orang itu, maka akibatnya adalah benturan antara gerombolan. Agaknya untuk sementara Macan Ireng masih merasa segan.”

Jati Wulung mengangguk-angguk. Namun kini orang Macan Ireng itu justru bertemu dengan kawan Kiai Windu di Song Lawa.

Demikianlah, maka mereka pun kemudian telah selesai. Setelah membayar makanan yang mereka makan, mereka pun telah meninggalkan kedai itu.

“Kau lagi yang membayar,” berkata Sambi Wulung, “nanti akulah yang membayar.”

“Kau hanya berdua. Kami berempat,” berkata Kiai Windu.

“Tetapi adalah kewajiban kami untuk membayarnya,” sahut Jati Wulung.

“Baiklah,” jawab Kiai Windu, “tetapi jika kami yang membayar itu pun bukan aku. Tetapi kami bergantian empat orang.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung tertawa. Tetapi mereka tidak berbicara lagi.

Namun dalam pada itu Sambi Wulung dan Jati Wulung memang harus berhati-hati. Di ngGebayan mereka telah membunuh seorang yang menurut pendapat Sambi Wulung dan Jati Wulung sangat deksura. Bagaimanapun juga keduanya tidak mau dihina. Sementara kawan-kawan dari orang yang terbunuh itu sudah ada di Song Lawa itu pula. Meskipun nampaknya mereka tidak secara serta merta mendendamnya, tetapi kemungkinan buruk memang dapat terjadi.”

Ternyata bahwa kawan Kiai Windu itu tidak melupakan janjinya. Karena itu, maka katanya, “Aku akan menemui orang-orang Macan Ireng itu. Bukankah kami berjanji untuk bertemu di lapangan.”

“Satu tontonan yang tentu akan menarik. Tempat ini sudah terlalu ramai untuk berkelahi sekarang,” berkata Kiai Windu.

“Tetapi aku tidak akan ingkar janji,” jawab kawannya.

Kiai Windu menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Baiklah. Tetapi sebaiknya kalian berkelahi tanpa senjata.”

“Aku tidak dapat memilih. Terserah orang Macan Ireng itu,” jawab kawan Kiai Windu.

Kiai Windu mengangguk-angguk. Ia memang tidak dapat memaksakan kehendaknya kepada orang-orang Macan Ireng itu.

Sejenak kemudian maka mereka pun telah berada di lapangan. Mereka berdiri agak menepi, karena ternyata beberapa orang masih sibuk mempersiapkan lapangan itu untuk dipergunakan pertandingan memanah yang diperjudikan.

Beberapa saat mereka menunggu. Namun ternyata sejenak kemudian mereka melihat sekelompok orang berjalan menuju kearah mereka.

Kiai Windu terkejut. Katanya, “Apakah mereka semua orang-orang Macan Ireng?”

“Entahlah,” jawab kawannya, “beberapa orang diantara mereka adalah orang-orang yang sudah terbiasa berada di Song Lawa.”

Kiai Windu menggeram. Katanya, “persetan. Aku memang mengenal mereka yang sudah sering datang ketempat ini. Mereka tidak pernah menyebut dirinya orang-orang Macan Ireng. Tetapi dua diantara mereka adalah orang-orang Kalamerta.”

“Kalamerta,” hampir diluar sadarnya Sambi Wulung berdesis.

“Ya. Bekas gerombolan Kalamerta yang semula sudah bercerai berai, namun yang berhasil dihimpun pula oleh pewarisnya,” jawab Kiai Windu.

“Aku sudah mendengar tentang hancurnya gerombolan Kalamerta sepeninggal pemimpinnya,” desis Jati Wulung.

“Pemimpinnya telah dibunuh oleh pemimpin Tanah Perdikan Sembojan. Orang yang memiliki ilmu yang luar biasa, yang pernah mempunyai persoalan dengan Kalamerta jauh sebelumnya. Bukan dengan gerombolannya. Tetapi persoalan pribadi yang diselesaikan dengan perang tanding. Tetapi Kalamerta terbunuh dan Ki Gede Sembojan yang juga hampir mati sampyuh itu dapat disembuhkan oleh seorang ahli pengobatan yang berilmu tinggi. Namun ia tetap cacat,” berkata Kiai Windu.

“Apakah pemimpin Tanah Perdikan itu juga sering datang kemari untuk berjudi?” bertanya Sambi Wulung.

“Tidak. Pemimpin Tanah Perdikan itu sudah mati,” jawab Kiai Windu.

“Lalu, apa hubungannya dengan orang-orang itu?” bertanya Sambi Wulung pula.

“Tidak ada,” jawab Kiai Windu, “tetapi dua orang Kalamerta itu merupakan dua orang diantara mereka yang sering mengawal anak muda yang aku katakan. Masih terlalu muda.”

“Remaja?” desak Jati Wulung.

“Begitulah. Remaja yang bernama Puguh itu. Menilik kedua orang itu serta kawan-kawannya yang lain, maka agaknya Puguh itu pun telah berada disini pula,” berkata Kiai Windu kemudian.

Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk.

Tetapi mereka tidak boleh terlalu menunjukkan perhatian mereka terhadap laki-laki remaja yang bernama Puguh itu.

Beberapa saat kemudian, maka orang-orang yang datang bersama dengan orang dari gerombolan Macan Ireng itu sudah menjadi semakin dekat. Orang yang telah memasukkan ciri gerombolannya kedalam mangkuk kawan Kiai Windu itu berjalan dipaling depan. Sambil tersenyum ia pun kemudian berhenti beberapa langkah dihadapan kawan Kiai Windu yang memang menyongsongnya.

“Ternyata kau jantan,” berkata orang dari gerombolan Macan Ireng itu.

“Aku tidak pernah ingkar janji,” jawab kawan Kiai Windu, “apalagi dalam persoalan seperti ini.”

“Bagus,” jawab gerombolan Macan Ireng itu, “tetapi sayang. Keadaan didalam lingkungan ini tidak terlalu baik untuk melakukan perang tanding. Aku ingin melakukannya diluar.”

Kawan Kiai Windu termangu-mangu. Ia merasa bahwa ia tidak memiliki keterangan yang dapat dianggap lengkap untuk memasuki arena, sehingga ia meragukan kejujuran orang Macan Ireng itu. Jika ia memenuhi permintaannya dan ternyata ia terjun kedalam satu jebakan, maka ia akan mengalami kesulitan, sementara itu ia memang menduga bahwa orang-orang Macan Ireng adalah orang-orang yang licik. Langkah-langkah yang diambil oleh gerombolan itu atas pamannya memang menimbulkan kesan bahwa gerombolan itu bukankah terdiri dari orang-orang yang jujur.

Karena kawan Kiai Windu itu tidak segera menjawab, maka orang dari gerombolan Macan Ireng itu mendesak, “He, apa katamu?”

Tetapi kawan Kiai Windu itu menggeleng. Katanya, “Kenapa kita harus keluar dari Song Lawa? Disini kita mempunyai kesempatan yang luas. Jika kau ingin kita lakukan ditempat yang tersembunyi, kita dapat mencarinya didalam lingkungan Song Lawa. Tidak diluarnya.”

“Kau takut?” bertanya orang Macan Ireng itu.

“Ya,” jawab kawan Kiai Windu, “aku takut kau menjadi licik dan berusaha menjebakku. Menurut penglihatanku, kau memang sangat licik. Bukankah yang pernah kau lakukan, atau katakanlah orang-orang dari gerombolanmu mencerminkan kelicikanmu itu?”

Orang macan Ireng itu menjadi tegang. Dengan geram ia berkata, “Kau menghina kami. Dendamku menjadi semakin dalam. Sementara itu kau bersikap seperti seorang pengecut.”

