SST-03

<< kembali | lanjut >>

KEDUA orang itu termangu-mangu. Tetapi mereka tidak dapat mengambil kesimpulan lain daripada menganggap bahwa orang yang menyebut dirinya Santawiguna itu adalah seorang perampok. Mungkin dengan cara yang khusus, atau cara yang justru paling biadab yang pernah dilakukan oleh para penjudi.

Dalam pada itu, yang tua pun kemudian berkata, “Baiklah. Aku akan memberikan ancar-ancar kepada kalian. Tetapi selanjutnya adalah tanggung jawab kalian sendiri.”

Kiai Badra tersenyum. Katanya, “Semuanva akan menjadi tanggung jawab kami.”

“Tetapi aku minta, Ki Sanak juga berusaha untuk meringankan bebanku. Jika Ki Sanak menang didalam perjudian, maka sebaiknya Ki Sanak membantuku serba sedikit, aku harus mengumpulkan uang cukup banyak untuk menggantikan uang yang sudah terlanjur kami pakai,” berkata yang tua diantara mereka.

“Apakah uang itu sudah habis sama sekali?” bertanya Kiai Badra.

“Memang masih ada sebagian. Tetapi untuk mengganti yang sudah terlanjur kami pakai itu pun ternyata cukup berat bagi kami,” jawabnya.

Kiai Badra mengangguk-angguk. Dengan nada datar ia berkata, “Lain kali berhati-hatilah. Jangan mudah terbakar oleh keinginan yang ternyata dapat menjeratmu sendiri. Jika malam itu, aku tidak secara kebetulan bertemu dengan orang-orang yang akan membunuhmu, mungkin kau sudah mati.” Kiai Badra berhenti sejenak, lalu, “nah, dimana letaknya tempat perjudian itu.”

“Agak jauh dari tempat ini,” berkata orang itu, “memang agak sulit untuk memberikan ancar-ancar jika Ki Sanak memang belum pernah melihat tempat itu. Selain jauh, tempat itu memang tersembunyi.” wajah orang itu tiba-tiba menjadi tegang, “he, apakah kau akan merampok tempat itu? Jangan bermimpi untuk melakukannya. Tempat itu dijaga oleh orang-orang yang berilmu tinggi. Jika kau mencoba melakukannya, maka kau akan menjadi bahan pertunjukan yang menarik disana. Para penjaganya akan memperlakukan kau sebagai seekor harimau dungu di arena rampokan. Ujung-ujung tombak akan membuat tubuhmu arang kranjang. Atau barangkali parang, golok dan jenis-jenis senjata yang lain sebelum kau disiram dengan air garam.”

Kiai Badra tersenyum. Katanya, “Memang mengerikan. Tetapi sekali lagi aku merasa heran, bahwa kau telah berani melakukan penggelapan seperti itu?”

“Aku tidak merampok tempat itu. Tetapi aku melarikan uang titipan yang aku tukar dengan kartu-kartu bernilai uang,” jawab orang itu.

“Tetapi kau belum mengatakan kepadaku, dimana letak tempat itu,” desis Kiai Badra.

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Memang masih nampak keragu-raguan di sorot matanya. Bahkan kadang-kadang keduanya saling berpandangan sesaat. Kemudian keduanya telah menundukkan kepalanya pula.

“Kalian masih tetap ragu-ragu? Atau barangkali aku harus berbuat sesuatu?” bertanya Kiai Badra.

“Apa yang akan kalian lakukan?” bertanya salah seorang dari kedua kakak beradik itu.

“Aku dapat berbuat macam-macam. Bahkan jika kalian kehendaki, aku dapat mencekik kalian,” jawab Kiai Badra, “atau menyerahkan kalian kepada orang-orang padukuhan ini. Bukankah mereka membenci kalian berdua? Aku dapat berceritera apa saja kepada Ki Bekel tentang kalian berdua sehingga kalian benar-benar akan dipencilkan oleh tetangga-tetangga kalian di padukuhan ini. Saatnya pembalasan pun akan segera datang dari orang-orang yang kehilangan uang yang kau gelapkan itu.”

“Cukup,” kedua orang itu hampir berteriak. Yang tua pun kemudian berkata, “Baiklah. Aku akan memberikan ancar-ancar dari tempat perjudian itu. Tetapi kau tanggung sendiri segala akibat yang terjadi jika kau ingin merampok tempat itu.”

“Gila. Aku tidak ingin merampok,” bentak Kiai Badra, “aku ingin ikut berjudi di tempat itu.”

Kedua bersaudara itu saling berpandangan sejenak. Yang tertua diantara mereka pun kemudian berkata, “Ki Sanak. Tempat perjudian itu menjadi satu dengan arena sabung ayam yang dibuka sepekan dua kali.”

“Tempatnya,” potong Kiai Badra, “aku ingin mendengar nama tempat itu. Mungkin padukuhan, mungkin Kademangan atau mungkin tempat-tempat lain yang akan dapat kami kenali. Tetapi ingat. Jika kalian berbohong, maka kalian akan menyesali akibat yang dapat terjadi atas kalian.”

Yang tertua itu pun berkata lebih lanjut, “Baiklah Ki Sanak. Aku tidak akan berbohong. Tetapi apakah Ki Sanak akan menemukan tempat itu atau tidak, aku pun tidak bertanggung jawab.”

“Kami akan mencari sampai ketemu sesuai dengan petunjuk yang akan kau berikan,” sahut Kiai Badra.

“Arena sabung ayam itu berada di lingkungan yang terasing di kaki Gunung Kukusan,” berkata yang tertua.

“Sebut satu tempat yang terdekat dengan tempat itu,” desis Kiai Badra.

“Maksudmu?” bertanya orang itu.

“Aku harus mempunyai landasan sebagai tempat bertolak untuk menemukannya,” jawab Kiai Badra.

Orang itu menarik nafas. Tetapi ia pun mengerti, bahwa harus ada petunjuk yang lebih jelas daripada mengitari gunung Kukusan.

Karena itu, maka orang itu pun berkata, “Kau dapat mulai dari Kademangan ngGebayan. Kau akan mulai memanjat lambung Gunung Kukusan ke arah sumber air Kali Keduwang. Ada beberapa padukuhan kecil yang akan kau lalui. Salah satu diantaranya adalah padukuhan Muncar. Di dekat padukuhan itu terdapat sebuah belumbang yang berair jernih sekali, dikelilingi oleh beberapa pohon preh yang besar-besar.”

“Jadi tempat perjudian itu berada di tepi belumbang?” bertanya Kiai Badra.

“Sebuah sendang alam. Beberapa puluh patok dari tempat itu terdapat sebuah gerojogan di lereng tebing yang tidak terlalu tinggi. Meskipun gerojogan itu tidak terlalu besar, tetapi gerojogan itu adalah sumber air bagi sendang yang dikelilingi batang preh yang besar. Memang ada beberapa mata air kecil diantara pohon-pohon raksasa itu. Tetapi air yang paling banyak datang dari gerojogan itu,” berkata yang tertua.

“Tempat perjudian itu ada dimana?” desak Kiai Badra.

“Memang dibangun rumah secara khusus. Dari sendang itu terdapat jalan kecil menuju ke tempat perjudian yang terletak di tengah-tengah hutan di lereng Gunung Kukusan itu,” jawab orang itu.

Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan pergi ke tempat itu. Aku akan menjadi anggauta baru. Tetapi dalam waktu dekat aku akan menguras semua uang yang ada ditempat perjudian itu dengan sah. Seperti yang aku katakan, aku selalu berjudi dengan jujur, karena itu adalah landasan kemenanganku.”

Nampaknya ada sesuatu yang ingin dikatakan oleh yang muda diantara kedua bersaudara itu. Tetapi setiap kali niatnya itu diurungkan. Bahkan kakaknya seakan-akan memberikan isyarat kepadanya, agar ia tidak mengatakan sesuatu.

Kiai Badra yang sudah mendapat keterangan tentang lingkungan perjudian itu pun segera minta diri. Ia akan melanjutkan perjalanannya membawa Iswari kesebuah padepokan kecil untuk bertemu dengan anak laki-lakinya yang sedang menempa diri.

“Silahkan Kiai,” berkata kedua orang itu hampir berbareng.

Namun sepeninggal Kiai Badra, yang muda dari kedua bersaudara itu berkata, “Apakah orang itu mungkin dapat mencapai lingkungan yang dimaksud kakang?”

“Maksudmu?” bertanya kakaknya.

“Bukankah tidak seorang pun yang diperkenankan memasuki lingkungan itu tanpa ditanggung oleh salah seorang yang sudah dipercaya oleh para anggauta yang lain? Jika orang tua itu pergi sendiri kesana tanpa orang lain yang dapat menanggungnya, maka ia agaknya akan mati terbunuh,” berkata yang muda.

Tetapi kakaknya justru tertawa berkepanjangan. Katanya, “Apa salahnya jika orang tua yang sombong itu mati dibantai oleh para penjaga rumah perjudian itu? Orang itu tidak akan mengganggu kita lagi.”

Yang muda mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya sambil mengangguk-angguk, “Kau benar. Biar saja orang itu mati dirampok oleh para petugas yang kasar dan tamak itu. Mereka mendapat wewenang untuk membunuh. Dan mereka tentu dengan senang hati melakukannya karena dengan demikian mereka akan dapat mengambil uang yang dibawa oleh orang tua itu. Sebagai seorang yang akan memasuki daerah perjudian, maka orang tua itu tentu membawa uang cukup banyak.”

“Nah, sudahlah. Kita tidak perlu memikirkannya,” berkata yang tua, “orang itu tentu akan dihancurkan. Kita tidak akan diganggu lagi dengan bermacam-macam pertanyaan dan bahkan barangkali pada suatu saat ia merencanakan untuk memeras kita. Mereka dapat menakut-nakuti dengan berbagai macam kelemahan kita disini, sebagaimana dilakukan baru-baru saja untuk memaksa kita menyebut tempat perjudian itu.”

Keduanya pun kemudian tertawa pendek sambil mengangguk-angguk. Yang mudalah yang berdesis, “Nasibnya agaknya memang buruk.”

Sementara itu Kiai Badra dan Iswari telah melanjutkan perjalanan. Mereka menembus gelapnya malam menuju kesebuah padepokan yang terpencil letaknya, tetapi tidak terpencil dalam pergaulan di Kademangan yang berada disebelah padepokan itu.

Namun di perjalanan keduanya masih membicarakan kemungkinan-kemungkinan yang dapat dilakukan untuk memasuki tempat perjudian yang memang dibuat di tempat yang tersembunyi itu.

“Apakah kakek yakin akan dapat berhubungan dengan anak laki-laki yang bernama Puguh itu?” bertanya Iswari.

“Mudah-mudahan kita dapat berhubungan dengan anak itu,” jawab Kiai Badra, “bahkan kita berniat untuk dapat mengetahui, dimana ia tinggal. Mudah-mudahan dengan demikian kita akan dapat menemukan persembunyian orang tuanya.”

Iswari mengangguk-angguk. Katanya, “Apakah kakek akan memasuki daerah perjudian itu sendiri? Dan apakah menurut kakek, tidak ada kesulitan apapun jika kakek akan menjadi anggauta baru dari tempat perjudian itu?”

“Tentu ada kesulitannya,” berkata Kiai Badra, “tetapi kita dapat mencoba. Mungkin bukan aku sendiri untuk menghindarkan pengenalan Puguh atau keluarganya yang akan dapat membaca wajahku dari keterangan mereka yang melihatku. Meskipun aku sudah menjadi semakin tua, tetapi jika mereka cukup cermat menceriterakan bagian-bagian dari keadaanku, Ki Randukeling tentu akan dapat mengenalnya.”

Iswari mengangguk-angguk. Tetapi ia pun masih bertanya, “Siapa yang akan datang ke tempat perjudian itu?”

“Mungkin Sambi Wulung dan Jati Wulung. Tetapi juga bukan Gandar,” berkata Kiai Badra.

Iswari masih mengangguk-angguk. Katanya, “Mungkin tempat itu akan sangat berbahaya bagi orang baru.”

“Aku sudah menduga. Tempat yang demikian merupakan tempat yang tidak terjangkau oleh paugeran dari manapun juga. Tidak dari paugeran Pajang dan tidak pula terjangkau oleh kekuasaan di Madiun.” berkata Kiai Badra.

Iswari mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia berkata, “Tempat itu mempunyai paugeran sendiri yang harus ditaati oleh semua orang yang berada didalam lingkungannya.”

“Ya. Tetapi orang yang memiliki kekuatan yang melampaui kekuatan orang lain akan dapat menentukan paugeran sekehendak hatinya sendiri. Siapa yang kuat, ialah yang-berkuasa,” sahut Kiai Badra.

“Seperti paugeran didalam rimba atas binatang-binatang liar,” desis Iswari, “bahwa binatang yang kuat akan mengorbankan binatang-binatang yang kecil lagi kepentingan dirinya.”

Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya, “itulah gambaran kehidupan di tempat perjudian itu. Sama sekali tidak ada perlindungan terhadap yang lemah. Siapa yang memasuki tempat itu harus merasa dirinya kuat dan berani menghadapi kekuatan lain yang ada pula didalamnya. Dalam keadaan terbatas mereka memang mentaati paugeran yang mereka buat bersama. Tetapi pada keadaan yang khusus, maka terjadilah kekuasaan sebagaimana terjadi menurut paugeran rimba belantara.”

Iswari adalah seorang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi. Tetapi mendengar keterangan kakeknya itu terasa juga kulitnya meremang. Justru karena ia seorang perempuan.

“Sayang,” berkata Iswari, “aku tentu tidak mungkin berada di tempat itu.”

“Ya,” berkata Kiai Badra, “bukan karena ditempat itu tidak ada seorang perempuan yang menjadi gila karena perjudian, tetapi ciri-cirimu akan cepat dikenali oleh keluarga Puguh jika ia berceritera tentang seorang perempuan ditempat perjudian.”

“Apakah ada juga perempuan ditempat itu?” bertanya Iswari.

“Mungkin ada juga satu dua orang. Perempuan yang memiliki ilmu dan keberanian. Tetapi juga memiliki sifat-sifat yang kasar dan keras,” jawab Kiai Badra.

Iswari mengangguk-angguk. Namun ia sependapat dengan kakeknya. Para pengawal remaja yang bernama Puguh itu akan dapat menyebut ciri-cirinya sehingga ia akan dapat dikenali oleh Ki Randukeling atau Warsi.

Sambil membicarakan beberapa kemungkinan, maka akhirnya mereka pun mendekati padepokannya yang terpencil didalam lingkungan Kademangan Bibis. Namun yang semakin lama rasa-rasanya menjadi semakin dekat dan semakin akrab dengan seluruh isi Kademangan itu.

Namun ternyata bahwa mereka tidak dapat mencapai padepokan itu dihari yang masih gelap. Ketika matahari terbit, mereka masih berada diperjalanan. Namun Kiai Badra tidak begitu cemas lagi, bahwa kehadirannya akan menarik perhatian orang lain. Orang-orang Bibis yang berada disawah tidak akan heran melihat ia lewat pada saat yang bagaimanapun juga. Jika orang-orang Bibis perhatiannya tertarik, tentu karena ia berjalan dengan seseorang laki-laki yang agak aneh menurut pandangan mereka, dan belum pernah mereka kenal sebelumnya.

Tetapi untunglah bahwa Iswari mampu menempatkan dirinya. Jika mereka berpapasan orang yang berada di sawah dilingkungan Kademangan Bibis dan bertanya kepada mereka, maka Iswari tidak pernah mengucapkan jawaban. Kiai Badralah yang selalu menjawab semua pertanyaan, sementara Iswari hanya mengangguk hormat sambil tersenyum.

“Cucuku memang seorang pemalu,” desis Kiai Badra yang dikenal bernama Kiai Tapis oleh orang-orang Bibis.