“Aku memang pengecut dihadapan orang yang licik. Nah, aku tantang kau berkelahi didalam lingkungan Song Lawa. Tidak akan ada orang yang mengganggu. Jika ada orang yang menonton biarlah mereka menjadi saksi,” berkata kawan Kiai Windu, “justru dihadapan saksi-saksi itu kita dapat menilai, siapakah yang menang dengan sikap jujur.”

Suasana memang menjadi tegang. Ketika beberapa orang bergeser, maka Kiai Windu dan kawan-kawannya yang lain pun bergeser pula. Nampaknya Kiai Windu dan kawan-kawannya itu telah menganggap diri mereka satu.

Sambi Wulung dan Jati Wulung termangu-mangu. Apakah mereka juga akan melibatkan diri?

Dalam ketegangan itu tiba-tiba terdengar suara seorang remaja melengking, memanggil nama seseorang.

Beberapa orang telah berpaling. Tetapi seorang diantara mereka yang mengikuti orang dari gerombolan Macan Ireng itu bergegas mendekatinya.

“Kau memanggil aku?” bertanya orang itu.

“Apa yang kau lakukan disini?” bertanya remaja itu.

“Aku melihat kawanku yang terlibat dalam perselisihan dengan orang-orang itu,” jawab orang yang dipanggilnya.

“Kau atau kawanmu?” bertanya remaja itu.

“Kawanku,” jawab yang dipanggil.

“Dan kau akan melibatkan diri? Disini urusan seseorang adalah urusannya sendiri. Bukan urusan orang lain,” berkata remaja itu.

“Tetapi ia kawanku,” orang yang dipanggil itu berusaha menjelaskan.

“Persetan,” remaja itu membentak, “kau datang ketempat ini bersamaku. Kau hanya berurusan dengan aku. Tidak dengan orang lain meskipun itu kawanmu. Ikut aku bersama semua orang-orangku.”

Orang yang dipanggil itu tidak membantah. Ketika remaja itu kemudian pergi, maka orang itu pun telah memberikan isyarat, agar beberapa orang kawannya pun pergi juga mengikuti remaja itu.

Yang dipanggil hanyalah empat orang. Sejenak orang Macan Ireng itu termangu-mangu. Namun ia pun mengumpat, “Anak bengal itu telah mengganggu rencanaku menyelesaikan persoalan ini dengan tikus gila itu.”

“Bukankah kau merencanakan satu kecurangan?” bertanya kawan Kiai Windu.

“Baiklah,” berkata orang Macan Ireng itu, “pada satu hari, akan datang kesempatanku untuk membalas dendam.”

Kawan Kiai Windu tidak menjawab. Sementara itu, maka orang Macan Ireng itu pun telah beranjak.

Tetapi langkahnya terhenti ketika kawan Kiai Windu berkata, “Kau lihat, bahwa orang-orang yang bekerja dilapangan itu sama sekali tidak menghiraukan kita, meskipun seandainya kita saling membunuh disini? Mereka hanya akan menguburkan mayat, siapakah diantara kita yang mati. Tetapi mereka akan minta upah kepada yang menang, karena mereka harus menguburkan mayat itu.”

“Persetan dengan mereka,” geram orang Macan Ireng itu sambil melangkah pergi.

Beberapa langkah sepeninggal orang-orang Macan lreng, maka Kiai Windu berdesis, “Mereka memang akan berbuat licik. Untung kau sempat berpikir.”

“Mereka memang akan menjebakmu tanpa malu-malu,” sahut Jati Wulung.

Namun tiba-tiba saja Kiai Windu berkata, “Anak itulah yang bernama Puguh.”

“He?” Sambi Wulung dan Jati Wulung memang agak terkejut.

“Kenapa?” bertanya Kiai Windu, “apakah kau menaruh perhatian khusus terhadap Puguh?”

“Sama sekali tidak. Tetapi aku memang menaruh perhatian terhadap semua remaja yang ada ditempat ini. Bahkan mereka yang baru saja memasuki usia dewasanya. Kita yang tua-tua ini sebentar lagi sudah akan memasuki lubang kubur. Kematian kita tidak akan ada yang menangisinya. Apalagi jika kita mati dibidik yang memang disediakan untuk membunuh diri itu. Tetapi anak-anak muda apalagi yang sedang menginjak usia dewasa dan mereka yang masih remaja, maka hari depan mereka masih panjang. Sementara itu disini mereka mendapat kesempatan untuk berjudi, berkelahi, membunuh dan tidak kalah berbahayanya adalah perempuan-perempuan di kedai itu,” sahut Sambit Wulung.

“Kau memang aneh,” berkata Kiai Windu, “aku kira tidak ada tiga atau empat orang di lingkungan ini yang mempunyai sikap seperti sikapmu itu. Bahkan orang tua anak-anak muda dan remaja itu pun aku kira tidak mempunyai pikiran sejauh itu.”

“Tentu banyak yang lain,” berkata Sambi Wulung, “terucapkan atau tidak.”

“Aku semula juga tidak berpikir seperti itu. Tetapi kini aku mulai memikirkannya,” berkata Kiai Windu.

“Bagaimana jika kita usulkan, bahwa batas umur perlu ditentukan di Song Lawa yang gila ini,” berkata Jati Wulung.

“Mereka tidak akan sependapat,” jawab Kiai Windu.

“Mereka siapa?” bertanya Jati Wulung.

“Mereka yang mendirikan tempat maksiat ini. Mereka tidak akan mempedulikan akibat apapun yang akan terjadi atas mereka yang mamasuki tempat ini. Tetapi seperti yang kau ketahui, mereka yang datang akan memasukkan uang. Disetiap tempat perjudian akan dipasang tarip bagi mereka yang memasukinya. Berjudi atau tidak berjudi,” berkata Kiai Windu, “dan itu adalah penghasilan tempat ini. Selain itu, kedai itu pun memberikan penghasilan yang besar, karena harga makan dan minum di kedai ini lebih mahal dari harga dimanapun juga. Sementara itu, perempuan-perempuan yang kemudian akan memeras itu pun memberikan penghasilan yang baik bagi Song Lawa.”

Sambi Wulung pun mengangguk-angguk. Sementara itu orang Macan Ireng itu pun sudah tidak nampak lagi. Mereka telah hilang diantara beberapa barak penginapan di Song Lawa itu.

“Bagaimana menurut pendapatmu tempat ini? “ tiba-tiba saja Kiai Windu bertanya, “menarik atau justru sebaliknya.”

“Bagiku sangat menarik. Lebih-lebih lagi anak-anak muda dan remaja itu. Aku ingin berkenalan dengan mereka,” berkata Sambi Wulung.

“Kita masih mempunyai banyak waktu,” berkata Kiai Windu, “kau tentu akan mendapat kesempatan itu.”

Sambi Wulung mengangguk-angguk. Dengan nada datar ia berkata, “Ya. Kita masih mempunyai banyak waktu.”

Sehari itu Sambi Wulung dan Jati Wulung bersama Kiai Windu dan kawan-kawannya melihat persiapan yang sudah sampai pada tataran terakhir. Beberapa kalangan sabung ayam pun telah siap. Didalam sebuah barak panjang, akan menjadi arena bermain dadu. Permainan yang tidak kalah riuhnya dari permainan sabung ayam. Di lapangan yang luas, telah siap pula tempat untuk menyelenggarakan panahan yang diperjudikan.

Persiapan di hari itu diselingi beberapa kekerasan yang telah terjadi di Song Lawa. Bahkan satu jiwa telah melayang dalam benturan kekerasan itu.

Namun Sambi Wulung dan Jati Wulung berusaha menjaga diri mereka agar mereka tidak terlibat dalam benturan-benturan kekerasan. Mereka mempunyai sasaran tugas yang jauh lebih besar dari sekedar menunjukkan kemampuan mereka. Keduanya mempunyai tugas untuk dapat berhubungan dengan anak muda yang bernama Puguh.

Sebenarnya Sambi Wulung dan Jati Wulung merasa tidak sesuai berada ditempat seperti itu. Kadang-kadang hatinya memang digelitik untuk mencampuri persoalan orang lain yang dianggapnya kurang adil. Namun keduanya harus menahan diri agar keduanya tidak terlibat kedalam persoalan yang justru akan dapat menggagalkan sasaran utama mereka.

Menurut pengamatan Sambi Wulung dan Jati Wulung, Kiai Windu dan kawan-kawannya ternyata tidak sekasar yang ia duga. Mereka memang sering mengumpat dengan kata-kata kotor. Tetapi mereka menanggapi persoalan-persoalan yang berkembang dengan sikap yang mengendap.

“Mungkin karena mereka sudah terbiasa berada disini,” berkata Sambi Wulung didalam hatinya.

Ketika mereka makan siang, maka rasa-rasanya kedai itu pun menjadi semakin sesak. Mereka duduk berhimpitan. Mereka tidak dapat duduk mengelilingi makanan dan minuman mereka, karena mereka harus memberikan tempat kepada orang-orang lain. Bahkan ada diantara orang-orang yang makan itu justru duduk-duduk diluar kedai, dibawah rindangnya dedaunan.

Dalam pada itu, Sambi Wulung dan Jati Wulung telah melihat beberapa kelompok orang yang mempersiapkan beberapa perangkat gamelan disudut-sudut lingkungan perjudian Song Lawa itu.

“Untuk apa?” bertanya Sambi Wulung.

“Disetiap sudut akan ada janggrung malam nanti,” jawab Kiai Windu.

“Lengkaplah kemaksiatan di tempat ini,” desis Jati Wulung.

“Apakah hal seperti ini tidak kau bayangkan sebelumnya?” bertanya Kiai Windu.

Sambi Wulung dan Jati Wulung termangu-mangu. Namun kemudian Sambi Wulung berkata, “Ditempat-tempat lain tidak diperlengkapi dengan kemaksiatan yang begini kasar. He, jika kau memang pernah pergi ke tempat perjudian di Gresik, kau tentu dapat mengatakan bahwa tempat ini terlalu kasar dan kotor.”

“Kau sudah memasuki tempat yang bukan sewajarnya,” berkata Kiai Windu,” jangan menyesal jika kau melihat sesuatu yang kasar, kotor, jorok dan tidak sewajarnya pula.”

“Aku mengerti,” berkata Sambi Wulung. Namun tiba-tiba Kiai Windu berkata, “Kau menjadi orang aneh disini.”

“Justru baru pertama kali aku datang ketempat ini,” jawab Sambi Wulung.

Sebenarnyalah, ketika malam turun, maka disudut-sudut lingkungan perjudian itu telah siap beberapa lingkaran janggrung. Ketika oncor telah terpasang, maka suara gamelan pun mulai terdengar. Agak riuh, dengan irama yang panas.

Hampir semua orang yang ada di tempat itu telah keluar dari barak-barak mereka. Melihat-lihat lingkungan yang menjadi lebih terang dari biasanya. Apalagi disudut-sudut lingkungan itu.

Sambi Wulung dan Jati Wulung masih berada di biliknya bersama Kiai Windu dan ketiga orang kawan-kawannya ketika gamelan sudah terdengar. Seorang kawan Kiai Windu berkata, “He, apakah kita tidak akan melihat janggrung?”

Kiai Windu memandang Sambi Wulung dan Jati Wulung yang malas. Namun ia pun bertanya, “Bagaimana dengan kalian?”

“Aku malas, Kiai,” jawab Sambi Wulung.

“Seharusnya kau tidak boleh malas,” berkata Kiai Windu, “bukankah kau berniat mengenal anak-anak muda dan yang remaja itu?”

“Ya,” jawab Sambi Wulung.

“Nah, marilah kita pergi,” ajak Kiai Windu.

Sambi Wulung memandang Jati Wulung yang duduk bersandar dinding justru sambil memejamkan matanya. Namun ketika Sambi Wulung bertanya kepadanya, maka ia pun telah membuka matanya, “Apakah kita akan pergi?”

Sejenak ia berpikir. Sementara seorang kawan Kiai Windu berkata, “Tledeknya masih baru.”

“Darimana kau tahu?” bertanya Kiai Windu.

“Hanya kira-kira,” jawab kawannya, “bukankah Wanengpati lebih senang tledek yang baru sebagaimana yang berada di kedai siang dan sore ini?”

Jati Wulung mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian bergumam, “Baiklah. Kita melihat janggrung.”

Demikianlah mereka berenam telah keluar pula dari bilik mereka. Sementara itu bilik-bilik yang lain pun agaknya telah kosong pula. Ternyata bahwa janggrung itu memang sangat menarik. Bukan saja bagi pengunjung laki-laki yang datang ke Song Lawa, tetapi juga perempuan-perempuan yang telah ada di dalam lingkungan tempat perjudian itu pula.

Ketika Sambi Wulung dan Jati Wulung bersama Kiai Windu dan kawan-kawannya datang ke salah satu lingkaran janggrung itu, agaknya pertunjukan memang baru dimulai. Para penari masih menari tanpa pasangan. Mereka menarikan tarian yang panas dan melagukan tembang yang menggelitik.

Beberapa orang melingkari arena pertunjukan itu. Namun Sambi Wulung dan Jati Wulung melihat bahwa kemaksiatan di tempat itu benar-benar lengkap ketika beberapa orang laki-laki yang duduk-duduk ditempat gelap telah mulai meneguk tuak.

“Kiai,” berkata Sambi Wulung, “sudah berapa kali kau kunjungi tempat ini?”

“Tiga kali,” jawab Kiai Windu, “kenapa?”

“Aku sudah empat kali,” sahut seorang kawan Kiai Windu.

“Selalu ada kegiatan seperti ini?” bertanya Sambi Wulung.

“Ya,” jawab Kiai Windu.

“Dalam keadaan seperti ini apakah tidak mudah terjadi singgungan-singgungan? Apalagi mereka yang sudah mulai mabuk?” desis Sambi Wulung.

“Keadaan seperti ini memang rawan sekali. Tetapi lihatlah di sekitar tempat ini,” berkata Kiai Windu.

“Apa?” bertanya Sambi Wulung.

“Orang-orang yang akan mengusung mayat-mayat yang mungkin akan jatuh di malam ini telah siap,” berkata Kiai Windu, “namun pada umumnya mereka masih juga menahan diri agar besok mereka dapat ikut bertaruh di sabungan ayam atau di tempat bermain dadu atau ikut panahan.”

Sambi Wulung mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah-mudahan kali ini pun demikian.”

Kiai Windu tidak menjawab. Tetapi ia mengajak mereka untuk pergi ke arena pertunjukkan yang lain.

Seperti diarena yang baru saja mereka tinggalkan, maka yang nampak adalah beberapa orang tledek muda yang menari dengan irama yang panas. Mereka tersenyum-senyum kepada orang-orang yang mengerumuninya. Seolah-olah dengan sengaja mengundang mereka untuk memasuki arena.

Tetapi suasananya masih belum terlalu panas. Orang-orang yang berkerumun masih lebih senang melihat tledek-tledek itu menari. Sementara orang-orang yang berkerumun itu hanya sekedar menonton, meneriaki penari-penari yang terlalu banyak solah dan sekali-sekali bertepuk seiring dengan irama gamelan yang hangat.