Seseorang yang tidak mengetahui bahwa Kiai Badra sedang melakukan perjalanan bertanya dengan heran, “jadi Kiai untuk beberapa hari tidak ada di padepokan?”

“Ya,” jawab Kiai Tapis, “tetapi masih ada yang lain. Aku hanya pergi sendiri.”

“Tetapi ketika Kiai kembali, tidak sendiri,” berkata orang itu.

Kiai Tapis tertawa. Katanya, “Sudahlah. Ternyata aku merasa kantuk sekali.”

“Salah Kiai sendiri,” berkata orang itu, “kenapa berjalan dimalam hari? Bukankah lebih enak berjalan di-siang hari?”

“Dimalam hari udara terasa sejuk sekali,” berkata Kiai Tapis.

“Tetapi akibatnya Kiai akan selalu terkantuk-kantuk untuk tiga hari tiga malam,” sahut orang itu.

Kiai Tapis tidak menjawab. Tetapi ia hanya tersenyum saja. Keduanya pun kemudian melanjutkan perjalanan. Semakin tinggi matahari, maka mereka pun menjadi semakin dekat dengan padepokan kecil yang dibuat oleh Kiai Tapis dilingkungan Kademangan Bibis.

Ketika mereka memasuki padepokan itu, maka isi padepokan itu pun terkejut. Mereka tidak mengira bahwa Kiai Badra akan datang bersama Iswari.

Risang sendiri terkejut bukan buatan. Ia memang sudah sangat rindu kepada ibunya. Karena itu, ketika ia melihat ibunya datang bersama kakeknya, maka ia pun telah berlari menyongsongnya dan memeluknya erat-erat, seakan-akan tidak akan dilepaskannya lagi.

Iswari pun sangat rindu pula kepada anaknya. Karena itu, maka ia pun telah memeluk anaknya pula. Sambil mencium keningnya ia bertanya, “Bagaimana dengan kau Risang?”

Risang menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia melepaskan pelukannya, maka ia pun menjawab, “Baik ibu.”

“Kau senang tinggal disini?” bertanya ibunya.

“Senang sekali ibu. Apalagi jika ibu juga tinggal disini,” jawab Risang.

Ibunya tersenyum. Diusapnya kepala anaknya sambil berkata, “Sebenarnya ibu senang pula tinggal dipadepokan seperti ini.”

Risang memandang wajah ibunya sejenak. Dilihatnya mata ibunya menjadi basah. Namun bibirnya yang tersenyum kemudian berkata, “Kau nampak segar Risang.”

“Lingkungan ini memang memberikan kesegaran, ibu,” jawab Risang.

Kiai Badra mengangguk-angguk melihat keduanya. Katanya kemudian, “Marilah. Masuklah ke rumah anakmu.”

Iswari pun kemudian bersama Risang, Gandar dan Kiai Badra sendiri segera naik kependapa. Sementara itu Sambi Wulung dan Jati Wulung pun telah menyusul pula.

Untuk beberapa saat mereka saling mengucapkan selamat. Baru kemudian Kiai Badra berkata, “aku minta kalian memberikan perhatian khusus bagi Iswari. Ia bukan seorang perempuan disini. Tetapi seorang laki-laki. Para cantrik tidak boleh mengetahui bahwa ia adalah ibu Risang. Jika didengar oleh orang-orang Kademangan dan membicarakannya, mungkin pada suatu saat akan sampai juga ketelinga Warsi dan Ki Randukeling.”

“Tetapi bukankah Risang memang mempunyai seorang ibu?” bertanya Gandar.

“Iswari terlanjur datang dalam ujud yang demikian,” berkata Kiai Badra, “dan bukankah dalam waktu beberapa hari, selama ia berada disini, ia dapat selalu mengenakan pakaian seorang laki-laki.”

“Jika terpaksa berbicara, maka suaranya tentu suara seorang perempuan,” desis Sambi Wulung.

“Ia adalah seorang laki-laki pemalu yang jarang sekali berbicara,” jawab Kiai Badra.

“Agaknya aku akan mengalami kesulitan dengan ujudku,” berkata Iswari sambil tersenyum.

“Tidak,” jawab Kiai Badra, “tetapi jika kau berada di halaman atau dikebun, kau harus membawa seorang atau lebih kawan yang akan menjawab semua pertanyaan orang-orang yang menemuimu.”

“Baiklah,” berkata Iswari, “aku akan berusaha untuk tidak sangat menarik perhatian. Namun kemudian ia pun bertanya, “Lalu siapa aku disini?”

“Kau adalah paman Risang yang disini dikenal bernama Barata. Kau datang dari Pajang untuk menengoknya,” jawab Kiai Badra.

Iswari mengangguk-angguk. Namun katanya, “Tetapi bukankah orang lain yang akan menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang aku?”

“Ya,” Kiai Badra pun tertawa.

Demikianlah, maka Iswari untuk beberapa hari berada di padepokan itu. Meskipun ia tidak bebas untuk melihat-lihat isi padepokan itu seorang diri, namun untuk beberapa lama ia masih tetap dapat bertahan untuk, tidak berbicara sepatah kata pun dengan para penghuni padepokan itu. Sikapnya memang memberikan kesan bahwa ia adalah seorang yang sangat pemalu.

Namun dalam pada itu, ternyata ada beberapa hal yang sempat mereka bicarakan. Agaknya Kiai Badra lebih tertarik untuk berbicara tentang tempat perjudian itu daripada keinginan Risang untuk mendirikan satu perguruan tersendiri di padepokan itu.

Karena itu, maka Kiai Badra justru telah membicarakannya lebih dahulu dengan orang-orang terdekat di padepokan itu bersama dengan Iswari.

“Kita berkepentingan untuk melihat tempat itu,” berkata Kiai Badra.

“Aku setuju kek,” sahut Risang, “aku akan ikut pergi ke tempat itu.”

“Ah, kau,” desis Kiai Badra, “kau masih terlalu kanak-kanak untuk melihat tempat perjudian yang agaknya dibayangi oleh sikap-sikap keras dan kasar itu.”

Risang mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak menjawab.

Sementara itu Kiai Badra dan Iswari agaknya terlalu berhati-hati untuk berbicara secara terbuka sepenuhnya dengan kehadiran Risang. Bahkan keduanya sama sekali belum menyebut nama Puguh yang menjadi sasaran utama pengamatan mereka. Meskipun Risang tahu serba sedikit, bahwa ada orang yang tidak menyenanginya serta tidak menghendaki kehadirannya di Sembojan, tetapi bagi remaja itu, semuanya masih belum diungkapkan sepenuhnya untuk menjaga perasaan dan sikapnya.

Gandar, Sambi Wulung dan Jati Wulung agaknya tanggap juga akan hal itu, sehingga pembicaraan mereka terbatas pada tempat perjudian itu sendiri sebagai sasaran. Meskipun secara terpisah mereka telah mendengar apa yang sebenarnya mereka kehendaki di tempat itu.

Namun ada juga cara untuk menyisihkan Risang dari pembicaraan itu. Ketika Iswari minta agar Risang memetik jambu air untuknya, maka Risang itu pun telah meninggalkan pertemuan itu.

“Ingat, tidak untuk ibumu. Tetapi untuk pamanmu,” berkata Iswari sambil menepuk bahu anaknya.

Risang tertawa. Ia sama sekali tidak menduga, bahwa itu hanyalah satu cara untuk menyingkirkannya dari pembicaraan itu.

Tanpa Risang maka pembicaraan itu dapat lebih terbuka. Agaknya Kiai Badra telah langsung mengarah kepada penugasan untuk melihat-lihat lingkungan yang sangat berbahaya itu.

“Kami akan dengan senang hati melakukannya,” berkata Sambi Wulung.

“Kita akan menilai, manakah yang lebih menguntungkan jika kalian atau aku sendiri yang pergi,” berkata Kiai Badra.

“Bukankah kakek tidak ingin dikenali oleh para pengikut Ki Randukeling?” bertanya Iswari.

“Jika aku yang pergi, tentu tidak memasuki tempat perjudian itu sendiri. Tetapi aku harus melihatnya dari luar lingkungan,” jawab Kiai Badra.

Iswari mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “bagaimana jika kita pergi bersama-sama? Maksudku aku dan kakek berada di luar dan mengamati tempat itu dari jarak tertentu, sedangkan Sambi Wulung dan Jati Wulung akan masuk kedalamnya.”

Kiai Badra merenung sejenak. Ketika memandang wajah Gandar maka dilihatnya Gandar mengerutkan dahinya. Bahkan ia pun kemudian bertanya, “Lalu, aku bagaimana?”

Kiai Badra tersenyum. Katanya, “Risang memerlukan kawan disini. Ia masih belum dapat dilepaskan sendiri. Bersamamu maka ia akan dapat berbuat sesuatu. Bukan saja bagi padepokan ini, tetapi juga untuk meningkatkan ilmunya.”

Gandar menarik nafas dalam-dalam. Ia memang tidak dapat berlaku seperti anak-anak yang merajuk karena ditinggal pergi kepasar oleh ibunya.

Ternyata bahwa Kiai Badra pun cenderung melakukannya seperti yang dikatakan oleh Iswari. Tetapi menurut Kiai Badra tidak sebaiknya bersama Iswari. Karena itu katanya, “Iswari. Bukan maksudku untuk mengecilkan kemampuanmu. Tetapi kau adalah Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan. Sementara itu kita masih belum tahu, apa yang ada di sekitar tempat perjudian yang kasar itu. Jika kita terjebak dalam persoalan yang berkepanjangan, maka kau akan meninggalkan Sembojan terlalu lama.”

“Bukankah aku sudah menyerahkan kepemimpinan kepada orang-orang yang aku tinggalkan?” bertanya Iswari.

“Tetapi Pemangku yang sah adalah kau,” jawab Kiai Badra.

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Kiai Badra pun berkata, “Karena itu, sebaiknya kau kembali ke Tanah Perdikan. Tentu saja setelah kau berada dipadepokan ini untuk beberapa hari. Aku akan pergi bersama Sambi Wulung dan Jati Wulung. Namun dengan acara yang berbeda.”

Iswari mengangguk-angguk kecil. Sebenarnya ia ingin pergi bersama kakeknya untuk melihat tempat perjudian sebagaimana disebut oleh dua orang kakak beradik yang menjadi sasaran kemarahan para pengikut seorang laki-laki remaja yang bernama Puguh. Seorang remaja yang mungkin merupakan orang yang penting dalam garis kehidupan Risang. Namun memang mungkin juga terjadi kekeliruan, karena remaja yang bernama Puguh itu sekedar bersamaan nama.

Tetapi agaknya kakeknya tidak sependapat, sehingga pada saatnya ia harus kembali dan berada diantara orang-orang Tanah Perdikan Sembojan.

Ketika kemudian Risang kembali dengan membawa sebakul kecil jambu air yang masak dan berwarna merah, maka agaknya sudah ditemukan satu keputusan, bahwa Kiai Badra akan pergi juga ketempat yang pernah disebut sebagai tempat perjudian itu bersama Sambi Wulung dan Jati Wulung. Namun Kiai Badra akan merupakan seorang pengunjung gelap bagi tempat itu, sementara Sambi Wulung dan Jati Wulung akan dengan terbuka berusaha memasukinya.

Dalam pada itu, ketika Risang telah duduk diantara mereka, pembicaraan mereka pun telah bergeser. Mereka mulai membicarakan keinginan Risang untuk mendirikan satu perguruan tersendiri di padepokan itu.

Banyak pertimbangan telah diberikan. Namun akhirnya Iswari berkata, “Apakah perguruan itu kelak akan kau tinggalkan begitu saja jika saatnya datang kau harus berada di Sembojan?”

“Jika aku harus kembali ke Sembojan, lalu bagaimana dengan padepokan ini?” bertanya Risang pula.

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Risang. Sejak semula, kita tidak ingin mendirikan satu padepokan yang akan kita huni untuk seterusnya. Jika padepokan ini kelak kita tinggalkan, maka padepokan ini akan menjadi hadiah yang sangat menyenangkan bagi orang-orang Bibis. Ki Demang Bibis akan dapat menjadikan padepokan ini semacam tempat untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan anak-anak mudanya. Tetapi jika kita sudah menyatakan untuk mendirikan satu perguruan, maka perguruan itu harus diusahakan agar langgeng dan bukan sekedar permainan untuk sesaat.”

“Apakah sebuah perguruan tidak boleh berpindah tempat?” bertanya Risang. “Seandainya padepokan ini menjadi perguruan, lalu pada kesempatan lain perguruan itu berpindah ke Sembojan, apakah tidak mungkin?”

Kiai Badra mengangguk-angguk. Sambil memandang Iswari ia menjawab, “Memang mungkin. Pusat sebuah perguruan memang mungkin berpindah tempat.”

“Nah, jika demikian, apakah keberatannya?” bertanya Risang.

Kiai Badra masih menganguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Risang. Kemungkinan itu dapat saja dijajagi. Tetapi kita memerlukan waktu untuk memikirkannya masak-masak. Sebuah perguruan akan menyangkut hari depan sekelompok orang. Bukan sekedar desakan keinginan.”

“Sudah tentu, kek,” jawab Risang, “kita akan memikirkannya. Mungkin berlama-lama sampai kita menemukan sesuatu yang akan dapat menentukan ujud dari perguruan itu.”

“Jika demikian, baiklah,” berkata Iswari, “tetapi dengan satu pengertian, bahwa padepokan ini bukan satu-satunya tempat bagi perguruan itu.”

“Jadi ibu sependapat?” bertanya Risang.

“Sebut dengan paman,” desis Kiai Badra.

“Disini tidak ada orang lain,” sahut Risang.

Iswari tersenyum. Katanya, “Aku sependapat Risang. Mungkin perguruan itu akan memberikan arti bagi perkembangan dan pelestarian ilmu Janget Kinatelon.”

Kiai Badra lah yang kemudian mengerutkan keningnya sambil menyahut, “Kaulah orang yang memiliki ilmu itu?”

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Jika Risang telah sampai waktunya untuk berada di kedudukannya, maka aku kira padepokan dan sebuah perguruan akan memberikan arti bagi sisa hidupku.”

“Ibu,” desis Risang, “itukah yang ibu kehendaki?”

“Memang sebuah perguruan bukan tempat sekedar wadah untuk mengumpulkan beberapa orang. Tetapi harus dengan penglihatan panjang kedepan,” berkata Iswari, “dan itu sangat menarik.”

Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya, “Jika demikian baiklah. Kita akan memikirkannya dengan sungguh-sungguh. Menyusun tataran-tataran pengetahuan bagi para cantrik, serta kedudukan mereka didalam lingkungan perguruan.”

“Aku adalah cantrik yang tertua,” berkata Sambi Wulung.

Namun Jati Wulung menyahut, “Apakah kami belum ketinggalan seandainya kami akan menyatakan diri sebagai cantrik yang pertama?”

Iswari tertawa. Katanya, “Paman memang aneh. Paman adalah orang-orang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi. Jika cantrik-cantrik dari perguruan itu setingkat dengan paman berdua, maka perguruan kami akan menjadi perguruan yang luar biasa kuatnya.”

“Akulah yang paling tua,” sahut Gandar, “tentu saja bukan umurnya, tetapi aku berada dilingkungan ini lebih dahulu dari Ki Sambi Wulung dan Ki Jati Wulung, meskipun agaknya umurku lebih muda.”

Kiai Badra dan Risang pun akhirnya tertawa juga, sementara Gandar berkata pula, “Kita kelak akan menentukan, siapakah yang tertua diantara kita. Kita akan berlomba lari mengelilingi bukit.”

Tetapi Sambi Wulung menjawab, “Tidak. Bukan berlomba lari. Tetapi kita akan berjudi saja. Mungkin setelah aku keluar dari rumah perjudian itu aku akan menjadi semakin trampil.”

Risang pun kemudian tertawa berkepanjangan. Dengan nada tinggi ia berkata, “Nah, jika demikian kita akan dapat membayangkan, perguruan apakah yang kira-kira akan berdiri.”