Ketika keenam orang itu bergeser kesudut yang lain, ternyata di tempat itu, pertunjukan baru akan dimulai. Beberapa orang penari memasuki arena. Sejenak mereka memandang berkeliling sambil tersenyum, disambut dengan tepuk tangan orang-orang yang berada disekelilingnya.

“Agak terlambat dibanding dengan di tempat-tempat lain,” jati Wulung berdesis.

Yang lain tidak menjawab. Tetapi mereka telah mengambil tempat yang cukup mapan dibawah sebatang pohon gayam.

Namun perhatian mereka tertarik ketika tiba-tiba saja seorang perempuan yang diiringi oleh seorang laki-laki yang bertubuh raksasa sebagaimana para petugas di tempat itu menyelinap diantara mereka yang menonton pertunjukan itu.

Dengan kerut dikening, Sambi Wulung, Jati Wulung dan Kiai Windu dengan kawan-kawannya melihat perempuan itu menghentakkan tangannya.

“Benar, orang itu yang kau cari?” bertanya laki-laki raksasa itu.

“Perempuan itu memang cantik,” desis perempuan yang mendesak maju itu dan berdiri didepan Kiai Windu dan kawan-kawannya.

“Tetapi kau tidak salah lihat?” bertanya kawannya sekali lagi.

“Tidak. Perempuan itulah yang telah mengambil suamiku, namun yang kemudian menyuruhkannya kedalam perselisihan dengan para petugas disini. Sehingga akhirnya suamiku itu terbunuh disini,” berkata perempuan itu.

“Kau tahu petugas yang manakah yang telah membunuh suamimu?” bertanya laki-laki raksasa itu.

“Aku tidak tahu yang mana,” jawab perempuan itu, “tetapi itu tidak penting. Aku ingin perempuan itu hidup-hidup.”

“Aku akan mengambilnya,” geram laki-laki raksasa itu.

“Jangan sekarang,” cegah perempuan itu, “aku masih ingin bermain dadu. Jika kita sudah selesai, maka kita cari keterangan, dimana tempat tinggalnya. Aku lebih senang berurusan dengan perempuan itu diluar lingkungan Song Lawa.”

“Baiklah. Tetapi kita harus menyadari, bahwa dimanapun juga perempuan itu tentu mempunyai pelindung. Karena itu, maka untuk mengambilnya, kita harus benar-benar siap melakukannya,” berkata laki-laki bertubuh raksasa itu.

“Bukankah kita juga tidak hanya berdua?” desis perempuan itu.

Laki-laki itu tidak menjawab. Namun mereka telah tenggelam dalam tarian yang telah dimulainya. Bahkan laki-laki raksasa itu sempat juga berkata, “perempuan itu memang cantik.”

“Kau juga akan terseret kedalam pelukannya?” bertanya perempuan itu.

Laki-laki itu tertawa. Katanya, “Nilaimu lain dengan nilai tledek itu meskipun seandainya kecantikanmu sama dengan kecantikannya.”

“Persetan,” geram perempuan itu. Namun laki-laki itu masih saja tertawa.

Demikianlah maka sejenak kemudian lingkungan perjudian yang disebut Song Lawa itu menjadi ramai. Semakin malam maka irama gamelan pun menjadi semakin hangat. Empat lingkaran keramaian yang dipanaskan oleh tari janggrung yang semakin kasar membuat orang-orang yang mengerumuni menjadi semakin gembira. Beberapa orang yang mulai menjadi mabuk telah ikut menari-nari. Mereka pun telah memasuki kebiasaan para penari janggrung yang kasar. Mereka memberikan keping-keping uang kepada para tledek yang menari berputar-putar untuk dapat ikut menari sebagai pasangannya.

Dalam pada itu, Sambi Wulung, Jati Wulung serta Kiai Windu dengan ketiga orang kawannya ternyata hanya melihat-lihat saja. Tidak seorang pun diantara mereka yang ikut meneguk tuak yang dapat memabukkan. Tidak pula ikut menari bersama-sama dengan penari janggrung.

Ketika keadaan menjadi semakin panas, maka tidak dapat dielakkan lagi telah terjadi benturan-benturan kekerasan. Namun seperti yang dikatakan oleh Kiai Windu, pada umumnya mereka masih berusaha untuk menahan diri, karena besok mereka ingin ikut serta dalam sabung ayam, atau permainan dadu serta panahan yang diperjudikan.

Namun ketika Sambi Wulung dan Jati Wulung melihat remaja yang disebut bernama Puguh itu berada di bawah sebatang pohon preh tidak terlalu jauh dari salah satu arena tari janggrung, maka keduanya telah saling menggamit.

Kiai Windu segera mengerti maksud keduanya ketika keduanya dengan hati-hati agar tidak menarik perhatian telah mendekati anak muda itu.

Ternyata Sambi Wulung telah berpura-pura memapah Jati Wulung seakan-akan sedang mabuk. Kemudian melemparkannya sehingga Jati Wulung itu terjatuh tidak terlalu jauh dari remaja yang bernama Puguh yang duduk dikelilingi oleh empat orang pengawalnya.

Ketika debu terhambur, maka salah seorang pengawal Puguh itu pun mengumpat, “Orang gila. Kau kotori pakaian kami he?”

Sambi Wulunglah yang menyahut, “Maaf Ki Sanak. Adikku memang orang yang tidak tahu diri. Sudah tua masih juga ribut dengan tari janggrung dan bahkan telah mabuk pula.”

Seperti yang lain, pengawal Puguh itu pun tidak lagi mempersoalkannya. Agaknya mereka pun lebih senang bermain besok dari pada malam itu, harus terjadi keributan, karena mereka memang datang untuk berjudi.

Sambi Wulung dan Jati Wulung telah duduk tidak telalu jauh dari Puguh dan para pengawalnya. Jati Wulung masih saja bersikap seperti orang mabuk, sehingga Kiai Windu yang juga mendekatinya meskipun masih tetap memelihara jarak, tertawa sambil berbisik kepada kawan-kawannya, “Mereka adalah orang-orang aneh.”

“Mungkin mereka mempunyai persoalan dengan anak-anak muda itu,” desis seorang kawannya.

“Tidak,” jawab Kiai Windu, “ia menaruh perhatian terlalu besar terhadap anak-anak muda dan remaja yang berada di tempat maksiat seperti ini.”

“Menarik sekali untuk diperhatikan,” berkata kawan Kiai Windu yang lain.

“Tetapi mereka benar-benar orang yang berilmu sangat tinggi. Namun ternyata mereka tidak sekasar yang kita duga sebelumnya, sebagaimana mereka menghentikan kita dan melukai salah seorang diantara kita,” berkata Kiai Windu.

“Aku kira, mereka hanya membutuhkan bantuan kita untuk menanggung mereka memasuki tempat ini, karena mereka tahu, tanpa ditanggung oleh orang-orang yang sudah memiliki pertanda, maka mereka tidak akan dapat masuk,” sahut kawan Kiai Windu yang justru telah terluka. Namun lukanya telah hampir sembuh dan tidak terasa pedih lagi.

Dalam pada itu, Jati Wulung yang seakan-akan mabuk itu telah bangkit dan berjalan terhuyung-huyung mendekati Puguh. Sambil tertawa-tawa Jati Wulung berkata, “He, mana tuakku? Mana bumbung tuakku?”

Sambi Wulung dengan cepat menariknya dan mendorongnya untuk duduk. Katanya, “Diam kau.”

Jati Wulung pun segera duduk. Lebih dekat dengan Puguh dan para pengawalnya.