Namun dalam pembicaraan yang singkat itu dapat diambil satu kesimpulan bahwa orang-orang yang ikut dalam pembicaraan telah berniat untuk membicarakan lagi dengan lebih terperinci kemungkinan untuk mendirikan sebuah perguruan. Satu langkah yang besar tidak dapat dilakukan dengan serta merta dan tanpa persiapan dan perhitungan yang matang.

Tetapi yang dalam waktu dekat harus segera dilakukan adalah usaha untuk memasuki tempat perjudian sebagaimana dikatakan oleh dua orang kakak beradik yang mempunyai persoalan dengan para pengawal Puguh.

Demikianlah maka selama Iswari berada di padepokan itu, selain melepaskan kerinduannya kepada anaknya, ia pun telah mengikuti beberapa pembicaraan serta mengambil beberapa kesimpulan. Tentang perguruan yang akan direncanakan pelaksanaannya, tidak terlalu mengikat waktunya. Namun mereka tidak dapat berlama-lama dengan rencana mereka untuk melihat dan mengamati tempat perjudian yang akan dapat menjadi jembatan untuk melacak jejak Puguh. Jika mereka berhasil, maka hal itu akan merupakan sebagian dari langkah-langkah pengamanan bagi Risang dan juga bagi Tanah Perdikan Sembojan.

Setelah beberapa lama Iswari berada di padepokan, serta rasa-rasanya kerinduannya kepada anaknya telah terlepas dari perasaannya, maka ia pun telah memutuskan untuk kembali ke Tanah Perdikan. Sementara itu Kiai Badra pun telah menentukan pula rencananya untuk pergi ke tempat perjudian di kaki Gunung Kukusan itu.

“Kita berangkat bersama-sama,” berkata Kiai Badra kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung. Lalu, “Kita singgah di Semboyan untuk, berbicara dengan Kiai Soka dan Nyai Soka. Kemudian kita akan melanjutkan perjalanan ke kaki Gunung Kukusan itu.”

Namun sebelum mereka berangkat, ternyata mereka telah mendengar satu berita yang mendebarkan dari Ki Demang di Bibis. Ternyata telah tersebar berita, bahwa terjadi sedikit persoalan di Pajang. Langit yang cerah seakan-akan telah menjadi mendung.

“Ki Pemanahan telah meninggalkan istana Pajang,” berkata Ki Demang.

“Kenapa?” bertanya Kiai Badra.

“Agaknya sesuatu telah terjadi. Mungkin kesalah pahaman. Tetapi mungkin pula orang tua itu telah tersinggung perasaannya,” berkata Ki Demang.

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Bukan saja berita itu membuatnya berdebar-debar. Tetapi ternyata bahwa hubungan antara Tanah Perdikan Sembojan dan Pajang telah menjadi semakin jauh pula. Mungkin justru karena keadaan menjadi bertambah baik, sehingga rasa-rasanya tidak ada persoalan lagi yang harus dibicarakan. Bantuan Pajang yang lambat laun tidak diperlukan secara mutlak, membuat jarak antara Tanah Perdikan dengan Pajang. Dengan demikian maka perkembangan yang terjadi di Pajang, tidak segera diketahui oleh Tanah Perdikan Sembojan.

“Ki Lurah Reksabaya tidak pernah mengatakannya,” desis Iswari pada kesempatan lain, “sejak ia berada di Tanah Perdikan Sembojan menggantikan petugas dari Pajang yang terdahulu, ia banyak memberikan penjelasan tentang perkembangan yang terjadi di Pajang. Tetapi Ki Lurah tidak pernah menyebut peristiwa yang mendebarkan itu, meskipun hampir setiap pekan, Ki Lurah kembali ke Pajang.”

“Kau dapat bertanya kepadanya,” berkata Kiai Badra, “mungkin dengan sengaja Ki Lurah menyembunyikan peristiwa itu.”

Iswari mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah aku sampai ke Tanah Perdika Semboyan, maka aku akan segera menemuinya.”

Kiai Badra mengangguk-angguk pula. Katanya, “Jika terjadi lagi pergolakan, maka persoalannya akan dapat menyangkut Tanah Perdikan Semboyan. Sementara ini kita masih menunggu Risang cukup dewasa untuk ditetapkan memegang pimpinan di Tanah Perdikan Semboyan sebagai Kepala Tanah Perdikan. Tetapi jika terjadi sesuatu atas pemegang pimpinan di Pajang, maka akan dapat memancing niat Warsi untuk kembali ke Tanah Perdikan sambil membawa Puguh.”

“Mungkin,” berkata Iswari, “setidak-tidaknya kedudukan Tanah Perdikan Sembojan akan dapat terguncang.”

“Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu di Pajang. Jika yang terjadi sekedar salah paham, mudah-mudahan akan segera dapat diselesaikan,” berkata Kiai Badra, “kita tahu, bahwa Sultan Hadiwijaya maupun Ki Gede Pemanahan adalah orang-orang yang cukup matang jiwanya. Langkah-langkahnya tidak akan sekedar dilandasi oleh perasaan. Tetapi tentu sudah dengan perhitungan yang mapan.”

“Justru itu,” desis Iswari, “jika Ki Gede Pemanahan meninggalkan Pajang, tentu telah diperhitungkannya masak-masak sebab dan akibatnya.”

Kiai Badra mengangguk-angguk. Namun mereka tidak membiarkannya lebih mendalam ketika Risang kemudian datang dan berada diantara mereka.

Yang kemudian mereka bicarakan adalah rencana mereka untuk berangkat meninggalkan padepokannya.

Sampai saatnya Iswari meninggalkan padepokan, tidak seorang pun yang mengetahui, bahwa Iswari adalah seorang perempuan. Bukan saja orang-orang Kademangan Bibis yang memang melihat kehadiran seseorang di padepokan termasuk Ki Demang. Tetapi orang-orang padepokan sendiri menganggap bahwa paman Barata itu adalah seorang yang pemalu, bahkan sebagian dari mereka menganggapnya sebagai orang yang sangat sombong.

Sebenarnya Risang menginginkan bahwa ibunya berada di padepokan itu lebih lama lagi. Tetapi ia-pun mengerti, bahwa ibunya yang mengemban tugas yang berat di Tanah Perdikan Sembojan, tidak dapat terlalu lama meninggalkan tugasnya itu.

Padepokan itu pun kemudian terasa sepi ketika Kiai Badra, Sambi Wulung dan Jati Wulung telah berangkat bersama Iswari yang akan kembali ke Sembojan. Yang tinggal di padepokan itu tinggal Gandar untuk menemaninya.

Namun ternyata bahwa Risang mampu mengisi waktu-waktunya yang terasa sepi itu dengan memasuki sanggarnya bersama Gandar. Kesendiriannya justru telah membuatnya semakin tekun tanpa mengenal waktu, sehingga kadang-kadang justru Gandar telah memperingatkannya, bahwa ia memerlukan istirahat.

“Kita memang harus bekerja keras Risang. Tetapi kau tidak dapat melampaui batas kekuatan wadagmu. Memang kemampuan wadag itu pun dapat ditingkatkan. Tetapi pada batas tertentu, maka kita tidak akan dapat memaksakannya lebih jauh lagi. Karena sebenarnyalah kita, manusia adalah dalam serba keterbatasan,” berkata Gandar.

Risang mengangguk-angguk. Sementara Gandar berkata pula, “Jika kita melupakan hal itu Risang, maka justru wadag kita tidak akan dapat mendukung keinginan kita. Itulah sebabnya, maka Kiai Badra menentukan cara-cara dan waktu yang tertentu dan terbatas. Namun keterikatan pada rencana yang mapan, akan banyak membantu peningkatan kemampuan.”

Risang mengangguk-angguk pula. Katanya, “Jika kemauan sedang melonjak, rasa-rasanya tubuh ini tidak mau dikekang lagi.”

“Namun kita tidak boleh lepas dari penalaran,” berkata Gandar kemudian.

“Aku mengerti,” berkata Risang.

“Aku tidak berkeberatan kau meningkatkan usaha untuk mempercepat penguasaan dasar ilmu yang ditentukan bagimu. Namun tidak dengan memaksakan wadagmu,” berkata Gandar pula.

“Baiklah,” sahut Risang, “namun aku memerlukan waktu-waktu khususku untuk menambah latihan-latihan dari sekedar kebiasaan seperti sebelumnya. Rasa-rasanya padepokan ini menjadi semakin sepi jika aku terlalu banyak beristirahat.”

“Aku akan membantumu,” berkata Gandar kemudian. Lalu katanya, “Memperdalam ilmu bukannya harus dilakukan dengan mempergunakan wadag kita. Kita dapat duduk merenungi langkah-langkah yang dapat kita lakukan. Kau dapat membuat perhitungan nalar dengan ilmu yang sudah kau miliki. Mungkin kau dapat membuat lukisan-lukisan sederhana tentang gerak dan sikap. Bahkan kau dapat mempergunakan kesempatan seperti itu untuk mengenali tubuhmu lebih banyak. Kau akan dapat mencari sandaran kekuatan dan menemukan titik-titik yang paling lemah sebagaimana pernah diberitahukan oleh Kiai Badra kepadamu.”

Risang mengerutkan dahinya. Namun kemudian wajahnya menjadi beseri. Katanya, “Aku mengerti. Aku mengerti. Aku akan dapat mengisi seluruh waktuku.”

Tetapi Gandar menggeleng. Katanya, “Bagaimanapun juga, kau memerlukan waktu yang cukup untuk beristirahat, agar wadagmu tidak menjadi korban kemauanmu yang tidak terkendali. Jika wadagmu mengalami kesulitan, maka apa yang dapat kau lakukan dengan ilmumu? Memang mungkin ada satu dua orang yang kehilangan kemampuan wadagnya, namun masih dapat mempergunakan ilmunya dengan tajam. Tetapi salah satu sarana penting bagi hidupnya telah tidak mampu dipergunakannya sebagaimana sewajarnya. Tentu akan lebih memiliki wadag yang baik daripada wadag yang cacat atau tidak dapat dipergunakan sepenuhnya dalam tataran ilmu yang sama.

Risang mengangguk-angguk. Namun ia sudah menemukan satu cara yang baik untuk berlatih agar wadagnya tidak mengalami keletihan yang berlebihan.

Dalam kesempatan tertentu Risang memang telah membuat gambar sederhana langkah dan sikap, ia tidak saja membentuk dirinya dengan latihan-latihan. Tetapi ia berusaha untuk dapat mengembangkan kemampuan dasarnya dengan goresan-goresan. Dengan penalaran dan pengamatan yang cermat.

Pada kesempatan lain, dicobanya gambar-gambar yang dibuatnya itu dengan gerak-gerak wadagnya didalam sanggar dibawah pengamatan Gandar.

Dengan demikian maka Risang tidak saja mengembangkan ilmunya atas dasar penemuannya di saat-saat latihan, tetapi juga berdasarkan atas penalarannya.

Gandar yang mengamati cara Risang berlatih itu ternyata menganggap bahwa Risang akan dapat maju dengan cepat. Sementara itu ilmu yang dikembangkannya pun cukup berbobot, karena dilakukan lewat dua jalur. Perhitungan nalarnya dan latihan-latihan kewadagan. Bagi Risang dan Gandar latihan memang bukan sekedar mengulang-ulang gerak yang sudah dipahami. Tetapi di saat-saat latihan, ilmu itu sendiri memang harus berkembang. Apalagi telah dialasi dengan perhitungan sebelumnya, sesuai dengan pengenalan Risang atas keadaan tubuh yang diamati pada tubuhnya sendiri disamping pengenalannya sebagaimana diberitahukan oleh Kiai Badra, Gandar, Sambi Wulung dan Jati Wulung.

Dengan cermat Risang berusaha mengenali bagian-bagian tubuhnya yang paling lemah. Sasaran-sasaran utama yang mematikan serta sasaran-sasaran lain yang dapat menghambat gerak lawan. Dari Kiai Badra, Risang sudah mengenal beberapa simpul syaraf yang dapat membuat lawannya tidak lagi mampu meneruskan perlawanannya. Risang memang belum dapat dengan tepat menekan titik-titik kelemahan seperti yang pernah diberitahukan kepadanya. Ia memang masih harus berlatih jauh lebih banyak untuk dapat dengan sentuhan ujung jarinya membuat lawannya seakan-akan tertidur atau mengalami kelumpuhan sementara pada seluruh tubuhnya atau sebagian saja.

Namun, disamping latihan-latihan kewadagan, Kiai Badra pun telah menuntun Risang untuk melakukan samadi. Pemusatan nalar budi untuk memandang hakekat dari persoalan yang dihadapinya sehingga mengental didalam dirinya.

Tetapi lebih daripada itu semua, maka Risang tidak pernah melupakan bahwa ia harus menyembah kepada sumber hidupnya. Saat-saat ia harus hadir dihadapanNya, dan menghubungkan diri dengan-Nya. Bahkan bukan hanya sesaat-sesaat, namun sebagaimana diajarkan oleh Kiai Badra, bahwa semuanya itu harus tercermin didalam sikap hidupnya sehari-hari.

Dengan demikian maka Risang pun telah tumbuh dalam keseimbangan antara perkembangan wadagnya, ilmunya dan nilai-nilai jiwaninya.

Dalam pada itu, Iswari yang telah menempuh perjalanan dengan selamat, telah berada di Tanah Perdikan Sembojan. Kiai Badra memang sempat berbicara dengan Kiai Soka dan Nyai Soka atas rencanya untuk mengamati tempat perjudian itu. Bahkan ternyata bahwa Kiai Soka telah tertarik pula untuk ikut pergi bersamanya.

“Remaja-ramaja yang rindu bertamasya,” desis Nyai Soka.

Kiai Soka tersenyum. Katanya, “Jika saatnya nanti dewasa, maka aku akan bertamasya dengan kau, dara yang menginjak usia mekarnya.”

Nyai Soka dan Iswari tertawa berkepanjangan. Namun Nyai Soka masih sempat juga berkelakar, “Tetapi jangan terlalu lama. Kau harus ingat, bahwa aku menunggumu.”

Kiai Soka dan Kiai Badra pun tertawa pula.

Demikianlah, maka empat orang telah meninggalkan Tanah Perdikan Sembojan menuju ke kaki Gunung Kukusan. Mereka harus menemukan Kademangan ngGebayan. Kemudian mereka akan naik kelambung Gunung melewati padukuhan-padukuhan kecil, sehingga akhirnya mereka akan sampai ke padukuhan kecil yang bernama Muncar.

Sementara itu, maka Iswari telah menghubungi seorang perwira prajurit Pajang yang berada di Tanah Perdikan Sembojan untuk meyakinkan, apakah berita yang didengarnya dari Ki Demang Bibis itu benar.

Ketika hal itu ditanyakan kepada Ki Lurah Reksabaya, maka Ki Lurah itu pun termangu-mangu. Dengan nada ragu ia justru bertanya, “Apa hal ini penting bagi Nyai?”

“Ki Lurah,” berkata Iswari, “bukankah bagiku lebih baik mendengarnya langsung dari para pejabat di Pajang daripada sekedar desas-desus?”

Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Baiklah Nyai. Aku kira memang demikian. Sebaiknya Nyai mendengarnya langsung daripada ceritera-ceritera yang mungkin telah berkembang atau susut.”

“Karena itulah maka aku menemui Ki Lurah. Selama ini Ki Lurah tidak pernah mengatakan sesuatu,” berkata Nyai Wiradana.

“Aku selama ini menganggap bahwa hal ini tidak begitu penting bagi Tanah Perdikan ini. Namun setelah Nyai mendegar sebagian dari orang lain, maka sebaiknya aku memang memberitahukannya,” berkata Ki Lurah.

“Jadi, bagaimana yang terjadi sebenarnya?” bertanya Iswari.

“Memang Ki Gede Pemanahan telah meninggalkan Pajang. Tidak ada pesan yang ditinggalkan. Tetapi menurut dugaan kami, Ki Gede merasa kecewa, bahwa setelah berjuang untuk menegakkan Pajang bahkan sejak gugurnya Arya Penangsang dari Jipang yang sudah sekian tahun, tanah Mentaok masih belum diberikan.”

“Mentaok?” bertanya Iswari.

“Tentu Nyai sudah mendengar, bahwa sebagai pertanda terima kasih Sultan Pajang atas perjuangan yang tidak mengenal lelah Ki Gede Pemanahan dan Ki Penjawi maka Sultan telah menjanjikan memberikan penghargaan Tanah Pati bagi Ki Penjawi dan Mentaok bagi Ki Gede Pemanahan. Tanah Pati memang telah diberikan oleh Sultan Hadiwijaya kepada Ki Penjawi dan bahkan telah menjadi semakin besar. Tetapi Mentaok sampai sekarang masih belum diterima oleh Ki Gede Pemanahan,” berkata Ki Lurah Raksabaya.

“Itukah tujuan pengabdian Ki Gede Pemanahan?” bertanya Iswari.

“Tidak. Tentu bukan,” jawab Ki Lurah, “Ki Pemanahan telah mengabdi dengan tulus. Tidak ada pamrihnya sama sekali disaat-saat perjuangan yang berat itu berlangsung. Namun kemudian terjadilah perkembangan yang tidak dikehendaki oleh semua pihak. Justru karena Pati telah diserahkan. Seakan-akan Sultan Hadiwijaya, sebagai seorang Raja, telah ingkar janji. Padahal menurut keyakinan kita, sabda pendita ratu. Ki Gede Pemanahan mulai merasa dikesampingkan dari janji yang semula tidak diharapkannya, sehingga akhirnya puncak kekecewaannya justru mencengkamnya setelah beberapa orang membicarakannya.”

Iswari mengangguk-angguk. Katanya, “Menurut tangkapanku, Ki Lurah agaknya menganggap bahwa Ki Gede Pemanahan berada dipihak yang benar sementara Sultan Pajanglah yang telah mengingkari janji.”

“Nyai. Yang aku katakan ini adalah justru keterangan yang diberikan oleh Sultan sendiri,” berkata Ki Lurah. “Tentu saja dengan penjelasan, bahwa Sultan sama sekali tidak berniat untuk mengingkari janjinya. Mentaok masih berujud hutan belantara. Penduduknya baru sedikit dan perkembangan daerah itu memang lamban. Sultan Hadiwijaya ingin menunggu sampai Tanah Mentaok itu menjadi lebih ramai dan terasa hidup.”

Iswari mengangguk-angguk. Katanya, “Jadi, seorang Ki Gede Pemanahan masih juga kehilangan kesabarannya?”

“Banyak persoalan yang mempengaruhinya,” berkata Ki Lurah, “sehingga akhirnya terjadilah seperti yang terjadi itu. Ki Gede meninggalkan Pajang tanpa dapat dicegah lagi.”

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berkata, “Apakah akan timbul persoalan baru lagi? Pajang rasa-rasanya masih baru mulai berkembang. Waktu yang ada rasa-rasanya menjadi terlalu pendek meskipun terasa juga aku semakin tua. Risang tumbuh semakin besar.”

“Kadang-kadang kita memang berpacu dengan waktu. Kadang-kadang kita merasa waktu itu berjalan lama sekali, terutama disaat kita menunggu. Namun waktu itu berjalan cepat seperti bayangan jika kita mengenang masa lalu,” desis Ki Lurah.

“Ya Ki Lurah,” sahut Iswari. Lalu, “Tetapi langkah-langkah apakah yang akan diambil oleh Pajang?”

“Agaknya Sultan Hadiwijaya tidak pernah berniat untuk ingkar janji. Kangjeng Sultan telah memutuskan untuk memberikan Tanah Mentaok itu secepatnya kepada Ki Gede, kapan saja dikehendaki,” jawab Ki Lurah, “Agaknya Ki Gede Pemanahan memang tidak ingin menunggu tanah itu menjadi ramai. Menurut pendengaranku, Ki Gede Pemanahan dengan para pengikutnya sudah siap untuk menebang hutan dan menjadikan sebuah negeri. Bahkan Sultan Hadiwijaya pernah mengatakan, jika Ki Gede Pemanahan berniat demikian, akan ada baiknya juga bagi Pajang. Orang yang sudah mulai memadat, akan dapat bergeser membuka tanah baru di Mentaok. Tanah pertanian yang menjadi semakin sempit, akan menjadi luas dan mereka yang tidak lagi mempunyai tanah garapan yang cukup, akan dapat menentukan masa depannya di Tanah Mentaok itu.”

Iswari mengangguk-angguk. Dengan demikian ia sudah mendapat gambaran yang lebih jelas tentang sikap Ki Gede Pemanahan. Agaknya Sultan di Pajang tidak berniat untuk mempersulit dan mempertajam persoalan.

“Mudah-mudahan persoalan itu cepat selesai,” berkata Iswari.

“Mudah-mudahan. Menurut dugaan kami, Ki Gede-pun akan segera memahami keadaan dan tidak akan melakukan langkah-langkah yang dapat menimbulkan kesulitan,” berkata Ki Lurah selanjutnya, “tetapi entahlah putera Ki Gede Pemanahan yang selama ini telah dianggap putera Sultan Hadiwijaya itu sendiri.”

“Siapa?” bertanya Iswari.

“Raden Sutawijaya yang bergelar Mas Ngabehi Loring Pasar,” jawab Ki Lurah.

“Bagaimana dengan sikap Raden Sutawijaya?” bertanya Iswari.

“Mungkin karena kemudaannya,” jawab Ki Lurah, “sikapnya agaknya lebih keras dari sikap ayahnya.”

Iswari mengangguk-angguk kecil. Tetapi ia pun kemudian berdesis, “Tetapi bagaimanakah keadaan Pajang sekarang? Maksudku apakah hal itu mempengaruhi kehidupan sehari-hari?”

“Tidak,” jawab Ki Lurah, “kehidupan sehari-hari berjalan seperti biasanya. Tidak ada pengaruh yang langsung atas kehidupan itu.”

“Syukurlah,” Iswari mengangguk-angguk, “jika terjadi goncangan-goncangan diujung kepala, maka ekornya pun akan ikut terguncang pula sebagaimana saat terjadi pertentangan antara Pajang dan Jipang.”

“Aku mengerti kecemasan Nyai,” sahut Ki Lurah, “tetapi agaknya tidak akan terjadi kegoncangan yang lebih besar.”

Iswari berdesis perlahan, “Mudah-mudahan Tanah Perdikan ini baru mulai mapan. Anak-anak yang hilang dan kembali ke ayah bundanya, baru menyesuaikan dirinya. Demikian pula anak-anak muda Tanah Perdikan baru berusaha untuk melupakan pertentangan yang pernah terjadi itu.”

“Sebagaimana Nyai ketahui, Ki Gede Pemanahan dan Kangjeng Sultan di Pajang adalah saudara seperguruan. Mereka tidak akan pernah melupakannya. Karena itu, maka keduanya tentu tidak akan berpegang pada sikap masing-masing yang mutlak,” berkata Ki Lurah.

“Sekali lagi, mudah-mudahan putera Ki Gede Pemanahan itu pun tidak bersikap terlalu keras,” desis Iswari.

Ki Lurah hanya mengangguk-angguk saja. Namun memang terbayang di wajahnya kecemasannya tentang Raden Sutawijaya yang bergelar Mas Ngabehi Loring Pasar itu. Meskipun belum dikatakan kepada Iswari, namun Ki Lurah itu mengerti kekerasan sikap anak muda itu. Pada satu saat, ketika beberapa orang perwira muda berada di paseban, menjelang hadirnya Kangjeng Sultan, bergurau dengan mengatakan bahwa Alas Mentaok hanya berisi harimau dan anjing hutan, mungkin beruk atau rusa dan bahwa Mentaok tidak akan pernah menjadi ramai, apalagi menjadi sebuah negeri, maka Raden Sutawijaya dengan marah meninggalkan paseban sambil bersumpah, bahwa Raden Sutawijaya tidak akan menginjak paseban itu lagi sebelum Alas Mentaok menjadi negeri yang ramai. Sikap itu dilakukan justru sebelum ayahandanya, Ki Gede Pemanahan meninggalkan Pajang.

Namun Ki Lurah tidak mengatakannya. Iswari yang melihat sesuatu terkilas di wajah Ki Lurah, bertanya, “Apakah ada sesuatu yang ingin Ki Lurah katakan?”

“Tidak. Tidak ada apa-apa lagi. Itulah keadaan yang sebenarnya terjadi di Pajang. Sekali lagi, jangan mencemaskannya,” sahut Ki Lurah.

Iswari mengangguk-angguk. Namun ia memang menjadi sedikit tenang setelah mendengar langsung keterangan dari Ki Lurah Raksabaya yang bertugas di Tanah Perdikan Sembojan.

Sementara itu, yang berada diperjalanan menuju ke Kademangan ngGebayan telah membagi diri. Sambi Wulung dan Jati Wulung menempuh jalan yang berbeda dengan Kiai Badra dan Kiai Soka. Sambi Wulung dan Jati Wulung berusaha untuk dapat memasuki tempat perjudian yang juga merupakan tempat sabung ayam itu melalui pintu. Sementara Kiai Badra dan Kiai Soka akan mengamatinya dari jarak tertentu.

Namun Kiai Badra telah berpesan kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung, agar mereka berhati-hati. Tentu tidak mudah untuk dapat memasuki tempat itu tanpa ada seorang pun yang pernah dikenalnya atau bahkan dapat menanggungnya.

Mereka ternyata tidak terlampau sulit untuk menemukan Kademangan ngGebayan. Baik Sambi Wulung dan Jati Wulung, maupun Kiai Badra dan Kiai Soka. Ternyata mereka tidak datang bersamaan di Kademangan itu. Kiai Badra dan Kiai Soka memasuki Kademangan itu sehari kemudian setelah Sambi Wulung dan Jati Wulung.

Namun Kiai Badra dan Kiai Soka masih melihat bekas-bekas kahadiran Sambi Wulung dan Jati Wulung itu.

“Gaya Sambi Wulung dan Jati Wulung memang ngedab-edabi,” desis Kiai Soka.

Kiai Badra hanya tersenyum saja.

Sementara itu kedua orang tua itu telah berada di banjar Kademangan ngGebayan. Dengan senang hati, penunggu banjar itu memberi tempat kepada kedua orang tua itu untuk menginap.

Dari penunggu banjar itu Kiai Badra dan Kiai Soka mendengar ceritera, apa yang telah terjadi di banjar itu sehari sebelum mereka datang.

“Dua orang gila kemarin mengamuk disini,” berkata penunggu banjar itu.

“Kenapa?” bertanya Kiai Badra.

“Kami tidak tahu sebab-sebabnya,” jawab penunggu banjar itu, “namun tiba-tiba saja terjadi perselisihan antara dua orang yang menginap disini dengan beberapa orang lainnya.”

“Bukan dengan orang-orang Kademangan ini?” bertanya Kiai Badra.

“Tidak. Bukan dengan orang-orang Kademangan ini,” jawab penunggu banjar itu.

“Oh, bukankah dengan demikian mereka telah mengganggu ketenangan Kademangan ini?” bertanya Kiai Soka.

Penunggu banjar itu menarik nafas dalam-dalam. Namun sambil mengeluh ia berkata, “Hal seperti itu sudah sering terjadi di Kademangan ini.”

“O,” Kiai Soka menjadi heran, “kenapa sering terjadi?”

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian diamatinya kedua orang tua itu dengan wajah tegang.

Lalu katanya dengan nada bimbang, “jangan-jangan aku juga berhadapan dengan orang-orang serupa dengan orang-orang gila itu?”

“Ah, kami adalah orang-orang tua,” desis Kiai Badra.

“Yang mengamuk juga orang-orang tua, meskipun belum setua Ki Sanak berdua,” jawab penunggu banjar itu.

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kami datang dalam keadaan kami seperti ini. Apakah yang dapat kami lakukan? Bukan maksud kami ingin tahu segala-galanya. Tetapi justru karena kami berada di tempat ini.”

Penjaga itu masih nampak ragu-ragu. Namun dimatanya, kedua orang itu orang-orang yang sudah terlalu tua.

Karena itu, maka penjaga itu tidak menaruh curiga kepada keduanya, bahwa keduanya akan membuat persoalan di Kademangan itu. Apalagi sekedar mendengarkan ceritera tentang peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi di Kademangan itu.

Sejenak penunggu banjar itu masih ragu-ragu. Namun kemudian katanya, “Ki Sanak. Kademangan ini merupakan pintu gerbang yang menuju ke lingkungan yang mengerikan di lambung Gunung Kukusan ini.”

“O, tentang apa?” bertanya Kiai Soka.

“Ki Sanak,” berkata orang itu, “di daerah Song Lawa ada sebuah tempat yang merupakan sumber dari segala keributan itu.”

“Song Lawa?” bertanya keduanya hampir berbareng.

“Ya. Jika kalian mendaki kaki Gunung Kukusan ini melalui padukuhan-padukuhan Muncar, maka kalian akan sampai kesatu tempat yang bernama Song Lawa. Tempat untuk menyabung ayam dan tempat perjudian yang tersembunyi,” berkata penunggu banjar itu.

“O, tempat menyabung ayam,” sahut Kiai Badra, “menyenangkan sekali. Aku diwaktu muda juga sering melihat sabung ayam. Apakah kami boleh melihat sabung ayam itu?”

“Jangan mimpi orang-orang tua,” berkata penunggu banjar itu, “selain tempat sabung ayam dan tempat berjudi, maka tempat itu juga merupakan tempat pembantaian yang semena-mena. Tidak ada paugeran yang berlaku ditempat itu. Semuanya dapat berbuat apa saja menurut keinginan sendiri. Yang kuat akan dapat menentukan kemauannya apa saja. Yang lemah harus licik agar tetap dapat hidup ditempat itu. Mereka harus mampu mengambil hati agar mendapat perlindungan, atau mengupah orang-orang untuk menjaga keselamatannya.”

“O, sangat mengerikan,” desis Kiai Soka, “apakah tempat seperti itu dibiarkan saja oleh Ki Demang di ngGebayan ini?”

“Apa yang dapat kami lakukan?” desis penunggu banjar itu, “di Kademangan ini tidak ada orang yang cukup kuat untuk mengatasinya. Apalagi daerah Song Lawa itu tidak berada di kukuban Kademangan ngGebayan. Namun akibat dari tempat sabung ayam dan perjudian itu sangat tidak menyenangkan bagi kami disini.”

“Apa yang Ki Sanak katakan sering terjadi itu?” bertanya Kiai Badra.

“Orang-orang yang akan pergi ke Song Lawa biasanya melalui Kademangan ini. Jika beberapa kelompok diantara mereka bertemu disini dan mereka berniat bermalam di banjar ini, maka kadang-kadang mereka sudah berselisih sebelum mereka sampai ketempat perjudian itu. Mereka sudah berkelahi disini dan kadang-kadang benar-benar membuat orang-orang ngGebayan ini menjadi gila.”

“Orang-orang yang memuakkan,” desis Kiai Soka.

“Jangan berkata begitu dihadapan orang lain yang belum kau kenal. Jika kebetulan kau bertemu dengan orang seperti yang kemarin datang kemari, maka kau akan mengalami nasib yang buruk.”

“Siapa?” beranya Kiai Badra.

“Tidak ada orang yang tahu. Tetapi perselisihan itu tiba-tiba terjadi di banjar ini,” berkata penunggu banjar itu. Lalu, “tetapi sungguh luar biasa. Dua orang yang nampaknya kakak beradik. Apakah saudara kandung atau sekedar saudara seperguruan. Mereka bertempur melawan lebih dari lima orang. Tetapi keduanya itu mengamuk seperti orang gila. Bukan hanya kelima orang itu saja. Tetapi kelompok lain yang juga tidak tahu sebabnya telah terlibat pula.”