Bahkan Sambi Wulung telah mendorong Jati Wulung untuk berbaring diatas rerumputan yang mulai mengering.

“Maaf Ki Sanak,” berkata Sambi Wulung.

“Bawa kawanmu itu pergi,” bentak salah seorang pengawal remaja yang bernama Puguh itu.

“Aku akan membawanya pergi. Tetapi biarlah nanti jika keadaannya sudah berangsur baik. Syukurlah jika ia dapat tidur disini sebentar sehingga tidak mengganggu orang lain,” berkata Sambi Wulung.

“Tapi bawa kesebelah pohon itu,” bentak yang lain.

“Ia tidak akan mengganggu Ki Sanak. Aku akan menjaganya,” jawab Sambi Wulung.

Pengawal Puguh itu tidak mengatakan sesuatu. Namun mereka justru memperhatikan seorang lagi yang datang ketempat Puguh dan kawan-kawannya itu.

Ternyata orang itu juga seorang pengawal Puguh yang membeli sebungkus makanan. Jagung bakar yang hangat dan tape ketan.

Namun dalam pada itu, Sambi Wulung berusaha untuk mendapat kesempatan berbicara dengan mereka. Karena itu, maka Sambi Wulung pun kemudian bertanya, “Dimana kalian dapat membeli jagung bakar seperti itu.”

“Di kedai itu,” jawab pengawal yang membeli jagung bakar itu, “kau orang baru disini he? Aku belum pernah melihatmu sebelumnya.”

“Ya,” jawab Sambi Wulung, “kami baru kali ini mengunjungi tempat yang sangat menarik ini. Disini kita mendapat apa yang kita inginkan, serta melepaskan semua kehendak tanpa ada yang menghalanginya.”

Pengawal Puguh itu tertawa. Katanya, “Kau terlambat mengenal tempat ini.”

“Aku menyesal,” jawab Sambi Wulung.

Dalam pada itu pengawal Puguh yang lain berkata, “Kenapa tiba-tiba kau terlempar kemari?”

“Satu kebetulan,” jawab Sambi Wulung, namun ia berusaha untuk mengalihkan pembicaraan, “apakah kalian sudah beberapa kali datang kemari.”

“Ya. Beberapa kali,” jawab pengawal itu.

Sambi Wulung termangu-mangu. Namun kemudian ia pun bertanya, “Anak yang masih sangat muda itu?”

Pengawal itu berpaling kearah Puguh. Katanya, “Angger ini pun sudah beberapa kali berada disini.”

“Ia masih sangat remaja. Jadi seberapa besarnya ketika ia mengenali tempat ini untuk pertama kalinya?” bertanya Sambi Wulung sambil berdebar-debar. Jika anak itu anak yang kasar, maka ia tentu akan mengumpat, bahkan mungkin berbuat sesuatu.

Tetapi ternyata anak itu hanya berpaling kepadanya sambil berdesis, “Kenapa kau ingin mengetahuinya?”

“Maaf. Aku minta maaf jika pertanyaanku ini kurang berkenan dihatimu,” jawab Sambi Wulung. Lalu, “Soalnya apakah para remaja sudah tahu arti segala macam permainan disini?”

“Kau mulai menghina aku,” berkata Puguh.

“Tidak. Bukan maksudku,” jawab Sambi Wulung, “aku juga mempunyai anak sebesar angger ini. Maaf, siapakah nama angger?”

“Puguh,” jawab remaja itu tanpa ragu-ragu, “namaku Puguh. Kau tertarik pada nama itu?”

“Nama yang bagus,” jawab Sambi Wulung.

“Mungkin. Nama itu mungkin dapat dianggap nama yang baik. Tetapi nama itu tidak berarti apa-apa bagiku,” jawab Puguh.

Sambi Wulung mulai heran menghadapi sikap anak yang bernama Puguh itu. Bahkan tiba-tiba saja anak itu bertanya, “He, Ki Sanak. Kau memikirkan keadaanku? Mungkin kau bertanya didalam hatimu, jika kanak-kanak ingusan seperti aku berada ditempat ini, apakah jadinya aku di kemudian hari.”

Sambi Wulung justru berdesah. Namun anak itu berkata selanjutnya, “Tidak seorang pun yang memikirkan hari kemudianku. Apakah aku akan menjadi seorang Tumenggung atau menjadi brandal yang paling buruk atau apapun yang ingin aku lakukan. Hidupku memang ditempa oleh kekerasan dan dendam. Apalagi?”

Sambi Wulung termangu-mangu. Namun pengawalnyalah yang berkata, “Puguh memang seorang yang bekerja keras menempa ilmunya. Mungkin terlalu keras sehingga sebagian dari masa kanak-kanaknya hilang.”

Hampir diluar sadarnya Sambi Wulung berkata, “Sebenarnya masa remajamu dapat kau nikmati. Tetapi justru tidak disini.”

“Aku tidak mempunyai tempat yang lain yang dapat memberikan kegembiraan kepadaku selain disini,” jawab Puguh, “agaknya disini aku dapat berbuat apa saja dengan tanggung jawabku sendiri bersama orang-orang yang memang diserahkan kepadaku untuk mengawani aku disini.”

“Tetapi beaya kesenanganmu ditempat ini terlalu mahal,” berkata Sambi Wulung.

“Jika aku kalah. Tetapi jika aku menang, maka aku akan mendapatkan berlipat ganda,” jawab Puguh.

“Kau pernah memenangkan permainan disini?” bertanya Sambi Wulung.

Puguh menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tidak. Aku belum pernah menang. Tetapi kalau tidak kalah aku memang pernah. Maksudku tidak kalah dan tidak menang. Aku keluar dari tempat ini membawa uang sebagaimana aku memasukinya. Tetapi aku pun pernah ditipu orang disini. Memang mengherankan, bahwa ditempat seperti ini ada juga orang yang berani menipuku.”

“Ditipu orang?” Sambi Wulung mengulang.

Tetapi Puguh tidak mau menjawab. Bahkan ia pun berkata, “Panggil perempuan yang sedang menari itu. Berapa saja ia minta uang.”

“Untuk apa kau panggil penari itu?” hampir diluar sadarnya Sambi Wulung bertanya.

Puguh tertawa. Katanya, “Kau tahu, bahwa aku sudah memasuki lingkungan ini sejak beberapa tahun sebelumnya. Sekarang umurku telah mendekati lima belas. Aku sudah dewasa sekarang.”

“Belum. Kau belum dewasa,” desis Sambi Wulung.

Puguh tertawa. Namun katanya kemudian, “Bawa kawanmu yang mabuk itu pergi. Aku tahu, kau tidak senang akan sikapku. Tetapi kau harus ingat, bahwa kita berada di Song Lawa. Disini tidak ada kewajiban untuk menyenangkan orang lain.”

Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam. Namun sekali lagi Puguh berkata, “Bawa kawanmu yang mabuk itu pergi.”

Sambi Wulung tidak mau memberikan kesan bermusuhan dengan orang yang ingin diketahui keadaannya lebih jauh itu. Karena itu, maka ia pun berkata, “Baiklah. Kami akan pergi.”

Sambi Wulung pun kemudian telah mengguncang Jati Wulung yang masih terbaring. Tetapi Jati Wulung sama sekali tidak menjawabnya. Karena itu, maka Sambi Wulung pun telah mengangkat dan memapah Jati Wulung untuk membawanya pergi.

Keduanya menyusuri dinding Song Lawa yang remang-remang oleh cahaya obor. Namun kemudian keduanya telah turun ke lorong yang langsung menuju kedalam barak mereka.

“Bawa aku kedalam bilik,” berkata Jati Wulung.