“Bukan main,” desis Kiai Soka.

“Ternyata yang dua orang itu mampu mengalahkan lawan-lawannya. Mereka melukai lebih dari tiga orang. Seorang terbunuh dan yang lain melarikan diri,” berkata penunggu banjar itu. Lalu ia pun berceritera lebih lanjut, “Ki Sanak. Disini mereka mulai bertempur. Memang tidak tahu sebabnya. Tetapi dua orang itu telah menebar. Yang seorang berada disudut halaman yang sebelah sana, yang lain disebelah ini.”

Kiai Badra dan Kiai Soka pun kemudian mengangguk-angguk dengan penuh perhatian. Sementara itu, penunggu banjar itu pun telah berceritera dengan penuh minat pula. Katanya, “Aku belum pernah melihat orang segarang mereka berdua.”

“Apa yang dilakukan?” bertanya Kiai Soka.

Penunggu banjar itu pun telah menceriterakan apa yang dilihatnya di banjar itu.

Dua orang yang disebutnya kakak beradik itu tiba-tiba saja telah memencar. Beberapa orang lain telah membagi diri. Sehingga setiap orang dari kedua kakak beradik itu harus melawan masing-masing tiga orang. Tetapi yang tiga orang itu tidak mampu menundukkan kedua orang yang disebut kakak beradik itu.

Meskipun orang-orang yang mengeroyoknya itu juga bukan orang kebanyakan, namun agaknya mereka tidak memiliki ilmu yang setingkat dengan kedua orang kakak beradik itu.

“Dengan pedang ditangan keduanya benar-benar mengerikan,” berkata penunggu banjar itu lebih lanjut. Lalu katanya pula, “ketika seorang terbunuh dan yang lain luka-luka, maka orang-orang itu mulai bergeser menjauh. Mereka berusaha untuk berlindung di banjar, sementara ada sekelompok orang lain di banjar ini. Kedua orang itu tiba-tiba telah mengamuk. Semua orang mereka lawan dengan garangnya. Orang-orang yang semula tidak terlibat itu pun terpaksa melibatkan dirinya pula. Sehingga dengan demikian hiruk pikuk telah terjadi.”

“Memang mengerikan,” desis Kiai Soka, “tetapi apakah yang terbunuh itu orang yang akan pergi ke Song Lawa?”

“Ya. Mereka adalah penjudi-penjudi yang memang sudah kami kenal. Hanya dua orang itu sajalah yang agaknya belum pernah melalui jalur ini,” berkata penunggu banjar itu.

Namun menurut ciri-ciri yang diceriterakannya, Kiai Badra dan Kiai Soka yakin bahwa keduanya adalah Sambi Wulung dan Jati Wulung yang agaknya dengan cepat mendahului kedua orang tua itu mencapai Kademangan ngGebayan sehari sebelum keduanya sampai.

Tetapi penunggu banjar itu tidak berceritera lebih panjang. Ia hanya mengatakan bahwa orang-orang disekitar banjar itu terpaksa mengubur orang yang terbunuh kemarin.

Namun penunggu banjar itu memang orang yang baik. Kiai Badra dan Kiai Soka telah diajaknya untuk pergi kebelakang banjar. Di dapur mereka diberi makan dan minum secukupnya.

“Tidak semua orang yang menginap aku suguhi makan dan minum,” berkata penunggu banjar itu. “Apalagi jika mereka datang berkelompok. Aku dapat menjadi miskin jika aku harus menyediakan makan bagi setiap orang. Kecuali mereka yang memang memesan kepadaku untuk menyediakan makan dan minum dengan memberikan imbalan secukupnya.”

“Ada juga yang berbuat demikian?” bertanya Kiai Badra.

“Ya,” jawab penunggu banjar itu, “biasanya mereka tidak terlalu hemat dengan uang. Apalagi jika mereka yang turun dari Song Lawa dan membawa kemenangan. Biasanya mereka memberikan uang tanpa menghitung dan memesan jenis makanan yang mahal-mahal.”

“Apakah itu merupakan satu keuntungan atau hanya menambah beban kerja saja bagi Ki Sanak?” bertanya Kiai Soka sambil tersenyum.

“Ah kau,” desis penunggu banjar itu, “agaknya karena itu aku tetap disini. Jika tidak ada penghasilan khusus seperti itu, aku tidak akan berada disini. Hampir setiap pekan sekali tentu terjadi perselisihan disini. Aku dapat membayangkan, apa yang terjadi di Muncar bahkan di Song Lawa sendiri.”

“Tetapi apakah Kademangan ini satu-satunya jalan menuju ke Song Lawa?” bertanya Kiai Badra.

“Tidak,” jawab orang itu, “sebagian lagi tidak melewati Kademangan ini. Ada yang mengambil jalan pintas meskipun agak sulit. Tetapi sebagian dari mereka lebih senang berjalan lewat Kademangan ini. Mereka yang ingin beristirahat disini, dapat mempergunakan banjar ini. Meskipun sebenarnya banjar ini tidak disediakan bagi mereka. Mula-mula kami memang berkeberatan. Tetapi beberapa orang telah memaksa, sementara kami tidak dapat berbuat apa-apa. Ki Jagabaya pernah dipukuli oleh sekelompok penjudi karena Ki Jagabaya berusaha mengusir mereka dari banjar ini. Sejak itu, maka banjar ini terbuka bagi mereka. Meskipun agak terpaksa.”

Kiai Badra dan Kiai Soka mengangguk-angguk. Namun mereka telah mendapat sedikit gambaran tentang tempat sabung ayam dan tempat perjudian yang ternyata mempunyai nama tersendiri, Song Lawa. Namun yang agaknya memberikan kesan tentang kehidupan di tempat terpencil itu.

Ketika Kiai Badra dan Kiai Soka telah selesai makan, maka mereka dipersilahkan untuk pergi ke serambi samping banjar Kademangan itu.

Namun ketika keduanya keluar dari dapur, maka mereka terkejut karena hadirnya beberapa orang berkuda dihalaman.

“Empat orang,” berkata Kiai Badra.

Sebelum Kiai Soka sempat menjawab, maka tiba-tiba seorang diantara para penunggang kuda itu meloncat turun sambil memanggil, “He, kau kemarilah.”

Kiai Badra dan Kiai Soka saling berpandangan sejenak. Namun justru karena keduanya tidak segera mendekat, orang itu berteriak lebih keras, “He, kamari kau.”

Namun untunglah bahwa suara itu didengar oleh penunggu banjar itu. Karena itu, maka ia pun telah keluar dari dapur.

“Biarlah aku yang mendekat,” berkata penunggu banjar itu.

Ternyata bahwa orang itu tidak berteriak lagi setelah seseorang mendekatinya.

Penunggu banjar yang sudah terlalu sering berhubungan dengan bermacam-macam watak orang, sama sekali tidak merasa canggung berhadapan dengan orang-orang berkuda itu. Bahkan ketika ia melihat salah seorang yang masih duduk dipunggung kuda, ia pun menyapanya dengan akrab, “Kau Kiai.”

Orang itu pun tertawa. Katanya, “Aku datang lagi untuk menebus kekalahanku.”

“Maksud kedatangan Ki Sanak semuanya?” bertanya penunggu banjar itu.

“Kami ingin beristirahat disini sebelum besok kami akan naik. Kami akan meninggalkan kuda-kuda kami disini. Kuda sebaik kudaku akan dapat menimbulkan persoalan di Song Lawa,” berkata orang yang sudah meloncat turun dari kudanya itu.

Penunggu banjar itu mengerutkan keningnya. Katanya, “Tetapi tidak ada orang yang dapat mengamati kuda-kuda itu disini. Apalagi jika ada orang yang nampaknya tertarik kepada kuda-kuda itu. Mereka akan dengan serta merta mengambilnya tanpa dapat aku cegah.”

“Kau takut?” bertanya orang itu.

Penunggu banjar itu termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian tertawa sambil menjawab, “Tentu. Aku tidak mempunyai bekal apa pun untuk melakukannya.”

Orang yang disebutnya Kiai itu pun tertawa. Katanya, “Ia berkata dengan jujur. Memang ia tidak akan dapat mencegah seandainya seseorang akan mengambilnya.”

“Lalu?” bertanya kawannya.

“Ada dua pilihan. Kita tinggalkan dengan kemungkinan diambil orang lain, atau kita akan membawanya dan mempertahankannya jika ada orang yang menginginkannya,” sahut yang disebut Kiai itu.

Namun sebelum orang yang sudah turun dari kudanya itu menjawab, maka yang lain telah meloncat turun pula sambil berkata, “Kita pikirkan besok. Sekarang kita beristirahat disini. Makan dan tidur.”

“Baiklah,” berkata orang yang dipanggil Kiai itu, “kita akan beristirahat sampai besok.”

Demikianlah, meka mereka pun kemudian mengikat kuda-kuda mereka pada patok-patok yang sudah disediakan. Seorang diantara mereka kemudian telah memberikan beberapa keping uang sambil berkata, “Sediakan makan buat kami. Jika makan yang kau masak itu tidak enak, maka awas.”

Penunggu banjar itu tertawa. Katanya, “jangan cemas. Aku adalah juru masak terbaik di Kademangan ini.”

“Aku percaya,” berkata orang yang dipanggil Kiai itu, “tetapi jangan terlalu lama. Kau dapat segera menangkap paling sedikit dua ekor ayam.”

“Tentu. Aku sudah menyisihkan ayam yang paling baik buat kalian sekarang ini. Aku sudah mengira bahwa musim sabung ayam kali ini, kalian juga akan datang. Terutama Kiai Windu.”

Orang yang dipanggil Kiai Windu itu tertawa. Katanya, “Sudah aku katakan. Aku ingin menebus kekalahanku.”

“Atau memperdalam jurang yang sudah digalinya,” sahut seorang kawannya.

Yang lain pun tertawa pula.

Sejenak kemudian maka orang-orang itu telah masuk keruang dalam banjar Kademangan itu. Mereka mendapat sebuah bilik yang cukup besar untuk mereka berempat.

Sementara itu, penunggu banjar itu telah meninggalkan keempat tamunya. Ia singgah sejenak diserambi sambil berdesis, “Aku telah mendapatkan uang itu tanpa berjudi di Song Lawa. Meskipun tidak banyak, tetapi jika sering terjadi maka aku akan dapat menabung serba sedikit.”

Kiai Badra tersenyum sambil berkata, “Ternyata ada juga imbalannya. Jika hal itu terjadi setiap hari, maka kau memang akan dapat menjadi kaya.”

“Tetapi setiap kali ada juga orang-orang gila seperti yang kemarin singgah. Jangankan memberi uang. Tamu-tamuku yang lain menjadi bercerai-berai. Bahkan ditinggalkannya sesosok mayat di banjar ini.”

“Semacam neraca. Kau memang tidak boleh menjadi terlalu kaya,” berkata Kiai Soka.

“Ya. Sekali-sekali aku memang harus mengumpati orang-orang seperti itu,” geram penunggu banjar itu.

“Seperti yang mengamuk itu?” bertanya Kiai Soka pula.

“Ya. Bahkan telah merusak pula,” keluhnya.

Kiai Badra dan Kiai Soka hanya mengangguk-angguk saja. Sementara itu penunggu banjar itu berkata, “Sudahlah. Aku akan menangkap dua ekor ayam.”

“Apakah kami dapat membantu?” bertanya Kiai Badra dan Kiai Soka hampir berbareng.

“Kalian mau membantu apa?” bertanya penunggu banjar itu.

“Menangkap ayam atau barangkali menanak nasi atau apa?” jawab Kiai Badra.

“Semua harus aku kerjakan sendiri untuk menjaga agar masakan yang akan aku suguhkan kepada orang-orang itu masakan yang paling enak yang pernah mereka jumpai,” jawab penunggu banjar itu.

“Yang akan memasak suguhan itu kau atau isterimu?” bertanya Kiai Badra.

“Aku sendiri. Isteriku tidak dapat masak. Bahkan menanak nasi pun tidak dapat,” jawab penunggu banjar itu. Namun katanya kemudian, “beristirahatlah. Uang yang diberikan cukup untuk menyediakan makan dan minum termasuk kalian berdua.”

Orang itu tidak menunggu Kiai Badra dan Kiai Soka menjawab. Ia pun segera melangkah pergi untuk menangkap dua ekor ayam.

Kiai Badra dan Kiai Soka yang berada di serambi sebentar kemudian telah mendengar orang-orang yang berada didalam banjar itu berkelakar menurut cara mereka. Suara mereka bagaikan memenuhi banjar itu, bahkan mengumandang keras sekali.

Kata-kata yang kasar terlontar dari mulut mereka diselingi suara tertawa dan umpatan-umpatan yang menggetarkan telinga.

“Satu gambaran kecil dari tempat yang disebut Song Lawa itu,” berkata Kiai Badra.

“Ya. Kekasaran, kekerasan dan kata-kata yang kotor,” desis Kiai Soka.

Malam itu, Kiai Badra dan Kiai Soka ikut mendapat suguhan sebagaimana empat orang yang bermalam di banjar itu. Ternyata penunggu banjar itu tidak hanya menyembelih dua ekor ayam. Tetapi tiga ekor ayam. Dengan demikian maka Kiai Badra dan Kiai Soka ikut pula bujana bersama keempat orang itu meskipun di tempat yang berbeda.

Namun pagi-pagi benar Kiai Badra dan Kiai Soka telah mohon diri kepada penunggu banjar itu. Dengan berulang kali mengucapkan terima kasih akhirnya Kiai Badra berkata, “Kami mohon diri untuk meneruskan pengembaraan kami.”

“Ki Sanak,” berkata penunggu banjar itu, “sebenarnya Ki Sanak berdua ini akan pergi kemana. Kalian sudah terlalu tua untuk mengembara. Apakah kalian tidak mempunyai sanak kadang yang dapat menjadi tumpuan diakhir hayat kalian?”

“Kami memang pengembara Ki Sanak,” jawab Kiai Badra, “tetapi pada saatnya kami memang harus menentukan sikap untuk mengakhiri pengembaraan kami.”

“Tetapi sampai kapan. Kalian berdua sudah terlalu tua. Keriput wajah kalian serta rambut kalian yang sudah menjadi seperti kapas itu membuat hati ini menjadi iba melihat kalian berjalan menyusuri jalan-jalan padukuhan. He, apakah yang kalian makan di sepanjang perjalanan?”

Kedua orang tua itu tersenyum. Sekali lagi Kiai Soka mengucapkan terima kasih dengan tulus. Katanya, “Ki Sanak. Ki Sanak terlalu baik kepada kami. Jika ada kesempatan, kami ingin singgah lagi di padukuhan ini. Sekarang kami mohon diri. Sebenarnya terbersit keinginan kami untuk melihat sabung ayam di Song Lawa. Tetapi ceritera Ki Sanak tentang Song Lawa membuat kami takut mendekat.”

“Jangan pergi ke sana,” berkata penunggu banjar itu, “keempat orang itu adalah contoh dari orang-orang yang berada di tempat sabung ayam dan perjudian itu. Kasar dan keras. Lebih dari itu, tempat itu dikawal oleh orang-orang yang bersenjata dan tidak kenal belas kasihan. Mereka adalah pembunuh-pembunuh yang tidak tahu akan arti tindakannya itu.”

“Tentu tidak Ki Sanak. Tidak ada keberanian kami untuk pergi kesana. Atau mungkin kami sudah tidak mampu untuk mendaki jalan yang menanjak menuju ke padukuhan Muncar untuk kemudian mencapai tempat yang mengerikan itu,” berkata Kiai Badra.

Ketika Kiai Badra dan Kiai Soka melangkah turun kemalaman, maka penunggu banjar itu berkata, “Selamat jalan kakek-kakek tua. Semoga kalian selamat sampai kerumah kalian.”

Kiai Badra dan Kiai Soka termangu-mangu ketika penunggu banjar itu memberikan beberapa keping uang kepada mereka sambil berkata, “Mungkin kalian haus diperjalanan. Jika sekali-sekali kalian ingin membeli minuman panas, uang ini mungkin akan berarti bagi kalian.”

Keduanya tidak dapat menolak. Justru untuk tidak menarik perhatian. Namun penunggu banjar itu memberikan uangnya dengan ikhlas pula, sehingga memang tidak sepantasnya untuk tidak diterima.

Demikianlah, sambil sekali lagi mengucap terima kasih, maka Kiai Badra dan Kiai Soka itu telah meninggalkan banjar menyusuri jalan padukuhan, sementara hari masih gelap.

Ketika kedua orang itu keluar dari padukuhan induk Kademangan ngGebayan, maka Kiai Soka itu pun berdesis, “Orang itu sangat baik.”

“Ya. Agaknya ia memang orang yang baik hati,” jawab Kiai Badra, “namun yang aku ingin tahu, kenapa Sambi Wulung dan Jati Wulung menjadi demikian keras sikapnya.”

“Penunggu banjar tidak tahu sebabnya. Namun agaknya keduanya didorong oleh keadaan,” desis Kiai Soka.

Kiai Badra mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Lebih baik kita mencari jalan lain. Jika keempat orang itu nanti meninggalkan banjar, mungkin mereka akan melampaui kita dan bahkan menjadi curiga terhadap kita.”

Kiai Soka menarik nafas dalam-dalam. Dengan demikian ia mengerti bahwa mereka harus menempuh jalan lain. Mereka harus mulai menyusup gerumbul-gerumbul perdu atau melintasi padang ilalang. Dengan demikian maka mulailah pengembaraan mereka yang sebenarnya mendekati tempat sabung ayam dan perjalanan yang disebut Song Lawa.

“Sambi Wulung dan Jati Wulung tentu melewati jalan ini,” berkata Kiai Badra.

Kiai Soka mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Kita melintasi pematang ini. Kita akan memasuki pategalan itu.”

“Jika ada pemiliknya?” bertanya Kiai Badra.

“Kita menyusuri pinggirnya saja,” jawab Kiai Soka.

Mereka pun kemudian meloncati tanggul parit dan menyusuri pematang menuju ke pategalan yang tidak terlalu jauh dari jalan yang mendekati lambung Gunung Kukusan. Karena itu, maka perjalanan mereka berikutnya merupakan perjalanan yang akan menjadi semakin berat.

Namun, meskipun keduanya memang sudah tua sebagaimana ujud mereka, tetapi ternyata bahwa mereka masih cukup trampil. Mereka meloncati parit dan pematang tanpa kecanggungan. Bahkan kedua orang yang rambutnya sudah memutih itu sama sekali tidak menjadi terengah-engah.

Ketika matahari terbit, mereka telah berada diantara pepohonan pategalan. Mereka kemudian melintas dan turun ke padang perdu. Keuntungan keduanya adalah justru karena jalan yang naik ke padukuhan-padukuhan di lambung gunung itu adalah berkelok-kelok dan ditumbuhi beberapa jenis pepohonan di pinggirnya, sehingga dari padang, keduanya dapat melihat arah jalan yang semakin lama nampaknya menjadi semakin sempit dan rumpil.

“Kita harus menemukan padukuhan Muncar. Menurut kedua orang yang sedang diburu itu, jalan menuju ketempat sabung ayam itu melewati sebuah belumbang alam yang berair sangat bening.”

“Kita harus menemukan padukuhan Muncar itu lebih dahulu,” berkata Kiai Badra.

Pengalaman pengembaraan mereka, telah menuntun mereka menuju ke padukuhan Muncar. Penunggu banjar itu mengatakan, bahwa Muncar berada di pinggir jalan yang menuju ke Song Lawa. Meskipun ia tidak menyebut belumbang yang berair bening itu, namun kedua keterangan itu dapat dipergunakannya sebagai ancar-ancar.

Ternyata mereka harus berjalan jauh. Muncar memang tidak-terlalu dekat dengan padukuhan induk Kademangan ngGebayan. Sehingga karena itu, mereka harus mengamati ciri-ciri yang dikatakan oleh penunggu banjar itu dengan saksama.

“Itulah batu karang yang dimaksudkan,” berkata Kiai Badra.

“Kita baru mendapat separuh jalan,” desis Kiai Soka.

Kiai Badra tersenyum. Namun mereka sudah terlalu biasa menempuh perjalanan yang sangat jauh sekalipun. Karena itu, maka jarak antara padukuhan Muncar dan Kademangan ngGebayan tidak menjadi, persoalan bagi mereka.

Setelah beberapa saat mereka berjalan, maka mereka sempat melihat debu yang mengepul di jalan yang menuju ke padukuhan Muncar. Beberapa ekor kuda nampaknya berderap dengan cepat melintasi jalan yang berkelok-kelok memanjat lambung Gunung Kukusan.

Kiai Badra dan Kiai Soka yang sudah menjadi agak jauh dari jalan yang semula mereka lalui, sempat berlindung dibalik pohon-pohon perdu.

“Nah, itulah mereka,” berkata Kiai Badra.

“Memang empat orang,” desis Kiai Soka.

“Mungkin masih ada orang lain yang akan memanjat lambung Gunung ini. Mungkin berjalan kaki atau dengan cara lain,” berkata Kiai Badra pula.

“Ternyata kita datang tepat pada waktunya. Musim sabung ayam. Dalam musim yang begini, tempat itu tentu lebih ramai daripada jika bukan musimnya,” sahut Kiai Soka.

Kiai Badra mengangguk-angguk. Dipandanginya debu yang mengepul semakin lama semakin jauh mendahului perjalanan mereka. Namun dengan demikian kedua orang tua itu yakin, bahwa mereka telah menempuh jalan yang benar.

Semakin lama perjalanan mereka pun menjadi semakin tinggi. Mereka segera mengenali padukuhan Muncar ketika mereka melihat sepasang pohon randu alas yang besar. Kemudian mereka pun dapat menemukan jalan yang menuju ke belumbang sebagaimana dikatakan oleh dua orang kakak beradik yang pernah dikunjungi oleh Kiai Badra.

Dan akhirnya, mereka pun sempat menemukan jalur jalan menuju ke Song Lawa, tempat sabung ayam dan perjudian yang terpencil.

Kedua orang itu pun menjadi semakin berhati-hati. Mereka merayap semakin jauh dari jalan yang menghubungkan tempat itu dengan tempat yang disebut Song Lawa. Mereka tidak ingin mengikuti jalan itu terlalu dekat. Bagi mereka jalan itu cukup menjadi ancar-ancar arah perjalanan mereka.

Dengan demikian maka keduanya pun telah memasuki hutan dilereng bukit. Agaknya padukuhan sudah menjadi sangat jarang. Sehingga kedua orang tua itu merasa agak lebih aman.

Beberapa pertanda telah menunjukkan, bahwa mereka memang akan segera sampai kedaerah yang disebut Song Lawa itu, daerah yang tentu bukan pasanggrahan yang nyaman dan tenang. Tetapi tempat itu tentu merupakan tempat yang hiruk-pikuk dan penuh dengan kekerasan dan kekasaran.

Namun Kiai Badra dan Kiai Soka itu kemudian tertegun ketika mereka melihat beberapa puluh langkah disamping, keempat penunggang kuda itu berhenti. Agaknya mereka memang telah dihentikan oleh seseorang atau lebih.

“Apa yang telah terjadi?” bertanya Kiai Badra.

“Kita akan melihatnya,” sahut Kiai Soka.

Kedua orang tua itu pun dengan sangat berhati-hati telah mendekati jalan yang mereka anggap sebagai ancar-ancar itu. Mereka kemudian berhenti beberapa belas langkah dari jalan itu. Namun dari tempat mereka kemudian berlindung, mereka telah dapat melihat jelas apa yang telah terjadi.

“Sambi Wulung dan Jati Wulung,” desis Kiai Badra.

Kiai Soka mengangguk-angguk. Ia pun melihat Sambi Wulung dan Jati Wulung telah menghentikan keempat orang berkuda itu.

“Orang-orang berkuda itu baru sampai disini?” bertanya Kiai Soka.

“Mungkin mereka berhenti di belumbang itu atau dimana saja,” jawab Kiai Badra.

Mereka pun kemudian saling berdiam diri sambil mengamati apa yang telah terjadi.

“Untuk apa kalian menghentikan kami?” bertanya salah seorang penunggang kuda itu.

“Ki Sanak,” Sambi Wulung justru bertanya, “bukankah kalian akan pergi ke Song Lawa?”

“Kebetulan sekali. Kami juga akan pergi ke Song Lawa. Kami memerlukan seseorang yang mau menanggung kami berdua agar kami berdua dapat masuk ke lingkungan daerah Sabung Ayam itu,” berkata Sambi Wulung.

“Aku tidak mengenal kalian berdua. Dan aku pun tidak melihat kepentingan apa pun untuk menanggung kalian berdua,” jawab penunggang kuda itu.

“Kita sekarang memperkenalkan diri,” jawab Sambi Wulung, “kemudian bawa kami masuk. Kami akan memberikan sebagian dari kemenangan kami kepada kalian jika kalian bersedia.”

“Jangan mengigau. Kau tidak akan menang seandainya kalian dapat memasuki lingkungan sabung ayam itu,” jawab orang berkuda itu, “minggirlah. Kami akan lewat.”

“Katakan bahwa kalian akan menanggung kami berdua, atau kalian tidak akan pergi ketempat itu,” geram Jati Wulung.

“Iblis,” orang berkuda itu mengumpat, “kau mengancam aku?”

“Bukan hanya mengancam. Tetapi kami akan menghancurkan kalian disini. Mengambil bekal kalian karena aku yakin kalian tentu membawa bekal banyak untuk memasuki Song Lawa,” berkata Sambi Wulung dengan garang.

Tetapi keempat orang itu tertawa hampir bersamaan. Seorang diantara mereka memegangi perutnya sambil berkata diantara derai tertawanya itu, “Apakah kau sudah gila he? Mungkin kau orang yang sama sekali tidak mengenal dunia ini, terutama dunia kanuragan dan dunia perjudian.”

“Aku memang belum mengenal dunia perjudian dan sabung ayam di Song Lawa. Tetapi aku sudah mengelilingi tanah ini dari ujung sampai ke ujung. Aku sudah memasuki tempat perjudian di tujuhpuluh delapan tempat. Dari tempat perjudian di serambi yang tiris sampai ke istana yang megah,” jawab Jati Wulung.

Keempat orang itu tertawa semakin keras. Seorang diantara mereka kemudian berkata, “Minggir. Atau aku tenteng kepalamu memasuki Song Lawa. Tidak ada orang yang akan mempersoalkan dimana aku mendapatkan kepalamu itu. Tubuhmu yang tertinggal dimana aku mendapatkan kepalamu itu. Tubuhmu yang tertinggal disini akan menjadi makanan anjing-anjing liar dari hutan-hutan dilereng Gunung Kukusan ini.”

Sambi Wulung tiba-tiba membentak dengan kasar, “Cepat. Katakan bahwa kalian akan menanggung aku memasuki tempat perjudian itu. Aku tidak mau menunggu terlalu lama. Aku tidak mempunyai waktu untuk bergurau disini. Mungkin ditempat perjudian aku akan dapat bergurau lebih baik.”

“Jadi kalian berdua benar-benar sudah gila? Baiklah. Kami benar-benar akan memenggal leher kalian da membawa kepala kalian memasuki Song Lawa,” jawab seorang diantara orang-orang berkuda itu.

Dalam pada itu, seorang diantara mereka pun telah meloncat turun dari kudanya dan mengikat kudanya itu pada sebatang pohon di pinggir jalan. Dengan nada berat ia pun berkata, “bersiaplah untuk mati.”

Ketiga orang kawannya pun telah berloncatan turun pula. Termasuk orang yang disebut Kiai Windu.

Sambi Wulung dan Jati Wulung tiba-tiba sudah memencar. Mereka telah bersiap untuk menyerang.

“Cepat ikat kudamu dan bersiap, agar kalian tidak menyebut kami curang,” geram Jati Wulung.

Orang-orang berkuda itu pun segera mengikat kuda mereka. Dalam pada itu Kiai Windu pun berkata, “Agaknya mereka benar-benar ingin terbunuh disini, menjelang pintu gerbang yang menuju ke satu tempat yang diimpikannya. Mereka lebih baik mati daripada tidak dapat memasuki Song Lawa.”

“Jangan banyak bicara,” bentak Jati Wulung, “aku tidak mempunyai banyak waktu.”

Keempat orang berkuda itu pun segera mempersiapkan diri, sementara Sambi Wulung dan Jati Wulung telah mulai bergerak untuk menyerang.

Keempat orang itu memang terkejut melihat sikap Sambi Wulung dan Jati Wulung yang garang itu. Sebelum mereka berbuat sesuatu mereka sudah harus berloncatan menghindari serangan kedua orang yang garang itu.

Namun Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak berhenti pada serangan yang pertama. Mereka pun segera memburu lawan-lawan mereka yang berloncatan menghindar itu. Justru semakin cepat dan semakin kuat.

“Orang ini memang gila,” geram Kiai Windu.

Tiba-tiba saja Kiai Windu yang marah itu pun telah mempercepat tata geraknya. Ia tidak lagi sekedar menghindari serangan Sambi Wulung, tetapi pada satu kesempatan, maka Kiai Windu itulah yang menyerang.

Dengan demikian maka pertempuran diantara mereka pun menjadi semakin keras dan kasar. Mereka saling menyerang, memburu dan bahkan berteriak dengan umpatan-umpatan yang kotor.

Kiai Soka menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kenapa Sambi Wulung dan Jati Wulung dapat berbuat seperti itu?”

“Mereka ingin menyesuaikan diri dengan nafas kehidupan di Song Lawa,” sahut Kiai Badra.

Kiai Soka mengangguk-angguk. Nampaknya Sambi Wulung dan Jati Wulung memang telah memaksa diri untuk berbuat kasar dan keras, agar mereka pantas memasuki tempat yang disebut Song Lawa itu. Keduanya tidak akan dapat bersikap lembut dan dilandasi dengan unggah-ungguh yang mapan. Agaknya keduanya ingin memasuki tempat itu dengan cara yang sesuai dengan kehidupan ditempat sabung ayam dan perjudian itu.

Untuk beberapa saat lamanya, Kiai Badra dan Kiai Soka melihat mereka bertempur. Ternyata keempat orang berkuda itu juga bukan orang-orang yang tidak berilmu. Mereka pun mampu bergerak cepat dan pada benturan-benturan yang terjadi, mereka pun menunjukkan kekuatan mereka yang dilandasi dengan tenaga cadangan didalam diri mereka.

Namun Sambi Wulung dan Jati Wulung memang memiliki kelebihan. Mereka mampu mendesak keempat orang lawannya, sehingga mereka terpaksa berloncatan surut.

Dalam keadaan yang gawat, maka orang yang disebut Kiai Windu telah menarik senjatanya. Sebilah keris yang besar yang semula terselip di punggungnya. Sementara dua orang yang lain pun segera menarik pedang mereka pula. Yang seorang lagi memiliki senjata yang khusus. Dua potong besi yang dua jengkal panjangnya dihubungkan rantai yang tidak terlalu panjang.

Sambi Wulung dan Jati Wulung yang melihat lawan-lawannya bersenjata telah menarik senjatanya pula. Senjata yang terbiasa dipakai oleh kebanyakan orang. Pedang.

Sejenak kemudian maka pertempuran pun menjadi semakin seru. Kedua belah pihak telah berusaha untuk menekan lawannya. Namun seperti yang sudah terjadi, keempat orang itu pun telah terdesak. Sambi Wulung dan Jati Wulung mampu bergerak dengan kecepatan yang luar biasa. Pedang mereka pun berputaran mengerikan.