“Kaulah yang ganti harus menggendongku semalam suntuk,” geram Sambi Wulung, “kau kira kau tidak cukup berat.”

“Pergunakan tenaga cadangan dan ilmumu untuk memapah aku,” desis Jati Wulung.

“Gila kau,” jawab Sambi Wulung.

Jati Wulung tertawa. Tetapi ia masih tergantung dipundak Sambi Wulung.

Mereka tertegun ketika mereka bertemu dengan Kiai Windu dan kawan-kawannya sebelum mereka memasuki pintu barak. Kiai Windu pun telah tertawa sambil berkata, “besok, biarlah aku yang berpura-pura mabuk.”

“Sst..” desis Jati Wulung.

“Tidak ada orang,” jawab Kiai Windu, “semua orang sudah keluar dari biliknya.”

Jati Wulung tidak menyahut. Tetapi demikian mereka memasuki barak itu, maka Sambi Wulung telah mendorong Jati Wulung sambil berkata, “berjalanlah sendiri.”

Jati Wulung hampir saja menimpa dinding. Namun ia tertawa sambil berkata, “besok harus dilakukan lagi jika kau ingin berbicara dengan anak muda yang lain.”

Sambi Wulung menjawab, “Tidak perlu. Tanpa mabuk-mabukkan dapat dicari cara lain. Aku sudah cemas bahwa orang-orang itu akan dapat mengetahui bahwa kau hanya berpura-pura.”

“Aku sudah melakukan perananku dengan baik sekali,” jawab Jati Wulung.

“Tetapi mulutmu sama sekali tidak berbau tuak,” jawab Sambi Wulung.

Jati Wulung tiba-tiba saja tertawa. Namun ia pun kemudian telah berjalan kebilik mereka.

Dalam pada itu, bilik-bilik yang lain memang masih kosong. Para penghuninya masih saja melihat keramaian di sudut-sudut lingkungan Song Lawa yang merupakan dunia tersendiri.

Ketika mereka memasuki barak mereka, Jati Wulung berdesis, “Apa saja yang kemudian dilakukan oleh Puguh?”

“Jangan sebut itu. Aku tidak berani membayangkannya,” jawab Sambi Wulung.

Jati Wulung memang tidak mengatakannya lebih lanjut, sehingga karena itu, maka ia pun telah terdiam.

Tetapi dalam kediamannya Jati Wulung itu pun telah berbaring di pembaringannya.

“Apakah kita tidak akan keluar lagi?” bertanya Kiai Windu.

“Aku ingin merenungi malam ini di dalam bilik ini,” jawab Sambi Wulung.

Kiai Windu tersenyum. Katanya, “Kau dengar suara gamelan itu? Semakin malam menjadi semakin panas. Penarinya berganti-ganti tanpa habis-habisnya.”

“Besok kita dapat menemui mereka di Kedai,” berkata Jati Wulung sambil memejamkan matanya.

“Tetapi dalam keadaan yang berbeda,” jawab Kiai Windu.

“Aku sedang mabuk sekarang,” jawab Jati Wulung.

Mereka pun kemudian tertawa. Namun suara tertawa mereka pun terputus ketika mereka mendengar suara perempuan melengking. Agaknya perempuan yang berada dibilik sebelah itu pun telah kembali kedalam biliknya.

“Perempuan-perempuan yang tidak tahu akan harga dirinya,” geram perempuan itu yang terdengar dari bilik Sambi Wulung.

“Itu sudah pekerjaannya,” terdengar seorang laki-laki menyahut.

“Jika kau memerlukannya, kenapa kau ikuti aku kembali ke bilik ini?” perempuan itu membentak.

“Aku sudah mengantuk. Besok aku akan ikut bertaruh pada sabung ayam,” jawab laki-laki itu. Sementara itu terdengar suara laki-laki yang lain, “uangku lebih baik aku pergunakan untuk bertaruh besok daripada harus diberikan kepada tledek-tledek itu.”

“Kalian berpikir tentang uang,” berkata perempuan itu, “tetapi sama sekali tidak tentang kesetiaan.”

“Kesetiaan? Apa maksudmu?” bertanya laki-laki itu.

“Jika kau tidak mau bersinggungan dengan perempuan itu bukannya karena kau tidak mempunyai uang, mengantuk atau alasan-alasan lain. Tetapi semata-mata karena kalian tidak mau mengkhianati isteri kalian. Mengantuk atau tidak mengantuk, tidak mempunyai uang atau menyimpan uang sepedati, kalian sama sekali tidak akan berbicara tentang tledek-tledek seperti itu,” geram perempuan itu.

Tetapi yang terdengar adalah suara tertawa beberapa orang laki-laki. Lebih dari dua orang. Seorang diantaranya berkata, “Apa artinya kesetiaan itu bagimu? He, jawab. Berapa kali kau sudah kawin?. Bercerai, kawin lagi? Bahkan sekali waktu kau mempunypai dua orang suami.”

“Tutup mulutmu,” tiba-tiba saja terdengar suara pedang yang ditarik dari sarungnya.

“Sudahlah,” terdengar suara berat, “sejak kemarin kau selalu menarik pedangmu. Apakah kau tidak dapat berbuat lain daripada marah-marah diantara sesama kita?”

Pertengkaran itu memang mereda. Bahkan kemudian tidak lagi terdengar suara seseorang. Tetapi yang terdengar adalah hentakkan-hentakkan pada barang-barang dan alat-alat yang ada didalam bilik sebelah.

“Tledek. itu memang dapat menimbulkan persoalan antara seorang perempuan dan laki-laki yang mungkin suaminya, bahkan orang lain sekalipun,” desis Jati Wulung sambil memejamkan matanya.

“Tidur sajalah,” berkata Sambi Wulung.

Kiai Windu yang kemudian juga berbaring tersenyum. Katanya, “Sebaiknya kita memang beristirahat. Besok kita akan melihat sesuatu yang kita tunggu. Bukankah kalian berdua belum pernah menyaksikannya?”

“Ya,” sahut Sambi Wulung, “besok kita akan menyaksikannya.”

Namun ternyata Jati Wulung dan Sambi Wulung tetap tidak mau tidur bersama-sama. Bagaimanapun juga mereka tetap tidak mengetahui kemungkinan yang dapat terjadi di tempat yang belum mereka ketahui dengan jelas itu. Karena itu, maka mereka masih juga tidur bergantian.

Kiai Windu yang mengetahui kesiagaan keduanya itu hanya tersenyum saja. Meskipun dalam tingkat ilmu Kiai Windu masih dibawah kemampuan Sambi Wulung dan Jati Wulung, tetapi ia pun memiliki pengalaman yang luas pula.

Sampai lewat tengah malam suara gamelan masih terdengar riuh dan panas. Penari janggrung yang turun ke arena telah berganti-ganti. Beberapa orang kepalanya telah menjadi pengab karena berkelahi. Bahkan beberapa orang telah pingsan. Satu lagi jiwa telah melayang sebelum perjudian benar-benar dimulai.

Dalam pada itu, Kiai Badra dan Kiai Soka yang mengamati keadaan di tempat perjudian itu dari luar mencoba untuk mendekati di malam hari. Meskipun mereka tidak melihat apa yang ada didalam dinding yang mengelilingi tempat yang disebut Song Lawa itu, namun mereka tahu, apa yang sedang berlangsung.

“Gending-gending yang menggelitik,” desis Kiai Soka.

Kiai Badra tertawa. Katanya, “Kau masih juga ingat gending-gending untuk tayub?”

“Lebih panas dari tayub yang tertib,” jawab Kiai Soka, “tentu sedang berlangsung tari janggrung.”