Bahkan berputar pula dengan melontarkan desing yang tajam.

Ketika Sambi Wulung dan Jati Wulung bergerak semakin cepat, maka tiba-tiba saja seorang diantara mereka telah tergores pedang dilengannya.

Dengan serta merta orang itu berloncatan surut. Orang itu adalah orang yang bersenjatakan dua batang tongkat besi yang dihubungkan dengan rantai.

Kawannya pun telah meloncat surut pula. Bahkan kedua orang yang lain pun telah berloncatan pula meninggalkan lawan mereka.

Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak mengejar mereka. Namun keduanya justru berdiri tegak sambil mengacungkan pedang mereka.

“Jangan lari,” geram Sambi Wulung, “jika kalian lari, aku akan mendapatkan empat ekor kuda yang tegar. Tentu kuda itu mahal harganya.”

“Setan. Jangan rampok kuda-kuda kami,” geram Kiai Windu.

“Pertahankan kudamu jika kalian mampu,” Sambi Wulung hampir berteriak.

Keempat orang itu mengumpat. Namun mereka merasa bahwa sulit bagi mereka untuk mengalahkan kedua orang itu. Sementara mereka berempat merasa bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki kemampuan yang tinggi.

“Ilmu iblis manakah yang dimiliki oleh kedua orang itu?” desis Kiai Windu yang ternyata memiliki ilmu yang paling tinggi dari keempat orang itu.

“Cepat,” jati Wulung lah yang kemudian membentak, “ambil kuda-kuda kalian atau aku bawa ke Song Lawa untuk aku dijual disana. Mungkin ada orang yang memerlukan kuda dan bersedia menanggung kami berdua memasuki Song Lawa itu.”

“Setan,” geram orang yang bersenjata tongkat berantai itu.

“Nah, kalian dapat memilih. Kami ambil kuda-kuda kalian atau tidak,” bertanya Jati Wulung.

“Tentu tidak,” jawab Kiai Windu.

“Baik. Kami akan menyerahkan kembali kuda-kuda kalian. Tetapi dengan syarat, bawa kami masuk ke Song Lawa,” geram Jati Wulung.

Kiai Windu tidak segera menjawab. Sekilas dipandanginya kawan-kawannya. Sementara itu salah seorang diantara mereka yang membawa pedang berkata, “Kau kira jika kau sudah masuk ke Song Lawa tidak akan menemui kesulitan?”

“Kami akan mengatasi kesulitan itu,” berkata Sambi Wulung.

Keempat orang itu termangu-mangu. Tetapi mereka memang tidak mempunyai pilihan lain. Mereka tidak akan dapat mengalahkan kedua orang itu. Bukan saja mereka tidak ingin kehilangan kudanya, tetapi mereka juga tidak mau kehilangan nyawanya.

Beberapa saat keempat orang itu masih ragu-ragu. Sementara Jati Wulung membentak semakin keras, “jawab, atau aku harus mengambil langkah sendiri, membawa kuda-kuda kalian ke Song Lawa.”

Kiai Windu lah yang kemudian menjawab. Katanya, “Baiklah. Kami akan menanggung kalian memasuki Song Lawa itu. Tetapi apa yang terjadi kemudian bukan tanggung jawab kami.”

“Jika kami dapat memasuki Song Lawa, maka kami akan bertanggung jawab atas diri kami sendiri,” berkata Sambi Wulung. Lalu, “bahkan jika kami menang seperti yang biasa kami alami, maka kami akan memberikan bagian kepada kalian berempat, sepadan dengan jumlah kemenangan kami.”

Kiai Windu itu mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Marilah. Ikuti kami.”

“Kita akan berjalan kaki,” berkata Sambi Wulung, “tidak seorang pun diantara kita yang akan naik kuda. Kalian harus menuntun kuda-kuda kalian.”

Keempat orang itu tidak dapat menolak. Karena itu Kiai Windu itu pun berkata, “Kau akan menyesal setelah kau berada didalam lingkungan sabung ayam itu.”

“Kalian tidak perlu berkhianat,” berkata Sambi Wulung, “jika hal itu terjadi dengan sendirinya, kami akan mengatasinya. Tetapi jika hal itu terjadi karena pengkhianatan kalian, maka kalian berempat akan mati.”

“Setidak-tidaknya kalian berempat tidak dapat mengalahkan kami,” jawab Jati Wulung.

Orang itu pun tidak menjawab lagi. Sementara itu, keempat orang itu pun telah melangkah mendekati kudanya.

“Marilah,” berkata Kiai Windu.

Sesaat kemudian mereka berenam pun telah melanjutkan perjalanan.

Ternyata jarak ke Song Lawa sudah tidak terlalu jauh lagi. Beberapa saat kemudian, Kiai Badra dan Kiai Soka yang meneruskan perjalanan mereka, segera melihat ciri-ciri dari satu lingkungan terpisah dari dunia lain dengan kebiasaan tersendiri. Song Lawa.

Sambi Wulung dan Jati Wulung telah mempergunakan cara yang sesuai dengan lingkungan yang akan didatanginya,” berkata Kiai Badra.

“Ya. Sampai disini agaknya ia berhasil,” sahut Kiai Soka, “mudah-mudahan ia tidak mengalami kesulitan.”

“Tidak mengalami kesulitan dan tidak dikenali oleh orang-orang yang mengawal laki-laki remaja yang bernama Puguh itu,” sahut Kiai Badra.

Kiai Soka mengangguk-angguk. Namun ia pun kemudian berdesis, “Kita harus sangat berhati-hati. Mungkin pengawalan tempat itu menyebar sampai jarak yang cukup jauh.”

“Ya. Agaknya memang demikian,” sahut Kiai Badra sambil menunjuk dua orang bersenjata yang berjalan beberapa puluh langkah dihadapan mereka.

Keduanya pun bersembunyi di balik batang-batang perdu. Namun mereka berusaha untuk dapat melihat lingkungan yang terasing itu.

Agaknya keduanya beruntung berada di tempat yang agak lebih tinggi dari jalur jalan yang menuju dan kemudian memasuki lingkungan yang disebut Song Lawa itu. Ternyata dijalur jalan itu mereka melihat pintu-pintu gerbang yang berlapis. Kemudian pagar yang bersap pula. Pagar yang terbuat dari kayu yang dijajar rapat lebih tinggi dari tubuh seseorang. Pada lapis ketiga pagar itu menjadi lebih tinggi.

Dari tempat yang agak tinggi, Kiai Badra dan Kiai Soka sempat melihat keadaan didalam lapis-lapis pagar itu. Di lapis kedua Sambi Wulung dan Jati Wulung masih tertahan bersama keempat orang yang berkuda itu.

Agaknya para penjaga pintu gerbang itu tidak memberikan ijin kepada Kiai Windu dan kawan-kawannya untuk membawa kuda mereka masuk.

Ternyata bahwa mereka telah mengikat kuda-kuda mereka di patok-patok yang sudah tersedia. Di sebelahnya sudah terdapat beberapa ekor kuda yang lain, yang telah datang lebih dahulu.

Kiai Badra dan Kiai Soka ikut menjadi tegang ketika melihat mereka berenam berdiri di muka pintu gerbang.

Beberapa orang penjaga yang garang nampaknya dengan teliti mengamati mereka seorang demi seorang.

Dari jarak yang cukup jauh, Kiai Badra dan Kiai Soka tidak dapat melihat terlalu jelas apa yang terjadi. Meskipun mereka adalah orang-orang yang memiliki ketajaman penglihatan melampaui orang-orang kebanyakan.

Dalam pada itu, di depan pintu gerbang pada lapis yang ketiga, Kiai Windu dan kawan-kawannya telah menunjukkan pertanda bahwa mereka adalah orang-orang yang sudah dianggap keluarga di lingkungan sabung ayam itu. Mereka dapat menunjukkan sebuah tanda yang terbuat dari perunggu berbentuk bulat. Di tengah-tengahnya dipahatkan gambar seekor ayam jantan dengan kepala tegak. Kemudian beberapa ciri yang khusus terpahat dibawah gambar ayam itu.

“Bagaimana dengan kedua orang ini?” bertanya penjaga pintu gerbang.

Kiai Windu termangu-mangu sejenak. Sementara itu Sambi Wulung dan Jati Wulung menjadi tegang. Mereka berdiri dekat dibelakang keempat orang berkuda yang akan menanggung mereka memasuki tempat yang mendebarkan itu.

Namun Kiai Windu pun kemudian berkata, “Mereka adalah orang-orang baru. Kami berempat menanggung mereka selama mereka berada di tempat ini.”

“Apa jaminannya?” bertanya penjaga yang garang itu.

“Kami berempat,” jawab Kiai Windu.

Penjaga itu mengangguk-angguk. Sementara itu para penjaga yang lain nampaknya menaruh perhatian pula kepada mereka.

Sambi Wulung dan Jati Wulung sendiri hanya menunggu keputusan mereka. Apakah mereka diperkenankan memasuki daerah itu atau tidak.

Namun agaknya pempimpin dari para petugas dipintu itu tidak mau bertanggung jawab sendiri. Karena itu, maka pemimpin penjaga pintu gerbang itu berkata, “Tunggulah disini. Aku akan melaporkannya.”

Keenam orang itu harus menunggu. Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak dapat memaksa untuk memasuki gerbang itu. Mereka tidak dapat memancing persoalan justru sebelum mereka berada didalam.

Sementara pemimpin penjaga itu melaporkan kehadiran mereka, keenam orang itu telah bergeser menepi. Kiai Windu sempat berdesis kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung. “Kau dengar. Kami berempatlah yang menjadi tanggungan kalian. Jika kalian berbuat sesuatu yang kurang baik disini, kami berempat akan ikut diperlakukan buruk. Kita di tempat ini tidak dapat memamerkan kemampuan dan ilmu kita. Disini terlalu banyak orang berilmu tinggi. Meskipun aku akui, ilmu kalian berdua ternyata lebih tinggi dari yang aku duga, tetapi setiap pelanggaran ketentuan yang berlaku disini, akan menimbulkan malapetaka.”

“Peraturan apa?” bertanya Jati Wulung.

Kiai Windu termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “peraturan disini berlandaskan kekuatan. Jika orang-orang yang terkuat disini tidak senang melihat sikap orang lain, maka orang yang bersikap buruk menurut pandangan orang terkuat itu akan mengalami nasib yang malang. Itulah peraturan yang berlaku disini.”

“Jadi kenapa orang-orang yang berilmu lebih rendah mau memasuki tempat ini?” bertanya Sambi Wulung.

“Mereka harus berlaku baik terhadap yang terkuat,” jawab Kiai Windu.

Sambi Wulung mengangguk-angguk. Sementara itu, dua orang yang nampak lebih garang lagi dari para penjaga itu telah keluar kepintu gerbang. Keduanya bersenjata keris yang diselipkan pada ikat pinggang dibagian perutnya. Pada wajah mereka yang kasar, nampak kumis yang tebal melintang diatas bibir mereka. Dan kedua-duanya telah memelihara jambang yang panjang pula. Dengan dada terbuka yang ditumbuhi bulu-bulu yang lebat, keduanya kemudian memandangi keenam orang yang berdiri menepi itu.

Kiai Windu lah yang tiba-tiba menegur, “He, aku. Inilah.”

“O,” seorang diantara mereka melangkah mendekat, “jadi kaukah yang datang? Sudah agak lama kau tidak pernah kelihatan.”

“Kau mempunyai orang-orang baru?” bertanya Kiai Windu.

“Tidak. Sulit untuk menerima orang-orang baru yang benar-benar dapat dipercaya,” jawab orang yang garang itu. Namun ia pun kemudian bertanya, “jadi kaukah yang membawa orang yang akan menjadi tanggunganmu itu?”

Kiai Windu menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Sambi Wulung dan Jati Wulung menjadi tegang. Jika orang yang disebut Kiai Windu itu mengkhianatinya, maka mereka berdua harus berbuat sesuatu. Dihadapannya akan berdiri sekelompok orang yang agaknya berilmu cukup tinggi.

Tetapi agaknya Kiai Windu masih juga bertanya, “Aku belum pernah melihat para penjaga pintu gerbangmu itu. Di lapis pertama dan kedua aku masuk dengan mudah karena mereka telah mengenal aku. Disini aku harus melalui cara yang berlaku karena mereka belum mengenal aku. Menunjukkan pertanda keluarga Song Lawa.”

“Maaf Kiai,” desis orang berjambang itu sambil tersenyum, “petugas-petugas kami hanya menjaga agar ketertiban tetap dipelihara disini. Tetapi mereka bukan orang-orang baru. Mungkin sebelumnya ia bertugas di tempat lain sehingga jarang Kiai lihat. Atau barangkali Kiai tidak menghiraukan sebelumnya.”

Kiai Windu mengangguk-angguk. Sementara orang berjambang itu bertanya pula, “Siapakah orang yang akan kau tanggung itu?”

“Kawan-kawanku. Dua orang,” jawab Kiai Windu.

Karena ditempat itu tidak ada orang lain, maka orang itu pun segera mengetahui bahwa keduanya yang dimaksud oleh Kiai Windu adalah dua orang yang berdiri agak terpisah dari tempat orang yang memang sudah menjadi keluarga dari Song Lawa.

“Apakah kau yakin bahwa keduanya dapat dipercaya?” bertanya orang berjambang panjang dan berkumis tebal itu.

Kiai Windu memang ragu-ragu sejenak. Memang terbersit di angan-angannya bahwa ia akan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Tetapi ia masih saja merasa ragu. Mungkin kedua orang itu benar-benar akan dapat membunuhnya dengan cara apa pun juga. Karena itu, maka ia pun berkata, “Sampai saat ini aku percaya kepada mereka. Tetapi Song Lawa memang dapat merubah watak seseorang.”

“Mereka menjadi tanggunganmu,” berkata orang berjambang itu.

Kiai Windu merenung sejenak. Namun ia pun kemudian mengangguk, “Aku akan menanggung mereka.”

Kedua orang berjambang itu saling memandang sejenak. Seorang diantara mereka pun kemudian berdesis, “Baiklah Kami terima mereka. Tetapi ingat, hal itu kami lakukan hanya karena kami mengingat Kiai. Kami sudah begitu akrab dengan Kiai dan kawan-kawan Kiai yang terdahulu. Aku kira kawan-kawan Kiai yang baru ini pun akan sebaik kawan-kawan Kiai yang lama.”

Kiai Windu tertawa. Katanya, “Mereka orang-orang baik.”

Kedua orang berjambang itu pun kemudian telah mempersilahkan Kiai Windu berenam untuk memasuki pintu gerbang. Sementara itu orang berjambang itu pun berkata, “Hanya bila kami sudah yakin bahwa mereka tidak akan merugikan Song Lawa, maka kami akan memberikan pertanda keluarga. Aku belum tahu berapa pekan ia kerasan tinggal di tempat yang mentakjubkan ini. Jika kemudian ia kerasan tinggal disini untuk seterusnya, maka ia akan dapat menjadi kawan yang sangat baik bagi kami. Tetapi atas tanggungan Kiai.”

Kiai Windu tersenyum. Betapa kecutnya. Namun ia memang berharap bahwa kedua orang itu tidak akan berbuat sesuatu yang dapat menyeret namanya kedalam kesulitan.

Dari kejauhan Kiai Badra dan Kiai Soka melihat bahwa keenam orang itu telah memasuki pintu gerbang utama. Sambil menarik nafas dalam-dalam Kiai Badra berdesis, “Pintu kesulitan pertama telah dilewati.”

“Masih banyak masalah yang akan mereka hadapi,” sahut Kiai Soka.

“Ya. Dan kita tidak akan dapat mengikuti dari jarak yang jauh ini. Apalagi jika malam gelap,” berkata Kiai Badra.

“Di malam hari kita akan mendekat,” gumam Kiai Soka. “Tetapi di siang hari kita dapat berada disini. Jaraknya tidak terlalu dekat, tetapi juga tidak terlalu jauh. Dari tempat yang tinggi ini kita dapat melihat keseluruhan lingkungan Song Lawa.”

“Tetapi kita tidak dapat melihat apa yang terjadi dibawah atap barak-barak yang berserakan didalam lingkungan dinding kayu itu,” jawab Kiai Badra.

Kiai Soka pun segera tanggap. Karena itu katanya, “Kau bermaksud memasuki tempat itu dimalam hari?”

Kiai Badra tertawa. Tetapi ia tidak menjawab. Bahkan katanya, “Mereka telah hilang. Mereka memasuki salah satu barak yang ada didalam lingkungan Song Lawa.”

Kiai Soka mengangguk-angguk. Katanya, “Barak-barak itu tentu mempunyai beban tugas yang berbeda-beda.”

“Agaknya memang demikian,” jawab Kiai Badra, “yang satu untuk bermalam orang-orang yang memasuki tempat itu. Dan itu agaknya yang paling panjang itu. Satu lagi untuk berjudi. Satu lagi menyediakan makan dan minum. Tidak bedanya dengan sebuah kedai. Dan entah untuk apa lagi. Yang berasap itu tentu dapur.”

Kiai Soka tersenyum. Katanya, “Agaknya dapur itulah yang paling kau kenal.”

“Bukankah itu lebih baik daripada mengenali tanah kosong dibagian belakang barak-barak itu,” sahut Kiai Badra sambil tertawa.

“Itulah yang mengerikan,” berkata Kiai Soka. Orang tua itu tidak tersenyum lagi. Bahkan wajahnya menjadi bersungguh-sungguh. Katanya, “berapa orang yang sudah dikubur di tempat itu?”

“Itu adalah gambaran kehidupan di lingkungan ini,” berkata Kiai Badra, “mudah-mudahan Sambi Wulung dan Jati Wulung dapat mengatasinya.”

“Seharusnya jika mereka sudah berhasil memasuki lingkungan itu, mereka tidak usah berbuat aneh-aneh agar mereka mendapat kesempatan untuk tetap berada didalamnya,” desis Kiai Soka, “jika mereka berdua masih memaksa diri untuk bertingkah-laku kasar, maka mereka akan dapat dilemparkan ke lubang kubur di tanah kosong itu.”

Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah-mudahan keduanya cukup bijaksana.”

Kiai Soka tidak menjawab.

Untuk beberapa saat mereka masih mengawasi tempat sabung ayam itu. Tetapi mereka tidak melihat sesuatu. Mereka melihat arena sabung ayam di halaman tengah yang kosong. Agaknya sabung ayam itu masih belum dimulai dalam satu dua hari lagi.

Satu dua orang memang nampak melintas dihalaman, sementara ada lagi dua orang peronda yang mengelilingi tempat itu. Namun belum ada kesan kesibukan yang berarti.

Kiai Badra dan Kiai Soka pun kemudian bergeser menjauh. Mereka memasuki hutan kecil dilereng gunung. Nampaknya tempat yang jarang sekali didatangi oleh seseorang. Bahkan oleh pencari kayu bakar sekalipun. Mereka melihat dahan-dahan kering berserakan tanpa ada yang memungutnya.

Namun agaknya hutan yang masih belum disentuh itu merupakan simpanan yang sangat berarti bagi lembah dan dataran dibawahnya. Di tebing-tebing terjal nampak air mengalir perlahan-lahan. Namun kemudian berkumpul menjadi air terjun yang cukup deras.

Kedua orang tua itu pun kemudian telah mencari tempat untuk beristirahat. Mereka kemudian menemukan batu padas yang agak datar dipinggir hutan itu.

Sementara itu Sambi Wulung dan Jati Wulung telah berada didalam lingkungan Song Lawa. Satu tempat sabung ayam dan perjudian yang tidak terjangkau oleh paugeran Pajang. Lingkungan yang telah membuat tata kehidupan menurut irama mereka sendiri.

“Kalian akan bertempat tinggal selama disini ditempat yang biasa kalian pergunakan,” berkata seorang yang mendapat tugas menerima tamu yang mendapat penyerahan dari para pengawal, kepada Kiai Windu. Lalu, “Tempat itu dapat kami siapkan untuk enam orang. Tidak empat orang.”

“Terima kasih,” sahut Kiai Windu, “kami akan langsung ke tempat yang disediakan itu.”

Mereka pun kemudian memasuki sebuah barak yang panjang, yang disekat-sekat oleh dinding bambu yang rangkap.

Kiai Windu berenam telah ditempatkan disebuah bilik yang agak besar yang diisi dengan sebuah amben yang panjang yang akan dapat dipergunakan oleh enam orang yang meskipun tidak terlalu longgar.

“Memang agak berdesakan,” betkata Kiai Windu.

“Apakah kita dapat memilih ruangan?” bertanya Sambi Wulung.

“Tidak,” jawab Kiai Windu, “kita harus menerima apa yang sudah disediakan. Jika kita memaksa, akan segera timbul keributan.”

Sambi Wulung mengangguk-angguk. Ternyata apa yang diharapkannya dari Sambi Wulung dan Jati Wulung terpenuhi. Keduanya dengan bijaksana mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya. Mereka tidak lagi berniat membuat persoalan. Kecuali jika persoalan itu datang pada mereka.

Barulah didalam bilik itu Kiai Windu dan kawan-kawannya mendengar pengakuan Sambi Wulung dan Jati Wulung tentang namanya, Sambi Wulung menyebut dirinya bernama Wanengbaya dan Jati Wulung mengaku bernama Wanengpati.

“Tentu bukan nama-nama asli kalian,” tebak Kiai Windu, “kalian mengganti nama kalian dengan nama yang garang, agar kalian pun kelihatan garang pula.”

“Nama itu diberikan oleh ayahku sejak aku lahir,” jawab Sambi Wulung.

Kiai Windu tertawa. Katanya, “jangan mengigau seperti itu. Apakah kau belum mempunyai anak meskipun kalian sudah hampir pikun? Kalian tentu tidak akan memberi nama anak yang baru lahir dengan sebutan seperti itu.”

Sambi Wulung tiba-tiba menundukkan kepalanya. Tanpa disengaja ia telah menggali kepahitan hidup dimasa mudanya. Ia dan Jati Wulung memang tidak lagi mempersoalkan anak. Namun pada saat-saat tertentu, hatinya tergelitik pula karenanya.

“Jangan bicara tentang anak,” desisnya.

“Maaf. Aku tidak sengaja menyinggung perasaanmu,” berkata Kiai Windu. Lalu katanya, “Nah, sebaiknya kita beristirahat. Tempat ini tempat kita.”

Sambi Wulung mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak segera merebahkan dirinya seperti ketiga orang kawan Kiai Windu. Bersama Jati Wulung dan Kiai Windu sendiri, ia masih duduk dan berbicara tentang beberapa hal.

Namun tiba-tiba mereka terkejut karena mereka mendengar pertengkaran diruang sebelah.

Ketika sambi Wulung dan Jati Wulung bangkit dari tempat duduknya, Kiai Windu berdesis, “jangan campuri persoalan orang lain disini. Jika kita mencampuri persoalan orang lain, itu berarti kita sudah membuat persoalan.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Namun Jati Wulung yang mengaku bernama Wanengpati itu bertanya, “Bagaimana jika terjadi sesuatu yang gawat?”

“Setiap orang harus dapat mengatasi persoalan mereka sendiri. Bahkan harus mati sekalipun tidak akan ada orang yang akan melibatkan dirinya.”

“Kalau hanya melihat? Maksudku seperti menonton sabung ayam itu sendiri?” bertanya Wanengbaya.

Kiai Windu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kalau hanya melihat saja, aku kira tidak akan timbul persoalan. Tetapi jangan terlalu dekat.”

Wanengbaya dan Wanengpati mengangguk-angguk pula. Keduanya pun segera mengemasi diri. Mereka memang ingin melihat siapakah perempuan yang telah berani memasuki tempat seperti ini. Bahkan sepercik pertanyaan ada didalam hati mereka, “Apakah perempuan itu Warsi.”

Wanengbaya dan Wanengpati memang belum terlalu mengenal dan dikenal oleh Warsi. Namun demikian ada kemungkingan bahwa perempuan itu akan dapat mengenalinya. Karena itu, maka keduanya memang harus berhati-hati.

Bahkan Wanengbaya berdesis perlahan ditelinga Wanengpati, “Jika benar Warsi, maka kita harus berhati-hati. Apalagi jika ia datang bersama Kiai Randukeling.”

“Apakah kita harus berbuat sesuatu?” bertanya Wanengpati.

“Justru kita harus pandai menghindar,” jawab Wanengbaya.

“Wanengpati mengangguk-angguk. Namun mereka pun kemudian melangkah mendekati pintu. Sementara itu Kiai Windu yang sudah duduk kembali berkata sekali lagi, “jangan campuri persoalan siapa pun dan dalam keadaan yang bagaimanapun jika kau tidak mau mendapat kesulitan.”

Wanengbaya dan Wanengpati mengangguk.

Dalam pada itu, keduanya telah berdiri dipintu. Perlahan-lahan keduanya melangkah keluar. Mereka sudah diberi tahu oleh Kiai Windu, dimana letak pakiwan.

Karena itu, maka mereka mempunyai alasan untuk keluar dari barak itu.

Perlahan-lahan keduanya menyusuri lorong sempit didalam barak itu. Ketika mereka berada dipintu bilik sebelah, maka keduanya sempat melihat seoiang perempuan dengan pakaian laki-laki sedang bertengkar dengan seorang laki-laki. Dua orang lainnya berdiri termangu-mangu memperhatikan keduanya yang sedang marah itu.

Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak memperhatikan keduanya lebih lama karena mereka tidak dapat berhenti didepan pintu bilik itu, agar mereka tidak dituduh ingin mencampuri persoalan orang lain.

“Bukan Warsi,” desis Sambi Wulung.

“Ya. Memang bukan Warsi,” jawab Jati Wulung.

Dengan demikian maka keduanya memang tidak mempunyai kepentingan apa pun juga. Meskipun hati mereka sebenarnya memang tergelitik untuk mengetahui persoalan diantara kedua orang yang bertengkar itu, namun mereka harus menahan diri.

Sebenarnyalah keduanya memang pergi ke pakiwan. Di longkangan yang terdapat diantara barak yang dipergunakan dan barak yang lain, yang juga dipergunakan untuk bermalam para tamu dari Song Lawa itu, keduanya bertemu dengan seorang yang benar-benar bertubuh raksasa. Bukan saja tubuhnya yang tinggi besar melampaui ukuran kebanyakan itu yang menarik perhatian, tetapi ia juga mengenakan ikat pinggang kulit dengan timang emas. Beberapa bulir berlian nampak berkilat-kilat pada timang emasnya itu. Tanpa mengenakan baju, orang itu seakan-akan sengaja memamerkan kekayaannya. Di punggungnya terselip keris dengan pendok emas pula. Seperti pada timangnya, maka pada kerisnya nampak juga beberapa butir berlian yang berkilau. Sedangkan pada jari-jarinya beberapa bentuk cincin dengan mata batu-batu yang sangat mahal disamping bermata berlian.

Namun Sambi Wulung dan Jati Wulung memaksa diri tidak menghiraukan orang itu sebagaimana orang itu tidak menghiraukan mereka.

Tetapi ketika mereka menjadi semakin jauh, Sambi Wulung berkata, “Orang itu tentu orang yang sangat kaya.”

“Aku menyangsikan, apakah kekayaannya itu didapatnya dengan cara yang wajar,” sahut Jati Wulung.

Sambi Wulung mengangguk-angguk. Dari pakiwan keduanya memang langsung kembali kedalam bilik mereka. Tetapi mereka tertahan di lorong sempit dalam barak itu, karena agaknya pertengkaran diantara perempuan dan laki-laki itu menjadi semakin seru, sehingga keduanya telah menarik pedang masing-masing.

Beberapa orang yang agaknya sekelompok dengan keduanya berusaha untuk melerai mereka meskipun agak mengalami kesulitan.

“Jangan campuri persoalanku,” teriak perempuan itu.

“Aku tidak mencampuri persoalan orang lain. Tetapi persoalanmu adalah persoalanku. Kita, kau dan iparmu itu berangkat besama-sama dengan kami. Apalagi kami berada di Song Lawa yang dua tiga hari lagi akan menjadi semakin garang.”

Orang yang sudah agak tua diantara mereka pun berkata, “persoalan diantara kita di Song Lawa ini akan menimbulkan pertanyaan banyak orang. Kenapa justru persoalan diantara kita sendiri.”

Kedua orang yang bertengkar itu agaknya sempat berpikir. Namun perempuan yang sangat marah itu pun kemudian berkata, “Jika kita tidak menyelesaikannya di tempat ini, maka pada suatu saat kita akan mendapatkan kesempatan.”

“Jika kau tetap menghendaki cara ini, maka aku tidak akan berkeberatan,” jawab yang lain.

“Kita lupakan saja,” berkata yang tertua, “setidak-tidaknya untuk waktu yang kita perlukan berada ditempat ini.”

Sambi Wulung dan Jali Wulung tidak mengetahui dengan pasti persoalan apakah yang teijadi diantara mereka. Namun yang bertengkar itu agaknya adalah saudara ipar.

“Perempuan itu garang juga,” berkata Sambi Wulung.

Jati Wulung mengangguk-angguk. Namun ia berdesis, “Ternyata memang tidak ada orang yang tertarik pada pertengkaran ini selain orang-orang dari kelompok mereka sendiri. Orang-orang yang berada dibilik sebelahnya itu-pun sama sekali tidak menjengukkan kepalanya.

Namun Sambi Wulung dan Jati Wulung terkejut ketika perempuan itu tiba-tiba memandangi mereka. Bahkan menyibak orang-orang sekelompoknya melangkah mendekati Sambi Wulung dan Jati Wulung.

“Kenapa kau disitu? Kau mau mencampuri persoalan kami,” bertanya perempuan itu dengan nada yang garang.

Sambi Wulunglah yang menjawab dengan tanpa perubahan kesan diwajahnya, “Aku akan lewat. Aku berada dibilik seberang. Tetapi aku tertahan disini. Aku tidak dapat menerobos kalian disaat kalian bertengkar. Karena itu aku menunggu.”

“Persetan,” geram perempuan itu, “lewatlah. Cepat.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung pun kemudian melangkah di lorong sempit di antara bilik-bilik dibarak yang panjang itu. Beberapa orang memang harus menepi.

Perempuan itu ternyata memperhatikan Sambi Wulung dan Jati Wulung sehingga mereka hilang memasuki pintu biliknya. Agaknya perempuan itu ingin tahu, apakah keduanya benar-benar berada di bilik itu atau sekedar ingin melihat pertengkaran yang terjadi itu.

Namun Sambi Wulung dan Jati Wulung benar-benar telah memasuki bilik itu.

Kiai Windu ternyata masih duduk ditempatnya bersandar dinding. Ketika keduanya masuk, maka Kiai Windu itu pun berkata, “Aku merasa agak cemas.”

“Tentang kami?” bertanya Sambi Wulung.

“Ya. Kalian orang baru disini,” desis Kiai Windu.

“Kami berusaha untuk menyesuaikan diri,” berkata Jati Wulung. Lalu, “Aku pernah berada ditempat perjudian di Gresik. Tetapi suasananya jauh lebih tertib. Prahu-prahu yang lewat bengawan menurunkan orang-orang dari jauh memasuki tempat perjudian yang lebih besar dari tempat ini.”

Kiai Windu mengerutkan keningnya. Katanya, “Aku belum pernah berada di Gresik. Tetapi apakah tempat itu juga tempat untuk menyabung ayam?”

———-oOo———-

Bersambung ke Jilid 4

diedit dari naskah yang disusun Nyi Dewi KZ di http://kangzusi.com/

<< kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.