Kiai Badra masih tertawa tertahan. Katanya, “Mudah-mudahan Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak tenggelam dalam dunia yang menghanyutkan itu.”

Kiai Soka mengangguk-angguk. Katanya, “Jika aku masih tiga puluh tahun lebih muda, maka aku akan berusaha untuk memasuki tempat itu tanpa mengingat bahayanya.”

“Barangkali Kiai ingin mencobanya sekarang?” bertanya Kiai Badra.

Kiai Soka juga menahan tertawanya. Namun keduanya tidak bergeser terlalu dekat dengan dinding Song Lawa.

Keduanya terpaksa bersembunyi dibalik gerumbul ketika dua orang petugas dari Song Lawa itu nganglang di sekitar dinding lingkungan perjudian itu.

Demikian petugas itu menjadi semakin jauh, maka Kiai Badra dan Kiai Soka telah keluar dari persembunyiannya.

Nampaknya belum ada persoalan yang penting yang harus mereka tangani. Menurut perhitungan kedua orang tua itu, keramaian yang diselenggarakan malam itu tentu ada maksudnya.

“Mungkin besok perjudian yang ada didalam lingkungan Song Lawa itu akan dimulai,” berkata Kiai Badra.

“Mungkin,” sahut Kiai Soka, “keramaian malam ini merupakan pertanda dari permulaan itu.”

“Beberapa hari persiapan-persiapan telah dilakukan dengan baik. Sehingga nampaknya segala sesuatunya memang sudah siap,” berkata Kiai Badra.

“Mudah-mudahan Sambi Wulung dan Jati Wulung berhasil berhubungan dengan anak muda yang bernama Puguh itu,” desis Kiai Soka.

Dengan demikian maka kedua orang tua itu pun berusaha untuk dapat mengelilingi lingkungan Song Lawa, untuk melihat segala sesuatunya. Mereka tidak tahu, apakah pada satu hari keduanya terpaksa memasukinya.

Menjelang dini hari, maka kedua orang itu pun mulai bergeser menjauh. Suara gamelan pun sudah menjadi semakin letih. Satu dari empat arena janggrung telah menyelesaikan kegiatannya. Tledek yang menari di arena sudah tidak kelihatan seorang pun, sementara para pemukul gamelan sudah menjadi letih pula.

Beberapa saat kemudian satu lagi telah menyelesaikan permainannya pula. Dan menjelang fajar, maka suara gamelan pun telah berhenti. Para pemukul gamelan tidak beranjak dari tempatnya. Mereka langsung saja membaringkan dirinya dan tidur diantara gamelan mereka.

Ketika fajar mulai memerah di langit, maka para petugas di Song Lawa telah siap. Mereka telah membangunkan para penabuh gamelan yang belum sempat tidur puas.

“Sebentar lagi segalanya akan dimulai. Kalian harus meramaikannya dengan suara gamelan. Sabung ayam akan menjadi ramai. Demikian pula permainan dadu. Di lapangan akan dilangsungkan panahan,” berkata para petugas itu.

Meskipun masih mengantuk, namun para penabuh itu telah pergi ke pakiwan, mencuci muka dan membenahi diri bersiap dibelakang gamelan. Namun mereka tidak lagi akan mengiringi tari janggrung. Mereka akan sekedar membunyikan gamelan untuk meramaikan saat dimulainya musim perjudian.

Demikianlah ketika kemudian matahari mulai naik, maka segala persiapan telah selesai. Arena sabung ayam-pun telah dipersiapkan sebagaimana tempat bermain dadu. Dilapangan, beberapa sasaran panahan pun telah tergantung. Bahkan disisi lapangan terdapat sasaran yang lebih kecil yang dipergunakan untuk paseran. Untuk jenis ini dipergunakan lapangan yang tidak terlalu luas. Sasarannya memang mirip dengan sasaran untuk panahan yang terdiri dari tiga bagian, yaitu kepala, leher, dada dan biasanya dipergunakan jeruk bali untuk digantungkan dibawah sasaran pokok. Mereka yang mengenai jeruk itu, justru akan mendapat denda.

Demikianlah, tanpa sesorah dan penjelasan apapun, maka seorang yang bertubuh tinggi tegap sebagaimana kebanyakan raksasa yang bertugas di tempat itu telah memukul kentongan dengan nada dara muluk.

Suara kentongan itu telah disambut oleh suara gamelan yang berada di sudut-sudut lingkungan Song Lawa itu, sehingga dengan demikian maka diseluruh lingkungan Song Lawa itu, telah diriuhkan oleh suara-suara gamelan dan beberapa kentongan yang saling bersahutan.

Suara kentongan dan gamelan itu ternyata telah bergetar dan membentur lereng Gunung Kukusan, berkumandang menelusuri lembah dan tebing-tebing curam.

Kiai Badra dan Kiai Soka yang berada di gerumbul perdu di lereng Gunung Kukusan itu pun mendengar pula suara yang riuh itu. Mereka yang tidak mengetahui berbagai pertanda yang ada di Song Lawa itu hanya dapat menduga, bahwa musim perjudian saat itu telah dimulai.

Sebenarnyalah, maka arena sabung ayam pun telah penuh dengan orang-orang yang akan bertaruh. Mereka harus membayar untuk memasuki arena itu. Demikian pula mereka yang memasuki barak permainan dadu dan lapangan untuk panahan dan paseran yang dianggap sebagai permainan sejenis. Bedanya, bahwa pada paseran seseorang melemparkan paser dengan tangannya ke sasaran, sementara pada panahan dipergunakan busur untuk melontarkan anak panah pada sasaran yang lebih jauh dari paseran.

Demikian matahari semakin tinggi, maka Song Lawa-pun menjadi semakin riuh. Taruhan-taruhan pun menjadi semakin hangat dan jumlahnya pun menjadi semakin besar.

Dalam pada itu, maka Kiai Windu telah bertanya kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung, “Kalian akan memasuki yang mana? Taruhan sabung ayam, permainan dadu atau ikut panahan atau paseran atau hanya sekedar ikut taruhan pada panahan dan paseran?”

Sambi Wulung dan Jati Wulung termangu-mangu. Sebenarnyalah mereka tidak memikirkan sebelumnya, kemana mereka akan pergi. Namun ketika mereka teringat bahwa anak-anak muda lebih senang berada ditempat panahan, maka Sambi Wulung pun berkata, “Aku akan melihat panahan lebih dahulu. Aku harus mengerti cara bertaruh. Baru Kemudian ikut bertaruh.”

“Kalian akan ikut panahan atau sekedar bertaruh?” bertanya Kiai Windu.

“Kami akan melihat suasananya lebih dahulu,” jawab Sambi Wulung.

Kiai Windu pun mengangguk-angguk. Namun kemudian ia pun berkata, “Aku pergi bersama kalian.”

“Kenapa kalian akan pergi bersama kami? Apakah kalian tidak mempunyai rencana tersendiri? Atau kalian memang ingin mengawasi kami?” bertanya Sambi Wulung.

“Jangan salah mengerti Ki Sanak,” jawab Kiai Windu, “aku sudah sering datang ketempat ini. Karena itu, aku tidak merasa perlu tergesa-gesa. Aku akan melihat-lihat dan baru kemudian menentukan apa yang akan kami lakukan. Musim perjudian ini akan dilakukan untuk waktu yang cukup lama. Jika masih banyak orang yang berminat dalam waktu sepuluh hari masih belum akan ditutup. Nah, bukankah banyak tersedia waktu untuk menghabiskan uang disini dan kemudian pergi ke bilik kecil itu untuk membunuh diri.”

“Baiklah,” sahut Sambi Wulung, “tetapi sebenarnya kami tidak ingin membuat kalian terikat kepada kami.”

“Sudah kami katakan,” Jati Wulung menyambung, “setelah berada didalam lingkungan Song Lawa kami akan bertanggung jawab atas diri kami sendiri.”

Kiai Windu tersenyum. Katanya, “Apa salahnya jika kita pergi bersama-sama. Setelah dua atau tiga hari, kalian akan menghubungi petugas disini bersama kami untuk mendapat pertanda bahwa kalian adalah keluarga yang sah dari tempat perjudian ini.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Namun mereka tidak menjawab lagi.

Mereka berenam pun kemudian telah pergi ke lapangan panahan yang agak luas. Tempat itu memang tidak terlalu berdesakan sebagaimana tempat-tempat yang lain. Juga tidak terlalu gemuruh teriakan-teriakan orang bertaruh sebagaimana ditempat sabung ayam.

Namun keenam orang itu pun tidak segera berbuat sesuatu. Mereka masih berdiri saja menyaksikan beberapa orang yang sudah duduk diatas tikar dengan busur dan anak panah.

“Setiap orang yang ikut serta dalam panahan dan paseran harus membayar. Baru mereka mendapat tempat untuk duduk menghadapi sasaran,” berkata Kiai Windu.

Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Namun agaknya mereka baru dalam tingkat melihat-lihat.

Ketika panas menjadi semakin terik, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung telah duduk dibawah sebatang pohon di pinggir lapangan. Namun dari tempatnya mereka dapat menyaksikan panahan yang semakin lama memang menjadi semakin menarik.

Tetapi ternyata tidak demikian bagi Sambi Wulung dan Jati Wulung, karena ternyata anak muda yang mereka cari tidak berada di tempat itu.

“Mungkin besok atau besok lusa,” berkata Sambi Wulung kepada Jati Wulung hampir berbisik.

Jati Wulung mangangguk-angguk. Katanya, “Kita masih mempunyai waktu. Tetapi mudah-mudahan kita tidak akan mengatakan demikian jika semuanya sudah lewat.”

Sambi Wulung tersenyum meskipun hambar. Katanya, “Apakah sebaiknya kita mencarinya di tempat lain?”

“Agaknya mereka pun baru melihat-lihat. Pada saat kita keluar justru mereka memasuki lapangan ini,” sahut Jati Wulung.

Sambi Wulung mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Kita menunggu disini.”

Dalam pada itu Kiai Windu dan ketiga orang kawannya ternyata masih juga belum melibatkan dirinya dalam taruhan. Agaknya ia masih ingin melihat siapakah diantara para pemanah yang paling baik yang akan dapat dijadikan landasan bagi taruhannya.

Tetapi menurut penglihatan Sambi Wulung dan Jati Wulung beberapa orang berada dalam tataran yang sama, sehingga yang menang dan yang kalah terjadi silih berganti. Satu rambahan menang, namun dalam rambahan berikutnya mengalami kekalahan. Namun bagi mereka yang termasuk pemanah-pemanah terbaik, nilai mereka hanya terpaut sedikit saja.

Namun dalam pada itu, ketika Kiai Windu duduk pula di dekat Sambi Wulung, maka Sambi Wulung itu pun bertanya, “Anak-anak dari manakah yang menjadi cucuk dari panahan itu?  Apakah orang tua mereka tidak merasa cemas, bahwa kehidupan disini akan mempengaruhi cara hidup mereka kelak.”

Kiai Windu melihat anak-anak berumur sekitar sepuluh tahun berlari-lari mengambil anak panah dari mereka yang bertaruh dengan panahan itu. Anak-anak panah yang meluncur ke sasaran, yang mengenai atau tidak, setelah setiap rambahan selesai, maka anak-anak itu berlari-larian mengambil dan menyerahkan kepada para pemanah. Untuk itu anak-anak itu mendapat upah yang cukup mereka pergunakan untuk membeli makanan dan beberapa macam kesenangan mereka.

Dengan nada rendah Kiai Windu menjawab, “Mereka adalah anak-anak dari orang-orang yang bekerja disini. Mungkin pelayan di kedai, mungkin para petugas di gedogan kuda atau para penabuh gamelan. Mungkin juga anak raksasa-raksasa yang mengawasi tempat ini.”

Sambi Wulung mengangguk-angguk. Namun ia pun berdesis, “Anak-anak tanpa hari depan. Mereka hanya akan menjadi orang seperti kita yang berkeliaran di tempat-tempat perjudian seperti ini.”

Kiai Windu menarik nafas dalam-dalam. Namun ia tidak menjawab lagi.

Beberapa saat mereka masih duduk dibawah rimbunnya pepohonan dipinggir lapangan. Sementara itu, maka mereka yang bertaruh di lapangan menjadi semakin kepanasan. Bukan saja oleh matahari dilangit yang bagaikan membakar, tetapi juga oleh hati yang panas didalam dada masing-masing. Yang menang ingin menang lebih banyak lagi, sementara yang kalah ingin mendapatkan kekalahan mereka kembali. Sedangkan yang pasti mendapat uang tanpa menanggung kemungkinan kalah adalah anak-anak yang diupah untuk mengambil anak panah yang dilepaskan untuk setiap rambahan.

Untuk mendorong gairah para pemanah maka anak-anak pemungut anak panah itu telah berteriak-teriak menyebut anak panah yang mereka layani masing-masing. Bahkan ada diantara mereka yang memberikan isyarat untuk mengarahkan anak panah agar tepat mengenai sasaran.

Dengan nada melengking seorang anak itu berteriak, “Sikatan, langkung.”

Pemanah yang memiliki anak panah yang dinamai sikatan mengetahui bahwa ia memanah terlalu tinggi melampaui kepala sasaran. Namun terdengar anak yang lain berteriak “Jalak sumurup.” Pemanah yang memiliki anak panah yang dinamainya jalak itu pun mengetahui bahwa anak panahnya terlalu rendah sehingga menyusup dibawah sasaran.

Suara anak-anak itu bersahutan berganti-ganti memberikan isyarat kepada pemanahnya masing-masing, sementara ambahan demi rambahan pun telah berlangsung. Keping-keping uang berpindah dari seorang ke yang lain, namun kemudian berputar kembali kepada orang yang pertama.

“Anak itu tidak akan kemari hari ini,” terdengar Jati Wulung berdesis.

“Jadi, apakah sebaiknya kita berpindah tempat?” bertanya Sambi Wulung

Jati Wulung termangu-mangu. Namun sebelum mereka beranjak dari tempatnya, ternyata beberapa orang telah memasuki lapangan. Seorang diantaranya adalah seorang anak muda. Namun anak muda itu bukan Puguh.

 “Nah, anak itu datang,” desis Kiai Windu.

Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak dapat mengatakan bahwa yang mereka tunggu sebenarnya adalah Puguh. Namun mereka justru tidak dapat dengan serta merta meninggalkan tempat itu.

Karena itu maka Sambi Wulung pun berdesis, “Kita tidak dapat pergi sekarang.”

Jati Wulung mengerti. Karena itu, maka ia pun mengangguk-angguk kecil.

Untuk beberapa saat anak muda itu berdiri sambil bertolak pinggang menyaksikan panahan yang sedang berlangsung itu.

Kiai Windu yang kemudian bangkit dan bergeser berkata kepada Sambi Wulung, “Wikrama adalah seorang pemanah yang sangat baik. Ia sering menang dalam panahan. Tetapi ia selalu kalah di tempat lain.”

“Apakah ia akan turun hari ini?” bertanya seorang kawan Kiai Windu.

———-oOo———-

Bersambung ke Jilid 5

diedit dari naskah yang disusun Nyi Dewi KZ di http://kangzusi.com/

<< kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.